tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Tuesday, July 22, 2014

Catatan Amril


“Ketika asa menolak raga. Ketika perih memaku sedih. Tanpa kata. Tanpa derita.”  Amril memandangi lekat-lekat baris-baris kaku hasil goresan tinta hitam di buku agenda kuningnya sore itu. Sayup-sayup terdengar berita  terpilihnya Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Periode 2014-2019 lewat ruangan lain di rumah kost tua itu. Keinginannya untuk lebih dekat dengan sang calon istri memberinya keberanian untuk memilih berwiraswasta dan tinggal di kota kecil di Jawa Tengah ini beberapa waktu silam.

Amril memang bukan lulusan universitas elit ternama di Indonesia. Penghidupannya yang dulu di kota metropolitan termasuk tipikal pekerja biasa yang walau bolehlah beroleh bangga bisa bekerja di kantoran selalu penuh dengan kesibukan bekerja dan terus bekerja. Hidupnya pun tergolong biasa-biasa aja. Kenyataan bahwa hampir seluruh perhatian dan pendapatan ia curahkan kepada keluarganya, bapak ibu dan adiknya di kampung, tidak serta merta membuatnya berkecil hati saat ia terpaksa harus meninggalkan perusahaan yang sudah tiga tahun lebih memberi kesempatan padanya untuk belajar selama beberapa kali di Negeri Paman Sam Amerika Serikat. Amril di-PHK tanpa tahu kenapa.

Laptop hitam yang beberapa bagiannya memang sudah tidak begitu mulus lagi merupakan sahabat baiknya sejak ia berpindah pekerjaan. Tinggal dua hari sebelum batas pengumpulan lomba menulis cerpen hari jadi kota Wonosobo. Amril berusaha keras mengetikan sesuatu ke dalam baris-baris kosong di layar. Apalagi saat ini tengah memasuki libur bulan Ramadhan. Dahinya berkerut-kerut seolah berpikir keras. Agaknya memang sulit berpikir dengan perut kosong. Yah memang  sejak berapa minggu setelah selesainya UN dan UKK bagi murid-murid bimbingan belajar tempat di mana Amril bekerja terpaksa ia harus kehilangan sumber pendapatan pasti dari beberapa orang tua murid. Tapi hidupkan harus terus berjalan, Allah pasti memperhatikan dan senantiasa memberikan jalan bagi umat-Nya yang berusaha dan bekerja keras, demikian Amril seringkali berkata.

Sambil termangu Amril mengingat akan keberadaan beberapa sahabatnya dari kota Wonosobo yang ia kenal bahkan setelah bertahun-tahun tidak menjalin silahturahmi. Teknologi digital dan informasi dunia maya kini memang sungguh luar biasa. Dulu, saat Amril masih menuntut ilmu di bangku kuliah ia berkenalan dengan beberapa orang dari bidang studi berlainan yang boleh jadi saat ini turut memberi warna dalam hidupnya. Mereka adalah mas Karno, mahasiswa jurusan Teknik Elektro, penyabar, penyuka diskusi-diskusi keagamaan dan lintas keyakinan, berperangai baik dan sopan. Yang lainnya adalah Tri, mahasiswa jurusan Biologi, kritis, santun dan amat suka traveling.

Dari mas Karno, yang saat ini telah menikah dan mengajar sebagai seorang guru SMP di Madiun, Amril belajar beberapa hal yang tetap ia pegang teguh sebagai prinsip-prinsip hidupnya saat ini. Mas Karno memang bukan tipe mahasiwa kaya raya. Namun keterbukaan, pribadi yang supel dan pemikiran-pemikiran khas anak teknik-nya membuat Amril cukup nyaman berdiskusi dan bertukar pikiran. Beberapa kali Amril terpaksa harus meminjam uang pada mas Karno saat kiriman bulanan anak kost datang terlambat-tentunya tetap akan selalu dilunasi. Dari mas Karno inilah Amril mengenak sosok kebapakan, kakak dan contoh mahasiswa senior yang memberi diri dan hidupnya pada lingkungan. Pacaran itu tidak usah yang aneh-aneh, jangan melakukan seperti apa yang umum saat ini, kalau kamu memang serius mau menjalani hidup dengan pasanganmu. Itu kata-kata yang Amril masih ingat.

Tri yang kebetulan adalah teman dan adik kelas berbeda jurusan dan juga rekan berbagi suka-duka di kelompok tumbuh bersama (KTB) dari persekutuan mahasiswa Kristen MIPA di kampus, saat ini bekerja sebagai seorang pegawai swasta di kota Yogyakarta, menunjukan bakat dan potensi yang luar biasa saat menjadi mahasiswa. Kepribadian yang baik dan didukung oleh nilai-nilai akademisinya yang tinggi membuat Tri berkesempatan berkuliah juga di negeri Kincir Angin Belanda.

Perjumpaan Amril dengan mas Karno dan Tri mungkin saja bukan kebetulan, sebab setelah bertahun-tahun tidak bertemu dan kehilangan kontak, akhirnya dunia maya jugalah yang memang mempertemukan mereka bertiga. Mungkin mas Karno tidak mengenal Tri demikian pula sebaliknya. Namun Amril selalu bersyukur dapat berjumpa dengan pribadi-pribadi tangguh, pekerja keras, dan luar biasa dari kota Wonosobo dalam hidupnya. Karakter dan kepribadian memang bukan hal yang bisa tumbuh dalam semalam.

Amril tersenyum-senyum sendiri saat mengenang masa lalu dan mengingat masa kini dengan mereka. Beberapa hari yang lalu Amril juga turut membaca  tulisan seseorang tentang perayaan Festival Budaya Dieng berjudul Simponi Negeri Di Atas Awan. Wah senang sekali dia bisa membaca dan menikmati foto-foto yang ada. Amril tahu mungkin dengan kondisi dan tema yang panitia syaratkan dalam lomba saat ini yakni menulis cerpen hari jadi Kabupaten Wonosobo mungkin boleh jadi akan tidak betul-betul sesuai harapannya. Apalagi ini adalah kali pertama Amril membuat tulisan untuk cerpen, biasanya dia hanya menulis untuk essay atau artikel saja.

Siang tadi Amril agak resah saat membaca karya salah seorang peserta lomba yang entah bagaimana awalnya akhirnya bisa Amril lihat di internet. Amril tahu kemampuan menulis dan imajinasi untuk membuat sebuah cerpen belum semumpuni sang penulis cerpen tersebut. Namun demikian agaknya Amril merasa bahwa kejujuran dan penerimaan diri sendiri wajib ia hadirkan dalam tulisan yang sedang ia buat sore itu. Amril tidak mau terpaku dengan bumbu romantisme dan popularitas belaka yang dibuat hanya untuk seolah-olah sesuai dengan tema yang diminta.

Ah tiba-tiba saja Amril menyadari hal kecil yang sebelumnya tidak ia pikirkan: mengapa lebih banyak orang yang berbicara tentang Malaysia, tentang Singapore, tentang Thailand dan negara-negara Asia ataupun Eropa lainnya? Mengapa orang tidak banyak berbicara tentang Indonesia? Tentang Wonosobo? Tentang kota kecil yang damai, tenang dan mungkin sunyi namun menyimpan pesona dan misteri di balik dinginnya udara, kabut, jalan-jalan yang nan berliku, dan keindahan hasil alam dalam persawahan, pertanian dan hutan di sana? Matanya berbinar-binar saat menatapi gambar-gambar berwarna di Google tentang kekayaan budaya, kuliner dan berbagai antraksi yang dimiliki oleh Kabupaten Wonosobo.

Entah kenapa para wisatawan seolah-olah lebih memilih mengunjungi kota dan objek-objek wisata yang terkenal di luar negeri sana. Padahal di Kabupaten Wonosobo sendiri amat banyak memiliki potensi-potensi sebagai kota investasi, wisata, adipura dan bunga yang belum terjamah dan terpublikasikan dengan baik. Amril berpikir padahal alangkah baik dan bijaknya jika kita mulai mengangkat potensi daerah Indonesia khsusnya Kabupaten Wonosobo. Sekali lagi Amril mengingat kebaikan dan budi sehabat-sahabatnya dari sana.

Iseng-iseng sembari menunggu waktu berbuka puasa, Amril mengetikan beberapa kata kunci ke dalam layar laptop hitam tua miliknya. Tentang kota investasi. Memang sih karena Amril sarjana lulusan ilmu pasti maka belum banyak yang ia ketahui selain daripada beberapa nama perusahaan asuransi yang dulu sempat ia ikut sebagai anggota saat ia masih bekerja di Jakarta. Arti asuransi yang Amril kenal saat itu hanya terbatas pada buku pegangan anggota dan kunjungan agen asuransinya beberapa kali di awal kesempatan saat Amril menjadi anggota baru.

Dan Amril terhenyak saat membaca salah satu berita di situs suramerdeka, bahwa ternyata Kabupaten Wonosobo pernah terpilih sebagai daerah yang memiliki upaya peningkatan investasi tertinggi dan mendapatkan penghargaan daerah investasi terbaik dari Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Propinsi Jawa Tengah di tahun 2012 yang lalu. Itu artinya Kabupaten Wonosobo memiliki potensi bagus untuk sektor ekonomi dan investasi gumam Amril. Untuk wisata banyak alternatif sumber yang Amril dapatkan kala menyusuri barisan-barisan informasi di beberapa situs resmi pemerintah dan blog-blog pribadi, berita tentang Dieng Culture Festival adalah salah satu topik favorit yang Amril baca.

Bagaimana dengan julukan kota adipura pikir Amril, ternyata Kabupaten Wonosobo telah menerima penghargaan adipura berturut-turut sebanyak paling tidak tujuh kali sampai pada tahun 2013 yang lalu. Luar biasa! Namun ada satu cuplikan berita yang agak mengganggu Amril, ia menemukan keluhan bertanggal 21 Desember 2011 di situs Facebook Wonosobo zone yang menyatakan di balik kota adipura, Wonosobo sebagai penyandang juara bertahan kota adipura penuh ironis. Bagaimana tidak, di saat plaza diperindah, jalan dan gorong-gorong/drainase di kota terus diperbaiki, taman kota ditambah, pembangunan gedung-gedung baru pemerintah yang megah, dll, malah sebaliknya banyak daerah pedesaan luput dari pantauan Pemda, dari jalan yang rusak parah sehingga kalau turun hujan lebih pantas dikatakan sebagai Kali Asat. Hal ini berimbas jalan sulit untuk dilalui kendaraan, bahkan tidak sedikit kendaraan jadi rusak akibat melewati jalan rusak tersebut. Sebenarnya jalan pedesaan ada yang diaspal, namun karena menggunakan bahan/aspal yang berkualitas rendah mengakibatkan jalan tersebut hanya bisa bertahan kurang lebih berumur 5 tahun. Amril terdiam sesaat. Ah mungkin ini adalah berita dulu. Semoga saja saat ini sudah lebih banyak perbaikan dan peningkatan kualitas fasilitas baik di kota maupun di desa, begitu pikirnya.

Bagaimana dengan gelar kota bunga? Amril menyimak bahwa sejak sebelum tahun 2009 pun ternyata kota Wonosobo terus menggiatkan diri mempercantik dan mengatur tata kota dan area pertanamannya. Termasuk di dalamnya adalah bunga yang ada di jalan-jalan maupun menggiatkan para pengusaha yang bergerak dalam bidang rangkai/jual beli bunga. Iseng meng-klik salah satu tautan tentang Mewujudkan Kota Bunga Wonosobo dari situs msuaramerdeka.com tertanggal 14 Mei 2009 yang lalu, dikatakan bahwa kota Wonosobo memang rupanya tersihir dengan pesona keindahan dan keasrian tanaman bunga. Karena itu, tidak heran jika Bupati Drs H A Kholiq Ani M.Si berkali-kali terobsesi mengubah daerah yang dipimpinnya itu menjadi kota bunga.  Amril sependapat dengan cita-cita mewujudkan Wonosobo menjadi Kota Kembang memang bukanlah tanpa alasan. Iklim yang sejuk dan ditambah dengan tanah subur yang dimiliki kota pegunungan ini memang menjadi modal yang sangat berharga bagi budi daya tanaman hias di sana. Rupanya saat ini, hampir di tiap sudut kota telah disesaki beragam tanaman bunga dalam pot. Taman plaza, alun-alun, kompleks Pasar Induk, taman-taman kota di jalan protokol, nyaris tak sejengkal tanah pun tersisa tanpa tanaman bunga. Kebetulan Amril memiliki seorang Paman dan Bibi di kota Jakarta yang hobinya bekebun dan merawat bunga. Kalau diperhatikan kehidupan mereka memang jauh lebih hidup dan berwarna. Mereka jadi lebih menghargai alam dan lingkungan juga demikian kesimpulan Amril.

Bunyi raungan sirene pukul 17.39 WIB yang menandakan waktu berbuka puasa bagi kota Yogyakarta dan sekitarnya sore itu pada akhirnyalah yang menyadarkan lamunan dan menyudahi impian Amril tentang kota Wonosobo. Pada akhirnya kita sendirilah yang harus memilih langkah kehidupan kita. Amril menyadari bahwa sudah bukan saatnya lagi bermimpi tentang bepergian ke luar negeri. Inilah saatnya mengunjungi tanah negeri sendiri. Ilmu adalah amanah, berbagi menambah berkah demikian prinsip Amril.

***

Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi. Pelestarian nilai budaya adalah tanggung jawab kita bersama. Silahkan klik gambar di bawah ini untuk melihat dan mendownload rangkaian acara Hari Jadi Wonosobo ke-189.

Banner Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-189. Sumber: http://www.wonosobokab.go.id/
“Selamat ulang tahun yang ke-189 untuk Kabupaten Wonosobo, semoga semakin asri, maju, berkembang, sehat dan sejahtera.”

Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen #HariJadiWonosobo189.

Banner Lomba Cerpen Hari Jadi Wonoso 189. Sumber: http://komunitas-sastra-bimalukar.blogspot.com/   

No comments:

Post a Comment