tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Thursday, September 4, 2014

Terima Kasih Istriku - Kontributor Event "Bertahan Demi Cinta" GP Publishing


Kala itu aku masih bekerja sebagai karyawan rendahan biasa. Agaknya pertemuan tak sengaja dengan seorang wanita yang sama-sama menunggu itu telah merubah hidupku sepenuhnya. Walau pada akhirnya aku terlambat untuk berterima kasih padanya.
Perjumpaan mengesankan itu berlanjut dengan SMS ringan dan beberapa kali makan siang bersama. Akhirnya setelah beberapa waktu aku memberanikan diri mengutarakan maksudku untuk meminangnya. Roda kehidupanku pun mulai membaik. Aku diangkat menjadi salah salah satu pimpinan cabang di tempat aku bekerja.
Hari itu, semuanya telah kami rencanakan dengan sempurna. Gaun, pesta, bahkan resepsi pesta dimana kami mengundang semua kerabat dan keluarga. Harus kuakui bahwa koneksi dan jabatan akan membuat dirimu menjadi orang yang paling berbahagia. Ya pada hari pernikahan kami semua tampak begitu luar biasa.
Kami telah memiliki sebuah rumah yang sudah aku cicil sebelum menikah dengannya. Aku dengan bangga menggendongnya masuk, membawanya ke dalam kehidupan dan dunia yang baru. Saat itu aku adalah seorang pengantin pria paling berbahagia, merasa kuat dan sangat sempurna baginya. Dan aku ceritakan ini adalah kejadian dari 10 tahun yang lalu saat kami telah menikah dan hidup bersama.
Karir membawa kesuksesan dalam keuanganku. Aku terpacu untuk lebih banyak bekerja dan menghasilkan uang. Awalnya, tentu saja untuk keluargaku. Lambat laun tanpa aku sadari aku lebih memilih lembur dan melakukan perjalanan luar kota daripada menghabiskan waktu berakhir pekan.
Istriku adalah seorang pegawai kepemerintahan. Rutinitas yang biasa kami lakukan adalah berangkat bekerja dan pulang di waktu yang hampir bersamaan.  Anak kami pun sudah mulai besar. Kehidupan pernikahan kami sangat baik, berbahagia dan tak kurang sesuatu apapun juga.
Dan datanglah Rachel dalam kehidupanku.
Aku mengenalnya saat pertemuan bisnis dan berlanjut pada hubungan-hubungan yang tidak seharusnya aku lalukan bersamanya. Hari itu aku kembali menghabiskan waktu berakhir pekan dengan Rachel berlibur di balkon hotel berbintang lima di Bali. Tanpa aku sadari cintaku seperti terbenam dalam hubungan dengannya. Bahkan aku sudah membelikan dirinya rumah atas namanya sendiri. Ia begitu memikat. Ah aku telah mengkhianati istriku.
Dulu, aku pernah bertanya kepada istriku, “Seandainya kita akan bercerai apa yang akan dirimu lakukan, sayang?” Ia diam saja. Istriku tidak pernah membalas pertanyaanku hingga kini. Ia sangat percaya pada kehidupan pernikahan yang sempurna. Aku sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana kalau seandainya dia tahu bahwa aku serius akan hal ini.
Rachel sangat serius saat dia berkata, “Dear, ceraikanlah dia. Dan kita akan hidup berbahagia bersama selamanya.” Aku mengiyakan dan tahu bahwa aku sudah tidak bisa mundur lagi.  
Malam ini aku pulang dan menjumpai istriku tengah menghangatkan makan malam untuk kami berdua. Aku ajak dia duduk dan berkata, “Aku ingin membicarakan satu hal padamu.” Dia diam dan dalam hening aku melihat luka dari sudut matanya. Aku mulai berbicara, tapi dia malah bertanya, “Mengapa?”
Aku berusaha memberikan jawaban-jawaban logis atas ketidakharmonisan hubungan kami. Pernikahan kami yang kaku, pekerjaanku yang makin sibuk. Tapi dia malah menangis dan berlari ke dalam kamarnnya.
Istriku merobek-robek surat perjanjian perceraian yang aku buat. Dia menangis sejadi-jadinya di depanku. Aku tak pedulu. Pikiran dan hatiku sudah bulat hanya untuk Rachel seorang.
Esoknya aku menemukan secarik kertas yang ditulis tangan oleh istriku. Dia setuju untuk bercerai dengan satu permintaan: 1 bulan kami harus hidup berdua sebiasa mungkin karena anak kami sedang dalam masa-masa ujian sekolah. Dia beralasan tidak mau mengacaukan konsentrasi anak kami dengan perceraian.
Kami sudah lama tidak kontak fisik. Jadi ketika aku menggenggam tangannya dan menggendong tubuhnya untuk keluar bekerja aku semakin canggung dan menyadari banyak hal telah berubah. Istriku tidak muda lagi, raut mukanya  menunjukkan kesedihan dan beban hidup selama ini.
Hari keenam dan ketujuh aku semakin dekat dengan istriku dan menyadari bahwa tubuhnya telah menjadi sangat kurus. Aku terdiam. Aku tahu dia memendam rasa sakit dan kepahitan hidup yang mendalam di hatinya.
Saat menggendong tubuhnya keluar dari rumah kami seperti yang biasa kami lakukan dalam masa-masa sebelum perceraian ini aku merasakan hatiku mulai berubah. Aku bergegas keluar kantor dan segera menjumpai Rachel. Aku berubah pikiran. “Maaf Rachel, aku tidak ingin bercerai.” Rachel menamparku dengan keras, membanting pintu dan menangis pergi keluar.
Sore itu sepulang kerja, aku berlari ke kamar hanya untuk menemui istriku di tempat tidur, meninggal. Ya istriku telah berjuang melawan kanker selama berbulan-bulan dan aku menyibukkan diri dengan Rachel sampai aku tidak memperhatikannya. Istriku tahu dia akan meninggal tapi dia ingin aku tetap menjadi suami yang baik, setidaknya di depan mata anak kami. Aku terlambat menyadarinya betapa isriku bertahan demi cinta. Terima kasih istriku.

-----
Biodata penulis: Yose Rizal Triarto, lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada 5 Desember 1985. Ia adalah alumnus Fisika F. MIPA UNDIP Semarang. Semasa kuliah aktif menjadi pengurus inti beberapa organisasi kemahasiswaan. Sempat bekerja di beberapa perusahaan nasioanal dan multnasional. Saat ini bekerja sebagai pengajar dan pengelola LBB+ Prestasi Utama Yogyakarta.
Final Cover Buku Bertahan Demi Cinta berikut ISBN. Oleh Goresan Pena Publishing.

Serifikat Event Bertahan Demi Cinta. Oleh Goresan Pena Publishing.


No comments:

Post a Comment