tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Thursday, August 28, 2014

Implementasi Kurikulum 2013: Quo Vadis Pendidikan Indonesia

Seorang siswa mengacungkan tangan saat guru berikan pertanyaan dengan mengunakan buku kurikulum baru yang difotocopy di sekolah SD 01 Menteng Jakarta, 14 Agustus 2014.TEMPO/Dasril Roszandi. Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2014/08/15/079599952/Penambahan-Jam-Belajar-di-Kurikulum-2013-Keliru 

Pendahuluan: Dalam publikasi resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/siaranpers/2982 dan akun Facebook milik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI https://www.facebook.com/Kemdikbud.RI tertanggal 15 Agustus 2014, Menteri Pendidkan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh mengatakan alasan penambahan jam belajar di sekolah adalah untuk menaikkan kualitas pendidikan. Selama di sekolah, dengan kegiatan yang terkontrol dengan baik, pengetahuan siswa akan bertambah banyak.

Penambahan jam pelajaran sebagai salah satu dampak penerapan struktur Kurikulum 2013 ditegaskan oleh Mendikbud seyogianya tidak untuk membebani siswa, tidak membawa konsekuensi penambahan biaya bahkan dengan kebijakan tersebut sekaligus bisa menyelesaikan keluhan guru yang kekurangan jam belajar (dikutip pula oleh edukasi.kompas.com, 15/8).

Seperti yang telah diketahui bersama, Kurikulum 2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter adalah kurikulum baru yang dicetuskan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum 2013 merupakan sebuah kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan karakter, siswa dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun yang tinggi (http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum _2013).

Dalam penerapan struktur Kurikulum 2013 ini terjadi penambahan jam belajar sebagai berikut SD/MI naik menjadi 30-36 jam.SMP/MTS naik menjadi 38 jam, SMA naik sebanyak 24 jam pada kelompok mata pelajaran wajib dan kelompok peminatan, dan SMK baik sebanyak 26 jam. Penambahan jam belajar 4-6 jam per minggu ini jika dibagi rata adalah 35-46 menit per hari, dengan asumsi satu jam pelajaran adalah 45 menit, bukan 60 menit.

***

Kemendikbud sendiri kembali mennyampaikan dalam publikasi resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI  http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/node/3043 serta dalam akun Facebook milik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI https://www.facebook.com/Kemdikbud.RI tertanggal 21 Agustus 2014, tidak menetapkan jumlah hari dalam proses pembelajaran di sekolah. Pengimplementasian jumlah hari dalam proses pembelajaran di sekolah sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah daerah disesuaikan dengan penambahan jumlah jam belajar yang telah ditetapkan oleh Kemdikbud 4-6 jam per minggu.

Berbagai reaksi bermunculan atas kebijakan penerapan Kurikulum 2013 ini. Menurut pengamat pendidikan Jimmy Paat mengatakan bahwa penambahan jam pelajaran dalam Kurikulum 2013 adalah keliru. Hal senada disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Forum Serikat Guru Indonesia, Retno Listyarti yang manambahkan bahwa penambahan jam pelajaran akan membuat daya serap siswa berkurang (Tempo, 15/8).

Walau tidak menetapkan jumlah hari dalam proses pembelajaran sekolah tak ayal kebijakan menambahan jam pelajaran dirasa memberatkan guru, siswa, dan orang tua siswa. Kepala Sekolah SMA Negeri 48 Jakarta, Markorijasti, mengatakan orang tua siswa membutuhkan biaya tambahan untuk anak-anaknya. Sementara pihak sekolah sendiri membutuhkan tambahan biaya operasional (Tempo, 15/8).

Farabi, siswa kelas VII SMP Negeri 161 Jakarta Selatan mengutarakan bahwa pelajaran lebih susah karena harus aktif, tetapi buku-bukunya belum juga ada. Belum tersedianya buku berakibat murid tidak mengetahui materi apa yang akan dipelajari di kelas. Kesulitan ini berlanjut di rumah karena tidak ada buku yang bisa digunakan untuk belajar. Hal senada diungkapkan pula oleh Hadi Utomo, Wakil Kepala SMP Negeri 161 yang mengatakan bahwa guru-guru harus berkreasi sambil menunggu buku paket datang yang belum (Tempo, 14/8).

***

Sekolah berasal dari bahasa Yunani dan latin yakni skhole, scola, scolae, atau schola, yang semua kata tersebut merupakan akar kata school dalam bahasa Inggrs yang berarti sama. Skhole, scola, scolae atau schola sebenarnya merupakan aktivitas orang Yunani tempo dulu yang biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau orang pandai tertentu untuk menanyakan dan mempelajari hal-hal penting untuk dipelajari. Mereka butuh waktu untuk mencerna dan memahami dan menyebut kegiatan itu dengan istilah-istilah tersebut di atas. Semuanya berarti sama, waktu luang yang digunakan khusus untuk belajar (leisure devoted to learning).

Sampai pada hari ini dengan fenomena implementasi Kurikulum 2013 apakah makna sekolah dan belajar sudah menjadi suatu kesenangan? Tentu saja tidak. Bagi sebagian murid, pelajar maupun siswa, sekolah dan belajar malah menjadi momok. Pergi ke sekolah akhirnya menjadi sebuah ketepaksaan. Itulah sebabnya mengapa dulu banyak anak usia sekolah akan sangat senang jika tidak harus bersekolah atau bertemu dengan banyak hari libur.

Sekolah harusnya bisa menjadi tempat di mana semua peserta didik merasa nyaman untuk mendapatkan pendidikan. Sekolah seharusnya tidak hanya dipahami sebagai bangunan atau lembaga yang kaku berikut dengan kebijakan-kebijakan kurikulumnya, melainkan sebuah sistem terintegrasi antara tempat belajar, waktu belajar dan proses belajar mengajar yang nyaman dan menyenangkan.

Sekolah mestinya menjadi tempat yang menyenangkan, dimana para murid maupun siswa sebagai peserta duduk merasa butuh dan perlu untuk belajar sesuatu yang akan mereka gunakan, mereka aplikasikan, dan mereka implementasikan dalam kehidupan mereka suatu saat nanti. Mereka yang akan dengan senang hari berangkat ke sekolah pada pagi hari, dengan riang mengerjakan tugas yang diberikan kepada mereka karena itu penting bagi mereka.


***
Penerapan Kurikulum 2013 yang sudah dimulai pada hari Jumat, 15 Agustus 2014 secara serentak saat seluruh siswa dan siswi masuk sekolah hari pertama masih mengundang banyak tanda tanya saat di lapangan dijumpai lebih banyak ketidaksiapan ketimbang kesiapan dari berbagai pihak untuk mendukung keberlangsungan kebijakan ini.
Dari target yang tercatat ada 1,3 juta guru yang akan mendapat pelatihan implementasi Kurikulum 2013 dan pembekalan tersebut dijadwalkan akan selesai pada 28 Juni 2014 (Tempo, 30/5) pada kenyataannya masih ada 200 ribu guru yang masih belum mendapatkan pelatihan pelaksanaan Kurikulum 2013. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad mengatakan alasan sejumlah guru yang belum mendapatkan pelatihan karena adanya agenda keluarga atau sakit. Namun mereka akan tetap diberi pengarahan dan bakal tetap disusulkan pelatihannya (Tempo, 10/7).

Mengutip penjelasan Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia Retno Listyarti (26/8) pemahaman guru terkait implementasi Kurikulum 2013 sendiri masih sangat lemah. Hal ini karena banyak instruktur tak menguasai materi saat penyelenggaraan pelatihan tiga hari Kurikulum 2013. Ketidakpahaman peserta yakni guru, membuat mereka menggunakan paradigma lama mengajar yakni guru sebagai penceramah bagi murid. Akibatnya karena gagal paham, banyak murid yang akhirnya terbebani tugas yang begitu banyak (Kompas, 27/8).

Untuk percetakan dan pendistribusian buku Kurikulum 2013 sendiri diperkirakan tak akan selesai dalam waktu dekat. Mengutip pernyataan Ketua Pokja Buku Kurikulum 2013 Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa (LKPP) Yulianto mengatakan bahwa distribusi itu baru akan selesai pada September 2014 mendatang (Tempo, 13/8). Mendikbud sendiri beralasan keterlambatan terjadi karena adanya libur sekolah. Akibatnya di sejumlah sekolah sendiri akhirnya terpaksa menggunakan buku hasil fotocopy-an para guru (Tempo, 15/8).

***
Pada akhirnya Kurikulum 2013 yang ditelah diterapkan pada 2014 dinilai terlalu dipaksakan, tergesa-gesa, responsif namun tidak solutif. Penambahan jam pelajaran yang diterapkan tidak serta-merta akan membuat siswa mendapat pengetahuan lebih banyak. Penambahan jam pelajaran pun akan membuat daya serap siswa akan materi pelajaran berkurang kalau belajar terlalu lama.
Di Singapura, para siswa hanya belajar selama 196 hari selama satu tahun. Di Finlandia, siswa hanya belajar selama 192 hari dalam setahun. Sedangkan di Indonesia, para siswa bisa menghabiskan 300 hari per tahun untuk belajar di sekolah (Sekretaris Jenderal Forum Serikat Guru Indonesia Retno Listyarti dalam Tempo, 15/8). Itu belum dihitung saat Indonesia kini telah menerapkan kebijakan Kurikulum 2013. Bisa dibayangkan bagaiaman lelahnya para peserta didik dengan kondisi tersebut.

Pernyataan penambahan jam pelajaran menurut Mendikbud, Mohammad Nuh yang mengacu pada tabel OECD 2012 sebelumnya tentang kebijakan penambahan jam belajar di sekolah negeri untuk usia 7-14 tahun bahwa dikarenakan jumlah jam belajar peserta di Indonesia masih di bawah rata-rata negara maju lainnya tidak tepat. Tidak ada korelasi langsung antara jumlah jam pelajaran dengan kualitas pendidikan di suatu negara.

Pemerintah seyogianya harus melengkapi segala kekurangannya terlebih dahulu dan sebaiknya perlu dilakukan adanya uji coba pada beberapa sekolah sebagai sampel. Perlu ada kesesuaian juga antara pelajaran di sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Karena pelaksanaan Kurikulum 2013 bertujuan untuk mengembangkan daya nalar siswa. Jangan sampai pelajaran di SD di pelajari lagi saat di SMP maupun SMA dan sebaliknya. Kurikulum 2013 memang memiliki konsep bagus dan tujuan yang mulia namun tanpa respon positif dari masyarakat maka semuanya akan menjadi sia-sia belaka.

----
Riwayat Hidup: Yose Rizal Triarto, S.Si., lahir di Cirebon, 5 Desember 1985. Alumnus Fisika F. MIPA UNDIP. Bekerja sebagai pengajar dan pengelola LBB+ Prestasi Utama Yogyakarta. No HP: 0812-8602-8958.

Tulisan ini disertakan sebagai follow up Kelas Menulis Dasar yang diselenggarakan oleh Impulse (Institutes for Multiculturalism and Pluralism Studies) Yogyakarta 15 Agustus 2014.

No comments:

Post a Comment