tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] "Living is a conversation. All people talk. But a good person listens as well." - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 19 Juli 2017.

Wednesday, October 18, 2017

Pelatihan Gratis Teknisi HP Dinkop UKM Nakertran Kota Yogyakarta

Pelatihan Teknisi HP Dinkop UKM Nakertran Kota Yogyakarta 23 hari (GRATIS) bekerjasama dengan LKP AFTA Vision bertempat di LPK Alfabank Yogyakarta Jl Glagahsari 40C Yogyakarta.

CC: AftaVision - Pusat Pelatihan Teknisi dan Servis HP + Blackberry Di Jogja

Memenuhi panggilan untuk mengikuti acara pembukaan Pelatihan Teknisi HP Dinkop UKM Nakertran Kota Yogyakarta 23 hari (GRATIS) yang telah dilaksanakan dengan baik dan lancar pagi jelang siang tadi Senin 2 Oktober 2017 jam 09.00 WIB bertempat di LPK Alfabank Yogyakarta Jl Glagahsari 40C Yogyakarta.
Memenuhi panggilan untuk mengikuti acara pembukaan Pelatihan Teknisi HP Dinkop UKM Nakertran Kota Yogyakarta 23 hari (GRATIS) yang telah dilaksanakan dengan baik dan lancar pagi jelang siang tadi Senin 2 Oktober 2017 jam 09.00 WIB bertempat di LPK Alfabank Yogyakarta Jl Glagahsari 40C Yogyakarta.
Memenuhi panggilan untuk mengikuti acara pembukaan Pelatihan Teknisi HP Dinkop UKM Nakertran Kota Yogyakarta 23 hari (GRATIS) yang telah dilaksanakan dengan baik dan lancar pagi jelang siang tadi Senin 2 Oktober 2017 jam 09.00 WIB bertempat di LPK Alfabank Yogyakarta Jl Glagahsari 40C Yogyakarta.
Belajar tiada henti 'tuk tingkatkan kemampuan diri.
Mengisi daftar hadir peserta dan pembagian modul Pelatihan Teknisi HP Dinkop UKM Nakertran Kota Yogyakarta 23 hari (GRATIS) yang telah dilaksanakan dengan baik dan lancar siang jelang sore kemarin Selasa 3 Oktober 2017 Pkl 13.00 sd 15.00 WIB bertempat di LPK Alfabank Yogyakarta Jl Glagahsari 40C Yogyakarta.

Belajar tiada henti 'tuk tingkatkan kemampuan diri.
Mengisi daftar hadir peserta dan pembagian modul Pelatihan Teknisi HP Dinkop UKM Nakertran Kota Yogyakarta 23 hari (GRATIS) yang telah dilaksanakan dengan baik dan lancar siang jelang sore kemarin Selasa 3 Oktober 2017 Pkl 13.00 sd 15.00 WIB bertempat di LPK Alfabank Yogyakarta Jl Glagahsari 40C Yogyakarta.
Materi hari ini: Analisa lanjutan dan belajar berani untuk membongkar mesin HP bawa sendiri yang bermasalah. Yogyakarta, 17 Oktober 2017.
Materi hari ini: Analisa lanjutan dan belajar berani untuk membongkar mesin HP bawa sendiri yang bermasalah. Yogyakarta, 17 Oktober 2017.
Melakukan pengecekkan, penghapusan, dan pengisian data pada eMMC menggunakan UFI dan program eMMC ToolBox. Yogyakarta, 19 Oktober 2017.
Melakukan pengecekkan, penghapusan, dan pengisian data pada eMMC menggunakan UFI dan program eMMC ToolBox. Yogyakarta, 19 Oktober 2017.
Melakukan pengecekkan, penghapusan, dan pengisian data pada eMMC menggunakan UFI dan program eMMC ToolBox. Yogyakarta, 19 Oktober 2017.





Monday, October 16, 2017

Hey, you’re a Goodreads Author now!

The Author Profile section at https://www.goodreads.com/author/show/14930259.Yose_Rizal_Triarto
Author Dashboard section at https://www.goodreads.com/author/show/14930259.Yose_Rizal_Triarto
Welcoming to the Goodreads Authors program email received 15 October 2017 at 01.32 PM local time.

Your application has been approved, and you now have access to your author dashboard, which provides you with all the tools you need to manage your presence on Goodreads. 

It may be not quite much but hey, I’am a Goodreads Author now! Please visit the address here https://www.goodreads.com/author/show/14930259.Yose_Rizal_Triarto for more information.

Thank you all for your support 😊😊😊!

Saturday, October 14, 2017

Vredeburg Fair 2017


Oleh-oleh bermain dan belajar dari mengunjungi beberapa stand museum di hari ketiga saat berkunjung ke Vredeburg Fair 2017 (11-16 Oktober 2017) kemarin 13 Oktober 2017.

Sejujurnya sy merasa sedikit kecewa karena jumlah dan penempatan lokasi stand museum pada Vredeburg Fair 2017 kali ini tidak seramai dan sebanyak dibandingkan acara yang sama satu dan dua tahun yang lalu. 

Namun demikian ada yang baru dan menarik pada Vredeburg Fair 2017 kali ini yakni adanya stand Balai Arkeologi Yogyakarta dan stand Museum Konperensi Asia Afrika Bandung yang dengan antusias dan ramah menerangkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sy ajukan.

Thursday, October 12, 2017

Wayang Jogja Night Carnival Hari Ulang Tahun Ke-261 Kota Yogyakarta


Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kota Yogyakarta Page Liked · 4 hrs · Wednesday, October 11, 2017 at 11:56pm   

Kecamatan Danurejan meraih juara terbaik pertama pada gelaran Wayang Jogja Night Carnival yang juga merupakan pergelaran puncak peringatan Hari Ulang Tahun Ke-261 Kota Yogyakarta yang jatuh pada tanggal 7 Oktober lalu.  

Sedangkan untuk juara terbaik kedua dan ketiga jatuh pada Kecamatan Kotagede dan Kecamatan Umbulharjo. Sementara untuk juara Favorit jatuh pada Kecamatan Wirobrajan.  

Penyerahan hadiah tersebut diserahkan langsung oleh Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti dan didampingi Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi.  

--- 
Selamat dan sukses untuk Kecamatan Kotagede! Maju dan sukses selalu! Amiin.
Sumber info: Page FB Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kota Yogyakarta (https://www.facebook.com/humaskotajogja/photos/a.593279730841780.1073741828.561961350640285/864704947032589/?type=3&theater)

Wednesday, October 11, 2017

Ada Apa Dengan Afi dan Dwi?

Sumber foto: https://goo.gl/QttFYB.  
Mungkin mas Dwi Hartanto memang memiliki prestasi. Prestasi di bidang menciptakan kebohongan. 
#Kilas https://mojok.id/dwi-bohong

Setelah Asa Firda Inayah alias Afi Nihaya Faradisa, sekarang muncul DR.IR.DWI HARTANTO.

Begitu mudahnya media dan opini publik tergiring euforia dan positivisme berlebihan tentang berita keahlian dan prestasi seseorang yang wow luar biasa membanggakan. Padahal di akhirnya baru terungkap semua itu adalah kebohongan.

Sungguh kultur kehidupan manusia sejatinya adalah kultur yang lemah dan salah, yakni kultur yang selalu ingin berpihak bukan pada mereka yang tertindas dan terpinggirkan, tapi pada siapa saja yang mampu menunjukkan diri kuat, digjaya, dan punya seabreg kehebatan - termasuk menipu dan memperdaya manusia lainnya. Kita cenderung untuk skip maunya langsung pada bagian enaknya saja. Tanpa mau memperhatikan bagaimana proses perjuangan (dan penderitaan kehidupan si empunya berita pada awalnya). 

Untuk itu hidup memang seolah tidak adil. Kalau ada yang bilang proses tidak akan menipu hasil, sy pikir itu salah besar. Itu idealisme yang kosong melompong. Nyatanya yang bekerja lebih keras, lebih cerdas, apa mereka semua diganjar hasil yang cerdas dan keras juga? Nyatanya tidak. Itu adalah salah satu contoh dari pseudosains umum yang belum jelas kebenarannya yang tanpa sadar sudah kita terima semua apa adanya. Maka oleh karena itu bagi sy lebih baik berpikir dan berkesimpulan pragmatis, realistis, dan sedikit pesimis. Ketimbang positif thingking berlebihan dan malah ikut dalam kesalahan blunder pemikiran dan tindakan.

Jadi pada akhirnya tak usahlah melu-melu, ikut-ikutan heboh. Toh segala hal tersebut adalah sementara. Tak ada yang abadi. Justru semua itu harusnya membuat kita makin berbenah dan memperbaiki diri.

Sunday, October 8, 2017

Kampung Buku Jogja 2017



Buku lama. Akhirnya ketemu juga. Rp 38.000 aja. Terima kasih #KampungBukuJogja.

Foto kemarin di #KampungBukuJogja #3. Foodpark Lembah UGM 06-10-17. Foto diambil jelang pukul 11.00 WIB saat belum banyak pengunjung yang hilir mudik. Nilai plus pasar buku tahun ini menurut saya menghadirkan lebih banyak pilihan buku yang dijual dan run down acara yang lebih beragam ketimbang kegiatan tahun lalu di tempat yang sama. Sayangnya pintu masuk alternatif kecil dari arah bundaran sudah harus ditutup selepas pukul 20.00 WIB sehingga harus memutar lebih jauh untuk masuk ke pintu gerbang utama dan pada saat siang hari belum semua lapak buku siap dengan dagangannya. Alhasil begitu malam tiba penuh sesaklah pengunjungnya dan sedikit kurang nyaman untuk memilih dan memilah buku-bukunya. Walaupun begitu #KampungBukuJogja #3 tetaplah menarik dan menyenangkan.

CC: Kampung Buku Jogja 2017

Tuesday, September 26, 2017

Hati-hatilah Dengan Robert Kiyosaki - Kisah Nyata Dua Pegawai Indonesia

Sumber foto: goo.gl/J7oDA5

Pernah merasakan bangkrut? Atau merasa dunia ini tampak gelap gulita?

Saya rasanya pernah. Ketika langkah ke kiri, ke kanan, ke depan apalagi ke belakang menjadi serba salah dan rejeki yang diharapkan dari satu atau lebih usaha tak datang menghampiri .

Dulu saya pernah “teracuni” oleh Virus Robert T Kiyosaki*, yang mengajarkan bahwa kalau ingin kaya maka segeralah keluar dari pekerjaan, buka usaha dan lihatlah hasilnya. Mentor saya yang“menteror” pikiran saya untuk segera keluar kerja adalah Purdi Candra, Pemilikjaringan bimbingan belajar Primagama. Di atas BMW X-5 nya dalam perjalanan ke Jogja ia berkali kali menegaskan bahwa apa pun jabatan kita, setinggi apa pun posisi kita, selama masih dalam kendali dan digaji orang lain maka tak ada yang bisa dibanggakan. Beliau menantang saya begitu tiba di rumahnya di kawasan Mirota Godean Jogjakarta, pilih jadi pegawai saja atau menjadi kaya dengan melepas semua status palsu dengan menjadi pengusaha.

Setelah lulus dari universitas bikinan sendiri yang dinamakan ‘Entrepreneur University’ yang digagas beliau, dan memperoleh ijazah berupa sebongkah batu bertuliskan lulusan angkatan ke-12 yang hingga kini belum saya ambil, saya memang betul betul nekat untuk tidak lagi menjadi pegawai ditambah lagi dengan alasan suasana bekerja di sebuah perusahaan Minyak Raksasa yang merubah kita pegawainya hanya sebagai robot yang menjalani sistem kerja dan procedure yang sudah dari dulu ada.

Bekerja di perusahaan berstandard global memang melenakan, nyaman, kita terasa sebagai bagian dari masyarakat global yang memilki standard tinggi, dengan skill yang terus diasah lewat training seperti selalu lebih pintar dari orang lain dan lebih beretika dari perusahaan-perusahaan saingan yang ada, padahal di luar sana ketika krisis tiba, hanya orang orang yang mampu menciptakan bukan hanya menjalankanlah yang bisa survive ketika perusahaan raksasa besar itu tumbang satu persatu oleh krisis global. Film Falling Down (Michael Douglas), The Pursuit of Happiness (Will Smith) dan Company Man (Jamie Lee Curtis) menggambarkan pelajaran hidup mengenai kesombongan kita sebagai orang bayaran yang merasa hebat yang hancur hanya oleh selembar surat PHK.

Berbekal etika dan kesombongan yang didapat dari perusahaan global, dukungan financial dari sebuah program golden shake hand dan keberanian yang diasah oleh buku Robert kiyosaki dan kicauan mentor Purdi Candra, saya membeli beberapa franshise usaha yang sudah pasti secara statistik memberi keuntungan.

Dalam sekian waktu, saya menjadi presiden direktur usaha sendiri. Ada kebanggaan dalam setiap tarikan nafas ketika melihat usaha yang dipunyai satu persatu dikunjungi orang, dibeli orang dan menghasilkan pemasukan yang minimal seimbang dengan pengeluaran.

Pindah kuadran dari E (employee) ke O (Owner) itu adalah pencapaian paripurna yang akhirnya diterjemahkan secara salah oleh saya. Dengan bekal financial yang ada dan status hidup berkelengkapan cukup, maka penyakit yang menjangkit sejak menjadi pegawai perusahaan besar multinasional sampai pindah status terkini saat itu sebagai pemilik usaha mulai datang kembali, yaitu TERLENA dengan kenyamanan yang ada.

Bayangkan, setiap omzet yang masuk menjadi seolah hak kita sendiri, seperti halnya gaji yang diterima semasa jadi pegawai sebelumnya. Tanpa hitang hitung, uang itu mengalir menjadi barang konsumsi, pemuas lahir batin lewat berbagai macam barang kesenangan dan hiburan, mobil baru misalnya. Hujan rejeki yang turun tak ditampung dalam penampungan penampungan untuk masa kemarau tapi dibiarkan mengguyur tubuh sendiri yang terasa menyegarkan saat itu sementara air limpahan rejeki mengalir terbuang saja ke parit tak berguna.

Saat itu teori terbukti bahwa menjadi pengusaha memang bikin senang hati, mau berangkat jam berapa saja siapa yang mau memarahi. Saya bisa terbahak bahak dibelakang seseorang ketika mereka mengakusebagai petinggi perusahaan BUMN atau Asing dengan nada bicara yang dibuat anggun sedemikian rupa agar berwibawa, padahal ia hanya hebat karena jabatannya tanpa itu ia bukan siapa siapa.

Tak dinyana, siklus sinusoidal dunia ini tetap saja tak terhindarkan. Ketika siang menjadi malam, maka siapa saja yang siap untuk mempersiapkan masa tidurnya maka akan bisa nyenyak tidur dan kembali segar pada pagi harinya dengan bertambah manfaat dalam tubuhnya. Senja selalu datang, di mana setiap produk dari usaha selalu mengikuti rumus keusangan, siapapun akan berusaha mengalahkan produk yang ada dan jika tetap saja memakai standard yang ada itu itu melulu maka akan tergilas dengan produk lain yang lebih baru dan segar.

Omzet menurun, usaha terkalahkan saingan, dan perlahan unit usaha menjadi ruang kosong, baik dari produk maupun pelanggan. Dengan omzet yang sedikit demi sedikit menurun, lalu overhead cost menanjak maka laba menjadi sesuatu yang tak kunjung membuat lega. Tagihan supplier jatuh tempo, belum lagi property sewa pun harus diperpanjang, maka hari ke hari baru menyadari bahwa menjadi pengusaha itu bukan jaminan pasti hidup berlebih.

Saat semua jatuh tempo, bersamaan kondisi pasar dan klien tak lagi bertumpu pada produk kita maka gelap pun datang, Omzet tak lagi sebanding dengan tagihan, kalau dibandingkan dengan tubuh maka jumlah asupan yang masuk tak sebanding dengan yang dikeluarkan, semacam diare yang mengakibatkan dehidrasi.

Jika sudah dehidrasi maka manalah mungkin punya power untuk paling tidak berusaha mengakselerasi kembali segala lini. Yang ada stamina habis dan merusak kisi kisi hati serta mental, mengundang energy negative yang merusak sendi-sendi.

Kalau melihat dinding massive yang terhampar di depan pada saat sulit seperti itu, maka jika berpikir sempit maka saat itu adalah akhir dari kejayaan kita, sebuah akhir yang menurut prasangka sebagian orang mungkin sebagai titik nadir .

Dengan hati terbuka, saya pernah mengalaminya. Merasakan sakitnya dan meresapi berada di titik nadir itu. Tapi ketika ada di titik nadir, beruntungnya adalah jika kita tak melulu mengomeli diri ini, meski dag dig dug memikirkan akan bagaiamana sebulan ke depan maka sebelum mencapai titik itu saya merasa dilenturkan oleh Tuhan yang Maha Besar, dengan kelenturan maka bantingan di titik nadir justru membalikkan posisi pantulan menjadi lebih jauh dari titik asal. Salah satu kuncinya adalah menjaga hati keluarga dan sahabat termasuk relasi.

Dalam keadaan gelap gulita, saya mengunjungi seorang teman yang usahanya terbakar habis di rusuh mei 98, namun ia tak tampak gundah meski tempat usahanya di kawasan barat Jakarta hilang rata dengan tanah dalam satu hari. Sambil mentertawai kondisi saya kala itu, ia menasehati:

“Bagi orang yang menjalankan kebaikan, tidak ada istilah bangkrut. Bangkrut hanya terjadi pada orang yang kehilangan seluruh kepercayaan orang lain dan kehilangan seluruh keyakinan pada diri sendiri. Jika usaha tutup, perusahaan collapse, jualan tak laku, maka itu bukan kebangkrutan namun hanya mengalami kerugian. Selama teman mempercayai, relasi bisnis memahami, keluarga mendukung dan kepercayaan diri masih terjaga maka tempat usaha dan produk menjadi nomor sekian, akan selalu ada yang bisa kita jual dan tawarkan meski awalnya itu bukan barang sendiri. Bangkrut itu adalah berarti ditinggalkan oleh orang yang membeli dan tak dipercaya lagi oleh pemilik barang yang kita salurkan ke pembeli. Tuhanlah pemilik semuanya!”

Jawaban di pertanyaan awal pernahkah mengalami kebangkrutan? Akhirnya memang harus saya ralat, karena nyatanya saya masih saja bisa menghidupi anak istri dan paling tidak melanjutkan hidup dengan kondisi saat ini, meskipun langkahnya (sekarang) harus terbalik dari O menjadi E (lagi).

Yang hilang dari saya akhirnya adalah, hilangnya rasa sombong menjadi seseorang yang merasa menduduki jabatan di sebuah perusahaan besar atau kecil, lokal atau asing atau pemilik usaha besar atau kecil. Karena disadari begitu kesombongan itu datang tanpa persiapan maka saya hanya akan menunggu momentum hantaman surat PHK yang bisa saja tiba-tiba datang ke sudut meja kerja atau terhentinya order dari para konsumen pelanggan saya.

Siapapun kita, menjadi pegawai atau pengusaha, bukanlah sebuah dikotomi yang menunjukkan kelas sebagai simbol kesuksesan atau kegagalan. Kesuksesan hidup diukur pada kesiapan kita dalam menjalani siang atau malam. Siapapun yang tetap tersenyum di kala senja dan menjalani malam yang gelap gulita dengan ketenangan lalu bangun pagi dengan penuh kesegaran, dialah pemilik kesuksesan itu.

Saya ini orang sukses atau bukan? Hanya waktu yang berbicara karena ke depannya saya tak tahu kapan malam akan tiba. Yang penting, saya pernah mendapatkan pelajaran dari apa yang dirasa beberapa tahun silam dan berjanji tidak akan mengulanginya.

Tentu saja saya masih penasaran oleh tantangan yang dituliskan oleh Robert T kiyosaki dan ucapan Purdi Candra bahwa cara menjadi kaya adalah dengan menjadi pengusaha. Suatu saat saya akan membuktikannya (lagi) dengan memperbaiki dan menghindari segala kesalahan yang pernah dibuat dulu. Insya Allah saya tak takut untuk menjadi pengusaha, karena memang tak akan bangkrut sepanjang di jalan yang baik!

Pesan untuk diri saya meminjam jargon Rene Suhardono:

“YOUR JOB IS NOT YOUR CAREER, maka hentikan kesombongan tentang siapa kita dan nikmatilah bekerja dalam siang, tidur lelap dalam malam dan bagunpagi dengan kesegaran tambahan.“

*Masih ingat Robert T Kiyosaki? Tahun 2000-an lalu pria Amerika keturunan Jepang ini sempat mengguncang dunia dengan bukunya Rich Dad Poor Dad dan Cash Flow Quadrant. Ups... ternyata setelah saya google rupanya buku tersebut masih banyak dibicarakan hingga saat ini. Bahkan, berita terakhir kabarnya Kiyosaki mengajukan pailit atas salah satu perusahaannya karena menolak membayar kewajiban pada salah satu perusahaan yang telah membesarkan namanya. New York Post menyatakan bahwa Kiyosaki menolak membayarkan persentase keuntungan dari seminar-seminar yang diselenggarakan oleh Learning Annex.

Rich Dad Poor Dadbercerita bagaimana dia mengisahkan ayahnya yang berpendidikan tinggi namun miskin dan ayah temannya, yang hanya tamatan SMA namun kaya raya. Ayah miskin selalu menasihati Kiyosaki untuk giat belajar, sekolah yang tinggi dan menjadi pegawai. Sebaliknya, ayah kaya mengajarkan agar anak-anaknya untuk mengambil risiko, membangun usaha dan menjadi investor setelah mereka lulus sekolah Dalam Cash Flow Quadrant Kiyosaki membagi empat karakter orang dalam mendapatkan penghasilan. Di sisi kiri ada kuadran E (employee) dan S (self employee). Di sisi kanan atas B (business) dan bagian bawah I (investor). Intinya ia memberikan gambaran bagaimana kita bisa bergerak ke kuadran sebelah kanan.

Saat membaca buku tersebut sepuluh tahun lalu saya sempat tergoda. Profesi sebagai PNS tentu menempatkan saya di kuadran kiri atas, orang yang bekerja untuk orang lain. Saya sendiri mengenal Kiyosaki setelah mendapat pinjaman dari rekan seangkatan saya yang juga terobsesi untuk berpindah dari E ke I. Konon saat kita berada di I maka saat itu kita bisa mencapai kebebasan finansial. Saat itu pula kita bisa pensiun dini dan menikmati hidup. Hmmmm siapa yang tak tergoda ya.

Kuadran B ditempati oleh orang-orang yang memiliki bisnis. Ia bisa mendapatkan penghasilan dari orang-orang yang bekerja kepadanya serta membangun sebuah sistem. Sehingga, meski ia sedang berlibur aliran uang tidak berhenti. Orang-orang yang berada di kuadran I adalah orang-orang yang berinvestasi sehingga uang diibaratkan bisa bekerja sendiri dan terus bertambah.

Karena buku itu pulalah saya pernah mencoba bisnis kecil-kecilan meski akhirnya gulung tikar. Secara mental saya memang belum siap. Selain karena mungkin niat yang masih setengah-setengah.

Entah dalam buku yang mana dari kedua buku tersebut, Kiyosaki menceritakan bagaimana ia jatuh-bangun untuk membangun bisnisnya. Katanya, pernah suatu ketika ia tidak memiliki uang sepeser pun. Bahkan sekedar untuk makan karena usahanya yang bangkrut.

Kabarnya, kedua buku ini sangat menginspirasi banyak orang di Indonesia untuk beralih kuadran ke B dan I. Banyak yang berhasil meski tak sedikit pula yang gagal. Jatuh miskin dan menjadi pengangguran. Mereka berani mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaannya yang sudah mapan dan menggunakan tabungannya untuk membangun bisnis. Bagi yang tidak siap mental, banyak yang akhirnya kembali ke kuadran E setelah jatuh. Mungkin karena salah perhitungan, pengalaman yang kurang, tidak memahami strategi bisnis atau menjadi korban penipuan.

Dari cerita pelayanan dinas sosial Australia yang lalu, ada benang merah yang menyambungkannya dengan cerita Kiyosaki ini. Keberanian Kiyosaki untuk jatuh-bangun atau bahkan berani tidak memiliki satu sen pun harus dilihat dari konteks Amerika. Ini tentu sangat berbeda dengan konteks ke-Indonesia-an. Hal inilah yang baru saya pahami setelah hidup di sini.

Amerika dan kebanyakan negara-negara maju adalah negara yang dibangun dengan konsep welfare state. Menurut mbah Wiki, welfare state adalah sebuah konsep di mana negara memiliki peran kunci dalam memberikan proteksi dan menumbuhkan sosial ekonomi masyarakatnya. Hal ini didasarkan pada prinsip kesetaraan kesempatan, pemerataan kekayaan, dan tanggung jawab publik bagi mereka yang tidak mampu memiliki kehidupan yang layak. Walfare state menjalankan pola transfer dana dari negara kepada penyelenggara layanan, misalnya pelayanan kesehatan dan pendidikan, ataupun langsung diberikan kepada individu. Tipikal dari walfare state ini adalah penerapan pajak progresif dan tentu saja tarif pajaknya sangat tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Nantinya, pajak individu inilah akan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran seperti di atas. Pola ini diyakini dapat mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Pemerintah Indonesia mengalokasikan dana untuk pendidikan dan kesehatan, tapi tidak untuk langsung diberikan ke Individu. Kecuali BLT yang katanya sebagai dampak kenaikan harga BBM. Sayangnya, meski alokasi untuk pendidikan dan kesehatan cukup besar, kualitas sekolah negeri kita masih jauh dari harapan. Belum lagi, beberapa pemerintah daerah belum menggratiskan pendidikan dasar dan menengah.

Artinya, tidak memiliki satu rupiah di Indonesia sangat berbeda konteksnya dengan tidak memiliki satu sen pun di Amerika. Tidak memiliki satu rupiah bisa berarti banyak. Tidak memiliki satu rupiah berarti tidak bisa menyekolahkan anak, apalagi sekolah di tempat yang bagus. Tidak memiliki satu rupiah berarti dilarang sakit. Tidak memiliki rupiah juga berarti tidak makan. Tidak memiliki rupiah juga berarti tidak bisa mengembangkan diri.

Tentu berbeda dengan negara-negara yang mengadopsi konsep welfare state. Sebagaimana dalam grafik yang saya paparkan dalam tulisan saya sebelumnya, Australia menganggarkan sekitar 35% untuk welfare security and welfare, 15% untuk kesehatan dan 7% untuk pendidikan. Artinya, tidak memiliki satu dolar di negara ini tetaplah bisa menyekolahkan anak di public school dengan fasilitas yang memadai karena pendidikan gratis hingga tingkat SMA. Tidak memiliki satu dolar di negara ini tetap bisa makan karena negara memberikan tunjangan bagi para pencari kerja. Tidak memiliki satu dolar di negara ini masih bisa menitipkan anak di child care yang baik karena negara memberikan subsidi pembayaran. Dan banyak tunjangan-tunjangan lainnya yang diberikan oleh pemerintah. Hal ini tak jauh berbeda dengan Amerika. Berdasarkan data yang saya peroleh dari mbahwiki anggaran untuk sosial security mencapai 22%.

Jadi, menjadi Robert Kiyosaki di Amerika lebih mudah daripada di Indonesia. Kalaupun usaha bangkrut dan semua harta benda habis, kita masih bisa menyekolahkan anak. Kita masih bisa makan karena pemerintah siap membantu dengan tunjangan-tunjangan. Kita juga masih bisa mengembangkan diri karena negara menyediakan perpustakaan dengan kualitas bagus di banyak tempat.

Membaca buku Kiyosaki tanpa memperhatikan konteks ini tentu bisa memberikan pemahaman yang keliru dan berdampak banyak jika tidak siap. Anak-anak terlantar karena usaha orang tua bangkrut adalah salah satu akibat yang sangat mungkin muncul. Apalagi, kalau orang tua tidak tahan banting. Menerapkan ajaran Kiyosaki butuh perubahan mindset secara total. Termasuk mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi kondisi paling buruk. Karakter seorang E yang terbiasa mendapat gaji bulanan dan tidak terbiasa beresiko perlu komitmen yang kuat untuk berpindah kuadran. Tentu saja, harus juga diiringi dengan pemahaman dan pengetahuan bisnis yang baik untuk menjadi seorang pebisnis. 

Sumber tulisan pertama dari bapak Ary Noer http://www.kompasiana.com/arynoer/hati-hati-dengan-teori-robert-t-kiyosaki_5519b11ea33311ab1ab65959 dan tulisan kedua dari ibu Nur Ana Sejati  http://www.kompasiana.com/anasejati/hati-hatilah-dengan-robert-kiyosaki_552862226ea834c2028b457a dengan perbaikan tanda baca, huruf, dan kalimat seperlunya.