tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Monday, July 7, 2014

Optimalisasi UMKM Dan Media Massa Indonesia Dalam Menyambut Tantangan Ekonomi ASEAN 2015

Disusun dan dibuat dalam rangka memenuhi persyaratan Lomba Menulis Artikel IMPACT!
HUT 47 PPM Manajemen Jakarta
Peserta: Yose Rizal Triarto, S.Si
Pekerjaan: Pengajar dan Pengelola LBB+ Prestasi Utama Yk
                                                         
IMPACT! PPM Manajemen Jakarta

Agenda IMPACT! PPM Manajemen Jakarta
Implementasi pasar tunggal ASEAN sudah di ambang pintu. Namun demikian kesiapan Indonesia dan daya saing para pelaku usaha di dalam negeri untuk menghadapi era perdagangan bebas tersebut masih memprihatinkan. Sosialisasi pemerintah dan para pelaku usaha di dalam negeri juga masih sangat minim.

Masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) kini tinggal menghitung bulan saja sebelum efektif akan berakhir. Pemilihan presiden baru sudah akan di depan mata. Namun siapapun yang terpilih menjadi Presiden RI nanti akan diwarisi “sisa-sisa pekerjaan yang belum tuntas” dari pemerintah SBY. Salah satu sisa pekerjaan yang belum tuntas tersebut adalah persiapan Indonesia menyambut implementasi pasar tunggal ASEAN.

Sebagai bagian dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), Indonesia akan memasuki era baru pada tahun 2015 nanti dengan terwujudnya ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). ASEAN yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Brunei, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja pada tahun 2007 memang sudah menyepakati integrasi ekonomi melalui MEA.

Persetujuan perdagangan bebas ini akan diimplementasikan penuh mulai 31 Desember 2015 oleh seluruh anggota ASEAN kecuali Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam. Pembentukan MEA sendiri dilandari oleh empat pilar. Pertama, menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan pusat produksi. Kedua, menjadi kawasan ekonomi yang kompetitif. Ketiga, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang seimbang. Dan keempat adalah integrasi ke ekonomi global.

Bagaimana dengan kondisi UMKM Indonesia sendiri saat ini? Terlepas dari beberapa kelemahan UMKM di Indonesia seperti rendahnya kualitas sumber daya manusia, masih lemahnya struktur kemitraan dengan usaha besar, lemahnya quality control terhadap produk, belum ada kejelasan standardisasi produk yang sesuai dengan konsumen dan berbagai hal lainnya, dalam rangka menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 terdapat peluang yang besar bagi UMKM untuk meraih potensi pasar dan peluang investasi yang ada.

---

Sebagai pasar tunggal dan kesatuan basis produksi, akan terjadi arus bebas atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal, serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN. Hal ini diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi di antara negara-negara anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan.

Dari total populasi ASEAN sebanyak 600 juta, penduduk Indonesia mencapai 250 juta. Ini menjadi potensi pasar yang besar. Namun, jika tidak benar-benar siap, dengan kondisi pasar terbuka nanti Indonesia bukannya meraih untung tetapi malah bisa buntung. Bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami nasib yang sama seperti diberlakukannya perjanjian area perdagangan bebas antara ASEAN dengan China (ASEAN-China Free Trade Area). Bukannya mampu menggenjot ekspor saat itu Indonesia justru kebanjiran produk-produk impor dari China sehingga neraca perdagangan menjadi defisit.

Perlu dibangun mindset bahwa ‘ASEAN adalah pasar Indonesia” dan “Think ASEAN” serta perlu peran aktif seluruh kalangan untuk mensosialisasikan ASEAN secara luas kepada para pemangku kepentingan di pusat dan daerah, di kalangan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, lembaga non pemerintah dan masyarakat madani.

Untuk bersaing Indonesia memerlukan peningkatan kapasitas produksi yang bernilai tambah melalui investasi. Sebagai contoh saat ini ada tujuh cabang industri yang perlu ditingkatkan daya saingnya yakni cabang otomotif, elektronik, semen, pakaian jadi, alas kaki, makanan dan minuman serta furnitur.

Tantangan terbesar adalah bagaimana mementukan strategi yang jitu guna memenangkan persaingan dan sosialisasi media massa akan perubahan dan kesiapan ekonomi Indonesia menghadapinya. Pada saat MEA tahun 2015 nanti diterapkan diperkiran akan terjadi perubahan-perubahan perilaku pasar seperti karakteristik pasar yang dinamis, kompetisi global, dan bentuk organisasi yang cenderung membentuk jejaring, didukung teknologi digital, sumber kompetisi pada inovasi, kualitas waktu dan biaya, dan mengembangkan aliansi dan kolaborasi dengan bisnis lainnya.

---

Oleh karena itulah mulai saat ini UMKM harus mulai berbenah guna menghadapi perilaku pasar yang semakin terbuka di masa datang. Para pelaku UMKM tidak boleh lagi harus mengandalkan buruh murah dalam pengembangan bisnisnya. Kreativitas dan inovasi melalui dukungan penelitian dan pengembangan menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Kerjasama dan pembentukan jejaring bisnis baik di dalam dan di luar negeri sesama UMKM maupun dengan pelaku usaha besar harus dikembangkan.

Peranan pemerintah tentu menjadi penting terutama untuk mengantarkan mereka agar mampu bersaing dengan pelaku usaha lainnya dalam memanfaatkan MEA pada tahun 2015. Beberapa upaya yang perlu dilakukan pemerintah antara lain adalah meningkatkan kualitas dan standar produk, meningkatkan akses finansial, meningkatkan kualitas SDM dan jiwa kewirausahaan UMKM, memperkuat dan meningkatkan akses dan transfer teknologi bagu UMKM untuk pengembangan UMKM inovatif dan memfasilitasi UMKM berkaitan akses informasi dan promosi di luar negeri.

Peran dan sosialisasi media massa juga sangatlah menentukan. Dalam hal ini haruslah diakui Indonesia sudah kalah langkah. Thailand sudah punya ASEAN TV sebuah stasiun televisi yang terus menyiarkan tentang kesiapan Thailand menyambut MEA 2015. Nah kenapa berbagai media massa kita mulai dari TVRI, RRI dan berbagai lembaga penyiaran swasta tidak didayagunakan maksimal untuk mensosialisasikan MEA?

MEA bukanlah sekedar forum silaturahmi antar negara-negara ASEAN tetapi juga akan menjadi arena persaingan ekonomi. Media harus menjalankan fungsi edukasi dan memiliki agenda untuk mengingatkan rakyat Indonesia bahwa “perang” akan segera dimulai. Di sinilah peran Kementrian Komunikasi dan Informatika RI harus diaktifkan. Sosialisasi MEA 2015 di dalam negeri memang bisa dibilang sangat terlambat tetapi kita tidak perlu berkecil hati atau patah semangat. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki dan membenahi persiapan kita.

---

Tentunya semua pihak harus lebih berkomitmen, fokus, konsisten dan bekerja keras agar Indonesia bisa memasuki era pasar tunggal ASEAN dengan rasa percaya diri. Yaitu rasa percaya diri yang tumbuh karena didukung oleh daya saing yang kuat sehingga produk-produk Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dan yang terpenting kita mampu memanfaatkan kehadiran MEA itu nanti untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Oleh karena itu optimalisasi UMKM dan sosialiasi media massa ini pun bukan hanya bertumpu pada pemerintah saja, melainkan perlu adanya sinergitas antara unsur pemerintah (pusat dan daerah), masyarakat (konsumen), swasta (perbankan), pengelola UMKM itu sendiri dan tentunya seluruh media massa yang terkait. Jika hubungan kemitraan sudah terbangun dengan baik maka diharapkan Indonesia akan siap dalam menyambut datangnya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 nanti. Semoga semua pihak yang terlibat dalam usaha pembangunan ekonomi nasional Indonesia dapat melihat dan menyikapi tantangan ini. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi. Kesiapan bangsa Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 adalah tanggung jawab kita bersama.

No comments:

Post a Comment