tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Friday, July 18, 2014

Refleksi Perjalanan Mengubah Hidup

Sesaat setelah melakukan pencoblosan 9 Juli 2014.

#SoloTraveling. Hidup ini selalu penuh dengan pilihan begitu pun perjalanan hidup kita. Apa yang ada dalam pikiran sahabat begitu mendengar dan membaca akan kata perjalanan sendirian? Banyak kisah-kisah berhikmah baik fiksi dan non fiksi yang menceritakan perjalanan seorang diri mengembara dan melintasi benua guna mencari sesuatu yang diyakininya. Bilbo Baggins dalam The Hobbit: An Unexpected Journey  dan Nabi Musa As dalam perjalanan menerima wahyu, pengembaraan jiwa. Keduanya jelas sangat berbeda. Namun keduanya berbagi kesamaan, memulai langkah pengembaraan dengan ketidakyakinan, ketakutan.

Kisah #SoloTraveling saya dimulai pada malam Jumat, 31 Januari 2014 yang lalu. Berbekal secarik tiket kereta api Taksaka Malam dari kota Jakarta menuju kota Yogyakarta. Berangkat pada pukul 21:00 WIB dan dijadwalkan sampai di stasiun tujuan pukul 04:22 WIB. Tidak ada yang spesial dalam perjalanan awal saya selain beberapa tas besar-karena saya pindah kota mengadu nasib di kota orang, dan beberapa ketidakyakinan dan ketakutan saya yang sama-sama besar. Bagaimana mungkin melepas pekerjaan di Jakarta dan berangkat ke kota lain tanpa kepastian mau bekerja apa?
Tanpa saya duga, rekan seperjalanan saya ternyata adalah juga seorang Indonesia, mahasiswa pasca-sarjana agama Islam di salah salah satu universitas di Kairo, Mesir. Kami terlibat bercakap-cakap seru dalam perjalanan selama hampir tujuh jam melintasi kota-kota. Perbedaan keyakinan tidak membuat diskusi kami hampa. Justru berulangkali kami saling memberikan masukan dan dukungan. “Apa yang akan anda perbuat setelah sampai di kampung nanti?” tanya saya kepadanya. “Saya akan mengajar di sekolah pelajaran agama Islam.” jawab rekan saya ini dengan yakinnya. “Tapi bukankah mengajar, apalagi agama hampir tidak ada yang memandang?” saya balik bertanya padanya. “Tidak ada yang jauh lebih penting daripada agama dan keluarga,” demikian katanya singkat. Ucapan terakhirnya yang saya ingat adalah “Mas, orang-orang seperti kita ini adalah seperti memegang bara api,” saat ia turun di sebuah stasiun kecil sebelum Yogyakarta. Kata-kata rekan saya tersebut seolah terus menggema dalam hati saya kala menyambut datangnya pagi saat kereta mulai memasuki kota Yogyakarta.

Perjumpaan kecil dan perbincangan singkat dalam perjalanan Jakarta-Yogyakarta tersebut masih membekas dalam ingatan saya saat ini. Sayang saya tidak sempat bertukar no HP atau sosmed semacamnya dengan beliau malam menjelang pagi itu. Apa yang berubah dari saya setelah percakapan itu? Bisa dikatakan tidak ada. Sekian tahun bekerja di kota metropolitan Jakarta sejujurnya menumpulkan ide dan kemerdekaan pikiran saya. Ketidakyakinan dan ketakutan hidup masih ada pagi hari saat saya menapakan kaki keluar dari gerbong kereta.
Dua bulan kemudian saya memutuskan memulai sesuatu yang berbeda. Saya berwiraswasta. Saat ini saya mengajar dan mengelola sebuah lembaga bimbingan belajar berbasis kemasyarakatan di Yogyakarta. Prinsip saya ilmu adalah amanah. Berbagi menambah berkah. Seseorang pernah berkata, jika kau tidak tahu sesuatu, kau hanya perlu pergi dan melihatnya dengan mata kepalamu sendiri. Jadi tunggu apa lagi sahabat? Segeralah tentukan tujuanmu dan mulailah melakukan #SoloTraveling perjalanan-petualanganmu sendiri J.



-----
Disusun dan dibuat dalam rangka Lomba #SoloTraveling
Redaksi Padmagz.com
 
 

 

 
 

No comments:

Post a Comment