tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] "Living is a conversation. All people talk. But a good person listens as well." - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 19 Juli 2017.

Thursday, September 21, 2017

Hadiah Pernikahan Pertama dari Istri - Memahami Jepang Abad XII Melalui Karya Eiji Yoshikawa


Hadiah pernikahan pertama dari istri. Terima kasih dek R.r. Ratri Hapsari buat dukungan dan pengertiannya.

Don't pray for easy lives. Pray to be stronger man.
--John F Kennedy 

with R.r. Ratri Hapsari in Kotagede, Yogyakarta, Indonesia.

Judul: Shin Heike Monogatari - The Heike Story [Novel Epik Sejarah Jepang Abad ke-12]
No. ISBN: 9786027428065
Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerbit: Qantara
Tanggal terbit: November - 2016
Jumlah Halaman: 644
Berat Buku: 700 gr
Jenis Cover: Soft Cover
Kategori: Sejarah Fiksi
Text Bahasa: Indonesia 


Sinopsis: 
Kyoto pada abad kedua belas adalah sebuah kota besar yang dirongrong oleh kriminalitas, gejolak masyarakat, dan nafsu angkara murka. Kaum bangsawan menindas rakyat jelata, sementara biksu Buddha bersenjata menyebarkan teror pada istana dan semua orang. Di tengah keputusasaan, kaisar menggalang dukungan dari dari keluarga Heike dan Minamoto untuk meredakan kemelut di ibu kota. Walaupun berhasil dalam menjalankan tugas tersebut pada pertikaian yang menjerumuskan Jepang ke dalam perang saudara selama seabad penuh.

Novel ini bercerita tentang keidgdayaan Heike Kiyomori selama masa penuh gejolak itu. Kendati dikenal sebagai seorang pria yang lemah lembut dan berwawasan luas, sepak terjangnya meninggalkan jejak berdarah. Perubahan dramatis nasib Kiyomorilah yang menjadi inti dari novel epik ini.

The Heike Story adalah versi terjemahan yang eksotis, kekuatan narasi,keindahan tutur kata, dan kelirisannya akan memikat para pembaca.

Resensi:
Memahami Jepang Abad XII Melalui Karya Eiji Yoshikawa

Memahami Jepang masa feodal  memang sebaiknya tidak hanya melalui buku-buku sejarah, tapi juga bisa  melalui buku-buku novel fiksi sejarah yang kini banyak bertebaran, di antaranya karya-karya sastrawan Jepang Eiji Yoshikawa.

Salah satu bukunya yang baru diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diluncurkan baru-baru ini, yakni “The Heike Story  : Kisah Epik Jepang Abad Ke-12”, terbitan Zahir Books , salah satu divisi dari kelompok penerbit RedLine. Buku ini terbit edisi pertama pada Juni 2010 dan cetak ulang edisi kedua Juli 2010.

Eiji Yoshikawa, seorang novelis Jepang yang lahir tanggal 11 Agustus 1892  dan meninggal 7 September 1962, sebelumya telah dikenal di Indonesia melalui karya-karyanya seperti “Musashi”,  yang diterjemahkan dan diluncurkan dalam bentuk satu buku novel (sebelumnya dalam beberapa jilid  buku ) di Indonesia tahun 2001 dan “Taiko”  diluncurkan tahun 2003.

Kedua buku tersebut telah dicetak ulang beberapa kali oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dan mendapat tempat di hati para penggila novel klasik Jepang di Indonesia.

Hampir mirip dengan novel Musashi dan Taiko, novel The Heike Story  yang terbit pertama kali di Jepang tahun 1956 juga merupakan sebuah kisah fiktif berbasis sejarah Jepang masa feodal.

The Heike Story menceritakan mengenai tokoh bernama Heike Kiyomori, seorang panglima muda dari klan Heike, yang hidup pada masa tahun 1118-1186,  dan terseret  dalam pusaran intrik-intrik politik istana kekaisaran  hingga akhirnya memiliki peran penting dalam sejarah pemerintahan Jepang masa itu.

Berbeda dengan novel sejarah Musashi dan Taiko yang pada masanya kekuasaan pemerintahan berada di tangan shogun (panglima militer), maka pada masa hidup Heike, kekuasaan pemerintahan masih berada  di tangan kaisar.

Kendati demikian, dikisahkan bahwa pada masa tersebut terjadi banyak kekacauan dan pertikaian bersenjata  karena hampir  setiap bangsawan tuan tanah memiliki pasukan militer sendiri dan dapat menekan pihak istana. Tidak hanya para bangsawan,  bahkan biara-biara besar  Budha besar pun bebas mempersenjatai para biksunya sehingga  kerap ditakuti oleh masyarakat.

Kekacauan pada masa tersebut membuat istana kekaisaran sangat bergantung pada perlindungan dari klan-klan keluarga bangsawan tertentu yang dianggap loyal dan  dapat memberikan jaminan keamanan pada keluarga kekaisaran serta pemerintahan.

Di antara berbagai klan yang berperan pada masa tersebut, terdapat tiga klan yang tercatat memainkan peran penting, yakni klan Fujiwara, Heike dan Genji. Klan Fujiwara memiliki peran penting sebagai klan yang paling dipercaya keluarga kaisar sehingga untuk memperkuat ikatan, pihak keluarga kaisar banyak menikahi putri-putri cantik  dari klan Fujiwara.

Tercatat dalam sejarah masa itu, Kaisar Toba (1103-1156) beristrikan Permaisuri Yasuko yang berasal dari klan Fujiwara. Demikian pula Kaisar Sutoku (1121-1181) beristrikan Permaisuri Shoko, Kaisar Konoye (1131-1176) beristrikan Permaisuri Tadako dan berselirkan Shimeko, semuanya dari klan Fujiwara.

Kedekatan itu pulalah yang membuat orang-orang dari klan Fujiwara mampu menempati posisi penting dalam pemerintahan, seperti halnya  Perdana Menteri Tadamichi (1097-1164) dan Menteri Golongan Kiri, Yorinaga (1120-1156).

Klan Fujiwara-lah sebetulnya yang mengendalikan pemerintahan pada masa itu hingga ke provinsi-provinsi terjauh sekaligus membuat para bangsawan dari klan tersebut  bergelimang kekayaan luar biasa.

Kendati demikian, manisnya kekuasaan dan kekayaan pada akhirnya menggiring terjadinya konflik internal di kalangan bangsawan Fujiwara sendiri. Karena itu, klan ini menggalang dukungan dari dua klan lain yang dianggap kuat pada masa tersebut, yakni klan Heike dan Genji.

Kedua klan tersebut, yang tidak memiliki keterkaitan apapun dengan istana , ditugaskan untuk mengelola keamanan militer wilayah kekuasaan klan Fujiwara di provinsi-provinsi terjauh, dipekerjakan sebagai samurai  pengawal  istana, meredam gejolak masyarakat serta menengahi pertikaian bersenjata di antara kuil dan biara-biara besar Buddha.

Namun demikian, konflik internal dalam klan Fujiwara sendiri akhirnya menyeret klan Heike dan Genji untuk saling mengadu domba faksi-faksi di dalam tubuh klan Fujiwara.

Pada pertengahan abad itulah, terjadi pertikaian militer besar-besaran di antara para bangsawan, yang akhirnya membuat klan Heike, dibawah panglima muda mereka Heike Kiyomori, mengakhiri dominasi klan Fujiwara  sekaligus menjatuhkan saingannya, yakni klan Genji.

Kendati demikian, sejarah juga mencatat bahwa pada seperempat abad kemudian, klan Genji akhirnya berhasil menggulingkan klan Heike dan menguasai pemerintahan.

Sejarah Klasik Jepang:
Kisah The Heike Story (Hikayat Heike) ini menarik untuk dibaca karena dapat semakin memperdalam pemahaman kita mengenai sejarah klasik Jepang, terutama terkait konflik-konflik politik abad-12, sebelum Shogun Tokugawa Ieyasu berhasil mempersatukan Jepang dan memerintah negeri itu sebagai diktator militer, sekaligus memarjinalkan peran kaisar.

Novel ini juga menarik karena ditulis oleh  pengarang Jepang , Eiji Yoshikawa, yang teknik menulisnya sangat mengandalkan pada alur cerita yang kuat berbasiskan  fakta sejarah.

Berbeda dengan sastrawan-sastrawan Prancis dan Rusia yang sering mempengaruhi gaya para sastrawan  Jepang lainnya,  Eiji Yoshikawa  tidak bertele-tele dalam membangun kisah  pada setiap bab novelnya. Kalaupun terdapat bab-bab yang mengisahkan tokoh lain (bukan tokoh utama), namun pada ujungnya ternyata bermuara pada kisah si tokoh utama.

Hal lain yang menarik pada novel-novel karya Yoshikawa yakni tokoh utama ternyata tidak selalu menjadi pahlawan utama  Sejarah atau rangkaian peristiwa yang tidak terduga, adalah protagonis yang mencakup segalanya dan para tokoh besar hanyalah sosok-sosok yang sejenak terselamatkan dari arus deras waktu (hal.749).

Buku novel setebal 750 halaman tersebut dilengkapi dengan diagram silsilah keluarga kaisar pada masa itu, serta silsilah penting terkait keluarga klan Heike, Fujiwara dan Genji. Hanya saja, akan lebih baik bila buku ini juga dilengkapi dengan daftar nama-nama tokoh penting serta perannya dalam kisah tersebut mengingat banyak sekali nama tokoh yang bermunculan dan terkadang kemunculannya terjadi pada dua bab yang terpisah jauh.

Akan lebih baik lagi bila buku ini dilengkapi pula dengan halaman khusus daftar  mengenai istilah-istilah tertentu atau penjelasan mengenai konteks tertentu dalam sejarah politik dan  budaya Jepang, sehingga bagi orang awam yang baru pertama kali membaca buku novel sejarah klasik Jepang, akan dapat mencerna dengan lebih mudah.(*)

Friday, September 8, 2017

ANGKA DAN WARNA


ANGKA DAN WARNA

Dulu aku sangat menyukai dirimu
Semua serba indah dan penuh makna
Hidup sederhana dan senyum yang tak jemu
Kepolosan dan ketegaran jalani hari bersama

Dulu memang dirimulah yang pertama
Tak ada cacat walau pribadi tak sempurna
Tak pernah keluhkan hidup yang menderita
Mengais rupiah di jantung ibukota

Tapi kini aku tak kenal dirimu
Semua serba angka dan bukan lagi warna
Berganti rupa kehidupan dunia yang semu
Tak ada kepolosan dan kesederhanaan di sana

Lalu kau sebut aku sudah mulai menua
Manusia harus berubah untuk bahagia
Masa lalu adalah soal cerita lama
Masa kini adalah soal membangun citra

Puisi ini kubuat sekali hanya untuk dirimu
Ya dirimu yang dulu adalah juga diriku
Yang pernah berani melawan dunia
Yang kini telah tiada

Yogyakarta, 08 September 2017

Sunday, September 3, 2017

TENTANG IDEALISME GURU


Selamat pagi & selamat beraktivitas. Semoga bermanfaat bagi kita semua.  

Bagi para muridnya, guru itu laksana seorang nabi bagi umatnya. Bisa dikatakan pula, bahwa guru itu adalah perwakilan nabi yang diutus untuk membimbing generasi kaumnya. Itulah alasannya kenapa dikatakan guru tidak boleh kehilangan idealismenya. Jika seorang guru bukanlah seorang ahli di bidang ilmu tertentu, setidaknya guru itu adalah orang yang mencintai ilmu. Dan dengan kecintaannya itulah ia mendorong murid-muridnya untuk bisa menghargai ilmu. Status ini terinspirasi dari nasihat Syaikhona Mbah Kyai Maimun Zubair, yang beberapa waktu lalu ramai dibagikan di medsos.

Friday, September 1, 2017

Gebyar Anugerah KiHajar 2017 DIY



Terima kasih untuk kesempatan dan apresiasinya Balai Tekkomdik Btkp dan JB Radio "Generasi Cerdas Masa Depan" sy boleh hadir dan turut serta sebagai Panitia. #KiHajar2017

"Gebyar Anugerah Kihajar 2017 DIY" - 31 Agustus, 4 & 5 Sptember 2017.


 
Monggo mampir di booth Pustekkom Kemdikbud "Ayo Belajar Dengan Menyenangkan" CC: Pustekkom Kemdikbud.
Gebyar Anugerah KiHajar 2017 #KiHajar2017
4 September 2017

Terima kasih untuk kesempatan dan apresiasinya Balai Tekkomdik Btkp dan JB Radio "Generasi Cerdas Masa Depan" sy boleh hadir dan turut serta sebagai Panitia.

"Gebyar Anugerah Kihajar 2017 DIY" - 31 Agustus, 4 & 5 Sptember 2017.



Matur nuwun sanget Gusti & terima kasih banyak untuk semua kerjasama yang baik, penampilan yang menarik, partisipasi yang aktif, dan begitu banyak hal positif lainnya dari bapak & ibu Guru, adik-adik peserta jenjang SD, SMP/MTS, SMA/MA/SMK, SLB, rekan-rekan Komunitas Pengembang Android, Fotografi, Apple, Film Pendek, Pustekkom Kemdikbud, dan rekan-rekan Panitia. Akhirnya acara #KiHajar2017 dapat terselesaikan dengan baik siang jelang sore ini. CC: Pustekkom Kemdikbud

Terima kasih juga untuk kesempatan dan apresiasinya Balai Tekkomdik Btkp​ dan JB Radio "Generasi Cerdas Masa Depan" sy boleh hadir dan turut serta sebagai Panitia.

"Gebyar Anugerah KiHajar 2017 DIY" - 31 Agustus, 4 & 5 Sptember 2017.

Saturday, August 26, 2017

Tergolek Tak Berdaya, Sastrawan Hamsad Rangkuti Butuh Pertolongan


Tergolek Tak Berdaya, Sastrawan Hamsad Rangkuti Butuh Pertolongan

Oleh Sulung Lahitani Mardinata pada 22 Agu 2017, 11:30 WIB

http://citizen6.liputan6.com/read/3066538/tergolek-tak-berdaya-sastrawan-hamsad-rangkuti-butuh-pertolongan

Liputan6.com, Jakarta - Sastrawan kenamaan Indonesia itu kini hanya bisa terbaring lemah. Meski masih memiliki kesadaran, Hamsad Rangkuti sudah tidak mampu bergerak lagi. Jangankan bangun dari tempat tidur, untuk menangis dan tertawa saja ia sudah tak mampu.

Sebelumnya, pria yang pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Horison itu keadaannya baik-baik saja. Sampai pada tahun 2009, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok mengambil tanahnya secara sepihak, membangun tempat pembuangan sampah sementara (TPSS) di lahan berukuran 5x12 meter, tak jauh dari rumahnya.

Hamsad Rangkuti sempat melawan, tapi kalah. Pemkot Depok tetap melakukan pembangunan di atas tanah miliknya. Ironisnya, keluarga Hamsad tidak mendapat uang pengganti.

Sejak saat itu, ia pun sering sakit-sakitan. Rumah yang menjadi sumber inspirasi dan tempat ia menulis tak lagi terasa hangat. Sampah yang menumpuk, belatung, kecoa, tikus, dan bau busuk menerbangkan bau hingga ke rumahnya. Lingkungan yang tidak sehat menyebabkan keluarga tersebut dijangkiti penyakit.

Penyakitnya semakin parah. Bermula dari muntah-berak, kondisinya makin menurun. Pada tahun 2012, ia sampai harus melakukan operasi by pass jantung. Tak hanya itu, perutnya sampai-sampai harus dilubangi karena tak bisa lagi buang air kecil.

"Bapak juga dua hari sekali mesti tambah oksigen. Makannya cuma bisa satu merek, namanya Proten," ujar Nurwindasari, istri Hamsad Rangkuti saat dihubungi Liputan6.com pada Selasa (22/8/2017).

Menurut Nur, dalam satu bulan suaminya butuh 9-10 boks Proten. Sementara harga satu boks Proten sekitar Rp 256 ribu. Pria yang pernah mendapat SEA Writer Award dari Pemerrintah Thailand pada 2008 itu tak lagi dirawat di rumah sakit. Biaya yang keluar terlalu besar untuk ditanggung keluarga tersebut.

Karena tidak memungkinkan tinggal di rumah yang lama, Hamsad Rangkuti bersama istrinya kini tinggal di rumah petak berukuran 3,5 x 5 meter. Mereka mendirikan rumah sederhana tersebut di kebun yang dimiliki oleh Hamsad Rangkuti.

Malahan, rumah di Depok yang ia beli dari honor menulis pun kini tinggal terbengkalai. Tidak bisa ditempati atau dijual karena tak ada yang mau membeli rumah yang dekat dengan bak sampah. Sementara Pemkot Depok tak pernah datang memberi bantuan.

"Dulu sering datang, berjanji mau menyelesaikan perkara ini. Tapi sampai sekarang tidak ada bantuan. Padahal saya ikut milih gubernur dan wakil yang sekarang, sama walikota dan wakilnya juga. Tapi tidak ada bantuan sama sekali," ujar Nur sambil tergugu.

Di antara pembicaraan yang diselingi isak tangis, ia mengaku kecewa terhadap pemerintah yang seolah tak peduli pada nasib suaminya. Padahal Hamsad Rangkuti telah mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional dengan karya-karyanya.

Jika ingin membantu sastrawan kenamaan Indonesia ini, dapat mengirimkan bantuan ke BNI cabang Margonda, Depok, nomor 0106423653 atas nama Hamsad Rangkuti.

Atau jika ingin melihat Hamsad Rangkuti secara langsung, dapat mengunjunginya di Swadya 8 RT 3 RW 3 Tanah Baru Depok, Pondok/Villa Ato.

Penghargaan-penghargaan

Sebagai sastrawan, nama Hamsad Rangkuti tak asing lagi bagi pecinta sastra. Karya-karya yang ia ciptakan pun telah mendapat tempat tersendiri. Hal ini terbukti dari penghargaan-penghargaan yang telah beliau raih.

    ~Penghargaan Insan Seni Indonesia Mal Taman Anggrek & Musicafe (1999)
    ~Penghargaan Sastra Pemerintah DKI (2000)
    ~Penghargaan Khusus Kompas atas kesetiaan dalam penulisan cerpen (2001)
    ~Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2001)
    ~Pemenang Cerita Anak Terbaik 75 Tahun Balai Pustaka (2001) untuk "Umur Panjang untuk Tuan Joyokoroyo" dan Senyum "Seorang Jenderal pada 17 Agustus"
    ~SEA Write Award (2008)
    ~Khatulistiwa Literary Award 2003 untuk Bibir dalam Pispot
    ~Hadiah Harapan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 1981 untuk Ketika Lampu Berwarna Merah

Karir dan Kepenulisan

Selain sebagai penulis, Hamsad Rangkuti juga pernah menjadi pimpinan redaksi majalah Horison. Berikut beberapa karya beliau yang telah diterbitkan.

    ~Bibir dalam Pispot atau Lips on the Chamber Pot", translated by Harry Aveling (Angkor Verlag; Kindle E-book 2015)
    ~Sampah Bulan Desember: Kumpulan Cerpen
    ~Panggilan Rasul: Kumpulan Rasul
    ~Ketika Lampu Berwarna Merah
    ~Lukisan Perkawinan
    ~Cemara
    ~Mudik: Kumpulan Cerpen
    ~Beberapa cerpennya juga masuk dalam buku kumpulan cerpen pilihan Kompas

Sunday, August 20, 2017

Festival Literasi Jogja Istimewa 20 Agustus 2017

video
Terima kasih Bu Ernawati untuk kiriman dua fotonya ini.
Foto kenangan sebelum berangkat karnaval dengan peserta lebih dari 2500 orang dan rute sejauh 3 km.
Terima kasih Bu Ernawati untuk kiriman dua fotonya ini.
Foto kenangan sebelum berangkat karnaval dengan peserta lebih dari 2500 orang dan rute sejauh 3 km.

Terima kasih Gramedia Store​ untuk kesempatan dan apresiasinya.

Tuntas sudah semua usaha kami, saya dan istri R.r. Ratri Hapsari​, untuk mengikuti kegiatan tahunan Festival Literasi Jogja Istimewa 20 Agustus 2017 di CFD Jogja Kreatif, Jl. Jend. Sudirman Yogyakarta, Pkl 06.00-10.00 WIB.

Walau semua kompetisi sudah kami ikuti dan masih belum beroleh kesempatan untuk menang satu pun yakni Kampanye Literasi Media Sosial (Wajib), Kompetisi Esai Literasi (Pilihan), Karnaval Literasi Jogja Istimewa (Wajib) dan Doorprize (Pengundian di tempat) namun kami tetap bangga dan ceria boleh berbagi kebaikan, senyum, ajakan untuk membaca dan tentunya buku-buku pribadi untuk disumbangkan :-).

#0031 #MembacaItuKeren #0032 #AyoBacaBuku

#FestivalLiterasiGramedia
#LiterasiJogjaIstimewa
#LiterasiGramedia
#AkuBaca

https://twitter.com/gramedia
https://www.facebook.com/gramediastore/
http://gramedia.id/festivalliterasigramedia/
https://www.instagram.com/festivalliterasigramedia/

Video: https://www.instagram.com/p/BX_oSC0Atw3/?taken-by=festivalliterasigramedia

Wednesday, August 16, 2017

Seminar Ilmiah Awal TA 2017/2018 S2 FKIP USD MENDIDIK GENERASI NET

 

Terima kasih Ibu Dr. Neila Ramdhani, M.Si, M.Ed (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan Program Director of TQI at Titian Foundation) untuk ilmu, sharing, dan buku yang bermanfaat ini. 

Terima kasih juga untuk Bpk Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd (Dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk kesempatan dan apresiasinya sy boleh mengikuti Seminar Ilmiah Awal Tahun Akademik 2017/2018 S2 FKIP USD, dengan tema: MENDIDIK GENERASI NET.

Rabu, 16 Agustus 2017 (07.30 – 12.15 WIB) at Ruang Drost Kampus 3 USD Paingan, Maguwoharjo, Yogyakarta

#seminarilmiah #generasiZ #magisterFKIP #usdkece #cerdashumanis

---
Penyiapan dan pendampingan calon guru pada jaman internet saat ini memiliki tantangan yang besar. Jaman dan generasi internet yang dihadapi sekarang jelas sangat berbeda dengan jaman sebelum ada internet. Eksistensi kita sebagai lembaga pendidikan dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan generasi sekarang maupun generasi di masa datang yang kita didik. Kita yang sebagian besar dari generasi Y bahkan juga sebelumnya, saat ini menyiapkan guru dari generasi Milenial yang mana menereka akan mengajar generasi Z, bahkan generasi Alpha. Menyikapi hal tersebut S2 FKIP Universitas Sanata Dharma (USD) mencoba terus meng-update diri dengan menyelenggarakan Seminar Ilmiah Awal Tahun Akademik 2017/2018, dengan tema: MENDIDIK GENERASI NET.

Narasumber:
1. Dr. Neila Ramdhani M.Si, M.Ed dari Fakultas Psikologi UGM
2. Dr. Patrisius Mutiara Andalas, SJ dari Pascasarjana Universitas Sanata Dharma

Rabu, 16 Agustus 2017 (07.30 – 12.15)

Ruang Drost Kampus 3 USD Paingan, Maguwoharjo, Yogyakarta

#seminarilmiah #generasiZ #magisterFKIP #usdkece #cerdashumanis