tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Tuesday, December 16, 2014

Analisa Pengaruh Paparan Iklan Rokok Terhadap Dampak Perilaku Merokok Remaja

Analisa Pengaruh Paparan Iklan Rokok Terhadap Dampak Perilaku Merokok Remaja 
(Studi Kasus Penelitian Teddy Kurniawan dkk Terhadap Remaja Kota Semarang 2012)



PENDAHULUAN
                   Berdasarkan laporan dari Worldometer.info mengatakan bahwa jumlah perokok di dunia sampai dengan Februari 2012 yang lalu telah mencapai 14 miliar orang (http://www.worldometers.info/). Indonesia sendiri di tahun 2010 telah menduduki peringkat ketiga dalam jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India. Tercatat sekitar 82 juta penduduk merokok secara aktif (http://www.detikhealth.com/read/2011/05/31/123820/1650812/763/kenapa-jumlah-perokok-indonesia-masih-tertinggi-ketiga-di-dunia).
           Tingginya jumlah perokok menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat dunia termasuk di Indonesia sendiri akan bahaya merokok sangatlah rendah. Hal ini tentu saja sangat disayangkan karena kampanye anti rokok sudah menyebarkan pengetahuan mengenai bahaya merokok bagi kesehatan. Merokok dapat menyebabkan penyakit kanker dan gangguan janin pada ibu hamil (Foulds dkk. 2003), diabetes, obesitas, impotensi (Berry dan Howe, 2005), gangguan pernapasan, kelainan pada jantung dan paru-paru (Hoffman, 2011), radang dinding lambung dan stroke (Brodish, 1998).
            Penduduk Indonesia khususnya remaja umumnya kurang mempedulikan bahaya merokok bagi kesehatannnya. Berita Kompas (http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/21/perokok-remaja-terbanyak-di-dunia) menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan pertama dalam jumlah perokok remaja di dunia. Tingginya jumlah perokok remaja Indonesia dilatar belakangi bahwa masa remaja adalah tahap peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa (Asfriyati dan Sanusi, 2006). Nasution 92007) menambahkan bahwa pada masa ini remaja akan berusaha mencari jati dirinya. Hasil penelitian oleh Rising dan Alexander (2011) menyimpulkan bahwa remaja adalah target pasar yang sangat potensial untuk industri rokok.
            Di dalam penulisan ini dilatarbelakangi oleh studi kasus yang telah dilakukan oleh Teddy Kurniawan dkk, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, 2012. Teddy dkk tertarik untuk meneliti pengaruh paparan iklan rokok, dan self-efficacy terhadap perilaku merokok remaja khususnya di daerah Semarang. Pada penelitian-penelitian sebelumnya oleh Tercyak dkk, (2002), Sargent dkk, (2009), Fatimah (2010), Dewi dan Supriyati (2007)l Budiarty dan Yuni (2008), serta Irfan (2010) menyatakan bahwa paparan iklan rokok berpengaruh signifikan terhadap perilaku merokok remaja. Paparan iklan adalah sebuah keadaan di mana seseorang dapat mengetahui adanya suatu iklan yang disebarluaskan melalui berbagai media. Dalam hal ini, apabila seseorang semakin sering terpapar iklan rokok, maka semakin mungkin akan menjadi seorang perokok.Teddy dkk tertarik untuk meneliti variabel paparan iklan karena masih terdapat kontradiksi dengan hasil-hasil penelitian terdahulu sebagaimana yang telah disebutkan.
            Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam analisa penelitian dan studi kasus ini, masalah penelitian yang dirumuskan adalah pengaruh paparan iklan rokok terhadap perilaku merokok remaja dengan lokasi sebagai variabel moderasi. Menurut Kinard dan Webster (2010) menduga perbedaan tempat penyebaran kuesioner menyebabkan hasil yang berbeda tentang pengaruh paparan iklan rokok terhadap perilaku merokok. Oleh karena itu Teddy dkk melakukan sedikit modifikasi tempat penelitian yaitu memilih kafe Prince House dan Universitas Dian Nuswantoro dengan segmentasi menengah yang dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2012.


PEMBAHASAN
            Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Teddy dkk yang mengambil jumlah sampel sebanyak 200 responden (100 responden remaja pengunjung kafe dan restoran, dan 100 responden sisanya adalah mahasiswa universitas) dengan metode pengambilan sampel non-probability sampling dan menggunakan judgmental sampling, kriteria sampel yang diteliti adalah 1) responden merokok dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, 2) responden berusia 18-24 tahun, 3) pernah melihat iklan rokok di berbagai media dalam kurun waktu 30 hari terakhir,  dan jenis data yang digunakan adalah data primer, setelah melalui teknik analisis metode kuantitatif dan analisis regresi berganda dengan variabel moderasi lokasi yang bertujuan mengetahui pengaruh paparah iklan terhadap perilaku merokok remaja serta pengaruh lokasi sebagai bariabel moderasi, serta dengan penjelasan indikator empirik frekuensi paparan yakni televisin dan majalah serta surat kabar, didapatkan hasil olah data bahwa paparan iklan tidak berpengaruh terhadap perilaku merokok remaja. Frekuensi paparan iklan rokok yang diterima remaja melalui media tidak mempengaruhi keputusan remaja untuk merokok.
            Paparan iklan tidak berpengaruh terhadap perilaku merokok remaja diduga karena adanya peraturan pemerintah terkait iklan dan promosi rokok. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Keseharan bagian iklan dan promosi, Pasal 17 (http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/regulasi/pp/PP_No_19_Th_2003.pdf) menyatakan bahwa iklan rokok tidak boleh merangsang atau menyarankan orang untuk merokok. Oleh karena itu dalam iklan rokok selalu ditampilkan peringatan kesehatan tentang bahaya merokok. Berdasarkan peraturan tersebut, saat ini iklan rokok cenderung bertema pencitraan. Sebagai contoh iklan rokok Djarum yang menawarkan citra laki-laki pemberani dan suka berpetualang. Teddy dkk menduga, para remaja yang menjadi responden penelitian tidak tertarik untuk membentuk jati dirinya sesuai dengan citra yang ditawarkan dalam iklan-iklan rokok tersebut. Selain itu, adanya peraturan pemerintah dan peringatan kesehatan serta faktor-faktor lain seperti orang tua, teman sebaya, atribut produk, dan promosi penjualan membuat paparan iklan tidak berpengaruh terhadap perilaku merokok responden dalam penelitian tersebut.


KESIMPULAN
            Berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan sebelumnya, maka dapat diambil ditarik kesimpulan sebagai berikut:
            1. Paparan iklan tidak berpengaruh terhadap perilaku merokok remaja.
            2. Lokasi tidak memoderasi pengaruh paparah iklan pada perilaku merokok remaja.


SARAN
            Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diambil suatu analisa yang menyatakan bahwa paparan iklan tidak berpengaruh terhadap perilaku merokok remaja sehingga kontra dengan hasil penelitian Tercyak dkk. (2002), Sargent dkk. (2009), Wellman dkk. (2006), Blener dan Slegei (2001). Hal ini bisa terjadi karena dalam teori Ibrahim (2007), media iklan hanya meliputi surat kabar, majalah, papan reklame, spanduk, televisi, dan radio saja, belum termasuk media internet. Padahal saat ini internet telah berkembang menjadi media yang banyak diakses oleh remaja Indonesia.
           Di dalam penelitian Teddy dkk (2012) tersebut tidak dibahas mengapa masih tingginya jumlah perokok, khususnya tingginya jumlah perokok remaja Indonesia, yang menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat dunia termasuk di Indonesia sendiri akan bahaya merokok sangatlah rendah sebagaimana disebutkan dalam Pendahuluan. Walaupun dalam Hasil Penelitian telah menunjukkan secara kuantitatif paparan iklan tidak berpengaruh terhadap perilaku merokok remaja. Keterbatasan waktu dan tempat penelitian kemungkinan adalah jawaban logis dari hal tersebut.  
          Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan lokasi pengambilan sampel yang berbeda dan tingkat pendidikan responden yang lebih bervariasi. Penggunaan media internet sebagai salah satu opsi penelitian juga perlu dipertimbangkan mengingat kemajuan teknologi dan aplikasi di dunia maya dapat mempermudah dan meningkatkan efisiensi penelitian. 


Like Facebook Fans Page Mukhofas Inspiration

Follow Twitter @khoirudinF


8 comments:

  1. mau iklan yg serem kaya gimana jg klo udah nyandu mah susah om..

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah.. justru itu Rasselea Publisher.. sy juga merasa yakin bahwa (paparan) iklan rokok baik yang bersifat secara tidak langsung untuk merokok atau yang secara langsung untuk tidak merokok (serem2 dsb) tidak banyak berpengaruh bagi konsumen/perokok di Indonesia..

      Delete
  2. Gk bisa menggambarkan bagaimana kebijakan ini, lucunya negeri ini, satu sisi pemerintah melarang merokok tapi kenapa rokok masih diedarkan? kenapa gk pabriknya saja ditutup dan impor rokok dilarang? enak kan kalo kyak gitu, selesai urusan,.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang sulit Mas Iwo Qois. Kebijakan pemerintah saat ini hanya bisa mengeluarkan PP dan peraturan-peraturan yang diharapkan bisa membatasi jumlah perokok. Namun di sisi lain pemerintah juga bergantung dari bea cukai rokok dalam dan luar negeri.

      Delete
  3. artikel bagus nih !
    yah memang tidak bisa dipungkiri bahwa industri rokok ini merupakan salah satu pendapatan pajak yang besar bagi pemerintah, sehingga saya rasa mereka tidak akan dengan mudah melepaskan tambang emas ini (halah)
    namun bukankah kita sendiri sudah mendengar dan mengetahui bahaya merokok. jadi, pilihan terletak di tangan anda, mau nada nyalakan rokoknya atau tidak.
    nuwun.
    Gusti mberkahi

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih komentarnya dek Ratri. kalau begitu kita pilih jangan menyalakan rokok :). Gusti mberkahi.

      Delete
  4. menurutku tak hanya iklan saja yang mempengaruhi, tapi pergaulan dan lingkungan ikut andil. ketika orang2 disekitarnya merokok semua, maka si anak akan menganggap merokok adalah hal yg lazim dilakukan. saat ia tdk ikut merokok pasti akan diejek temannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah sy pikir ada benarnya begitu mbak Putri Kamila. secara psiko-sosial sepertinya yang menentukan seseorang merokok atau tidak itu bukan soal iklan tapi pergaulan dan lingkungan. terima kasih untuk komentarnya mbak :).

      Delete