tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Saturday, February 14, 2015

Emak dan Senja di Rumah Kami

Cover buku Ps: I Love Mom. Sumber: https://www.facebook.com/bukunepenerbit/photos/a.570445402991429.1073741825.110597688976205/804005989635368/?type=1&theater


Emak suka sekali duduk-duduk di beranda rumah. Menikmati sejuknya angin senja. Sambil memandangi daun-daun yang berguguran di halaman. Sebentar lagi, saat matahari kembali surut ke peraduan di balik gunung, emak akan segera memanggilku. Menyuruhku untuk menyapu daun-daun itu. Mengumpulkannya menjadi satu kemudian membakarnya. Namun, meski matahari sudah hampir terbenam, emak belum juga memanggilku. Ingin rasanya aku segera berjalan ke depan. Menghampiri emak dan mengerjakan apa pun yang ingin diperintahkannya. Suasana senja semakin remang dan sudah nyaris gelap. Tetapi emak masih belum memanggilku juga. Apakah emak lupa? Aku segera berjalan menepi menyusuri dari samping rumah. Begitu langkah kakiku mencapai teras beranda, kulihat emak sedang asyik termangu. Atau termenung? Dalam remang, masih dapat kulihat dengan jelas di halaman rumah berserakan daun-daun. Besar dan kecil. Itu pasti daun-daun mangga milik tetangga sebelah atau daun-daun mahoni kering dari seberang jalan. Atau daun-daun lain yang aku tak tahu apa namanya dan dari mana asalnya. Sudah tak ada niat untuk menyapu. Terlampau senja. Lalu kuhampiri emak. Pikirku kira-kira apa yang tengah emak renungkan di saat senja tua begini?

“Emak...,” ucapku nyaris berbisik.
Sekilas emak tampak terkejut. Namun, setelah tahu yang datang adalah aku, emak tersenyum.
Tipis sekali. Segurat wajah letih tersungging di sana.
“Kau tak perlu menyapu kali ini.”
“Sudah hampir malam, mak. Mengapa emak belum juga masuk?”
“Emak masih ingin di luar, nak. Emak suka sekali melihat keluasan langit. Emak suka menikmati hembusan angin. Emak suka memandangi daun-daun yang dibakar. Emak seperti menghayati sekali...” Emak terdiam.
“Emak bisa sakit kalau terlalu lama berada di luar. Apalagi dalam udara malam seperti ini,” kataku.
“Janganlah kau terlalu mengkhawatirkan emak, nak. Tapi baiklah, antarkan emak ke kamar.” kata emak singkat.

Kubantu emak bangkit dari kursinya dan kupapah masuk ke dalam rumah. Rumah kami yang sangat berbeda dengan rumah-rumah tetangga. Rumah tua namun memiliki kenangan indah dan hangat di dalamnya. Setelah mengantar emak dengan cepat aku segera balik lagi ke depan. Membenahi meja dan kursi di beranda. Menutup pintu, jendela, mengunci dan menyalakan lampu-lampu beranda di halaman. Rutinitas yang aku kerjakan biasanya segera surut. Usai mengunci pintu-pintu dan menyalakan lampu-lampu. Aku akan segera masuk ke kamarku, mendengarkan radio, menonton TV atau membaca buku.

Emak selalu penuh perhatian. Jika waktu malam telah tiba, emak jarang menggangguku dengan menyuruh ini-itu. Hanya sekali emak memanggilku dengan telepon yang dipasang pararel bila akan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu atau hendak buang hajat. Sudah hampir sepuluh tahun lamanya aku menemani emak. Tidak terasa. Irama senja, malam, dan pagi seolah tak akan pernah berubah. Namun rutinitas itu sama sekali tidak pernah membuatku jenuh untuk mengabdi pada emak.

Sebenarnya, ia bukanlah emakku. Ia hanya seorang wanita tua yang baik hati. Dan ia jugalah yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan “emak”, siapa pun yang tak tahu asal-usulnya akan menduga aku adalah anak kandungnya. Anak semata wayangnya. Aku sendiri pun juga tak tahu, siapa sebenarnya wanita tua itu. Aku hanya tahu, dialah yang merawat dan membesarkanku. Juga membiayai sekolahku. Sering aku bertanya kepada wanita itu, siapa sebenarnya aku ini? Dengan senyumnya yang jenaka dan manis, wanita tua itu akan menjawab,

“Kau adalah anak emak. Anak emak yang pintar, manis, dan rajin bekerja”.

Bayang-bayang ingatan masa kecilku tak sanggup menelusuri jejak hidupku lebih jauh. Tak ada sedikitpun ingatan yang membekas di kepalaku tentang siapa sebenarnya orang tua kandungku. Yang aku ingat, hanyalah ingatan suram, hanya kolong-kolong jembatan, rumah-rumah kardus, emperan-emperan toko dan sesekali bayangan perkelahian dan ejekan yang singgah di ingatan malamku. Semua itu selalu membayang dengan sedemikian jelasnya jauh di dalam kelopak mataku. Bahkan, sampai kapan pun bayang-bayang itu tak akan pernah hilang. Andai saja wanita itu tak berbaik hati memungutku dari jalanan, entah akan jadi apa aku di masa depan nantinya.

Mungkin kini aku sudah menjadi pemuda jalanan. Atau malah gembel. Atau malah menjadi pencuri dan berandalan. Aku sangat berhutang budi kepada wanita tua itu. Aku sudah bertekad mengabdi kepadanya sampai akhir hidupku. Namun, agaknya tekadku tak akan kesampaian. Pengabdianku sebagai anaknya tampaknya hanya akan selesai sampai pada akhir hidupnya. Sebab dari dari ke hari, wanita itu bertambah uzur dan rapuh. Sering sakit. Jalan pun sudah harus sering dipapah. Pernah aku bertanya padanya apakah ia mempunya anak selain aku? Pertanyaanku dijawabnya dengan raut muka sendu. “Tidak”. Ketika aku bertanya lebih jauh lagi tentang suaminya tiba-tiba air mukanya berubah. Wajah emak memucat. Sampai saat ini pertanyaanku tetap menggantung tak menemukan jawab.

Bila pagi hari datang lagi. Matahari bersinar lembut di ufuk timur. Seperti biasa, emak akan minta diantarkan ke halaman belakang rumah kami. Berjemur diri hingga pukul delapan. Sementara emak di halaman belakang, aku akan menyiapkan sarapan roti dan susu. Lalu segere membawanya pada emak. Emak selalu sarapan sambil menghangatkan tubuhnya di bawah matahari pagi. Dulu, semasa aku masih sekolah, dan emak pun masih sehat, menjemur diri di pagi hari tak pernah dilakukan.

Hanya olahraga pagi. Itu pun biasanya seminggu sekali. Aku sendiri sering menemaninya dan yang menyiapkan sarapan selalu emak. Aku sangat bersyukur, dulu emak selalu sehat walafiat. Andai dulu sudah sakit-sakitan tentu aku bakal sangat kerepotan. Aku harus pandai mengatur waktu untuk memasak, mencuci, berangkat ke sekolah, menyapu dan lain-lain. Emak tak pernah punya niat untuk mengambil pembantu.

“Jangan kau biasakan hidup manja,” katanya.

Emak mulai sering sakit sejak aku lulus SMA sekitar tiga bulan yang lalu. Mulanya, emak mengeluh kepalanya sering sakit sebelah. Setelah diperiksa ke dokter, katanya emak terkena migrain. Tak lama kemudian, emak suka kejang-kejang dan kemudian mendapat gejala stroke. Sejak saat itu, aktivitas emak di luar rumah berkurang, berkurang dan pada akhirnya tidak pernah sama sekali. Aku tahu, emak memiliki lahan perkebunan sangat luas di  suatu tempat di luar kota. Sekali waktu saat emak merasa agak sehat pernah cerita, perkebunan kelapa sawit itu bukan murni hasil jerih payahnya. Dan kelak, aku akan mewarisinya, begitu kata emak. Beberapa kali emak pernah mengajakku melihat-lihat perkebunan itu.

“Bila tiba waktunya nanti, akan emak serahkan semuanya itu kepadamu. Sekarang, kau belajarlah baik-baik. Kalau perlu sampai kuliah.” Begitu pesan emak.

Setelah lulus SMA, aku memang disuruh emak untuk kuliah. Namun aku menolak. Aku tak mau  merepotkan emak meskipun aku yakin soal biaya kuliah sama sekali tidak akan menjadi masalah. Emak punya cukup simpanan. Karena aku tak mau kuliah, emaklah yang “menguliahiku”. Hampir setiap hari, sewaktu emak masih sehat dulu, emak menuturkan pengalaman bisnis perkebunannya kepadaku. Dari cerita-cerita pengalamannya itu diharapkan wawasanku tentang strategi dan etika berbisnis akan bertambah. Namun tak sekalipun ia menyinggung masa kecilnya. Apalagi latar belakang keluarganya. Lalu emak mengungkapkan harapannya agar kelak aku menjadi pemuda yang sukses. Dan harus mampu meneruskan jejak yang sudah dirintisnya sambil berbagi kebaikan kepada sesama.

“Emak ingin membuktikan bahwa anak jalanan pun kalau sudah diberi kesempatan akan mampu meraih sukses.”
“Siang nanti kau antar emak ke dokter. Kau tidak kemana-mana, kan?”
“Tidak, mak”.
“Kau memang tidak pernah kemana-mana. Kau tentu merasa terkurung gara-gara emak, bukan?”
“Jangan berkata begitu, mak.”
“Kau masih muda. Emak pun dulu pernah mengalami masa muda, nak.”
“Sudahlah, mak. Jangan banyak pikiran. Aku senang sekali jika emak sehat dan segera sembuh.”
“Nak, emak sudah terkena stroke. Ditambah migrain lagi. Tipis harapan bagi emak untuk sembuh.”
“Emak..., sudahlah jangan diteruskan, mak.”
“Mungkin sudah tiba waktunya lagi. Emak akan mengajakmu meninjau perkebunan itu sekali lagi. Pulang dari dokter kita akan langsung ke sana.”
“Jangan dulu, mak. Masih ada waktu. Lain kali saja, mak.”
“Emak khawatir ‘lain kali’ emak tak akan bsa bertemu lagi...”
“Emak...!” Kupeluk erat emak angkatku itu.

Perkebunan itu sangat luas. Puluhan hektar kata orang-orang yang bekerja di situ. Dan ratusan batang sawit telah tumbuh dengan rimbunnya. Sehari setelah cek ke dokter, emak mengajakku untuk meninjau perkebunan itu dengan lebih seksama. Mengamati sudut demi sudut, baris demi baris lahan perkebunan itu hingga mempelajari pola tanah, panen dan tebang. Dan aku pun nyaris tak percaya lahan seluas itu kelak akan menjadi milikku. Rasanya seperti mimpi. Namun itu bukan sekedar mimpi.

Seminggu kemudian, emak meninggal.

Dan harta perkebunan sawit yang amat luas itu sah menjadi milikku. Sebelum meninggal, diam-diam emak sudah mengalihnamakan kepemilikan seluruh hartanya kepadaku. Aku benar-benar merasa bersyukur kepada Tuhan, bahwa aku melalui jalan kehidupan ini dengan lurus dan mulus.

Meskipun dulu aku lahir dan besar di jalanan, tanpa tahu siapa yang melahirkan, merawat dan membesarkanku. Ternyata ada seorang wanita baik hati yang menyelamatkan masa depanku. Tanpa wanita baik hati itu, entah akan jadi apa nasibku sekarang. Namun demikian, menjadi seorang pemuda yang sukses berbisnis, ternyata tak bisa membuatku santai. Aku masih sering keluar rumah untuk menyelesaikan ini dan itu. Aku tak bisa memasrahkan semua urusan hanya kepada sekretaris dan pembantu-pembantu yang lain yang sudah lama bekerja di perkebunan itu sejak emak merintis bisnis. Dari hari ke hari, setelah sekian lama cukup mengelola perkebunan itu, aku kadang dihinggapi oleh rasa letih. Dan ingin beristirahat. Maka kini aku sering duduk-duduk di beranda rumah kami jika sore hari tiba, mengawasi langit senja dan melihat sampah daun-daun berserakan.

Tapi kini, tak ada lagi bocah kecil yang menyapu, mengumpulkan apalagi membakarnya.  Tiba-tiba benakku disesaki kenangan masa kecilku, kolong-kolong jembatan, rumah-rumah kardus dan emperan-emperan toko yang muram. Apakah emak memiliki kenangan masa kecil yang sama denganku?

Setelah emak tiada, pertanyaan itu semakin sulit kujawab.


Yogyakarta, 14 Februari 2015

*Kupersembahkan cermin ini untuk wanita yang luar biasa dalam hidupku, Almh. Ibu Yaya Puspa, emakku tercinta (persembahan khusus).

1 comment: