tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Monday, December 1, 2014

Kajian Pengembangan Pariwisata Kawasan Jembatan Suramadu Dalam Percepatan Pembangunan Ekonomi Di Wilayah Surabaya - Madura



Jembatan Suramadu Jembatan Terpanjang di Indonesia. Sumber: http://maoxiandao.asia


PENDAHULUAN 
Jembatan Suramadu merupakan jembatan yang melintasi Selat Madura, menghubungkan Pulau Jawa tepatnya melalui Kota Surabaya hingga Kabupaten Bangkalan di Pulau Madura. Jembatan Suramadu memiliki panjang 5.438 kilometer dan terdiri dari tiga bagian yaitu jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge). Adanya pembangunan Jembatan Suramadu memunculkan berbagai macam peluang dalam mempercepat pembangunan wilayah di Jawa Timur sehingga tidak hanya terkonsentrasi di wilayah Surabaya saja. Peningkatan aksesibilitas Surabaya - Madura memacu bangkitan pergerakan orang maupun barang, yang pada akhirnya mendorong pembangunan sektor - sektor ekonomi di wilayah sekitar Jembatan Suramadu khususnya, dan Madura pada umumnya.

Jembatan Suramadu merupakan upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan perekonomian Pulau Madura. Hal ini dilatarbelakangi kondisi perekonomian Pulau Madura yang masih belum berjalan dengan baik sebelum adanya Jembatan suramadu. Jembatan Suramadu adalah akses yang efisien dan efektif untuk meningkatkan mobilitas perekonomian yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang signifikan dan sebagai penggerak pembangunan ekonomi Pulau Madura untuk bersaing dengan daerah - daerah lain. Pertumbuhan ekonomi di Madura juga perlu diusahakan agar terjadi peningkatan pendapatan daerah yang berasal dari sumber daya alam berbasis lokal dengan memperhatikan nilai sosial-budaya dan lingkungan masyarakat setempat sehingga mendorong investor masuk ke madura. Pertumbuhan dan perkembangan wilayah Pulau Madura tertinggal di Jawa Timur terlihat dari rendahnya pendapatan perkapita propinsi Jawa Timur. Berdasarkan indikator tingkat kemiskinan di Jawa Timur persentase penduduk miskin 19,1 persen menjadi 22,51 persen tahun 2004 - 2005. Sementara itu, tingkat pertumbuhan ekonomi 3,52 - 5,48 dan PDRB 3,53 - 5,48 tahun 2002 - 2006 (BPS Jawa Timur 2002-2006).

Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2008 tentang pengelolaan Jembatan Suramadu dan disempurnakan melalui Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2009, telah membentuk Badan Pengelola Wilayah Surabaya - Madura (BPWS). Memiliki tugas dan fungsi dalam melaksanakan pengelolaan, pembangunan, dan memfasilitasi percepatan kegiatan pembangunan wilayah Suramadu untuk mencapai tujuan menjadikan wilayah Suramadu sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur. BPWS secara khusus bertugas membangun dan mengelola tiga kawasan Suramadu, yaitu Kawasan Kaki Jembatan Sisi (KKJS) Surabaya, Kawasan Kaki Jembatan Sisi (KKJS) Madura, dan kawasan khusus di Utara Pulau Madura. Kawasan Kaki Jembatan Sisi Surabaya (KKJS Surabaya) dan Kawasan Kaki Jembatan Sisi Madura (KKJS Madura) dikembangkan untuk mendorong perkembangan ekonomi, sedangkan kawasan khusus di Utara Pulau Madura sebagai bagian pengembangan kawasan Pelabuhan Peti Kemas. Dari beberapa percepatan kegiatan, terdapat sektor pariwisata yang menjadi salah satu fokus dari pertumbuhan ekonomi. Sektor pariwisata menjadi salah satu potensi yang akan berkembang lebih cepat seiring dengan adanya peningkatan aksesibilitas dan pergerakan manusia.

Pada beberapa sumber yang telah dikaji yaitu RDTR KKJS Madura, kemudian dokumen studi kelayakan pariwisata KKJS Madura, dan Bantuan Teknis pengembangan wilayah Suramadu, cenderung melihat perkembangan keberjalanan pembangunan wilayah-wilayah KKJS tersebut saat ini belum berjalan secara signifikan, terutama pada pengembangan pariwisata KKJS Madura. Padahal keberadaan KKJS Madura ditujukan untuk menjadi stimulus pengembangan wilayah Madura bagian lainnya. KKJS Madura sendiri merupakan salah satu kawasan strategis di Pulau Madura yang penetapan kegiatannya didasarkan pada analisis Produk Domestik Bruto Provinsi Jawa Timur, Kota Surabaya, dan Kabupaten Bangkalan. Dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KKJS Madura, kawasan pariwisata ditetapkan pada bagian selatan kawasan Jembatan Suramadu, yaitu seluas 18 ha. Kawasan ini berada ujung Jembatan Suramadu dan dekat dengan pantai sehingga akan sangat potensial bagi pengembangan pariwisata.

Beberapa pemahaman mengenai rencana pengembangan pariwisata yang telah dirumuskan, perlu ditinjau kembali tentang komponen dari sisi calon pengguna rencana tersebut yaitu wisatawan. Kemudian ditentukan beberapa kriteria tertentu sehingga dapat diidentifikasi kesesuaian antara rencana pengembangan pariwisata, dengan respon dari wisatawan berupa persepsi mereka terhadap kebutuhan pariwisata.

Penjabaran yang telah dipaparkan sebelumnya, mengerucutkan pada satu tujuan penulisan  yaitu mengidentifikasi kesesuaian rencana pengembangan pariwisata KKJS Madura, dengan persepsi wisatawan terhadap kebutuhan pariwisata. Hasil identifikasi yang telah dilakukan akan memberikan gambaran mengenai tingkat kesesuaian serta masukan - masukan terhadap implementasi rencana pengembangan tersebut kedepannya.

Jembatan Suramadu merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan perekonomian di Pulau Madura. Namun sayangnya, hal ini tidak diikuti dengan konsep infrastruktur yang mendukung guna meningkatkan daya tarik seseorang agar mau berkunjung ke Madura. Di sisi lain sebenarnya potensi Selat Madura merupakan kawasan perikanan yang strategis, namun sejauh ini belum didayagunakan secara maksimal karena keterbatasan infrastruktur nelayan dan konsumen pembeli ikan. Infrastruktur yang dimaksud di sini adalah dalam skala besar misalkan daerah penyalur hasil penangkapan.

Upaya-upaya pemerintah menjadikan kawasan sekitar kaki Suramadu sebagai growth center (pusat pertumbuhan) kawasan industri, perdagangan dan transportasi (pelabuhan) yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan mayarakat setempat. Adanya hubungan antara kaki Jembatan Suramadu dengan wilayah yang ada di belakangnya melalui pemberdayaan masyarakat lokal dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang dibungkus dalam sebuah knsep kota wisata antar wilayah di Madura akan mewujudkan pemerataan ekonomi di wilayah madura. Untuk itu, perlu adanya suatu konsep penataan kawasan tepi air di sekitar kaki Jembatan Suramadu untuk meningkatkan perekonomian wilayah Madura dan mewujudkan keterkaitan antar wilayah di Madura juga didukung oleh keseimbangan lingkungan dan budaya yang khas.


KONSEP AWAL PEMAHAMAN KEPARIWISATAAN
Pemahaman mengenai pariwisata telah berkembang dewasa ini. Perkembangan ini dipengaruhi oleh makna dari pariwisata itu sendiri yang terus berkembang dan mulai dipahami sebagai suatu lingkup multidimensi dan sangat terkait dengan latar belakang dari individu atau kelompok yang memaknainya. Keberadaan pariwisata yang multidimensi tadi akhirnya mebuat pariwisata dapat didefinisikan dari berbagai sudut pandang. Mulai dari perkembangan zaman yang ada saat ini, lingkup aspek seperti pariwisata dilihat dari sudut bisnis, industri, akademis, spasial, dan lain sebagainya.

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah. Pengertian tersebut dapat dijabarkan keberadaan pariwisata erat kaitannya dengan pelaku - pelaku yang berinteraksi satu sama lain sebagai pelaku, penikmat, dan penyedia.

Sedangkan pariwisata dalam arti modern merupakan gejala jaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar terhadap keindahan alam, kesenangan dan kenikmatan alam semesta, dan pada khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas dalam masyarakat manusia sebagai hasil perkembangan perniagaan, industri dan perdagangan serta penyempurnaan alat–alat pengangkutan. (Pendit dalam Pengantar ilmu pariwisata, 1994).

Pariwisata dapat dimaknai melalui tiga pendekatan yaitu dari sisi demand, supply, dan supply-demand. Sisi demand yaitu pariwisata ditinjau dari dimensi spasial (tempat dan jarak). Definisi pariwisata yang dipandang dari dimensi spasial merupakan definisi yang berkembang lebih awal dibandingkan definisi-definisi lainnya seperti yang dikemukakan Gartner, 1996 (Buku Feasibility Study KKJS Madura, 2011). Dimensi ini menekankan definisi pariwisata pada pergerakan wisatawan ke suatu tempat yang jauh dari lingkungan tempat tinggal dan atau tempat kerjanya untuk waktu yang sementara.

Sisi supply ditinjau dari dimensi industri / bisnis, artinya memfokuskan pada keterkaitan antara barang dan jasa untuk memfasilitasi perjalanan wisata. Smith, 1988 (Buku FS KKJS Madura, 2011) mendefinisikan pariwisata sebagai kumpulan usaha yang menyediakan barang dan jasa untuk memfasilitasi kegiatan bisnis, bersenang-senang, dan memanfaatkan waktu luang yang dilakukan jauh dari lingkungan tempat tinggalnya. Sedangkan untuk sisi supply-demand meninjau definisi pariwisata dari dimensi akademis dan sosial budaya. Dimensi akademis, mendefinisikan pariwisata secara lebih luas, tidak hanya melihat salah satu sisi (supply atau demand), tetapi melihat keduanya sebagai dua aspek yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Pariwisata dari dimensi ini didefinisikan sebagai studi yang mempelajari perjalanan manusia keluar dari lingkungannya, juga termasuk industri yang merespon kebutuhan manusia yang melakukan perjalanan, lebih jauh lagi dampak yang ditimbulkan oleh pelaku perjalanan maupun industri terhadap lingkungan sosial budaya, ekonomi, maupun lingkungan fisik setempat. Definisi tersebut dikemukakan oleh Jafar Jafari, 1977 (Buku FS KKJS Madura, 2011).

Pariwisata yang memiliki pemahaman secara meluas, cenderung membentuk suatu sistem yang mengaitkan komponen-komponen satu sama lain menjadi satu sistem pariwisata. Seperti yang dikemukakan oleh Jordan, 2004 (Buku FS KKJS Madura) bahwa sistem Pariwisata adalah tatanan komponen dalam industri pariwisata dimana masing-masing komponen saling berhubungan dan membentuk sesuatu yang bersifat menyeluruh. Komponen-komponen dalam sistem pariwisata erat kaitannya dengan keberadaan pariwisata ini sebagai produk dengan melihat aspek-aspek berpengaruh lainnya seperti penawaran atraksi wisata dari produk itu sendiri, kebutuhan dari wisatawan sebagai pengguna produk, fasilitas-fasilitas yang menunjang hubungan antara produk dan pengguna produk berupa kemudahan aksesibilitas dan pemasaran.


ANALISA RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PARIWISATA KKJS MADURA
Analisis kesesuaian meliputi perbandingan antara hasil identifikasi terhadap rencana pengembangan kawasan pariwisata KKJS Madura yang telah dibahas dengan hasil identifikasi terhadap persepsi wisatawan mengenai kebutuhan pariwisata. Perbandingan ini didasarkan pada kajian teori dan literatur yang dilakukan, sehingga perbandingannya disesuaikan dengan klasifikasi dan kriteria yang telah dibuat serta dipaparkan pada bahasan sebelumnya.

Identifikasi terhadap rencana pengembangan pariwisata KKJS Madura menghasilkan rencana-rencana yang telah dikelompokan berdasarkan kajian literatur. Secara umum rencana pengembangan KKJS Madura telah dapat dikelompokan berdasarkan komponen-komponen yang telah dibuat dalam penelitian ini. Hasil identifikasi tersebut selanjutnya akan dikaitkan dengan persepsi dari wisatawan terhadap kriteria-kriteria yang ada pada kelompok tersebut.

Identifikasi persepsi wisatawan terhadap kelompok atraksi wisata dapat disimpulkan bahwa perlu dilakukan prioritas pengembangan dari atraksi wisata yang masuk dalam kategori rendah yaitu meliputi:
• Kemenarikan atraksi alam
• Kelangkaan atraksi alam dan rekreasi
• Daya tahan atraksi alam dan rekreasi
• Kemusiman atraksi budaya, alam, dan rekreasi.

Identifikasi persepsi wisatawan terhadap kelompok aksesibilitas pariwisata dapat disimpukan bahwa perlu dilakukan prioritas pengembangan dari aksesibilitas pariwisata yang masuk dalam kategori rendah yaitu meliputi :
• Jarak keberadaan aksesibilitas angkutan umum dan terminal
• Kondisi aksesibilitas tempat parkir, angkutan umum, dan terminal
• Jalur / rute aksesibilitas angkutan umum dan terminal
• Harga / tarif aksesibilitas angkutan umum dan terminal

Kemudian untuk identifikasi persepsi wisatawan terhadap amenitas pariwisata dapat dapat disimpulkan bahwa perlu dilakukan prioritas pengembangan dari amenitas pariwisata yang masuk dalam kategori rendah yaitu meliputi:
• Pemanfaatan fasilitas kesehatan, kebersihan, keamanan, air bersih, listrik, komunikasi, dan kepariwisataan
• Keterjangkauan fasilitas kesehatan, kebersihan, air bersih, listrik, komunikasi, dan kepariwisataan
  Ketersediaan fasilitas kesehatan, kebersihan, air bersih, komunikasi, dan kepariwisataan
• Kondisi fasilitas kesehatan, kebersihan, jaringan air bersih, listrik, jaringan komunikasi, dan kepariwisataan.

Setelah melakukan identifikasi pada rencana pengembangan dan persepsi wisatawan, selanjutnya dilakukan analisis kesesuaian rencana pengembangan dengan persepsi dari wisatawan.


RENCANA KOTA WISATA MODERN DI KAWASAN JEMBATAN SURAMADU DALAM PERCEPATAN PEMBANGUNAN EKONOMI DI MADURA
a) Pemberdayaan Masyarakat dalam Stabilitas Ekonomi
Potensi besar komoditas SDA yang dimiliki pulau Madura saat ini belum terintegrasi dengan baik, oleh karena itu diperlukan konsep pengembangan industri lokal dengan pelibatkan masyarakat Madura sebagai pelaku ekonomi.

b) Penggunaan Hunian Hemat Energi
“Di Madura, dari 219.439 Kepala Keluarga (KK), yang teraliri listrik masih sekitar 129.522 KK, sehingga rasio elektrifikasinya hanya dikisaran 59,02%. Madura adalah daerah yang rasio elektrifikasinya terendah di Jatim.” ujar Arkad, Deputi Manager Komunikasi Bina Lingkungan PT PLN Distribusi Jatim. (KabarBUMN.com 16 Juli 2013/energi).

Rasio Elektrifikasi Madura yang begitu rendah tidak sejalan dengan rencana induk Madura Sparkling Stars. Hal ini tentunya perlu ada sebuah solusi bagaimana mengadakan listrik secara mandiri tanpa harus menunggu usaha peningkatan rasio elektrofikasi di Madura sehingga perlu adanya penggunaan konsep hunian hemat energi dalam pembangunan infrastruktur termasuk salah satunya kawasan wisata. Dengan sumber listrik yang berasal dari panel surya pada setiap bangunannya, dapat menghemat energi listrik yang digunakan dan menjadikan kota ini bersinar di malam hari.

c) Manajemen Kota Wisata
Madura Sparkling Stars dikonsep dengan rapi sehingga wisatwan dapat menikamati kawasan wisata modern yang tidak hanya memberikan kualitas infrastruktur melainkan dengan menajemen wisata yang terdiri dari:
1. Pasar Ikan Segar: Dalam tempat ini, para pengunjung kota wisata dapat membeli ikan segar langsung di tempat. Pasar ini digunakan sebagai sumber pendapatan masyarakat setempat sekaligus meningkatkan perekonomian Madura
2. Camping Ground: Camping ground merupakan salah satu bentuk usaha dalam mengenalkan keindahan alam. Dengan adanya kegiatan camping atau kemah ini, masyarakat diajak berinteraksi secara langsung dengan alam, hidup di alam bebas.
3. Wisata Laut Madura Sparkling Stars: Setiap daerah memiliki pesona alam yang unik dan beragam. Dalam wilayah pantai, pesona tersebut tidak hanya ada di darat melainkan juga pesona yang ada di laut sendiri. Oleh karena itu diperlukan suatu bentuk wisata edukasi yang bertujuan mengenalkan kepada masyarakat tentang pentingnya laut dan bagaimana keindahan laut yang sesungguhnya.
4. Wisata Makanan & Oleh-Oleh: Setiap daerah memiliki berbagai olahan makanan yang khas dan jarang ditemui di daerah lain. Makanan ini pula yang biasanya membuat manusia rela melakukan berbagai hal termasuk berpergian jauh guna merasakan salah satu makanan khas daerah tertentu. Dengan kata lain makanan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, lebih-lebih makanan telah menjadi gaya hidup tersendiri bagi sebagian kalangan masyarakat

d) Konsep Kota Modern
Green indigeneous dan kawasan tepi air ini tidak menitikberatkan pada segi efisiensi tanpa mempertimbangkan nilai manusia, lingkungan dan dampak pembangunan. Prinsip penataan kota modern ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan kawasan, khususnya pembangunan baru kawasan tepi air, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dijadikan wacana pembangunan kembali (redevelopment) atau konservasi. Prinsip perancangan yang telah dirumuskan lebih kearah penataan fisik dan berpihak kepada pemenuhan kebutuhan manusia seperti penataan ruang publik dan jalur pejalan (pedestrian way), pandangan (view), yang dikendalikan serta pemanfaatan potensi dan keunikan kawasan sehingga dapat diwujudkan kawasan yang nyaman untuk dihuni (livable), mempunyai citra tersendiri (image able), dan produktif (enduring).

Banyak manfaat yang bisa diperoleh bila kaki Jembatan Suramadu wilayah Madura bisa ditata sebagai kota wisata modern khususnya bidang industri. Manfaat utama adalah untuk mengatasi kekumuhan di kawasan sepanjang kaki Jembatan Suramadu sisi Madura akibat dampak perekonomian beroperasinya Jembatan Suramadu dan ketidakteraturan kota, yaitu melalui penataan bangunan dan peremajaan kawasan sepanjang kaki Jembatan Suramadu sisi Madura (urban renewal).

e) Langkah Strategis Implementasi Gagasan
Langkah-langkah strategis untuk mewujudkan gagasan Madura Sparkling Stars ini adalah: Di dalam proses implementasi konsep Madura Sparkling Stars untuk mewujudkan kota yang efektif, terdapat beberapa tahapan yang perlu dilakukan secara komprehensif. Adapun hasil dari beberapa tahap ini bertujuan untuk mematangkan konsep Madura Sparkling Stars yang secara implisit menggambarkan kota tepi air yang terintegrasi dengan pemanfaatan sumberdaya lokal baik alam maupun manusia untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan wilayah, pemberdayaan masyarakat (social empowerment), dan peningkatan taraf hidup masyarakat dari beberapa aspek yaitu ekonomi, sosio - budaya, dan lingkungan yang dikemas dalam dimensi berkelanjutan (suistanable dimension).


HASIL DAN PEMBAHASAN
a) Solusi yang Pernah Ada
Pemerintah membentuk Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) yang bertugas melakukan pengelolaan, pembangunan, dan fasilitasi percepatan pada 3 kawasan, yaitu kaki jembatan sisi Surabaya, kaki jembatan sisi Madura dan pantai utara Madura yang nantinya akan menjadi pelabuhan internasional sesuai dengan rencana induk Suramadu. Pembangunan yang dilakukan BPWS sangatlah lambat dan perlu adanya pemantauan ulang dari pihak pemerintah Madura. Hal ini dikarenakan pada 3 tahun pasca pembangunan Suramadu tepatnya pada tahun 2012, 4 kabupaten Madura masuk kedalam 5 kabupaten dengan perekonomian terendah di Jawa Timur. Pengembangan yang dilakukan belum ter-sentralisasi sehingga branding Madura belum nampak yang berdampak pula pada minimnya aksesibilitas perekonomian di Madura. Pengunjung hanya sebatas ingin mengetahui Jembatan Suramadu dan memasuki Bangkalan. Kejadian ini sangat bagus, namun belum adanya kualitas infrastruktur dan manajemen di Bangkalan yang dapat menarik wisatawan.

b) Gagasan Baru yang Ditawarkan
Konsep pengembangan industri berbasis lokal yang menekankan pada keseimbangan lingkungan dan mempertahankan unsur kebudayaan untuk mewujudkan pemerataan ekonomi dan berkelanjutan berupa Madura Sparkling Stars. Madura Sparkling Stars merupakan sebuah konsep kawasan wisata modern yang berada di pesisir pantai jembatan suramadu. Konsep ini menekankan pada pemberdayaan masyarakat dalam membangun stabilitas ekonomi Madura melalui pertanian serta perikanan dan menjadikan kawasan sekitar kaki Suramadu sebagai growth center (pusat pertumbuhan) ekonomi Madura guna mencipatakan branding dalam upaya meningkatkan meningkatkan daya tarik masyarakat untuk berkunjung ke Madura.


KESIMPULAN
Persepsi wisatawan terhadap atraksi wisata menunjukkan bahwa kriteria dan indikator yang memerlukan penanganan lebih lanjut adalah mencakup kemenarikan atraksi alam, kelangkaan atraksi alam dan rekreasi. Kemudian daya tahan atraksi alam dan rekreasi, serta kemusiman atraksi budaya, alam, dan rekreasi.

Persepsi wisatawan terhadap aksesibilitas pariwisata diperoleh kriteria dan indikator yang memerlukan penanganan lebih lanjut adalah mencakup jarak, kondisi, rute dan harga aksesibilitas angkutan umum dan terminal. Sedangkan untuk tempat parkir perlu penanganan terkait kondisi dengan penempatan yang lebih formal dan baik.

Persepsi wisatawan terhadap amenitas pariwisata diperoleh kriteria dan indikator yang memerlukan penanganan lebih lanjut mencakup keberadaan fasilitas kesehatan, kebersihan, air bersih, komunikasi dan kepariwisataan. Pada kondisi eksisting keberadaan fasilitas kesehatan relatif jauh dari kawasan studi tersebut, selain itu juga sangat minim keberadaan fasilitas kebersihan.

Dari hasil analisis kesesuaian yang telah dilakukan yaitu terkait perbandingan antara hasil identifikasi terhadap rencana pengembangan kawasan pariwisata KKJS Madura dengan hasil identifikasi terhadap persepsi dan preferensi wisatawan mengenai kebutuhan pariwisata, bahwa secara umum rencana telah mempu menjawab persepsi dan preferensi wisatawan

Pembuatan Growth Center sebagai pusat aktivitas perdagangan komoditas SDA pulau Madura sangat membantu dalam peningkatan perekonomian ditambah dengan konsep kawasan wisata Madura Sparkling Stars akan semakin meningkatkan nilai jual dan menjadi branding tersendiri sehingga dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan adanya Jembatan Suramadu ditambah dengan konsep Madura Sparkling Stars, perekonomian kawasan sekitar kaki Jembatan Suramadu akan meningkat sebesar 37,735% - 49,59% hingga tahun 2035.


REKOMENDASI
Dalam melaksanakan penelitian tentu memiliki tujuan dan dapat menjadi masukan beberapa pihak yang memiliki keterkaitan dengan tujuan penelitian tersebut. Hal ini bisa menjadi suatu rekomendasi bagi pihak - pihak yang memiliki kepentingan tersebut sebagai masukan maupun bahan evaluasi.

Pihak - pihak tersebut antara lain Dinas Kepariwisataan Provinsi Jawa Timur, Dinas Kepariwisataan Kabupaten Bangkalan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Bangkalan, dan utamanya adalah pihak pengelola Kawasan Kaki Jembatan Suramadu yaitu BPWS atau Badan Pengelola Wilayah Suramadu. Adapun beberapa rekomendasi jangka pendek yang perlu segera dilakukan yang dapat diberikan akan dipaparkan adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan kualitas atraksi alam yang akan dibuat dengan membentuk atraksi yang lebih unik dan mampu menahan wisatawan lebih lama.
2. Perencanaan desain terminal dan angkutan umum yang lebih jelas serta estimasi tarif penggunaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan wisatawan, kebutuhan wisatawan menyangkut kemudahan akses, kenyamanan, dan keamanan dari angkutan umum dan terminal tersebut.
3. Perencanaan prasarana umum yang mudah untuk diakses oleh wisatawan. Terutama fasilitas kesehatan yang belum jelas keberadaannya akan seperti apa.
4. Perlu segera dilakukan implementasi rencana pengembangan pariwisata tersebut agar dapat memberikan dampak secara nyata di wilayah tersebut.

REFERENSI
[1] Arikunto, S. 1997. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta.
[2] Badan Pusat Statistik. 2006. Indikator Makro Sosial dan Ekonomi Jawa Timur 2002-2006. BPS. Surabaya.
[3] Bappeda Kabupaten Bengkalan. 2008. Laporan Pendahuluan East Java Integrated Industrial Zone Ekonomi Khusus. Bappeda Kabupaten Bangkalan. Bangkalan.
[4] Dwiputra, Roby. 2012. Persepsi dan Preferensi Wisatawan Terhadap Saranan Wisata Di Kawasan Gunung Merapi. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
[5] Farobi, Fikri. 2012. Persepsi dan Sikap Masyarakat Terhadap Kegiatan Pariwisata Di Kota Bandung (Studi Kasus: kebun Binatang Bandung dan Trans Studio Bandung). Bandung: Institut Teknologi Bandung.
[6] Japan International Cooperation Agency (JICA). 2007. Final Report The Study for Development of The Greater Surabaya Metropolitan Ports in the Republic of Indonesia. Surabaya: Japan International Cooperation Agency (JICA).
[7] Jayadinata, Johara. 1999. Tata Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan dan Wilayah. ITB. Bandung.
[8] Nugraha, Wasistha. 2008. Analisis Supply-Demand Atraksi Wisata Pantai Alam Indah Tegal. Semarang: Universitas Diponegoro.
[9] Pemerintah Kabupaten Bengkalan. 2008. RTRW Kabupaten Bangkalan tahun 2008-2028. Pemkab Bangkalan. Bangkalan.
[10] Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2008. Laporan Grand Strategy Madura 2008. Pemprov Surabaya.
[11] Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2007. Laporan Pendahuluan Fasilitasi Penyusunan Rencana Tata Ruang Pulau Madura. Pemprov Surabaya. Surabaya.
[12] Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2007. Laporan Akhir Fasilitasi Penyusunan. Pemprov Surabaya. Surabaya.
[13] Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2008. Rencana Tata Ruang Pulau Madura. Pemprov Jatim. Surabaya.
[14] Pendit, Njoman S. 1994. Pengantar Ilmu Pariwisata. University of California: Pradjnaparamita.
[15] Sastrawati, Isfa. 2003. Prinsip Perancangan Kawasan Tepi Air. Jurnal PWK Vol. 14.



-----
Postingan artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Aku, BPWS & Madura
Banner Widget Lomba Blog Aku, BPWS & Madura
 Follow akun twitter @plat_m
 Follow akun twitter @plat_m
 Follow akun twitter @infobpws
 Follow akun twitter @infobpws
 Like Fanpages Komunitas Blogger Madura
 Like Fanpages Komunitas Blogger Madura
Like Fanpages Info BPWS
Like Fanpages Info BPWS

No comments:

Post a Comment