tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Thursday, November 12, 2015

Tirakatan, Generasi Muda, dan Syukur Nikmat Anugerah Nusantara

Link dan tampilan videonya yang telah diupload di Youtube: https://youtu.be/M-Z4fOxGZxw


اتق الله ، ومثِّل الآخرة في قلبك ، واجعل الموت نصب عينيك ، ولا تنس موقفك بين يدي الله ، وكن من الله على وَجَلٍ ، واجتنب محارمه ، وأد فرائضه ، وكن مع الله حيث كنت ، ولا تستصغرن نعم الله عليك ، وإن قَلَتِ ، وقابلها بالشكر ، وليكن صمتك تفكرا ، وكلامك ذكرا ، ونظرك عبرة ، واعف عمن ظلمك ، وصل من قطعك ، وأحسن إلى من أساء إليك ، واصبر على النائبات ، واستعذ بالله من النار بالتقوى
Bertaqwalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Gambarkanlah akhirat dalam qalbumu, dan jadikan kematian di antara kedua matamu.
Jangan lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan-Nya kelak.
Takutlah kepada-Nya, jauhilah segala yang Dia haramkan, dan laksanakan yang Dia wajibkan.
Hendaknya engkau bersama Allah (merasa selalu diawasi olehNya) di manapun engkau berada.

Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu, walau nikmat itu sedikit.
Balaslah nikmat tersebut dengan bersyukur.
Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, bicaramu sebagai zikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran.

Maafkanlah orang yang menzalimimu.
Sambunglah silaturahmi kepada orang yang memutusnya terhadapmu.
Berbuat baiklah kepada siapa pun yang berbuat jelek kepadamu.
Bersabarlah terhadap segala musibah.
Dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka karena ketaqwaan.

(Nasehat menjelang wafatnya Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah kepada Al Imam Al Muzani rahimahullah. Tarikh Dimasyqi karya Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Ibnu Asakir rahimahullah.)
(*) Terjemahan dari Majalah Qudwah 3/1/2012.
(**) Text Arab dari http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?indexstartno=0&hflag&pid=636951&bk_no=1745&startno=1


ABSTRAK           
Sehari sebelum tanggal 17 Agustus yaitu saat merayakan hari kemerdekaan Indonesia, sering digelar malam tirakatan atau malam menjelang esok merayakan dirgahayu Indonesia. Saat malam tirakatan ini biasanya warga akan datang dan kumpul untuk kemudian mengenang jasa-jasa para pahlawan, diantaranya dengan mendengarkan "kesaksian" atau kisah dari para sesepuh warga yang dahulu sempat mencicipi bagaimana perjuangan merebut kemerdekaan negeri kepulauan ini.Kegiatan ini biasanya akan menjadi inti dari acara tirakatan tersebut selain nantinya juga akan ditutup dengan ramah tamah dari warga sendiri.

Tradisi malam tirakatan ini masih ditemui di sebagian tempat di wilayah Yogyakarta tempat saya berdomisili saat ini. Kegiatan ini merupakan penerapan nilai-nilai gotong royong dan kerukunan dari warga karena semua yang dipersiapkan ialah dari, oleh dan untuk warga itu sendiri. Setelah dibuka dengan doa dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, maka acara akan dilanjutkan dengan pesan dari para veteran pejuang yang hadir (jika ada) untuk kemudian menceritakan tentang perjuangannya dahulu dan kemudian memberikan wejangan serta nasihat kepada generasi muda untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang berguna. Setelah itu, akan diumumkan pemenang lomba-lomba tujuh belasan yang telah diselenggarakan beberapa hari sebelumnya dan pembagian hadiah. Acara kemudian ditutup dengan makan malam dan ramah tamah dengan tetangga-tetangga sembari mempererat tali persaudaraan.

Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya menjadi keunggulan bangsa Indonesia yang dahulu memang dikenal dengan gotong royong dan kerukunan serta toleransinya. Akan tetapi sekarang makin tergerus oleh arus teknologi dan juga paham individualisme, sehingga tidak terlalu memperdulikan untuk bersosialisasi dengan tetangga ataupun lingkungan sekitar.

Kata Kunci: Indonesia Mercusuar Dunia, Kontes blog muslim, Lomba blog, Tirakatan Generasi Muda dan Syukur Nikmat Anugerah pada Nusantara, Final.


A.PENDAHULUAN                                                                                                                                                                                                         
A.1. LATAR BELAKANG
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam kesempatan pada Malam Tasyakuran Hari Amal Bhakti (HAB) ke-69 di Kantor Kemenag Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (6/1/2015) malam menyatakan, berdirinya Kementerian Agama dimaksudkan untuk memelihara serta memberi jaminan kepada semua pemeluk agama. Mengutip pidato Menteri Agama Pertama RI HM Rasyidi di RRI, Menteri Agama Lukman Hakim menyebutkan, berdirinya Kementerian Agama untuk memelihara serta memberi jaminan kepada pemeluk agama.

Ia menyatakan bahwa kemajemukan adalah anugerah yang patut disyukuri, karena tidak mudah mengelola kemajemukan seperti Indonesia. Dalam perayaan hari-hari besar umat beragama, kata Menag, Indonesia telah menunjukan bahwa kerukunan merupakan pondasi sebuah bangsa yang besar. Hanya di Indonesia dapat dijumpai hal-hal tentang kemajemukan yang positif dan tak ditemukan di manapun di dunia. Salah satu bentuk rasa syukur itu adalah dengan mengadakan dan memperingati Malam Tirakatan.

Malam Tirakatan itu sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Arab, Thariqat-Thariq, yang berarti jalan secara harfiahnya. Secara Definitif, Thariqat berarti suatu proses perjalan mencari kebenaran, atau mencari jalan yang benar. Bisa diartikan Thariqat atau Tirakat adalah pencarian nilai-nilai kebenaran. Pencarian nilai itulah yang mengilhami adanya malam tirakatan 17 agustus. Mencari nilai tentang spirit kenegarawanan , spirit pejuangan, spirit persatuan dan juga spirit syukur nikmat anugerah pada nusantara, yang telah dlakukan para pendahulu untuk membuat kemerdekaan indonesia. Spirit itulah yang harus ada, bukan hanya ketika hari kemerdekaan saja atau ketika malam tirakatan saja. Tetapi harus ada terpatri dalam hati warga Indonesia terutama generasi muda yakni para remaja dan pemuda, sekarang dan selamanya.

A.2. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan ini yaitu untuk:
1. Mengharapkan adanya narasi cerita dalam bentuk tulisan singkat dan video pendek dari perspektif remaja dan pemuda.
2. Menyampaikan pengalaman atas anugerah kenikmatan hidup di Nusantara yang rukun antar suku-ras-agama, sehingga dapat menikmati kenikmatan budaya daerah yang relijius atau kenikmatan aneka ragam kuliner khas Nusantara warisan leluhur sebagai modal berkarya positif dengan harapan agar bangsa Indonesia dapat tumbuh maju berkembang menjadi Mercusuar Dunia yang relijius tidak terpecah belah seperti negara-negara yang sedang berkonflik di Jazirah Arab.


B. PEMBAHASAN                  
B.1. MENGENAL TRADISI MALAM SATU SURO DI TANAH JAWA SEBAGAI RAGAM SOSIAL BUDAYA INDONESIA   
Kedatangan tahun baru biasanya ditandai dengan berbagai kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun berbagai arak-arakan di malam pergantian tahun. Lain halnya dengan pergantian tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri.
Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat.

Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.

Lelaku malam 1 Suro, tepat pada pukul 24.00 saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa. Di Kraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah.

Kebo Bule merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Di belakang Kebo Bule barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri. Sementara itu di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng. Selain di Kraton, ritual 1 Suro juga diadakan oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan.

Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan. Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro.

Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro. Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri.

Dan bukankah introspeksi tak cukup dilakukan semalam saat pergantian tahun saja? Makin panjang waktu yang digunakan untuk introspeksi, niscaya makin bijak kita menyikapi hidup ini. Inilah esensi lelaku yang diyakini masyakarat Jawa sepanjang bulan Suro.

B.2. TRADISI "MALAM TIRAKATAN" TUMBUHKAN SEMANGAT PERSATUAN          
Acara malam pitulasan atau yang biasa disebut “tirakatan” telah menjadi tradisi yang secara rutin telah digelar oleh warga Kota Jogja, Solo, Semarang dan sekitarnya. Malam tirakatan ini yang pada umumnya digelar di berbagai daerah Jawa di guna memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus ajang muhasabah bagi masyarakat atas kondisi bangsa yang belakangan diguncang berbagai permasalahan.

Di sepanjang jalan Kampung Tegal Jatimulyo Jambidan Banguntapan Bantul Yogyakarta, sejak sehabis Isya pada Jumat (16/8) malam, para warga mulai dari anak-anak hingga orang tua ramai-ramai berkumpul di jalanan. Sebuah panggung kecil yang berada di gang masuk dihadirkan untuk memeriahkan acara HUT Kemerdekaan RI yang ke 70. Anak-anak bergantian naik ke atas panggung untuk menyanyikan lagu-lagu nasional.

“17 belas Agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita,” dendang salah seorang anak dengan sedikit bergaya di atas panggung.

Sebelum acara tirakatan dimulai, panitia lebih dulu mengumumkan pemenang lomba-lomba tujuh belasan yang diikuti oleh anak-anak warga kampung. Hadiah pun dibagikan kepada mereka agar lebih semangat lagi dalam meramaikan kegiatan di kampungnya.

Pukul 20.30 WIB, pembawa acara membuka acara malam tirakatan. Lagu Indonesia Raya pun dikumandangkan oleh semua warga yang hadir untuk menambah semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan warga.

Dalam acara ini, salah seorang sesepuh kampung membacakan sambutan, “Mari kita junjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, semangat pesatuan dan kesatuan, dan gotong royong untuk mewujudkan Solo dan Indonesia yang wasis (berpendidikan), waras (sehat), wareg (cukup pangan), mapan dan papan (tempat tinggal),” ujarnya dalam sambutan pada malam itu.

Pada acara inti, Daryono, salah seorang tokoh masyarakat menyampaikan pidatonya dalam acara malam tirakatan ini. Ia menyampaikan bahwa pentingnya bela negara bagi setiap warga masyarakat Indonesia. Ia menegaskan bahwa tidak perlu melakukan hal-hal yang muluk-muluk untuk bela negara. Peduli dan bisa membangung lingkungannya sendiri itu lebih mulia. “Tidak usah ngurusi yang jauh-jauh dulu, lebih baik urusi tetangga dan lingkungan kita yang masih banyak membutuhkan bantuan,” tuturnya kepada para warga.

Selain itu ia juga menambahkan pentingnya menjaga kerukunan sesama tetangga untuk turut serta menciptakan kerukunan di Indonesia. Menurutnya, jika kerukunan antar tetangga saja belum bisa dibangun apalagi mau menciptakan kerukunan yang lebih besar lagi.

“Seberapa tinggi jabatannya, seberapa tinggi pendidikannya, seberapa kaya hartanya, yang akan dilihat adalah hubungan kepada tetangganya,” pungkasnya.

Acara pada malam hari itu ditutup dengan doa untuk negeri. Selesai acara semua warga mendapatkan snack makanan yang telah disajikan oleh panitia yang sejak pagi harinya telah menyiapkan masakan untuk semua warga Kampung Tegal Jatimulyo Jambidan Banguntapan Bantul Yogyakarta.

B.3. TIRAKATAN; MERENUNGI KEMERDEKAAN, MERENUNGI SYUKUR NIKMAT ANUGERAH PADA NUSANTARA
Semenjak tinggal di Yogyakarta, saya baru mengenal sebuah kegiatan unik dalam memperingati hari Kemerdekaan Indonesia, yaitu tirakatan. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus malam. Dalam acara tersebut, dilakukan beberapa kegiatan seperti pembacaan sambutan dari Gubernur DIY, tahlilan dan doa bersama. Yang agak spesial yang diadakan di kampung Tegal Jatimulyo tadi malam adalah pembacaan mocopat.

Mocopat merupakan seni pembacaan syair yang ditembangkan tanpa diiringi oleh instrumen musik, menggunakan bahasa Jawa dan biasanya bercerita tentang sejarah dan kejayaan kerajaan di Jawa. Dalam kesempatan tirakatan kali ini, syair yang dibacakan sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan disesuaikan dengan kegiatan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia ke 64 ini. Di kampung Tegal Jatimulyo, ada sekelompok para sepuh yang saban Kamis malam berkumpul di suatu tempat untuk latihan dan mengasah kemampuan mocopat mereka. Kesenian ini sudah cukup langka. Kawula muda hampir tidak ada yang mampu. Barangkali mereka menganggap, kesenian ini sama sekali tidak modern dan membuat penembangnya menjadi terlihat kuno. Sungguh disayangkan memang, tapi itulah kenyataannya… Aku sangat menikmati suguhan ini, meski tidak paham sama sekali apa yang dibaca.

Di kampung asalku, Cirebon, sudah semakin sulit menemukannya bahkan sama sekali belum pernah kutemukan kegiatan tirakatan ini. Kalau renungan pada malam 17 Agustus memang ada yang melakukan. Tapi, itu hanya dilakukan oleh sebagian kelompok kecil. Sementara, di Jogja, kegiatan tirakatan ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh seluruh kampung se-DIY. Sebuah kegiatan yang menurutku patut ditiru oleh seluruh kampung di Indonesia.

Lantas, apa sebenarnya tirakatan itu? Menurut antropolog PM Laksono seperti yang dikutip Agung Setyahadi, tirakatan merupakan gerakan kolektif di dalam masyarakat untuk menemukan jawaban atas kehidupan yang membingungkan. Tirakatan dilakukan dalam suasana tenang untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk duniawi. Tirakat merupakan laku prihatin dan mulai menjalankan hati nurani untuk menjawab masalah hidup.

Tirakatan kemudian diadopsi pada perayaan 17 Agustus dan merupakan sebuah eksperimen sosial untuk mengapresiasi serta memahami apa itu kemerdekaan dan apa itu Indonesia. Bagi sebagian besar orang, kemerdekaan masih membingungkan karena Indonesia bukan proyek yang telah selesai. Kondisi pascakemerdekaan sangat sulit dipahami karena negara Indonesia merupakan dunia yang sama sekali baru. Dalam pemahaman masyarakat, merdeka adalah kemampuan untuk menentukan sendiri masa depan dan eksistensinya. Kenyataannya, selalu ada yang dikalahkan oleh struktur dan itu menyakitkan banyak orang.

Antropolog Lono Lastoro Simatupang memandang tirakatan bagi orang Jawa adalah sarana untuk mengingat peristiwa-peristiwa khusus. Dalam konteks 17 Agustus, tirakatan adalah usaha masyarakat memaknai keindonesiaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus sebagai perenungan syukur nikmat anugerah Allah SWT pada nusantara. Tujuan reflektif dalam tirakatan menjadi tidak tercapai kalau hanya digunakan untuk ajang hura-hura.

Tirakatan kemerdekaan, lanjut Lono, merupakan tradisi unik yang khas ditemui di Jawa dan Bali. Tradisi ini tidak ada kaitannya dengan suatu paham religiusitas tertentu karena diikuti oleh warga berbagai agama dan penganut kepercayaan apa pun. Dalam pengertian politik lokal, dia berpeluang untuk memberi positioning memasukkan negara dalam kehidupan atau komunitas yang lebih akrab. Ini sangat positif.

Di antara sambutan Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan Pak RT tadi malam, ada sebuah kalimat yang cukup menarik; “Dalam falsafah budaya Jawa sendiri, tirakatan sama halnya seperti menunaikan tugas dan fungsi sosial, melalui adeping tekad (tekad kuat), cloroting batin (batin yang bersih dan bercahaya), sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti (bersatu dan bekerja sama), sebagai laku yang ditempuh menuju pangajab sih kawilujengan langgeng (untuk keselamatan)”.
Saya setuju dengan pendapat Sultan ini, bahwa tujuan utama kita bernegara adalah untuk meraih keselamatan hidup. Dan itu semua hanya bisa dicapai dengan tekad yang kuat, batin yang bersih dan bercahaya serta dilakukan secara bersama-sama dalam sebuah kesatuan, kesatuan yang sesungguhnya, bukan kesatuan semu.


C. PENUTUP     
Dari narasi cerita dalam bentuk tulisan singkat dan video pendek dari pengalaman saya sendiri, atas kenikmatan budaya, persatuan dan kesatuan, serta kerukunan antar suku dan ras yang didukung oleh nilai agama Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk dalam bingkai kebudayaan di Indonesia dapat disimpulkan bahwa:

(1) rasa syukur nikmat di nusantara di era globalisasi dewasa ini sangatlah penting dan sangatlah perlu untuk ditingkatkan lagi terutama bagi generasi muda yakni para remaja dan pemuda,
(2) diperlukan langkah-langkah konkret untuk lebih menyadarkan pentingnya rasa syukur hidup nikmat di nusantara yakni persatuan dan kesatuan bangsa melalui berbagai keragaman yang ada dengan cara mengajarkan pendidikan moral, pendekatan agama dan keluarga serta penerapan teknologi informasi yang tepat guna di kalangan generasi muda Indonesia,
(3) pentingnya menanamkan, menyadari dan mensyukuri hidup nikmat di nusantara itu bukanlah tugas orang lain atau negara melainkan adalah tugas kita bersama sebagai individu-individu relijius yang ingin terus meneladani para pendiri bangsa dan cinta tanah air sebagai bagian dari syiar dakwah Islam di Indonesia, yang memiliki nilai-nilai kebaikan, moralitas, dan karakter agar bangsa Indonesia dapat tumbuh maju berkembang menjadi Mercusuar Dunia yang relijius pula.

May peace be with you.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis Kontes Blog Muslim Ke-4 PPM ASWAJA “Rasa Syukur Hidup Nikmat di Nusantara dari Perspektif Remaja dan Pemuda”.


DAFTAR PUSTAKA             
REFERENSI CETAK:             
[1] Abdulah, Irwan. dkk. (2008). Agama dan Kearifan Lokal dalam Tantangan Global. Yogyakarta: Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Press.
[2] Baal, Van. (1988). Sejarah dan Pertumbuhan Budaya. Jakarta: Gramedia.
[3] Bagir, Zainal Abidin. dkk. (2015). Studi Agama di Indonesia: Refleksi Pengalaman Pembelajaran Moral. Yogyakarta: Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Press.
[4] Buku Ajar ke-NU-an. (2011). Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah.
[5] Fauzi, Ihsan Ali. dkk. (2012) Mengelola Keragaman: Pemolisian Kebebasan Beragama di Indonesia. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) Universitas Gadjah Mada (UGM), The Asian Foundation Press.
[6] Marzuqi, Moh. (2009). Skripsi Akulturasi Islam dan Budaya Jawa. Yogyakarta: Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan (UIN) Kalijaga Yogyakarta.
[7] Nasution, Harun. (1971). Pembaruan dalam Islam. Bandung: Bulan Bintang Press.
[8] Purwahadi. (2007). Pranata Sosial Jawa. Yogyakarta: Tanah Air Press.
[9] Putra, Heddy Shri Ahimsa. dkk. (2012). Makalah Spiritualitas Bangsa dan Moralitas Bangsa. Yogyakarta: BPSNT.
[10] Sholeh, Shonhadji. (2008). Model Komunikasi Transendental. Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 16 No. 1 April 2008 Surabaya: IAIN Sunan Ampel.

REFERENSI ONLINE:    
[1]. Menag: Kemajemukan Anugerah yang Patut Disyukuri dalam http://nasional.kompas.com/read/2015/01/07/09271521/Menag.Kemajemukan.Anugerah.yang.Patut.Disyukuri
[2] Mengenal Tradisi Malam Satu Suro Ditanah Jawa-Ragam Budaya Indonesia dalam http://caswaterpark.com/mengenal-tradisi-malam-satu-suro-ditanah-jawa-ragam-budaya-indonesia
[3] Tradisi Malam Tirakatan 17 Agustus dalam http://www.kompasiana.com/dannyprasetyo/tradisi-malam-tirakatan-17-agustus_551701858133112d52bc717d
[4] Tradisi "Malam Tirakatan" Tumbuhkan Semangat Persatuan dalam http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,46505-lang,id-c,daerah-t,Tradisi++Malam+Tirakatan++Tumbuhkan+Semangat+Persatuan-.phpx
[5] Tirakatan; Merenungi Kemerdekaan dalam http://hardivizon.com/2009/08/17/tirakatan-merenungi-kemerdekaan/

REFERENSI PENDUKUNG:                  
[1]. www.muslimedianews.com – Voice of Moslem
[2]. www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan

No comments:

Post a Comment