tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Tuesday, February 26, 2013

Refleksi “Valentine Day”

Merajut Kasih Sejati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC.

Dalam rangka menyambut hari kasih sayang (Valentine Day), saya ingin menyampaikan sebuah artikel tentang “Merajut Kasih Sejati. Tulisan ini banyak mengambil inspirasi dari tulisan Beato Yohanes Paulus II, dalam bukunya yang berjudul Love and Responsibility (Kasih dan Tanggungjawab). Inspirasi yang terutama dari Kasih Tuhan Yesus yang rela mati bagi kita semua agar kita semua selamat. Inspirasi yang lain dari Santo Valentinus sendiri yang karena kasihnya kepada umat berani melawan keputusan Kaisar Claudius II yang melarang orang muda untuk menikah sebelum masuk dalam tentara. Claudius II berpendapat bahwa  orang lajang lebih kuat dan tangguh daripada orang yang sudah berkeluarga. Santo Valentinus dengan diam-diam memberkati pasangan muda-mudi sebelum masuk tentara. Perbuatan Santo Valentinus itu akhirnya diketahui oleh penguasa sehingga ia dimasukkan ke dalam penjara dan dihukum mati.

Kasih bersumber pada hati. Kasih adalah bersatunya dua hati. Dua hati itu senantiasa saling mencari sampai bertemu dan bersatu padu. Bersatunya dua hati menjadi kekuatan dan kehidupan.  Kita tidak dapat hidup tanpa kasih. Kehidupan kita tidak akan bermakna bila tidak mewujudkan kasih. Kehidupan kita menjadi hampa bila ia tidak mengalami kasih  dan menjadikan kasih miliknya.

Kasih terwujud dalam tanggungjawab terhadap orang yang dikasihinya. Tanggungjawab nampak dalam kehendak untuk memberikan diri  dan  rela menderita bagi yang dikasihinya. Semakin besar rasa tanggung jawab terhadap orang yang dikasihinya, semakin besar adanya kasih yang sejati”

Kasih sejati menampakkan kekuatan yang kadang-kadang sulit dimengerti logika. Kekuatan kasih muncul paling jelas ketika orang yang kita kasihi tersandung. Kedasyatan kasih menampilkan diri ketika kelemahan dan dosa orang yang kita kasihi tersingkap. Ketika kita mengasihi dengan kasih sejati,  kita tidak menarik kasih kita, tapi semakin mengasihinya dengan kesadaran penuh akan kekurangan dan kesalahannya,  tanpa menyetujui kesalahan tersebut. Kita tetap mengasihinya walaupun telah dikecewakan dan disakiti.  Kita mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan. Kasih sejati menghancurkan kegelapan dan menaklukkan kebencian.

Ciri kasih sejati adalah senantiasa membiarkan orang yang kita kasihi menjadi dirinya sendiri. Kita tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika kita tidak membiarkannya menjadi dirinya sendiri, kita hanya mengasihi pantulan diri kita sendiri yang kita temukan di dalam dirinya.

Kasih sejati senantiasa sangat merindukan orang yang kita kasihi. Ketika kita memikirkannya,  hati kita  hancur berkeping-keping. Mendengar suaranya saja, mata kita “kedip-kedipan” dan kepingan hati bersatu kembali.  Seorang anak akan selalu merindukan kedatangan orangtuanya ketika mereka sedang pergi walaupun sebentar saja. Seorang suami akan senantiasa ingin cepat pulang ke rumah untuk bertemu kembali istri dan anak-anaknya ketika ia bekerja untuk mencari nafkah bagi mereka. Seorang istri senantiasa menantikan suaminya dengan penuh kerinduan. Kakak dan adik mungkin akan sering berantem ketika mereka bersama-sama, tetapi mereka akan saling mencari ketika berjauhan. Seorang sahabat senantiasa merindukan kehadiran sehabatnya.

Kasih sejati disebut kasih agape. Kasih agape adalah kasih yang "saling menerima" dan "saling mengampuni". Kasih agape senantiasa memberi dan senantiasa berkorban. Allah adalah satu-satunya sumber kasih agape. Allah adalah tempat memperoleh kasih agape. Allah telah mencurahkan Kasih-Nya (Kasih agape) di dalam hati kita, melalui Roh-Nya  :  "Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Roma 5:5). Allah menciptakan seratus bagian kasih sayang. Ia menyimpan sembilan puluh sembilan bagian di sisinya dan hanya satu bagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bagian itulah, makhluk saling berkasih sayang.

Kasih agape nampak secara jelas dalam kehidupan suami dan istri sehingga kasih suami dan istri melambangkan kasih Kristus terhadap Gereja-Nya. Salah satu hadiah kasih terbaik yang dapat diberikan kepada suami atau istri adalah "menerimanya sepenuhnya", menerimanya sebagaimana keadaannya. Kita tidak perlu terkejut atau kecewa ketika menemukan kenyataan bahwa orang-orang yang kita kasihi, yaitu suami atau istri kita, orangtua atau anak, saudara-saudari kita,  sahabat kita, ternyata bukan malaikat dan hanyalah seorang berdosa seperti diri kita sendiri. "Menerima sepenuhnya" orang-orang yang kita kasihi berarti menerimanya sebagaimana keadaannya. Menerima sepenuhnya orang-orang yang kita kasihi sebagaimana keadaannya, adalah suatu pemberian kasih terbesar yang dapat kita saling berikan. Ketika kita sulit menerima orang-orang yang kita kasihi apa adanya,  penyebabnya kemungkinan besar adalah kita sendiri sukar menerima diri kita sendiri sebagaimana adanya. Kita tidak bisa menerima diri kita apa adanya karena kita tidak yakin  bahwa Allah menerima diri kita  sebagaimana keadaan kita. Kemampuan "mengasihi" dan "menerima" sesama apa adanya  tergantung pada  hubungan yang benar kita dengan Allah, yaitu percaya bahwa Allah melalui Kristus Yesus mengasihi dan menerima kita sebagaimana adanya kita.

Dalam mengasihi, mengampuni merupakan unsur yang berefek "menyembuhkan" dalam kehidupan kita. Kita belum benar-benar mengampuni seseorang, ketika kita masih mengingat-ingat kesalahannya serta masih menyimpannya dan sewaktu-waktu dapat keluar kembali.  Kalau tidak ada pengampunan, kehidupan keluarga dan sahabat  akan rusak. Hidup suami dan istri atau antar sahabat tidak mengalami ketenangan ketika masing-masing-masing masih gemar mengumpulkan kesalahan-kesalahan dari orang yang dikasihinya. Kita kadang-kadang mengungkit-ungkit kembali kesalahannya dengan maksud untuk memojokkannya. Suatu keluarga atau komunitas yang kokoh, bukanlah keluarga/komunitas di mana anggota-anggotanya tidak memiliki kelemahan-kelemahan, tetapi di mana anggota-anggotanya mahir menangani kelemahan-kelemahan masing-masing dalam kasih.

Pengampunan Kristus menjadi dasar bagi kita untuk mengampuni kesalahan orang lain : "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian" (Kolose 3:13). Sebagai orang-orang percaya, kita tidak ada alasan untuk tidak mengampuni sesama dalam hubungan manapun, terutama dalam hubungan keluarga atau komunitas. Sebagai orang-orang berdosa yang sudah diampuni Kristus, kita tidak mencari-cari kesalahan, dan setiap kesalahan yang terjadi kita wajib mengampuninya. "Saling mengampuni" berefek membebaskan. Tanpa iklim saling mengampuni, tidak terdapat kebebasan hidup.

Kita membangun iklim kehidupan keluarga/komunitas yang bahagia dengan mencabut rerumputan yang liar, seperti dendam, curiga, iri hati, suka mengeritik, dan menanamkan bibit yang baik, yaitu kasih. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Dengan menjadi orang yang mengasihi, dan untuk dapat menjadi orang yang mengasihi, kita harus merelakan diri hidup di bawah pengaturan Kristus, mengakui-Nya sebagai Tuhan atas kehidupan kita, sehingga Roh-Nya mencurahkan kasih Allah atau -- kasih agape di dalam hati kita. Hanyalah Roh Kristus yang dapat menumbuhkan "Kasih Agape" dalam hati kita, sehingga tercapailah dan terpeliharalah iklim "saling mengasihi", "saling menerima" dan "saling mengampuni" dalam kehidupan kita. Apabila kita membuka diri kita terhadap kasih-Nya, maka kita akan mulai mengasihi. Apabila kita menyadari penerimaan-Nya akan kita, maka kita akan mulai menerima orang-orang lain. Apabila kita mengalami pengampunan-Nya, kita akan juga dapat mengampuni.

Marilah kita menyongsong hari “Kasih Sayang” atau Valentine Day dengan merajut kasih sejati. Caranya adalah  kita mengadakan “Novena Kasih Sejati” dari tanggal 05 sd 13 Februari 2013 dengan menghidupi setiap hari satu  nasihat Santo Paulus : “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan,  tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:4-7). Pertama-tama kita menyampaikan kepada Tuhan doa syukur : “Tuhan, terimakasih atas anugerah-Mu dengan memberikan orang-orang yang aku kasihi ..... (sebut Nama). Aku hari ini (hari pertama ) akan menjadi orang yang sabar,  Aku hari ini (hari kedua) akan menjadi orang yang murah hati, Aku hari ini (hari ketiga ) akan menjadi orang yang tidak cemburu, Aku hari ini (keempat) akan menjadi orang yang tidak sombong, Aku hari ini (hari kelima ) akan menjadi orang yang sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri , Aku hari ini (hari keenam ) akan menjadi orang yang bukan pemarah, Aku hari ini (hari ketujuh ) akan menjadi orang yang bukan suka menyimpan kesalahan orang lain , Aku hari ini (hari kedelapan ) akan menjadi orang yang adil, Aku hari ini (hari kesembilan) akan menjadi orang yang percaya segala sesuatu. Dengan menghidupi nasihat Santo Paulus itu dalam Novena “Kasih Sejati,  hari “Kasih Sayang” atau Valentine Day bukan hanya sekedar acara meriah, tetapi kita akan berkembang dalam kasih sejati.  Tuhan memberkati.

Artikel ini akan disampaikan dalam Siaran Oase Rohani Katolik di Radio Cakrawala Jakarta FM. 98.3 tanggal 04 Februari 2013 pukul 05.30-06.30

PS: Terima kasih kepada Jku @Koensmadhi Albertus yang telah terlebih dahulu membagikan dan memberikan ijin untuk dipublikasikan. Artikel dan refleksi yang sangat baik sekali. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment