tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Tuesday, August 26, 2014

Pembatasan Subsidi BBM Responsif Tidak Solutif


SPBU Gambiran No. 44 551 05 Kel. Gambiran Kec. Umbulharjo Yogyakarta

Selasa, 26 Agustus 2014 pagi hari pukul 07.55 WIB sudah terlihat antrian panjang puluhan pengguna motor dan mobil di kawasan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU)  Gambiran, Umbulharjo, Yogyakarta. Antrian ini sebenarnya terjadi sejak semalam. Fenomena antrian panjang para pengguna kendaraan beroda dua dan empat terjadi tidak hanya di kota Yogyakarta namun di kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Menurut salah satu warga Yogyakarta, Ratri Hapsari (Wiraswasta, 27 tahun) mengatakan bahwa fenomena antrian panjang di SPBU selalu muncul tiap kali ada berita adanya kenaikan harga BBM maupun isu kelangkaan BBM. Namun demikian menurutnya ikut mengantri panjang atau tidak itu adalah pilihan tiap anggota masyarakat. Toh hasilnya akan sama saja jikalau harga BBM benar-benar naik atau bahkan langka sekalipun. Masih banyak hal produktif lainnya yang bisa dikerjakan tegasnya.
Seperti telah diketahui bersama sejak Senin, 18 Agustus 2014 Pertamina telah memberlakukan pengurangan jatah penjualan solar dan premium bersubsidi. Idealnya seperti yang telah disampaikan oleh Direktur Niaga dan Pemasaran PT. Pertamina (Persero) Hanung Budya tidak ada kelangkaan BBM bersubsidi (MetroTV, 25/8). Namun pada kenyataannya masyarakat yang panik berbondong-bondong membeli BBM jenis solar dan premium dalam jumlah besar dan pada waktu bersamaan sehingga mengakibatkan sejumlah SPBU mengalami kehabisan BBM jenis premium dan solar sejak Minggu, 24 Agustus 2014 yang lalu (Antara, 25/8).
Pertamina sendiri menghimbau agar masyarakat tidak panik menghadapi hal ini dan meminta agar masyarakat mampu untuk segera berpindah ke BBM non subsidi. Namun demikian pemotongan jatah harian dan pengurangan suplai BBM bersubsidi sebesar 5% untuk premium dan 15-20% untuk solar di seluruh SPBU di Indonesia sebagaimana dijelaskan oleh Ketua DPP bidang SPBU Hiswana Migas, Mohamad Ismeth (Republika Online, 25/8) tidak bisa dipungkiri lagi telah mengakibatkan kenaikan permintaan solar dan premium serta mengakibatkan kelangkaan yang tampaknya akan terus terjadi apabila belum ada kejelasan kebijakan BBM dari pemerintah.
            Di kalangan masyarakat jamak dijumpai fenomena antrian panjang di SPBU-SPBU yang pada umumnya adalah respon langsung akan wacana kenaikan harga BBM atau pembatasan jumlah BBM yang ada. Masyarakat terbiasa untuk segera mencari dan membeli BBM yang ada dengan pemikiran kapan lagi sebelum harga naik atau barang tidak ada. Padahal suka tidak suka jika wacana pengurangan jatah BBM sepihak tadi terus diberlakukan apalah daya masyarakat sebagai pihak konsumen untuk menghentikannya. Di lain pihak pemerintah dan dalam hal ini Pertamina dirasa tidak atau belum memberikan jawaban solutif atas fenomena antrian panjang dan kelangkaan BBM di sejumlah SPBU.

Responsif Tidak Solutif

            Melihat fakta tidak berlebihan jika kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang terjadi di beberapa daerah adalah sebagai hasil implementasi kebijakan kementrian ESDM yang responsif namun tidak solutif.
            Imbauan menteri ESDM Jero Wacik dalam keterangan pers di kementrian ESDM, Selasa (5/8) agar masyarakat tidak usah resah dan pertimbangan alasan pengendalian BBM bersubsidi antara lain disebabkan oleh pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, yang menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) dalam 3 tahun terakhir terus mengalami peningkatan yang signifikan, tidak memberikan satu jawaban yang pasti akan kondisi saat ini.
            Sangat disayangkan baik Kementrian ESDM, Pertamina maupun pemerintah sendiri sebagai pihak terkait juga tidak melihat bertambahnya penjualan kendaraan bermotor itu berkorelasi dengan mudahnya mengambil kredit motor dan mobil. Daya beli masyarakat terhadap mobil dan motor akan semakin tinggi.
Untuk saat ini, idealnya kebijakan pemberian bahan bakar bersubsidi diprioritaskan bagi kendaraan umum. Sebaliknya subsidi BBM untuk kendaraan pribadi semestinya yang dihapus. Dengan alasan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi untuk angkutan umum berdampak sangat besar bagi angkutan umum yang beroperasi 24 jam.

----
Riwayat Hidup: Yose Rizal Triarto, S.Si., lahir di Cirebon, 5 Desember 1985. Alumnus Fisika F. MIPA UNDIP. Bekerja sebagai pengajar dan pengelola LBB+ Prestasi Utama Yogyakarta. No HP: 0812-8602-8958.

No comments:

Post a Comment