tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Sunday, February 10, 2019

Mengenang 20 Tahun Kepergian dan Tulisan Romo Mangun


Sy masih juga merindukan sosok-sosok rohaniawan yang biasa namun mau mengakui untuk tetap sentimentalis dan selalu membumi. Romo Mangun betul-betul salah satu tokoh idola dan inspirasi sy selama ini, selain Wiji Thukul pastinya. Dan agaknya walau sy telah beberapa kali membaca dan memiliki buku-buku Romo Mangun, tetap saja sy takjub dengan gaya penulisan beliau sampai saat ini. Ada kesamaan pemikiran dan penulisan antara Romo Mangun dengan Wiji Thukul kalau boleh sy sebutkan, yakni jernih, luas, tetap empatik dan humanis. Dan pastinya tanpa embel-embel pencitraan. Rasa-rasanya sampai sekarang sy masih tidak percaya Romo Mangun telah berpulang ke rumah Bapa. Masih sulit menemukan rohaniawan sederhana dan biasa di zaman sekarang seperti beliau. Terima kasih buat artikelnya Mas Wahyu Susilo. Izin membagikan ya Mas. Matur nuwun. Berkah Dalem.

#RomoMangun #WijiThukul #WahyuSusilo


---
Wahyu Susilo is with Emanuel Lalang and 7 others.

18 tahun yg lalu (10 Februari 1999), Romo Mangun (YB Mangunwijaya Pr) telah "pergi" namun gagasannya ttg "memerdekakan manusia" tetap menjadi api spirit yg tak padam. Ini adalah salah satu artikel yg ditulis swargi Romo Mangun berjudul "PRD" tentang "anak-anak muda yang tak sabar". Artikel ini ditolak dan tak dimuat di semua koran Indonesia pada waktu itu (Agustus 1996). Di artikel ini dia ungkapkan pandangannya tentang kangmas #WijiThukul yg telah dikenalnya sejak lama.

==============================

PRD

YB Mangunwijaya

PRD kini dicap sebagai entah dalang penunggang pembonceng penyulut penghasut biang atau anak PKI entah apa lagi, pokoknya harus digebuk. Saya sendiri ternyata makhluk terbelakang suku terasing, sebab sebelum peristiwa 27 Juli yang lalu belum pernah mendengar tentang adanya PRD.

Memang Wiji Thukul saya kenal sejak lebih dari 10 tahun yang lalu, dan terakhir berjumpa di padang kampus Monash University kira-kira empat tahun yang lalu. Ia sedang tour puisi. Pusinya saya sukai karena melagukan amanat penderitaan rakyat yang harus saya dengar serius kalau saya masih ingin disebut rohaniwan.

Maka saya terkejut ketika namanya diikat pada ekor Kongres PDI di Medan yang "mengasyikkan" menyaingi Atlanta itu. Saya bukan politikus praktis yang punya kompetensi untuk menilai apa betul adik-adik PRD dan yang disebut-sebut onderbau-onderbau itu komunis atau tidak, marxis atau leninis atau maois atau aiditis atau ternyata hanya budimanis biasa (bukan Arief Budiman tetapi Budiman Sudjatmiko, dua-duanya nama amat indah dari segi sastra yang membuat saya iri).

Saya hanya rohaniwan biasa yang juga biasanya dan sepantasnya empatisan dan simpatisan kaum muda, terserah muda manis atau muda nakal sama saja. Mungkin itu karena fase hidup saya suadh termasuk lansia (sebutan puitis juga yang tidak perlu dicemburui) dan dalam suasana mogok sekarang sepantasnya solider ikut diserang mogok-jantung.

Maka tulisan sekitar PRD ini juga sama sekali tidak politis teoritis apalagi praktis. Dan jelas tanpa penthungan di tanngan atau gas air mata di selang atau peluru timah atau karet di laras pipa mesiu dsb.

Saya hanya ingin menyatakan empati dan simpati saya kepada anak-anak muda yang sedang terdakwa (belum divonis, jadi harus kita hargai dengan praduga-tak-bersalah jika kita hidup dalam negara hukum)) dan yang kesalahannya konon hanya: kurang sabar.

Tetapi yah mana di dunia ini ada anak muda yang sabar, kan namanya lalu tidak muda lagi, tetapi kakek gaek seperti saya ini. Dan lagi, bila para kawulo mudo Indonesia sekarang saya banding dengan muda mudi Belanda Jerman Inggris, atau lebih baik dibanding dengan generasi muda zaman Soekarno-Hatta dan Soempah Pemoeda dulu, wah kok seperti serimpi Solo saja. Tetapi sabar dan kurang sabar itu memang relatif, tidak dapat diukur eksak matematis.
Nah, foto Wiji Thukul di koran jelas mirip orangnya. Hanya tidak kelihatan bahwa telinganya belum sembuh betul dan matanya semakin berdarah setengah buta akibat disiksa karena menurut Republika (koran bermutu) kepalanya yang penuh puisi dibenturkan secara kurang puitis pada body jeep yang tidak puitis milik aparat negara (Pancasila) oleh tentu saja oknum di luar tanggung jawab negara hukum berdasarkan UUD 45, dan yang tidak pernah dapat kita mintai tanggung jawab. Tetapi itu tidak penting (walaupun sebenarnya penting).

Foto Budiman Sudjatmiko di majalah Forum Keadilan (yang aneh sekali mirip tempo itu, padahal tempo sudah dibredel) tampak muram, seperti pemuda hardebu (hari depan kelabu), tetapi menurut koran lagi, ia pemuda radikal (dari akar kata Latin radix = akar, mungkin akar rumput) dan tegas bertekat rawe-rawe rantas malang-malang putung.

Saya amat-amati wajahnya, kok mirip tokoh mahasiswa Rusia di bawah yanah melawan kaum komunis dalam film Dokter Zhivago (buku aslinya ciptaan pemenang Hadiah Nobel Sastra, Boris Pasternak) yang terkenal itu. Jadi bertolak belakang dengan tudingan dari para yang berwenang.

Tetapi dalam foto yang dimuat harian republika ia lebih ceria meski masih terlalu serius seram untuk zaman diskotek sekarang. Lain dari yang berdiri di kirinya, yang tersenyum ramah khas ala Indonesia. Di foto lain tampak ada seorang gadis (berkacamata intelektual) duduk di meja pengurus pada upacara deklarasi PRD, sedangkan di muka maik tampak sang pemenang Hadiah Magsaysay Pramoedya Ananta Toer berpidato (dari kertas agar tidak keseleyo mungkin).

Apakah gadis itu yang bernama F. Ria Susanti, kepala Departemen Hubungan Internasional PRD ? Cerdas juga. Ada foto pula dari Andi Arief (lho, pemberani-pemberani kok selalu pakai nama Arief, Arief Rahman Hakim misalnya dan yang diam di Salatiga itu). Ia seperti anak SMU simpatik yang baru saja latihan bola basket.

Tetapi yang paling mengesankan ialah foto besar dalam harian yang didirikan oleh Menristek B.J. Habibie tadi, yang memperlihatkan sekelompok anak-anak remaja berikat kepala gaya samurai berhuruf PRD dengan simbol bintang dan cuilan roda-gigi.

Mereka tampak mengacungkan tangan berkepal tegar ke atas (mengepalnya lain caranya dengan kebiasaan komunis: ibu jari menunjuk ke surga, sedangkan ibu-jari kepal komunis menunjuk ke arah Moskwa atau Beijing) sambilo berteriak aaa atau ooo tidak dapat dianalisis dari foto.

Melihat anak-anak remaja yang masih hijau kecil dan lucu itu (ndemenakake dalam bahasa Jawa, artinya: membuat hati senang sayang) saya bergumam sendirian yang mudah-mudahan tidak terdengar orang lain: ah mosok anak-anak lucu ndemenakake ini komunis? Komunis dalam pengertian masyarakat ramai jangan diartikan penganut filsafat Marx atau teori politik bolsyewisme, leninisme, stalinisme, maoisme atau aiditisme, tetapi penjahat buas ganas kakeknya iblis yang oleh aparat harus diinjak mampus seperti coro atau ditembak klenger (tak berkutik) seperti macan kumbang.

Entahlah, saya selalu ingin jujur: melihat foto mengeharukan begitu ndemenakake itu, kok malahan saya ini digenangi rasa empati atau simpati kepada mereka. Walaupun meskipun kendatipun biarpun itu sangat terlarang.

Maklumlah, saya bukan intel tetapi rohaniwan biasa. Mungkin dengan mengaku terlalu jujur seperti ini saya akan dituduh sebagai orang sentimentil atau romantikus atau tukang mimpi atau dalam bahasa PKI: utopis, celakanya disebut subversif, hanya karena saya merasakan sentuhan sayang simpati sepoi-sepoi tetapi mendalam kepada anak-anak ndemenakake itu, yang sekarang pasti lari tunggang langgang disembunyikan orangtuanya entah dimana, di Boven Digul, Nusa Kambangan atau Pulau Buru atau entahlah yang masih punya hutan lebat untuk menyembunyikan mereka yang malang itu (sementara).

Dan rasanya saya menangis, dengan keluhan kakek-nenek Jawa: "Duh Gusti, nyuwun kawelasan." (Tuhan, mohon ampun). "Cah durung iso sisi ngono kok ya komunis ki ketemu pirang perkoro.(Anak yang masih belum bisa membersihkan lendir hidung seperti itu kok komunis itu kesimpulan nalar macam apa). Tetapi tentulah itu perasaan yang terlarang.

Maka dengan ini resmi saya cabut kembali, "daripada heboh" kata orang-orang tua kuna. Tetapi salut kagum dan doa saya panjatkan di dalam hati saya ini. Ini sebetulnya munafik, sebab mengapa sikap dalam hati kok dituangkan dalam karangan harian ibu-kota. Tetapi sudahlah, munafik dan munafik pun relatif, tidak perlu dibikin heboh.

Yang penting anak-anak itu harus dilindungi dan disayangi. Jangan diuber-uber. Kita dulu kan juga pernah remaja dan muda, bukan. Dan seandainya pun mereka salah, ya sudahlah, siapa zaman sekarang ini tidak salah. Siapa yang tidak pernah salah boleh melempar batu rajaman pada yang pertama. Memang semua ruwet. Tidak perlu menambahi keruwetan. Komunis ? Leninisme, Stalinisme, Maoisme, Aiditisme?

Terserah, tetapi anak-anak yang terdakwa itu pantas kita sayangi, dan kita hargai. Ini cara bersikap yang paling bijaksana, dan berani tanggung, pendirian dan ajuran setiap kakek yang masih ingin disebut kakek yang biasa normal sayang sama cucu-cucu.

PRADUGA TAK BERSALAH

Ada yang mengatakan secara ilmiah PRD itu varian revolusioner Marxisme. Tetapi ada pakar (Dr Arbi Sanit, dosen UI, jadi pegawai negeri, jadi aman untuk dipercaya oleh setiap pegawai negeri yang paling robot sekalipun) justru berpendapat sebaliknya: peristiwa 27 Juli itu akibat mismanagement politik pemerintah.

Mungkin yang beliau maksud: akibat mismanagement pengadaan Kongres PDI di Medan. Contohnya, wakil-wakil Irian bercerita kepada selusin wartawan, mereka dibelikan tiket oleh ... (tidak boleh dan tidak perlu disebut karena sudah jelas) dan uang saku yang yahud, dengan syarat harus alim ikut Kongres PDI di Medan. Tetapi di tengah jalan berhenti di Jakarta dan menggabungkan diri ke Jl. Diponegoro, mendukung Megawati Sukarnoputri, wah kok seperti komedi Stambul atau sinetron Sawung Kampret bikinan Dwi Koen saja.

Tetapi kita harus ingat bahwa Kongres PDI di Medan itu secara resmi tidak pernah disebut sebagai penyulut api jago merah 27 juli itu. Jadi resmi juga tidak ada hubungannya dengan kerusuhan yang laporan kronologisnya (meski over-detailed) disiarkan oleh berbagai sumber on-line internet (seharusnya demi stabilitas nasional internet itu dilarang).

Mungkin ada pembaca patriot anti-komunis yang mendakwa artikel ini penuh simpati kepada para perusuh dan pembakar dan pengonar 27 Juli itu. Saya mohon, jangan gegabah mengambil kesimpulan seperti kebiasaan oknum-oknum.

Di sini saya dengan resmi menyatakan, bahwa saya amat setuju dan mendukung pernyataan sahabat saya Mohamad Sobary di harian Republika tersebut, tokoh asli Yogyakarta (persisnya Bantul), yang sudah terkenal sebagai penulis pojok (tetapi tak pernah memojokkan siapa pun) dan pakar masalah-masalah sosio-politik di LIPI, yang menyesalkan sekali timbulnya kekerasan yang menurut beliau tidak perlu terjadi. Ya, saya juga merasakannya begitu.

Tetapi apa dikata, adanya ular karena ia keluar dari telur ular. Begitu juga rupa-rupanya kekerasan itu keluar dari telur (biasanya banyak) kekerasan lain. Kekerasan yang awalnya dimulai dimana oleh siapa, nah ini maafkan, off the record.

Tetapi mengapa kekerasan kok lebih banyak daripada yang lembut manis (lembut manis seperti Megawati Sukarnoputri, kata anak muda) ? Ya, jawab Mas Sobary kepada wartawana Republika: "Karena kita sedang dalam situasi dimana corak kekerasan lebih nyata, lebih besar, lebih melembaga, lebih tampil dalam sosok struktur sosial, ekonomi dan politik. Sedangkan kehalusan, kelembutan, perdamaian, dan sikap anti kekerasan itu bersemayam dalam dunia ide (atau figur Megawati Sukarnoputri, komentar anak-anak muda itu lagi).

"Selain itu," demikian pakar kita: "karena gerakan kekerasan itu dibunuh pun akan tumbuh." Waduh, lalu bagaimana ? Santri kita dari Bantul itu menerangkannya, dan saya tekankan: saya amat setuju: "Lihatlah situasinya dengan bening, dan kemudian dukunglah upaya penyelesaian konflik secara damai. Rumah kita lebih baik dibangun tanpa kekerasan." Jadi melihat dengan bening. Yang dimaksud: jujur obyektif, nanti kan kentara sendiri.

Sesuai dengan kearifan Jawa tetapi sebetulnya universal: becik ketitik olo ketoro (yang baik itu secara alami akan kelihatan dan dicatat, sedangkan yang buruk toh akan kentara juga, meskipun ditutup-tutupi).

Maka jikalau sebagian terbesar bangsa Indonesia masih bening hati nuraninya (saya percaya itu), kita tidak perlu kawatir sekali (tekanan pada sekali bahwa sebentar lagi, entah sebelum entah sesudah pemilu mahaluber nanti, yang becik akan ketitik dan yang olo akan ketoro.

Merenung kata-kata mutiara Mas Sobary tadi, saya lalu teringat pada lagu senggakan (reaksi spontan) sindhen (biduanita tradisional) Yogyakarta atau Bantul yang sering melagu jenaka erotis nakal tetapi dalam kasus kita penuh makna: "Jeneh kowe, sing marah-marahi." (kata jeneh sangat sulit diterjemahkan, tetapi mungkin kalimat nakal itu dapat di-Indonesiakan bebas: "Salahmu sendiri, kamulah yang memulai, bukan ?"

Tetapi sekali lagi, dalam negara hukum harus berlaku praduga tak bersalah sebelum para hakim agung dari lembaga yang paling jujur di negeri ini, Mahkamah Agung, berfatwa.

Agustus 1996

Sunday, February 3, 2019

Giveaway Buku Gibran Untuk Komentar Terbaik IG @jogja_seminar


Terima kasih untuk kesempatan dan apresiasinya admin @jogja_seminar.

Ada begitu banyak tulisan dan pembahasan tentang bagaimana cara meningkatkan minat baca masyarakat sampai saat ini. Dari yang mengangkat tema/persoalan hal tersebut disebabkan karena kurangnya budget penyediaan buku Indonesia sampai dengan alasan begitu masifnya perkembangan teknologi dan sosmed saat ini. 

Semua menjadi pembahasan yang menarik tapi sejujurnya hanya akan sekedar menjadi opini belaka. Karena memang sebetulnya sang penulis tak punya kemampuan mewujudnyatakan semua hal yang ditulis yang berada di luar jangkauannya, seperti masalah budget pendidikan negara dan peningkatan jumlah produksi buku di perpustakaan. Yang sebetulnya terjadi adalah tiap solusi yang seolah diberikan justru masih memiliki permasalahannya sendiri.

Alih-alih memberikan solusi yang tak kunjung selesai, mengapa kita tidak memulai dari diri sendiri? 

Buat saya pribadi cara meningkatkan minat baca masyarakat dapat dilakukan dengan cara memulai beberapa kebiasaan positif berikut dan secara bertahap menularkan/membaginya kepada keluarga atau kawan terdekat dan yang pada akhirnya semoga bisa merubah masyarakat agar gemar membaca, antara lain: 1. Mengalokasikan waktu khusus untuk membaca, 2. Membeli buku setiap minggu atau bulan, 3. Manfaatkan waktu luang menunggu untuk membaca, 4. Memiliki daftar buku populer atau rekomendasi, 5. Belajar effective reading, 6. Membaca saat istirahat atau sebelum tidur, 7. Membuat target membaca, 8. Berdiskusi dan bergabung di komunitas baca lokal/nasional.

Tentu saja kesemua hal tersebut hanya sekedar daftar bila tidak dibarengi dengan komitmen yang kuat untuk terus membaca dengan rutin. Membaca adalah investasi yang sudah seharusnya menjadi milik dan tanggung jawab kita bersama. Kalau bukan kita yang mulai siapa lagi. Kalau bukan sekarang mau kapan lagi. Nah jadi tunggu apa lagi? Mari ajak semua saudara, keluarga dan teman-teman. Mari segera mengambil, membaca, dan mendiskusikan buku di sekitar kita. 

Dan semoga suatu saat nanti minat baca pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara kita bisa semakin baik seiring dengan semakin baiknya harapan dan kualitas hidup kita juga. Amiin. Terima kasih. 

@ratrihapsari @nindyasmara_ken @windakurns

Berikut adalah tautan post tersebut https://www.instagram.com/p/BsqP-O_Htp-/

---

Terima kasih untuk kesempatan dan apresiasinya admin @jogja_seminar, Indonesia Book Store. Sabtu, 15 Februari 2019 pagi ini telah sy terima dengan baik paket giveaway buku Gibran untuk komentar terbaik IG beberapa waktu yang lalu. Buku yang bernas dan penuh manfaat. Selamat membaca, selamat beraktifitas, semoga lancar dan sukses selalu untuk kita semua. Amiin.

https://suitincase.blogspot.com/2019/02/giveaway-buku-gibran-untuk-komentar.html

Sunday, December 23, 2018

Memulai Sesi Siaran Rutin Tiap Minggunya Dulu Di Sini


Memulai sesi siaran rutin tiap minggunya dulu di sini. Mengumpulkan pundi-pundi rejeki dengan penuh rasa syukur. Semoga apa yang dilakukan hari ini bermanfaat bagi lainnya. Amiin. 

Friday, December 14, 2018

Pameran Temporer Museum Sonobudoyo 2018


Hallo sahabat museum!

Ini sedikit foto tadi siang saat sy berkunjung ke Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo Yogyakarta Jl. Trikora Pangurakan No. 4 Yogyakarta (Samping Gedung BNI'46 Yogyakarta).

Menarik & inspiratif! Begitu kesan yang sy tuliskan di buku tamu bagi pengunjung pameran. Sejak pertama masuk sy sudah disambut dan diarahkan oleh mas dan mbak penerima tamu/pengunjung pameran dengan sopan dan ramah. Kalau saja tidak dibatasi oleh waktu berkunjung rasanya sy rela berlama-lama di Pameran Temporer Museum Sonobudoyo 2018. Hehehe.

Tata letak dan lighting effect-nya buat sy terasa hidup dan magis! Menurut sy pengunjung pameran serasa dibuat menyelami dan mengalami sendiri apa yang disebut sebagai tema pameran tahun ini yakni "Sonobudoyo: Sejarah dan Identitas Keistimewaan". Kisah perjalanan Museum Sonobudoyo sebagai sebuah lembaga kebudayaan,  penguat identitas bangsa dan keistimewaan Yogyakarta yang telah berdiri sejak tahun 1935 semakin kokoh dihadirkan melalui pameran koleksi, arsip, dan buku-buku kuno yang ada.

Pokoknya nyesel banget kalau tidak datang! Apalagi Pameran Temporer Museum Sonobudoyo 2018 diperpanjang sampai Februari 2019. Ada free katalog pamerannya berupa buku eksklusif bagi pengunjung yang datang loh!

Penasaran ada apa lagi sih di sana? Silahkan datang dan buktikan sendiri ya! Jangan lupa ajak keluarga, dan teman-teman ya!

Salam Sahabat Museum, Museum di Hatiku!

#AyoKeMuseum
#AyoKeSonobudoyo
#MuseumDiHatiku
#JogjaIstimewa
#InfoJogja
#VisitJogja
#KomunitasMuseum

Thursday, December 13, 2018

Saat Kesibukan dan Kepenatan Seolah Tak Ada Habisnya


Saat kesibukan dan kepenatan seolah tak ada habisnya. Menamam dan menyiram bunga di halaman rumah boleh jadi adalah aktivitas sederhana namun bermakna. 

Kebaikan kecil yang sudah kita lakukan hari ini semoga bisa membuat hidup sesama lebih berarti.

#PohonKamboja #TanamanHias #TanamanPeneduh

Thursday, December 6, 2018

Menanam dan Merawat Pohon Tabebuya

 
Mari menanam dan merawat yang kecil. Semoga kelak ia tumbuh dan berbunga. Membawa kesejukan dan keindahan pada sekitarnya.

Tabebuya memiliki kelebihan di antaranya daunnya tidak mudah rontok, di saat musim berbungan maka bunganya terlihat sangat indah dan lebat, akarnya tidak merusak rumah atau tembok walau berbatang keras.

#PohonTabebuya #TanamanHias #TanamanPeneduh

Wednesday, December 5, 2018

Telaah Pustaka Budaya Jawa Edisi Bulan Desember 2018 BPAD DIY


Terima kasih Balai Layanan Perpustakaan BPAD DIY untuk kesempatan dan apresiasinya. Pemaparan dan diskusi tanya jawab pagi jelang siang hari ini sungguh memberikan pencerahan baru. Semoga "Pengembangan Keragaman Lokal Konten Perpustakaan Kab/Kota se-DIY" bisa lebih baik lagi ke depannya. Amiin.

#TelaahPustakaBudayaJawa
#CenterofExcellence2018
#BadanPerpustakaandanArsipDaerahDIY



---
Balai Layanan Perpustakaan BPAD DIY
Page Liked · December 04 ·

Telaah Pustaka “Pengembangan Keragaman Lokal Konten Perpustakaan di Kab/Kota se-DIY”
.
Berdasarkan Undang-undang No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan pada pasal 8 ayat f menyebutkan bahwa pemerintah provinsi dan kabupaten kota berkewajiban menyelenggarakan dan mengembangkan perpustakaan umum daerah berdasar kekhasan daerah sebagai pusat penelitian dan rujukan tentang kekayaan budaya daerah di wilayahnya.
.
Oleh karena itu, tanggung jawab perpustakaan sebagai penyimpan khazanah budaya dalam koleksi-koleksi yang dimilikinya, harus melestarikan keragaman budaya tersebut supaya masyarakat dapat mendalami keberagaman lokal konten tersebut.

Telaah Pustaka Budaya Jawa pada 4 Desember 2018 kali ini mengangkat “Pengembangan Keragaman Lokal Konten Perpustakaan di Kab/Kota se-DIY”. Dengan Narasumber Ir. A.A. Ayu Laksmi Dewi Tri Astika Putri, MM. (Kepala Dinas Perpustakaan & Kearsipan Kabupaten Sleman) dan Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. (Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta). Acara ini dibuka langsung oleh Plt. Kepala Balai Layanan Perpustakaan BPAD DIY, Waty Marliawati, SH. M.Kes.
.
Melalui lokal konten kebudayaan yang dimiliki oleh setiap perpustakaan Kab-Kota di DIY, harapannya semoga ke depan kebijakan pengembangan koleksi budaya dapat mendukung untuk menjadi ciri khas masing-masing daerah dalam pengelolaan koleksi tercetak maupun digital.
.
Materi Telaah dapat diunduh di link berikut
https://drive.google.com/drive/folders/1hux12E29HIdQYDDPRsGTEUKYGM-Ee0CY?fbclid=IwAR3vNVA8OxQmGR3wOeb-UJz2ffieLJAIh05T7-oskGnmI2N04O1DLKSZ3KA

---
Balai Layanan Perpustakaan BPAD DIY
Page Liked · November 30 ·

Telaah Pustaka Budaya Jawa edisi Bulan Desember 2018 hadir dengan tema "Pengembangan Keragaman Lokal Konten Perpustakaan Kab/Kota se-DIY".
Acara ini akan berlangsung pada Selasa, 4 Desember 2018 pukul 08.00 bertempat di Ruang Seminar Grhatama Pustaka.
Pendaftaran peserta terbuka untuk umum dan telah menjadi anggota perpustakaan BPAD DIY, dengan cara mengisi formulir pendaftaran di counter Layanan Informasi Grhatama Pustaka selama tanggal 1 - 3 Desember 2018, dan akan ditutup apabila kuota 15 peserta sudah terpenuhi.
Informasi lebih lanjut hub WA di nomor 08812658192
#grhatamapustaka
#KunjungidanJadiTahuDunia
#TelaahPustakaBudayaJawa