tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] "Living is a conversation. All people talk. But a good person listens as well." - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 19 Juli 2017.

Sunday, August 31, 2014

Yose Rizal Triarto: Tips & Trik Belanja Online Aman dan Mudah

Belanja Online Aman dan Mudah.
Sumber gambar: http://harianti.com/lima-tips-aman-belanja-online-ala-groupon/

Berbelanja lewat internet itu sangat menyenangkan. Anda tinggal klik dan barangnya nanti akan dikirim ke alamat anda. Apabila anda berbelanja dari toko online di luar negeri mungkin akan sedikit lama waktu pengirimannnya tapi apabila anda belanja dari toko lokal atau dalam negeri dalam satu malam pun barang sudah bisa kita terima.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Forrester melaporkan bahwa pada saat menjelang liburan dan akhir tahun, konsumen yang berbelanja secara online biasanya akan meningkat. Namun yang perlu diingat, yang senang bukan cuma situs-situs web jualan, tetepi juga para “maling digital” karena semakin banyak transaksi, semakin besar pula kemungkinan mereka mendapat apa yang mereka inginkan.

Bagaimana agar terhindar dari gangguan para penjahat digital tersebut? Berikut adalah 8 panduan aman dalam melakukan jual-beli online:

1. Lakukanlah riset terhadap situs web tempat Anda berbelanja
Tips ini harus selalu dilakukan apabila Anda berbelanja seperti pakaian online di situs web yang Anda sendiri mungkin kurang familiar. Periksalah alamat web dan nomor telepon si penjual dan hubungi.

2. Bacalah baik-baik kebijakan situs web terhadap data pribadi Anda
Tentu kita tidak ingin jangan sampai di kebijakan tersebut ada poin yang menyebutkan kalau pengelola situs web boleh memberikan data pribadi ke pihak lain.

3. Periksalah paket barang dengan membaca deskripsi produk baik-baik
Curigailah barang bermerek yang dijual dengan potongan harga yang sangat besar. Lebih baik teliti sebelum membeli daripada menyesal kemudian.

4. Janganlah tergoda barang murah
Jangan buru-buru jatuh cinta dengan tawaran harga barang murah, apalagi saat meminta ID dan password Anda tanpa izin dari pemilik e-mail. Biasanya itu adalah perbuatan spammer.

5. Carilah tanda kalau situs web itu aman
Biasanya tanda tersebut berupa gambar gembok di baris status (status bar) browser. Apabila Anda diminta memasukkan informasi pendaftaran nomor kartu kredit lihat baik-baik apakah alamat situs web berubah dari http ke ‘shttp’ atau ‘https’ jika tidak jangan teruskan.

6. Amankanlah PC Anda
Paling tidak milikilah antivirus bagi PC/Laptop/Tablet dan Smartphone Anda Ingat piranti lunak tersebut harus di-update secara teratur.

7. Simpanlah bukti transaksi
Untuk berjaga-jaga simpanlah semua bukti transaksi termasuk deskripsi produk dan harga, kuitansi digital, dan apabila ada salinan e-mail andara Anda dengan penjual. Hal ini untuk meminimalisasi kemungkinan-kemungkinan yang tidak baik apabila misal pihak penjual mangkir atau tidak mengirim produk atau produk memiliki cacat dan sebagainya.

8. Pelajarilah UU Perlindungan Konsumen

Apabila Anda sudah terlanjur bertansaksi online dan ternyata tertipu jangan takut untuk mulai membaca dan mengerti akan beberapa Undang-Undang yang mengatur akan perdagangan/jual beli online. Yang terbaru adalah UU No. 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan. Di mana dalam aturan ini, pelaku e-commerce dapat dipidana 12 tahun penjara dan/atau denda Rp 12 miliar bila terbukti melakukan penipuan. 

-----

Telah terdaftar sebagai member website "AnRmart.com"
Telah liked dan Followed Facebook fanspage "AnRmart.com"
Telah bergabung dengan group Facebook "Pena Mata Kata"

Saturday, August 30, 2014

AirAsia Indonesia: Bukan Sembarang Maskapai Penerbangan Hemat Biasa?

AirAsia Maskapai Penerbangan Berbiaya Hemat dan Inovatif. Sumber: @AirAsiaId

Jujur saja saat yang lain sudah pernah bahkan berkali-kali bepergian dengan AirAsia saya sendiri malah belum pernah. Saya mencoba mengikuti Kompetisi 10 Tahun AirAsia Indonesia ini karena berkeinginan untuk bisa terbang dengan maskapai yang katanya terbaik di kelasnya untuk kategori low cost carrier.

Untuk itu saya melakukan beberapa studi literatur yang membawa saya pada beberapa fakta yang cukup mengejutkan, bahwa AirAsia adalah maskapai penerbangan berbiaya hemat terbaik di dunia dan maskapai penerbangan berbiaya hemat terbaik di Asia selama 6 tahun berturut-turut (travel.kompas.com, 16/07/2014).

AirAsia Maskapai Penerbangan Berbiaya Hemat Terbaik di Dunia 6 Tahun Berturut-Turut. Sumber: http://news.btrav.biz/2014/07/6-tahun-beruntun-airasia-jadi-maskapai-berbiaya-hemat-terbaik-di-dunia/


Mengutip dari finance.detik.com kunci keberhasilan AirAsia adalah inovasi dan sumber daya manusia menurut CEO AirAsia Group, Tony Fernandes, di Farnborough International Airshow di London, Inggris (17/07/2014).

Saya setuju dengan pernyataan tersebut, bagaimanapun juga dibutuhkan orang-orang yang tepat untuk terus berinovasi. Apalagi di dalam indutri yang keras seperti penerbangan, inovasi adalah hal yang sangat berharga.

Mengutip dari bisnis.news.viva.co.id pernyataan pengamat penerbangan Indonesia yang juga merupakan mantan pilot, Alvin Lie, persaingan maskapai LCC (Low Cost Carrier) di Indonesia sebetulnya tidak terkait sepenuhnya dengan harga tiket murah (20/09/12).

Dari tiga maskapai LCC lainnya, AirAsia dipandang unggul dalam hal pelayanan bagi para penumpangnya. Selain menawarkan saran angkutan udara, AirAsia juga sudah melangkah jauh lewat kerja samanya dengan hotel. Ditambah lagi tak hanya itu, AirAsia juga unggul dalam penawaran program-program khuss seperti paket liburan.

Selain itu menurut Imron Fadil Siregar, Director Operational AirAsia Indonesia saat wawancara dengan majalah marketplus.co.id menyebutkan bahwa faktor safety adalah hal lain yang menjadikan maskapai penerbangan AirAsia mampu merebut hati masyarakat Indonesia (17/09/2012).

AirAsia menerapkan kebijakan efisiensi dimana dengan konsep "hanya bayar apa yang dibutuhkan" jadi jika kita tidak ingin makan saat mengudara ya kita tidak perlu membeli makanan.

Ada beberapa hal yang secara pribadi ingin saya buktikan kebenarannya yakni:

1. Efektifitas. Banyak orang yang pernah menggunakan jasa penerbangan AirAsia Indonesia mengklaim bahwa mereka suka dengan inovasi teknologi AirAsia yang menyediakan fasilitas check-in manual dan cetak boarding pass melalui situs web, aplikasi, dan mesin kiosk yang mempermudah dan mempercepat proses check-in itu sendiri. Penumpang tentunya bisa dengan nyaman dan cepat melakukan proses check-in secara mandiri tanpa harus mengantri lama di counter.

2. Ketepatan Waktu Terbang. Adalah hal lain yang sejujurnya membuat saya penasaran. Maklum saya sering menggunakan maskapai penerbangan lokal lainnya dan hampir selalu terlambat. Meski berbiaya rendah, kabarnya bukan berarti kualitas layanan AirAsia ikut rendah.

3. Pelayanan On Board dari para pramugari dan pramugaranya yang baik, tersenyum dan sigap. Saat saya menuliskan ini saya ingat dengan salah satu kualitas yang dipentingkan oleh maskapai-maskapai kelas internasional.

4. Makanan yang terbilang enak. Saya termasuk orang yang cukup selektif apabila berbicara tentang enak dan tidak enaknya makanan dalam satu travelling. Dari yang saya baca dan dengar para penumpang menyatakan mereka puas dengan rasa dan walau kadang tampilannya agak berbeda dengan brosur, menunya bermacam-macam dan menyesuaikan dengan tujuan penerbangan.

5. Hiburan. Kabarnya, majalah penerbangan Travel 3Sixty menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Mudah-mudahan bukan seperti majalah penerbangan maskapai lain yang jarang up date dan hanya menjadi keharusan ada di bangku penumpang.

Untuk saat ini saya memang belum bisa ikut terbang bersama AirAsia Indonesia. Namun demikian mudah-mudahan suatu saat nanti beberapa hal kelebihan AirAsia sebagai penerbangan hemat dan yang telah menyabet gelar "World's Best Low Cost Airline" dari Skytrax sebanyak 6 kali berturut-turut dapat juga saya buktikan kebenarannya.

Semoga impian dari CEO AirAsia Group, Tony Fernandes bahwa "now everyone can fly" betul-betul dapat saya dan orang lain rasakan dan menikmatinya pula.

Selamat ulang tahun ke-10, AirAsia Indonesia. Terima kasih.


-----
Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia https://www.facebook.com/notes/airasiaindonesia/kompetisi-blog-10-tahun-airasia-indonesia/810741058958974#


Banner Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia https://www.facebook.com/notes/airasiaindonesia/kompetisi-blog-10-tahun-airasia-indonesia/
Followed Twitter @AirAsiaId
Followed Twitter @TrinityTraveler
Followed Facebook www.facebook.com/AirAsiaIndonesia

Followed Facebook www.facebook.com/TrinityTraveler

Kuis Menulis Gagasan Pariwisata Sapta Nirwandar

Yth. Bpk. DR. H. Sapta Nirwandar, SE
Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia


Dengan hormat,

Pariwisata apapun jenis dan namanya, hendaknya dapat dibangun dan dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Singkatnya ada 15 (lima belas) hal yang harus diutamakan oleh Kemenparekraf RI untuk mengembangkan sektor pariwisata Indonesia:

1. Memperbaiki infrastruktur
2. Memperbaiki konektivitas
3. Perbaikan tempat-tempat pariwisata
4. Pengembangan SDM
5. Melibatkan masyarakat lokal
6. Mementingkan keseimbangan antara kebutuhan wisatwan dan masyarakat
7. Melibatkan para pemangku kepentingan
8. Kemudahan bagi para pengusaha lokal
9. Membangkitkan bisnis lainnya
10. Mementingkan masyarakat lokal sebagai kreator atraksi wisata
11. Mementingkan prinsip optimalisasi
12. Monitoring dan evaluasi secara periodik
13. Keterbukaan terhadap penggunaan sumber daya
14. Melakukan program peningkatan sumber daya manusia
15. Kualitas hidup, pengalaman dan keuntungan

Pembangunan wisata kota adalah pembangunan yang holistik dan terintegrasi, bisa jadi terjadi integrasi pengelolaan, pembangunan, dan tentunya integrasi manfaat yang pada akhirnya berujung pada terwujudnya tiga kualitas yakni pariwisata harus mampu mewujudkan kualitas hidup ”quality of life” masyarakat lokal, sisi yang lainnya pariwisata harus mampu memberikan kualitas berusaha ”quality of opportunity” kepada para penyedia jasa dalam industri pariwisata dan sisi berikutnya dan menjadi yang terpenting adalah terciptanya kualitas pengalaman wisatawan ”quality of experience”.

Terima kasih.


-----
Tulisan ini disertakan dalam Kuis Menulis Gagasan Pariwisata Sapta Nirwandar: !Sampaikan Gagasanmu  https://www.facebook.com/saptanirwandarpage/posts/1464329607184773?notif_t=like.

Banner Kuis Menulis Gagasan Pariwisata Sapta Nirwandar
Follow Twitter @sapta​_nirwandar
Follow Page www.facebook.com/saptanirwandarpage
Pemenang Gagasan Pariwisata 03/09/14 https://www.facebook.com/saptanirwandarpage
Paket Buku Tourism Marketing 3.0 telah sampai dengan baik 12/09/14
Paket Buku Tourism Marketing 3.0 dengan tanda tangan langsung Bpk. DR. H. Sapta Nirwandar, SE

Thursday, August 28, 2014

Implementasi Kurikulum 2013: Quo Vadis Pendidikan Indonesia

Seorang siswa mengacungkan tangan saat guru berikan pertanyaan dengan mengunakan buku kurikulum baru yang difotocopy di sekolah SD 01 Menteng Jakarta, 14 Agustus 2014.TEMPO/Dasril Roszandi. Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2014/08/15/079599952/Penambahan-Jam-Belajar-di-Kurikulum-2013-Keliru 

Pendahuluan: Dalam publikasi resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/siaranpers/2982 dan akun Facebook milik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI https://www.facebook.com/Kemdikbud.RI tertanggal 15 Agustus 2014, Menteri Pendidkan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh mengatakan alasan penambahan jam belajar di sekolah adalah untuk menaikkan kualitas pendidikan. Selama di sekolah, dengan kegiatan yang terkontrol dengan baik, pengetahuan siswa akan bertambah banyak.

Penambahan jam pelajaran sebagai salah satu dampak penerapan struktur Kurikulum 2013 ditegaskan oleh Mendikbud seyogianya tidak untuk membebani siswa, tidak membawa konsekuensi penambahan biaya bahkan dengan kebijakan tersebut sekaligus bisa menyelesaikan keluhan guru yang kekurangan jam belajar (dikutip pula oleh edukasi.kompas.com, 15/8).

Seperti yang telah diketahui bersama, Kurikulum 2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter adalah kurikulum baru yang dicetuskan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum 2013 merupakan sebuah kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan karakter, siswa dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun yang tinggi (http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum _2013).

Dalam penerapan struktur Kurikulum 2013 ini terjadi penambahan jam belajar sebagai berikut SD/MI naik menjadi 30-36 jam.SMP/MTS naik menjadi 38 jam, SMA naik sebanyak 24 jam pada kelompok mata pelajaran wajib dan kelompok peminatan, dan SMK baik sebanyak 26 jam. Penambahan jam belajar 4-6 jam per minggu ini jika dibagi rata adalah 35-46 menit per hari, dengan asumsi satu jam pelajaran adalah 45 menit, bukan 60 menit.

***

Kemendikbud sendiri kembali mennyampaikan dalam publikasi resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI  http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/node/3043 serta dalam akun Facebook milik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI https://www.facebook.com/Kemdikbud.RI tertanggal 21 Agustus 2014, tidak menetapkan jumlah hari dalam proses pembelajaran di sekolah. Pengimplementasian jumlah hari dalam proses pembelajaran di sekolah sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah daerah disesuaikan dengan penambahan jumlah jam belajar yang telah ditetapkan oleh Kemdikbud 4-6 jam per minggu.

Berbagai reaksi bermunculan atas kebijakan penerapan Kurikulum 2013 ini. Menurut pengamat pendidikan Jimmy Paat mengatakan bahwa penambahan jam pelajaran dalam Kurikulum 2013 adalah keliru. Hal senada disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Forum Serikat Guru Indonesia, Retno Listyarti yang manambahkan bahwa penambahan jam pelajaran akan membuat daya serap siswa berkurang (Tempo, 15/8).

Walau tidak menetapkan jumlah hari dalam proses pembelajaran sekolah tak ayal kebijakan menambahan jam pelajaran dirasa memberatkan guru, siswa, dan orang tua siswa. Kepala Sekolah SMA Negeri 48 Jakarta, Markorijasti, mengatakan orang tua siswa membutuhkan biaya tambahan untuk anak-anaknya. Sementara pihak sekolah sendiri membutuhkan tambahan biaya operasional (Tempo, 15/8).

Farabi, siswa kelas VII SMP Negeri 161 Jakarta Selatan mengutarakan bahwa pelajaran lebih susah karena harus aktif, tetapi buku-bukunya belum juga ada. Belum tersedianya buku berakibat murid tidak mengetahui materi apa yang akan dipelajari di kelas. Kesulitan ini berlanjut di rumah karena tidak ada buku yang bisa digunakan untuk belajar. Hal senada diungkapkan pula oleh Hadi Utomo, Wakil Kepala SMP Negeri 161 yang mengatakan bahwa guru-guru harus berkreasi sambil menunggu buku paket datang yang belum (Tempo, 14/8).

***

Sekolah berasal dari bahasa Yunani dan latin yakni skhole, scola, scolae, atau schola, yang semua kata tersebut merupakan akar kata school dalam bahasa Inggrs yang berarti sama. Skhole, scola, scolae atau schola sebenarnya merupakan aktivitas orang Yunani tempo dulu yang biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau orang pandai tertentu untuk menanyakan dan mempelajari hal-hal penting untuk dipelajari. Mereka butuh waktu untuk mencerna dan memahami dan menyebut kegiatan itu dengan istilah-istilah tersebut di atas. Semuanya berarti sama, waktu luang yang digunakan khusus untuk belajar (leisure devoted to learning).

Sampai pada hari ini dengan fenomena implementasi Kurikulum 2013 apakah makna sekolah dan belajar sudah menjadi suatu kesenangan? Tentu saja tidak. Bagi sebagian murid, pelajar maupun siswa, sekolah dan belajar malah menjadi momok. Pergi ke sekolah akhirnya menjadi sebuah ketepaksaan. Itulah sebabnya mengapa dulu banyak anak usia sekolah akan sangat senang jika tidak harus bersekolah atau bertemu dengan banyak hari libur.

Sekolah harusnya bisa menjadi tempat di mana semua peserta didik merasa nyaman untuk mendapatkan pendidikan. Sekolah seharusnya tidak hanya dipahami sebagai bangunan atau lembaga yang kaku berikut dengan kebijakan-kebijakan kurikulumnya, melainkan sebuah sistem terintegrasi antara tempat belajar, waktu belajar dan proses belajar mengajar yang nyaman dan menyenangkan.

Sekolah mestinya menjadi tempat yang menyenangkan, dimana para murid maupun siswa sebagai peserta duduk merasa butuh dan perlu untuk belajar sesuatu yang akan mereka gunakan, mereka aplikasikan, dan mereka implementasikan dalam kehidupan mereka suatu saat nanti. Mereka yang akan dengan senang hari berangkat ke sekolah pada pagi hari, dengan riang mengerjakan tugas yang diberikan kepada mereka karena itu penting bagi mereka.


***
Penerapan Kurikulum 2013 yang sudah dimulai pada hari Jumat, 15 Agustus 2014 secara serentak saat seluruh siswa dan siswi masuk sekolah hari pertama masih mengundang banyak tanda tanya saat di lapangan dijumpai lebih banyak ketidaksiapan ketimbang kesiapan dari berbagai pihak untuk mendukung keberlangsungan kebijakan ini.
Dari target yang tercatat ada 1,3 juta guru yang akan mendapat pelatihan implementasi Kurikulum 2013 dan pembekalan tersebut dijadwalkan akan selesai pada 28 Juni 2014 (Tempo, 30/5) pada kenyataannya masih ada 200 ribu guru yang masih belum mendapatkan pelatihan pelaksanaan Kurikulum 2013. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad mengatakan alasan sejumlah guru yang belum mendapatkan pelatihan karena adanya agenda keluarga atau sakit. Namun mereka akan tetap diberi pengarahan dan bakal tetap disusulkan pelatihannya (Tempo, 10/7).

Mengutip penjelasan Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia Retno Listyarti (26/8) pemahaman guru terkait implementasi Kurikulum 2013 sendiri masih sangat lemah. Hal ini karena banyak instruktur tak menguasai materi saat penyelenggaraan pelatihan tiga hari Kurikulum 2013. Ketidakpahaman peserta yakni guru, membuat mereka menggunakan paradigma lama mengajar yakni guru sebagai penceramah bagi murid. Akibatnya karena gagal paham, banyak murid yang akhirnya terbebani tugas yang begitu banyak (Kompas, 27/8).

Untuk percetakan dan pendistribusian buku Kurikulum 2013 sendiri diperkirakan tak akan selesai dalam waktu dekat. Mengutip pernyataan Ketua Pokja Buku Kurikulum 2013 Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa (LKPP) Yulianto mengatakan bahwa distribusi itu baru akan selesai pada September 2014 mendatang (Tempo, 13/8). Mendikbud sendiri beralasan keterlambatan terjadi karena adanya libur sekolah. Akibatnya di sejumlah sekolah sendiri akhirnya terpaksa menggunakan buku hasil fotocopy-an para guru (Tempo, 15/8).

***
Pada akhirnya Kurikulum 2013 yang ditelah diterapkan pada 2014 dinilai terlalu dipaksakan, tergesa-gesa, responsif namun tidak solutif. Penambahan jam pelajaran yang diterapkan tidak serta-merta akan membuat siswa mendapat pengetahuan lebih banyak. Penambahan jam pelajaran pun akan membuat daya serap siswa akan materi pelajaran berkurang kalau belajar terlalu lama.
Di Singapura, para siswa hanya belajar selama 196 hari selama satu tahun. Di Finlandia, siswa hanya belajar selama 192 hari dalam setahun. Sedangkan di Indonesia, para siswa bisa menghabiskan 300 hari per tahun untuk belajar di sekolah (Sekretaris Jenderal Forum Serikat Guru Indonesia Retno Listyarti dalam Tempo, 15/8). Itu belum dihitung saat Indonesia kini telah menerapkan kebijakan Kurikulum 2013. Bisa dibayangkan bagaiaman lelahnya para peserta didik dengan kondisi tersebut.

Pernyataan penambahan jam pelajaran menurut Mendikbud, Mohammad Nuh yang mengacu pada tabel OECD 2012 sebelumnya tentang kebijakan penambahan jam belajar di sekolah negeri untuk usia 7-14 tahun bahwa dikarenakan jumlah jam belajar peserta di Indonesia masih di bawah rata-rata negara maju lainnya tidak tepat. Tidak ada korelasi langsung antara jumlah jam pelajaran dengan kualitas pendidikan di suatu negara.

Pemerintah seyogianya harus melengkapi segala kekurangannya terlebih dahulu dan sebaiknya perlu dilakukan adanya uji coba pada beberapa sekolah sebagai sampel. Perlu ada kesesuaian juga antara pelajaran di sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Karena pelaksanaan Kurikulum 2013 bertujuan untuk mengembangkan daya nalar siswa. Jangan sampai pelajaran di SD di pelajari lagi saat di SMP maupun SMA dan sebaliknya. Kurikulum 2013 memang memiliki konsep bagus dan tujuan yang mulia namun tanpa respon positif dari masyarakat maka semuanya akan menjadi sia-sia belaka.

----
Riwayat Hidup: Yose Rizal Triarto, S.Si., lahir di Cirebon, 5 Desember 1985. Alumnus Fisika F. MIPA UNDIP. Bekerja sebagai pengajar dan pengelola LBB+ Prestasi Utama Yogyakarta. No HP: 0812-8602-8958.

Tulisan ini disertakan sebagai follow up Kelas Menulis Dasar yang diselenggarakan oleh Impulse (Institutes for Multiculturalism and Pluralism Studies) Yogyakarta 15 Agustus 2014.

Tuesday, August 26, 2014

Pembatasan Subsidi BBM Responsif Tidak Solutif


SPBU Gambiran No. 44 551 05 Kel. Gambiran Kec. Umbulharjo Yogyakarta

Selasa, 26 Agustus 2014 pagi hari pukul 07.55 WIB sudah terlihat antrian panjang puluhan pengguna motor dan mobil di kawasan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU)  Gambiran, Umbulharjo, Yogyakarta. Antrian ini sebenarnya terjadi sejak semalam. Fenomena antrian panjang para pengguna kendaraan beroda dua dan empat terjadi tidak hanya di kota Yogyakarta namun di kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Menurut salah satu warga Yogyakarta, Ratri Hapsari (Wiraswasta, 27 tahun) mengatakan bahwa fenomena antrian panjang di SPBU selalu muncul tiap kali ada berita adanya kenaikan harga BBM maupun isu kelangkaan BBM. Namun demikian menurutnya ikut mengantri panjang atau tidak itu adalah pilihan tiap anggota masyarakat. Toh hasilnya akan sama saja jikalau harga BBM benar-benar naik atau bahkan langka sekalipun. Masih banyak hal produktif lainnya yang bisa dikerjakan tegasnya.
Seperti telah diketahui bersama sejak Senin, 18 Agustus 2014 Pertamina telah memberlakukan pengurangan jatah penjualan solar dan premium bersubsidi. Idealnya seperti yang telah disampaikan oleh Direktur Niaga dan Pemasaran PT. Pertamina (Persero) Hanung Budya tidak ada kelangkaan BBM bersubsidi (MetroTV, 25/8). Namun pada kenyataannya masyarakat yang panik berbondong-bondong membeli BBM jenis solar dan premium dalam jumlah besar dan pada waktu bersamaan sehingga mengakibatkan sejumlah SPBU mengalami kehabisan BBM jenis premium dan solar sejak Minggu, 24 Agustus 2014 yang lalu (Antara, 25/8).
Pertamina sendiri menghimbau agar masyarakat tidak panik menghadapi hal ini dan meminta agar masyarakat mampu untuk segera berpindah ke BBM non subsidi. Namun demikian pemotongan jatah harian dan pengurangan suplai BBM bersubsidi sebesar 5% untuk premium dan 15-20% untuk solar di seluruh SPBU di Indonesia sebagaimana dijelaskan oleh Ketua DPP bidang SPBU Hiswana Migas, Mohamad Ismeth (Republika Online, 25/8) tidak bisa dipungkiri lagi telah mengakibatkan kenaikan permintaan solar dan premium serta mengakibatkan kelangkaan yang tampaknya akan terus terjadi apabila belum ada kejelasan kebijakan BBM dari pemerintah.
            Di kalangan masyarakat jamak dijumpai fenomena antrian panjang di SPBU-SPBU yang pada umumnya adalah respon langsung akan wacana kenaikan harga BBM atau pembatasan jumlah BBM yang ada. Masyarakat terbiasa untuk segera mencari dan membeli BBM yang ada dengan pemikiran kapan lagi sebelum harga naik atau barang tidak ada. Padahal suka tidak suka jika wacana pengurangan jatah BBM sepihak tadi terus diberlakukan apalah daya masyarakat sebagai pihak konsumen untuk menghentikannya. Di lain pihak pemerintah dan dalam hal ini Pertamina dirasa tidak atau belum memberikan jawaban solutif atas fenomena antrian panjang dan kelangkaan BBM di sejumlah SPBU.

Responsif Tidak Solutif

            Melihat fakta tidak berlebihan jika kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang terjadi di beberapa daerah adalah sebagai hasil implementasi kebijakan kementrian ESDM yang responsif namun tidak solutif.
            Imbauan menteri ESDM Jero Wacik dalam keterangan pers di kementrian ESDM, Selasa (5/8) agar masyarakat tidak usah resah dan pertimbangan alasan pengendalian BBM bersubsidi antara lain disebabkan oleh pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, yang menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) dalam 3 tahun terakhir terus mengalami peningkatan yang signifikan, tidak memberikan satu jawaban yang pasti akan kondisi saat ini.
            Sangat disayangkan baik Kementrian ESDM, Pertamina maupun pemerintah sendiri sebagai pihak terkait juga tidak melihat bertambahnya penjualan kendaraan bermotor itu berkorelasi dengan mudahnya mengambil kredit motor dan mobil. Daya beli masyarakat terhadap mobil dan motor akan semakin tinggi.
Untuk saat ini, idealnya kebijakan pemberian bahan bakar bersubsidi diprioritaskan bagi kendaraan umum. Sebaliknya subsidi BBM untuk kendaraan pribadi semestinya yang dihapus. Dengan alasan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi untuk angkutan umum berdampak sangat besar bagi angkutan umum yang beroperasi 24 jam.

----
Riwayat Hidup: Yose Rizal Triarto, S.Si., lahir di Cirebon, 5 Desember 1985. Alumnus Fisika F. MIPA UNDIP. Bekerja sebagai pengajar dan pengelola LBB+ Prestasi Utama Yogyakarta. No HP: 0812-8602-8958.

Tuesday, August 19, 2014

Kemerdekaan: Kebersamaan Dalam Perbedaan


Judul: 'Kemerdekaan: Kebersamaan Dalam Perbedaan', Foto oleh: Yose Rizal Triarto, diambil tgl 17 Agustus 2014.

Kemerdekaan bukan hanya milik segelintir orang saja. Kemerdekaan tidak hanya dipahami dengan lomba, upacara, dan rutininas tahunan belaka. Kemerdekaan tidak harus dirayakan dengan baju  mewah dan hura-hura. Kemerdekaan berarti mengajak anak menyusuri jalan-jalan kota, menikmati kegembiraan dengan teman dan saudara. Kemerdekaan berarti merayakan kebersamaan dalam perbedaan.

Semangat kemerdekaan adalah semangat kebersamaan dalam perbedaan. Merah putih adalah milik kita bersama.

Merdekaaaaaaaa!

#GolokalPhotoContest1


---
Keterangan foto: foto komunitas vespa dalam acara Kirab Putih Indonesia Bandung Raya dalam rangka HUT RI-69 di depan Gedung Sate Bandung Jawa Barat, 17 Agustus 2014 pukul 11.13 WIB. Dimensi foto: 3224 x 2304 pixels. Resolusi horizontal dan vertikal: 72 x 72 dpi. Kamera: Canon EOS 550D.


E-Sertifikat #GolokalPhotoContest1 "Bingkai Kemerdekaan"

Saturday, August 16, 2014

Rekonstruksi Paradigma Preventif: Perenungan Edukasi Kebencanaan Indonesia

Sudah menjadi kesadaran umum dan kenyataan bersama bahwa negara Indonesia memang berada dalam berbagai potensi ancaman bencana alam. Hal ini tidak terlepas dari posisi Indonesia yang secara geografis dan geologis memang rentan terhadap bencana alam. Fakta-fakta selama ini menunjukkan bahwa datangnya bencana justru pada masih banyaknya tempat-tempat yang secara struktur kemasyarakatan tidak siap dan tidak disiapkan untuk menghadapi bencana tersebut.

Paradigma lama sebelum disahkannya UU No 24 Tahun 2007 perihal penanggulangan bencana adalah masih terlihat bahwa penanggulangan bencana hanya dilakukan pada saat bencana tersebut terjadi (responsif) seperti yang umumnya dilakukan oleh Bakornas PB di tingkat Pusat, Satkorlak PB di tingkat Provinsi, dan Satlak di tingkat Kabupaten/Kota. Seiring dengan diterbitkannya UU tersebut masyarakat kini mengetahui bahwa di dalam penanggulangan bencana ada tiga tahapan, yakni pra bencana (preventif), tanggap darurat (responsif), dan pasca bencana. Tak ketinggalan pula lembaga-lembaga yang telah dibentuk dan diharapkan dapat bertanggung jawab penuh dalam penanggulangannnya yakni BNPB di tingkat Pusat dan BPBD di tingkat Provinsi/Kabupaten/Kota.

Walaupun demikian nampaknya manajemen penanganan bencana masih bersifat konvensional dengan fokus penanganan lebih bersifat kebantuan dan kedaruratan, masih bersikap setelah adanya kejadian, ketimbang apa yang lebih penting yakni memperkecil faktor risiko pada bencana yang mungkin akan datang. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang pada umumnya diterapkan mulai dari pusat, provinsi, dan kabupaten/kota yaitu menjauhkan masyarakat dari bencana, menjauhkan bencana dari masyarakat, dan hidup berdampingan secara harmonis dengan bencana sepintas tampaknya memang betul namun tidak bisa dikatakan tepat dan bermanfaat.

Disadari atau tidak tiga filosofis pembangunan penanggulangan bencana alam di atas seperti yang dikutip dari Kepala BNPB, Sri Mulyadi dalam kolom Wacana berjudul Kebijakan Berisiko Bencana di Harian Suara Merdeka (Selasa, 22 Oktober 2013) tersebut memang bisa diterima oleh logika dan bisa dilakukan namun demikian pelaksanaannya tidaklah selalu menguntungkan dan tepat guna namun dapat mengundang atau mendatangkan risiko bencana lain dalam bentuk yang lebih luas.

Mengutip dari UNISDR, sebuah Badan PBB untuk Strategi Internasional bagi Pengurangan Bencana, bencana disebutkan sebagai gangguan serius pada berfungsinya komunitas atau masyarakat disertai kehilangan dan dampak yang luas terhadap manusia, materi, ekonomi, atau lingkungan; yang melampaui kemampuan komunitas atau masyarakat terdampak untuk mengatasinya menggunakan sumber daya yang dimiliki. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri bencana diartikan sebagai sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan; kecelakaan; bahaya. 

***

Jika memang negara Indonesia ini ada dan hidup di atas tanah bencana pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana beradaptasi terhadap bencana itu sendiri? Jawaban pertanyaan tadi telah menghasilkan banyak perdebatan tentang cara pandang manajemen penanganan bencana. Manusia sendiri sebagai mahkluk sosial dituntut untuk terus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan beragam masalah-masalah dalam hidupnya, termasuk bagaimana menyesuaikan diri dengan bencana agar efek merugikannya tidaklah terlalu besar.

Kemampuan beradaptasi harus selalu dimulai dari cara memandang atau paradigma akan bencana itu sendiri. Masalahnya, tidak hanya soal filosofis penanggulangan kebencanaan menurut pemerintah yang pada pelaksanaannya terkadang masih simpang siur dan belum tepat guna, cara pandang masyarakat sendiri akan bencana masih bersifat responsif seperti bencana adalah bagian dari takdir, nasib, bahkan hukuman Tuhan atas doa. Sehingga dengan demikian bukannya ancaman bencana itu yang diantisipasi, tetapi yang adalah domain moral, perilaku manusia di luar bencana itu sendiri yang semakin dibatasi dan diatur.

Tentu telah diketahui bersama pada saat ini penanggulangan bencana di berbagai negara (Indonesia juga telah memulai) telah beralih dan mengalami perkembangan paradigma dari bantuan darurat menuju mitigasi atau preventif dan pembangunan, dari responsif (ada pula yang menggunakan istilah represif seperti yang biasa digunakan dalam bahasa kemiliteran) penanggulangan bencana secara konvensional menjadi holistik, dari menangani dampak menjadi mengelola risiko, dari sentralitas ke desentralitas, dari urusan pemerintah semata menjadi urusan bersama pemerintah dan masyarakat, dan dari sektoral menjadi multisektoral.

Di Indonesia sendiri ada ketertinggalan dalam kurun waktu sekitar dua dekade dalam hal paradigma saja. Paradigma pengurangan risiko terutama yang dianut negara maju menjadikan masyarakat sebagai subyek dalam penanganan bencana. Setiap individu dalam komunitas diperkenalkan dengan berbagai ancaman di wilayahnya, cara mengurangi ancaman dan kerentanan, serta meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi setiap ancaman.

Mengutip dari Victor Rembeth dari Yayasan Tanggul Bencana di Indonesia, seharusnya Indonesia tidak lagi melakukan manajemen bencana yang hanya bertugas pada masa kedaruratan, tetapi harus diintegrasi dalam sistem perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Kehadiran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di tingkat nasional dan pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di lokasi rawan bencana harus turut menjadi prioritas dalam perencanaan dan implementasi pembangunan. Pada kenyataannya belum sampai sepertiga kabupaten di Indonesia memiliki BPBD.

Ketiga filosofis penanggulangan bencana sebagaimana disebutkan di awal oleh Ketua BNPB, Sri Mulyadi yaitu menjauhkan masyarakat dari bencana, menjauhkan bencana dari masyarakat, dan hidup berdampingan secara harmonis dengan bencana, pada dasarnya merupakan perwujudan paradigma responsif ke preventif, dari menangani dampak menjadi mengelola risiko. Walaupun hematnya penggunaan istilah ancaman bencana akan lebih tepat jika digunakan karena memiliki pengertian yang sudah sangat berbeda.

***

Indonesia juga perlu belajar dan mencontoh pada beberapa negara tetangga akan konsep pengintegrasian sistem penanganan dan penanggulangan bencana dengan pembangunan kesadaran dan pengetahuan bersama terhadap bencana yang mengincar daerahnya. Sebagai contoh di beberapa negara Asia, antara lain China, pembangunan dalam kerangka penanggulangan bencana dikaitkan dengan aplikasi pengetahuan dan pemahaman teknis, pembangunan kesadaran publik akan pengurangan dampak bencana dan membangun koordinasi yang efektif antar instansi.

Jepang sendiri yang terkenal dengan ancaman gempa tektonik memiliki rencana dasar nasional yang dipayungi undang-undang untuk menanggulangi bencana. Pusat manajemen bencana ditangani langsung oleh pemerintah pusat. Sementara di beberapa negara maju lainnya, seperti Singapura dan Korea Selatan, penanganan bencana nasional dilakukan di tingkat kementrian dan institusi kepolisian. Kesiagaan nasional telah tersirat kuat meskipun ancaman bencana alam tidaklah sebesar dan sesering di Indonesia.

Menilik pada kondisi Indonesia saat ini sebenarnya daerah-daerah rawan bencana di seluruh Indonesia telah cukup dipetakan. Semisal, ada sembilan daerah di Indonesia yang dinilai tidak siap akan menghadapi bahaya gempa bumi, banjir, dan tanah longsor, yaitu Kabupaten Aceh Besar, Kota Padang, Kota Bengkulu, Kabupaten Serang, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Ternate, Kota Maumere, Kabupaten Biak, dan Kota Pariaman (Kompas, 15 Juli 2010).

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai upaya solutif akan kebencanaan yang sering melanda negeri ini. Mengutip pernyataan dari Bekri Beck, salah seorang dosen pascasarjana Manajemen Penanggulangan Bencana Universitas Tarumanegara, bahwa langkah regionalisasi daerah bencana dan penetapan suatu daerah menjadi wilayah basis yang memungkinkan pencapaian lokasi bencana serta pemberian bantuan terhadap korban dengan cepat dapat dimulai dengan menentukan 12 atau 20 kota yang relatif strategis menjadi “pusat pertolongan”. Dalam kawasan lima hektar di kota-kota tersebut hendaknya didirikan gedung yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan, peralatan medis dan komunikasi, serta alat transportasi yang dibutuhkan segera dalam penanganan awal bencana. Dengan demikian pertolongan awal tidak lagi harus menunggu pengiriman bantuan dari pusat.

Tentunya dibutuhkan ketersediaan dana dan transparansi penggunaan dana tersebut. Sudah diketahui bersama meskipun di atas kertas dana dinyatakan tersedia namun kenyataannya bisa sangat berbeda. Selain pencairannnya melalui proses birokrasi berbelit, tak jarang dana bisa beralih fungsi. Paradigma preventif juga perlu diterapkan oleh masyarakat dan pemerintah dalam kesiapan dana penanggulangan bencana yang sudah saatnya diantisipasi dengan model asuransi bencana. Pemerintah dapat memberi premi bencana kepada konsorsium perusahaan asuransi yang kredibel dan mampu mengelola premi bencana serta mampu menyiapkan pula dana saat bencana terjadi dengan segera, tidak berbelit dan rumit. Agar dana bencana lebih terjamin, dana asuransi itu dapat diasuransikan kembali ke perusahaan asuransi lain di luar negeri.

***

Sejalan dengan paradigma preventif penanggulangan bencana terkini, perlu diupayakan desentraliasi penyelenggaraan penanggulangan bencana sebagai salah satu solusi lainnya. Pada prinsipnya tentu harus ada kejelasan dalam pembagian penanggulangan bencana antar instansi pemerintahan yang berkaitan, sumber pembiayaan yang memadai untuk melaksanakan kewenangan, dan upaya untuk terus memberdayakan masyarakat dan dunia usaha.

Terkait dengan alternatif solusi lainnya yakni usulan memasukkan mata pelajaran bencana alam sebagai kurikulum khusus agar pemahaman, kesadaran dan pengetahuan terhadap bencana alam seyogyianya dipahami sebagai langkah awal agar pendidikan kebencanaan bisa dimengerti oleh anak-anak/masyarakat Indonesia sejak dini. Harapannya adalah pembelajaran akan bencana alam tidak lagi dipahami sebagai takdir dan momok menakutkan belaka namun agar sejak sedari awal generasi cikal bakal pemimpin bangsa di masa depan ini memiliki pemahaman, mentalitas dan paradigma yang baik dan komprehensif dalam memaknai kebencanaan.

Merubah paradigma lama dalam penanggulangan bencana memang bukan hal yang mudah dan tentunya masih harus menempuh jalan yang panjang. Kebijakan-kebijakan pemerintah dan beragam badan bentukan hanya akan menjadi jargon-jargon kosong yang tidak bermakna apabila tidak ada langkah nyata dan sikap peduli mulai saat ini. Pada akhirnya, pedagogi reflektif kebencanaan berupa konteks-pengalaman-refleksi-aksi-evaluasi baik dalam lingkungan yang sempit (interaksi dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) maupun lingkungan yang luas (interaksi berbangsa dan bernegara) diharapkan dapat membawa masyarakat dan bangsa Indonesia yang mengalami dan menempuh dinamika pembelajaran hidup,  menjadi pribadi yang lebih tangguh, berkembang dan mandiri. 

---

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kebencanaan TDMRC 2014 bertema "Berdamai dengan Bencana" dengan kategori menulis di blog untuk mahasiswa dan umum.


Banner Lomba Menulis TDMRC 2014. Sumber: http://www.tdmrc.org/id/lomba-menulis-kebencanaan

Thursday, August 14, 2014

Menggenggam Harapan Menggapai Impian

Menarik apabila kita memperhatikan beberapa arti dari kata harapan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia yakni, “sesuatu yang (dapat) diharapkan (nomina), keinginan supaya menjadi kenyataan (nomina) dan orang yang diharapkan atau dipercaya (nomina)”. Dengan berbekal harapan inilah tiap manusia terus berjuang dan melanjutkan hidupnya. Dengan bermodal harapan jugalah dilaksanakan pemilu presiden (pilpres) pada 9 April 2014 yang lalu.

Namun agaknya makna harapan yang selama ini kita kenal mungkin perlu sedikit dikoreksi. Kenyataan seringkali tidak seindah yang diharapkan. Mengapa demikian? Apakah karena kita kurang kuat berjuang dan berusaha? Atau mungkin dalam langkah-langkah proses untuk menggenggam harapan dan menggapai impian tersebut kita telah melupakan makna sejati dari harapan?

Alkisah ketika “musuhnya” yakni Ibnu Makhluf meninggal dunia, Ibnu Taimiyah (1263-1328) justru sangat berduka dan bersedih hati. Padahal sang murid, Ibnu Qoyyim (1292-1350) begitu senang saat menyampaikan kabar kematian itu kepada sang guru Ibnu Taimiyah. Alasannya karena pada saat masih hidup tokoh yang meninggal tersebut termasuk orang yang seringkali memfitnah dan menzalimi Ibnu Taimiyah.

Dulu karena perbuatan “musuhnya” ini, sang guru Ibnu Taimiyah harus meringkuk di dalam penjara di Damaskus. Mendapati kegirangan muridnya menyampaikan kabar kematian itu sang guru malah menghardik muridnya. Bagi Ibnu Taimiyah, kematian seorang “musuh” bukanlah suatu kegembiraan.

Alih-alih gembira, pemikir politik yang menulis buku as-Siyasah asy-Syar’iyyah itu justru malah berduka. Pemimpin pasukan yang ikut berperang melawan agresi tentara Tartar itu pun ikut melayat ke rumah duka, bertemu dengan keluarga Ibnu Makhluf. Bahkan di depan istri dan anak-anak “musuhnya” itu Ibnu Taimiyah mengatakan siap membantu keluarga itu. Tokoh besar itu kira-kira berucap begini, “Sekarang ini anggaplah saya seperti bapak bagi anda semua. Apabila kalian membutuhkan sesuatu jangan sungkan, saya akan berusaha memenuhinya”.

Begitulah diri Ibnu Taimiyah. Sejarah mencatat walaupun hidupnya menderita akbat fitnah, Ibnu Taimiyah tidak pernah sekalipun menumpuk dan membalaskan dendam kepada orang yang menzaliminya. Jiwa besar seorang Ibnu Taimiyah melampaui emosi, amarah, dengki, dan berbagai penyakit hati lainnya.

Ibnu Taimiyah menjadi salah satu contoh terbaik pada saat kita melewati masa Idul Fitri 1435 Hijriah. Inti pesan Idul Fitri itu tetap sama yakni memaafkan, membersihkan hati, dan membuang jauh-jauh dendam kesumat yang biasanya ada pada tiap-tiap manusia.

***

Pada tahun ini pun pesan Idul Fitri begitu penuh sarat makna. Apa sebabnya? Tentu saja bukan hanya secara personal tetapi juga terutama karena politik. Sebabnya pemilu presiden (pilpres) yang telah sukses digelar pada 9 Juli 2014, tepat pada bulan Ramadhan di tahun ini, tanpa bisa ditolak telah membagi dua masyarakat Indonesia secara diametral. Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kala, seperti tak ubahnya menggambarkan dua kutub keterbelahan itu. Seperti yang kita tahu bersama, adanya kampanye hitam, isu, fitnah, sepertinya sudah tak menghormati lagi kemuliaan bulan Ramadhan. Sayangnya pasca pilpres pun, ketika real count KPU sudah diumumkan, amarah dan emosi sepertinya tak begitu saja bisa lantas sirna.

Tentu sudah kita ketahui bersama-sama dari hasil rekapitulasi suara yang dilakukan oleh KPU dengan jelas menyatakan bahwa pasangan Jokowi-JK meraih 70.997.833 suara (53,15 persen) sedangkan pasangan Prabowo-Hatta meraih 62.576.444 suara (46,85 persen). Hasil real count KPU itu mirip dengan quick count hasil dari delapan lembaga survei yang kredibel di mata masyarakat, yakni SMRC, Indikator Politik Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia, RRI, Litbang Kompas, Poltracking Institute, CSIS-Cyrus, dan Populi Center, yang memenangkan pasangan Jokowi-JK. Hasil rekapitulasi KPU menjawab semua keraguan terhadap hasil hitung cepat tersebut.

Tetapi ada empat lembaga survei yang dengan berani telah menyebut pasangan Prabowo-Hatta unggul, yakni Puskaptis, Jaringan Suara Indonesia, Lembaga Survei Nasional, dan Indonesia Research Centre. Belakangan setelah hasil KPU diumumkan, beberapa lembaga survei tersebut mengakui adanya kesalahan dalam metode dan survei mereka. Hasil KPU juga menjadi pembuktian bahwa kebenaran ilmu (metode survei) tidak perlu lagi disangsikan. Hanya mereka yang mempunya kepentingan tertentu yang dengan tegas menolak ilmu pengetahuan. Mereka yang waktu itu tidak percaya hasil quick count terus meminta agar menunggu hasil real count yang dilakukan oleh KPU.

Walau demikian seperti yang telah kita saksikan bersama-sama, saat hasil real count KPU dilakukan, 22 Juli 2014, juga masih tetap tidak dipercaya. Pipres dinilai oleh kubu sebelah, ada kecurangan secara masif, sistematis, dan terstruktur. Kemenangan Jokowi-JK pun menjadi tertahan. Pada akhirnya kubu pasangan Prabowo-Hatta yang sebelumnya menarik diri dari proses penghitungan suara yang dilakukan KPU, kemudian mendaftarkan gugatan sengketa hasil pilpres ke Mahkamah Konstitusi (MK) pada Jumat (25/7) pekan lalu. MK akan menggelar sidang pada hari ini 6 Agustus 2014.

Harapan masyarakat bersama bahwa gugatan balik ke MK bukanlah dilandasi dengan nafsu syahwat ingin berkuasa tetapi lebih untuk menguji suatu kebenaran yang telah terjadi. Kekuasaan sebagai presiden atau pemimpin bangsa sejatinya adalah sebagai pelayan rakyat. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Bukan semata-mata karena ingin disanjung-sanjung tinggi, tetapi justru pemimpinlah yang harus menggendong rakyatnya. Tidak menuruti hawa nafsu.

***

Mengutip beberapa surat-surat politik Ali bin Abi Thalib (599-661), khalifah keempat dari zaman Khulafaur Rasyidin yang ditujukan kepada Muhammad Ibnu Abu Bakar, yang baru saja diangkat sebagai Gubernur Mesir tertulis, “Rendahkanlah diri anda. Hadapilah umat (rakyat) dengan ramah. Temuilah mereka dengan wajah berseri-seri. Berlakulah adil di antara mereka dalam segala hal, ...dan orang-orang miskin tidak menderita atau putus asa terhadap keadilan anda... Ketahuilah Muhammad Ibnu Abu Bakar, karena aku telah memberi anda kekuasaan untuk memerintah atas penduduk Mesir. Karenanya, anda dituntut untuk tidak menuruti hawa nafsu...”.

Dengan demikian kekuasaan bukanlah segala-galanya dan memang bukan akhir segalanya. Pemegang kuasa justru diharapkan bisa bertindak berdasarkan mandat yang telah diberikan rakyat bukan atas dasar kemauannya sendiri. Ahli politik Harold Lasswell (1902-1978) dan filsuf kenamaan Abraham Kaplan (1918-1993) menyatakan kekuasaan adalah suatu hubungan di mana seorang atau sekelompok orang dapat menentukan tindakan seseorang atau kelompok lain agar sesuai dengan tujuan dari pihak pertama. Dalam bahasa mereka, kekuasaan adalah bentuk partisipasi dalam membuat keputusan. Paksaan atau kekerasan bukanlah cara yang sah dalam demokrasi.

Ada beberapa harapan rakyat Indonesia terhadap presiden baru saat ini selain harapan untuk mengayomi negara. Pertama adalah presiden baru harus dapat memperbaiki kondisi pembangunan negara. Pembangunan negara saat ini sangatlah tidak merata. Di satu daerah pembangunan berjalan amat maju dan pesat sementara di daerah lain pembangunan belum berjalan atau sama sekali tidak berjalan. Bahkan hanya sekedar ketersediaan pasokan aliran listrik dan air bersih saja di beberapa daerah belum dapat merasakannya. Perlu langkah-langkah pasti dan sinergi dari presiden dan semua aparat kepemerintahan untuk meratakan pembangunan nasional dan daerah saat ini.

Kedua presiden yang telah terpilih harus dapat mensejahterakan dan merangkul masyarakat di daerah perbatasan negara. Mengapa demikian? Kondisi masyarakat di perbatasan negara sangat penting karena perbatasan negara adalah etalase bangsa. Tiap kondisi yang terlihat dari daerah perbatasan negara tersebut dapat dengan mudah disimpulkan sebagai kondisi yang juga ada di dalam pusat negara. Presiden sebaiknya mengadakan pembangunan-pembangunan yang dimulai dari daerah perbatasan kemudian dilanjutkan ke daerah pusat bukan sebaliknya. Dengan demikian nantinya kesejahteraan masyarakat daerah perbatasan dapat lebih terjamin. Dan tentunya dengan demikian masyarakat daerah perbatasan tidak akan merasa dianaktirikan lagi oleh pemerintah seperti yang selama ini dirasakan.

Ketiga diharapkan juga bahwa presiden baru dapat melanjutkan salah satu pembangunan yang telah dilakukan oleh presiden sebelumnya. Dengan pemikiran bahwa negara Indonesia adalah negara kepulauan yang tidak mungkin dihubungkan dengan jalur darat semuanya namun dapat dengan efektif dihubungkan melalui jalur udara.

***

Dan yang terakhir presiden yang telah terpilih diharapkan menjadi presiden yang peduli dengan kondisi dan mutu pendidikan anak-anak bangsa. Tidak hanya berhenti pada sikap peduli namun presiden diharapkan memberikan aksi dan langkah-langkah nyata untuk dapat meratakan pendidikan bangsa ke setiap daerah di bumi pertiwi ini. Rakyat tentu juga mengharapkan bahwa presiden baru saat ini dapat menggunakan jabatan dan kekuasaannya dengan sebijaksana mungkin, bertanggung jawab dan tidak mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan.

Kita semua tentu berharap presiden baru periode 2014-2019 ini benar-benar mau mengurus rakyat, menanggalkan bentuk-bentuk kepentingan pribadi, kelompok, atau koalisi. Kita telah lama membutuhkan figur seorang presiden yang mau bekerja tulus membawa bangsa ini untuk maju. Kita juga membutuhkan figur pemimpin yang dengan tegas mau membersihkan kotoran-kotoran bangsa yang telah ada sejak masa lalu. Namun demikian sikap ketegasan pemimpin tidak ada kaitannya dengan bentuk fisik apalagi dengan teriakan keras, lantang, tangan mengepal, atau pidato berapi-api. Arti ketegasan mengambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna, “kejelasan, kepastian, keterangan yang jelas (pasti)”. Dan MK menjadi contoh pembuktian terhadap kebenaran presiden pilihan rakyat nantinya.

Presiden yag menang tentunya tidak perlu berbangga diri. Pihak yang kalah juga tidak boleh berkecil hati. Sosok Ibnu Taimiyah telah memberikan contoh kepada kita. Karena pemimpin adalah harapan rakyat. Karena harapan rakyat adalah juga jiwa kehidupan rakyat. Bila harapan rakyat itu dikhianati dan mati maka jiwa kehidupan rakyat itu pun akan mati juga. Semoga sosok presiden baru dengan harapan baru dari masyarakat yang menyertainya tidak pupus lagi seperti apa yang telah terjadi berkali-kali di negeri ini.

---

Essai ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Essai SSG 2014 dengan tema Presiden Baru, Indonesia Baru: Mewujudkan Cita-Cita UUD 1945 & Harapan Rakyat.

Banner Lomba Menulis Essai 2014 SSG. Sumber: https://twitter.com/lombaesaisssg