tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Thursday, January 11, 2018

PRESIDEN TETAP DIAM & NEGARA TIDAK JUGA HADIR DI 2018 (BALASAN KOMENTAR DI HAL FB KABAR SEJUK JKT)

Rasa-rasanya sy tidak ada keinginan menggugat dan merusuh nama PGI serta pemerintah.. Tidak pernah juga secuil pun sy berniat ngajak berantem pada siapa pun juga.. Tapi kenapa ya bapak yang 'budiman' satu ini kq bisa berkomentar demikian..

Bapak ini rupanya juga punya kebiasaan menjawab beberapa komentar dalam postingan kawan-kawan lainnya di postingan SEJUK tersebut dengan nada yang sama pula..

Di situ sy merasa sedih, prihatin, kasihan, dan jujur saja tertawa dengan postingan bapak ini.. 

Terima kasih pak sudah menghibur dan mengingatkan sy di hari ini.. Semoga bapak sekeluarga selalu sehat dan sukses..

Sumber tautan komentar: https://goo.gl/rCu1hE

Philippians 3:4-8 New King James Version (NKJV)

4 though I also might have confidence in the flesh. If anyone else thinks he may have confidence in the flesh, I more so:
5 circumcised the eighth day, of the stock of Israel, of the tribe of Benjamin, a Hebrew of the Hebrews; concerning the law, a Pharisee;
6 concerning zeal, persecuting the church; concerning the righteousness which is in the law, blameless.
7 But what things were gain to me, these I have counted loss for Christ.
8 Yet indeed I also count all things loss for the excellence of the knowledge of Christ Jesus my Lord, for whom I have suffered the loss of all things, and count them as rubbish, that I may gain Christ

Filipi 3:4-8 Alkitab Terjemahan Baru

4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:
5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,
6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
 
---
January 7 at 8:13am · Jakarta ·

PRESIDEN TETAP DIAM & NEGARA TIDAK JUGA HADIR DI 2018

Jemaat 2 Gereja Ibadah di seberang Istana yang ke-160 kali

Tahun berganti baru namun pelarangan ibadah di dalam gereja sendiri yang sah masih dibiarkan terjadi. Akibatnya, GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia masih saja harus kembali beribadah di seberang Istana Merdeka Jakarta, Minggu 7 Januari 2018 pkl 13.00 WIB.

Penyegelan GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia Bekasi, yg memiliki izin resmi, masih saja dilakukan Pemkot Bogor dan Pemkab Bekasi akibat tekanan kelompok intoleran. Sementara, pemerintah pusat belum menindak pembangkangan hukum yang dilakukan kedua pemda selama bertahun-tahun.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di 2018 ini jemaat kedua gereja yang sah masih menanti Presiden Jokowi membuka dua gereja yg sah sebagai bagian penegakkan Konstitusi & hukum RI.

Update kasus GKI Yasmin & HKBP Filadelfia:


CP: Bona Sigalingging (GKI Yasmin, 08121116660), Ardus Simanjuntak (HKBP Filadelfia, +6281288360915)


---
Yose Rizal Triarto Mohon maaf.. Jangan berharap dan mengandalkan PGI.. Jangan pula berharap dan mengandalkan negara.. Sekali lagi jangan berharap pada manusia.. Semua harapan terbukti sia-sia.. Berjuang dan berharaplah pada Tuhan Yang Maha Esa.. Berjuang dan berdoa dengan segenap tenaga.. Berjuanganlah sampai tidak ada lagi daya dan asa yang tersisa.. Kalau kita tidak bisa membantu dengan tenaga, pakai tulisan, menulis dan bicara, kalau tidak bisa menulis dan bicara, kirimkanlah bantuan dan doa-doa.. Tuhan tidak tidur dan tidak berdaya, Tuhan selalu menunggu dan meminta, apakah hati nurani kita terketuk dan terbuka, hanya kita manusia nya saja yang begitu banyak alasan tak mau bertindak dan diam saja.. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.. Teruslah berbuat kebaikan dan kebajikan.. Teruslah berbuat hal yang baik dan benar walau logika, kebanyakan orang, dan pandangan umum mungkin menyangkalnya.. Dan ingatlah, karma akan selalu datang pada siapa saja tak peduli kapan waktunya..

Like · Reply · 2h (Thursday, January 11, 2018 at 11:43am)

---
Arief Chrisdiyanto Kisanak, saya kenal ketua umum PGI dan Sakum PGI, bahkan salah satu ketua PGI adalah pendeta GKI. Saya kenal banyak teman-teman di PGI. Itu sebabnya saya tahu apa itu PGI dan apa yang dilakukan oleh PGI dan apa yang tidak bisa dilakukan oleh PGI. Anda ngejeblak tentang PGI, namun saya tahu pasti bahwa anda tidak tahu apa itu PGI. Ha ha ha ...

Umur saya 2018 ini 54 tahun. Saya pernah sekolah SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja di perusahaan, bahkan pernah kerja di Oil Company. Banyak teman-teman saya yang kerja di pemerintah dan eselonnya juga lumayan tinggi bahkan ada yang menteri. Itu sebabnya saya tahu apa yang mereka lakukan dan yang tidak mereka lakukan dan apa yang mereka tidak mampu melakukannya.

Membaca Alkitab? Saya sudah membaca Alkitab dari Kejadan sampai Wahyu lebih dari 100 kali lebih. Anda sudah pernah baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu?

Saya mulai sekolah Minggu waktu kelas 2, umur 9 tahun. Sampai sekarang belum pernah tuh mendengar Allah mendengar dan menjawab doa saya. Memang banyak yang mengaku-aku mendengar suara Tuhan lalu membual bahwa ucapan mereka itu adalah ucapan dari Tuhan.

Memangnya Allah nggak becus ngejeblak sendiri kepada yang bersangkutan itu sebabnya perlu anda untuk jadi PERANTARA? Dua saksi atau lebih baru SAH. Jadi apa bukti bahwa Tuhan memang bicara kepada kutu kupret itu untuk disampaikan kepada yang bersangkutan? Kisanak, itulah bukti bahwa mengaku-aku mendengar suara Tuhan adalah penipuan publik.

Tuhan memang tidak tidur, gimana bisa tidur, kalau siang malam orang-orang berdoa kepada-Nya? Tuhan juga belum MATI, kalau sudah mati, kita pasti ke kuburannya untuk Cengbeng-an. Dan bagi orang Kristen, menabur bunga ke kuburan-Nya. Namun faktanya, Allah selalu DIAM. Kita bisa saja mengaku-ngaku bahwa BERITA baik dan nasib BAIK yang kita terima adalah JAWABAN doa dari Allah alias Tuhan, namun TIDAK ada bukti sama sekali, bukankah kesaksian DUA saksi atau lebih barulah suatu perkara tidak disangsikan lagi? Itu berarti SELAIN Allah alias Tuhan harus ada SAKSI lain dan kesaksian ketiganyalah yang disebut SAHI.

Olah karena itu, kisanak, ketahuilah bahwa BERIMAN alias MERASA nyaman menyakini sesuatu adalah KEBENARAN, sudah terbukti TIDAK ada sumbangsihnya dalam kehidupan kita dalam kehidupan NYATA. Itu sebabnya, cara menjalani hidup dengan BERIMAN, boleh saja untuk "namanya juga usaha," namun jangan keseringan karena lama-lama MENYEBALKAN, tau? ha ha ha ...

Karena Orang beriman nggak pernah KEBAGIAN. Abrahan disebut bapak orang beriman karena dijanjikan anak cucunya akan menjadi bangsa yang besar. Namun faktanya, sampai mati, dia cuman punya dua orang anak lelaki. Demikian juga yang lain, orang-orang yang disebut orang BERIMAN, tidak pernah imannya MENJADI kenyataan di masa hidupnya. Jadi mau gimana dong ya? ha ha ha ...

Like · Reply · 36m · Edited (Thursday, January 11, 2018 at 1:54pm)

Saturday, January 6, 2018

SEMINAR TEKNOLOGI "Mit Wissen kann man die Welt verändern"

"Kegagalan hanya terjadi bila kita menyerah."
― Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer

SEMINAR TEKNOLOGI "Mit Wissen kann man die Welt verändern" Dengan Pengetahuan Seseorang dapat Mengubah Dunia
Studi dan Riset Teknologi: Dari Jerman untuk Indonesia yang Mendunia
Bersama pakar transportasi, Prof. Dr. -Ing. Ahmad Munawar, M.Sc., dan CEO IG-Nano, Dr. -Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M. Eng
Ruang III/3 Lantai 3 Pascasarjana Kampus III Gedung Bonaventura UAJ Yogyakarta
Deutsches Zentrum Yogyakarta - Himpunan Alumni Jerman Yogyakarta - Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Terima kasih Deutsches Zentrum Yogyakarta, Pak Ahmad Munawar, Pak Hutomo Suryo Wasisto, untuk kesempatan, apresiasi, serta sharing ilmu dan motivasi yang bermanfaatnya. Semoga sukses, sehat, dan berbahagia selalu. Amiin.

Profile & Meet Our Speaker #SEMTEK2018 : Prof. Dr. -Ing. Ahmad Munawwar, M.Sc.
http://dzyogya.blogspot.co.id/2017/12/meet-our-speaker-semtek2018-prof-dr-ing.html

Profile & Meet Our Speaker #SEMTEK2018 : Dr. –Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M.Eng.
http://dzyogya.blogspot.co.id/2017/12/meet-our-speaker-semtek2018-dr-ing.html


http://jogja.tribunnews.com/2018/01/06/seminar-teknologi-jerman-digelar-di-universitas-atmajaya-yogyakarta

---
Deutsches Zentrum Yogyakarta (Pusat Jerman Yogyakarta), lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan budaya Jerman di Yogyakarta bekerjasama dengan Himpunan Alumni Jerman Yogyakarta (HAJY) dengan bangga mempersembahkan:

SEMINAR TEKNOLOGI
“Mit Wissen kann man die Welt verändern”
Studi dan Riset Teknologi: Dari Jerman untuk Indonesia yang Mendunia.

Dengan pembicara:
1. Prof. Dr. -Ing. Ahmad Munawar, M.Sc.
Pakar Transportasi (UGM)
2. Dr. -Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M. Eng
Pakar Teknologi Nano (Uni Braunschweig, Jerman)

Sabtu, 6 Januari 2018
09.00-12.00 WIB
Ruang III/3 Pascasarjana Lantai 3, Gedung Santo Bonaventura, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 43, Yogyakarta

Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan sharing session seputar studi dan riset di Jerman bersama Dr. -Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M. Eng pada pukul 13.00-15.00 WIB.

Seminar dan sharing session ini terbuka untuk umum bagi pelajar, mahasiswa, alumni, dosen maupun peneliti di bidang sains dan teknologi.

Wa 082135345850
Telp (0274) 4221754

http://jogja.tribunnews.com/2018/01/06/seminar-teknologi-jerman-digelar-di-universitas-atmajaya-yogyakarta

Akhirnya kesampaian juga berkunjung ke DZY, silahturahmi sekaligus sharing dengan Pimpinan Deutsches Zentrum Yogyakarta siang hari tadi, Jumat, 12 Januari 2018 sekaligus mengambil sertifikat acara SEMINAR TEKNOLOGI "Mit Wissen kann man die Welt verändern" Dengan Pengetahuan Seseorang dapat Mengubah Dunia yang belum selesai tempo hari.

Vielen Dank Frau Eko Sulistyorini und Deutsches Zentrum Yogyakarta. Viel Glück und immer glatt.

Thursday, December 28, 2017

BULETIN WARTA GURU ISSN 0125 - 0506 EDISI 3 TAHUN 2017

Terima kasih Balai Tekkomdik Btkp Dinas Dikpora D.I.Yogyakarta untuk kesempatan dan apresiasinya.

Satu-satunya penulis non PNS yang diberikan kepercayaan dan apresiasi dalam penulisan & penerbitan WARTA GURU Edisi 3 Tahun 2017 Balai TekKomDik Dikpora DIY. Matur nuwun.

Tuesday, December 26, 2017

Blessing in Disguised


What is your Christmas present this year? I pry and hope it will be a great gift you wanted ever.

But 2,500 years ago, I didn't think the baby of Christ got all those luxurious things in his hands. Instead, he got some dumped place, a manger in a sheepfold.

Correct me if I am wrong, but didn't He had all the right to got better birthday present? He could chose the more prestigious place to born, like in the great castle, or anything else that just represented for very very special person ever born in this world.

And yet, He chose to born and living just like the other, far more than just normal people in fact. Not just a son of a carpenter in Nazareth, a small village in Galilee, the Northern District of Israel sometime just before 4 BC, but he became a carpenter himself.

Well, please stop arguing about the true facts and how's he lived at that time, but I just start questioning, why for most of all the Christians and probably for all the people around the world who enjoyed the Christmas traditions, always wanted something precious, something sweet, something bright like the star in the peak of Christmas tree, for their present for their own?

How if, once again if, the Christmas present actually something not so bright like star, not so sweet like in the children books, and not so good at all?

I am always wondering probably we should change of minds, be more mature in spirit and humanity, instead hoping what the Christmas present we got this year, we should giving what the best present we could to our family, to our neighbor, to our coworker who had paid lower than our salary, to our housemaid, and to others who don't have much as we had, to give them the best Christmas present ever this year:

To giving not from and for our own benefits, but to giving because Christ had blessed us so much. We give thanks and do goodness to the other. Don't wait to be rich to do so.

So, let's stop complaining, and start giving and doing good.

PS: I got mine in most unwanted present this morning. But I glad it was the best news I have. And yes, it was so gloomy and not bright as star. In fact, I will bring it probably until the end of my life. But somehow I am trying to accept and living with it. Definitely not stopping me to do more for goodness. Merry Christmas, God bless 😊.  

Sunday, December 24, 2017

Kamon Generator Create Your Own Japanese Family Crest

Have you ever wished you had your own Japanese family crest? Kamon means ‘family crest’ in Japanese, and are emblems used to identify a family in Japan.


Kamon (Japanese Family Crests): Ancient Key to Samurai Culture

There is a kind of crest in Japan called a kamon, first used in the era of the Heike and Genji (a.k.a. the Taira and Fujiwara) to distinguish the clans of the time. Indicating family and lineage, kamon evolved to become the family names of today. Differing in nuance from the coat of arms and emblems of Europe, kamon are considered a unique part of Japanese culture.

The History of Family Crests

The origin of kamon goes back to the Heian period (794 to 1185), but scholars say it was the Warring States period (late 1400s to 1590) in which they truly proliferated. There were many conflicts during this period, and the number of kamon rose considerably as they allowed combatants to differentiate friend from foe. With the increasing peace of the Edo and Meiji eras, kamon held on as representations of lineage and became a fixed part of Japanese culture. You’ve probably seen old photographs featuring kamon, perhaps on someone’s mon-tsuki hakama (traditional black menswear with kimono and loose trousers) or printed on a paper hand lantern.

Also, it isn’t uncommon even in the present day for practitioners of traditional arts (e.g., kabuki, Noh, etc.) and established shops with long histories to present their kamon to the public, such as on their noren (cloth entrance curtain). Additionally, the tradition of donning formal funeral wear marked with a family’s kamon remains even now widely practiced as part of Japanese culture.  

Types of Family Crests

A kamon can be assigned to one of a number of different categories depending on its subject. These categories include kamon based on plants (shokubutsu-mon), on flowers (ka-mon), on animals (dōbutsu-mon), and on natural phenomenon (tennen-mon), as well as kamon constructed from traditional patterns (monyō-mon) and military influences (shōbu-mon). The five most common and widely-spread crests, the Godaimon, are all included in these greater categories. 

Create your own kamon here at https://www.ayataka.jp/fun/kamon/ (please remember to put your family/surname in the first colomn and your first name in the second empty colomn with hiragana only. You can use http://japanesetransliteration.com/ to translate any Western or other names into hiragana.The rest sequential coloms are for year, month, and day just put the romaji/numbers as usual like 1997 for year, 12 for month, 8 for day, etc). 


P.S.: This generator was made for fun. Please not to be taken too seriously. 

Here is my own family crest, by the way (with some Japanese to English translation below): 


【Ω紋】
チャレンジ精神旺盛でその探究心、好奇心は無限大のオメガ紋のあなた。他人にも非常に興味があり、面倒見もよい特徴を持っています。人の上に立ち、指示を出すのも得意で快感を覚えるはずです。でも、他人に指示されるのを嫌い、反抗的な態度をとりがちのようです。
時には、急須でいれたようなにごりの旨みの「綾鷹」で、心を落ち着けてみてはいかがでしょう。

【Ω crest】
Its challenging spirit with its inquiring mind, curiosity is the infinite omega pattern. I am also very interested in other people, and my troublesome features are also good. Stand up on a person and you will be pleasantly good at giving instructions as well. However, I dislike being instructed by others, seems to take a rebellious attitude.
Sometimes, how about trying to calm down your mind with "Ayataka", a rusty taste like a teapot.

※本コンテンツで作成されるオリジナル
KAMONは、“家紋デザイナー”沖 のりこさん、
他デザイナーにより制作されました。

Original created by this content ※
KAMON, "Crest Designer" Noriko Oki,
It was produced by another designer.

The other interesting thing I got was the result from creating another kamon for my wife. And it seems so appropriate to her character. Here is her family crest I made, by the way (with some Japanese to English translation below): 


【四葉紋】
四葉紋のあなたは争いごとを遠ざけ、平和を好む温和な性格。周りとの調和を大切にし、多くの人々と手に手をとって生きてゆけば必ず、あなたも、そしてあなたを取り巻く人々も平穏で素敵な人生を送れることでしょう。持ち前の優しさと協調性を大切にして、素敵な日々を過ごしてください。
周りの人とのよりよい関係作りに、急須でいれたようなにごりの旨みの「綾鷹」で、親交を深めてみてはいかがでしょう。

【Four Leaves】
You are a mild personality who loves peace, keeping every fight away. Cherish the harmony with the surroundings and live with hands in hand with many people, surely you and the people surrounding you will be able to live a peaceful and wonderful life. Please take good care of your kindness and cooperation and have a wonderful day.
Why do not you deepen your friendship with "Ayataka", a tasty umami like a teapot, to make a better relationship with the surrounding people

※本コンテンツで作成されるオリジナル
KAMONは、“家紋デザイナー”沖 のりこさん、
他デザイナーにより制作されました。

Original created by this content ※
KAMON, "Crest Designer" Noriko Oki,
It was produced by another designer.

Again, create your own kamon here at https://www.ayataka.jp/fun/kamon/ (please remember to put your family/surname in the first colomn and your first name in the second empty colomn with hiragana only. You can use http://japanesetransliteration.com/ to translate any Western or other names into hiragana.The rest sequential coloms are for year, month, and day just put the romaji/numbers as usual like 1997 for year, 12 for month, 8 for day, etc). 

P.S.: This generator was made for fun. Please not to be taken too seriously. 

Friday, December 22, 2017

Pengiriman Buku PDF Gratis Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi


Dear rekan-rekan mitra, 

Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, baru saja menerbitkan Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Acamannya bagi Demokrasi, terjemahan buku Hate Spin: The Manufacture of Religious Offense and Its Threat to Democracy karya Cherian George, guru besar studi-studi media pada Departemen Jurnalisme, Hong Kong Baptist University. Edisi aslinya diterbitkan MIT Press pada 2016.

Kami menerjemahkan buku itu karena menilai relevansi tesis-tesisnya dengan situasi Indonesia mutakhir. Istilah “pelintiran kebencian” (hate spin) digunakan George untuk menunjuk kepada teknik berpolitik bermata-dua yang mengombinasikan ujaran kebencian (hasutan melalui tindak menyetankan kelompok lain) dengan rekayasa ketersinggungan (menampilkan kemarahan yang dibuat-buat), yang digunakan untuk menyerang lawan politik. Dengan berpura-pura merasa tersinggung, satu pihak menyudutkan lawan politik yang dinisbatkan secara sepihak sebagai sumber ketersinggungan, membakar amarah massa untuk ikut tersinggung, bahkan menggalang kekerasan massa untuk menyerang korban. 

Di negara seperti Indonesia yang tingkat keberagamaannya tinggi, agama adalah sumber paling ampuh untuk membakar amarah massa. Ada klaim kemutlakan di sana, menjanjikan surga atau neraka, menjadi sumber emosi yang sangat bisa diandalkan. Kata Sidney Tarrow, seperti dikutip George, “Agama menawarkan simbol-simbol yang sudah siap-pakai, ritual, dan solidaritas yang bisa diakses dan dimanfaatkan oleh para pemimpin gerakan.”

Dalam edisi asli bukunya, George menunjukkan bagaimana unsur-unsur di atas bekerja dalam politik India, Indonesia, dan Amerika Serikat. Menurut kami, penjelasan ini banyak gunanya untuk menerangkan peristiwa Pilkada DKI Jakarta dan kemenangan Donald Trump di AS.

Tautan untuk mengunduh pdf buku tersebut (375 halaman, 2,33 MB) bisa didapatkan gratis di https://drive.google.com/file/d/1_kmxHONdia3kxfZqmt2mGrqe-7PZNSfR/view?usp=sharing.

Semoga pdf buku di atas untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jika Anda memerlukan edisi cetaknya, silakan kontak PUSAD Paramadina di +62 815-1166-6075 atau pusad-paramadina@gmail.com.

Kita bersama-sama perlu melanjutkan diskusi di atas dengan membaca lebih teliti buku ini dan membahas saran-saran pencegahannya – dalam konteks kita. Apalagi kita sebentar lagi masuk “tahun politik” dan beberapa pihak sudah menyatakan akan kembali memainkan pelintiran kebencian.

Terimakasih

Ihsan Ali-Fauzi

Thursday, December 21, 2017

Peluncuran dan Diskusi Buku Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersingguan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi


Foto "Hitam Putih" dengan salah satu cover buku gratis untuk 50 peserta pertama, sebelum pelaksanaan acara Peluncuran dan diskusi buku "Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi". Saya pribadi mengakui dan mengacungkan dua jempol bagi dua narasumber Bpk Zainal Abidin Bagir (Ketua Prodi Agama dan Lintas Budaya UGM) dan Bpk Irsyad Rafsadie (Editor, Peneliti PUSAD Paramadina) yang mau dengan arif membuka diri, mengoreksi, dan mengakui konsep ketidakhadiran/kelalaian negara, aparat, dan media secara umum dalam fenomena ledakan pelintiran kebencian massa, keberpihakkan negara, aparat, dan media pada yang berpunya/secara kolektif yang mendominasi dan menguntungkan secara politis, dan secara konstruktif juga mengajak seluruh peserta untuk lebih mengkritisi setiap berita/informasi yang muncul di ranah publik dengan bahasa yang santun. Namun demikian, mohon maaf agaknya saya akan tetap berseberangan pendapat dengan narasumber Ibu Widiarsi Agustina (Redaktur Pelaksana TEMPO) yang dengan keras menolak bahkan menyebutkan bahwa jangan apa-apa terus jadi menyalahkan pemerintah, malah sebaiknya menyarankan bahwa jempol jari-jari kalian (saya ingat sekali penyebutan beliau untuk kata kalian cukup tegas dan keras di sini) harus dikontrol, puasa bermedsos, dsb. Saya jujur agak kecewa dengan sikap dan tanggapan beliau. Saya menangkap dari nada bicara beliau sebuah impresi yang bagi saya pribadi terasa cukup arogan, bahwa pemerintah itu jangan disalahkan, jangan dikritisi, yang harus berubah itu kalian. Saya memang bukan seorang jurnalis, bukan seorang yang mahir dalam menganalisa riset data publik skala nasional, bukan pula seorang yang fasih dalam hal politik kepemerintahan, saya tahu saya tidak mungkin mendebat beliau dengan pengalaman yang luar biasa dan saya cuma seorang freelancer, seorang wirausahawan, dan penulis amatiran, anak kemarin sore, tapi buat saya cukup satu hal, nurani manusia tidak boleh dan tidak bisa dibohongi. Akan jauh lebih baik jika beliau memberikan jawab dan pendapat dengan lebih santun dan mengajak dengan lebih persuasif peserta sebagaimana dua narasumber lainnya untuk lebih menyikapi fenomena "hate spin" alias pelintiran kebencian sebagai bentuk rekayasa ketersinggungan agama dan ancamannya bagi demokrasi yang disebut oleh penulis Cherian George yang tengah, telah, dan terus berkembang di kawasan Amerika Serikat, India, dan Indonesia. Mohon maaf bila saya salah menangkap dan tetap menyuarakan pendapat keberpihakkan saya pribadi bagi nurani manusia, masyarakat umum yang mungkin lebih papa lebih tak berpunya, bukan atas embel-embel afiliasi atau institusi. Selain buku gratis tersebut, saya juga amat berterima kasih juga bagi segenap panitia dan staff yang memperbolehkan peserta untuk 'silahkan ambil' membawa pulang lebihan snack yang tersisa setelah acara selesai.

https://www.facebook.com/IISUGM/photos/a.233013583404597.54325.135070286532261/1661990747173533/?type=3&theater

CC: Institute of International Studies

Kamis, 21 Desember 2017 | 13.00-15.00 WIB |
Convention Hall, 4th floor, Gedung Perpustakaan Mandiri, FISIPOL UGM

---

[PERUBAHAN TEMPAT]

Karena antusiasme pendaftar yang sangat tinggi, acara peluncuran dan diskusi buku 'Pelintiran Kebencian' akan dipindah ke Convention Hall, 4th floor, Gedung Perpustakaan Mandiri, FISIPOL UGM.

Peluncuran & Diskusi Buku

PELINTIRAN KEBENCIAN:
Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi

Narasumber:
Zainal Abidin Bagir
(Ketua Prodi Agama dan Lintas Budaya UGM)
Widiarsi Agustina
(Redaktur Pelaksana TEMPO)
Irsyad Rafsadie
(Editor, Peneliti PUSAD Paramadina)

Kamis, 21 Desember 2017 | 13.00-15.00 WIB |
Convention Hall, 4th floor, Gedung Perpustakaan Mandiri, FISIPOL UGM

Buku gratis untuk 50 peserta pertama!


TENTANG BUKU

Wabah intoleransi agama biasanya dianggap sebagai fenomena yang spontan dan berakar pada tradisi agama-agama itu sendiri, yang saling bertabrakan. Tapi dalam buku ini, Cherian George, penulisnya, memperlihatkan bahwa wabah tersebut sebagian besarnya melibatkan kampanye dahsyat para oportunis politik untuk memobilisasi pendukung dan menyingkirkan lawan.

George menyebut strategi ini “pelintiran kebencian” – teknik bermata-dua yang mengombinasikan ujaran kebencian (hasutan melalui tindak menyetankan kelompok lain) dengan rekayasa ketersinggungan (menampilkan kemarahan yang dibuat-buat). Teknik ini dibawa ke masyarakat yang beragam, seperti masyarakat Buddha di Myanmar dan Kristen Ortodoks di Rusia.

George meninjau tiga negara demokratis terbesar di dunia, di mana kelompok-kelompok intoleran dalam Hindu sayap-kanan India, Kristen sayap-kanan Amerika, dan Muslim sayap-kanan Indonesia menjadi pelaku pelintiran kebencian. Dia juga menunjukkan bagaimana Internet dan Google telah membuka kesempatan baru bagi munculnya pelintiran kebencian lintas-batas.

Buku ini juga menawarkan obat yang dapat kita minum untuk mengatasi wabah penyakit pelintiran kebencian. Tawaran-tawaran itu penting kita diskusikan. Agar demokrasi kita bisa bertahan, kita wajib memahami apa yang menggerogoti tubuhnya dan mencari pil yang bisa menyembuhkannya.