tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Friday, July 25, 2014

Sepasang Suami Istri Penarik Gerobak Tua

Ini adalah kisah nyata yang baru saja saya dan calon istri alami hari Jumat yang lalu, 25 Juli 2014 kira-kira pada pukul 18.30 WIB setelah lepas waktu berbuka puasa di sekitar jalan Taman Siswa, Yogyakarta. Pada sore itu kami berdua berboncengan menyusuri jalan Kol. Sugiyono setelah mengisi bensin motor Honda kami. Kami berniat untuk segera pulang dan kembali melanjutkan aktifitas kami masing-masing. Namun dalam perjalanan di sore hari tersebut tak sengaja kami melewati sepasang suami istri yang sedang mendorong sebuah gerobak tua. Sang suami berjalan di depan menarik gerobak yang berukuran jauh lebih besar dari dirinya sementara sang istri mendukung mendorong dari belakang. 

Sepintas tak ada yang istimewa dalam kejadian tersebut. Saya pun hanya menoleh dan memperhatikan sekilas sepasang suami istri renta yang telah kami lewati bersama tadi. Kebetulan memang motor tidak dijalankan dengan cepat. Sang suami dan istri sama-sama sudah berambut putih, berpakaian kumal dan lecek, keduanya tampak letih menarik gerobak yang setelah saya perhatikan baik-baik sepertinya berisi barang bekas atau barang sampah pungutan. Mereka berjalan beriringan mendorong gerobak tadi di tengah hiruk pikuk manusia yang pulang kerja atau memburu makanan berbuka puasa. Seolah tak ada yang peduli. Dan memang siapa lagi yang peduli begitu pikir saya saat melewati mereka.

Saat di perjalanan saya terus memikirkan hal itu. Selama setengah tahun saya tinggal di Yogyakarta dan sering hilir mudik di jalan Kol. Sugiyono tersebut baru sore itu saya menemukan mereka, yang tua renta dan bersama-sama bekerja mendorong gerobak tua. Sepanjang perjalanan mencari tempat berbuka tanpa sadar saya memikirkan hal itu. Dan tiba-tiba saja tanpa saya rencanakan, pada saat saya dan calon istri sedang mengantri di Olive Chicken, semacam franchise ayam lokal di kota Yogyakarta, ada suatu rasa yang meluap dalam hati saya, teringat akan mereka berdua tadi. Awalnya saya ragu, bukan tanpa sebab, terkadang penampilan memang bisa menipu. Tapi segera saya tepis pemikiran terebut. Saya tegaskan kepada diri saya sendiri bahwa mereka memang membutuhkan dan layak menerima sesuatu. Yang mungkin saat itu saya punya. Akhirnya saya mengatakan kepada calon istri saya untuk membeli satu paket nasi ayam dan tambahan dua paket lagi untuk dibungkus dan dibawa pulang. Selama pemikiran dan saat saya mengatakan hal tersebut saya tidak mengatakan banyak hal kepada calon istri saya.

Pikiran saya berkecamuk dengan hebat. Sejujurnya uang di dompet kami berdua bukanlah berlebih sore itu. Kalau saya memaksakan diri membeli tiga paket nasi ayam untuk saya berbuka, tentunya uang kami semakin sedikit. Dan kami berdua bekerja wiraswasta. Calon istri saya mengajar kursus menjahit dan saya mengajar bimbingan belajar anak-anak sekolah. Pada masa-masa seperti ini dimana sudah banyak orang pulang liburan/mudik demikian pula dengan kondisi keuangan kami berdua tidak banyak bahkan hampir bisa dikatakan tidak ada masukan yang cukup berarti. Selama beberapa hari bahkan kami terpaksa berpuasa bukan karena keinginan untuk itu namun karena ketiadaan keuangan yang sedang tidak kami punya. Seolah-olah banyak pikiran yang mengatakan nanti bagaimana besok? Nanti bagaimana kalau tidak ada uang? Dan lain sebagainya.

Saat antrian sudah pada giliran saya akhirnya saya putuskan untuk tetap menuruti kata hati dan nurani saya. Saya tidak mau menolak apa yang dengan sangat saya rasakan sore itu. Saya ingin memberi kepada kedua orang suami istri tua itu sesuatu untuk makanan berbuka puasa. Saya ingin memberi bukan karena saya ada namun karena empati saya menyuruh saya berbuat demikian.

Nasi ayam hanya berharga delapan ribu rupiah saja. Komplit dengan sendok plastik dan sambal dan dibungkus dengan boksnya. Ah memang tidak mahal jika dibandingkan dengan harga-harga fast food di mall-mall. Tapi percayalah itu adalah uang-uang terakhir yang saat itu kami punya. Saya menatap mata calon istri saya dan mengatakan, bolehkah untuk memberikan dua paket ini kepada bapak ibu membawa gerobak yang tadi kita lihat di jalan? Sebelumnya calon istri saya pikir ketiga paket nasi ayam itu akan saya makan sendiri. Karena sedari siang memang saya tidak memiliki makanan apa-apa.

Herannya calon istri saya dengan yakin juga mengatakan sudah tidak apa-apa. Saya tersenyum saat dia mengatakan demikian. Artinya hatinya sejalan dengan apa yang saya rasakan. Saya pikir toh uang masih bisa dicari tapi kesempatan memberi mungkin tidak bisa datang dua tiga kali. Begitu pikir saya sore itu saat kami meninggalkan meja kasir Olive Chicken di jalan Taman Siswa, Yogyakarta.

Setelah membayar parkir kami berdua langsung bergegas mencari ke manakah kira-kira dua orang suami istri penarik gerobak barang tadi pergi. Saya pikir tentunya dengan membawa gerobak yang super besar untuk ukuran badan mereka berdua ditambah kondisi dan umur yang saya lihat, bakalan butuh waktu lama untuk membawanya. Akhirnya kami mencari satu persatu jalan yang mungkin dilewati oleh kedua orang tua tadi. Sebagai gambaran jalan Taman Siswa memiliki empat percabangan jalan/perempatan yang masing-masing terhubung pada jalan yang luas dan panjang pula.

Kami menyusuri ke tiga jalan yang ada, bahkan ke jalan di mana pertama kali kami melihat sepasang suami istri penarik gerobak tua tadi. Sudah cukup jauh namun kami tidak menemukan mereka. Sambil memegang tiga buah paket di tangan kiri dan kanan saya saya berpikir, kemana mereka? Apa mungkin mereka sudah pergi jauh tanpa kami sadari? Padahal jarak antara kami melewati mereka dengan tempat kami membeli nasi ayam itu agak jauh jadi logikanya mestinya kami bisa dengan mudah menemukan mereka kembali tanpa kesulitan.

Saat itu calon istri saya menyarankan untuk coba kembali ke jalan di mana kami membeli nasi ayam Olive Chicken tadi, yakni di jalan Taman Siswa Yogyakarta. Saya setuju. Karena hari mulai gelap dan pandangan mata tentunya makin kabur karena semakin banyak kendaraan berlalu-lalang di jalan. Hanya satu harapan saya, berharap bisa bertemu mereka dan bisa memberikan dua paket nasi ayam itu sebagai makanan berbuka puasa mereka. Entah mereka berpuasa atau tidak buat saya itu bukan soal utama. Saya tidak mau menyangkali nurani dan dorongan empati diri saya. Sebelum semuanya terlambat.

Pada akhirnya niat saya terkabul juga. Kami akhirnya bisa melihat dari jauh sepasang suami istri penarik gerobak tua tadi. Karena gerobak mereka yang cukup besar segera menarik perhatian saya untuk menemukan mereka. Dari jauh saya masih melihat sang istri mendorong gerobak mereka. Pandangan saya tertutup karena tinggi gerobak itu memang di atas rata-rata manusia dewasa. Saya mengatakan pada calon istri saya untuk segera menepikan dan memberhentikan motor kami.

Setelah motor berhenti saya mencopot helm dan memberikan satu paket nasi ayam milik saya kepada calon istri. Saya menitipkan kepada dia karena saya tidak ingin memberikan dua paket lainnya dengan membawa banyak seolah-olah saya ini orang yang berpunya. Sejujurnya saya ingin sekali memberikan dengan sopan. Saya belajar sejatinya tiap manusia adalah sama. Saya tidak mau timbul perasaan dalam diri saya seolah-olah karena saya yang memberikan maka saya lebih dari mereka.

Segera saya berlari mendekati sang istri yang sudah tua dan beruban rambutnya. Ada suatu kesan mendalam yang saya tangkap saat memperhatikan dengan baik kondisi sang istri dari belakang sebelum saya menyapa dan memberikan paketnya. Saya tiba-tiba ingat dari ibu saya yang sampai akhir hayatnya terus mendukung bapak saya dalam pekerjaan yang walaupun tidak berlimpah materi mereka sangat seiya sekata. Saya tiba-tiba teringat pada almh. ibu saya saat saya memperhatikan sang ibu pendorong gerobak tua itu.

Kemudia saya menyapa ibu tua tersebut dari belakang dan segera menyerahkan paket/bungkusan nasi ayam dalam kotak tersebut. Saya katakan ibu ini untuk ibu dan bapak untuk berbuka. Sang ibu tampaknya terkejut dan tidak seberapa lama beliau mengatakan terima kasih. Saya tidak lama-lama. Saya segera kembali ke tempat di mana calon istri saya sedang menunggu di pinggiran jalan. Saat kami sedang memutar arah kembali ke jalan sebelumnya, sepintas saya melihat dari ujung mata saya, sang istri sedang berbincang sambil menyerahkan isi bungkusan kepada sang suami. Sayup-sayup saya mendengar dia bicara dalam bahasa Jawa, iki ono sing menehi (ini ada yang memberi). Demikian kira-kira yang saya bisa dengar. Mereka tampaknya gembira dan saat mereka memandang ke belakang ke arah dimana saya memberi, kami berdua sudah tidak ada di sana, sudah kembali dalam perjalanan ke tempat kami masing-masing.

Cerita singkat ini tidak ada dokumentasi foto atau video. Saya dan calon istri melakukannya tanpa kami rencanakan dan sejujurnya tidak mungkin kami rencanakan saat itu. Saya hanya bisa bersyukur diberi kesempatan untuk memberi, diberi kesempatan berempati dan rasa ingin memberi yang begitu luar biasa saya rasakan. Memang saya tidak bisa memberi banyak. Hanya paket nasi ayam kardusan seharga dua kali delapan ribu rupiah saja. Mungkin adalah uang terakhir kami sore itu. Dan seharusnya bisa saja saya membanggakan diri di hadapan sepasang suami istri tadi dengan berlama-lama berbicara atau mengambil foto mereka berdua.

Tapi hati saya mengatakan tidak. Nurani saya mengatakan segeralah pergi dari sana. Malu saya kalau masih mengatakan ini pemberian dari kami. Karena sesungguhnya bukan kami berdua yang memberi namun Tuhan Yang Esa lah yang dengan rahmatnya memberi kami berkat dan mengetuk hati kami untuk memberikan mungkin uang-uang terakhir yang kami punya. Saya juga manusia biasa. Saya masih punya banyak keraguan dan dosa. Namun dalam berbagai momen di hidup saya, saya belajar untuk mempercayakan nurani dan memberikan empati pada kaum yang papa. Kaum yang tidak masuk hitungan masyarakat umumnya. Satu hal saya ingat pesan dari almh. ibu saya, jangan kamu memberi tapi kamu mengetahuinya. Berilah dengan tangan kiri kamu taruh di belakang demikian beliau berpesan. Dan keluarga saya bukanlah keluarga kaya. Sore itu saya ingin sekali memberi lebih daripada sekedar dua kotak nasi ayam. Namun hati saya menjerit hanya itu Tuhan uang yang kami punya. Kami tidak bisa memberi lebih dan pemberian kami mungkin dari keterbatasan kami.

Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan cerita bekal nasi ayam dua paket di tangan sepasang suami istri penarik gerobak tua tadi. Mungkin mereka habiskan? Atau mungkin mereka simpan untuk esok harinya? Karena semakin banyak manusia yang tidak peduli dan menutup nurani serta empatinya. Ah sejujurnya saya tidak tahu. Toh tulisan singkat ini pun bukan semata-mata untuk mendapat hadiah dan pujian. Hanya satu keinginan saya untuk berbagi, mari kita berbuat lebih demi sesama. Buat mereka yang diberikan karunia lebih daripada sekedar uang ribuan, mari memberi diri menyisihkan sedikit untuk sesama yang tidak seberuntung kalian. Bagi mereka yang diberikan kelebihan tenaga dan pikiran cemerlang, mari berbuat mengulur tangan dan berikan yang terbaik bagi sesama. Tidak akan ada ruginya memberi dan berempati bagi sesama kita. Sudah jangan pandang soal suku dan agama. Toh saat nanti kita dipanggil semua oleh Tuhan Yang Esa mungkin hanya satu yang Dia tanyakan, engkau sudah berbuat apa saja di dunia, wahai manusia? Salam.

Keinginan dan harapan: Saya pribadi ingin sekali bisa memberi lebih banyak dan berkelanjutan kepada kaum papa (tidak berpunya, dipinggirkan atau tidak dianggap masyarakat) seperti kisah di atas. Harapannya agar semakin banyak dari kita yang peduli pada mereka. Mereka mungkin tidak seberuntung kita. Tetapi mereka adalah saudara-saudara kita juga. Uang masih bisa dicari tetapi kesempatan memberi mungkin tidak datang dua tiga kali.

Pengumuman 33 Kontributor Naskah Terpilih, 8 Desember 2014

Sertifikat Kontributor Naskah Terpilih, 8 Desember 2014

-----
Tentang penulis: Yose Rizal Triarto, lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada 5 Desember 1985. Ia adalah alumnus Fisika F. MIPA UNDIP Semarang. Semasa kuliah aktif menjadi pengurus inti beberapa organisasi kemahasiswaan. Sempat bekerja di beberapa perusahaan nasional dan multinasional. Saat ini bekerja sebagai pengajar dan pengelola LBB+ Prestasi Utama Yogyakarta.

No comments:

Post a Comment