tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] You know what, the loneliest people are the one who talk a lot. - Yogyakarta, 27 Juni 2017.

Thursday, July 31, 2014

Pengajian Dakwah Budaya Walisongo: Renungan Bersama Sosio-Kemasyarakatan Indonesia

Video Cak Nun & Kiai Kanjeng Memukau Banyak Penonton (The Muslim News Awards for Excellence 2005). http://www.youtube.com/watch?v=erEUBP52FmA


A. Pendahuluan
Agaknya akan berlebihan apabila sebuah tulisan singkat dalam blog akan mampu mengubah dan memberi dampak dalam kondisi sosio-masyarakat Indonesia saat ini. Apalagi dengan mengangkat tema tentang Walisongo & Teladan Sukses Berdakwah. Namun demikian paling tidak apa yang menjadi keprihatinan bersama atas kondisi masyarakat Indonesia dan dekadensi moral yang terjadi saat ini dan masukan solusinya dapat dengan baik tersampaikan.

Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan. Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata "ilmu" dan kata "Islam". Sehingga menjadi "ilmu dakwah" dan Ilmu Islam atau ad-dakwah al-Islamiyah.[1]

Satu persoalan penting yang banyak melanda masyarakat modern saat ini baik di kota maupun di desa adalah apa yang disebut sebagai existential vacuum-kekosongan eksistensi, yang ditandai dengan kebosanan dan pengkaburan tujuan hidup. Masyarakat dunia modern kini tengah mengalami pendegradasian atas nilai-nilai kemanusiawiannya. Dalam berbagai aktifitas yang serba materialistis, mereka mengalami kejenuhan. Modernitas menjadi sejenis kepribadian yang dingin, kaku, tanpa arah, dan tidak manusiawi (dehumanized).[2]

Tidak mudah pula mengharmonisasikan sebuah bangsa yang multietnik, yang terdapat di dalamnya beragam etnik, bahasa, suku dan agama. Diperlukan juga sikap yang luar biasa bijaksana yang disertai dengan rasa identitas tentang jati diri dan pesatuan dalam masyarakat Indonesia. Konflik antar agama dan keyakinan bahkan sampai berujung anarkis dan memakan korban sudah berkali-kali sudah terjadi.[3]

Sementara jika membaca Ensklopedia Islam setebal tujuh jilid terbitan Ikhtiar Baru Ban Hoeve dan mencari informasi tentang Wali Songo, niscaya tidak akan pernah ditemukan sedikitpun mengenainya. Sebaliknya, di dalam Ensiklopedia Islam tersebut justru akan ditemukan kisah tiga serangkai Haji asal Sumatera Barat H Miskin, H Piabang dan H Sumanik, sebagai pembawa ajaran Islam ke wilayah Sumatera Barat pada tahun 1803 M.

Bila benar demikian yang dituliskan oleh sejarawan Agus Sunyoto dalam buku "Atlas Wali Songo" maka 20 tahun ke depan Walisongo dipastikan akan tersingkir dari percaturan akademis karena keberadaan mereka tidak lagi "legitimate" dalam Ensiklopedia Islam. Walisongo akan terlempar dari ranah sejarah dan tinggal mengisi ruang hampa sebagai cerita mitos dan dongeng pengantar tidur belaka.[4]

Di lain pihak akhir-akhir ini ada sekelompok orang yang mengaku bermanhaj salaf, secara tiba-tiba dan membabi buta menuduh Walisongo adalah penyebar kesyirikanm penganjur bid'ah (sesat), pengagum takhayul dan khurafat. Sehingga mereka berkesimpulan pendek bahwa Walisongo telah gagal dalam berdakwah dan tak patut untuk dijadikan teladan.[5]

Mari kita mempelajari secara perlahan-lahan tentang dakwah Walisongo dan korelasinya dalam masa lalu dan masa kini masyarakat Indonesia.


B. Napak Tilas Dakwah Nusantara Walisongo
Menurut catatan Dinasi Tang China pada waktu abad ke-6 M jumlah orang Islam di nusantara (Indonesia) hanya kisaran ribuan orang. Dengan klasifikasi yang beragama Islam hanya orang Arab, Persia dan China. Para penduduk pribumi tidak ada yang mau memeluk Islam.

Bukti sejarah kedua, Marco Polo singgah ke Indonesia pada tahun 1200-an M. Dalam catatannya, komposisi umat beragama di nusantara masih sama persis dengan catatan Dinasti Tang; orang Indonesia tetap tidak mau memeluk agama Islam.

Bukti sejarah ketiga, dalam catatan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M, tetap hanya orang asing yang memeluk agama Islam. Jadi kalau kita kalkulasikan ketiga catatan tersebut, sudah lebih dari 8 abad agama Islam tidak diterima orang Indonesia. Agama Islam hanya dipeluk segelintir orang asing.

Dalam sumber lain disebutkan pula bahwa sebenarnya Islam masuk Nusantara sejak zaman Rasulullah. Yakni berdasarkan literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Kemudian Marco Polo menyebutkan, saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H/1292 M, telah banyak orang Arab menyebarkan Islam. Begitu pula Ibnu Bathuthah, pengembara muslim, yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H/1345 M menuliskan bahwa Aceh telah tersebar madzhab Syafi'i. Tapi baru abad 9 H (abad 15 M) penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Massa itu adalah masa dakwah Walisongo.

Para sejarawan dunia angkat tanggan saat diminta menerangkan bagaimana Walisongo bisa melakukan mission impossible saat itu: membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 50 tahun, padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa nusantara selalu menolak agama Islam.

Berbeda dengan dakwah Islam di Asia Barat, Afrika dan Eropa yang dilakukan dengan penaklukan, Walisongo berdakwah dengan cara damai. Yakni dengan pendekatan pada masyarakat pribumi dan akulturasi budaya (percampuran budaya Islam dan budaya lokal). Dakwah mereka adalah dakwah kultural.

Banyak peninggalan Walisongo menunjukkan, bahwa budaya dan tradisi lokal mereka sepakati sebagai media dakwah. Hal ini dijelaskan, baik semua atau sebagian, dalam banyak sekali tulisan seputar Walisongo dan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Misalnya dalam Târikhul-Auliyâ’ karya KH Bisri Mustofa; Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia karya KH Saifuddin Zuhri; Sekitar Walisanga karya Solihin Salam; Kisah Para Wali karya Hariwijaya; dan Kisah Wali Songo: Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA.

Dahulu di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha, dan terdapat berbagai kerajaan Hindu dan Budha, sehingga budaya dan tradisi lokal saat itu kental diwarnai kedua agama tersebut. Budaya dan tradisi lokal itu oleh Walisongo tidak dianggap "musuh agama" yang harus dibasmi. Bahkan budaya dan tradisi lokal itu mereka jadikan "teman akrab" dan media dakwah agama, selama tidak ada larangan dalam nash syariat.

Pertama-tama, Walisongo belajar bahasa lokal, memperhatikan kebudayaan dan adat, serta kesenangan dan kebutuhan masyarakat. Lalu berusaha menarik simpati mereka. Karena masyarakat Jawa sangat menyukai kesenian, maka Walisongo menarik perhatian dengan kesenian, diantaranya dengan menciptakan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan dan pertunjukan wayang dengan lakon islami. Setelah penduduk tertarik, meraka diajak membaca syahadat, diajari wudhu, shalat, dan sebagainya.

Walisongo sangat peka dalam beradaptasi, caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Misalnya, kebiasaan berkumpul dan kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian keluarga tidak diharamkan, tapi diisi dengan pembacaan tahlil, doa, dan sedekah. Bahkan Sunan Ampel, yang dikenal sangat hati-hati, menyebut shalat dengan "sembahyang" (asalnya: sembah dan hyang) dan menamai tempat ibadah dengan "langgar" mirip kata sanggar.

Bangunan masjid dan langgar pun dibuat bercorak Jawa dengan genteng bertingkat-tingkat, bahkan masjid Kudus dilengkapi menara dan gapura bercorak Hindu. Selain itu, untuk mendidik calon-calon dai, Walisongo mendirikan pesantren-pesantren yang menurut sebagian sejarawan mirip padepokan-padepokan orang Hindu dan Budha untuk mendidik cantrik dan calon pemimpin agama.

Para sejarawan dunia sepakat bahwa cara pendekatan dakwah melalui kebudayaanlah yang membuat sukses besar. Namun demikian mungkin ada benarnya bahwa pendekatan dakwah dengan kebudayaan itu hanyalah bungkus luarnya saja. Yang benar-benar berbeda dan telah sukses dalam menyebarkan agama Islam saat itu adalah isi dari dakwah Walisongo.


C. Memahami Isi Dakwah Budaya Walisongo
Sebagian pihak mempermasalahkan metode dakwah Walisongo tersebut. Sebagian mempertanyakan kesesuaiannya dengan dalil syar'i. Sebagian lagi bahkan berani menyalahkan peninggalan para ulama-wali itu. Hal ini terutama dilakukan kaum modernis yang dipengaruhi pemikiran Wahabi yang kaku.

Bila mau berpikir dengan jernih dan bijak, metode dakwah Walisongo tidak selayaknya dipertanyakan. Walisongo menyebarkan agama Islam meniru persis "bungkus" dan "isi" yang dahulu dilakukan Rasulullah SAW. Benar-benar menjiplak mutlak metode dakwahnya kanjeng nabi. Pasalnya, kondisinya hampir serupa, Walisongo kala itu adalah alim ulama "satu-satunya".

Dahulu Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar pada masanya. Istrinya sendiri, sahabat Abu Bakar, sahabat Umar, sahabat Utsman, dan calon mantunya Ali pun pada saat itu tersesat semua. Tetapi berkat ruh dakwah yang penuh kasih sayang, banyak orang akhirnya mengikuti risalah yang dibawa kanjeng nabi. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW sangat amat sabar menerangi orang-orang yang tersesat di jamannya. Meski kepalanya dilumuri kotoran, meski mukanya diludahi, bahkan berkali-kali hendak dibunuh, kanjeng nabi selalu tersenyum memaafkan.

Walisongo mencontoh akhlak kanjeng nabi sama persis. Walisongo berdakwah dengan penuh kasih sayang. Pernah suatu hari ada penduduk desa bertanya hukumnya selametan rumah dengan menaruh sesajen di sudut kamar. Tanpa terkesan menggurui dan menunjukkan kesalahan, sunan tersebut berkata, "Boleh, malah sebaiknya jumlahnya 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya."

Pernah juga ada murid salah satu anggota Walisongo yang ragu pada konsep tauhid. "Tuhan kok jumlahnya satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang tidak terurus?" Sunan yang ditanya hanya tertawa mendengarnya, lalu minta ditemani nonton pagelaran wayang kulit.

Singkat cerita, sunan tersebut berkata pada muridnya, "Bagus ya cerita wayangnya..." Si murid pun menjawab dengan penuh semangat tentang keseruan lakok wayang malam itu. "Oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya ada dua atau empat orang?" tanya sunan tersebut. Si murid langsung menjawab, "Justru lakon wayangnya bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan."

Sang guru hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar jawaban polos tersebut. Seketika itu pula si murid beristighfar dan mengaku sudah mengerti konsep tauhid. Begitulah "isi" dakwah Walisongo; mengutamakan perasaan orang lain.

Kalau kita cermati bersama, betapa gaya berdakwah para Walisongo tersebut sangat mirip dengan gaya dakwah kanjeng nabi. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa? Hal tersebut bisa terjadi karena ada manual book cara berdakwah, yaitu Surat An-Nahl ayat ke-125. Ud'u ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau'izhatil hasanati wajaadilhum billatii hiya ahsan. Inna Rabbaka Huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilihi wa Huwa a'alamu bilmuhtadiin. Terjemahannya kira-kira: Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui mereka yang mendapat petunjuk.

Menurut ulama ahlussunnah wal jama'ah, tafsir ayat dakwah tersebut adalah seperti berikut: Potongan kalimat awal, ud'u ilaa sabiili Rabbika, yang terjemahannya adalah "Ajaklah ke jalan Tuhanmu", tidak memiliki objek. Hal tersebut karena Gusti Allah berfirman menggunakan pola kalimat sastra. Siapa yang diajak? Tentunya orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya berarti orang yang diajak adalah orang-orang yang belum di Jakarta.

Dakwah artinya adalah "mengajak", bukan perintah apalagi memerintah. Jadi cara berdakwah yang betul adalah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Apabila harus berdebat, pendakwah harus menggunakan cara membantah yang lebih baik. Sifat "lebih baik" di sini bisa diartikan lebih sopan, lebih lembut, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila harus berdebat, jangan ditafsirkan secara terjemahan bahasa Indonesia apa adanya. Bisa kacau balau.

Para pendakwah justru harus menghindari perdebatan. Bukannya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ada ustadz yang mengajak debat para pendeta, biksu, orang atheis, dan sebagainya. Jelas itu "ngawur". Berdakwah tidak boleh berlandaskan hawa nafsu. Harus ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan berangkat dari niat yang tulus.

Apalagi ayat dakwah tersebut ditutup dengan kalimat penegasan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati. Hanya Dialah yang tahu hambaNya yang masih tersesat dan hambaNya yang sudah mendapatkan petunjuk Firman. Artinya Firman tersebut sudah merupakan peringatan untuk para pendakwah jangan merasa sok suci, apalagi menganggap objek dakwah sebagai orang-orang yang tersesat. Anggaplah objek dakwah sebagai sesama manusia yang sama-sama menuju jalanNya.


D. Refleksi Sosio-Kemasyarakatan Kekinian Indonesia
Fakta sejarah memberikan gambaran kepada kita bahwa Islam hadir ke bumi pertiwi tidak dengan penumbangan kekuasaan maupun agresi militer ataupun jalan-jalan pemaksaan lainnya, namun melalui jalan damai yaitu akulturasi budaya. Secara cerdas Walisongo menginisiasi pencerdasan dan pembangunan masyarakat secara kultural dan dari sanalah penyebaran Islam dilakukan.

Sebuah pelajaran berharga mengenai bagaimana menyikapi perbedaan. Bahkan kita melihat wayag sekalipun yang notabene berasal dari ajaran animisme yang sangat kontras dengan ajaran Islam dapat digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan Islam setelah dilakukan modifikasi terlebih dahulu. Para penyebar agama Islam di tanah air dahulu mencoba menggali dan memahami adat istiadat dan khazanah budaya yang ada terlebih dahulu untuk kemudian dimanfaatkan untuk berdakwah.

Pelajaran lainnya adalah bagaimana misi keagamaan yang diemban para wali disertai dengan kerja-kerja sosial sehingga menghasilkan sebuah kerja relijius yang lebih membumi dan mampu diterima dengan basis penerimaan yang kuat. Upaya mereka dengan membangun pusat-pusat pendidikan dan penggerak ekonomi merupakan buktinya.

Menurut pakar sejarah nusantara Agus Sunyoto menyatakan kunci keberhasilan dakwah Walisongo adalah penghargaan yang tinggi terhadap kebudayaan pribumi. Sekarang cara ini dilanjutkan NU dengan tidak menghilangkan tradisi lokal. Selain memelihara tradisi lokal, NU bahkan menggunakan resistensi kebudayaan tersebut untuk melawan kolonialisme. Di masa penjajahan, KH Hasyim Asy'ari mengharamkan seikerei sebagai tanda hormat kepada kaisar Jepang karena dianggap syirik.

Hingga kini mayoritas pesantren juga masih kuat mempertahankan tradisi mereka. Lembaga pendidikan Islam tertua nusantara ini umumnya sangat selektif terhadap berbagai pengaruh global, termasuk cara-cara pendidikan model barat. Sangat disayangkan saat ini banyak masyarakat Indonesia modern yang mudah menjauh dari lokalitas kebudayaan lokal. Padahal kekayaan budaya nusantara tak kalah unggul dan kerap gaya hidup serapan luar hanya menguntungkan pihak tertentu saja.

Kondisi sosio-kemasyarakatan Indonesia saat ini tengah mengalami keprihatinan atas makin berkembangnya pengaruh negatif globalisasi di mana-mana. Sebagai contoh pada tahun 2012, Monash University bekerjasama dengan UIN Malang meneliti tentang pesantren. Bagaimana mungkin pesantren masih bisa berjalan di era globalisasi sekarang, dimana sekolah-sekolah sudah bertaraf internasional. Mengaji di pondok pesantren masih menggunakan bahasa lokal, padahal sekolah-sekolah sekarang sudah memasuki era bahasa Inggris. Kemudian kalau dahulu nama-nama anak masih bermuatan lokal, namanya Sumaji, Marsono, Choirul, Joko, Siti, Marpuah, dst. Begitu reformasi tahun 1999, nama-nama di Indonesia berubah menjadi nama ke-barat-barat-an seperti Kevin, Clara, dll. Nama-nama barat pelan-pelan menjadi juara di nusantara, bahkan kita mungkin malu jika nama kita terdengar kampungan. Era globalisasi merubah semua, termasuk kearifan lokal.

Pada kenyataannya dengan semakin majunya teknologi, penggunaan bahasa asing dan makin meningkatnya jumlah masyarakat yang mampu mengenyam pendidikan tinggi bahkan beberapa sudah banyak yang mampu diterima bekerja di luar negeri tidak menghapus kenyataan bahwa kondisi masyarakat Inonesia yang saat ini tengah dalam dekadensi moral.

Ketika pada jaman dahulu Walisongo melakukan penyebaran dakwah yang konstruktif dalam tataran lokal nusantara, maka pada saat ini tantangannya adalah bagaimana menuju masyarakat Indoneia yang harmonis, toleran dan pluralis namun tetap memegang nilai-nilai dan kearifan budaya lokal nusantara di tengah pusaran arus globalisasi yang cenderung menyeret orang menjadi tidak peduli dan apatis pada sesamanya.

Bahwa kehancuran peradaban dan moral manusia di zaman modern ini bukan semata-mata karena peradaban modern itu tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritualitas dan transedental manusia, tetapi juga karena kesalahan manusia dalam memanfaatkan (menggunakan) dan memandang modernitas itu sendiri. Hal lain yang menyebabkan modernitas itu dangkal dan naif adalah ia berusaha memotong akar-akar tradisional yang sebenarnya merupakan "ibu" yang melahirkan peradaban modern itu sendiri.

Relevansi dakwah Walisongo dalam masa modernisme memang belum selesai. Sebab pada kenyataannya meski modernisme banyak membawa jasa, tetapi tidak sedikit menabur 'dosa'. Misalnya modernisme sangat berkaitan erat dengan pembangunan. Banyak orang mendefinisikan pembangunan sebagai 'mengantarkan masyarakat tradisional menuju masyarakat modern'. Pembangunan bukan saja pertumbuhan ekonomi; tetapi juga transformasi sosial. Bersamaan dengan modernisasi dan kemakmuran, pembangunan juga membawa apa yang disebut oleh sosiolog Lyman dengan the Seven Deadly Sins, tujuh dosa maut: ketidakpedulian, nafsu, angkara murka, kesombongan, iri hati, lahap dan kerakusan.

Di sinilah kembali diperlukan dakwah-dakwah budaya dan teladan-teladan hidup yang mewarisi nilai-nilai dan semangat Walisongo: modernitas dan segala aspek perbedaan yang menyertai lapisan masyarakat Indonesia saat ini dipahami bukan sebagai halangan atau musuh yang harus dibasmi melainkan sebagai sebuah peluang dan tantangan untuk melawan bentuk-bentuk ketidakpedulian sosial dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang harmonis, toleran dan pluralis, dengan penuh kasih sayang.


D. Penutup
Metode memang penting namun demikian terlebih penting lagi adalah isi dan tujuan dakwah tersebut. Dakwah yang dibarengi dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan konstruktif dan memadukan berbagai media seperti seni, budaya dan teknologi dapat diajukan sebagai salah satu solusi untuk membendung dekadensi moral dalam masyarakat modern saat ini.

Aktifitas relijius sudah sepatutnya jugalah memiliki implikasi positif bagi tatanan sosial masyarakat bukan sekedar upaya propaganda jargon-jargon kosong semata bahkan malah berujung pada konflik atau bahkan kekerasan terhadap sesama. Walisongo dan para penyebar agama Islam pada masa lalu di nusantara telah membuktikan bahwa ajaran Islam adalah rahmatan lil alamin dan dapat menjadi harapan dalam memberbaiki dan membangun masyarakat.

Hal ini menjadi pelajaran bagi segenap elemen bangsa bahwa perbedaan keyakinan agama di antara kita tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bersama menjalin harmonisasi dalam melaksanakan pembangunan. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi. Menjadi teladan hidup dan berdakwah teduh dan cinta tanah air dengan memulai banyak membaca, meluruskan niat, makin mendekatkan diri dan meminta pertolongan kapadaNya sesungguhnya adalah panggilan untuk kita bersama.

May peace be with you.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis Kontes Blog Muslim Ke-2 PPM ASWAJA "Walisongo & Teladan Sukses Berdakwah".

http://kontesblogmuslim.com/
Banner lomba menulis Kontes Blog Muslim ke-2 PPM ASWAJA "Walisongo & Teladan Sukses Berdakwah". Sumber: http://kontesblogmuslim.com/

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Dakwah dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Dakwah
[2]. Menimbang Gagasan Pribumisasi Islam: Upaya Menuju Masyarakat Islam Indonesia yang Harmonis, Toleran dan Pluralis dalam http://www.gusdurian.net/id/article/kajian/Menimbang-Gagasan-Pribumisasi/
[3]. Wali Songo, Wayang dan Toleransi Beragama yang Konstruktif dalam http://news.detik.com/read/2011/03/01/111429/1581856/471/wali-songo-wayang-dan-toleransi-beragama-yang-konstruktif
[4]. Menggugat (Kembali) Keberadaan Wali Songo dalam http://m.kompasiana.com/post/read/578662/3/menggugat-kembali-keberadaan-wali-songo.html
[5]. Walisongo Adalah Penerus Dakwah Rasulullah SAW dalam https://m.facebook.com/permalink.php?id=557700220929725&story_fbid=577543395612074

REFERENSI PENDUKUNG:
A. www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan
B. www.muslimedianews.com – Voice of Moslem
C. http://www.nu.or.id/ – Website resmi Nahdlatul Ulama
D. www.habiblutfi.net – Dakwah teduh dan cinta tanah air
E. www.streamingislami.com – Streaming dakwah Islam terlengkap

Masuk dalam nominasi 10 besar dari 54 peserta @ppmAswaja - 31 Agustus 2014

Pengumuman Akhir Kontes Blog Muslim ke-2 http://kontesblogmuslim.com/pengumuman-akhir-kontes-blog-muslim-ke-2/ - 09 September 2014

Pengumuman Penyerahan Hadiah KBM2 @ppmAswaja - 23 September 2014

Friday, July 25, 2014

Sepasang Suami Istri Penarik Gerobak Tua

Ini adalah kisah nyata yang baru saja saya dan calon istri alami hari Jumat yang lalu, 25 Juli 2014 kira-kira pada pukul 18.30 WIB setelah lepas waktu berbuka puasa di sekitar jalan Taman Siswa, Yogyakarta. Pada sore itu kami berdua berboncengan menyusuri jalan Kol. Sugiyono setelah mengisi bensin motor Honda kami. Kami berniat untuk segera pulang dan kembali melanjutkan aktifitas kami masing-masing. Namun dalam perjalanan di sore hari tersebut tak sengaja kami melewati sepasang suami istri yang sedang mendorong sebuah gerobak tua. Sang suami berjalan di depan menarik gerobak yang berukuran jauh lebih besar dari dirinya sementara sang istri mendukung mendorong dari belakang. 

Sepintas tak ada yang istimewa dalam kejadian tersebut. Saya pun hanya menoleh dan memperhatikan sekilas sepasang suami istri renta yang telah kami lewati bersama tadi. Kebetulan memang motor tidak dijalankan dengan cepat. Sang suami dan istri sama-sama sudah berambut putih, berpakaian kumal dan lecek, keduanya tampak letih menarik gerobak yang setelah saya perhatikan baik-baik sepertinya berisi barang bekas atau barang sampah pungutan. Mereka berjalan beriringan mendorong gerobak tadi di tengah hiruk pikuk manusia yang pulang kerja atau memburu makanan berbuka puasa. Seolah tak ada yang peduli. Dan memang siapa lagi yang peduli begitu pikir saya saat melewati mereka.

Saat di perjalanan saya terus memikirkan hal itu. Selama setengah tahun saya tinggal di Yogyakarta dan sering hilir mudik di jalan Kol. Sugiyono tersebut baru sore itu saya menemukan mereka, yang tua renta dan bersama-sama bekerja mendorong gerobak tua. Sepanjang perjalanan mencari tempat berbuka tanpa sadar saya memikirkan hal itu. Dan tiba-tiba saja tanpa saya rencanakan, pada saat saya dan calon istri sedang mengantri di Olive Chicken, semacam franchise ayam lokal di kota Yogyakarta, ada suatu rasa yang meluap dalam hati saya, teringat akan mereka berdua tadi. Awalnya saya ragu, bukan tanpa sebab, terkadang penampilan memang bisa menipu. Tapi segera saya tepis pemikiran terebut. Saya tegaskan kepada diri saya sendiri bahwa mereka memang membutuhkan dan layak menerima sesuatu. Yang mungkin saat itu saya punya. Akhirnya saya mengatakan kepada calon istri saya untuk membeli satu paket nasi ayam dan tambahan dua paket lagi untuk dibungkus dan dibawa pulang. Selama pemikiran dan saat saya mengatakan hal tersebut saya tidak mengatakan banyak hal kepada calon istri saya.

Pikiran saya berkecamuk dengan hebat. Sejujurnya uang di dompet kami berdua bukanlah berlebih sore itu. Kalau saya memaksakan diri membeli tiga paket nasi ayam untuk saya berbuka, tentunya uang kami semakin sedikit. Dan kami berdua bekerja wiraswasta. Calon istri saya mengajar kursus menjahit dan saya mengajar bimbingan belajar anak-anak sekolah. Pada masa-masa seperti ini dimana sudah banyak orang pulang liburan/mudik demikian pula dengan kondisi keuangan kami berdua tidak banyak bahkan hampir bisa dikatakan tidak ada masukan yang cukup berarti. Selama beberapa hari bahkan kami terpaksa berpuasa bukan karena keinginan untuk itu namun karena ketiadaan keuangan yang sedang tidak kami punya. Seolah-olah banyak pikiran yang mengatakan nanti bagaimana besok? Nanti bagaimana kalau tidak ada uang? Dan lain sebagainya.

Saat antrian sudah pada giliran saya akhirnya saya putuskan untuk tetap menuruti kata hati dan nurani saya. Saya tidak mau menolak apa yang dengan sangat saya rasakan sore itu. Saya ingin memberi kepada kedua orang suami istri tua itu sesuatu untuk makanan berbuka puasa. Saya ingin memberi bukan karena saya ada namun karena empati saya menyuruh saya berbuat demikian.

Nasi ayam hanya berharga delapan ribu rupiah saja. Komplit dengan sendok plastik dan sambal dan dibungkus dengan boksnya. Ah memang tidak mahal jika dibandingkan dengan harga-harga fast food di mall-mall. Tapi percayalah itu adalah uang-uang terakhir yang saat itu kami punya. Saya menatap mata calon istri saya dan mengatakan, bolehkah untuk memberikan dua paket ini kepada bapak ibu membawa gerobak yang tadi kita lihat di jalan? Sebelumnya calon istri saya pikir ketiga paket nasi ayam itu akan saya makan sendiri. Karena sedari siang memang saya tidak memiliki makanan apa-apa.

Herannya calon istri saya dengan yakin juga mengatakan sudah tidak apa-apa. Saya tersenyum saat dia mengatakan demikian. Artinya hatinya sejalan dengan apa yang saya rasakan. Saya pikir toh uang masih bisa dicari tapi kesempatan memberi mungkin tidak bisa datang dua tiga kali. Begitu pikir saya sore itu saat kami meninggalkan meja kasir Olive Chicken di jalan Taman Siswa, Yogyakarta.

Setelah membayar parkir kami berdua langsung bergegas mencari ke manakah kira-kira dua orang suami istri penarik gerobak barang tadi pergi. Saya pikir tentunya dengan membawa gerobak yang super besar untuk ukuran badan mereka berdua ditambah kondisi dan umur yang saya lihat, bakalan butuh waktu lama untuk membawanya. Akhirnya kami mencari satu persatu jalan yang mungkin dilewati oleh kedua orang tua tadi. Sebagai gambaran jalan Taman Siswa memiliki empat percabangan jalan/perempatan yang masing-masing terhubung pada jalan yang luas dan panjang pula.

Kami menyusuri ke tiga jalan yang ada, bahkan ke jalan di mana pertama kali kami melihat sepasang suami istri penarik gerobak tua tadi. Sudah cukup jauh namun kami tidak menemukan mereka. Sambil memegang tiga buah paket di tangan kiri dan kanan saya saya berpikir, kemana mereka? Apa mungkin mereka sudah pergi jauh tanpa kami sadari? Padahal jarak antara kami melewati mereka dengan tempat kami membeli nasi ayam itu agak jauh jadi logikanya mestinya kami bisa dengan mudah menemukan mereka kembali tanpa kesulitan.

Saat itu calon istri saya menyarankan untuk coba kembali ke jalan di mana kami membeli nasi ayam Olive Chicken tadi, yakni di jalan Taman Siswa Yogyakarta. Saya setuju. Karena hari mulai gelap dan pandangan mata tentunya makin kabur karena semakin banyak kendaraan berlalu-lalang di jalan. Hanya satu harapan saya, berharap bisa bertemu mereka dan bisa memberikan dua paket nasi ayam itu sebagai makanan berbuka puasa mereka. Entah mereka berpuasa atau tidak buat saya itu bukan soal utama. Saya tidak mau menyangkali nurani dan dorongan empati diri saya. Sebelum semuanya terlambat.

Pada akhirnya niat saya terkabul juga. Kami akhirnya bisa melihat dari jauh sepasang suami istri penarik gerobak tua tadi. Karena gerobak mereka yang cukup besar segera menarik perhatian saya untuk menemukan mereka. Dari jauh saya masih melihat sang istri mendorong gerobak mereka. Pandangan saya tertutup karena tinggi gerobak itu memang di atas rata-rata manusia dewasa. Saya mengatakan pada calon istri saya untuk segera menepikan dan memberhentikan motor kami.

Setelah motor berhenti saya mencopot helm dan memberikan satu paket nasi ayam milik saya kepada calon istri. Saya menitipkan kepada dia karena saya tidak ingin memberikan dua paket lainnya dengan membawa banyak seolah-olah saya ini orang yang berpunya. Sejujurnya saya ingin sekali memberikan dengan sopan. Saya belajar sejatinya tiap manusia adalah sama. Saya tidak mau timbul perasaan dalam diri saya seolah-olah karena saya yang memberikan maka saya lebih dari mereka.

Segera saya berlari mendekati sang istri yang sudah tua dan beruban rambutnya. Ada suatu kesan mendalam yang saya tangkap saat memperhatikan dengan baik kondisi sang istri dari belakang sebelum saya menyapa dan memberikan paketnya. Saya tiba-tiba ingat dari ibu saya yang sampai akhir hayatnya terus mendukung bapak saya dalam pekerjaan yang walaupun tidak berlimpah materi mereka sangat seiya sekata. Saya tiba-tiba teringat pada almh. ibu saya saat saya memperhatikan sang ibu pendorong gerobak tua itu.

Kemudia saya menyapa ibu tua tersebut dari belakang dan segera menyerahkan paket/bungkusan nasi ayam dalam kotak tersebut. Saya katakan ibu ini untuk ibu dan bapak untuk berbuka. Sang ibu tampaknya terkejut dan tidak seberapa lama beliau mengatakan terima kasih. Saya tidak lama-lama. Saya segera kembali ke tempat di mana calon istri saya sedang menunggu di pinggiran jalan. Saat kami sedang memutar arah kembali ke jalan sebelumnya, sepintas saya melihat dari ujung mata saya, sang istri sedang berbincang sambil menyerahkan isi bungkusan kepada sang suami. Sayup-sayup saya mendengar dia bicara dalam bahasa Jawa, iki ono sing menehi (ini ada yang memberi). Demikian kira-kira yang saya bisa dengar. Mereka tampaknya gembira dan saat mereka memandang ke belakang ke arah dimana saya memberi, kami berdua sudah tidak ada di sana, sudah kembali dalam perjalanan ke tempat kami masing-masing.

Cerita singkat ini tidak ada dokumentasi foto atau video. Saya dan calon istri melakukannya tanpa kami rencanakan dan sejujurnya tidak mungkin kami rencanakan saat itu. Saya hanya bisa bersyukur diberi kesempatan untuk memberi, diberi kesempatan berempati dan rasa ingin memberi yang begitu luar biasa saya rasakan. Memang saya tidak bisa memberi banyak. Hanya paket nasi ayam kardusan seharga dua kali delapan ribu rupiah saja. Mungkin adalah uang terakhir kami sore itu. Dan seharusnya bisa saja saya membanggakan diri di hadapan sepasang suami istri tadi dengan berlama-lama berbicara atau mengambil foto mereka berdua.

Tapi hati saya mengatakan tidak. Nurani saya mengatakan segeralah pergi dari sana. Malu saya kalau masih mengatakan ini pemberian dari kami. Karena sesungguhnya bukan kami berdua yang memberi namun Tuhan Yang Esa lah yang dengan rahmatnya memberi kami berkat dan mengetuk hati kami untuk memberikan mungkin uang-uang terakhir yang kami punya. Saya juga manusia biasa. Saya masih punya banyak keraguan dan dosa. Namun dalam berbagai momen di hidup saya, saya belajar untuk mempercayakan nurani dan memberikan empati pada kaum yang papa. Kaum yang tidak masuk hitungan masyarakat umumnya. Satu hal saya ingat pesan dari almh. ibu saya, jangan kamu memberi tapi kamu mengetahuinya. Berilah dengan tangan kiri kamu taruh di belakang demikian beliau berpesan. Dan keluarga saya bukanlah keluarga kaya. Sore itu saya ingin sekali memberi lebih daripada sekedar dua kotak nasi ayam. Namun hati saya menjerit hanya itu Tuhan uang yang kami punya. Kami tidak bisa memberi lebih dan pemberian kami mungkin dari keterbatasan kami.

Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan cerita bekal nasi ayam dua paket di tangan sepasang suami istri penarik gerobak tua tadi. Mungkin mereka habiskan? Atau mungkin mereka simpan untuk esok harinya? Karena semakin banyak manusia yang tidak peduli dan menutup nurani serta empatinya. Ah sejujurnya saya tidak tahu. Toh tulisan singkat ini pun bukan semata-mata untuk mendapat hadiah dan pujian. Hanya satu keinginan saya untuk berbagi, mari kita berbuat lebih demi sesama. Buat mereka yang diberikan karunia lebih daripada sekedar uang ribuan, mari memberi diri menyisihkan sedikit untuk sesama yang tidak seberuntung kalian. Bagi mereka yang diberikan kelebihan tenaga dan pikiran cemerlang, mari berbuat mengulur tangan dan berikan yang terbaik bagi sesama. Tidak akan ada ruginya memberi dan berempati bagi sesama kita. Sudah jangan pandang soal suku dan agama. Toh saat nanti kita dipanggil semua oleh Tuhan Yang Esa mungkin hanya satu yang Dia tanyakan, engkau sudah berbuat apa saja di dunia, wahai manusia? Salam.

Keinginan dan harapan: Saya pribadi ingin sekali bisa memberi lebih banyak dan berkelanjutan kepada kaum papa (tidak berpunya, dipinggirkan atau tidak dianggap masyarakat) seperti kisah di atas. Harapannya agar semakin banyak dari kita yang peduli pada mereka. Mereka mungkin tidak seberuntung kita. Tetapi mereka adalah saudara-saudara kita juga. Uang masih bisa dicari tetapi kesempatan memberi mungkin tidak datang dua tiga kali.

Pengumuman 33 Kontributor Naskah Terpilih, 8 Desember 2014

Sertifikat Kontributor Naskah Terpilih, 8 Desember 2014

-----
Tentang penulis: Yose Rizal Triarto, lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada 5 Desember 1985. Ia adalah alumnus Fisika F. MIPA UNDIP Semarang. Semasa kuliah aktif menjadi pengurus inti beberapa organisasi kemahasiswaan. Sempat bekerja di beberapa perusahaan nasional dan multinasional. Saat ini bekerja sebagai pengajar dan pengelola LBB+ Prestasi Utama Yogyakarta.

Mudik

Mudik adalah cerita
Kala asa menjadi cita
Mudik adalah harapan
Momen berjumpa keluarga yang tak tergantikan

Lebaran kali ini mau mudik ke mana?
Sudah biasa ah kalau pulang ke desa
Katanya ingin bersilahturahmi dengan keluarga
Jadi kapan kau ingin pulang lagi ke kota?

Ini aku dengan sepeda motor baruku
Hasil semua jerih payahku berjuang di kota
Ini aku dengan membawa perhiasan emasku
Supaya orang kira aku berhasil di sana
Ini aku pulang dengan mobil kreditku
Supaya emak dan abah bangga

Ah kalau mudik hanya untuk pamer saja
Lebih baik tak pulang tapi komunikasi tetap ada
Kalau mudik hanya kebiasaan belaka
Tak kah lebih bijak engkau bershalat dan berdoa

Tahun ini aku tak bisa pulang
Penghasilan per bulan dan tiket kereta tak mungkin ku pegang
Tahun ini aku hanya bisa mengirim doa dan impian tak usang
Semoga ayah ibu senantiasa sehat dan tersenyum tenang


Yogyakarta, 24 Juli 2014.
*Dirimkan kepada Redaksi Majalah Surah Sastra @SurahSastra tertanggal 25 Juli 2014.

Thursday, July 24, 2014

Agus Mulyadi: Cah Ndeso Tapi..


Buku Jomblo Tapi Hafal Pancasila oleh Agus Mulyadi. Sumber: http://www.agusmulyadi.web.id/

Pertama-tama ijinkan saya memperkenalkan maksud dan tujuan tulisan saya kali ini. Jujur loh bukan semata-mata hanya untuk mendapatkan hadiah dari empunya acara tapi juga tidak lain dan tidak bukan adalah karena saya ingin mecoba berkontribusi mereview kecil-kecilan salah satu blog anak bangsa Indonesia.

Jadi begini, mas Agus Mulyadi saat ini sedang mengadakan acara Giveaway Syukuran Terbitnya Buku "Jomblo Tapi Hafal Pancasila". Info lomba review ini awalnya saya dapatkan dari situs Lomenulis.com. Boleh silahkan langsung di-klik tautan-tautan tersebut untuk berpartisipasi dalam acaranya.

Kesan pertama saat saya membuka http://www.agusmulyadi.web.id jujur saja yang memang terlintas adalah 'cah ndeso tapi..'. Mohon maaf sebelumnya kepada mas Agus Mulyadi dengan judul postingan saya tersebut. Tidak lain dan tidak bukan karena saya ingin mereview sejujur-jujurnya dan sebenar-benarnya dari blog sampeyan. Ada beberapa alasan kenapa saya tulis dengan judul begitu.

Pertama, tampilan foto diri dengan busana Jawa lengkap sepinggang dengan jempol tangan kanan yang seolah-olah memberikan isyarat 'monggo' dan juga 'oke'. Buat yang pernah mempelajari bahasa tubuh dan ekspresi seseorang saat sedang difoto pasti bisa menjelaskan sedikit. Saya menangkap sang empunya blog ingin menunjukkan citarasa-impresi mendalam dan eksistensi keaslian dan keberadaan diri yang memang sesuai dengan alasan berikutnya.

Kedua, judul blog yang langsung mengena ke calon pembaca 'Agus Mulyadi Njaluk Rabi-Sholat Jauh Lebih Penting Ketimbang Membaca Blog Ini'. Rasa-rasa humor ringan namun mengena memang tampaknya sudah diperkenalkan di awal blog. Mas Agus ini, yang dalam penuturannya tentang siapa dia menjelaskan dengan bahasa yang ringan, lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar di-Dzolimi. Agak mrongos, humoris, cerewet, ceplas-ceplos, tidak terlalu bertanggung jawab, dsb. Kesan yang saya tangkap di sini adalah wong Jowo asli, mbeling, ora melu-melu aturan/pakem tapi sederhana, dan terbuka.

Apa sudah sampai di situ sajakah? Sepertinya tidak demikian. Berawal dari dua kesan tadi saya mencoba menggali lebih dalam sekaligus mencoba mendalami blog http://www.agusmulyadi.web.id/. Mereview satu blog yang memang bergaya bahasa sederhana, ceplas-ceplos dan apa adanya mempunyai ketertarikan sendiri buat saya. Toh mas Agus Mulyadi dalam beberapa postingannya memang tidak melulu membawa satu topik dengan gaya bahasa berat.

Cobalah iseng-iseng melihat daftar isi blog yang telah beliau tulis dalam daftar isi blog Agus Mulyadi berikut. Dimulai dari postingan pertama 4 Mei 2013 sampai dengan postingan terakhir 17 Juli 2014, sudah beragam ulasan dan tulisan yang lebih lanjut bisa saya tuliskan sebagai: serba mbeling, ora melu-melu aturan, sederhana, terbuka, ringan dan enak dibaca.

Membaca isi blog dari mas Agus Mulyadi mengingatkan saya akan masalah-masalah keseharian hidup yang bisa saja dihadapi tiap orang. Diulas dengan tutur kata yang sopan dan ringan tapi tetap membuat sekaligus mengajak pembaca untuk lebih menyelami makna hidup yang sederhana. Mulai dari soal masuk angin, ribut-ribut tentang e-ktp, jalan-jalan plesiran batik, soal menu bubur sayur, sampai ngomongin politik mengapa jokowi?

Memang seharusnya demikian. Toh kita hidup dalam aktifitas yang umumnya biasa-biasa saja. Ndeso walaupun mungkin banyak juga yang hidup di kota. Tapi ndeso di sini maksud saya adalah keterbukaan, keramahan, keingin-tahuan yang sederhana, dan mau terus belajar (dan menulis tentunya bagi mas Agus Mulyadi). Ndeso juga berarti tidak menutup-nutupi. Jadi, ndeso sah-sah aja. Tidak akan ada yang marah saya rasa.

Nah, cukup sampai di sini saja review singkat saya. Kurang seru rasanya kalau saya tuliskan dan buka semua seperti apa blog mas Agus Mulyadi dan isinya. Jadi apakah betul mas Agus Muljadi itu cah ndeso tapi..? Monggo silahkan berkunjung ke blog http://www.agusmulyadi.web.id dan coba rasakan sendiri seperti apa 'tapi' yang saya maksudkan. Saya yakin makin dibaca akan makin 'ngangeni' dan bikin ketagihan.

Akhir kata, selamat dan sukses untuk mas Agus Mulyadi atas terbitnya buku pertama Jomblo Tapi Hafal Pancasila. Harapan saya tentunya ini bukan kali terakhir sampeyan memproduksi buku. Terus berkarya dan menulis. Saya percaya ilmu adalah amanah, dan berbagi menambah berkah. Salam.


Buku Jomblo Tapi Hafal Pancasila kiriman dari @NotedCupu. Sumber: http://www.agusmulyadi.web.id/2014/07/buku-jomblo-tapi-hafal-pancasila.html

Buku Jomblo Tapi Hafal Pancasila. Sumber: http://www.agusmulyadi.web.id/2014/07/buku-jomblo-tapi-hafal-pancasila.html

Tuesday, July 22, 2014

Catatan Amril


“Ketika asa menolak raga. Ketika perih memaku sedih. Tanpa kata. Tanpa derita.”  Amril memandangi lekat-lekat baris-baris kaku hasil goresan tinta hitam di buku agenda kuningnya sore itu. Sayup-sayup terdengar berita  terpilihnya Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Periode 2014-2019 lewat ruangan lain di rumah kost tua itu. Keinginannya untuk lebih dekat dengan sang calon istri memberinya keberanian untuk memilih berwiraswasta dan tinggal di kota kecil di Jawa Tengah ini beberapa waktu silam.

Amril memang bukan lulusan universitas elit ternama di Indonesia. Penghidupannya yang dulu di kota metropolitan termasuk tipikal pekerja biasa yang walau bolehlah beroleh bangga bisa bekerja di kantoran selalu penuh dengan kesibukan bekerja dan terus bekerja. Hidupnya pun tergolong biasa-biasa aja. Kenyataan bahwa hampir seluruh perhatian dan pendapatan ia curahkan kepada keluarganya, bapak ibu dan adiknya di kampung, tidak serta merta membuatnya berkecil hati saat ia terpaksa harus meninggalkan perusahaan yang sudah tiga tahun lebih memberi kesempatan padanya untuk belajar selama beberapa kali di Negeri Paman Sam Amerika Serikat. Amril di-PHK tanpa tahu kenapa.

Laptop hitam yang beberapa bagiannya memang sudah tidak begitu mulus lagi merupakan sahabat baiknya sejak ia berpindah pekerjaan. Tinggal dua hari sebelum batas pengumpulan lomba menulis cerpen hari jadi kota Wonosobo. Amril berusaha keras mengetikan sesuatu ke dalam baris-baris kosong di layar. Apalagi saat ini tengah memasuki libur bulan Ramadhan. Dahinya berkerut-kerut seolah berpikir keras. Agaknya memang sulit berpikir dengan perut kosong. Yah memang  sejak berapa minggu setelah selesainya UN dan UKK bagi murid-murid bimbingan belajar tempat di mana Amril bekerja terpaksa ia harus kehilangan sumber pendapatan pasti dari beberapa orang tua murid. Tapi hidupkan harus terus berjalan, Allah pasti memperhatikan dan senantiasa memberikan jalan bagi umat-Nya yang berusaha dan bekerja keras, demikian Amril seringkali berkata.

Sambil termangu Amril mengingat akan keberadaan beberapa sahabatnya dari kota Wonosobo yang ia kenal bahkan setelah bertahun-tahun tidak menjalin silahturahmi. Teknologi digital dan informasi dunia maya kini memang sungguh luar biasa. Dulu, saat Amril masih menuntut ilmu di bangku kuliah ia berkenalan dengan beberapa orang dari bidang studi berlainan yang boleh jadi saat ini turut memberi warna dalam hidupnya. Mereka adalah mas Karno, mahasiswa jurusan Teknik Elektro, penyabar, penyuka diskusi-diskusi keagamaan dan lintas keyakinan, berperangai baik dan sopan. Yang lainnya adalah Tri, mahasiswa jurusan Biologi, kritis, santun dan amat suka traveling.

Dari mas Karno, yang saat ini telah menikah dan mengajar sebagai seorang guru SMP di Madiun, Amril belajar beberapa hal yang tetap ia pegang teguh sebagai prinsip-prinsip hidupnya saat ini. Mas Karno memang bukan tipe mahasiwa kaya raya. Namun keterbukaan, pribadi yang supel dan pemikiran-pemikiran khas anak teknik-nya membuat Amril cukup nyaman berdiskusi dan bertukar pikiran. Beberapa kali Amril terpaksa harus meminjam uang pada mas Karno saat kiriman bulanan anak kost datang terlambat-tentunya tetap akan selalu dilunasi. Dari mas Karno inilah Amril mengenak sosok kebapakan, kakak dan contoh mahasiswa senior yang memberi diri dan hidupnya pada lingkungan. Pacaran itu tidak usah yang aneh-aneh, jangan melakukan seperti apa yang umum saat ini, kalau kamu memang serius mau menjalani hidup dengan pasanganmu. Itu kata-kata yang Amril masih ingat.

Tri yang kebetulan adalah teman dan adik kelas berbeda jurusan dan juga rekan berbagi suka-duka di kelompok tumbuh bersama (KTB) dari persekutuan mahasiswa Kristen MIPA di kampus, saat ini bekerja sebagai seorang pegawai swasta di kota Yogyakarta, menunjukan bakat dan potensi yang luar biasa saat menjadi mahasiswa. Kepribadian yang baik dan didukung oleh nilai-nilai akademisinya yang tinggi membuat Tri berkesempatan berkuliah juga di negeri Kincir Angin Belanda.

Perjumpaan Amril dengan mas Karno dan Tri mungkin saja bukan kebetulan, sebab setelah bertahun-tahun tidak bertemu dan kehilangan kontak, akhirnya dunia maya jugalah yang memang mempertemukan mereka bertiga. Mungkin mas Karno tidak mengenal Tri demikian pula sebaliknya. Namun Amril selalu bersyukur dapat berjumpa dengan pribadi-pribadi tangguh, pekerja keras, dan luar biasa dari kota Wonosobo dalam hidupnya. Karakter dan kepribadian memang bukan hal yang bisa tumbuh dalam semalam.

Amril tersenyum-senyum sendiri saat mengenang masa lalu dan mengingat masa kini dengan mereka. Beberapa hari yang lalu Amril juga turut membaca  tulisan seseorang tentang perayaan Festival Budaya Dieng berjudul Simponi Negeri Di Atas Awan. Wah senang sekali dia bisa membaca dan menikmati foto-foto yang ada. Amril tahu mungkin dengan kondisi dan tema yang panitia syaratkan dalam lomba saat ini yakni menulis cerpen hari jadi Kabupaten Wonosobo mungkin boleh jadi akan tidak betul-betul sesuai harapannya. Apalagi ini adalah kali pertama Amril membuat tulisan untuk cerpen, biasanya dia hanya menulis untuk essay atau artikel saja.

Siang tadi Amril agak resah saat membaca karya salah seorang peserta lomba yang entah bagaimana awalnya akhirnya bisa Amril lihat di internet. Amril tahu kemampuan menulis dan imajinasi untuk membuat sebuah cerpen belum semumpuni sang penulis cerpen tersebut. Namun demikian agaknya Amril merasa bahwa kejujuran dan penerimaan diri sendiri wajib ia hadirkan dalam tulisan yang sedang ia buat sore itu. Amril tidak mau terpaku dengan bumbu romantisme dan popularitas belaka yang dibuat hanya untuk seolah-olah sesuai dengan tema yang diminta.

Ah tiba-tiba saja Amril menyadari hal kecil yang sebelumnya tidak ia pikirkan: mengapa lebih banyak orang yang berbicara tentang Malaysia, tentang Singapore, tentang Thailand dan negara-negara Asia ataupun Eropa lainnya? Mengapa orang tidak banyak berbicara tentang Indonesia? Tentang Wonosobo? Tentang kota kecil yang damai, tenang dan mungkin sunyi namun menyimpan pesona dan misteri di balik dinginnya udara, kabut, jalan-jalan yang nan berliku, dan keindahan hasil alam dalam persawahan, pertanian dan hutan di sana? Matanya berbinar-binar saat menatapi gambar-gambar berwarna di Google tentang kekayaan budaya, kuliner dan berbagai antraksi yang dimiliki oleh Kabupaten Wonosobo.

Entah kenapa para wisatawan seolah-olah lebih memilih mengunjungi kota dan objek-objek wisata yang terkenal di luar negeri sana. Padahal di Kabupaten Wonosobo sendiri amat banyak memiliki potensi-potensi sebagai kota investasi, wisata, adipura dan bunga yang belum terjamah dan terpublikasikan dengan baik. Amril berpikir padahal alangkah baik dan bijaknya jika kita mulai mengangkat potensi daerah Indonesia khsusnya Kabupaten Wonosobo. Sekali lagi Amril mengingat kebaikan dan budi sehabat-sahabatnya dari sana.

Iseng-iseng sembari menunggu waktu berbuka puasa, Amril mengetikan beberapa kata kunci ke dalam layar laptop hitam tua miliknya. Tentang kota investasi. Memang sih karena Amril sarjana lulusan ilmu pasti maka belum banyak yang ia ketahui selain daripada beberapa nama perusahaan asuransi yang dulu sempat ia ikut sebagai anggota saat ia masih bekerja di Jakarta. Arti asuransi yang Amril kenal saat itu hanya terbatas pada buku pegangan anggota dan kunjungan agen asuransinya beberapa kali di awal kesempatan saat Amril menjadi anggota baru.

Dan Amril terhenyak saat membaca salah satu berita di situs suramerdeka, bahwa ternyata Kabupaten Wonosobo pernah terpilih sebagai daerah yang memiliki upaya peningkatan investasi tertinggi dan mendapatkan penghargaan daerah investasi terbaik dari Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Propinsi Jawa Tengah di tahun 2012 yang lalu. Itu artinya Kabupaten Wonosobo memiliki potensi bagus untuk sektor ekonomi dan investasi gumam Amril. Untuk wisata banyak alternatif sumber yang Amril dapatkan kala menyusuri barisan-barisan informasi di beberapa situs resmi pemerintah dan blog-blog pribadi, berita tentang Dieng Culture Festival adalah salah satu topik favorit yang Amril baca.

Bagaimana dengan julukan kota adipura pikir Amril, ternyata Kabupaten Wonosobo telah menerima penghargaan adipura berturut-turut sebanyak paling tidak tujuh kali sampai pada tahun 2013 yang lalu. Luar biasa! Namun ada satu cuplikan berita yang agak mengganggu Amril, ia menemukan keluhan bertanggal 21 Desember 2011 di situs Facebook Wonosobo zone yang menyatakan di balik kota adipura, Wonosobo sebagai penyandang juara bertahan kota adipura penuh ironis. Bagaimana tidak, di saat plaza diperindah, jalan dan gorong-gorong/drainase di kota terus diperbaiki, taman kota ditambah, pembangunan gedung-gedung baru pemerintah yang megah, dll, malah sebaliknya banyak daerah pedesaan luput dari pantauan Pemda, dari jalan yang rusak parah sehingga kalau turun hujan lebih pantas dikatakan sebagai Kali Asat. Hal ini berimbas jalan sulit untuk dilalui kendaraan, bahkan tidak sedikit kendaraan jadi rusak akibat melewati jalan rusak tersebut. Sebenarnya jalan pedesaan ada yang diaspal, namun karena menggunakan bahan/aspal yang berkualitas rendah mengakibatkan jalan tersebut hanya bisa bertahan kurang lebih berumur 5 tahun. Amril terdiam sesaat. Ah mungkin ini adalah berita dulu. Semoga saja saat ini sudah lebih banyak perbaikan dan peningkatan kualitas fasilitas baik di kota maupun di desa, begitu pikirnya.

Bagaimana dengan gelar kota bunga? Amril menyimak bahwa sejak sebelum tahun 2009 pun ternyata kota Wonosobo terus menggiatkan diri mempercantik dan mengatur tata kota dan area pertanamannya. Termasuk di dalamnya adalah bunga yang ada di jalan-jalan maupun menggiatkan para pengusaha yang bergerak dalam bidang rangkai/jual beli bunga. Iseng meng-klik salah satu tautan tentang Mewujudkan Kota Bunga Wonosobo dari situs msuaramerdeka.com tertanggal 14 Mei 2009 yang lalu, dikatakan bahwa kota Wonosobo memang rupanya tersihir dengan pesona keindahan dan keasrian tanaman bunga. Karena itu, tidak heran jika Bupati Drs H A Kholiq Ani M.Si berkali-kali terobsesi mengubah daerah yang dipimpinnya itu menjadi kota bunga.  Amril sependapat dengan cita-cita mewujudkan Wonosobo menjadi Kota Kembang memang bukanlah tanpa alasan. Iklim yang sejuk dan ditambah dengan tanah subur yang dimiliki kota pegunungan ini memang menjadi modal yang sangat berharga bagi budi daya tanaman hias di sana. Rupanya saat ini, hampir di tiap sudut kota telah disesaki beragam tanaman bunga dalam pot. Taman plaza, alun-alun, kompleks Pasar Induk, taman-taman kota di jalan protokol, nyaris tak sejengkal tanah pun tersisa tanpa tanaman bunga. Kebetulan Amril memiliki seorang Paman dan Bibi di kota Jakarta yang hobinya bekebun dan merawat bunga. Kalau diperhatikan kehidupan mereka memang jauh lebih hidup dan berwarna. Mereka jadi lebih menghargai alam dan lingkungan juga demikian kesimpulan Amril.

Bunyi raungan sirene pukul 17.39 WIB yang menandakan waktu berbuka puasa bagi kota Yogyakarta dan sekitarnya sore itu pada akhirnyalah yang menyadarkan lamunan dan menyudahi impian Amril tentang kota Wonosobo. Pada akhirnya kita sendirilah yang harus memilih langkah kehidupan kita. Amril menyadari bahwa sudah bukan saatnya lagi bermimpi tentang bepergian ke luar negeri. Inilah saatnya mengunjungi tanah negeri sendiri. Ilmu adalah amanah, berbagi menambah berkah demikian prinsip Amril.

***

Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi. Pelestarian nilai budaya adalah tanggung jawab kita bersama. Silahkan klik gambar di bawah ini untuk melihat dan mendownload rangkaian acara Hari Jadi Wonosobo ke-189.

Banner Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-189. Sumber: http://www.wonosobokab.go.id/
“Selamat ulang tahun yang ke-189 untuk Kabupaten Wonosobo, semoga semakin asri, maju, berkembang, sehat dan sejahtera.”

Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen #HariJadiWonosobo189.

Banner Lomba Cerpen Hari Jadi Wonoso 189. Sumber: http://komunitas-sastra-bimalukar.blogspot.com/   

Friday, July 18, 2014

Refleksi Perjalanan Mengubah Hidup

Sesaat setelah melakukan pencoblosan 9 Juli 2014.

#SoloTraveling. Hidup ini selalu penuh dengan pilihan begitu pun perjalanan hidup kita. Apa yang ada dalam pikiran sahabat begitu mendengar dan membaca akan kata perjalanan sendirian? Banyak kisah-kisah berhikmah baik fiksi dan non fiksi yang menceritakan perjalanan seorang diri mengembara dan melintasi benua guna mencari sesuatu yang diyakininya. Bilbo Baggins dalam The Hobbit: An Unexpected Journey  dan Nabi Musa As dalam perjalanan menerima wahyu, pengembaraan jiwa. Keduanya jelas sangat berbeda. Namun keduanya berbagi kesamaan, memulai langkah pengembaraan dengan ketidakyakinan, ketakutan.

Kisah #SoloTraveling saya dimulai pada malam Jumat, 31 Januari 2014 yang lalu. Berbekal secarik tiket kereta api Taksaka Malam dari kota Jakarta menuju kota Yogyakarta. Berangkat pada pukul 21:00 WIB dan dijadwalkan sampai di stasiun tujuan pukul 04:22 WIB. Tidak ada yang spesial dalam perjalanan awal saya selain beberapa tas besar-karena saya pindah kota mengadu nasib di kota orang, dan beberapa ketidakyakinan dan ketakutan saya yang sama-sama besar. Bagaimana mungkin melepas pekerjaan di Jakarta dan berangkat ke kota lain tanpa kepastian mau bekerja apa?
Tanpa saya duga, rekan seperjalanan saya ternyata adalah juga seorang Indonesia, mahasiswa pasca-sarjana agama Islam di salah salah satu universitas di Kairo, Mesir. Kami terlibat bercakap-cakap seru dalam perjalanan selama hampir tujuh jam melintasi kota-kota. Perbedaan keyakinan tidak membuat diskusi kami hampa. Justru berulangkali kami saling memberikan masukan dan dukungan. “Apa yang akan anda perbuat setelah sampai di kampung nanti?” tanya saya kepadanya. “Saya akan mengajar di sekolah pelajaran agama Islam.” jawab rekan saya ini dengan yakinnya. “Tapi bukankah mengajar, apalagi agama hampir tidak ada yang memandang?” saya balik bertanya padanya. “Tidak ada yang jauh lebih penting daripada agama dan keluarga,” demikian katanya singkat. Ucapan terakhirnya yang saya ingat adalah “Mas, orang-orang seperti kita ini adalah seperti memegang bara api,” saat ia turun di sebuah stasiun kecil sebelum Yogyakarta. Kata-kata rekan saya tersebut seolah terus menggema dalam hati saya kala menyambut datangnya pagi saat kereta mulai memasuki kota Yogyakarta.

Perjumpaan kecil dan perbincangan singkat dalam perjalanan Jakarta-Yogyakarta tersebut masih membekas dalam ingatan saya saat ini. Sayang saya tidak sempat bertukar no HP atau sosmed semacamnya dengan beliau malam menjelang pagi itu. Apa yang berubah dari saya setelah percakapan itu? Bisa dikatakan tidak ada. Sekian tahun bekerja di kota metropolitan Jakarta sejujurnya menumpulkan ide dan kemerdekaan pikiran saya. Ketidakyakinan dan ketakutan hidup masih ada pagi hari saat saya menapakan kaki keluar dari gerbong kereta.
Dua bulan kemudian saya memutuskan memulai sesuatu yang berbeda. Saya berwiraswasta. Saat ini saya mengajar dan mengelola sebuah lembaga bimbingan belajar berbasis kemasyarakatan di Yogyakarta. Prinsip saya ilmu adalah amanah. Berbagi menambah berkah. Seseorang pernah berkata, jika kau tidak tahu sesuatu, kau hanya perlu pergi dan melihatnya dengan mata kepalamu sendiri. Jadi tunggu apa lagi sahabat? Segeralah tentukan tujuanmu dan mulailah melakukan #SoloTraveling perjalanan-petualanganmu sendiri J.



-----
Disusun dan dibuat dalam rangka Lomba #SoloTraveling
Redaksi Padmagz.com
 
 

 

 
 

Monday, July 14, 2014

Simponi Negeri Di Atas Awan


Festival Budaya Dieng. Sumber: http://indonesia.travel/id/

Dewasa ini laju perkembangan pariwisata di indonesia semakin berkembang seiring dengan meningkatnya perekonomian dunia. Indonesia yang kaya akan wisata alam dan budaya, dewasa ini pemerintah makin gencar mengembangkan sumber daya pariwisata yang akan direncanakan sebagai sumber devisa oleh karena itu pemerintah menyadari pentingnya pariwisata sebagai sektor yang dapat memperbaiki taraf hidup masyarakat indonesia secara umum dan secara khusus akan meningkatkan taraf hidup masyarakat regional, dengan kata lain meningkatkan pendapatan masyarakat yang bertempat tinggal di lingkungan sekitar tempat wisata.

Jika di Brazil terkenal dengan festival goyang samba di Rio De Janiero, maka di Dataran Tinggi Dieng juga memiliki Festival Budaya Dieng (Dieng Culture Festival) yang tak kalah menariknya.  Apa sih Dieng Culture Festival itu? Sebagaimana namanya Dieng Culture Festival merupakan festival budaya dengan konsep sinergi antara unsur budaya masyarakat, potensi alam Dieng serta pemberdayaan masyarakat lokal sebagai misi dasar pembentukan acara tersebut. Acara ini digagas oleh kelompok sadar wisata dengan melibatkan berbagai elemen masyarkat dan organisasi/dinas terkait kepariwisataan Dieng.

Salah satu acara di Festival Budaya Dieng. Sumber: http://www.wisatadieng.com/

Dieng Culture Festival (Festival Budaya Dieng) pertama kali diselenggarakan pada tahun 2010. Sebelumnya pernah diadakan acara serupa yang lebih dikenal dengan sebutan “Pekan Budaya Dieng”. Baru ketika memasuki tahun ketiga, masyarakat lokal Dieng dan kelompok sadar wisata berinisiatif untuk mengubah nama even tersebut menjadi Dieng Culture Festival.

Pemandangan seorang anak yang rambutnya dicukur mungkin hanyalah pemandangan biasa saja jika Anda melihatnya di kota besar. Namun akan lain ceritanya jika Anda berkesempatan berwisata ke Dieng Plateu (Dataran Tinggi Dieng). Setiap tahunnya pada Festival Budaya Dieng (Dieng Culture Festival) ritual potong rambut gimbal menjadi acara yang sangat ditunggu-tunggu oleh para wisatawan. Namun tentu saja bukan hanya ritual potong rambut gimbal ini saja yang menyedot perhatian para wisatawan. Keindahan panaroma alamnya menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan.


Dataran Tinggi Dieng. Sumber: http://getready123.files.wordpress.com


Perjalanan ke Dieng. Sumber: http://rizalbustami.blogspot.com/

Terletak di Jawa Tengah, Dataran Tinggi Dieng berada di antara dua wilayah kabupaten. Dieng Kulon masuk wilayah Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, sedangkan Dieng Wetan masuk wilayah Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Dataran Tiggi Dieng berada pada ketinggian rata-rata 3000 meter dpl. Suhu udaranya berkisar antara 8-22 derajat Celcius. Pada musim kemarau, suhu di pagi hari dapat turun drastis hingga nol derajat Celcius. Turunnya suhu yang ekstrim ini kerap menyebabkan terbentuknya bun apas atau embun beku. Kata Dieng sendiri berasal dari kata 'Di' dan 'Hyang'. Di artinya baik, bagus, atau sifat-sifat yang berhubungan dengan ketinggian. Sedangkan Hyang artinya Dewa. Maka Dieng dapat diartikan sebagai daerah pegunungan tempat para dewa bersemayam.

Dieng memang lebih terkenal akan wisata alamnya yang mempesona, seperi Candi Dieng, Telaga Warna, Kawah Canderadimuka. Namun tak hanya terkenal akan keindahan wisata alamnya saja, keunikan budaya menjadi daya tarik tersendiri yang tak kalah menarik di kawasan bersuhu dingin tersebut. Selama tiga tahun terakhir Dieng Culture Festival menjadi magnet baru wisata di Jawa Tengah. DCF atau Dieng Culture Festival adalah pesta rakyat terbesar di pegunungan Dieng, yang diselenggarakan setiap tahun hanya sekali. Menampilkan ruwatan cukur rambut gembel yang merupakan ikonik Kabupaten Wonosobo yang telah lama melagenda, atraksi seni budaya, wayang kulit dan menampilkan pameran kerajinan dan makanan khas dari daerah sekitar pegunungan Dieng.


Dieng Culture Festival 5 2014. Sumber: http://diengbackpacker.com/


Rangkaian kegiatan menyambut HUT Wonosobo ke-189. Sumber: http://diengculturefestival.com/

Ada apa di Dieng Culture Festival? Yang paling menarik dan menjadi perhatian utama para wisatawan dan penduduk lokal adalah acara ruwatan atau pemotongan rambut bocal gimbal Dieng. Ruwatan merupakan prosesi penyucian yang sudah sangat lekat dengan kebudayaan dan adat di Jawa. Ruwatan bocah berambut gimbal kurang lebih memiliki maksud yang sama, yakni suatu upacara atau ritual yang bertujuan untuk mengusir nasib buruk atau kesialan baik pada si bocah gimbal maupun masyarakat Dieng pada umumnya.

Bocah berambut gimbal sendiri merupakan fenomena unik yang sudah ada di Dieng sedari dahulu kala dan dipercaya oleh masyarakat di sekitar pegunungan Dieng, dimana anak-anak tertentu yang berusia antara 40 hari hingga 6 tahun tumbuh rambut gimbal di kepalanya secara alami. Masyarakat Dataran Tinggi Dieng percaya bahwa anak-anak berambut gimbal tersebut adalah titipan dari Kyai Kolo Dete. Kyai Kolo Dete merupakan salah seorang pejabat/punggawa di masa Mataram Islam (pada masa abad ke empat belas) yang ditugaskan utnuk mepersiapkan pemerintahan di wilayah Dataran Tinggi Dieng. Kyai Kolo Dete dan istrinya (Nini Roro Ronce) saat tiba di Dataran Tinggi Dieng, mendapat wahyu dari Ratu Pantai Selatan. Pasangan ini ditugaskan membawa masyarakat Dieng menuju kesejahteraan. Tolak ukur sejahteranya masyarakat Dieng akan ditandai dengan keberadaan anak-anak berambut gimbal. Sejak itulah dipercaya munculnya anak-anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng.

Bagi masyarakat Dataran Tinggi Dieng, jumlah anak berambut gimbal berkorelasi dengan kesejahteraan masyarakat. Semakin banyak jumlah anak berambut gimbal, masyarakat Dieng yakin kesejahteraan meraka akan semakin baik. Begitu pula sebaliknya. Dalam kehidupan sehari-hari seorang anak gimbal tidak berbeda dengan anak-anak lainnya. Hanya saja mereka biasanya cenderung lebih aktif dibanding anak-anak lain.


Anak berambut gimbal di Dieng Culture Festival 2013. Sumber: http://www.indonesia.travel/

Anak-anak berambut gimbal di Dieng Culture Festival 2013. Sumber: http://4.bp.blogspot.com/


Iring-iringan anak berambut gimbal. Sumber: https://thepowerofpublicrelation.files.wordpress.com/
Upacara pemotongan rambut anak gimbal. Sumber: http://info-pinter.blogspot.com/



Kelompok kesenian tari kuda kepang. Sumber: http://infodiengculturefestival.wordpress.com/ 

Pertunjukan Wayang Kulit Dieng. Sumber: http://info-pinter.blogspot.com/


Arak-arakan Gunongan sebagai simbol syukur kepada alam. Sumber: http://www.indonesia.travel/
Antusiasme menyaksikan penampilan tari topeng. Sumber: http://poketrip.com/ 
  
Setelah menyimak dan melihat postingan foto-foto artikel tadi, siap untuk berwisata alam, kuliner, seni dan kebudayaan sekaligus? Di Dataran Tinggi Dieng Anda bisa mendapatkan semuanya. Dimulai dari menikmati golden sunrise di Bukit Sikunir. Lalu menikmati keindahan alam di Telaga Warna, Telaga Pengilon, Candi-candi Kuno dan kawah Sikidang. Kemudian menyaksikan festival budaya terbesar di Dieng (Dieng Culture Festival). Lidah Anda akan dimanjakan dengan menikmati Mie Ongklok, Carica dan Kopi Purwaceng khas dari daerah Wonosobo. Lengkap sudah jadwal liburan Anda.

Tradisi dan budaya merupakan warisan yang tak ternilai harganya, oleh karena itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban Bangsa Indonesia untuk melestarikan keberadaannya sehingga tidak punah begitu saja. Ritual cukur rambut gembel dan Dieng Culture Festival adalah ikonik Kabupaten Wonosobo yang sudah menjadi tradisi turun temurun warga Kabupaten Wonosobo. Bukan tanpa alasan disebut sebagai negeri eksotik di atas awan yang penuh nilai budaya. Selain untuk beristirahat sejenak dari kehidupan kota besar yang dipenuhi kemacetan dan tuntutan waktu, kita pun dapat mempelajari dan menikmati kekayaan budaya bangsa kita. Yuk kita jelajahi kekayaan alam dan budaya Wonosobo Indonesia!

Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi. Pelestarian nilai budaya adalah tanggung jawab kita bersama. Silahkan klik gambar di bawah ini untuk melihat dan mendownload rangkaian acara Hari Jadi Wonosobo ke-189.

http://www.wonosobokab.go.id/images/data/HARI%20JADI%20WONOSOBO%20KE%20189.pdf
Banner Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-189. Sumber: http://www.wonosobokab.go.id/

"Selamat ulang tahun yang ke-189 untuk Kabupaten Wonosobo,
semoga semakin maju, sejahtera, dan berkembang."

Postingan artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway #HariJadiWonosobo189.

http://golokalmagz.wordpress.com/2014/07/01/giveaway-menulis-artikel-blog-harijadiwonosobo189/
Banner Giveaway Hari Jadi Wonosobo 189. Sumber: http://golokalmagz.wordpress.com/


Hadiah Carica dan Sobo Bros untuk Pemenang Surprise 1.

E-Sertifikat untuk Pemenang Surprise 1.