tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Monday, April 23, 2018

Kartini di Antara Batik dan Harapan Indonesia



Walau tidak memperoleh juara namun cukup berbangga dan berbahagia boleh berkontribusi mengirimkan satu tulisan yang sy akui cukup 'banal alias nakal berkontemplasi sekaligus bermimpi' untuk acara ini :


(mungkin karena itu juga naskahnya ndak lolos sebagai juara ya. hehehe)
[Selengkapnya silahkan kunjungi laman blog dan membacanya dengan judul "Kartini di Antara Batik dan Harapan Indonesia" berikut ini] Terima kasih.


---
Kartini di Antara Batik dan Harapan Indonesia
Oleh : Yose Rizal Triarto

Setiap tahunnya bulan April mungkin adalah salah satu bulan yang cukup merepotkan bagi orang tua yang punya anak usia TK. Pasalnya sebagian besar sekolah di Indonesia akan menggelar Kartinian, yang mana salah satu komponen kegiatannya adalah ‘parade berkostum’. Anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, mau atau tidak mau, harus hadir di sekolah dengan pakaian adat atau pakaian cita-cita. Itu artinya orangtua mereka harus siap berjibaku mencari kostum untuk putra-putri mereka.
Berbeda halnya dengan hiruk pikuk para jomblowati mencari busana kondangan manten mantan kekasih, hiruk pikuk mencari kostum Kartinian untuk ananda tercinta ini cukup pelik. Pertama, tentu saja kostum itu harus berukuran kecil. Kedua, harus menggambarkan cita-cita anaknya. Jika ananda terkasih berjenis kelamin perempuan, hal itu jauh lebih mudah. Apapun cita-citanya, gadis-gadis mungil ini harus pasrah dengan kewajiban utamanya yaitu berbatik dan berkebaya. Kan Kartinian. Sedangkan untuk anak laki-laki, ada beberapa alternatif kostum seperti surjan, seragam polisi atau tentara, sampai seragam pilot. Yang paling sulit tentu saja jika cita-cita si anak laki-laki adalah PNS, maklum, baju korpri berukuran anak memang sulit didapat.
Maka tiap tahunnya setiap bulan April adalah berkah bagi beberapa tempat persewaan kebaya karena beberapa orang tua yang logis sudah barang tentu akan segera nglarisi usahanya. Sisanya saya anggap tidak logis, karena para orang tua itu akan membeli pakaian baru atau order ke penjahit langganan. Mengesampingkan fakta bahwa baju-baju lucu itu hanya akan menjadi artefak dalam beberapa tahun saja.
Terlepas dari banyaknya pendapat para cendekia sejarah baik yang pro maupun yang kontra tentang betapa perayaan hari Kartini di negara kita adalah sungguh sebuah pendegradasian nilai-nilai subtil tentang perjuangan Kartini, saya pribadi mengenang Kartinian masa kecil saya sebagai sebuah momen yang indah. Saya tidak bisa menjelaskan kenapa kok bisa indah. Mungkin karena saya melihat beragam atribut pakaian kejawen yang selalu hadir dalam ukuran orang dewasa ternyata bisa di minimize, dan saya (waktu itu umur 5 tahun) tampak menggemaskan dalam balutan kostum surjan meskipun cita-cita saya waktu itu adalah menjadi astronot.
Bila Anda saat ini adalah seorang pria dewasa, jomblo ataupun on the market, menikah atau belum menikah, maka sesekali cobalah pergi ke bank saat hari Kartini. Pastilah Anda akan menemukan betapa kecantikan wanita Indonesia yang utuh ketika memandang embak-embak teller dan costumer service dalam balutan batik dan kebaya. Seksi dalam konteks yang mriyayeni tersaji lewat betis yang hanya tampak mintip-mintip malu di balik kain jarik. Percayalah.
Jujur saja, saya pribadi iri melihat embak-embak itu. Mereka bisa punya alasan kuat untuk berbatik dan berkebaya tanpa harus berakhir di gedung resepsi. Apakah ada cara lain untuk bisa benar-benar merasakan sensasi berkebaya dan berkain untuk bekerja selain di bank? Mungkin ada di beberapa kantor pemerintah. Tapi masak iya mau berbatik dan berkebaya untuk kulakan bahan di pasar, kirim paket ke stasiun lalu pulangnya mampir swalayan beli susu. Lak yo malah wagu.
Bila pulang kampung, baik di pasar, di jalan, dan di sawah, saya masih sering menjumpai simbah-simbah putri berkain dengan setagen yang membebat perutnya, dan jika udara gerah mereka masih menyisakan kutang sebagai penutup tubuh karena kebaya secara optional bisa dilepas. Sungguh cara berbusana yang hampir bisa dipastikan akan punah dalam 10-20 tahun lagi. Yang tersisa hanya kios-kios usang yang menjual kebaya dan kain batik bekas di sudut-sudut klitikan. Tragis.
Untuk itu, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang peduli busana  dan mencintai batik Nasional, maka pada momen Kartinian kali ini, meskipun sungguh di luar konteks “Kartini” jika dipantau dari sudut pandang manapun, saya berharap pada pak Presiden Jokowi agar segera menggerakkan seluruh instansi terkait guna merespon kegelisahan saya mengenai hal ini. Saya mengusulkan agar pemerintah menyelenggarakan hari Kartini yang lebih masif dan terstruktur. Kalau perlu buat menjadi seminggu. Minggu Kartini.
Prosedurnya, buatlah kewajiban berkebaya di minggu Kartini bukan hanya untuk dedek sekolah saja, tapi semua wanita Indonesia. Di pasar, di kantor, di rumah, di pusat perbelanjaan semua wanita harus berbatik dan berkebaya. Kalau perlu kerahkan satpol PP untuk melakukan sweeping para wanita yang tidak melaksanakan anjuran pemerintah. Konde? Tidak perlulah, cukup sebagai optional yang sifatnya sunnah.
Jika perlu, selama seminggu itu pemerintah merangkul semua elemen masyarakat termasuk di antaranya para motivator, selebgram, hingga blogger, untuk mengkampanyekan kebijakan ini. Misalnya menghimbau semua selebgram yogis ternama untuk membuat yoga pose challenge dalam balutan kain kebaya, mewajibkan semua motivator agar memposting faedah berkebaya di semua lini masa mereka, menghimbau semua blogger fashion untuk mengulas tips berkebaya praktis sebelum minggu itu dimulai.
Sungguh tiada upaya yang tak mungkin untuk dilakukan jika tujuan di baliknya adalah benar-benar baik. Saya pribadi amat percaya, walaupun akan terasa mustahil pada awalnya, tapi batik dan kebaya sebagai pakaian sehari-hari sangat mungkin untuk kembali membudaya. Program yang awalnya seminggu dapat ditindak lanjuti oleh beberapa pihak, seperti bank BUMN, bank swasta, pusat perbelanjaan, hingga kantor-kantor swasta nantinya akan menjadi sebuah program yang berkelanjutan. Yang awalnya kebijakan bisa menjadi kebiasaan. Yang awalnya terpaksa bisa menjadi terbiasa. Semoga.

Sunday, April 22, 2018

BUAT TAN MUDA DI INDONESIA

https://web.facebook.com/shelter.utara/photos/a.516261735178927.1073741836.346247585513677/1043509969120765/?type=3&theater


BUAT TAN MUDA DI INDONESIA

teruntuk Kawan-Kawan Panitia Pemutaran & Diskusi Film Dokumenter Mahaguru Tan Malaka
"Shelter UTARA" Koto Padang, Sumatera Barat yang dipaksa batal



Orang bilang tak kenal maka tak sayang.

Makin tak kenal maka kau pun akan makin terlupakan.

Dalam segala berita dan ironi drama palsu yang dipaksa menjadi santapan kami.

Hanya sungguh amat disayangkan intimidasi dan represi masih menjadi budaya tak resmi di negeri kami.

Semoga kawan-kawan muda nan berani tak pernah berhenti untuk terus bermimpi.

Jalan perjuangan dan pembebasan manusia sejak dulu memang selalu sepi dan sunyi.

Dalam perjuangan tak semua orang bisa engkau selamatkan.

Karena memang tak semua orang mau dan mampu untuk ikut serta dalam gerakan pembebasan.

Maaf banyak dari kami yang sudah terlalu tua dan lelah untuk bermimpi.

Terlalu lupa akan mengapa kami hidup dan ada di negeri ini.

Namun bukan berarti engkau musti menyerah dan berhenti.

Terus membaca, terus menulis, terus berjuang, sampai hari akhir tiba.

Tapi bukan untuk membuat dirimu menjadi selebritis, tapi bagi sebuah cita-cita mulia.

Agar semua manusia Indonesia makin kenal dengan Bapaknya.

Agar penerimaan akan perbedaan bukan lagi menjadi jargon politik untuk menjual nama.

Hingga kelak di hari akhir nanti semua usahamu tak akan sia-sia.

Yogyakarta, 22 April 2018

---
Kronologis peristiwa sebagaimana dikutip dari akun FB Kiki Rizki Irwansyah
Saturday, April 21, 2018 at 9:01pm

* H-4 pemutaran Film Maha Guru TAN MALAKA, pada hari Selasa, 17 April 2018 pukul 12.11 saya (Dini) ditelpon dengan sangat tidak beretika (tanpa salam dan nyolot) oleh seseorang yang mengaku RW 3 Nanggalo perihal pemutaran film Tan Malaka, beliau menanyakan apakah acara ini sudah ada izinnya atau belum, kemudian kenapa tidak diberitahukan kepada pihak spt RT RW Kapolsek. Padahal selama ini ketika surat dikeluarkan, tdk ada pihak manapun yg datang.

*H-4 pemutaran Film Maha Guru TAN MALAKA, pada hasi Selasa, 17 April 2018 sekitar jam 3 sore. Salah satu pengurus lapangan PORKAB datang ke Shelter Utara.
mempertanyakan pemutaran film Tan Malaka dan mengatakan film ini membuat heboh di kelurahan dan kapolsek dan orang "atas".
dan mereka merasa kecolongan. Saya (Bajok) yang sedang berada di tempat saat itu disuruh untuk segera melapor.

*H-4 pemutaran Film Maha Guru TAN MALAKA
malam pukul 21.30 saya (Dini) , Cho , dan beberapa teman lainnya sedang bercengkrama di depan perpustakaan shelter utara, saat itu kami kedatangan tamu, yakni RT setempat, beliau menanyakan mana yg namanya Dini, kebetulan kami ada di sana. Nah saat itu, beliau mengatakan bahwa disuruh utk menanyakan apakah mmg ada pemutaran film Tan Malaka di shelter utara, beliau membawa secarik kertas yg berisi : nama acara, sutradara, narsum, contact person acara, serta alamat shelter utara. kami tdk tahu dia mendapat kertas itu dr mana. padahal dia tdk bisa memakai gadget, katanya ada org yg memberikan dan org itu mendapatkannya dr online, atau berita online. Beliau meminta kami utk segera melapor dan berdiskusi kepada Kapolsek Nanggalo mengenai pemutaran dan diskusi film ini, untuk izin, dll. Beliau seperti mendapat tekanan dr entah siapa utk menyelidiki kegiatan kami, padahal sebelumnya beliau tau di shelter ada kegiatan dan brapa kali jg ke shelter, dan itu aman-aman saja. shelter utara jg mengundang warga setempat, RT, dan RW utk dtg acara kami. Sejauh ini hubungan yg kami bangun dg warga setempat dan pihak yg berwenang di selingkar shelter pun baik-baik saja.

* H-3 Pemutaran Film TAN MALAKA, Rabu, 18 April 2018,pukul 10.51 dan 11.00 saya ( Dini ) ditelepon oleh seseorang yg mengaku warga Nanggalo beliau bertanya tentang semuanya. Mulai dari siapa saya, apa itu Shelter Utara, apa makna kata Shelter Utara, sejak kapan berdirinya, siapa saja yang datang ke shelter, film2 apa saja yang diputar di Shelter Utara, film Tan Malaka ini apa? siapa yg terlibat, berapa jumlah penontonnya, bayar atau tidak, berapa durasi filmnya, apakah akan diputar jg di bioskop atau tidak film ini. Shelter Utara ini gedungnya punya siapa. dll.

* H-3 Pemutaran Film Maha Guru Tan Malaka,
Rabu, 18 April 2018,
Siang, pukul 11:35. Seseorang dari Kapolsek (intel) datang ke Shelter Utara. Melakukan introgasi kepada saya ( Cho ) tentang latar belakang saya, keluarga saya, perpustakaan Shelter Utara, buku-buku apa saja yang ada di perpustakaan dan dari mana saja buku2 tersebut berasal, kegiatan2 apa saja yang ada di shelter utara, dari dan hingga jam berapa. siapa-siapa saja yang datang ke perpustakaan, dsb.
Beliau mengaku ditugaskan oleh atasan untuk mencari tahu tentang shelter utara terkait laporan yang diterima.
Beliau juga mengambil foto dengan kamera ponselnya, setiap sudut perpustakaan, buku2 yang ada di pustaka. serta merekam video ketika saya dan ibu saya berbicara secara sembunyi2.
dan saat ditanyai terkait dengan kegiatan pemutaran film kami nantinya, beliau bilang masih memantau dan itu wewenang atasan

*H-3 Pemutaran Film MahaGuru TAN MALAKA,
Malam, 21.30
saya (Bajok) sekitar jam setengah 8 malam, saya didatangi ketua RW 10 (pak Jun) menanyakan tentang kegiatan pemutaran film Mahaguru Tan Malaka, dan mengklarifikasi berita yang beredar, bahwa kami (shelter Utara) menggunakan lapangan PORKAB untuk berkegiatan pemutaran film dan diskusi, padahal kami tidak memakai lapangan porkab untuk acara apapun, hanya menjadi penunjuk arah untuk orang yang datang ke shelter. Dan juga menyebutkan berita yang beredar bahwa film yg kita putar ini mengandung unsur SARA dan Pak Jun mengatakan bahwasanya perangkat RT/RW setempat telah di panggil ke kelurahan dan Polsek Nanggalo. Kemudian, Pak RW bertanya mengenai film, saya perlihatkan film tersebut dari awal, dan saya bilang bahwa film ini didukung langsung oleh Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan, lalu pak RW bilang, Kemdikbud Padang tidak pernah memberi logo kepada kami, padahal pihak film bekerja sama dengan Dirjen yang ada di pusat, bukan di daerah. dan kami dituduh menempel logo palsu atau hanya tempelan. Akhirnya, Pak Jun menyuruh kami untuk segera melapor ke Kapolsek Nanggalo.


*H-2 Pemutaran Film Maha Guru TAN MALAKA
Kamis 19 April,
Pagi jam 09.00, shelter Utara di datangi lurah dan babinsa, mereka menanyakan berita yang tersebar di masyarakat perihal pemutaran film dan diskusi maha guru Tan Malaka, setelah di jelaskan mereka mensupport kegiatan kami "asalkan kegiatan ini positif kami dukung" namun mereka tetap menyarankan agar mengurus surat izin keramaian ke Polsek Nanggalo.

Siang pukul 10.10 saya (dini) ditelepon oleh anggota Polsek Nanggalo menanyakan seputar pemutaran film mahaguru tan malaka di shelter utara dan saya diminta untuk segera datang ke polsek siang ini, dan saya mengatakan perwakilan shelter utara akan datang ke polsek nanggalo.

Siang, pukul 11.30 kami (cho dan wahyu) didampingi LBH Padang (Aulia Rizal) mendatangi Kapolsek Nanggalo untuk menemui kapolsek nanggalo. Sesampainya di polsek nanggalo kami telah ditunggu oeh kapolsek nanggalo dan menanyakan tentang pemutaran film mahaguru tan malaka, apa itu shelter utara, apa arti dari nama shelter utara karena menurut mereka itu aneh dan janggal, kemudian mereka menanyakan perihal izin penayangan, apakah film tersebut telah lulus sensor, kemudian kami menjawab bahwa film mahaguru tan malaka merupakan film yang disponsori direktorat jendral kementrian pendidikan dan kebudayaan, lalu mereka menanyakan bukti kerja sama tersebut. Kami memberikan film tersebut untuk di tonton langsung oleh pihak polsek nanggalo sesuai instruksi dari sutradara.
Karena poster acara ini sudah tersebar di media online dan sudah tersebar ke umum, mereka menyarankan untuk mengurus surat izin langsung ke POLDA SUMBAR, namun Aulia riza (LBH) menanyakan kenapa kami harus mengurus surat izin ke POLDA ? dan mengapa tidak bisa mengurus surat izin ini di Polsek saja. Kemudian mereka menyuruh kami untuk mengurus izin dahulu ke pejabat kelurahan setempat (RT,RW,Lurah).
Sehabis magrib saya (wahyu) mengurus surat izin pemberitahuan kegiatan, didampingi salah seorang kerabat (Nasril) untuk bertemu pak RT,RW dan Ketua Pemuda. Setelah bertemu RT,RW dan ketua Pemuda mereka masih mempertanyakan tentang pemutaran film, dan mereka mengakui masih di desak oleh kelurahan dan polsek nanggalo, kemudian pak RW menelpon pak lurah untuk menanyakan pemberian izin kegiatan, awalnya pak lurah tidak setuju karena pak rw tidak menjelaskan secara detail, dan sementara setelah saya yang berbicara dengan pak lurah dan menjelaskan lebih rinci pak lurah mengizinkan untuk pemberian tanda tangan bahwa rt/rw mengetahui dan mengizinkan kegiatan ini, namun setelah pak rw berbicara via telpon lagi, pak rw mengatakan bahwa kalau ada surat apapun yang turun jangan di tanda tangani, kemudian keputusan pak rw kita ketemu langsung dengan lurah dan camat setempat.

*H-1 Pemutaran Film Maha Guru TAN MALAKA
Jumat, 20 April 2018. Pukul 09.00 WIB saya (bajok) bersama cho pergi ke Kantor Camat Nanggalo di dampingi lurah nanggalo, rt 2 dan rw 3 untuk bertemu langsung dengan camat, sesampainya di sana camat tidak dapat memberi izin perihal kegiatan pemutaran film maha guru tan malaka, namun mereka suport kegiatan lain secara penuh. Saat kami tanya alasannya kenapa kita tidak diizinkan, beliaupun juga tidak dapat memberikan alasan karena memang diperintahkan begitu dari “atas” film tersebut tidak diizinkan untuk diputar.jika kami tetap melakukan pemutaran maka nanti akan ada tim pembubaran kegiatan tersebut yang akan datang ke lokasi.karena beberapa oknum memang sudah mewanti2.

Pukul 15:00 saya (bajok), cho dan ditemani Aulia Rizal ( LBH Padang ) mendatangi Polresta Padang ingin bertemu dengan Kasat Intel terkait izin pemutaran film kami.Namun tidak membuahkan hasil karena beliau tidak ada di tempat.

Wednesday, April 18, 2018

BULETIN WARTA GURU ISSN 0125 - 0506 EDISI 1 TAHUN 2018

Terima kasih Balai Tekkomdik Btkp Dinas Dikpora D.I.Yogyakarta untuk kesempatan, apresiasi, dan notifikasi emailnya.

Satu-satunya penulis non PNS yang diberikan kepercayaan dan apresiasi dalam penulisan & penerbitan WARTA GURU Edisi 1 Tahun 2018 Balai TekKomDik Dikpora DIY. Matur nuwun.

Monday, April 16, 2018

Half-Day Seminar: Lansia, Demensia, dan Kebutuhannya

 
 

Terima kasih banyak atas kesempatan, kebaikan, pengetahuan, dan pencerahan, yang saya dapat dari acara yang sangat istimewa ini:

Half-Day Seminar: Lansia, Demensia, dan Kebutuhannya
"The Evidence and Interdisciplinary Views"

CC: Alzheimer Indonesia Jogjakarta, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas FKKMK UGM Fakultas Kedokteran UGM.

 — at Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat Keperawatan UGM.

Thursday, April 12, 2018

International Seminar on Religion and Social Development in Southeast Asia

 
 

Thank you very much for the opportunity, kindness, knowledge, and enlightenment, I got from this very special event:

International Seminar on Religion and Social Development in Southeast Asia
Thursday, April 12, 2018 08.00-12.30 WIB
at Interactive Center, Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta .

Somehow I can see and understand why the Institute of Southeast Asian Islam - ISAIs UIN Sunan Kalijaga​ put these words in their FB cover page picture and website:

"Enriching the understanding, Bridging the differences"
isais.or.id

May Allah bless you all.

CC: Pak Ahmad Suaedy​.

---
International Seminar on Religion and Social Development in Southeast Asia

Development has undoubtedly brought progress to humankind. Through development, our mobility is made easier; our growing needs are met; and accumulation of wealth is achieved. However, for many, development may also mean environmental degradation, growing inequality, poverty, violence, and authoritarian governance.

As an alternate vision of development, the nobel laureate Amartya Sen has argued for capability approach to understand the development not merely as an end in itself but also as a process through which individuals are facilitated to do more and better. On top of this approach, human development index was introduced to policy planning to make sense of development beyond economic realms. Several other innovations in policy planning, such as gender development index, index of sustainable economic welfare, and happy planet index, were also introduced to broaden the essence of development that had been very limited.

While there have been improved understandings on development that brought to the front its ethical aspects, these understandings are mostly withdrawn from western subjectivities or secular perspectives. These backgrounds may be well understood considering the existing power of the West and the need to drive this powerful party into action. However, this reliance on Western subjectivities is at the expense of alienation of non-western subjectivities along with their particularly profound element: religion.

This alienation may explain why the level of expression in the East for more equal and sustainable development is not as outspoken as in the West. While many believe that religion emphasizes the ethical aspects raised by the improved understandings on development, this lesser level of expression show that there has been some issue with public engagement in the ideas. Considering how important religion is for East or Asian communities, religion may play important role in mobilizing public engagement for development equality and sustainability goals.

Based on this background, Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) in collaboration with Moslems & Global Affairs (MOGA) Institute and Faculty of Social Sciences and Humanities UIN Sunan Kalijaga organized International Seminar on Religion and Social Development in Southeast Asia. The seminar will be held on Thursday, April 12, 2018 08.00-12.30 WIB
at Interactive Center, Faculty of Social & Humanities UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. For more information and registration: 0877-3913-3638 (Mamad)
 
http://isais.or.id/id/international-seminar-on-religion-and-social-development-in-southeast-asia-2/

Sunday, April 8, 2018

Soal AHOK dan VERO

 Sumber foto: Warta Kota/Istimewa
Sumber foto: Warta Kota/Istimewa
 
Saya belajar banyak dari membaca berita-berita kasus perceraian AHOK dan VERO.

Saya sangat menyesal dengan keputusan AHOK, sangat bersimpati, namun turut pula mendoakan karena memang hal tersebut yang terbaik.

Dan di belakang sana, sayup-sayup terdengar suara lagu "Ku Berbahagia" yang merupakan lagu terjemahan dari aslinya, Blessed Assurance. Lagu lirih dan melankolis yang indah, merdu, dan menenangkan jiwa, amat sangat kontras dengan latar belakang kisah cerita bagaimana dan seperti apa lagu tersebut ditulis oleh pengarangnya, Fanny Crosby, 1820-1915.

Hidup memang tak pernah mudah bagi sebagian besar orang, mungkin selalu tak pernah adil dan tampaknya harus terjadi begitu banyak kesulitan dan ketidakadilan yang harus dihadapi oleh orang-orang dengan niat yang baik.

Namun bagaimanapun juga hidup harus terus berjalan.

Satu kegagalan dan kekalahan kecil dalam kehidupan saat ini tampaknya memang dibutuhkan untuk meraih satu kemenangan dan keberhasilan besar di masa depan.

. . .

Sunday, March 25, 2018

Lonely


Lonely
By YRT

I look up in the morning sky
A gloomy rain drop sorrow and cry
A long last night with no one to share by
What an emptiness soul and such a frozen day

--Yogyakarta, 25/03/18

(Pict source © copyright Flocke™: https://goo.gl/gXnmf4)