tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Wednesday, October 8, 2014

Batas Maritim Indonesia: Riwayatmu Kini


Nenek moyangku orang pelaut 
Gemar mengarung luas samudera 
Menerjang ombak tiada takut
Menembus badai sudah biasa 

Angin bertiup, layar berkembang 
Ombak menderu di tepi pantai 
Pemuda b'rani bangkit sekarang 
Ke laut kita beramai-ramai


“Segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak daripada Negara Republik Indonesia. Lalu lintas yang damai di perairan pedalaman ini bagi kapal-kapal asing dijamin selama dan sekedar tidak bertentangan dengan/mengganggu kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia”. (Naskah Deklarasi Djoeanda, Chandra Motik, dkk, 2007) [1]

Wilayah Nusantara. Apa yang sekiranya dapat saya ceritakan tentang negeri ini? Sebuah negeri di tengah lautan luas dengan pulau-pulau yang subur akan rempah-rempah. Penghasil lada, pala, kayu manis, yang dikenal dan diburu di seluruh dunia. Cengkeh dan rokok kretek yang tak ada duanya. 

Ya, dahulu kita bergantung pada laut sebagai jalan membuka dunia. Pedagang-pedagang dari Arab, Cina, India yang bersahabat membeli rempah dan menjual sutra. Kejayaan wilayah nusantara adalah armada. Perahu phinisi yang membentangkan layarnya kuat dan perkasa. Karena laut adalah pelindung kita. Pada angin pula kita berlayar, pada gelombang kita pula terjang. Tak kenal takut, pantang berpulang tangan kosong.

Pada masa jayanya kerajaan Majapahit, wilayah Nusantara merupakan satu kesatuan maritim dan kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi. Arus bergerak dari selatan ke utara, segalanya: kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya dan cita-citanya, semua bergerak dari Nusantara di selatan ke 'Atas Angin' di utara. Tapi zaman berubah.

Arus telah berbalik-bukan lagi dari selatan ke utara tetapi sebaliknya justru dari utara ke selatan. Utara kuasai selatan, menguasai urat nadi kehidupan wilayah Nusantara. Perpecahan dan kekalahan dari kerajaan-kerajaan maritim seakan menjadi bagian dari sejarah Jawa yang beruntun tiada hentinya. [2]

Banyak peristiwa sejarah yang dapat dipelajari dalam sejarah. Bangsa Indonesia yang memiliki potensi menjadi satu negara dengan kekuatan maritim terbesar di masa kepemimpinan Presiden Soekarno sangat disayangkan, saat ini lambat laut telah memalingkan wajahnya dari wilayah laut dan mengalami keterpurukan kemaritiman. 

Perlu kita renungkan bersama akan seperti apakah bangsa Indonesia saat ini. Sebuah pernyataan yang menjelaskan bagaimana betapa kaya negeri ini dengan segala sumber daya maritimnya. Baik itu sumber daya hayati maupun juga sumber daya non hayati. Kesemuanya itu membentuk satu industri maritim yang teramat besar hanya saja belum dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Segala jenis ikan, rumput laut, pasir laut, emas, minyak bumi, gas, hingga terumbu karangnya telah menunjukkan pada kita betapa kayanya kehidupan laut bangsa Indonesia. Dengan mengetahui fakta-fakta tersebut diharapkan kita suatu saat nanti dapat ikut mengelola dengan baik dan bijaksana atau paling tidak dapat menjaga dan melestarikannya. 

Topik ini memang untuk kalangan tertentu yang tidak tertarik dengan sejarah dan ilmu, tentu akan kurang menarik dan membosankan. Namun demikian seperti halnya Presiden Soekarno pernah berkata “jangan sekali-kali melupakan sejarah” adalah satu bentuk pernyataan utama mengapa kita harus mencintai maritim dan sejarah Nusantara. 

Masih banyak kekayaan maritim yang sejauh ini belum bisa kita gali dan manfaatkan dengan bijak dan sebaik mungkin. Tugas itu bukan berarti diserahkan kepada generasi berikutnya namun adalah tugas kita saat ini yang mengetahui dan mempelajarinya. Untuk dapat mengambil hal-hal istimewa yang masih tersimpan dan tersembunyi di bumi maritim Indonesia, sebelum didahului dan diambil oleh orang-orang maupun bangsa lain.

Di lain pihak sudah kita ketahui bersama hubungan antara Indonesia dan Malaysia selalu 'naik dan turun' dari waktu ke waktu. Salah satu isu utama antara kedua negara tetangga yang terbentur masalah garis batas maritim. Sengketa mengenai Blok Ambalat, daerah dasar laut di SEATO Sulawesi bagian timur Kalimantan, telah menjadi isu perbatasan maritim penting antara Indonesia dan Malaysia sejak tahun 2005 essay ini akan mencoba menjelaskan secara umum sengketa Ambalat dari sudut pandang teknis (geospasial) dan hukum (hukum laut).

Pada bulan Februari 2005 yang lalu, hubungan Indonesia dan negara tetangga terdekat yakni Malaysia mengalami ketegangan dikarenakan adanya sengketa kepemilikan atas blok dasar laut yang oleh bangsa Indonesia disebut sebagai Blok Ambalat. Sengketa ini muncul ke permukaan pada saat perusahaan minyak raksasa Malaysia yakni Petronas, memberikan konsesi eksplorasi minyak kepada perusahaan minyak raksasa lainnya dari luar negeri yakni perusahaan Shell pada tanggal 16 Februari 2005. 

Sementara itu Indonesia di lain pihak telah memberikan konsesi untuk wilayah dasar laut yang sama kepada perusahaan minyak raksasa lainnya, perusahaan Unocal pada tanggal 12 Desember 2004 (Sumaryo, dkk., 2007)[3]. Dengan kata lain, dalam perspektif Indonesia, Malaysia telah mengklaim kawasan yang sebelumnya telah dikelola oleh Indonesia. Hal ini tentu saja menimbulkan banyak reaksi dari berbagai pihak di Indonesia (Rais dan Tamtomo, 2005) [4]

Setelah lebih dari empat tahun, isu tentang Ambalat telah mengemuka lagi. Ketegangan antara ke dua negara tetangga kali ini terjadi lagi karena disinyalir adanya pelanggaran di wilayah perairan Ambalat oleh kapal Malaysia (Gatra, 2009)[5]. Meskipun kedua belah pihak telah dan sedang menempuh upaya-upaya penyelesaian melalui negosiasi (Antara, 2009a) [6], rupanya penyelesaian sengketa tersebut terkait Ambalat belum tuntas sepenuhnya. 

Apabila kita mau menengok sejarah yang ada yakni saat PBB melakukan usaha kodifikasi hukum laut yang dimulai tahun 1958 yakni saat penetapan United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 (UNCLOS) yang berlaku hingga kini (United Nations, 1982b) [7]. Kemudian sejarah dan bukti-bukti delimitasi batas maritim yang ada. Serta melihat lokasi Ambalat dan hubungan UNCLOS dan peta baru Malaysia 1979, dan kembali mengacu pada fakta bahwa Malaysia dan Indonesia telah meratifikasi UNCLOS maka idealnya penyelesaian sengketa mengacu pada UNCLOS. Walau demikian situasi ini tentu masih menimbulkan kerumitas, terutama dalam hal penegakan hukumnya. Fox (2009) [8] misalnya menyimpulkan bahwa perbedaan garis batas maritim untuk dasar laut dan tubuh air ini menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada pelanggaran batas oleh nelayan kedua belah pihak yang biasanya akan berujung pada pengkapan oleh pihak lain. Melihat kompleksitas yang bisa ditimbulkannya, penetapan garis batas tunggal untuk landas kontinen dan ZEE nampaknya menjadi opsi yang cukup baik bagi Indonesia dan Malaysia. Meskipun demikian, opsi garis batas tunggal di laut Sulawesi (kawasan Ambalat) ini bersifat unik dan belum tentu cocok diterapkan di kawasan lain yang masih memerlukan delimitasi batas maritim.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memandang laut sebagai satu kesatuan tak terpisahkan dari daratan, Indonesia memang sudah selayaknya kembali memperhatikan wilayah dan yurisdiksi maritimnya. Penetapan garis batas maritim antar negara adalah salah satu pekerjaan rumah yang harus selalu mendapat perhatian, tidak saja terus terbuai dengan dongeng-dongeng kejayaan masa lalu maritim Nusantara.

Hal lain yang juga tak kalah pentingnya adalah membantu memberikan keberlanjutan informasi yang benar kepada masyarakat sebagai bagian dari pendidikan dan publikasi tentunya harus memadai secara kuantitas dan kualitas.

Air adalah kehidupan, darah yang mengaliri nadi. Laut adalah penghubung, pemersatu negeri nusantara ini. Surga keindahan Indonesia.

 Jalesveva Jayamahe! Di laut kita jaya!



DAFTAR PUSTAKA:

[1] Chandra Motik, dkk. 2007. Kekayaan Negeriku Negara Maritim. Jakarta: Sekretariat Dewan Maritim Indonesia.
[2] Pramoedya Anata Toer. 1995. Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad 16. Jakarta: Hasta Mitra.
[3] Sumaryo, dkk. 2007. The Strategic Value of Maritime Boundaries to Ocean Resource Exploration, Proceeding-Indonesia Petroleum Association Thirty First Annual Convention & Exhibition. Jakarta: IPA Publishing.
[4] Rais, J. dan Tamtomo, JP. 2005. Blok Ambalat: Opini Publik yang “Misleading”? Make Marine Cadastre Not War. Jakarta: Kompas 12 April 2005.
[5] Gatra. 2009. Malaysia Kembali Langgar Batas Wilayah. Jakarta: Penerbit Gatra.
[6] Antara. 2009a. Menlu: Blok Ambalat Itu Hak Berdaulat Indonesia. Jakarta: Penerbit Gatra.
[7] United Nations. 1982b. United Nations Convention on the Law of the Sea. USA: United Nations Publishing.
[8] Fox, JJ. 2009. Legal and Illegal Indonesia Fishing in Australian Waters. Singapore: ISEAS.


Layout final apresiasi sebagai salah satu kontributor essay maritim terbaik by Kaifa Publishing - 06 Oktober 2014
 
Sertifikat kontributor naskah essay Penulis Buku @MARITIM by Kaifa Publishing - 07 Oktober 2014

No comments:

Post a Comment