tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] "Living is a conversation. All people talk. But a good person listens as well." - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 19 Juli 2017.

Sunday, December 13, 2015

ISA, DI MANAKAH ENGKAU BERADA?



(i)
Isa,
di jalan-jalan tadi kulihat
pernak-pernik menyambut-Mu
lampu kerlap-kerlip dan hiasan bunga

Isa,
hari ini kuingin berkunjung lagi
pada kandang domba-Mu
yang selalu ada tiap tahunnya

Isa,
akhirnya pagi tadi kutiba di sana
kutengok kosong kandang domba-Mu
penuh hiasan dan ucapan selamat datang


(ii)
Isa,
khusus hari ini aku berbatik
karena kudengar Kau cinta segala manusia
tak peduli suku bangsa dan agama

Isa,
kandang domba-Mu kosong
walau sudah lewat tengah hari ku menunggu-Mu
apa mungkin Engkau lupa?

Isa,
kandang domba-Mu masih saja kosong
tapi kudengar perayaan natal
dan doa-doa di pesta sebelah


(iii)
Isa,
mungkin manusia betul-betul lupa
dulu tak ada gemerlap pesta
tiga ribu tahun yang lalu Kau tiba di dunia

Isa,
makin hari makin kuingin bertanya
mengapa Engkau mau datang
di kandang domba buatan manusia?

Isa,
mungkinkah Engkau tahu
tiga ribu tahun kemudian
manusia lupa akan diri-Mu?


(iv)
Isa,
aku bukan manusia yang beragama
entah kenapa hari ini kuingin
berkirim pesan dan tengok diri-Mu di sana

Isa,
aku tak tahu apa sinterklas itu ada
apakah hadiah natal terindah buat manusia
yang tak sanggup rayakan ulang tahun pribadinya?

Isa,
sobat lamaku, Gandhi, pernah berkata
alangkah mulia dan agungnya diri-Mu
sayang kami manusia lupa pada-Mu


(v)
Isa,
di manakah Engkau?
saat kamu memuja-muji nama-Mu
kandang domba-Mu kosong di sana

Isa,
di manakah Engkau?
saat kami berpesta-pora dalam kemeriahan
satu dua domba-Mu tergelincir di hutan

Isa,
di manakah Engkau?
saat kami beria-ria bersama
dan memilih lupakan cinta kasih sesama


(vi)
Isa,
ku tak pernah bertemu muka dengan-Mu
namun sukacita dan harapan menyapaku
dari wajah-wajah balita, oma opa, dan kaum papa

Isa,
bila kubertemu dengan-Mu nanti
mohon maafkanlah segala kata dan dosaku
aku sungguh tak layak berjumpa dengan-Mu

Isa,
lain waktu pasti akan kusambung lagi
mudah-mudahan Engkau bersedia
mudah-mudahan Engkau mau menerimaku lagi
-menyapaku dalam ruang sunyi

Yogyakarta, 13 Desember 2015

Thursday, November 12, 2015

Tirakatan, Generasi Muda, dan Syukur Nikmat Anugerah Nusantara

Link dan tampilan videonya yang telah diupload di Youtube: https://youtu.be/M-Z4fOxGZxw


اتق الله ، ومثِّل الآخرة في قلبك ، واجعل الموت نصب عينيك ، ولا تنس موقفك بين يدي الله ، وكن من الله على وَجَلٍ ، واجتنب محارمه ، وأد فرائضه ، وكن مع الله حيث كنت ، ولا تستصغرن نعم الله عليك ، وإن قَلَتِ ، وقابلها بالشكر ، وليكن صمتك تفكرا ، وكلامك ذكرا ، ونظرك عبرة ، واعف عمن ظلمك ، وصل من قطعك ، وأحسن إلى من أساء إليك ، واصبر على النائبات ، واستعذ بالله من النار بالتقوى
Bertaqwalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Gambarkanlah akhirat dalam qalbumu, dan jadikan kematian di antara kedua matamu.
Jangan lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan-Nya kelak.
Takutlah kepada-Nya, jauhilah segala yang Dia haramkan, dan laksanakan yang Dia wajibkan.
Hendaknya engkau bersama Allah (merasa selalu diawasi olehNya) di manapun engkau berada.

Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu, walau nikmat itu sedikit.
Balaslah nikmat tersebut dengan bersyukur.
Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, bicaramu sebagai zikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran.

Maafkanlah orang yang menzalimimu.
Sambunglah silaturahmi kepada orang yang memutusnya terhadapmu.
Berbuat baiklah kepada siapa pun yang berbuat jelek kepadamu.
Bersabarlah terhadap segala musibah.
Dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka karena ketaqwaan.

(Nasehat menjelang wafatnya Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah kepada Al Imam Al Muzani rahimahullah. Tarikh Dimasyqi karya Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Ibnu Asakir rahimahullah.)
(*) Terjemahan dari Majalah Qudwah 3/1/2012.
(**) Text Arab dari http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?indexstartno=0&hflag&pid=636951&bk_no=1745&startno=1


ABSTRAK           
Sehari sebelum tanggal 17 Agustus yaitu saat merayakan hari kemerdekaan Indonesia, sering digelar malam tirakatan atau malam menjelang esok merayakan dirgahayu Indonesia. Saat malam tirakatan ini biasanya warga akan datang dan kumpul untuk kemudian mengenang jasa-jasa para pahlawan, diantaranya dengan mendengarkan "kesaksian" atau kisah dari para sesepuh warga yang dahulu sempat mencicipi bagaimana perjuangan merebut kemerdekaan negeri kepulauan ini.Kegiatan ini biasanya akan menjadi inti dari acara tirakatan tersebut selain nantinya juga akan ditutup dengan ramah tamah dari warga sendiri.

Tradisi malam tirakatan ini masih ditemui di sebagian tempat di wilayah Yogyakarta tempat saya berdomisili saat ini. Kegiatan ini merupakan penerapan nilai-nilai gotong royong dan kerukunan dari warga karena semua yang dipersiapkan ialah dari, oleh dan untuk warga itu sendiri. Setelah dibuka dengan doa dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, maka acara akan dilanjutkan dengan pesan dari para veteran pejuang yang hadir (jika ada) untuk kemudian menceritakan tentang perjuangannya dahulu dan kemudian memberikan wejangan serta nasihat kepada generasi muda untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang berguna. Setelah itu, akan diumumkan pemenang lomba-lomba tujuh belasan yang telah diselenggarakan beberapa hari sebelumnya dan pembagian hadiah. Acara kemudian ditutup dengan makan malam dan ramah tamah dengan tetangga-tetangga sembari mempererat tali persaudaraan.

Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya menjadi keunggulan bangsa Indonesia yang dahulu memang dikenal dengan gotong royong dan kerukunan serta toleransinya. Akan tetapi sekarang makin tergerus oleh arus teknologi dan juga paham individualisme, sehingga tidak terlalu memperdulikan untuk bersosialisasi dengan tetangga ataupun lingkungan sekitar.

Kata Kunci: Indonesia Mercusuar Dunia, Kontes blog muslim, Lomba blog, Tirakatan Generasi Muda dan Syukur Nikmat Anugerah pada Nusantara, Final.


A.PENDAHULUAN                                                                                                                                                                                                         
A.1. LATAR BELAKANG
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam kesempatan pada Malam Tasyakuran Hari Amal Bhakti (HAB) ke-69 di Kantor Kemenag Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (6/1/2015) malam menyatakan, berdirinya Kementerian Agama dimaksudkan untuk memelihara serta memberi jaminan kepada semua pemeluk agama. Mengutip pidato Menteri Agama Pertama RI HM Rasyidi di RRI, Menteri Agama Lukman Hakim menyebutkan, berdirinya Kementerian Agama untuk memelihara serta memberi jaminan kepada pemeluk agama.

Ia menyatakan bahwa kemajemukan adalah anugerah yang patut disyukuri, karena tidak mudah mengelola kemajemukan seperti Indonesia. Dalam perayaan hari-hari besar umat beragama, kata Menag, Indonesia telah menunjukan bahwa kerukunan merupakan pondasi sebuah bangsa yang besar. Hanya di Indonesia dapat dijumpai hal-hal tentang kemajemukan yang positif dan tak ditemukan di manapun di dunia. Salah satu bentuk rasa syukur itu adalah dengan mengadakan dan memperingati Malam Tirakatan.

Malam Tirakatan itu sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Arab, Thariqat-Thariq, yang berarti jalan secara harfiahnya. Secara Definitif, Thariqat berarti suatu proses perjalan mencari kebenaran, atau mencari jalan yang benar. Bisa diartikan Thariqat atau Tirakat adalah pencarian nilai-nilai kebenaran. Pencarian nilai itulah yang mengilhami adanya malam tirakatan 17 agustus. Mencari nilai tentang spirit kenegarawanan , spirit pejuangan, spirit persatuan dan juga spirit syukur nikmat anugerah pada nusantara, yang telah dlakukan para pendahulu untuk membuat kemerdekaan indonesia. Spirit itulah yang harus ada, bukan hanya ketika hari kemerdekaan saja atau ketika malam tirakatan saja. Tetapi harus ada terpatri dalam hati warga Indonesia terutama generasi muda yakni para remaja dan pemuda, sekarang dan selamanya.

A.2. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan ini yaitu untuk:
1. Mengharapkan adanya narasi cerita dalam bentuk tulisan singkat dan video pendek dari perspektif remaja dan pemuda.
2. Menyampaikan pengalaman atas anugerah kenikmatan hidup di Nusantara yang rukun antar suku-ras-agama, sehingga dapat menikmati kenikmatan budaya daerah yang relijius atau kenikmatan aneka ragam kuliner khas Nusantara warisan leluhur sebagai modal berkarya positif dengan harapan agar bangsa Indonesia dapat tumbuh maju berkembang menjadi Mercusuar Dunia yang relijius tidak terpecah belah seperti negara-negara yang sedang berkonflik di Jazirah Arab.


B. PEMBAHASAN                  
B.1. MENGENAL TRADISI MALAM SATU SURO DI TANAH JAWA SEBAGAI RAGAM SOSIAL BUDAYA INDONESIA   
Kedatangan tahun baru biasanya ditandai dengan berbagai kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun berbagai arak-arakan di malam pergantian tahun. Lain halnya dengan pergantian tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri.
Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat.

Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.

Lelaku malam 1 Suro, tepat pada pukul 24.00 saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa. Di Kraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah.

Kebo Bule merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Di belakang Kebo Bule barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri. Sementara itu di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng. Selain di Kraton, ritual 1 Suro juga diadakan oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan.

Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan. Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro.

Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro. Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri.

Dan bukankah introspeksi tak cukup dilakukan semalam saat pergantian tahun saja? Makin panjang waktu yang digunakan untuk introspeksi, niscaya makin bijak kita menyikapi hidup ini. Inilah esensi lelaku yang diyakini masyakarat Jawa sepanjang bulan Suro.

B.2. TRADISI "MALAM TIRAKATAN" TUMBUHKAN SEMANGAT PERSATUAN          
Acara malam pitulasan atau yang biasa disebut “tirakatan” telah menjadi tradisi yang secara rutin telah digelar oleh warga Kota Jogja, Solo, Semarang dan sekitarnya. Malam tirakatan ini yang pada umumnya digelar di berbagai daerah Jawa di guna memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus ajang muhasabah bagi masyarakat atas kondisi bangsa yang belakangan diguncang berbagai permasalahan.

Di sepanjang jalan Kampung Tegal Jatimulyo Jambidan Banguntapan Bantul Yogyakarta, sejak sehabis Isya pada Jumat (16/8) malam, para warga mulai dari anak-anak hingga orang tua ramai-ramai berkumpul di jalanan. Sebuah panggung kecil yang berada di gang masuk dihadirkan untuk memeriahkan acara HUT Kemerdekaan RI yang ke 70. Anak-anak bergantian naik ke atas panggung untuk menyanyikan lagu-lagu nasional.

“17 belas Agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita,” dendang salah seorang anak dengan sedikit bergaya di atas panggung.

Sebelum acara tirakatan dimulai, panitia lebih dulu mengumumkan pemenang lomba-lomba tujuh belasan yang diikuti oleh anak-anak warga kampung. Hadiah pun dibagikan kepada mereka agar lebih semangat lagi dalam meramaikan kegiatan di kampungnya.

Pukul 20.30 WIB, pembawa acara membuka acara malam tirakatan. Lagu Indonesia Raya pun dikumandangkan oleh semua warga yang hadir untuk menambah semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan warga.

Dalam acara ini, salah seorang sesepuh kampung membacakan sambutan, “Mari kita junjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, semangat pesatuan dan kesatuan, dan gotong royong untuk mewujudkan Solo dan Indonesia yang wasis (berpendidikan), waras (sehat), wareg (cukup pangan), mapan dan papan (tempat tinggal),” ujarnya dalam sambutan pada malam itu.

Pada acara inti, Daryono, salah seorang tokoh masyarakat menyampaikan pidatonya dalam acara malam tirakatan ini. Ia menyampaikan bahwa pentingnya bela negara bagi setiap warga masyarakat Indonesia. Ia menegaskan bahwa tidak perlu melakukan hal-hal yang muluk-muluk untuk bela negara. Peduli dan bisa membangung lingkungannya sendiri itu lebih mulia. “Tidak usah ngurusi yang jauh-jauh dulu, lebih baik urusi tetangga dan lingkungan kita yang masih banyak membutuhkan bantuan,” tuturnya kepada para warga.

Selain itu ia juga menambahkan pentingnya menjaga kerukunan sesama tetangga untuk turut serta menciptakan kerukunan di Indonesia. Menurutnya, jika kerukunan antar tetangga saja belum bisa dibangun apalagi mau menciptakan kerukunan yang lebih besar lagi.

“Seberapa tinggi jabatannya, seberapa tinggi pendidikannya, seberapa kaya hartanya, yang akan dilihat adalah hubungan kepada tetangganya,” pungkasnya.

Acara pada malam hari itu ditutup dengan doa untuk negeri. Selesai acara semua warga mendapatkan snack makanan yang telah disajikan oleh panitia yang sejak pagi harinya telah menyiapkan masakan untuk semua warga Kampung Tegal Jatimulyo Jambidan Banguntapan Bantul Yogyakarta.

B.3. TIRAKATAN; MERENUNGI KEMERDEKAAN, MERENUNGI SYUKUR NIKMAT ANUGERAH PADA NUSANTARA
Semenjak tinggal di Yogyakarta, saya baru mengenal sebuah kegiatan unik dalam memperingati hari Kemerdekaan Indonesia, yaitu tirakatan. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus malam. Dalam acara tersebut, dilakukan beberapa kegiatan seperti pembacaan sambutan dari Gubernur DIY, tahlilan dan doa bersama. Yang agak spesial yang diadakan di kampung Tegal Jatimulyo tadi malam adalah pembacaan mocopat.

Mocopat merupakan seni pembacaan syair yang ditembangkan tanpa diiringi oleh instrumen musik, menggunakan bahasa Jawa dan biasanya bercerita tentang sejarah dan kejayaan kerajaan di Jawa. Dalam kesempatan tirakatan kali ini, syair yang dibacakan sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan disesuaikan dengan kegiatan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia ke 64 ini. Di kampung Tegal Jatimulyo, ada sekelompok para sepuh yang saban Kamis malam berkumpul di suatu tempat untuk latihan dan mengasah kemampuan mocopat mereka. Kesenian ini sudah cukup langka. Kawula muda hampir tidak ada yang mampu. Barangkali mereka menganggap, kesenian ini sama sekali tidak modern dan membuat penembangnya menjadi terlihat kuno. Sungguh disayangkan memang, tapi itulah kenyataannya… Aku sangat menikmati suguhan ini, meski tidak paham sama sekali apa yang dibaca.

Di kampung asalku, Cirebon, sudah semakin sulit menemukannya bahkan sama sekali belum pernah kutemukan kegiatan tirakatan ini. Kalau renungan pada malam 17 Agustus memang ada yang melakukan. Tapi, itu hanya dilakukan oleh sebagian kelompok kecil. Sementara, di Jogja, kegiatan tirakatan ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh seluruh kampung se-DIY. Sebuah kegiatan yang menurutku patut ditiru oleh seluruh kampung di Indonesia.

Lantas, apa sebenarnya tirakatan itu? Menurut antropolog PM Laksono seperti yang dikutip Agung Setyahadi, tirakatan merupakan gerakan kolektif di dalam masyarakat untuk menemukan jawaban atas kehidupan yang membingungkan. Tirakatan dilakukan dalam suasana tenang untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk duniawi. Tirakat merupakan laku prihatin dan mulai menjalankan hati nurani untuk menjawab masalah hidup.

Tirakatan kemudian diadopsi pada perayaan 17 Agustus dan merupakan sebuah eksperimen sosial untuk mengapresiasi serta memahami apa itu kemerdekaan dan apa itu Indonesia. Bagi sebagian besar orang, kemerdekaan masih membingungkan karena Indonesia bukan proyek yang telah selesai. Kondisi pascakemerdekaan sangat sulit dipahami karena negara Indonesia merupakan dunia yang sama sekali baru. Dalam pemahaman masyarakat, merdeka adalah kemampuan untuk menentukan sendiri masa depan dan eksistensinya. Kenyataannya, selalu ada yang dikalahkan oleh struktur dan itu menyakitkan banyak orang.

Antropolog Lono Lastoro Simatupang memandang tirakatan bagi orang Jawa adalah sarana untuk mengingat peristiwa-peristiwa khusus. Dalam konteks 17 Agustus, tirakatan adalah usaha masyarakat memaknai keindonesiaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus sebagai perenungan syukur nikmat anugerah Allah SWT pada nusantara. Tujuan reflektif dalam tirakatan menjadi tidak tercapai kalau hanya digunakan untuk ajang hura-hura.

Tirakatan kemerdekaan, lanjut Lono, merupakan tradisi unik yang khas ditemui di Jawa dan Bali. Tradisi ini tidak ada kaitannya dengan suatu paham religiusitas tertentu karena diikuti oleh warga berbagai agama dan penganut kepercayaan apa pun. Dalam pengertian politik lokal, dia berpeluang untuk memberi positioning memasukkan negara dalam kehidupan atau komunitas yang lebih akrab. Ini sangat positif.

Di antara sambutan Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan Pak RT tadi malam, ada sebuah kalimat yang cukup menarik; “Dalam falsafah budaya Jawa sendiri, tirakatan sama halnya seperti menunaikan tugas dan fungsi sosial, melalui adeping tekad (tekad kuat), cloroting batin (batin yang bersih dan bercahaya), sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti (bersatu dan bekerja sama), sebagai laku yang ditempuh menuju pangajab sih kawilujengan langgeng (untuk keselamatan)”.
Saya setuju dengan pendapat Sultan ini, bahwa tujuan utama kita bernegara adalah untuk meraih keselamatan hidup. Dan itu semua hanya bisa dicapai dengan tekad yang kuat, batin yang bersih dan bercahaya serta dilakukan secara bersama-sama dalam sebuah kesatuan, kesatuan yang sesungguhnya, bukan kesatuan semu.


C. PENUTUP     
Dari narasi cerita dalam bentuk tulisan singkat dan video pendek dari pengalaman saya sendiri, atas kenikmatan budaya, persatuan dan kesatuan, serta kerukunan antar suku dan ras yang didukung oleh nilai agama Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk dalam bingkai kebudayaan di Indonesia dapat disimpulkan bahwa:

(1) rasa syukur nikmat di nusantara di era globalisasi dewasa ini sangatlah penting dan sangatlah perlu untuk ditingkatkan lagi terutama bagi generasi muda yakni para remaja dan pemuda,
(2) diperlukan langkah-langkah konkret untuk lebih menyadarkan pentingnya rasa syukur hidup nikmat di nusantara yakni persatuan dan kesatuan bangsa melalui berbagai keragaman yang ada dengan cara mengajarkan pendidikan moral, pendekatan agama dan keluarga serta penerapan teknologi informasi yang tepat guna di kalangan generasi muda Indonesia,
(3) pentingnya menanamkan, menyadari dan mensyukuri hidup nikmat di nusantara itu bukanlah tugas orang lain atau negara melainkan adalah tugas kita bersama sebagai individu-individu relijius yang ingin terus meneladani para pendiri bangsa dan cinta tanah air sebagai bagian dari syiar dakwah Islam di Indonesia, yang memiliki nilai-nilai kebaikan, moralitas, dan karakter agar bangsa Indonesia dapat tumbuh maju berkembang menjadi Mercusuar Dunia yang relijius pula.

May peace be with you.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis Kontes Blog Muslim Ke-4 PPM ASWAJA “Rasa Syukur Hidup Nikmat di Nusantara dari Perspektif Remaja dan Pemuda”.


DAFTAR PUSTAKA             
REFERENSI CETAK:             
[1] Abdulah, Irwan. dkk. (2008). Agama dan Kearifan Lokal dalam Tantangan Global. Yogyakarta: Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Press.
[2] Baal, Van. (1988). Sejarah dan Pertumbuhan Budaya. Jakarta: Gramedia.
[3] Bagir, Zainal Abidin. dkk. (2015). Studi Agama di Indonesia: Refleksi Pengalaman Pembelajaran Moral. Yogyakarta: Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Press.
[4] Buku Ajar ke-NU-an. (2011). Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah.
[5] Fauzi, Ihsan Ali. dkk. (2012) Mengelola Keragaman: Pemolisian Kebebasan Beragama di Indonesia. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) Universitas Gadjah Mada (UGM), The Asian Foundation Press.
[6] Marzuqi, Moh. (2009). Skripsi Akulturasi Islam dan Budaya Jawa. Yogyakarta: Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan (UIN) Kalijaga Yogyakarta.
[7] Nasution, Harun. (1971). Pembaruan dalam Islam. Bandung: Bulan Bintang Press.
[8] Purwahadi. (2007). Pranata Sosial Jawa. Yogyakarta: Tanah Air Press.
[9] Putra, Heddy Shri Ahimsa. dkk. (2012). Makalah Spiritualitas Bangsa dan Moralitas Bangsa. Yogyakarta: BPSNT.
[10] Sholeh, Shonhadji. (2008). Model Komunikasi Transendental. Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 16 No. 1 April 2008 Surabaya: IAIN Sunan Ampel.

REFERENSI ONLINE:    
[1]. Menag: Kemajemukan Anugerah yang Patut Disyukuri dalam http://nasional.kompas.com/read/2015/01/07/09271521/Menag.Kemajemukan.Anugerah.yang.Patut.Disyukuri
[2] Mengenal Tradisi Malam Satu Suro Ditanah Jawa-Ragam Budaya Indonesia dalam http://caswaterpark.com/mengenal-tradisi-malam-satu-suro-ditanah-jawa-ragam-budaya-indonesia
[3] Tradisi Malam Tirakatan 17 Agustus dalam http://www.kompasiana.com/dannyprasetyo/tradisi-malam-tirakatan-17-agustus_551701858133112d52bc717d
[4] Tradisi "Malam Tirakatan" Tumbuhkan Semangat Persatuan dalam http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,46505-lang,id-c,daerah-t,Tradisi++Malam+Tirakatan++Tumbuhkan+Semangat+Persatuan-.phpx
[5] Tirakatan; Merenungi Kemerdekaan dalam http://hardivizon.com/2009/08/17/tirakatan-merenungi-kemerdekaan/

REFERENSI PENDUKUNG:                  
[1]. www.muslimedianews.com – Voice of Moslem
[2]. www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan

Tuesday, November 3, 2015

Tari Marendeng Marampa Semangat dan Kebanggaan Pemuda Pemudi Tana Toraja

Tari Marendeng Marampa

Toraja Goes To The World Cultural Heritage. Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma. Silahkan mengklik pranala/link www.torajabercerita.com untuk informasi lebih lanjut akan Tana Toraja.

Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat, atau juga untuk menunjukkan semangat dan kebanggaan Pemuda Tana Toraja akan tanah kelahiran mereka, sebagaimana yang diceritakan pada saya oleh sahabat saya sendiri, Hamka Rasufit, beberapa waktu yang lalu yang menceritakan sepenggal kisah hidupnya dan juga memperkenalkan tentang salah satu tari yang terkenal di Tana Toraja, yakni Tari Marendeng Marampa kepada saya:

"Mau jadi apa nak kalo sudah besar nanti?", tanya Ayah saya kala itu.
"Mau seperti Pak Habibie Ayah (red: Menteri Ristek saat itu).

Masa kecil saya tidak jauh dari ceceran oli yang ada di garasi rumah, bongkaran mesin mobil dan motor, gulungan kabel - kabel elektrik, juga sirkuit sirkuit yang di penuhi transistor dan kapasitor. Wajar saja, Ayah saya adalah seorang mekanik dan sangat mengagumi Pak Habibie. Saya pun bercita - cita ingin menjadi seperti Ayah saya dan Pak Habibie, padahal umur saya saat itu masih 4 tahun. Bermimpi selagi masih muda.

Impian untuk menjadi seorang Engineer mungkin tidak kesampaian, tapi saya masih bermimpi untuk bisa menjelajahi dunia dengan membawa nama Indonesia sama seperti Pak Habibie.

Lahir dan besar di Makassar tidak menjadikan saya senang sepenuhnya dengan kehidupan di kota. Penuh dengan kemacetan, asap kendaraan, dan juga kebisingan. Ingin rasanya menghirup udara segar, menikmati kicauan burung, dan menyegarkan mata dengan perbukitan yang hijau. Rasa penasaran saya pun kala itu terjawab. Ayah saya mengajak mudik ke Enrekang dan Toraja, tanah kelahiran Ayah saya dan tempat dia menghabiskan masa kecilnya. Silahkan mengklik pranala/link www.torajabercerita.com untuk informasi lebih lanjut akan Tana Toraja.

Perjalanan dari Makassar ke Toraja memakan waktu sekitar 4 jam, namun untuk menuju tempat kelahirannya masih berjarak sekitar 3 jam berjalan kaki melalui bukit. Ayah saya menggendong saya di pundak saat itu. Kala itu dia menyanyikan sebuah lagu yang tidak saya mengerti:

Marendeng marampa’kadadianku
Dio padang di gente’toraya, lebukan Sulawesi
Melombok, membuntu, mentanetena
Nakabu’uma sia pa’lak, nasakkai salu sa’dan
Kami sang Torayan, umba-umba padang ki olai
Maparri’masussa kirampoi
Tang kipoma banda penawa
Iamo passanan tengkoki, umpasundung rongko’kan

Artinya seperti ini:
 
Damai (dan) jaya tanah kelahiranku
Di negeri yang dinamakan Toraja, Pulau Sulawesi
Yang bergunung, yang berlembah, yang berbukit-bukit
Diliputi sawah dan kebun, disejukkan oleh Sungai Sa’dan
Kami semua orang Toraja, ke negeri manapun kami pergi
Tetap kami ingat dalam hati 
Meski susah derita  kami jumpa
Kami tidak berkeberatan hati

Itulah kewajiban kami menyempurnakan kejayaan kami

"Inilah kampung Ayah, sejuk, berbukit, dan penuh dengan budaya nak!", ucap Ayah saya ketika kami berdua tiba. Lagu ini menjadi familiar hingga saat ini di telinga saya.

Para Penari Tana Toraja

Kabupaten Tana Toraja di kenal dengan nama tua yaitu "Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo " , yang berarti negeri dengan pemerintahan dan masyarakat berke-Tuhanan yang bersatu utuh bulat seperti bulatnya matahari dan bulan. Selain itu, banyak lagu-lagu daerah Tana Toraja seperti Marendeng Marampa’, Tondok Matari’ Allo dll yang biasanya dipertunjukkan lewat iringan Musik tradisional.

Dari Utara hingga Selatan, terdapat banyak suku dan bahasa di Provinsi Sulawesi Selatan. Kebudayaan pun beragam, mulai dari nyanyian rakyat, alat musik, hingga tarian tradisional. Namun, sangat sulit untuk menemukan Tarian Tradisional di Sulawesi Selatan yang bisa ditarikan oleh kaum Lelaki. Salah satu tarian yang sangat populer di Sulawesi Selatan dan bisa ditarikan oleh Lelaki adalah Tari Marendeng Marampa'. Silahkan mengklik pranala/link www.torajabercerita.com untuk informasi lebih lanjut akan Tana Toraja.

Tarian Marendeng Marampa' merupakan tarian yang menunjukkan semangat dan kebanggaan Pemuda Tana Toraja akan tanah kelahiran mereka. Tarian ini membutuhkan stamina yang fit karena dilakukan dengan banyak variasi gerakan, lompatan, dan teriakan. Tarian ini pun diiringi dengan alat musik tradisional khas Toraja yaitu Keso - Keso (Alat musik gesek), gendrang Toraja (Alat tabuh), dan musik bambu atau masyarakat lokal menyebutnya "Pa'Bas". Tarian ini biasanya ditarikan beriringan dengan Tari Pagellu yang ditarikan oleh gadis Toraja dan juga Tari 4 etnis Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Mandar, Toraja).

Dalam melakukan tari ini, para penari pria menggunakan pakaian adat khas Toraja yang berupa kain Toraja sulam, penutup kepala dan juga kalung dari Taring Babi Rusa. sementara untuk penari wanita menggunakan pakaian adat Toraja khusus cewek, kandore (manik - manik buatan tangan) yang dikenakan sebagai ikat kepala, kalung, gelang, anting, dan sabuk. Warna dominan merah dan kuning sesuai dengan ukiran khas di Toraja.

Melakukan tari ini menjadikan saya makin cinta dengan kebudayaan sendiri, merasa bangga, dan kadang rindu ketika berada jauh dari kampung halaman (red: merantau). Silahkan mengklik pranala/link www.torajabercerita.com untuk mendapatkan informasi lebih lanjut akan Tana Toraja.

Toraja Goes To The World Cultural Heritage. Berikut ini saya sertakan pula video tentang Tari Marendeng Marampa dengan latar belakang Tana Toraja yang sungguh menarik hati, tari yang penuh dengan gerakan-gerakan dinamis, dan juga musik pengiring dan para penari yang membuat hati gembira (disertai pula oleh liriknya):


Postingan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Lovely Toraja 2015:
 
Logo Lomba Menulis Blog lovely Toraja 2015
Peserta harus menyukai (like) halaman Facebook (Penyelenggara) di Facebook Toraja Bercerita: https://www.facebook.com/pages/Toraja-Bercerita/1663257410576058 
 
Peserta menyukai (like) halaman Facebook Toraja Bercerita

dan mengikuti (follow) akun Twitter penyelenggara di https://twitter.com/torajabercerita 

Peserta mengikuti (follow) akun Twitter @torajabercerita

Lomba Menulis di Web/Blog LOVELY TORAJA 9 Oktober - 3 November 2015 ini bertujuan memperbanyak informasi pariwisata-budaya dengan melibatkan putra-putri daerah (lokal). Hakekat mesin pencari seperti Google, makin banyak tulisan di sebuah web/ blog maka kian memudahkan penduduk dunia (GLOBAL) mendapatkan informasi mengenai budaya-wisata TORAYA (TORAJA). Silahkan mengklik pranala/link www.torajabercerita.com untuk mendapatkan informasi lebih lanjut akan Tana Toraja.

Monday, August 24, 2015

Grave Stone Tourism Londa, Tana Toraja Indonesia (Wisata Kubur Batu Londa, Tana Toraja Indonesia)



I. TorajaBercerita Introduction (Pendahuluan TorajaBercerita)

Why do people choose Toraja Land as a destination? I spoke to many travelers while on Sulawesi (Celebes) and they all seemed to say the same things. They had come to Sulawesi (Celebes) and exploring Toraja Land because they either had heard such wonderful things from friends or relatives who had been there, or they had visited previously themselves. What people seemed to like the best were the friendly people, the culture and the untouched beauty of Sulawesi at most.

(Mengapa banyak orang memilih Tana Toraja sebagai tujuan wisata? Saya telah berbicara kepada banyak wisatawan yang pernah berkunjung saat berada di Sulawesi (Celebes) dan mereka semua tampaknya mengatakan hal yang sama. Mereka datang ke Sulawesi (Celebes) dan menjelajahi Tana Toraja karena mereka juga telah mendengar hal-hal indah dari teman atau kerabat yang pernah ke sana, atau mereka yang telah mengunjungi sebelumnya sendiri. Apa yang tampaknya paling banyak para wisatawan sukai adalah orang-orangnya yang ramah, budayanya dan tuntunya adalah keindahan-keindahan alam dan budaya yang belum terjamah dari Sulawesi.)


After Bali and Java, the third most popular destination in Indonesia is Sulawesi. Sulawesi island contains a great variety of exotic people, culture and natural wonders. It is another unspoilt paradise in Indonesia. A journey into the strange world of mysterious Toraja people is truly a rare adventure, made especially eerie by their haunting tombs - holes carved out of sheer rock faces guarded by wooden effigies that stare out across the jungle.

(Setelah Bali dan Jawa, tujuan ketiga yang paling populer di Indonesia adalah Sulawesi. Pulau Sulawesi memiliki masyarakat lokal, kebudayaan dan keajaiban alam yang eksotis. Ini adalah layaknya sebuah surga di muka Indonesia. Sebuah perjalanan ke dunia aneh nan misterius dari orang-orang Toraja benar-benar sebuah petualangan yang langka, dibuat khusus agar tampak menakutkan sebagaimana makam mereka – lubang-lubang yang diukir dari wajah tebing yang terjal yang dijaga oleh patung-patung kayu yang seakan menatap keluar dari dalam hutan.)

Toraja Land, is known for its unique culture and ancient traditions. The center of tourism is Rantepao, 328 km away from Makassar by road is about 8 hours).

(Tana Toraja, dikenal karena kebudayaannya yang unik dan tradisi-tradisi kunonya. Pusat pariwisata adalah Rantepao , 328 km dari Makassar bila ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 8 jam.) 






The entry to Tana Toraja is marked by a gate built in traditional boat-shaped architecture. The road passes through the mountains of Kandora and Gandang on which, according to Toraja mythology, the first ancestors of celestial beings descended from heaven. The majority of the people still follow an ancestral cult called "Aluk Todolo" which governs all traditional ceremonies.

(Pintu masuk ke Tana Toraja ditandai dengan sebuah gerbang yang dibangun dalam arsitektur berbentuk perahu tradisional. Perjalanan masuk tersebut melewati pegunungan Kandora dan Gandang, yang menurut mitologi Toraja, nenek moyang pertama mereka dari para makhluk surgawi yang turun dari langit . Sebagian besar orang masih mengikuti kultus leluhur disebut " Aluk Todolo " yang mengatur semua upacara adat.)

Torajan culture is a complex blend of ancestor worship and animistic beliefs where rituals for the dead are colorful festivals to pave the way for the soul's entry into the afterlife. This unique culture, the scenic beauty, cool climate and gentle for people are the main reason why Toraja is gaining popularity as a favorite tourist destination. For many visitors, Toraja will linger in their mind as a land steeped in mystery, magic and ancient traditions. It is one of the world's rare cultural treasures.

(Budaya Toraja adalah campuran yang kompleks dari pemujaan leluhur dan kepercayaan animisme di mana ritual untuk orang yang mati berupa festival warna-warni untuk membuka jalan bagi masuknya jiwa ke dalam akhirat. Budaya yang unik, pemandangan yang indah, dan iklimnya yang sejuk dan lembut bagi banyak orang adalah alasan utama mengapa Toraja mendapatkan begitu banyak popularitas sebagai satu tujuan wisata favorit. Bagi banyak pengunjung, pengalaman selama di Toraja akan tetap tinggal dan membekas dalam pikiran mereka sebagai satu tanah yang penuh misteri, magis, dan tradisi-tradisi kunonya. Ini adalah salah satu kekayaan budaya yang langka di dunia.)

Toraja-house symbolized in mythology as the land of heavenly kings, its boat-shaped houses face north in honor of the deities. Their traditional house called Tongkonan are related to the settlers who converted their boats into houses, and set the pattern of present-day community life. There is a belief that early settlers came by boats and converted the boats into houses. The houses are beautifully decorated with carvings and geometric designs. The number of buffalo horns hanging in front of the house indicate the status and wealth of the owner. Though Christianity and Islam have found converts here and modern trends have made inroads, traditional rituals remain strong, especially that of funeral rites.

(Rumah-rumah Toraja dilambangkan dalam mitologi lokal sebagai tanah raja-raja surgawi, rumah berbentuk perahu yang menghadapi ke arah utara untuk menghormati para dewa. Rumah tradisional masyarakat Toraja biasa disebut Tongkonan terkait dengan pemukim yang mengubah perahu-perahu mereka menjadi bentuk rumah-rumah, dan mengatur pola hidup masyarakat mereka hingga masa kini. Ada keyakinan bahwa pemukim awal datang dari perahu dan kemudian berubah ke bentuk rumah-rumah. Rumah-rumah tersebut berdekorasi sangat indah dan dihiasi dengan ukiran dan desain geometris. Banyaknya jumlah tanduk kerbau tergantung di depan rumah menunjukkan status dan kekayaan dari sang pemilik. Meskipun para pemeluk agama Kristen dan Islam telah banyak di sini dan banyak pola-pola perkembangan zaman modern telah membuat terobosan, bagian ritual tradisional tetaplah kuat, terutama pada upacara-upacara pemakaman.)

The most interesting and spectacular of Torajan rituals are the funerals known as Rambu Solo. For Torajan, a funeral is one of the most important ceremony in the life cycle. It is based on a strong belief that the soul of the deceased travels to the land of the south and in this land of eternity, he/she will need all the requisites of everyday life in the hereafter just like when he was alive in this world. That’s the reason why funeral ceremonies are festival lasting as long as ten days with much feasting and entertainment. Animal sacrifices are made to ensure eternal life in the afterlife and to safeguard the descendants.

(Yang paling menarik dan spektakuler dari ritual-ritual Toraja adalah pemakamannya yang dikenal dengan nama Rambu Solo. Bagi masyarakat Toraja, sebuah pemakaman adalah salah satu upacara yang paling penting sepanjang siklus hidup mereka. Hal ini berdasarkan pada keyakinan lokal yang kuat bahwa jiwa dari mereka yang telah meninggal akan berjalan ke tanah selatan dan di negeri inilah ada keabadian, pria/wanita yang telah meninggal tersebut akan tetap membutuhkan semua syarat dari kehidupan sehari-hari di akhirat sama seperti ketika ia masih hidup di dunia ini. Inilah yang menjadi alasan mengapa upacara layaknya festival pemakaman berlangsung selama sepuluh hari dengan banyak pesta dan hiburan. Hewan-hewan yang dikorbankan dalam pesta dibuat sebagai bekal bagi kehidupan yang kekal di akhirat dan sebagai jaminan pula untuk menjaga keturunan orang yang telah meninggal.)






A funeral is a festive event for every member of the society. When the funeral is held by noble families then the ceremony will usually involve great fanfare. Buffaloes and pigs are sacrificed as an indication of status and as repayment for gifts received. This ceremony may take at least several days, weeks or months after the actual death and the decreased is referred to as a sick man until the day he/she will be buried.

(Sebuah pemakaman adalah peristiwa meriah untuk setiap anggota masyarakat. Ketika pemakaman tersebut diadakan oleh keluarga bangsawan maka upacara biasanya akan melibatkan kemeriahan yang lebih besar pula. Kerbau dan babi adalah hewan yang biasa dikorbankan sebagai indikasi status dan sebagai pembayaran untuk hadiah yang diterima oleh keluarga tersebut. Upacara ini biasanya akan berlangsung paling tidak selama beberapa hari, minggu atau bulan setelah kematian yang sebenarnya dan almarhum/almarhumah akan dianggap sebagai orang sakit sampai dengan hari dimana ia dimakamkan.)

Various types of graves are located in Cliffside caves, mountain ledges or in special houses reserved for the dead. The graves in Tana Toraja are made in huge rocks because of their strength and relative safety from animals and thieves. There are many of these graves in the different mountains. And some are well guarded by life-size wooden statues of the persons buried.

(Berbagai jenis kuburan yang terletak di gua-gua tebing, tepian gunung atau di rumah-rumah khusus disediakan untuk mereka yang telah meninggal. Kuburan di Tana Toraja dibuat di batu besar karena kuat dan relatif aman dari hewan dan pencuri. Ada banyak pekuburan ini di pegunungan yang berbeda-beda . Dan beberapa diantaranya dijaga dengan baik oleh patung kayu berukuran yang sama dari orang yang telah dikubur.)

To find out more interesting things about Tana Toraja please open www.torajabercerita.com

(Untuk mengetahui lebih banyak hal menarik tentang Tana Toraja disarankan untuk membuka www.torajabercerita.com)

http://www.torajabercerita.com/


II. Grave Stone Tourism Londa, Tana Toraja Indonesia (Wisata Kubur Batu Londa, Tana Toraja Indonesia)

In the Toraja people , the funeral ceremony is a ritual that is the most important and costly . The more rich and powerful person, the cost of the funeral service will be more expensive . In religion aluk , only the noble and rich family are entitled to hold a large funeral party. Funeral party nobleman usually attended by thousands of people and lasting for several days. A funeral procession place called Rante usually prepared in a prairie, in addition to being a place of mourners in attendance , as well as a granary, and various other funeral devices made ​​by the family of the deceased. Flute music , singing, song and poetry, weeping and wailing is an expression of condolence carried out by the Toraja but it does not apply to the funeral of the children, the poor and the lower classes.

(Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.)


In Tana Toraja, there are three ways funeral: coffin can be stored in a cave, or in tombs carved stone, or hung on a cliff. The rich people sometimes buried in tombs carved stone. The tombs are usually expensive and the time for making it is about a few months. In some areas, the rock caves was used to save the bodies of all family members. A wood statue represent as a guardian called tau tau ​​is usually placed in the cave and facing outward. Coffins babies or children hanged with a rope on the cliff side. The rope is usually survive for a year before making his casket rot and fall.

(Di Tana Toraja ada tiga cara pemakaman: peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.)






Thus, the grave stone of this Londa is a steep rocks in Tana Toraja, to be precisely is about 5 km from the city of Rantepao (a big city there) and in the rocks there are graves of stones (some still neat, but mostly already messed.)

(Jadi, kubur batu Londa ini adalah sebuah bebatuan curam di Tana Toraja, tepatnya sekitar 5 km dari kota Rantepao (sebuah kota besar di sana) dan di bebatuan tersebut ada kuburan batu yang disusun (beberapa masih rapi, tapi umumnya sudah berantakan.)

One of those graves is located in a high place of a hill with a cave in which the coffins the bodies set according to the family line, on the other hill is open facing to the green scenery views . 

(Salah satu dari kubur-kubur ini terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau.)

How abut the admission to Londa? For admission is FREE so don't worry about admission, but usually for parking will be charged IDR 1000. But you could prepare some money to buy some souvenirs for your family and beloved friends, from key chains, wall hangings to miniature traditional house Tana Toraja. Here are some unique souvenir from Tana Toraja:

(Bagaimana dengan tiket masuk ke Londa? Untuk tiket masuknya GRATIS jadi tidak perlu khawatir mengenai tiket masuk, namun biasanya untuk parkir akan dikenakan biaya sebesar Rp. 1000. Tapi anda juga bisa menyiapkan uang lebih untuk membeli beberapa souvenir untuk keluarga dan teman tercinta, dari gantungan kunci, hiasan dinding hingga miniatur rumah adat ala Tana Toraja. Berikut ini adalah beberapa souvenir khas Tana Toraja:)


 
 



Actually there are so many interesting and cool places of interest in Tana Toraja, but it seems will be be too much if was published in this article only.

(Sebenarnya masih banyak tempat menarik dan luar biasa di Tana Toraja, namun sepertinya akan terlalu banyak jika dimuat di satu artikel ini saja.)

So, if you are still confused to find such a nice and exotic place to traveled for your next vacation, please come to Tana Toraja!

(Jadi, jika anda masih bingung untuk menemukan tempat berwisata yang unik dan asyik untuk liburan berikutnya, silahkan datang ke Tana Toraja!)

That is all that I can say here. What are you waiting for? Please come to Tana Toraja and enjoy your delightful vacation. Thanks.

(Demikian yang dapat saya sampaikan di sini. Jadi tunggu apa lagi? Segeralah datang ke Tana Toraja dan nikmatilah liburan yang menyenangkan. Terima Kasih.)

To find out more interesting things about Tana Toraja please open www.torajabercerita.com

(Untuk mengetahui lebih banyak hal menarik tentang Tana Toraja disarankan untuk membuka www.torajabercerita.com)

http://www.torajabercerita.com/


---
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Menulis dan Foto Ceritakan Budaya Toraja dengan tema lomba "Ceritakan Budaya Wisatamu" yang terselenggara atas kerjasama Bank Sulselbar Cabang Rantepao dengan Lingkar Pena Pariwisata Toraja (LPPT) dan Pemerintah Kabupaten Toraja Utara (Pemkab Torut).


Peserta harus menyukai (like) halaman Facebook (Penyelenggara) di Facebook Toraja Bercerita: https://www.facebook.com/pages/Toraja-Bercerita/1663257410576058 dan mengikuti (follow) akun Twitter penyelenggara di https://twitter.com/torajabercerita

Menyukai (like) halaman Facebook Toraja Bercerita

Mengikuti (follow) akun Twitter Toraja Bercerita