tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Thursday, July 2, 2015

SILAT DAN WAYANG SEBAGAI JIWA DAN MAHAKARYA INDONESIA



ABSTRAK

Secara umum pada jaman dahulu wayang dan silat banyak dipahami sebagai warisan budaya masyarakat  Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya secara turun-temurun, bukan hanya sekedar tontonan dan panduan bagaimana orang harus bersikap dalam hidup, tetapi juga perintah yang harus di-titeni kanti tliti (yang artinya adalah semua hukum alam yang dibutuhkan untuk menjadi teratur dan penuntun langkah hidup mula-mula) menuju dan mencapai kehidupan nyata di masa kini dan masa depan. Bagi kebanyakan masyarakat Jawa dan Indonesia yang mengerti benar wayang dan silat sebagai cara hidup, bagaimana mereka berperilaku dengan orang lain dan bagaimana menyadari esensi sebagai manusia dan bagaimana mereka dapat berhubungan dengan Sang Pencipta.

Pada saat ini fungsi sosial untuk wayang dan silat telah bergeser dan berubah, terutama untuk komunitas perkotaan yang mengkonsumsi budaya perkotaan pada umumnya di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sebelumnya wayang dan silat dipahami sebagai pertunjukkan dan bimbingan hidup, sekarang masyarakat lebih melihat wayang dan silat sebagai boneka dan atraksi terbatas untuk menikmati hiburan. Hal ini sangat berbeda dari beberapa masyarakat agraris Jawa yang masih tinggal di pedesaan, wayang dan silat masih memiliki fungsi sosial sebagai media aktulisasi diri, pendidikan, ritual, hiburan dan informasi yang sering diadakan, misalnya, untuk ritual bersih-bersih, dan ruwatan penduduk, atau sekedar menyambung tali silahturahmi dalam acara-acara yang diadakan di desa.

Meski begitu jika kita ingin melihat lebih dalam, sebenarnya kehadiran
wayang dan silat dalam kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya dan Indonesia pada khususnya tentu masihlah sangat kuat. Dalam alam bawah sadarnya, sikap dan pola pikir masyarakat kita masih sangat dekat dengan bentuk-bentuk wayang dan silat baik secara visual atau filsafat. Hal ini dapat dilihat dari munculnya beragam bentuk implementasi dan interpretasi individu dan kelompok baik dari wayang dan silat yang berlaku untuk berbagai bidang kehidupan baik jenis dan filosofinya di dalam masyarakat saat ini disadari atau tidak.

Makalah karya tulis ini membahas isu-isu di atas, yaitu fungsi pergeseran dan peran wayang dan silat dalam kehidupan dan komunitas kontemporer masyarakat Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Termasuk ide menggali beberapa kemungkinan penemuan kembali, penyatuan dan pengembangan warisan luhur wayang dan silat dalam masyarakat baik secara visual dan filosofi, pandangan perilaku dan pemikiran pola dalam beberapa aspek kehidupan sosial, termasuk dalam praktik baru-baru ini dunia seni dan hiburan Indoensia, termasuk di dalamnya juga adalah bahasan pandangan tentang wayang urban, silat, dan nilai-nilai luhur filosofis mahakarya Indonesia sendiri, yakni goyong royong, kegigihan, rendah hati, dan kesabaran.

Kata kunci:
Mahakarya Indonesia, Jiwa Indonesia, Wayang, Wayang Urban, Silat, Komunitas, Kebudayaan Global, Media, Pendidikan, Seni dan Hiburan.


A. PENDAHULUAN

Khazanah seni budaya bukan merupakan barang baru bagi masyarakat dunia. Sejarah kebudayaan dunia telah memperlihatkan begitu banyak warisan budaya masa lalu yang masih bertahan hingga kini. Nilai-nilai budaya Yunani, Mesir, Romawi, Cina dan India misalnya - yang telah menorehkan tinta emas dalam perkembangan kebudayaan dunia sebagai kebudayaan yang berjaya di masa lalu dan masih memberikan “pengaruh” yang kuat terhadap kehidupan masyarakat dunia.

Kebudayaan itu tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat serta menjadi bagian kehidupan komunitas dan terus bertahan hingga kini sebagai indentitas jati diri suatu bangsa. Mitologi, patung-patung, dan arsitektur bergaya klasik Yunani masih terus digemari dan mendapat apresiasi yang tinggi terhadap warisan budaya masa lalu dan kerinduan akan nilai-nilai kehidupan yang melatari munculnya kebudayaan itu.

Namun, selama berpuluh-puluh dekade ketika budaya global yang dipelopori oleh Amerika Serikat melanda masyarakat dunia dan mengkristal sebagai budaya populer, terjadi pergesaran dan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat dunia. Masyarakat dunia lebih menyukai film-film Hollywood dibandingkan kesenian tradisional, menggemari Coca Cola dan bercelana Levi’s, dan banyak hal lainnya. Budaya AS menjadi kiblat budaya masyarakat dunia. 

Beruntunglah di tengah-tengah gelombang dahsyat itu muncul kesadaran untuk kembali menemukan akar budaya sendiri. Misalnya kebudayaan Asia yang telah memiliki fondasi yang cukup mantap, yaitu suatu bentuk kehidupan yang mengacu pada nilai-nilai yang merefleksikan harmonisasi hubungan antar manusia, antara manusia dengan alam sekitarnya, serta antara manusia dengan Tuhan. Di tengah-tengah arus globalisasi yang sukar sekali dihadang, muncullah kecenderungan untuk menemukan kembali Asian Heritage atau kebudayaan Asia, sebagai pola pengakuan jati diri dan refleksi identitas pribadi bangsa Asia sendiri, termasuk salah satunya adalah negara Indonesia. 

Menyadari hal tersebut pada tahun ini, Dji Sam Soe sebagai pihak yang mempelopori kegiatan Mahakarya Indonesia 2015 ternyata sudah menggandeng beberapa pelaku seniman dan sejarahwan kita, yang telah menangkap dan melirik nilai-nilai lokal, nilai-nilai luhur warisan jiwa Indonesia sebagai mahakarya bangsa Indonesia, yang bersumber pada akar budaya yakni nilai-nilai gotong royong, kegigihan, kerendahan hati, dan kesabaran. Akar tradisi yang sudah menjadi keyakinan dan sudah mengakar di bumi pertiwi ini, dikembangkan dan dilestarikan sebagai satu sentuhan konsep inovasi antara satu bentuk kesenian dan hiburan yang tak lupa mengusung pesan-pesan yang penting bagi kalangan generasi muda dan masyarakat perkotaan pada umumnya saat ini. 

Salah satu contoh, misalnya wayang urban dan silat merupakan salah satu bentuk alternatif yang mampu membingkai berbagai dinamika kehidupan dalam bentuk media pendidikan, seni dan hiburan Indonesia. Mengapa, karena wayang dan silat merupakan produk budaya sekaligus sebagai sumber gagasan mahakarya jiwa Indonesia yang masih tetap terjaga dan terpelihara hingga saat ini.


B. FILOSOFI WAYANG DAN SILAT 

Dari uraian singkat abstrak dan pendahuluan tentang filosofi perkembangan bentuk wayang serta fungsi sosial bagi masyarakatnya dapat disimpulkan bahwa secara tradisional, wayang merupakan intisari kebudayaan masyarakat jawa yang diwarisi secara turun-temurun, tidak hanya sekedar tontonan dan tuntunan bagaimana manusia harus bertingkah laku dalam kehidupannya, namun juga merupakan tatanan yang harus di-titeni kanti titis (merupakan hukum alam yang maha teratur yang harus diketahui dan disikapi secara bijaksana) untuk menuju kasunyaatan serta mencapai kehidupan sejati.


Ilustrasi – Pagelaran Wayang Kulit Jakarta, 24/8 (Antara) – Perum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, Jumat malam menggelar pertunjukan wayang kulit di Pasar Seni Taman Impian Jaya Ancol Jakarta. (Foto: Antara)


ilustrasi Temu Pendekar Pesilat tampil pada acara "Temu Pendekar dan Workshop Sendra Pencak Silat" yang diselenggarakan oleh Masyarakat Pencak Silat Indonesia (Maspi) di Taman Pramuka, Bandung, Jawa Barat, Minggu (31/5/15). (Foto: Antara/Agus Bebeng)

Bagi manusia Jawa pada khususnya dan manusia Indonesia pada umumnya (yakni manusia-manusia yang mengerti sejati) wayang merupakan pedoman hidup, bagaimana bertingkah laku dengan sesame dan bagaimana menyadari hakekatnya sebagai manusia serta bagaimana dapat berhubungan dengan Sang Penciptanya. Maka tidak salah kalau Tuti Suminah (2006) mengatakan; bahwa bagi masyarakat Jawa dan Indonesia saat ini, wayang memiliki tempat yang istimewa, bukan saja sebagai hiburan tetapi juga sebagai cerminan kebudayaan Jawa dan Indonesia. 

Hal ini bisa terjadi karena ketika wayang sebagai pertunjukan, hadir tidak hanya berfungsi sebagai sebuah hiburan/ tontonan. Karena dalam pertunjukan wayang sebetulnya merupakan ungkapan-ungkapan dan pengalaman religius yang merangkum bermacam-macam unsur lambang, Bahasa gerak, suara, warna dan rupa. Dalam wayang terekam ungkapan pengalaman religius yang “kuno” seperti tampak bahwa tahap perkembangannya dewasa ini, masih berperan pula mitos dan ritus, misalkan pada lakon Ruwat atau Murwa Kala. 

Proses pembelajaran silat sendiri saat ini juga tidak lepas dari berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi kaitannya dalam permainan atau olahraga, internalisasi nilai-nilai yakni sportifitas, fair play, kerja sama, nilai-nilai filosofi silat, dan lain-lain. Pelaksanaan silat sendiri bukan melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis belaka, namun melibatkan unsur fisik, mental, intelektual, emosional, dan sosial. Pelatih dan pelaku silat diharapkan tidak hanya mengajarkan dan menerapkan gerak dasar dan keterampilan saja, namun harus dapat mengamalkan nilai-nilai filosofis silat yang ada dalam ajaran falsafah budi pekerti yang luhur. 
  
Nilai adalah sesuatu yang diyakini, dipegang dan dipahami secara rasional serta dihayati secara efektif (mendalam) sebagai sesuatu yang berharga dan yang baik untuk acuan dan motivasi hidup seseorang yang dapat diukur melalui tindakannya, sedang falsafah sebagai kegandrungan mencari hikmah kebenaran serta kearifan dan kebijaksanaan dalam hidup dan kehidupan manusia. Pengertian tersebut berkaitan dengan kata dasar “phio” yang berarti love atau kegandruan atau kecintaan dan “sophia” yang berarti wisdom atau kearifan dan kebijaksanaan (Noto: 1997; 38).

Falsafah pada dasarnya adalah pandangan dan kebijaksanaan hidup manusia dalam kaitan dengan nilai-nilai budaya, nilai sosial, nilai moral dan nilai agama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Falsafah budi pekerti luhur menentukan ukuran kebenaran, keharusan, dan kebaikan bagi manusia yang mengamalkan silat dalam mempelajari, melaksanakan dan menggunkanan silat dalam bersikap, berbuat dan bertingkah laku serta merupakan jiwa dan sumber motivasi pelaksanaan dan penggunaan silat, karena itu falsafah budi pekerti luhur adalah salah satu falsafah dalam silat. 

Menurut bahasanya, ajaran falsafah budi pekerti yang luhur yang menjiwai silat di antaranya adalah taqwa, tanggap, tangguh, tanggon, dan trengginas. Taqwa berarti beriman teguh kepada Tuhan YME dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tanggap berarti peka, peduli, antisipatif, pro aktif dan mempunyai kesiapan diri terhadap setiap perubahan dan perkembangan yang terjadi berikut semua kecenderungannya. Tanggauh berarti keuletan dan kesanggupan mengembangkan kemampuan. Tanggon (dalam Bahasa Jawa) berarti sanggup menegakkan keadilan, kejujuran dan kebenaran, tanggih, konsisten dan konsekuen memegang prinsip. Dan trengginas (dalam bahasa Jawa) berarti enerjik, aktif, eksploratif, kreatif, inovatif, berfikir ke masa depan (prospektif) dan mau bekerja keras untuk mengejar kemajuan (Noto: 1997). Istilah silat mengandung arti unsur-unsur olahraga, seni bela diri, kebatinan, dan hiburan. Silat adalah hasil budaya manusia untuk membela atau mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan integritasnya (manunggalnya). 


C. SILAT DAN WAYANG SEBAGAI JIWA DAN MAHAKARYA INDONESIA

Namun demikian dewasa ini, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam jiwa Indonesia disadari atau tidak mulai memudar. Hal ini terlihat dari kurangnya penghargaan dan kecintaan generasi muda terhadap budaya yang dimiliki bangsa ini. Dibutuhkan penyemangat dan wadah agar semangat dan nilai-nilai luhur itu dapat kembali diterima, diamalkan, dibanggakan, dan dikembangkan bersama.
Berawal dari keprihatinan akan kondisi yang demikian, Dji Sam Soe melalui Mahakarya Indonesia 2015 secara aktif dan berkelanjutan terus mengajak masyarakat dewasa ini untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur jiwa Indonesia. Bertema “Jiwa Indonesia”, kegiatan Mahakarya Indonesia ini ingin menyampaikan nilai-nilai kerendahan hati, kesabaran, kegigihan, dan gotong royong melalui serangkaian acara yang telah diawali dengan acara gathering di Hotel Katika Chandra, Kamis (24/4) malam dengan mengundang sejumlah tokoh yakni sejarahwan Indonesia JJ Rizal, master silat Indonesia Yayan “Mad Dog” Ruhian, dan dalang wayang urban Nanang Hape. 

Menurut sejarahwan JJ Rizal yang dihadirkan dalam diskusi tersebut mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar yang dibangun dan tumbuh dari beragam nilai luhur yang teramalkan dalam kehidupan sehari-hari sejak dulu hingga kini, antara lain kerendahan hati, kesabaran, kegigihan dan gotong royong. Nilai-nilai luhur yang telah tertanam kuat itu harus menjadi pedoman untuk mempertegas langkah bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang kuat di tengah arus dunia yang terus berubah. 

Jiwa Indonesia menciptakan beragam mahakarya Indonesia yang telah menjadi kekayaan dan kebanggan bangsa hingga saat ini. Jangan sampai bangsa Indonesia justru mempelajari budaya Indonesia sendiri ke negeri lain. Menurut penuturan sejarahawan JJ Rizal dalam acara pembukaan pagelaran mahakarya wayang urban dengan lakon Sumantri-Sukrasana di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta yang telah diadakan Dji Sam Soe, Rabu (10/6) yang lalu, sudah banyak negara lain yang menghargai budaya Indonesia, contohnya batik. Butuh penyemangat dan wadah agar semangat dan nilai luhur itu dapat kembali dan diamalkan bersama.

Dalang Nanang Hape membawakan lakon Sumantri dan Sukrasana, yang bisa dijadikan panutan untuk bangsa. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)

Aksi Yayan "Mad Dog" Ruhiyan di Pagelaran Wayang Sumantri Sukrasana. (Foto: CNNIndonesia/Safir Makki)

Pagelaran Mahakarya Wayang Urban persembahan Mahakarya Indonesia yang telah diselenggarakan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta pada Rabu (10/6) yang lalu tersebut menghadirkan sesuatu yang baru dan menyegarkan. Dan sang dalang, Nanang Hape, bisa dibilang sebagai pencetus wayang kekinian tersebut. Tidak hanya menyederhanakan plot dan dialog, Nanang juga menambahkan kesenian lain yaitu silat, yang diperagakan oleh pemeran Mad Dog dalam film The Raid, yakni Yayan Ruhian. Menurut JJ Rizal, cerita wayang masih layak dijadikan sebagai panutan untuk masyrakat jaman sekarang, apalagi saat ini masyarakat seakan mengalami krisis nilai. Cerita wayang memiliki banyak nilai luhur yang menjadi pilar bangsa Indoensia, yaitu gotong royong, kerendahan hati, kesabaran, dan kegigihan.

Baik wayang asli atau wayang hasil re-interpretasi tetap sah-sah saja untuk dijadikan panutan. Wayang memang harus mengikuti perkembangan zaman agar tetap menarik, asal jangan keluar dari pakem cerita. Awal mula alasan “meng-kota-kan” seni wayang yang diusung oleh Nanang Hape tersebut adalah karena tidak ingin Wayang Urban dianggap berasal dari Pulau Jawa, melainkan wayang dari dan untuk Indonesia. Usaha yang dilakukan Nanang tersebut adalah agar wayang kembali digemari oleh semua lapisan masyarakat.

Silat dan wayang merupakan salah satu mahakarya Indonesia yang menggambarkan jiwa Indonesia yang masih dapat ditemukan hingga sekarang. Silat mengusung nilai gotong royong dan kegigihan yang sangat kuat bahkan dalam memerankan sosok dalam film The Raid seperti yang dibawakan oleh master silat Yayan Ruhian. Pagelaran wayang urban yang berlakon Sumantri-Sukrasana dengan dalang Nanang Hape tersebut sukses memadukan musik modern dengan music tradisonal. Tentu tak pernah terbayang sebelumnya bila budaya tradisional dapat disuguhkan bersamaan dengan musik moderen.

Jiwa Indonesia yang digambarkan dengan nilai kesabaran dan kerendahan hati tercermin pula dalam wayang, baik mulai dari proses pembuatan hingga kisah-kisah wayang hingga sekarang. Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Dji Sam Soe tersebut adalah sebagai upaya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang tertanam dalam jiwa Indonesia. Pentas wayang urban yang dipadukan dengan silat tersebut diharapkan dapat mengundang antusiasme yang lebih dari para generasi muda Indonesia saat ini. 

Mengapa harus wayang dan silat? Menurut sejarahwan JJ Rizal, wayang merupakan mahakarya warisan budaya tanah air yang sudah seharusnya dijaga, dikembangkan, dan dilestarikan. Karenanya sejarah Indonesia harus mampu menumbuhkan kembali nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh generasi sekarang, yaitu kerendahan hati, kesabaran, kegigihan, dan gotong royong. Silat dan wayang adalah warisan sejarah. Warisan budaya yang sangat mahal harganya. Jika kita semua mau mempelajarinya kitaakan mampu menemukan nilai-nilai luhur di dalamnya. Selanjutnya nilai-nilai luhur itulah yang kemudian diharapkan bisa menjadi pedoman untuk mempertegas langkah bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang kuat di tengah arus dunia yang dinamis.

Baik silat dan wayang keduanya sama-sama membawa dan mengusung nilai-nilai luhur jiwa dan mahakarya Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Yayan “Mad Dog” Ruhian, master silat Indonesia yang juga aktif dalam dunia perfilman, setelah bermain dalam film action popular The Raid, menyatakan bahwa silat mengusung nilai gotong royong dan kegigihan yang sangat kuat, yang terbawa saat memerankan satu tokoh dalam film. Melalui film pun kita dapat memunculkan kembali jiwa Indonesia tersebut. Sementara seniman dalang wayang urban Indonesia Nanang Hape mengatakan, wayang adalah seni yang menggabungkan kesabaran dan kerendahan hati. Oleh sebab itu dirinya menyatakan bahwa para seniman siap memperkenalkan budaya dan sejarah bangsa yang memiliki banyak ini tersebut kepada masyarakat. Mulai dari proses pembuatannya, wayangnya, hingga kisah dan karakternya mencerminkan jiwa Indonesia. 

Melalui kegiatan Dji Sam Soe Mahakarya Indonesia 2015 tentu kita berharap bersama bahwa melalui pegelaran wayang urban dan pementasan silat, masyarakat dapat semakin tertarik menikmati wayang dan silat sebagai budaya luhur bangsa Indonesia. Semakin mengenal sesungguhnya wayang. Semakin memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dan tentunya semakin mencintai wayang, silat, serta budaya tradisonal lainnya. Harapan itu tentu tidaklah terlalu muluk mengingat pegelaran wayang urban dan pementasan silat yang telah dipentaskan tersebut dibawakan menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa yang dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Bahasa yang telah mempersatukan masyarakat Indonesia. 


D. PENUTUP

Sudah selayaknya dan seharusnyalah kita berusaha membangkitkan kembali nilai-nilai luhur yang menjadi jiwa dan mahakarya Indonesia. Tidak hanya para seniman seperti Yayan “Mad Dog” Ruhian dan Nanang Hape, dan sejarahwan seperti JJ Rizal, kita sendiri pun saat ini dapat turut berkontribusi membangkitkan dan mengamalkan kembali nilai-nilai luhur Indonesia dalam gotong royong, kegigihan, kerendahan hati, dan kesabaran. Dalam tiap hal dan aspek kehidupan kita saat ini pun kita diminta dan dituntut untuk dapat melaksanakannya dengan baik. Mungkin tidak semua dari kita dapat menerapkannya dengan sempurna, namun demikian kalau bukan kita sebagai bangsa Indonesia sendiri siapa lagi. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Mengamalkan nilai-nilai luhur jiwa dan mahakarya Indonesia adalah bagian dan tanggung jawab kita semua. 


E. DAFTAR PUSTAKA

Burhan Bungin. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006.
Edy Sedyawati. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan, 1981.
Fred Kerlinger. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1992.
Harsuki. Perkembangan Olahraga Terkini. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.
Johansyah L. Panduan Praktis Pencak Silat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000.
Josef Matakupan. Strategi Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani dan Keseharan. Jakarta: Dinas Pendidikan dan Pengajaran, 1991.
M. Otok Iskandar dan Soemardjono. Pencak Silat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, 1992.
Notosoejitno. Khazanah Pencak Silat. Jakarta: CV. Sagung Seto, 1997.
Pradnya Paramita. Ringkasan Sejarah Wayang. Jakarta: CV. Pradnya Paramita, 1981.
Seno Sastroamijoyo. Renungan Tentang Pertunjukan Wayang Kulit. Jakarta: PT. Kinta, 1964.
Tuti Suminah. Semar Dunia Batin Orang Jawa. Yogyakarta: PT. Galang Press, 2006.

SUMBER ONLINE:
http://seleb.tempo.co/read/news/2015/06/25/114678104/wayang-urban-lakon-sumantri-sukrasana-jadi-gaul

DSSK - Mahakarya Indonesia - Blogger Writing Competition - Winner Announcement Periode 5. PS: Info ini disampaikan via email Nurbaitie - Imogen uthie@imogenpr.com lewat yahoo.com 13 Juli 2015 11.00 WIB (Foto: Dok. Pribadi)

No comments:

Post a Comment