tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Thursday, July 31, 2014

Pengajian Dakwah Budaya Walisongo: Renungan Bersama Sosio-Kemasyarakatan Indonesia

Video Cak Nun & Kiai Kanjeng Memukau Banyak Penonton (The Muslim News Awards for Excellence 2005). http://www.youtube.com/watch?v=erEUBP52FmA


A. Pendahuluan
Agaknya akan berlebihan apabila sebuah tulisan singkat dalam blog akan mampu mengubah dan memberi dampak dalam kondisi sosio-masyarakat Indonesia saat ini. Apalagi dengan mengangkat tema tentang Walisongo & Teladan Sukses Berdakwah. Namun demikian paling tidak apa yang menjadi keprihatinan bersama atas kondisi masyarakat Indonesia dan dekadensi moral yang terjadi saat ini dan masukan solusinya dapat dengan baik tersampaikan.

Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan. Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata "ilmu" dan kata "Islam". Sehingga menjadi "ilmu dakwah" dan Ilmu Islam atau ad-dakwah al-Islamiyah.[1]

Satu persoalan penting yang banyak melanda masyarakat modern saat ini baik di kota maupun di desa adalah apa yang disebut sebagai existential vacuum-kekosongan eksistensi, yang ditandai dengan kebosanan dan pengkaburan tujuan hidup. Masyarakat dunia modern kini tengah mengalami pendegradasian atas nilai-nilai kemanusiawiannya. Dalam berbagai aktifitas yang serba materialistis, mereka mengalami kejenuhan. Modernitas menjadi sejenis kepribadian yang dingin, kaku, tanpa arah, dan tidak manusiawi (dehumanized).[2]

Tidak mudah pula mengharmonisasikan sebuah bangsa yang multietnik, yang terdapat di dalamnya beragam etnik, bahasa, suku dan agama. Diperlukan juga sikap yang luar biasa bijaksana yang disertai dengan rasa identitas tentang jati diri dan pesatuan dalam masyarakat Indonesia. Konflik antar agama dan keyakinan bahkan sampai berujung anarkis dan memakan korban sudah berkali-kali sudah terjadi.[3]

Sementara jika membaca Ensklopedia Islam setebal tujuh jilid terbitan Ikhtiar Baru Ban Hoeve dan mencari informasi tentang Wali Songo, niscaya tidak akan pernah ditemukan sedikitpun mengenainya. Sebaliknya, di dalam Ensiklopedia Islam tersebut justru akan ditemukan kisah tiga serangkai Haji asal Sumatera Barat H Miskin, H Piabang dan H Sumanik, sebagai pembawa ajaran Islam ke wilayah Sumatera Barat pada tahun 1803 M.

Bila benar demikian yang dituliskan oleh sejarawan Agus Sunyoto dalam buku "Atlas Wali Songo" maka 20 tahun ke depan Walisongo dipastikan akan tersingkir dari percaturan akademis karena keberadaan mereka tidak lagi "legitimate" dalam Ensiklopedia Islam. Walisongo akan terlempar dari ranah sejarah dan tinggal mengisi ruang hampa sebagai cerita mitos dan dongeng pengantar tidur belaka.[4]

Di lain pihak akhir-akhir ini ada sekelompok orang yang mengaku bermanhaj salaf, secara tiba-tiba dan membabi buta menuduh Walisongo adalah penyebar kesyirikanm penganjur bid'ah (sesat), pengagum takhayul dan khurafat. Sehingga mereka berkesimpulan pendek bahwa Walisongo telah gagal dalam berdakwah dan tak patut untuk dijadikan teladan.[5]

Mari kita mempelajari secara perlahan-lahan tentang dakwah Walisongo dan korelasinya dalam masa lalu dan masa kini masyarakat Indonesia.


B. Napak Tilas Dakwah Nusantara Walisongo
Menurut catatan Dinasi Tang China pada waktu abad ke-6 M jumlah orang Islam di nusantara (Indonesia) hanya kisaran ribuan orang. Dengan klasifikasi yang beragama Islam hanya orang Arab, Persia dan China. Para penduduk pribumi tidak ada yang mau memeluk Islam.

Bukti sejarah kedua, Marco Polo singgah ke Indonesia pada tahun 1200-an M. Dalam catatannya, komposisi umat beragama di nusantara masih sama persis dengan catatan Dinasti Tang; orang Indonesia tetap tidak mau memeluk agama Islam.

Bukti sejarah ketiga, dalam catatan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M, tetap hanya orang asing yang memeluk agama Islam. Jadi kalau kita kalkulasikan ketiga catatan tersebut, sudah lebih dari 8 abad agama Islam tidak diterima orang Indonesia. Agama Islam hanya dipeluk segelintir orang asing.

Dalam sumber lain disebutkan pula bahwa sebenarnya Islam masuk Nusantara sejak zaman Rasulullah. Yakni berdasarkan literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Kemudian Marco Polo menyebutkan, saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H/1292 M, telah banyak orang Arab menyebarkan Islam. Begitu pula Ibnu Bathuthah, pengembara muslim, yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H/1345 M menuliskan bahwa Aceh telah tersebar madzhab Syafi'i. Tapi baru abad 9 H (abad 15 M) penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Massa itu adalah masa dakwah Walisongo.

Para sejarawan dunia angkat tanggan saat diminta menerangkan bagaimana Walisongo bisa melakukan mission impossible saat itu: membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 50 tahun, padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa nusantara selalu menolak agama Islam.

Berbeda dengan dakwah Islam di Asia Barat, Afrika dan Eropa yang dilakukan dengan penaklukan, Walisongo berdakwah dengan cara damai. Yakni dengan pendekatan pada masyarakat pribumi dan akulturasi budaya (percampuran budaya Islam dan budaya lokal). Dakwah mereka adalah dakwah kultural.

Banyak peninggalan Walisongo menunjukkan, bahwa budaya dan tradisi lokal mereka sepakati sebagai media dakwah. Hal ini dijelaskan, baik semua atau sebagian, dalam banyak sekali tulisan seputar Walisongo dan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Misalnya dalam Târikhul-Auliyâ’ karya KH Bisri Mustofa; Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia karya KH Saifuddin Zuhri; Sekitar Walisanga karya Solihin Salam; Kisah Para Wali karya Hariwijaya; dan Kisah Wali Songo: Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA.

Dahulu di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha, dan terdapat berbagai kerajaan Hindu dan Budha, sehingga budaya dan tradisi lokal saat itu kental diwarnai kedua agama tersebut. Budaya dan tradisi lokal itu oleh Walisongo tidak dianggap "musuh agama" yang harus dibasmi. Bahkan budaya dan tradisi lokal itu mereka jadikan "teman akrab" dan media dakwah agama, selama tidak ada larangan dalam nash syariat.

Pertama-tama, Walisongo belajar bahasa lokal, memperhatikan kebudayaan dan adat, serta kesenangan dan kebutuhan masyarakat. Lalu berusaha menarik simpati mereka. Karena masyarakat Jawa sangat menyukai kesenian, maka Walisongo menarik perhatian dengan kesenian, diantaranya dengan menciptakan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan dan pertunjukan wayang dengan lakon islami. Setelah penduduk tertarik, meraka diajak membaca syahadat, diajari wudhu, shalat, dan sebagainya.

Walisongo sangat peka dalam beradaptasi, caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Misalnya, kebiasaan berkumpul dan kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian keluarga tidak diharamkan, tapi diisi dengan pembacaan tahlil, doa, dan sedekah. Bahkan Sunan Ampel, yang dikenal sangat hati-hati, menyebut shalat dengan "sembahyang" (asalnya: sembah dan hyang) dan menamai tempat ibadah dengan "langgar" mirip kata sanggar.

Bangunan masjid dan langgar pun dibuat bercorak Jawa dengan genteng bertingkat-tingkat, bahkan masjid Kudus dilengkapi menara dan gapura bercorak Hindu. Selain itu, untuk mendidik calon-calon dai, Walisongo mendirikan pesantren-pesantren yang menurut sebagian sejarawan mirip padepokan-padepokan orang Hindu dan Budha untuk mendidik cantrik dan calon pemimpin agama.

Para sejarawan dunia sepakat bahwa cara pendekatan dakwah melalui kebudayaanlah yang membuat sukses besar. Namun demikian mungkin ada benarnya bahwa pendekatan dakwah dengan kebudayaan itu hanyalah bungkus luarnya saja. Yang benar-benar berbeda dan telah sukses dalam menyebarkan agama Islam saat itu adalah isi dari dakwah Walisongo.


C. Memahami Isi Dakwah Budaya Walisongo
Sebagian pihak mempermasalahkan metode dakwah Walisongo tersebut. Sebagian mempertanyakan kesesuaiannya dengan dalil syar'i. Sebagian lagi bahkan berani menyalahkan peninggalan para ulama-wali itu. Hal ini terutama dilakukan kaum modernis yang dipengaruhi pemikiran Wahabi yang kaku.

Bila mau berpikir dengan jernih dan bijak, metode dakwah Walisongo tidak selayaknya dipertanyakan. Walisongo menyebarkan agama Islam meniru persis "bungkus" dan "isi" yang dahulu dilakukan Rasulullah SAW. Benar-benar menjiplak mutlak metode dakwahnya kanjeng nabi. Pasalnya, kondisinya hampir serupa, Walisongo kala itu adalah alim ulama "satu-satunya".

Dahulu Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar pada masanya. Istrinya sendiri, sahabat Abu Bakar, sahabat Umar, sahabat Utsman, dan calon mantunya Ali pun pada saat itu tersesat semua. Tetapi berkat ruh dakwah yang penuh kasih sayang, banyak orang akhirnya mengikuti risalah yang dibawa kanjeng nabi. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW sangat amat sabar menerangi orang-orang yang tersesat di jamannya. Meski kepalanya dilumuri kotoran, meski mukanya diludahi, bahkan berkali-kali hendak dibunuh, kanjeng nabi selalu tersenyum memaafkan.

Walisongo mencontoh akhlak kanjeng nabi sama persis. Walisongo berdakwah dengan penuh kasih sayang. Pernah suatu hari ada penduduk desa bertanya hukumnya selametan rumah dengan menaruh sesajen di sudut kamar. Tanpa terkesan menggurui dan menunjukkan kesalahan, sunan tersebut berkata, "Boleh, malah sebaiknya jumlahnya 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya."

Pernah juga ada murid salah satu anggota Walisongo yang ragu pada konsep tauhid. "Tuhan kok jumlahnya satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang tidak terurus?" Sunan yang ditanya hanya tertawa mendengarnya, lalu minta ditemani nonton pagelaran wayang kulit.

Singkat cerita, sunan tersebut berkata pada muridnya, "Bagus ya cerita wayangnya..." Si murid pun menjawab dengan penuh semangat tentang keseruan lakok wayang malam itu. "Oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya ada dua atau empat orang?" tanya sunan tersebut. Si murid langsung menjawab, "Justru lakon wayangnya bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan."

Sang guru hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar jawaban polos tersebut. Seketika itu pula si murid beristighfar dan mengaku sudah mengerti konsep tauhid. Begitulah "isi" dakwah Walisongo; mengutamakan perasaan orang lain.

Kalau kita cermati bersama, betapa gaya berdakwah para Walisongo tersebut sangat mirip dengan gaya dakwah kanjeng nabi. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa? Hal tersebut bisa terjadi karena ada manual book cara berdakwah, yaitu Surat An-Nahl ayat ke-125. Ud'u ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau'izhatil hasanati wajaadilhum billatii hiya ahsan. Inna Rabbaka Huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilihi wa Huwa a'alamu bilmuhtadiin. Terjemahannya kira-kira: Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui mereka yang mendapat petunjuk.

Menurut ulama ahlussunnah wal jama'ah, tafsir ayat dakwah tersebut adalah seperti berikut: Potongan kalimat awal, ud'u ilaa sabiili Rabbika, yang terjemahannya adalah "Ajaklah ke jalan Tuhanmu", tidak memiliki objek. Hal tersebut karena Gusti Allah berfirman menggunakan pola kalimat sastra. Siapa yang diajak? Tentunya orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya berarti orang yang diajak adalah orang-orang yang belum di Jakarta.

Dakwah artinya adalah "mengajak", bukan perintah apalagi memerintah. Jadi cara berdakwah yang betul adalah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Apabila harus berdebat, pendakwah harus menggunakan cara membantah yang lebih baik. Sifat "lebih baik" di sini bisa diartikan lebih sopan, lebih lembut, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila harus berdebat, jangan ditafsirkan secara terjemahan bahasa Indonesia apa adanya. Bisa kacau balau.

Para pendakwah justru harus menghindari perdebatan. Bukannya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ada ustadz yang mengajak debat para pendeta, biksu, orang atheis, dan sebagainya. Jelas itu "ngawur". Berdakwah tidak boleh berlandaskan hawa nafsu. Harus ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan berangkat dari niat yang tulus.

Apalagi ayat dakwah tersebut ditutup dengan kalimat penegasan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati. Hanya Dialah yang tahu hambaNya yang masih tersesat dan hambaNya yang sudah mendapatkan petunjuk Firman. Artinya Firman tersebut sudah merupakan peringatan untuk para pendakwah jangan merasa sok suci, apalagi menganggap objek dakwah sebagai orang-orang yang tersesat. Anggaplah objek dakwah sebagai sesama manusia yang sama-sama menuju jalanNya.


D. Refleksi Sosio-Kemasyarakatan Kekinian Indonesia
Fakta sejarah memberikan gambaran kepada kita bahwa Islam hadir ke bumi pertiwi tidak dengan penumbangan kekuasaan maupun agresi militer ataupun jalan-jalan pemaksaan lainnya, namun melalui jalan damai yaitu akulturasi budaya. Secara cerdas Walisongo menginisiasi pencerdasan dan pembangunan masyarakat secara kultural dan dari sanalah penyebaran Islam dilakukan.

Sebuah pelajaran berharga mengenai bagaimana menyikapi perbedaan. Bahkan kita melihat wayag sekalipun yang notabene berasal dari ajaran animisme yang sangat kontras dengan ajaran Islam dapat digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan Islam setelah dilakukan modifikasi terlebih dahulu. Para penyebar agama Islam di tanah air dahulu mencoba menggali dan memahami adat istiadat dan khazanah budaya yang ada terlebih dahulu untuk kemudian dimanfaatkan untuk berdakwah.

Pelajaran lainnya adalah bagaimana misi keagamaan yang diemban para wali disertai dengan kerja-kerja sosial sehingga menghasilkan sebuah kerja relijius yang lebih membumi dan mampu diterima dengan basis penerimaan yang kuat. Upaya mereka dengan membangun pusat-pusat pendidikan dan penggerak ekonomi merupakan buktinya.

Menurut pakar sejarah nusantara Agus Sunyoto menyatakan kunci keberhasilan dakwah Walisongo adalah penghargaan yang tinggi terhadap kebudayaan pribumi. Sekarang cara ini dilanjutkan NU dengan tidak menghilangkan tradisi lokal. Selain memelihara tradisi lokal, NU bahkan menggunakan resistensi kebudayaan tersebut untuk melawan kolonialisme. Di masa penjajahan, KH Hasyim Asy'ari mengharamkan seikerei sebagai tanda hormat kepada kaisar Jepang karena dianggap syirik.

Hingga kini mayoritas pesantren juga masih kuat mempertahankan tradisi mereka. Lembaga pendidikan Islam tertua nusantara ini umumnya sangat selektif terhadap berbagai pengaruh global, termasuk cara-cara pendidikan model barat. Sangat disayangkan saat ini banyak masyarakat Indonesia modern yang mudah menjauh dari lokalitas kebudayaan lokal. Padahal kekayaan budaya nusantara tak kalah unggul dan kerap gaya hidup serapan luar hanya menguntungkan pihak tertentu saja.

Kondisi sosio-kemasyarakatan Indonesia saat ini tengah mengalami keprihatinan atas makin berkembangnya pengaruh negatif globalisasi di mana-mana. Sebagai contoh pada tahun 2012, Monash University bekerjasama dengan UIN Malang meneliti tentang pesantren. Bagaimana mungkin pesantren masih bisa berjalan di era globalisasi sekarang, dimana sekolah-sekolah sudah bertaraf internasional. Mengaji di pondok pesantren masih menggunakan bahasa lokal, padahal sekolah-sekolah sekarang sudah memasuki era bahasa Inggris. Kemudian kalau dahulu nama-nama anak masih bermuatan lokal, namanya Sumaji, Marsono, Choirul, Joko, Siti, Marpuah, dst. Begitu reformasi tahun 1999, nama-nama di Indonesia berubah menjadi nama ke-barat-barat-an seperti Kevin, Clara, dll. Nama-nama barat pelan-pelan menjadi juara di nusantara, bahkan kita mungkin malu jika nama kita terdengar kampungan. Era globalisasi merubah semua, termasuk kearifan lokal.

Pada kenyataannya dengan semakin majunya teknologi, penggunaan bahasa asing dan makin meningkatnya jumlah masyarakat yang mampu mengenyam pendidikan tinggi bahkan beberapa sudah banyak yang mampu diterima bekerja di luar negeri tidak menghapus kenyataan bahwa kondisi masyarakat Inonesia yang saat ini tengah dalam dekadensi moral.

Ketika pada jaman dahulu Walisongo melakukan penyebaran dakwah yang konstruktif dalam tataran lokal nusantara, maka pada saat ini tantangannya adalah bagaimana menuju masyarakat Indoneia yang harmonis, toleran dan pluralis namun tetap memegang nilai-nilai dan kearifan budaya lokal nusantara di tengah pusaran arus globalisasi yang cenderung menyeret orang menjadi tidak peduli dan apatis pada sesamanya.

Bahwa kehancuran peradaban dan moral manusia di zaman modern ini bukan semata-mata karena peradaban modern itu tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritualitas dan transedental manusia, tetapi juga karena kesalahan manusia dalam memanfaatkan (menggunakan) dan memandang modernitas itu sendiri. Hal lain yang menyebabkan modernitas itu dangkal dan naif adalah ia berusaha memotong akar-akar tradisional yang sebenarnya merupakan "ibu" yang melahirkan peradaban modern itu sendiri.

Relevansi dakwah Walisongo dalam masa modernisme memang belum selesai. Sebab pada kenyataannya meski modernisme banyak membawa jasa, tetapi tidak sedikit menabur 'dosa'. Misalnya modernisme sangat berkaitan erat dengan pembangunan. Banyak orang mendefinisikan pembangunan sebagai 'mengantarkan masyarakat tradisional menuju masyarakat modern'. Pembangunan bukan saja pertumbuhan ekonomi; tetapi juga transformasi sosial. Bersamaan dengan modernisasi dan kemakmuran, pembangunan juga membawa apa yang disebut oleh sosiolog Lyman dengan the Seven Deadly Sins, tujuh dosa maut: ketidakpedulian, nafsu, angkara murka, kesombongan, iri hati, lahap dan kerakusan.

Di sinilah kembali diperlukan dakwah-dakwah budaya dan teladan-teladan hidup yang mewarisi nilai-nilai dan semangat Walisongo: modernitas dan segala aspek perbedaan yang menyertai lapisan masyarakat Indonesia saat ini dipahami bukan sebagai halangan atau musuh yang harus dibasmi melainkan sebagai sebuah peluang dan tantangan untuk melawan bentuk-bentuk ketidakpedulian sosial dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang harmonis, toleran dan pluralis, dengan penuh kasih sayang.


D. Penutup
Metode memang penting namun demikian terlebih penting lagi adalah isi dan tujuan dakwah tersebut. Dakwah yang dibarengi dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan konstruktif dan memadukan berbagai media seperti seni, budaya dan teknologi dapat diajukan sebagai salah satu solusi untuk membendung dekadensi moral dalam masyarakat modern saat ini.

Aktifitas relijius sudah sepatutnya jugalah memiliki implikasi positif bagi tatanan sosial masyarakat bukan sekedar upaya propaganda jargon-jargon kosong semata bahkan malah berujung pada konflik atau bahkan kekerasan terhadap sesama. Walisongo dan para penyebar agama Islam pada masa lalu di nusantara telah membuktikan bahwa ajaran Islam adalah rahmatan lil alamin dan dapat menjadi harapan dalam memberbaiki dan membangun masyarakat.

Hal ini menjadi pelajaran bagi segenap elemen bangsa bahwa perbedaan keyakinan agama di antara kita tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bersama menjalin harmonisasi dalam melaksanakan pembangunan. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi. Menjadi teladan hidup dan berdakwah teduh dan cinta tanah air dengan memulai banyak membaca, meluruskan niat, makin mendekatkan diri dan meminta pertolongan kapadaNya sesungguhnya adalah panggilan untuk kita bersama.

May peace be with you.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis Kontes Blog Muslim Ke-2 PPM ASWAJA "Walisongo & Teladan Sukses Berdakwah".

http://kontesblogmuslim.com/
Banner lomba menulis Kontes Blog Muslim ke-2 PPM ASWAJA "Walisongo & Teladan Sukses Berdakwah". Sumber: http://kontesblogmuslim.com/

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Dakwah dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Dakwah
[2]. Menimbang Gagasan Pribumisasi Islam: Upaya Menuju Masyarakat Islam Indonesia yang Harmonis, Toleran dan Pluralis dalam http://www.gusdurian.net/id/article/kajian/Menimbang-Gagasan-Pribumisasi/
[3]. Wali Songo, Wayang dan Toleransi Beragama yang Konstruktif dalam http://news.detik.com/read/2011/03/01/111429/1581856/471/wali-songo-wayang-dan-toleransi-beragama-yang-konstruktif
[4]. Menggugat (Kembali) Keberadaan Wali Songo dalam http://m.kompasiana.com/post/read/578662/3/menggugat-kembali-keberadaan-wali-songo.html
[5]. Walisongo Adalah Penerus Dakwah Rasulullah SAW dalam https://m.facebook.com/permalink.php?id=557700220929725&story_fbid=577543395612074

REFERENSI PENDUKUNG:
A. www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan
B. www.muslimedianews.com – Voice of Moslem
C. http://www.nu.or.id/ – Website resmi Nahdlatul Ulama
D. www.habiblutfi.net – Dakwah teduh dan cinta tanah air
E. www.streamingislami.com – Streaming dakwah Islam terlengkap

Masuk dalam nominasi 10 besar dari 54 peserta @ppmAswaja - 31 Agustus 2014

Pengumuman Akhir Kontes Blog Muslim ke-2 http://kontesblogmuslim.com/pengumuman-akhir-kontes-blog-muslim-ke-2/ - 09 September 2014

Pengumuman Penyerahan Hadiah KBM2 @ppmAswaja - 23 September 2014

No comments:

Post a Comment