tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Thursday, August 14, 2014

Menggenggam Harapan Menggapai Impian

Menarik apabila kita memperhatikan beberapa arti dari kata harapan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia yakni, “sesuatu yang (dapat) diharapkan (nomina), keinginan supaya menjadi kenyataan (nomina) dan orang yang diharapkan atau dipercaya (nomina)”. Dengan berbekal harapan inilah tiap manusia terus berjuang dan melanjutkan hidupnya. Dengan bermodal harapan jugalah dilaksanakan pemilu presiden (pilpres) pada 9 April 2014 yang lalu.

Namun agaknya makna harapan yang selama ini kita kenal mungkin perlu sedikit dikoreksi. Kenyataan seringkali tidak seindah yang diharapkan. Mengapa demikian? Apakah karena kita kurang kuat berjuang dan berusaha? Atau mungkin dalam langkah-langkah proses untuk menggenggam harapan dan menggapai impian tersebut kita telah melupakan makna sejati dari harapan?

Alkisah ketika “musuhnya” yakni Ibnu Makhluf meninggal dunia, Ibnu Taimiyah (1263-1328) justru sangat berduka dan bersedih hati. Padahal sang murid, Ibnu Qoyyim (1292-1350) begitu senang saat menyampaikan kabar kematian itu kepada sang guru Ibnu Taimiyah. Alasannya karena pada saat masih hidup tokoh yang meninggal tersebut termasuk orang yang seringkali memfitnah dan menzalimi Ibnu Taimiyah.

Dulu karena perbuatan “musuhnya” ini, sang guru Ibnu Taimiyah harus meringkuk di dalam penjara di Damaskus. Mendapati kegirangan muridnya menyampaikan kabar kematian itu sang guru malah menghardik muridnya. Bagi Ibnu Taimiyah, kematian seorang “musuh” bukanlah suatu kegembiraan.

Alih-alih gembira, pemikir politik yang menulis buku as-Siyasah asy-Syar’iyyah itu justru malah berduka. Pemimpin pasukan yang ikut berperang melawan agresi tentara Tartar itu pun ikut melayat ke rumah duka, bertemu dengan keluarga Ibnu Makhluf. Bahkan di depan istri dan anak-anak “musuhnya” itu Ibnu Taimiyah mengatakan siap membantu keluarga itu. Tokoh besar itu kira-kira berucap begini, “Sekarang ini anggaplah saya seperti bapak bagi anda semua. Apabila kalian membutuhkan sesuatu jangan sungkan, saya akan berusaha memenuhinya”.

Begitulah diri Ibnu Taimiyah. Sejarah mencatat walaupun hidupnya menderita akbat fitnah, Ibnu Taimiyah tidak pernah sekalipun menumpuk dan membalaskan dendam kepada orang yang menzaliminya. Jiwa besar seorang Ibnu Taimiyah melampaui emosi, amarah, dengki, dan berbagai penyakit hati lainnya.

Ibnu Taimiyah menjadi salah satu contoh terbaik pada saat kita melewati masa Idul Fitri 1435 Hijriah. Inti pesan Idul Fitri itu tetap sama yakni memaafkan, membersihkan hati, dan membuang jauh-jauh dendam kesumat yang biasanya ada pada tiap-tiap manusia.

***

Pada tahun ini pun pesan Idul Fitri begitu penuh sarat makna. Apa sebabnya? Tentu saja bukan hanya secara personal tetapi juga terutama karena politik. Sebabnya pemilu presiden (pilpres) yang telah sukses digelar pada 9 Juli 2014, tepat pada bulan Ramadhan di tahun ini, tanpa bisa ditolak telah membagi dua masyarakat Indonesia secara diametral. Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kala, seperti tak ubahnya menggambarkan dua kutub keterbelahan itu. Seperti yang kita tahu bersama, adanya kampanye hitam, isu, fitnah, sepertinya sudah tak menghormati lagi kemuliaan bulan Ramadhan. Sayangnya pasca pilpres pun, ketika real count KPU sudah diumumkan, amarah dan emosi sepertinya tak begitu saja bisa lantas sirna.

Tentu sudah kita ketahui bersama-sama dari hasil rekapitulasi suara yang dilakukan oleh KPU dengan jelas menyatakan bahwa pasangan Jokowi-JK meraih 70.997.833 suara (53,15 persen) sedangkan pasangan Prabowo-Hatta meraih 62.576.444 suara (46,85 persen). Hasil real count KPU itu mirip dengan quick count hasil dari delapan lembaga survei yang kredibel di mata masyarakat, yakni SMRC, Indikator Politik Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia, RRI, Litbang Kompas, Poltracking Institute, CSIS-Cyrus, dan Populi Center, yang memenangkan pasangan Jokowi-JK. Hasil rekapitulasi KPU menjawab semua keraguan terhadap hasil hitung cepat tersebut.

Tetapi ada empat lembaga survei yang dengan berani telah menyebut pasangan Prabowo-Hatta unggul, yakni Puskaptis, Jaringan Suara Indonesia, Lembaga Survei Nasional, dan Indonesia Research Centre. Belakangan setelah hasil KPU diumumkan, beberapa lembaga survei tersebut mengakui adanya kesalahan dalam metode dan survei mereka. Hasil KPU juga menjadi pembuktian bahwa kebenaran ilmu (metode survei) tidak perlu lagi disangsikan. Hanya mereka yang mempunya kepentingan tertentu yang dengan tegas menolak ilmu pengetahuan. Mereka yang waktu itu tidak percaya hasil quick count terus meminta agar menunggu hasil real count yang dilakukan oleh KPU.

Walau demikian seperti yang telah kita saksikan bersama-sama, saat hasil real count KPU dilakukan, 22 Juli 2014, juga masih tetap tidak dipercaya. Pipres dinilai oleh kubu sebelah, ada kecurangan secara masif, sistematis, dan terstruktur. Kemenangan Jokowi-JK pun menjadi tertahan. Pada akhirnya kubu pasangan Prabowo-Hatta yang sebelumnya menarik diri dari proses penghitungan suara yang dilakukan KPU, kemudian mendaftarkan gugatan sengketa hasil pilpres ke Mahkamah Konstitusi (MK) pada Jumat (25/7) pekan lalu. MK akan menggelar sidang pada hari ini 6 Agustus 2014.

Harapan masyarakat bersama bahwa gugatan balik ke MK bukanlah dilandasi dengan nafsu syahwat ingin berkuasa tetapi lebih untuk menguji suatu kebenaran yang telah terjadi. Kekuasaan sebagai presiden atau pemimpin bangsa sejatinya adalah sebagai pelayan rakyat. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Bukan semata-mata karena ingin disanjung-sanjung tinggi, tetapi justru pemimpinlah yang harus menggendong rakyatnya. Tidak menuruti hawa nafsu.

***

Mengutip beberapa surat-surat politik Ali bin Abi Thalib (599-661), khalifah keempat dari zaman Khulafaur Rasyidin yang ditujukan kepada Muhammad Ibnu Abu Bakar, yang baru saja diangkat sebagai Gubernur Mesir tertulis, “Rendahkanlah diri anda. Hadapilah umat (rakyat) dengan ramah. Temuilah mereka dengan wajah berseri-seri. Berlakulah adil di antara mereka dalam segala hal, ...dan orang-orang miskin tidak menderita atau putus asa terhadap keadilan anda... Ketahuilah Muhammad Ibnu Abu Bakar, karena aku telah memberi anda kekuasaan untuk memerintah atas penduduk Mesir. Karenanya, anda dituntut untuk tidak menuruti hawa nafsu...”.

Dengan demikian kekuasaan bukanlah segala-galanya dan memang bukan akhir segalanya. Pemegang kuasa justru diharapkan bisa bertindak berdasarkan mandat yang telah diberikan rakyat bukan atas dasar kemauannya sendiri. Ahli politik Harold Lasswell (1902-1978) dan filsuf kenamaan Abraham Kaplan (1918-1993) menyatakan kekuasaan adalah suatu hubungan di mana seorang atau sekelompok orang dapat menentukan tindakan seseorang atau kelompok lain agar sesuai dengan tujuan dari pihak pertama. Dalam bahasa mereka, kekuasaan adalah bentuk partisipasi dalam membuat keputusan. Paksaan atau kekerasan bukanlah cara yang sah dalam demokrasi.

Ada beberapa harapan rakyat Indonesia terhadap presiden baru saat ini selain harapan untuk mengayomi negara. Pertama adalah presiden baru harus dapat memperbaiki kondisi pembangunan negara. Pembangunan negara saat ini sangatlah tidak merata. Di satu daerah pembangunan berjalan amat maju dan pesat sementara di daerah lain pembangunan belum berjalan atau sama sekali tidak berjalan. Bahkan hanya sekedar ketersediaan pasokan aliran listrik dan air bersih saja di beberapa daerah belum dapat merasakannya. Perlu langkah-langkah pasti dan sinergi dari presiden dan semua aparat kepemerintahan untuk meratakan pembangunan nasional dan daerah saat ini.

Kedua presiden yang telah terpilih harus dapat mensejahterakan dan merangkul masyarakat di daerah perbatasan negara. Mengapa demikian? Kondisi masyarakat di perbatasan negara sangat penting karena perbatasan negara adalah etalase bangsa. Tiap kondisi yang terlihat dari daerah perbatasan negara tersebut dapat dengan mudah disimpulkan sebagai kondisi yang juga ada di dalam pusat negara. Presiden sebaiknya mengadakan pembangunan-pembangunan yang dimulai dari daerah perbatasan kemudian dilanjutkan ke daerah pusat bukan sebaliknya. Dengan demikian nantinya kesejahteraan masyarakat daerah perbatasan dapat lebih terjamin. Dan tentunya dengan demikian masyarakat daerah perbatasan tidak akan merasa dianaktirikan lagi oleh pemerintah seperti yang selama ini dirasakan.

Ketiga diharapkan juga bahwa presiden baru dapat melanjutkan salah satu pembangunan yang telah dilakukan oleh presiden sebelumnya. Dengan pemikiran bahwa negara Indonesia adalah negara kepulauan yang tidak mungkin dihubungkan dengan jalur darat semuanya namun dapat dengan efektif dihubungkan melalui jalur udara.

***

Dan yang terakhir presiden yang telah terpilih diharapkan menjadi presiden yang peduli dengan kondisi dan mutu pendidikan anak-anak bangsa. Tidak hanya berhenti pada sikap peduli namun presiden diharapkan memberikan aksi dan langkah-langkah nyata untuk dapat meratakan pendidikan bangsa ke setiap daerah di bumi pertiwi ini. Rakyat tentu juga mengharapkan bahwa presiden baru saat ini dapat menggunakan jabatan dan kekuasaannya dengan sebijaksana mungkin, bertanggung jawab dan tidak mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan.

Kita semua tentu berharap presiden baru periode 2014-2019 ini benar-benar mau mengurus rakyat, menanggalkan bentuk-bentuk kepentingan pribadi, kelompok, atau koalisi. Kita telah lama membutuhkan figur seorang presiden yang mau bekerja tulus membawa bangsa ini untuk maju. Kita juga membutuhkan figur pemimpin yang dengan tegas mau membersihkan kotoran-kotoran bangsa yang telah ada sejak masa lalu. Namun demikian sikap ketegasan pemimpin tidak ada kaitannya dengan bentuk fisik apalagi dengan teriakan keras, lantang, tangan mengepal, atau pidato berapi-api. Arti ketegasan mengambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna, “kejelasan, kepastian, keterangan yang jelas (pasti)”. Dan MK menjadi contoh pembuktian terhadap kebenaran presiden pilihan rakyat nantinya.

Presiden yag menang tentunya tidak perlu berbangga diri. Pihak yang kalah juga tidak boleh berkecil hati. Sosok Ibnu Taimiyah telah memberikan contoh kepada kita. Karena pemimpin adalah harapan rakyat. Karena harapan rakyat adalah juga jiwa kehidupan rakyat. Bila harapan rakyat itu dikhianati dan mati maka jiwa kehidupan rakyat itu pun akan mati juga. Semoga sosok presiden baru dengan harapan baru dari masyarakat yang menyertainya tidak pupus lagi seperti apa yang telah terjadi berkali-kali di negeri ini.

---

Essai ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Essai SSG 2014 dengan tema Presiden Baru, Indonesia Baru: Mewujudkan Cita-Cita UUD 1945 & Harapan Rakyat.

Banner Lomba Menulis Essai 2014 SSG. Sumber: https://twitter.com/lombaesaisssg

No comments:

Post a Comment