tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Saturday, August 9, 2014

Yang Tak Terlupakan dan Yang Tak Boleh Dilupakan

“Liburan nanti mau kemana?” Coba perhatikan berapa banyak jawaban dari kawan-kawan kita yang menyebut museum sebagai salah satu tempat tujuan favorit rekreasinya, ketimbang menyebut Bali, Raja Ampat atau bahkan mungkin Malaysia, Singapore dan Thailand. Mengapa demikian? Dan kapan ada waktu untuk dapat mengunjungi museum-museum di kota kita?

Menarik apabila kita memperhatikan arti kata museum dari beberapa kamus referensi dari luar negeri. Terjemahanan bebas dari The Cambridge Dictionary Online mendefinisikan museum sebagai “tempat untuk belajar, bangunan dimana objek-objek sejarah, sains atau seni disimpan, dijaga dan dipamerkan”. Sedangkan menurut The Museums Association yang menyatakan bahwa museum adalah “sebuah institusi yang menyimpan dokumen, menjaga, menampilkan dan menterjemahkan bukti-bukti material dan infomasi yang bersesuaian untuk kepentingan publik”.

Rupanya sejak tahun 1998 defini tersebut telah berubah. Museum saat ini jadi lebih memungkinkan bagi masyarakat untuk menggali informasi sebagai bahan atau ide, belajar dan sebagai tempat yang menyenangkan. Mike Wallace (1996) menggolongkan museum menjadi empat jenis yang berbeda. National Museums yang menyimpan benda-benda peninggalan nasional, Armed Service Museums untuk menyimpan benda-benda kemiliteran, Independence Museums untuk menyimpan karya-karya perupa individual atau berkelompok dalam masyarakat, dan Local Authority Museums untuk menyimpan benda-benda bersejarah atau karya-karya dengan pengawasan dan pengelolaan lokal. Menurt Wallace, pada museumlah tersimpan semua rekam jejak suatu bangsa sebagai suatu bank memori nasional.

Bagaimana dengan arti museum di Indonesia sendiri? Mengambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, museum bermakna, “gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalann sejarah, seni dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno”. Dari pengertian ini agaknya museum oleh bangsa kita justru masih dianggap hanya sebagai tempat penyimpanan belaka.

Masyarakat saat ini masih memahami dan mengenal museum hanya sebatas sebagai tempat menyimpan benda mati, sebuah tempat yang menyeramkan dan membosankan, serta tempat yang sama sekali tidak memiliki nilai have fun atau rekreatif. Dan sejujurnya anggapan ini tidak salah. Karena selama beberapa waktu yang lalu dan bahkan mungkin sampat saat ini memang pandangan inilah yang rupanya ada dalam benak hampir setiap masyarakat Indonesia. Pemahaman seperti ini tentu bukanlah suatu hal yang baik.

Padahal sejatinya makna filosofis dan historis dari museum lebih dari sekedar itu, museum diharapkan menjadi tempat yang memiliki nilai edukasi, informasi, maupun rekreasi sebagai media transformasi nilai yang terkandung dalam dan melalui koleksi-koleksinya (disampaikan oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Drs. RM Budi Santosa di ruang kerjanya, Rabu, 21 September 2011).

***

Kalau boleh mengartikan secara lebih sederhana mengapa beliau berkata demikian memang akan ada tiga alasan utama mengapa museum dan mengunjungi museum menjadi begitu penting. Pertama-tama adalah alasan edukasional atau sarana pendidikan. Banyak orang mengunjungi museum untuk memperoleh pengetahuan tentang topik-topik atau ketertarikan tertentu. Saat kita mengunjungi sebuah museum, akan sama seperti kita sedang membuka lembaran-lembaran buku atau seperti saat kita menonton sebuah film. Beberapa orang yang masa kecilnya pernah mengunjungi museum biasanya akan mengingat  beberapa hal luar biasa yang ditemui dan dilihatnya. Melihat langsung bentuk patung atau gambar lukisan bisa jadi adalah pengalaman-pengalaman luar biasa yang tidak didapatkan hanya dari membaca buku.

Kemudian adalah alasan pengalaman secara kultural atau informatif. Orang akan dapat mengetahui banyak hal seperti sejarah dan kebudayaan suatu negara dengan mengunjunginya di museum. Kita dapat melihat dan mencoba memahami akan sejarah suatu bangsa, seperti musik apa yang mereka suka, atau siapa figur-figur kepahlawanan dalam sejarah bangsa tersebut. Saat kita berkunjung ke museum kita dapat mengambil begitu banyak informasi tentang apa yang ada di dalam ruangan-ruangan museum yang mana mungkin tidak dapat kita peroleh dari buku-buku. Mengunjungi museum adalah pengalaman langsung bersentuhan  dengan sisi-sisi lain informasi.

Dan yang terpenting lainnya, bahwa mengunjungi museum adalah pengalaman rekreasi yang sangat berharga dan menyenangkan. Melihat detail patung yang mungkin telah berumur tiga ribu tahun atau menikmati indahnya goresan-goresan lukisan di dalam museum, adalah hal-hal yang sangat luar biasa. Saat kita menginjakan kaki melangkah masuk ke dalam museum, kita telah masuk ke dalam dunia yang berbeda, sebuah dunia yang penuh dengan hal-hal baru, memancing ketertarikan, merangsang keingintahuan, dan penuh kejutan yang mempesona yang tidak pernah dapat kita temukan di tempat lainnya.

Kita mungkin akan merasa begitu antusias dan bisa jadi lupa akan waktu saat berada di tengah-tengah koleksi barang-barang peninggalan yang pernah dipakai Sri Sultan Hamengku Buwono di Museum Keraton, termenung melihat potret keseharian seorang mestro pelukis di Museum Affandi, mengaggumi indahnya batik Yogyakarta dan Solo di Museum Ullen Sentalu, memandang takjub akan benda-benda bersejarah pesawat AURI di Museum Dirgantara Mandala, atau bergidik ngeri saat membayangkan akan dampak bencana wedhus gembel di Museum Gunung Api.

Museum sendiri adalah salah satu kekuatan kota Yogyakarta. Dengan predikat sebagai kota pelajar dan budaya kota Yogyakarta memiliki potensi museum terbanyak di Indonesia. Dari 275 museum di seluruh Indonesia terdapat 5% di antaranya yang berada di kota Yogyakarta. Dan tidak kurang dari 15 museum yang berdiri sendiri serta 7 museum yang terdapat dalam Kraton Yogyakarta yang dapat menjadi sumber pengetahuan dan informasi tentang kejayaan bangsa di masa lampau serta refleksi nya untuk masa kini dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Tapi apakah hanya berhenti cukup sampai di situ saja? Apakah kita hanya berpuas diri hanya sampai pada kekaguman budaya dan segala kejayaan di masa lalu? Tentu tidaklah demikian.

***

Museum membutuhkan inovasi agar dapat makin kekinian dan dapat lebih diterima oleh masyarakat yang perlahan-lahan hidup dalam budaya yang serba cepat dan real time. Museum pada saat ini diharapkan juga harus dapat menghibur sebagai bahan kunjungan rekreasi. Memang saat ini museum yang ada pada kita telah mengandung unsur education dan study. Tapi dirasa tetap perlu untuk lebih menghadirkan nuasa enjoyment-nya. Perlu dibuat suatu inovasi yang membuat museum menjadi tempat yang mengasyikkan dan layak dikunjungi setiap minggunya.

Mungkin perlu dibuat juga zona-zona yang membedakan pelayanan pengunjung dewasa dan pengunjung anak-anak, misalkan dalam bentuk brosur yang berbeda dan pelayanan yang berbeda. Karena apa yang dibutuhkan oleh orang dewasa dalam berkunjung ke museum seringkali berbeda dengan apa yang dibutuhkan oleh anak-anak. Itu semua perlu dipikirkan dan ditindaklanjuti bukan untuk membuat pembedaan namun semata-mata agak pelayanan yang ada makin optimal dan pengunjung dapat menikmati hasilnya dengan lebih baik lagi.

Perlu dipikirkan juga bagaimana untuk mengakomodasi dan menarik minat para calon pengujung dengan lebih meningkatkan inovasi sebaik mungkin dalam hal multimedia dan penggunaan social media seperti promosi menggunakan akun resmi museum di Twitter, Facebook, Path, Instagram dan sebagainya. Inovasi dengan modal yang sebetulkan tidak harus mahal namun diyakini dan telah terbukti efektif sebagai media penghubung antara pihak museum dan masyarakat. Apalagi saat ini hampir setiap orang memiliki handphone dan beragam jenis smartphone lainnya. Ini adalah peluang yang cukup menjanjikan.

Selain dari segi inovasi multimedia hal mendasar yang perlu diperhatikan di dalam museum ialah penataan barang-barang koleksi museum yang ada. Seringkali banyak museum yang hanya karena ingin menata koleksinya sepenuh mungkin dan menghindari kesan kekosongan ruangan kemudian tanpa sadar telah menghilangkan arti dan esensi museum sendiri. Padahal esensi dari museum itu sendiri adalah justru sebagai suatu tempat untuk merenung. Sehingga pengunjung akan membutuhkan space yang cukup di dalam museum untuk merenung dan menikmati setiap makna di dalam tiap-tiap karya dan benda yang ada. Tentunya kita tidak ingin jangan sampai pengunjung merasa bahwa mereka berda di dalam toko kelontong, dimana segala macam barang dijejalkan sampai sesesak-sesaknya.

Saran lain untuk inovasi museum adalah mungkin perlu dipikirkan adanya display-dispay 3D seperti patung atau benda-benda berbentuk lainnya guna menarik dan merangsang keingintahuan pengunjung untuk masuk dan menikmati karya. Bentuk dan tujuan pemasangan patung/figur penarik minat itu juga perlu dipikirkan jangan sampai meninggalkan kesan membingungkan atau malah menakutkan bagi para pengunjung. Diupayakan juga agar display yang ada sejalan dengan tema atau semangat museum tersebut dan mengandung unsur kekinian. Pemasangan tampilan yang bersifat interaktif dan touch-screen dapat digunakan sebagai dasar untuk penyampaian komunikasi dan informatif dari pihak museum kepada pengunjung dan apabila memungkinkan mungkin bisa dibuat semacam akses bagi pengunjung untuk dapat menyampaikan saran dan kritik membangunnya via online.

***

Seperti kata Bung Karno, “jangan sekali-kali melupakan sejarah!” Museum seyogyianya tidak hanya dipahami sebagai tempat belajar untuk kalangan tertentu ataupun hanya sebagai tempat mencari informasi semata. Mengunjungi museum sebagai salah satu alternatif liburan terbuka bagi siapa saja dan semoga bisa dilakukan kapan saja. Museum seharusnya dipahami sebagai bagian transformasi kolaboratif hidup manusia dan sejarahnya.

Dalam hal ini maka perlu adanya informasi dan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat dengan suatu kesadaran bahwa museum memiliki perananan yang amat penting dan berfungsi strategis sebagai bagian tumbuh dan berkembangnya suatu masyarakat dan kota. Dan juga membutuhkan peran serta dari seluruh pihak dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta beserta seluruh komponen masyarakat yang terkait untuk ikut serta mempromosikan dan mendekatkan museum di kalangan seluruh lapisan masyarakat, terutama di kalangan generasi muda saat ini agar kita lebih mengenal, mengunjungi dan mencintai bersama museum di kota Yogyakarta ini.

Dengan demikian satu harapan akan keberadaan museum di masa kini dan di masa datang tetap bisa menjadi suatu bagian yang tak terlupakan dan akan selalu dikenang sebagai identitas bangsa Indonesia dan juga sebagai bagian dari identitas kota Yogyakarta sebagai kota pelajar dan budaya. Museum adalah milik dan tanggung jawab kita bersama. Tentunya kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi. Jadi tunggu apa lagi? Ajak saudara, keluarga dan teman-teman. Mari segera kunjungi museum-museum di sekitar kita. 

---

Essay ini diikutsertakan sebagai syarat audisi dan presentasi salah satu nominator "Duta Museum DIY 2014"

 https://www.facebook.com/pages/Duta-Museum-DIY-2014/320801158085694
Banner Duta Museum DIY 2014. Sumber: https://www.facebook.com/pages/Duta-Museum-DIY-2014/320801158085694

No comments:

Post a Comment