tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Monday, June 29, 2015

Muhammadiyah dan Konstruksi Gerakan Intelektual Muda Indonesia




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Sejarah Muhammadiyah
Perkembangan organisasi gerakan Islam di Indonesia tumbuh dan berkembang sejak dari negeri ini belum mencapai kemerdekaan secara fisik sampai pada masa reformasi sekarang ini. Perkembangannya, bahkan kian pesat dengan dilakukannya tajdid (pembaharuan) di masing-masing gerakan Islam tersebut. Salah satu organisasi gerakan Islam itu adalah Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Bahkan merupakan gerakan kemanusiaan terbesar di dunia di luar gerakan kemanusiaan yang dilaksanakan oleh gereja, sebagaimana disinyalir oleh seorang James L. Peacock. Di sebagian negara di dunia, Muhammadiyah memiliki kantor cabang internasional (PCIM) seperti PCIM Kairo-Mesir, PCIM Republik Islam Iran, PCIM Khartoum–Sudan, PCIM Belanda, PCIM Jerman, PCIM Inggris, PCIM Libya, PCIM Kuala Lumpur, PCIM Perancis, PCIM Amerika Serikat, dan PCIM Jepang. PCIM-PCIM tersebut didirikan dengan berdasarkan pada SK PP Muhammadiyah. Di tanah air, Muhammadiyah tidak hanya berada di kota-kota besar, tapi telah merambah sampai ke tingkat kecamatan di seluruh Indonesia, dari mulai tingkat pusat sampai ke tingkat ranting.
Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, yang berarti bahwa Warga Muhammadiyah menjadikan segala bentuk tindakan, pemikiran dan prilakunya didasarkan pada sosok seorang Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. Nabi dijadikannya model (uswah al hasanah), yang sebenarnya tidak hanya bagi warga Muhammadiyah tetapi juga seluruh umat Islam bahkan bagi warga non-muslim-kaum yang tidak mempercayainya sebagai rasul-sekalipun.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam memiliki cita-cita ideal yang dengan sungguh-sungguh ingin diraih, yaitu mewujudkan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Dengan cita-cita yang ingin diwujudkan itu, Muhammadiyah memiliki arah yang jelas dalam gerakannya, sebagaimana dikemukakan oleh DR. Haedar Nashir dalam makalah Muhammadiyah dan Pembentukan Masyarakat Islam (Bagian I, 2008).
Organisasi Islam Muhammadiyah tumbuh makin dewasa bersama organisasi Islam besar lainnya sekelas Nahdlatul Ulama (NU), merambah ke segala bentuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap mengedepankan kepentingan umat dari segi sosial-budaya, ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Namun demikian, Muhammadiyah tetap selalu melakukan tajdid dalam aspek ruh al Islam (jiwa keislamannya).

B.     Pendiri Muhammadiyah
Organisasi Islam Muhammadiyah yang kini lebih dikenal dengan sebutan Persyarikatan Muhammadiyah, didirikan oleh Muhammad Darwis—yang kemudian dikenal dengan nama K.H. Ahmad Dahlan - di Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H / 18 Nopember 1912. Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist.
Pada masa kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan (1912-1922), daerah pengaruh Muhammadiyah masih terbatas di karesidenan Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan. Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar keseluruh Indonesia.
KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934. Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini menjadi mukhtamar 5 tahunan. Disamping itu, Muhammadiyah juga mendirikan organisasi untuk kaum perempuan dengan nama “Aisyiyah” yang disitulah istri KH. A. Dahlan, yakni Nyi Walidah Ahmad Dahlan berperan serta aktif dan sempat juga menjadi pemimpinnya.
Daftar Pimpinan Muhammadiyah Indonesia sejak berdirinya sampai sekarang yang dapat penulis susun adalah :
     Ø  KH Ahmad Dahlan 1912-1922
     Ø  KH Ibrahim 1923 – 1934
     Ø  KH hisyam 1935 – 1936
     Ø  KH Mas Mansur 1937 – 1941
     Ø  Ki Bagus Hadikusuma 1942 – 1953
     Ø  Buya AR Sutan Mansur 1956
     Ø  H.M. Yunus Anis 1959
     Ø  KH. Ahmad Badawi 1962 – 1965
     Ø  KH. Faqih Usman 1968
     Ø  KH. AR Fachruddin 1971 – 1985
     Ø  KH. AR Fachruddin 1971 – 1985
     Ø  KHA. Azhar Basyir, M.A. 1990
     Ø  Prof. Dr. H. M. Amien Rais 1995
     Ø  Prof. Dr. H.A. Syafii Ma’arif 1998 – 2005
     Ø  Prof. Dr. HM Din Syamsuddin 2005 – sekarang


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah
Muhammadiyah merupakan organisasi yang memiliki cita-cita ideal yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Hal itu sesuai dengan apa yang termaktub dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah, Pasal 6 Maksud dan Tujuan: “Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Dengan cita-cita yang ingin diwujudkan itu, Muhammadiyah memiliki arah yang jelas dalam gerakannya (yakni dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatannya).
Untuk mencapai maksud dan tujuan itu, Muhammadiyah melaksanakan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan. Agar dalam pelaksanannya tidak terjadi gesekan dan benturan yang dapat mengancam kesatuan umat, walaupun gesekan dan benturan pasti ada, namun diupayakan untuk diminimalisir. Maka diperlukan adanya pemikiran-pemikiran yang komprehensif di kalangan cendekiawan Muslim Muhammadiyah dan gerakan-gerakan yang nyata amaliyahnya.
Namun dalam perjalanannya terjadi banyak varian pemikiran. Konteks sosial diklaim menjadi penyebab munculnya varian pemikiran dalam Muhammadiyah. Ini terjadi dikarenakan Muhammadiyah memang banyak bergerak dalam bidang sosial; baik pendidikan, kesehatan, panti sosial yatim piatu, dll. Dalam Muhammadiyah, seperti dalam pengantar Muhajir Effendy dan Din Syamsuddin pada acara Kolokium Nasional Kaum Muda Muhammadiyah pada tanggal 11-13 Februari 2008 di Universitas Muhammadiyah Malang, dinyatakan bahwa pemikiran-pemikiran dalam Muhammadiyah itu sangat variatif; ada yang sekte ulama, sekte cendekiawan, sekte pelayan, dan sekte penggembira. Keempat-empat berkembang dan ada pengikutnya masing-masing. Oleh sebab itu melihat Muhammadiyah hanya satu sekte saja sebenarnya agak kurang proporsional. Melihat Muhammadiyah, karena itu, mestinya menyeluruh keempat sekte tersebut, sekalipun dikatakan paling banyak sebenarnya sekte penggembira dan pelayan, bukan ulama maupu cendikiawan.
Hal yang paling penting untuk kasus ini adalah bahwa semua varian pemikiran Islam itu merupakan proses pembaharuan (Tajdid) dan akan menjadi bahan pembaharuan di masa datang yang memang dihormati dalam khazanah persyarikatan Muhammadiyah. Azyumardy Azra, mensinyalir bahwa pembaruan pemikiran modern Islam abad ke-20 sebenarnya tidak jauh berbeda dengan gerakan pembaruan abad sebelumnya. Sebagian besar berkonsentrasi pada seruan untuk kembali pada alquran dan sunnah (hadits), ketaatan pada syariah. Jika bisa dikategorikan dalam tipologi maka ada pemikiran pra-modern, modernisme, puritanisme, neo-tradisionalisme, sufisme, neo-sufirmse, fundamentalisme dan isme-isme yang lainnya. Gerakan pembaruan sebelum abad ke-20 juga mengambil tipologi yang hampir sama, yakni ada neo-sufisme, radikalisme (seperti Kaum Padri) dan puritanisme. (Azya, 1990: 11). Pemikiran-pemikiran itu dibenarkan sepanjang dimaksudkan untuk menegakkan syariah Islamiyah, memperkokoh ukhuwah, menyempurnakan aqidah, meningkatkan semangat sosial, dan memperbiki metodologi pelanyanan umat dan amal usaha Muhammadiyah, baik bidang pendidikan , kesehatan, dan sosial.
Kini Muhammadiyah makin dewasa dan arif dalam menyikapi tuntutan umat. Itulah sebabnya mengapa setiap lima tahun sekali diadakan muktamar Muhammadiyah sebagai wahana mempertemukan dan mempersatukan pemikiran-pemikiran yang berkembang di masyarakat terutama warga Muhammadiyah.
 Dalam perkembangannya, Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan, oleh M. Syamsuddin dikatakan sebagai organisasi yang demikian hidmat dalam masalah amal (perbuatan nyata) seperti membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, sehingga agak kurang memberikan perhatian serius pada pembaruan pemikiran (tajdid), sebagai sebuah konsekuensi dari organisasi yang berusaha menterjemahkan tesis-tesis pembaruan pemikiran yang telah mendahuluinya. Dari sana Muhammadiyah akhirnya:
      a. Terpusat perhatiannya pada amal dakwah, sehingga kurang perhatiannya pada perkembangan pemikiran, yang berakibat pada munculnya.
     b. Kegersangan intelektual, sebagai refleksi atas tesis-tesis pembaruan pemikiran yang pernah muncul atau sebagai evaluasi terhadap amal dakwah yang diselenggarakan, hal ini berakibat pula pada.
     c. Membawa amal dakwah Muhammadiyah berlangsung dalam rutinitas dan berada di luar ide dasar penyelenggaraan, hal ini berakibat pula pada.
      d. Kurang efektifnya Muhammadiyah sebagai gerakan reformasi (pembaru) Islam.
Mobilisasi yang relatif besar dari Muhammadiyah untuk menyelenggarakan berbagai bentuk amal usaha dakwah dewasa ini agak kurang memiliki signifikansi bagi tuntutan terjadinya rekulturisasi” Islam Indonesia. Padahal, jika amal usaha dakwah Muhammadiyah dibarengi dengan penguatan pembaruan pemikiran dalam Muhammadiyah, sungguh akan lain dampaknya. Inilah yang sebenarnya menjadi bagian penting dari masa depan Muhammadiyah yang memiliki banyak amal usaha dakwah dan jamaah yang relatif besar dibanding dengan ormas Islam lainnya. Tentu, Muhammadiyah tidak boleh mengabaikan peran-peran dari kelompok (organisasi Islam) lainnya, tetapi Muhammadiyah juga tidak boleh berhenti dengan menyatakan organisasi Islam lain lebih maju atau kurang berperan di tanah air. (Din Syamsuddin, 1990: vii)
Muhammadiyah, sebagai gerakan keagamaan yang berwatak sosio kultural, dalam dinamika kesejarahannya selalu berusaha merespon berbagai perkembangan kehidupan dengan senantiasa merujuk pada ajaran Islam (al-ruju‘ ila al-Qur’an wa as-Sunnah al-Maqbulah). Di satu sisi sejarah selalu melahirkan berbagai persoalan dan pada sisi yang lain Islam menyediakan referensi normatif atas perbagai persoalan tersebut. Orientasi kepada dimensi ilahiah inilah yang membedakan Muhammadiyah dari gerakan sosio kultural lainnya, baik dalam merumuskan masalah, menjelaskannya maupun dalam menyusun kerangka operasional penyelesaiannya. Orientasi inilah yang mengharuskan Muhammadiyah memproduksi pemikiran, meninjau ulang dan merekontruksi manhaj-nya.
 Seiring dengan perubahan nama Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, pada 2000 telah dirumuskan manhaj yang lebih komprehensif dengan menggunakan berbagai pendekatan, pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Pendekatan bayani merupakan pendekatan yang menempatkan nash sebagai sumber kebenaran dan sumber norma untuk bertindak, sementara akal hanya menempati kedudukan yang sekunder dan berfungsi menjelaskan dan menjustifikasi nash yang ada. Pendekatan ini lebih didominasi oleh penafsiran gramatikal dan semantik. Dalam pandangan Muhamniadiyah, pendekatan ini masih diperlukan dalam rangka menjaga komitmennya ‘kembali ke Al-Qur’an dan As-Sunnah (Djamil.2005).
 Pendekatan burhani merupakan pendekatan yang rnengandalkan rasio dan pengalaman empiris sebagai sumber kebenaran dan sumber norma bertindak. Dengan demikian pendekatan ini lebih difokuskan pada pendekatan yang rasional dan argumentatif, berdasarkan dalil logika, dan tidak hanya merujuk pada teks, namun juga konteks. Pendekatan burhani diperlukan Muhammadiyah dalam memahami dan menyelesaikan masalah-masalah yang termasuk al umur al dunyawiyah (urusan dunia), untuk tercapainya kemaslahatan manusia. Belajar dari khazanah sejarah Islam, pemaduan antara pendekatan bayani dan burhani tidak banyak menimbulkan masalah. Sejak zaman klasik upaya pemaduan telah dicoba dilakukan, misalnya oleh al-Gazzali yang mengenalkan mantik (logika Aristoteles) ke dalam usul fikih untuk menggantikan dasar-dasar epistemologi kalam yang biasa digunakan ahli-ahli usul fikih, dan mengenalkan teori maslahat dan metode munasabah dengan konsep pokok tentang spesies illat (nau’ al illah) dan genus illat jins al illah, serta spesies hukum (nau’ al hukm) dan genus hukum jins al hukm, (Anwar, 2005).
Pendeltatan ‘irfani adalah pendeltatan pemahaman yang bertumpu pada instrumen pengalaman batin: dzauq, qalb, wijdan, dan ilham. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan ini biasanya disebut pengetahuan dengan kehadiran (hudhuri), suatu pengetahuan yang berupa inspirasi langsung yang dipancarkan Allah ke dalam hati orang yang jiwanya selalu bersih. Pendekatan ‘irfani, walaupun ada kritikan, karena antara lain melahirkan tradisi sufi yang tidak dikenal dalam Muhammadiyah, bagaimanapun ada gunanya. Intuisi dapat menjadi sumber awal bagi pengetahuan, setidaknya menjadi sumber inspirasi pencarian hipotesis. Dalam pengamalan agama dan dalam mengembangkan sikap terhadap orang lain, hati nurani dan qalbu manusia dapat menjadi sumber bagi kedalaman penghayatan keagamaan, kekayaan rohani, dan kepekaan batin. Sedangkan bagi ijtihad hukum, intuisi dan kalbu manusia dapat menjadi sumbcr pencarian hipotesis hukum, dan pembuktian akhir terletak pada bukti-bukti bayani dan burhani (Anwar, 2005).
 Ketiga pendekatan di atas, bayani, burhani, dan ‘irfani, telah dijadikan pedoman bagi warga Muhammadiyah dalam berpiltir, terutama dalam memahami dan menyelesaikan masalah-masalah muamalah duniawiah. Sebagai produk pemikiran dan gerakan Islam Muhammadiyah itu, maka muncullah apa yang disebut Himpunan Putusan Tarjih (HPT), Putusan Muktamar Muhammadiyah, Pembaharuan Strategi Da’wah Muhammadiyah, Pembaharuan Diklitbang manajemen Muhammadiyah, dan pemantapan keyakinan warga Muhammadiyah.
Pemikiran-pemikiran yang menjadi alat pendewasaan Muhammadiyah dalam segala bentuk usahanya diwujudkan dalam penerapan amal usaha, program dan kegiatan yang meliputi :
    1. Menanamkan keyakina, memperdalam dan memperluas pemahaman, meningkatkan pengalaman, serta menyebarluaskan ajaran agama islam dalam berbagai aspek kehidupan.
       2. Memperdalam dan mengembangkan pengkajian ajaran islam dalam berbagai aspek kehidupan untuk mendapatka kemurnian dan kebenarannya.
       3. Meningkatkan semangat ibadah, jihad, zakat, infak, wakaf, shadaqah, hibah, dan amalan shalih lainnya.
      4. Meningkatkan harkat, martabat, dan kwalitas sumberdaya manusia agar berkemempuan tinggi sehingga berakhlaq mulia.
    5. Memajukan dan memperbaharui pendidikan dan kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta meningkatkan penelitian.
6. Memajukan perekonomian dan kewirausahaan kea rah perbaikan hidup yang berkwalitas.
7. Meningkatkan kwalitas kesehatan dan kesejahtraan masyarakat.
8. Memelihara, mengembangkan, dan mendayagunakan sumberdaya alam dan lingkungan untuk kesejahteraan.
9. Mengembangkan komunikasi, ukhuwah, dan kerjasama dalam berbagai bidang dan kalangan masyarakat dalam dan luar negeri.
10. Memelihara keutuhan bangsa serta berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
11. Membina dan meningkatkan kualitas serta kuantitas anggota sebagai pelaku gerakan.
12. Mengembangkan sarana, prasarana, dan sumber dana untuk mengsukseskan gerakan.
13. Mengupayakan gerakan hukum, keadilan, dan kebenaran serta meningkatkan pembelaan terhadap masyarakat.
14. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan meksud dan tujuan muhammadiyah sehingga secara garis besar, perwujudan pemikiran-pemikiran tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa amal usaha, antara lain : da’wah amar ma’ruf nahi mungkar, amal usaha bidang pendidikan, amal usaha bidang sosial, amala usaha bidang kesehatan, dll.
 Dalam da’wahnya, Muhammadiyah selalu menekankan amar ma’ruf nahi munkar (menyeru kepada perbuatan yang benar lagi baik dan mencegah segala bentuk kemungkaran) di lingkungan masyarakat, beraqidah dan mengajak kepada aqidah Islam, dan bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Untuk menyamakan gerak langkah dalam da’wah, para da’i Muhammadiyah berpedoman pada putusan tarjih sebagai hasil proses analisis dalam menetapkan hukum dengan menetapkan dalil yang lebih kuat (rajih), lebih tepat analogi dan lebih kuat mashlahatnya. Putusan tarjih itu dihasilkan oleh Majelis Tarjih yaitu lembaga ijtihad jama‘i (organisatoris) di lingkungan Muhammadiyah yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang memiliki kompetensi ushuliyyah dan ilmiah dalam bidangnya masing-masing.

B.     Muhammadiyah dan Konstruksi Gerakan Intelektual

“Kerja Intelektual adalah kerja seumur hidup”
(Ahmad Syafii Maarif)

Statement Buya Syafii Maarif sengaja telah saya kutip diawal tulisan ini karena munculnya gerakan intelektual dalam kehidupan masyarakat merupakan suatu prasyarat yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan peradaban manusia. dalam berbagai forum seminar dan berbagai tulisannya, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini sering sekali menyampaikan pesan-pesan intelektualisme. Baginya, penyebab dari mundurnya masyarakat Muslim saat ini adalah karena prasyarat intelektualisme dalam tubuh masyarakat muslim telah ditindas karena alasan agama yang difahami secara sempit dan salah, maupun karena alasan politik kekuasaan dalam upaya mengebiri kebebasan berfikir yang menjadi pilar utama bagi intelektualisme (Maarif, 2010).
Sampai saat ini, fenomena dalam upaya membangun suatu gerakan intelektualisme masih sangat jauh sekali dari harapan. Upaya untuk membentuk suatu masyarakat intelektual sering sekali menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi kalangan pemikir keagamaan yang konservatif-fundamentalisme. Sering sekali fenomena penyingkiran terhadap kalangan kaum muda yang memiliki pemikiran progresif-liberatif disingkirkan melalui justifikasi klaim kebenaran yang bersifat teologis, statement seperti telah menyimpang dari akidah Islam, murtad, bahkan klaim kekufuran, bertubi-tubi diserangkan pada tubuh kalangan kaum muda. Padahal, sebenarnya saya pikir Muhammadiyah sangat menyadari bahwa majunya peradaban Islam dalam lembar sejarah tidak bisa dilepaskan dari peran para pemikir yang handal seperti Ibnu Ruysd, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan sebagainya. Lebih parahnya, tindakan untuk melakukan justifikasi klaim kebenaran itu berujung pada ketidakharmonisan antara kelompok muda dan kelompok tua dalam tubuh persyarikatan. Sehingga, jika kita melihat fenomena tersebut melalui kerangka berfikir etika welas asih Kiai Ahmad Dahlan, upaya kompetitif dengan cara yang baik (fastabiqul khairat) sama sekali tidak mencerminkan sebagai citra yang baik pula bagi warga Muhammadiyah pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Melalui pernyataan yang sederhana ini, cobalah kita merefleksikan ulang tentang ketauladanan yang tercermin pada pribadi Kiai Ahmad Dahlan sebagai faunding fathers Muhammadiyah. Apa sekiranya pelajaran penting yang dapat kita ambil dari sosok Kiai Ahmad Dahlan?

C.    Kiai Ahmad Dahlan dalam Gerakan Intelektualisme
Walau pun banyak para pemerhati yang giat mengamati sosok pribadi Kiai Dahlan dalam perjalanannya telah berpandangan bahwa, Kiai dahlan adalah sosok manusia amal (man of action). Namun dari berbagai pandangan tersebut, kita tidak bisa melepaskan pula bahwa perjalanan Kiai Dahlan dalam memperjuangkan Muhammadiyah bukan berarti meninggalkan praktik intelektualisme. Walau pun Kiai Dahlan tidak meninggalkan karya intelektual dari hasil  pemikirannya, pada saat Kiai Dahlan membaca tafsir Al-manar sebenarnya sudah menandakan kepribadian intelektual pada sosok Kiai Dahlan, sekali pun ia telah berhadapan dengan kuatnya otoritas keagamaan yang dipegang oleh para ulama konservatif  di zamannya. Hal ini tentu tidak mengherankan bagi kita bahwa Kiai Dahlan adalah sosok pribadi yang memiliki pemikiran jauh melampaui zamannya.
Di sisi lain, tentang pergaulannya yang intens dengan siapa pun. Seperti pergaulannya dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang memiliki latar belakang pendidikan modern, dengan para tokoh-tokoh Belanda, pastur Kristiani, bahkan tokoh Komunis seperti Muso dan Alimin, sebenarnya telah memicu peran Kiai Dahlan dalam membawa suatu terobosan pemikirannya dengan semangat kemajuannya. Kiai Dahlan tidak memilah-milah untuk bergabung dengan siapa pun, bahkan dari intensitas pergaulanya itu, peran Kiai Dahlan dalam membentuk suatu persyarikatan Muhammadiyah telah terwujudkan, tentunya itu pun berkat dorongan dari rekan-rekannya di Budi Utomo. Dari pengembaraannya yang sangat luas itulah, telah tercermin pada diri sosok Kiai Dahlan bahwa kepribadiaanya sangat menghargai sekali kegiatan-kegiatan untuk belajar dengan siapa pun.
Memang selama satu abad ini, Muhammadiyah telah menampakan keberhasilannya dalam bidang amaliyah seperti mendirikan lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, panti asuhan anak yatim, lembaga amal zakat, panti jompo, adalah suatu kerja keras yang harus diapresiai secara baik oleh kita semua. Karena bagaimana pun, kerja nyata yang dilakukan oleh Muhammadiyah selama satu abad yang lalu merupakan suatu usaha kerja keras yang didorong semangat berorganisasi dalam bingkai iman yang mengental dalam upaya melebarkan sayap dakwah keMuhammadiyahannya.
Kendati pun demikian, di tengah kemunculan dengan adanya lembaga amal-usaha yang telah dikembangkan oleh Muhammadiyah, ternyata persoalan lain telah muncul dalam tubuh internal persyarikatan ini. Kemapanan yang terlalu berlebihan telah membawa Muhammadiyah pada suatu ruang dimana Muhammadiyah hanya sekedar melaksanakan program-program kerjanya yang bercorak instrumentalistik. Muhammadiyah telah terbawa pada sebuah diskursus social keagamaan yang selalu mendahulukan suatu hasil dan tujuan ketimbang mengahargai suatu nilai dalam prosesnya di saat menjalankan usaha untuk mencapai cita-citanya.Tentunya dalam hal ini kita tidak menyalahkan Muhammadiyah. Namun bagaimanapun juga, maju atau mundurnya persyarikatan ini, tergantung dari pengaruh orang-orang yang ada di dalamnya yang menjalankan organisasi ini.
Dari hal inilah, peran Muhammadiyah dalam melahirkan suatu masyarakat intelektual sangat penting sekali. Dengan munculnya para anak muda yang terus membawa membawa semangat intelektualisme dalam tubuh Muhammadiyah sebenarnya tidak perlu menjadi suatu kekhawatiran yang sangat berlebihan. Karena meledaknya pemikiran yang bercorak intelektual dari kalngan kaum muda akan mendorong secara terus-menerus persyarikatan ini pada suatu bentuk manifestasi gerakan tajdid yang sejak awal telah menjadi ciri khas dan karakter Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang terus bersemangat dalam membawa gagasan Islam yang berkemajuan.

D.    Membumikan Gerakan Keilmuan Berkemajuan
Perkaderan memang menjadi fokus penting dalam Muhammadiyah. Aspek yang lain (yang juga diperhatikan) adalah gerakan sosial, yang dibuktikan dengan berdirinya banyak amal usaha Muhammadiyah (AUM) untuk dijadikan wadah bagi rakyat miskin dalam mengakses pendidikan, kesehatan, dan pemerataan pendapatan dan kesejahteraan. Yang dengan semua itu, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi keagamaan terbesar di dunia.
Selain beberapa hal di atas, ada faktor penting lain, yaitu Muhammadiyah sebagai Gerakan Keilmuan. Mungkin ini merupakan ungkapan yang belum sering terdengar oleh banyak orang, namun sadar atau tidak, gerakan keilmuan niscaya adanya dalam tubuh Muhammadiyah. Sejauh yang penulis ketahui, bergantinya Majlis Tarjih Muhammadiyah (nama pada periode sebelumnya) menjadi Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam merupakan tanda “simbolik” adanya gerakan keilmuan dalam Muhammadiyah. Muhammadiyah setelah itu mulai menunjukkan gerakan keilmuan, yang walaupun terdapat beberapa perdebatan, namun tak bisa dipungkiri banyak pemikiran segar yang dihasilkan dalam usaha pembuktian bahwa Islam adalah agama yang dinamis, kontekstual dan berkemajuan.
Dalam tubuh Muhammadiyah sendiri, gerakan keilmuan terasa sangat jelas ketika kita melihat adanya aliran–aliran pemikiran yang variatif, bisa dikelompokkan menjadi tiga, lain:
  1. Aliran Puritan. Kelompok pemikiran ini masih berpegang teguh pada tugas purifikasi. Kelompok ini bberpedoman pada teks semata tanpa harus dipengaruhi oleh ilmu atau metodologi modern (barat).
  2. Aliran Liberal. Kelompok ini bertolak belakang dengan pemikiran aliran puritan, kelompok ini memandang bahwa Muhammadiyah telah mengalami degradasi dalam tajdid-nya dan hanya terjebak dalam kegiatan seremonial (program kerja) saja. Akhirnya, mereka berijtihad dengan menggunakan ilmu dan metodologi barat (modern) dalam memahami teks-teks agama, supaya kontekstual.
  3. Aliran Dekonstruktif. Aliran pemikiran ini berpandangan bahwa Muhammadiyah sudah tidak lagi menjadi “teman” bagi kaum mustadh’afiin (miskin dan tertindas). Maka, aliran ini memahami agama dengan teori-teori kiri dan lebih cenderung kepada Islam “Kiri”, agar Muhammadiyah menjadi pembela (kembali) kaum yang termarginalkan. (Abdul Halim Sani, 2011)
Dengan adanya tiga aliran pemikiran dalam tubuh Muhammadiyah—seperti penjelasan sebelumnya—menunjukkan bahwa Muhammadiyah telah menjadi gerakan keilmuan, dalam arti yang substansial. Tapi, jangan diartikan hal tersebut sebagai “pecahnya” Muhammadiyah. Namun, pahami sebagai permerkaya khazanah keilmuan dalam tubuh Muhammadiyah.

E.    IMM Sebagai Gerakan Keilmuan Berkelanjutan
Adanya gerakan keilmuan dalam tubuh Muhammadiyah, telah “menular” kepada ortom-nya, salah satunya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam, mempunyai trilogi Ikatan, yaitu religiusitas, intelektualitas dan humanitas. Dalam trilogi Ikatan tersebut, terdapat unsur intelektualitas, yang memberikan indikasi bahwa IMM mempunyai ranah gerak dalam pengembangan pemikiran (keilmuan), meskipun tetap bersatu dengan dua unsur yang lain (religiusitas dan humanitas).
Secara nasional, IMM belum sepenuhnya maksimal dalam rangka membumikan gerakan keilmuan ini. Hanya saja di beberapa daerah, IMM sudah mempunyai gerakan keilmuan yang cukup kuat, diantaranya: IMM Sukoharjo, IMM AR Fakhruddin, IMM Makassar serta IMM Ciputat. Basis gerakan mereka juga tidak berawal dari massa yang banyak, namun berawal dari kelompok-kelompok kecil (limited group) yang tumbuh dalam tubuh ikatan itu sendiri.
Dalam perjalanannya gerakan keilmuan IMM pun mengalami pembagian aliran yang kurang lebih sama (secara garis besar) dengan yang terjadi pada tubuh Muhammadiyah. Kader IMM sebagian besar terdapat beberapa aliran, antaranya: aliran puritan yang skriptual; ada pula yang liberal dengan mengindahkan penggunaan ilmu dan metodologi barat (seperti metode heurmenetika dalam memahami teks); serta terdapat pula aliran yang revolusioner dengan menggunakan metode Materialisme Dialektika Historis ala Marxis.
Selain dari fakta yang membuktikan terbaginya aliran pemikiran kader dalam IMM, adanya gerakan keilmuan IMM juga terbukti dengan adanya buku-buku yang ditulis langsung oleh kader IMM, baik mengenai pemikiran dan gerakan IMM maupun mengenai isu di luar IMM (seperti ekonomi, sosial, politik dan budaya). Sehingga, literatur mengenai IMM pun mulai bertambah dan berkembang—meskipun masih tertinggal jika dibandingkan GM yang lain. Karena, gerakan keilmuan bukan gerakan yang pragmatis jangka pendek tetapi gerakan jangka panjang menuju suatu perubahan, seperti perkataan Buya Syafi’i Ma’arif: “Kerja Intelektual adalah kerja seumur hidup, itupun tidak pernah tuntas dan memuaskan”. Sehingga, dengan sadar, Gerakan Keilmuan perlu dibumikan dalam tubuh Ikatan dengan dibumikannya gerakan membaca, gerakan diskusi dan gerakan menulis, yang pada akhirnya akan membuahkan pemikiran-pemikiran yang mencerahkan, membumi dan mampu mengubah keadaan.
Setelah penjelasan di atas tadi mengenai ketertinggalan IMM dalam hal karya tulis terutama buku, jika dibandingkan dengan organisasi mahasiswa Islam yang lain. Oleh sebab itu, gerakan keilmuan menjadi urgent untuk terus ditumbuh-kembangkan dalam tubuh Ikatan untuk memperbanyak produk pemikiran yang dihasilkan oleh kader-kader IMM serta nantinya akan mampu berfastabiqul khairaat dengan gerakan mahasiswa yang lain.

F.    Pembentukan Creative Minority
Dalam penjelasa sebelumnya, telah dijelaskan bahwa adanya creative minority menjadi penting dalam rangkan mendukung adanya gerakan keilmuan dalam Ikatan. Beberapa creative minority yang ada di tubuh IMM dan masih eksis dan berkembang sampai saat ini, adalah:
Madrasah Intelektual Muhammadiyah (MIM) Indigenous School, merupakan creative minority yang lahir di cabang AR Fakhruddin kota Yogyakarta dan masih eksis sampai saat ini. beberapa buku yang telah diterbitkan oleh MIM Indigenous School, antara lain: Rahim Perjuangan yang terbit pada tahun 2009, Tak Sekadar Merah: Memoar dan Testimoni Kader IMM (2013) dan yang terakhir adalah buku Genealogi Kaum Merah (2014).
Madrasah Intelektual Muhammadiyah (MIM) merupakan contoh creative minority yang ada dalam tubuh IMM. Meskipun sebelumnya anak-anak muda Muhammadiyah telah membuat Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), yang pada akhirnya dibubarkan.
Gerakan keilmuan harus dimulai dengan pembentukan creative minority, dengan kegiatan utamanya:
  • Gerakan Membaca: menggalakkan gerakan membaca bagi kader-kader IMM mengenai pembacaan terhadap khazamah Islam klasik, khazanah Islam kontemporer serta pemikiran Barat kontemporer.
  • Gerakan Diskusi: mendiskusikan hal-hal yang sudah menjadi bahan bacaan sebelumnya, gagasan yang baru akan muncul melalui proses dialektika (dalam diskusi). Selain itu, diskusi juga terkait dengan permasalahan atau isu kontemporer yang ada.
  • Gerakan Menulis: gagasan yang sudah didiskusikan, kemudian dituliskan agar mampu dibaca dan dikonsumsi oleh orang lain serta mamou juga untuk dikritisi sehingga diharapkan akan memicu munculnya tulisan-tulisan (gagasan) lain yang lebih baik.
Maka dari itu, gagasan pembentukan creative minority sebagai pilar gerakan keilmuan diharapkan mampu untuk menunaikan tanggung jawab intelektual yang diemban IMM, dengan tetap menjadikan level akar rumput (grass root) basis gerakan keilmuan.
Skema sederhana mengenai gerakan keilmuan dengan berbasis pada creative minority:


Penjelasan:
Gerakan keilmuan didasarkan pada pembentukan creative minority dengan kegiatan utamanya meliputi:
  1. Gerakan membaca: dilakukan sebagai langkah awal dalam rangka penyediaan kapasitas pengetahuan (intellectual modal) yang menjadi dasar bagi terlaksananya gerakan diskusi dan gerakan menulis. Dengan adanya intellectual modal yang memadahi diharapkan akan menunjang bagi keberlangsungan dua gerakan yang lain. Intellectual capital harus ditopang dengan referensi buku yang lengkap dan jelas.
  2. Gerakan diskusi: merupakan langkah selanjutnya dari gerakan membaca, dimaksudkan untuk memberikan wadah dialektika gagasan dan pemahaman mengenai gagasan yang sudah dibaca sebelumnya. Gerakan diskusi ini dilakukan rutin dengan membuat tulisan yang mengantarkan pada diskusi.
  3. Gerakan menulis: gerakan ini merupakan usaha untuk mempublikasikan gagasan-gagasan hasil proses diskusi sebelumnya dalam bentuk tulisan. Dimaksudkan akan terbentuk kebiasaan menulis gagasan dari hasil diskusi, sehingga tulisan-tulisan kader menjadi lebih berkembang.
Gerakan keilmuuan ini juga mendorong terbentuknya Creative Minority di level komisariat dengan Human Capital yang ada, sehingga akan muncul Creative Minority yang lain yang lahir dari komisariat. Meskipun Cabang sudah mempunyai MIM sebagai lembaga Creative Minority namum komisariat juga perlu didorong untuk membentuk yang lain sebagai pelahir gagasan dan pemikiran yang mencerahkan untuk Islam berkemajuan.



BAB III
Penutup

A.    Kesimpulan
Sebagai sebuah gerakan Islam yang lahir pada tahun 1912 Masehi dan kini hampir memasuki usia 100 tahun, telah banyak yang dilakukan oleh Muhammadiyah bagi masyarakat dan bangsa Indonesia secara luas. Sehingga harus diakui bahwa Muhammadiyah memiliki kontribusi dan perhatian yang cukup besar dalam dinamika kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Persyarikatan Muhammadiyah telah menempuh berbagai usaha meliputi bidang dakwah, sosial, pendidikan, ekonomi, politik, dan sebagainya, yang secara operasional dilaksanakan melalui berbagai institusi organisasi seperti majelis, badan, dan amal usaha yang didirikannya.
 Peningkatan jumlah yang demikian spektakuler tidak dapat menutup kenyataan lain di seputar perkembangan amal usaha Muhammadiyah, yaitu kualitas amal usaha tersebut. Harus diakui, amal usaha Muhammadiyah untuk hal kualitas mengalami dua masalah sekaligus. Pertama, keterlambatan pertumbuhan kualitas dibandingkan dengan penambahan jumlah yang spektakuler. Kedua, ketidakmerataan pengembangan mutu lembaga pendidikan. Oleh karenanya, untuk membenahi masalah ini, kehadiran kontribusi pemikiran dan gerakan nyata dari berbagai kalangan mutlak diperlukan. Ingat, Muhammadiyah adalah gerakan sosial yang kepedualiannya ditunggu masyarakat luas.
 Muhammadiyah difahami, bahwa demikian banyak empowerment measures (ukuran pemberdayaan) atau centennial revitalizating (revitalisasi ultahnya yang ke 100 tahun) yang harus dilaksanakan oleh gerakan transformasi ini. Revitalisasi di bidang theologi, ideology, pemikiran, organisasi, kepemimpinan, amal usaha dan aksi, semuanya diletakkan dalam konteks pemahaman kembali akan tujuan membangun umat.
Dari beberapa penjelasan sebelumnya, bisa disimpulkan bahwa dunia pemikiran tidak pernah tumbuh dari massa yang banyak, namun dari kelompok kecil yang militan. Kemudian, gerakan mahasiswa tidak pernah bisa lepas dari gerakan keilmuan, karena hanya dengan jalan tersebut akan tetap subur dan tumbuh pemikiran-pemikiran yang mencerahkan. IMM sebagai organisasi mahasiswa Islam pun tidak bisa lepas dari tanggung jawab intelektualnya, untuk tetap produktif dalam menghasilan gagasan dan pemikiran yang mampu memberikan sumbangsih bagi kemajuan peradaban umat manusia.
Sebagai organisasi sosial keagamaan, Muhammadiyah perlu kita dukung, meski organisasi kita berbeda. Terlebih Muhammadiyah sebagai gerakan, dalam mengikuti perkembangan dan perubahan, senantiasa mempunyai kepentingan untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi-mungkar, serta menyelenggarakan gerakan dan amal usaha yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, sebagai usaha Muhammadiyah untuk mencapai tujuannya, yakni: “menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah SWT.
Akhirnya, jika kaum tua di dalam tubuh Muhammadiyah dapat menerima bahkan mendukung kehadiran semangat anak-anak mudanya dalam meletakan fondasi intelektualisme yang serba baru, saya rasa Muhammadiyah tidak lagi akan menjadi suatu organisasi yang serba kaku ketika  berhadapan dengan berbagai persoalan yang terjadi dizaman yang serba kompleks ini. Namun, jika kaum tua masih saja tetap menghambat laju pemikiran yang lahir dari pemikiran dan karya kaum  muda dengan semangat intelektualnya, berarti dalam hal ini para kaum tua tidak ubahnya seperti para ulama konservatif yang telah memasung semangat tajdid yang dahulu telah dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah ketika masa awal. Oleh karenanya, statement “kerja intelektual adalah kerja seumur hidup” dari Buya Syafii Maarif perlu direnungkan kembali oleh para kaum tua yang selama ini selalu mengkhawatirkan munculnya pemikiran baru di tubuh Persyarikatan Muhammadiyah saat ini. Padahal, Intelektualismelah yang memajukan suatu zaman ke arah yang mencerahkan. Wallahua’lam!


B.     Daftar Pustaka

Anonym. 1997. Profil & Direktori Amal Usaha Muhammadiyah & ‘Aisyiyah Bidang Kesehatan. Jakarta: Pusat Data Minaco Adv.
Azhar, M. 2005. Posmodernisme Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah
Maarif, Ahmad Syafii. 2007. Strategi Dakwah Muhammadiyah. Masa Lalu, Kini dan Masa Depan dalam Prespektif Kebudayaan. Yogyakarta.
Markus, Sudibyo. 2008. MUHAMMADIYAH-Dari Gerakan Pembaharuan ke Gerakan Amal Usaha. Adobe reader
PP Muhammadiyah. 2005. Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke 45. Malang.
Ricklefs, MC. 1991. A History of Modern Indonesia since c.1300- 2nd Edition. Stanford: Stanford University Press.

Sumber Online:



"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Blog #Muktamar47 Muhammadiyah"

Followed Akun Twitter #Muktamar47, https://twitter.com/Muktamar47
https://twitter.com/Muktamar47

Followed Akun Twitter Muhammadiyah, https://twitter.com/muhammadiyah
https://twitter.com/muhammadiyah

Liked dan Following Akun FansPage FB Muktamar Ke-47 Muhammadiyah, https://www.facebook.com/Muktamar47
https://www.facebook.com/Muktamar47

Liked dan Following Akun FansPage FB Persyarikatan Muhammadiyah, https://www.facebook.com/PeryarikatanMuhammadiyah
 https://www.facebook.com/PeryarikatanMuhammadiyah

No comments:

Post a Comment