tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Monday, August 24, 2015

Grave Stone Tourism Londa, Tana Toraja Indonesia (Wisata Kubur Batu Londa, Tana Toraja Indonesia)



I. TorajaBercerita Introduction (Pendahuluan TorajaBercerita)

Why do people choose Toraja Land as a destination? I spoke to many travelers while on Sulawesi (Celebes) and they all seemed to say the same things. They had come to Sulawesi (Celebes) and exploring Toraja Land because they either had heard such wonderful things from friends or relatives who had been there, or they had visited previously themselves. What people seemed to like the best were the friendly people, the culture and the untouched beauty of Sulawesi at most.

(Mengapa banyak orang memilih Tana Toraja sebagai tujuan wisata? Saya telah berbicara kepada banyak wisatawan yang pernah berkunjung saat berada di Sulawesi (Celebes) dan mereka semua tampaknya mengatakan hal yang sama. Mereka datang ke Sulawesi (Celebes) dan menjelajahi Tana Toraja karena mereka juga telah mendengar hal-hal indah dari teman atau kerabat yang pernah ke sana, atau mereka yang telah mengunjungi sebelumnya sendiri. Apa yang tampaknya paling banyak para wisatawan sukai adalah orang-orangnya yang ramah, budayanya dan tuntunya adalah keindahan-keindahan alam dan budaya yang belum terjamah dari Sulawesi.)


After Bali and Java, the third most popular destination in Indonesia is Sulawesi. Sulawesi island contains a great variety of exotic people, culture and natural wonders. It is another unspoilt paradise in Indonesia. A journey into the strange world of mysterious Toraja people is truly a rare adventure, made especially eerie by their haunting tombs - holes carved out of sheer rock faces guarded by wooden effigies that stare out across the jungle.

(Setelah Bali dan Jawa, tujuan ketiga yang paling populer di Indonesia adalah Sulawesi. Pulau Sulawesi memiliki masyarakat lokal, kebudayaan dan keajaiban alam yang eksotis. Ini adalah layaknya sebuah surga di muka Indonesia. Sebuah perjalanan ke dunia aneh nan misterius dari orang-orang Toraja benar-benar sebuah petualangan yang langka, dibuat khusus agar tampak menakutkan sebagaimana makam mereka – lubang-lubang yang diukir dari wajah tebing yang terjal yang dijaga oleh patung-patung kayu yang seakan menatap keluar dari dalam hutan.)

Toraja Land, is known for its unique culture and ancient traditions. The center of tourism is Rantepao, 328 km away from Makassar by road is about 8 hours).

(Tana Toraja, dikenal karena kebudayaannya yang unik dan tradisi-tradisi kunonya. Pusat pariwisata adalah Rantepao , 328 km dari Makassar bila ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 8 jam.) 






The entry to Tana Toraja is marked by a gate built in traditional boat-shaped architecture. The road passes through the mountains of Kandora and Gandang on which, according to Toraja mythology, the first ancestors of celestial beings descended from heaven. The majority of the people still follow an ancestral cult called "Aluk Todolo" which governs all traditional ceremonies.

(Pintu masuk ke Tana Toraja ditandai dengan sebuah gerbang yang dibangun dalam arsitektur berbentuk perahu tradisional. Perjalanan masuk tersebut melewati pegunungan Kandora dan Gandang, yang menurut mitologi Toraja, nenek moyang pertama mereka dari para makhluk surgawi yang turun dari langit . Sebagian besar orang masih mengikuti kultus leluhur disebut " Aluk Todolo " yang mengatur semua upacara adat.)

Torajan culture is a complex blend of ancestor worship and animistic beliefs where rituals for the dead are colorful festivals to pave the way for the soul's entry into the afterlife. This unique culture, the scenic beauty, cool climate and gentle for people are the main reason why Toraja is gaining popularity as a favorite tourist destination. For many visitors, Toraja will linger in their mind as a land steeped in mystery, magic and ancient traditions. It is one of the world's rare cultural treasures.

(Budaya Toraja adalah campuran yang kompleks dari pemujaan leluhur dan kepercayaan animisme di mana ritual untuk orang yang mati berupa festival warna-warni untuk membuka jalan bagi masuknya jiwa ke dalam akhirat. Budaya yang unik, pemandangan yang indah, dan iklimnya yang sejuk dan lembut bagi banyak orang adalah alasan utama mengapa Toraja mendapatkan begitu banyak popularitas sebagai satu tujuan wisata favorit. Bagi banyak pengunjung, pengalaman selama di Toraja akan tetap tinggal dan membekas dalam pikiran mereka sebagai satu tanah yang penuh misteri, magis, dan tradisi-tradisi kunonya. Ini adalah salah satu kekayaan budaya yang langka di dunia.)

Toraja-house symbolized in mythology as the land of heavenly kings, its boat-shaped houses face north in honor of the deities. Their traditional house called Tongkonan are related to the settlers who converted their boats into houses, and set the pattern of present-day community life. There is a belief that early settlers came by boats and converted the boats into houses. The houses are beautifully decorated with carvings and geometric designs. The number of buffalo horns hanging in front of the house indicate the status and wealth of the owner. Though Christianity and Islam have found converts here and modern trends have made inroads, traditional rituals remain strong, especially that of funeral rites.

(Rumah-rumah Toraja dilambangkan dalam mitologi lokal sebagai tanah raja-raja surgawi, rumah berbentuk perahu yang menghadapi ke arah utara untuk menghormati para dewa. Rumah tradisional masyarakat Toraja biasa disebut Tongkonan terkait dengan pemukim yang mengubah perahu-perahu mereka menjadi bentuk rumah-rumah, dan mengatur pola hidup masyarakat mereka hingga masa kini. Ada keyakinan bahwa pemukim awal datang dari perahu dan kemudian berubah ke bentuk rumah-rumah. Rumah-rumah tersebut berdekorasi sangat indah dan dihiasi dengan ukiran dan desain geometris. Banyaknya jumlah tanduk kerbau tergantung di depan rumah menunjukkan status dan kekayaan dari sang pemilik. Meskipun para pemeluk agama Kristen dan Islam telah banyak di sini dan banyak pola-pola perkembangan zaman modern telah membuat terobosan, bagian ritual tradisional tetaplah kuat, terutama pada upacara-upacara pemakaman.)

The most interesting and spectacular of Torajan rituals are the funerals known as Rambu Solo. For Torajan, a funeral is one of the most important ceremony in the life cycle. It is based on a strong belief that the soul of the deceased travels to the land of the south and in this land of eternity, he/she will need all the requisites of everyday life in the hereafter just like when he was alive in this world. That’s the reason why funeral ceremonies are festival lasting as long as ten days with much feasting and entertainment. Animal sacrifices are made to ensure eternal life in the afterlife and to safeguard the descendants.

(Yang paling menarik dan spektakuler dari ritual-ritual Toraja adalah pemakamannya yang dikenal dengan nama Rambu Solo. Bagi masyarakat Toraja, sebuah pemakaman adalah salah satu upacara yang paling penting sepanjang siklus hidup mereka. Hal ini berdasarkan pada keyakinan lokal yang kuat bahwa jiwa dari mereka yang telah meninggal akan berjalan ke tanah selatan dan di negeri inilah ada keabadian, pria/wanita yang telah meninggal tersebut akan tetap membutuhkan semua syarat dari kehidupan sehari-hari di akhirat sama seperti ketika ia masih hidup di dunia ini. Inilah yang menjadi alasan mengapa upacara layaknya festival pemakaman berlangsung selama sepuluh hari dengan banyak pesta dan hiburan. Hewan-hewan yang dikorbankan dalam pesta dibuat sebagai bekal bagi kehidupan yang kekal di akhirat dan sebagai jaminan pula untuk menjaga keturunan orang yang telah meninggal.)






A funeral is a festive event for every member of the society. When the funeral is held by noble families then the ceremony will usually involve great fanfare. Buffaloes and pigs are sacrificed as an indication of status and as repayment for gifts received. This ceremony may take at least several days, weeks or months after the actual death and the decreased is referred to as a sick man until the day he/she will be buried.

(Sebuah pemakaman adalah peristiwa meriah untuk setiap anggota masyarakat. Ketika pemakaman tersebut diadakan oleh keluarga bangsawan maka upacara biasanya akan melibatkan kemeriahan yang lebih besar pula. Kerbau dan babi adalah hewan yang biasa dikorbankan sebagai indikasi status dan sebagai pembayaran untuk hadiah yang diterima oleh keluarga tersebut. Upacara ini biasanya akan berlangsung paling tidak selama beberapa hari, minggu atau bulan setelah kematian yang sebenarnya dan almarhum/almarhumah akan dianggap sebagai orang sakit sampai dengan hari dimana ia dimakamkan.)

Various types of graves are located in Cliffside caves, mountain ledges or in special houses reserved for the dead. The graves in Tana Toraja are made in huge rocks because of their strength and relative safety from animals and thieves. There are many of these graves in the different mountains. And some are well guarded by life-size wooden statues of the persons buried.

(Berbagai jenis kuburan yang terletak di gua-gua tebing, tepian gunung atau di rumah-rumah khusus disediakan untuk mereka yang telah meninggal. Kuburan di Tana Toraja dibuat di batu besar karena kuat dan relatif aman dari hewan dan pencuri. Ada banyak pekuburan ini di pegunungan yang berbeda-beda . Dan beberapa diantaranya dijaga dengan baik oleh patung kayu berukuran yang sama dari orang yang telah dikubur.)

To find out more interesting things about Tana Toraja please open www.torajabercerita.com

(Untuk mengetahui lebih banyak hal menarik tentang Tana Toraja disarankan untuk membuka www.torajabercerita.com)

http://www.torajabercerita.com/


II. Grave Stone Tourism Londa, Tana Toraja Indonesia (Wisata Kubur Batu Londa, Tana Toraja Indonesia)

In the Toraja people , the funeral ceremony is a ritual that is the most important and costly . The more rich and powerful person, the cost of the funeral service will be more expensive . In religion aluk , only the noble and rich family are entitled to hold a large funeral party. Funeral party nobleman usually attended by thousands of people and lasting for several days. A funeral procession place called Rante usually prepared in a prairie, in addition to being a place of mourners in attendance , as well as a granary, and various other funeral devices made ​​by the family of the deceased. Flute music , singing, song and poetry, weeping and wailing is an expression of condolence carried out by the Toraja but it does not apply to the funeral of the children, the poor and the lower classes.

(Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.)


In Tana Toraja, there are three ways funeral: coffin can be stored in a cave, or in tombs carved stone, or hung on a cliff. The rich people sometimes buried in tombs carved stone. The tombs are usually expensive and the time for making it is about a few months. In some areas, the rock caves was used to save the bodies of all family members. A wood statue represent as a guardian called tau tau ​​is usually placed in the cave and facing outward. Coffins babies or children hanged with a rope on the cliff side. The rope is usually survive for a year before making his casket rot and fall.

(Di Tana Toraja ada tiga cara pemakaman: peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.)






Thus, the grave stone of this Londa is a steep rocks in Tana Toraja, to be precisely is about 5 km from the city of Rantepao (a big city there) and in the rocks there are graves of stones (some still neat, but mostly already messed.)

(Jadi, kubur batu Londa ini adalah sebuah bebatuan curam di Tana Toraja, tepatnya sekitar 5 km dari kota Rantepao (sebuah kota besar di sana) dan di bebatuan tersebut ada kuburan batu yang disusun (beberapa masih rapi, tapi umumnya sudah berantakan.)

One of those graves is located in a high place of a hill with a cave in which the coffins the bodies set according to the family line, on the other hill is open facing to the green scenery views . 

(Salah satu dari kubur-kubur ini terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau.)

How abut the admission to Londa? For admission is FREE so don't worry about admission, but usually for parking will be charged IDR 1000. But you could prepare some money to buy some souvenirs for your family and beloved friends, from key chains, wall hangings to miniature traditional house Tana Toraja. Here are some unique souvenir from Tana Toraja:

(Bagaimana dengan tiket masuk ke Londa? Untuk tiket masuknya GRATIS jadi tidak perlu khawatir mengenai tiket masuk, namun biasanya untuk parkir akan dikenakan biaya sebesar Rp. 1000. Tapi anda juga bisa menyiapkan uang lebih untuk membeli beberapa souvenir untuk keluarga dan teman tercinta, dari gantungan kunci, hiasan dinding hingga miniatur rumah adat ala Tana Toraja. Berikut ini adalah beberapa souvenir khas Tana Toraja:)


 
 



Actually there are so many interesting and cool places of interest in Tana Toraja, but it seems will be be too much if was published in this article only.

(Sebenarnya masih banyak tempat menarik dan luar biasa di Tana Toraja, namun sepertinya akan terlalu banyak jika dimuat di satu artikel ini saja.)

So, if you are still confused to find such a nice and exotic place to traveled for your next vacation, please come to Tana Toraja!

(Jadi, jika anda masih bingung untuk menemukan tempat berwisata yang unik dan asyik untuk liburan berikutnya, silahkan datang ke Tana Toraja!)

That is all that I can say here. What are you waiting for? Please come to Tana Toraja and enjoy your delightful vacation. Thanks.

(Demikian yang dapat saya sampaikan di sini. Jadi tunggu apa lagi? Segeralah datang ke Tana Toraja dan nikmatilah liburan yang menyenangkan. Terima Kasih.)

To find out more interesting things about Tana Toraja please open www.torajabercerita.com

(Untuk mengetahui lebih banyak hal menarik tentang Tana Toraja disarankan untuk membuka www.torajabercerita.com)

http://www.torajabercerita.com/


---
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Menulis dan Foto Ceritakan Budaya Toraja dengan tema lomba "Ceritakan Budaya Wisatamu" yang terselenggara atas kerjasama Bank Sulselbar Cabang Rantepao dengan Lingkar Pena Pariwisata Toraja (LPPT) dan Pemerintah Kabupaten Toraja Utara (Pemkab Torut).


Peserta harus menyukai (like) halaman Facebook (Penyelenggara) di Facebook Toraja Bercerita: https://www.facebook.com/pages/Toraja-Bercerita/1663257410576058 dan mengikuti (follow) akun Twitter penyelenggara di https://twitter.com/torajabercerita

Menyukai (like) halaman Facebook Toraja Bercerita

Mengikuti (follow) akun Twitter Toraja Bercerita

No comments:

Post a Comment