tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] "Living is a conversation. All people talk. But a good person listens as well." - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 19 Juli 2017.

Tuesday, December 27, 2016

The Best Smile Is The One That Struggles Through Tears


Merayakan natal 25 Desember 2016 GKJ Kotagede Yogyakarta.

Terima kasih pak Mahatma Anto untuk fotonya.

The best smile is the one that struggles through tears.
Senyuman terbaik salah satunya adalah yang berjuang lewat air mata.

Karena untuk mengenal suatu bangsa, cara terbaik adalah dengan membaca dunia batin dan renungannya, yakni melalui karya-karya sastranya.

Demikian pula untuk memperkaya apresiasi kita sekaligus membuka ruang dialog yang seluas-luasnya, untuk dapat bergaul akrab dan berdialog erat dengan pribadi/individu/komunitas yang berbeda secara anggun dan mendalam, bukan dengan cara yang dangkal dan memalukan, seperti melecehkan atau menistakan, cara terbaik adalah dengan menyelami karya-karya kehidupan mereka, membaca sikap dan perbuatan keseharian mereka, menyimak doa dan mimpi-mimpi mereka, sekaligus memaklumi dan menerima secara sadar keberadaan diri mereka sebagai manusia layaknya kita melihat cerminan diri sendiri.

Keberagaman bukanlah suatu hal yang harus diseragamkan. Justru keberagaman sekali lagi adalah suatu keniscayaan. Sebagaimana kita belajar berjalan dan membaca, kisah dan kasih cinta Tuhan lewat semua umat-Nya di atas dunia.

Selamat memaknai perbedaan bagi kita bersama. Selamat untuk berbahagia dalam kehidupan kita semua.

with R.r. Ratri Hapsari at GKJ Kotagede Jogjakarta.

A Hallelujah Christmas Led Vocals By Kaylee


Tak sengaja sy menemukan video ini dari youtube https://www.youtube.com/watch?v=RvUMDp-snTI. Dengan berita sy dapatkan dari http://www.littlethings.com/kaylee-hallelujah-autistic/?utm_source=asky&utm_medium=Facebook&utm_campaign=christmas.

10-Year-Old Kaylee Rodgers of Killard House School Choir Northern Ireland Brings Audience To Tears Singing ‘Hallelujah,’ Then They Find Out She’s Autistic and has attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

From my understanding it takes a lot, yes a very lot of effort from her to stand and perform in front of an audience...

I personally felt there were a lot of her emotions while hear this song. A voice of struggling, suffering, but it has hope and a gentle divine called us to remain faithful, to remain kind and serve for the goodness...

Specially in these parts of her sing lyrics "...With every breath I'm singing Hallelujah (first part) and ...Still every breath You drew was Hallelujah (last part)."

This song and video sure brought me to tears and blessed me so much...

A Hallelujah Christmas lyrics by Cloverton

"A Hallelujah Christmas"
(originally by Leonard Cohen)

I've heard about this baby boy
Who's come to earth to bring us joy
And I just want to sing this song to you
It goes like this, the fourth, the fifth
The minor fall, the major lift
With every breath I'm singing Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah

A couple came to Bethlehem
Expecting child, they searched the inn
To find a place for You were coming soon
There was no room for them to stay
So in a manger filled with hay
God's only Son was born, oh Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah

The shepherds left their flocks by night
To see this baby wrapped in light
A host of angels led them all to You
It was just as the angels said
You'll find Him in a manger bed
Immanuel and Savior, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah

A star shown bright up in the east
To Bethlehem, the wisemen three
Came many miles and journeyed long for You
And to the place at which You were
Their frankincense and gold and myrrh
They gave to You and cried out Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah

I know You came to rescue me
This baby boy would grow to be
A man and one day die for me and you
My sins would drive the nails in You
That rugged cross was my cross, too
Still every breath You drew was Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah, Hallelujah

Monday, December 26, 2016

YANG KU PUNYA YANG KU PERCAYA


YANG KU PUNYA YANG KU PERCAYA

Tuhanku, ku tak punya harta berlimpah di dunia
Tapi ku yakin akan Engkau tetap beserta

Tuhanku, ku juga tak punya rumah mobil berjuta banyaknya
Tapi ku yakin akan tetap ada sukacita senantiasa

Tuhanku, ku pun tak punya emas, perak, dan permata
Tapi ku yakin akan aku yang tetap berbahagia

Dan Tuhanku, ku tak punya juga nama besar kuasa yang mendunia
Tapi ku yakin akan hidupku yang tetap selamat dan sentosa

Sebab saat ku tak ada harapan
Firman-Mu hadir di sana 'tuk beri kekuatan padaku

Sebab saat ku hilang dalam kegelapan
Rukh-Mu hadir di sana 'tuk terangi jalan hidupku

Sebab saat aku gelisah gundah gulana tak tentu arah tujuan
Kidung-Mu hadir di sana tuk tenteramkan dan tuntun jiwaku

Dan sabab saat aku tak sanggup lagi berjalan
Engkau sendiri hadir di sana tuk berkata marilah datang kepada-Ku

Engkau yang letih dan berbeban
Aku akan memberi kelegaan kepadamu

Jadi Tuhanku apakah lagi yang bisa kubanggakan?
Selain besar kasih setia dan penyertaan-Mu dalam hidupku

Berbah, Sleman, Yogyakarta, 25 Desember 2016

PS: Terima kasih sebesar-besarnya kami ucapkan untuk undangan, kebersamaan, kesederhanaan, kegembiraan, berkat, dan sukacita bersama kawan-kawan GBI Berbahagia Yogyakarta. Tuhan memberkati.

Saturday, December 24, 2016

Sekali Lagi Soal Bullying | Once Again About Bullying

Pict and news source: https://www.facebook.com/boredpanda/posts/10154870580519252
---
English version below:
I've read several articles in both scientific and popular publication, children and teenagers who like to bully the animals and plants, such as wounding and even killing them, most likely in the future they could be a psychopath / cold-blooded killer. This issue is trivial, but this proves that the attention to the issue of bullying that our children and teenagers do against animals / plants / even humans is still relatively low specially in my country. Although many NGOs / government commission / and those experienced speakers that continuously spoken about the topic should not buly children and teenagers physical / sexual / verbal, just the opposite side is almost no serious discussion in the national level to discuss the opposite effect, what if, again what if, instead of children and teenagers got bullied, they bully the animals / plants / other human first ???

In my personal experience that I saw a few days ago, where there is a child of the course participants sewing at my wife home who caught naughty (scribbling on the walls of the room houses a course with a permanent marker), notified and reprimanded nicely not scolded, kept out of the house kicking kicking and plucking the leaves of house plants. Things may be trivial at first glance now.

Not to mention the deprivation of my wife's bike locks by teenagers in one particular religious places of worship in the name of just humor. And they all use the bike for speeding without wearing a helmet on the road. And they are not apologized  about it at all. Yes they joined the  religious activities together and their parents are the officials high ranks member at the places of worship. Ah it's already commonplace. What we say it just a children and teenagers common failure now. Most of us will be said like that. But once again this is proved, children's behavior today is the result of parental education in the past. If it is so, rarely almost no parent wants to apologize because of their children or teenagers faults to his/her victim's behavior.

And once when I was so young, when I made a mistake to the neighbors, my parents dragged / forcibly took me as a child to come to their house to apologized. Sure it was no fun but it has good effect today. I learned to respect the other.

If with the creatures of God's most helpless like plants, the children and teenagers are already so 'evil' today, and then what about God's creatures which more able to speak, eat, and very, very possibly disagree with their behavior in the future (see about the violence and intolerance news phenomenon in the name of religion in my country today).

An important issue is extremely rare to be found in the readings and discussions of parenting in my country also.

Remember, escalation / increase rate in cases of violence today is mostly proof of the failure pattern of parental education, family, and religion in the past. Which just not allow and simplify ignorance everything without regard to the interests of others around us in the past time.

Will we repeat these bad things today? Please do not hesitate to inform, remind, rebuke, even if necessary to educate children with hard actions when its needed, because what becomes of them in the future is what we do today.

It said that children and teenagers are the future investment for both parents and the nation. So, what kind of investment we have done for them today :( :( :( ???

This post in English version was published also in http://www.boredpanda.com/once-again-about-bullying/

----
Bahasa Indonesia below:
Saya pernah membaca dalam beberapa artikel ilmiah dan populer, anak-anak dan remaja yang suka mengerjai-menjahili hewan dan tanaman, semisal melukai bahkan membunuh mereka, besar kemungkinan di masa depannya bisa menjadi seorang psikopat/pembunuh berdarah dingin. Isu ini memang sepele, tapi ini membuktikan bahwa perhatian terhadap isu bullying yang dilakukan anak-anak dan remaja terhadap hewan/tanaman/ bahkan manusia masih tergolong rendah di negara kita. Walau sudah banyak LSM/Komisi2/ dan pakar2 yang mengangkat topik jangan membuly anak-anak dan remaja secara fisik/seksual/verbal, justru sebaliknya hampir tidak pernah ada pembicaraan serius tingkat nasional guna membahas efek yang sebaliknya, bagaimana jika justru anak-anak dan remaja sendirilah yang membuly hewan/tanaman/manusia lainnya???

Pengalaman pribadi yang saya saksikan beberapa hari yang lalu, di mana ada anak dari peserta kursus jahit di rumah istri saya yang ketahuan nakal (mencoret-coret dinding rumah ruang kursus dengan spidol permanen), diberitahu dan ditegur baik2 bukan dimarahi, terus keluar rumah menendang-nendang dan mencabuti daun-daun tanaman rumah. Hal yang sepintas mungkin remeh sekarang.

Belum lagi kasus perampasan kunci sepeda motor istri saya oleh remaja-remaja di salah satu tempat ibadah agama tertentu atas nama bercanda. Dan mereka bertiga gunakan sepeda motor itu untuk kebut-kebutan tanpa pakai helm di jalan. Dan mereka tidak minta maaf soal itu sama sekali. Ya padahal mereka ikut kegiatan agama bersama dan orangtua mereka adalah petinggi di tempat ibadah tersebut. Ah sudah biasa. Namanya juga anak-anak dan remaja sekarang. Tapi sekali lagi terbukti, kelakuan anak adalah hasil didikan orangtua. Kalau sudah demikian, jarang ada orangtua yang mau sampai meminta maaf pada korban hasil kelakuan anaknya.

Padahal dulu, saat saya berbuat salah pada tetangga, orangtua saya langsung menyeret/mengajak paksa saya sebagai anaknya untuk datang ke rumah mereka minta maaf.

Kalau dengan makhluk Tuhan yang paling tidak berdaya saja mereka sudah demikian 'jahatnya' bagaimana dengan makhluk Tuhan lainnya yang bisa bicara, makan, dan amat sangat mungkin tidak setuju dengan kelakuan mereka di masa depan (lihat berita-berita fenomenan kekerasan dan intoleransi atas nama belakangan ini di Indonesia).

Isu penting ini amat sangat jarang saya temui dalam bacaan-bacaan maupun diskusi parenting di Indonesia.

Ingat ekskalasi/peningkatan kasus dan tindak kekerasan Indonesia saat ini juga adalah bukti ketidakberhasilan pola didikan orangtua, keluarga, dan agama di masa lalu. Yang membiarkan dan menggampangkan segala sesuatunya tanpa memperhatikan kepentingan orang lain di sekitar kita.

Maukah kita mengulang kembali hal-hal tersebut saat ini? Jangan segan-segan untuk memberitahu, mengingatkan, menegur, bahkan bila perlu mendidik anak dengan keras bila dibutuhkan, karena apa jadinya mereka nanti adalah apa yang kita perbuat saat ini.

Katanya anak-anak dan remaja adalah invertasi masa depan orang tua dan bangsa. Jadi, investasi macam apa yang telah kita lakukan buat mereka :( :( :( ???

This post in English version was published also in http://www.boredpanda.com/once-again-about-bullying/

Thursday, December 22, 2016

Apa Yang Salah Dari Mereka?


Sungguh sangat mengherankan dan menyedihkan  membaca seorang yang bergelar dan bernama lengkap Rr. Dwi Estiningsih, S.Psi., M.Psi., yang memiliki keluarga, pekerjaan tetap, dan terhormat dapat membuat cuitan-cuitan dengan tendensi miris dan miring semacam itu. Belum lagi bila kita sedikit meluangkan waktu mencari nama dan rekam jejak beliau di dunia maya lewat mesin pencari Google akan lebih banyak berita yang lebih 'tidak mengenakkan' lainnya yang rupanya sudah dimulai 'tidak baiknya' sejak beberapa tahun yang lalu.

Kemudian, saya belakangan mulai berpikir dan bertanya apakah memang ada yang salah dalam pola pendidikan tinggi di Indonesia khususnya dan kehidupan beragama/keluarga di Indonesia umumnya?

Bila kita cermat melihat dan membaca, akan kita temukan bahwa oknum-oknum penyebar berita semacam tersebut adalah orang-orang yang berpendidikan cukup bahkan berlebih karena bisa lulus kuliah S-1, S-2, bahkan mungkin S-3, mereka memiliki pekerjaan dan status sosial yang teramat baik dibandingkan rata-rata kebanyakan masyarakat Indonesia, mereka sudah resmi dan sukses berkeluarga, namum memiliki pola pikir dan mental yang amat bertolakbelakang dengan apa yang ditulis/diperbuatnya di dunia maya.

Mereka bukan orang-orang biasa yang untuk makan saja tidak punya. Yang hidupnya tak peduli politik, tak peduli pendidikan, dan hal remeh temeh lainnya.

Mereka yang namanya 'terkenal' lewat ujaran dan perbuatan yang menghasut kebencian adalah orang-orang yang juga biasa keluar masuk mall, bioskop, kafe, dan banyak tempat strategis lainnya. Yang tiap hari menggunakan gadget canggih dan mampu menggunakan segala bentuk kenyamanan dan kelebihan fasilitas di sekitarnya.

Mereka yang mungkin juga ada di tengah-tengah kita.

Adakah yang salah dengan pola pikir dan hidup mereka?

---
Menanggapi postingan awal dari akun Facebook Timur Suprabana https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10207594158123315&set=a.4252255235904.2142751.1571460748&type=3&theater

Follow · 11 hrs ·  Wednesday, 21 Desember 2016 at 18:26
Shared with: Public

Dwi Estiningsih, seorang kader Partai Keadilan Sejahtera dilaporkan Forum Komunikasi Anak Pejuang Republik Indonesia ke Kepolisian Daerah Metro Jaya pada Rabu 21 Desember 2016. Dwi dilaporkan karena telah membuat cuitan di akun media sosialnya yang dianggap berbau kebencian dan bernuansa SARA (Suku Agama Ras dan Antargolongan).

Saat ditemui di rumahnya, Dwi Estiningsih mengatakan tak bisa menanggapi laporan tersebut."Terkait tuduhan (ujaran kebencian) Itu ya saya tak bisa men-cap pikiran banyak orang, terserah orang akan berpikir apa kan? saya kan tidak bisa mengontrol apa persepsi mereka," ujar Dwi ketika ditemui Tempo di rumahnya Rabu siang sambil menggendong anak bungsunya yang masih berusia satu bulan.

Dalam akunnya @estiningsihdwi pada Selasa, 20 Desember 2016, Dwi, 38 tahun, menulis, "Luar biasa, negeri yang mayoritas Islam ini, dari ratusan pahlawan, terpilih 5 dari 11 adalah pahlawan kafir #lelah'. Cuitan Dwi lainnya juga menjadi sorotan media sosial seperti,"Iya sebagian kecil non muslim berjuang,mayoritas pengkhianat. Untung saya belajar #sejarah."

Lulusan S1 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada ini menuturkan, apa yang dilakukannya (di media sosial) hanya berupa bentuk perjuangan. "Tapi saya tak berjuang atas nama golongan, suku, dan agama, melainkan NKRI," ujar istri dari arsitek bernama Erlangga Winoto itu.

Perempuan yang kini mengelola biro pendampingan psikologi dan sering bekerjasama dengan pemerintah untuk penanganan gelandangan itu mengatakan, cuitannya yang jadi polemik adalah sebuah sikap kritis atas kegelisahan pada peristiwa yang belakangan terjadi di masyarakat

Dwi membantah cuitannya ini terkait dengan isu-isu terakhir persoalan polemik agama seperti akibat dampak ucapan Gubernur DKI Jakarta non aktif yang memicu aksi bela islam I-III.
"Kalau mengikuti twit saya sejak beberapa tahun yang lalu, ya intinya saya itu hanya ingin mendudukkan persoalan pada tempatnya," ujar perempuan yang berprofesi sebagai dosen tidak tetap sejumlah kampus swasta itu.

Menurut Dwi, akibat adanya sosial media yang makin populer beberapa tahun terakhir, ia melihat banyak hal yang seharusnya bukan masalah jadi masalah dan yang bukan masalah malah jadi masalah. "Nah, kami ingin mendidik masyarakat itu, ini lho yang menjadi masalah itu, ini yang bukan," ujar calon anggota DPRD DIY 2014 dari PKS yang tak lolos tersebut.

Terkait dengan laporan dirinya ke polisi, Dwi pun memilih menanggapi secara santai. Ia melihat laporan itu sebagai pintu untuk menyikapi persoalan yang terjadi. "Kalau perlu saya bawa anak saya yang berusia 35 hari jika dipanggil kepolisian, tak masalah juga, perjuangan itu kan kapanpun dan dimanapun," ujarnya.

***sumber: tempo.co-Rabu, 21 Desember 2016 | 18:04 WIB
PRIBADI WICAKSONO

~ Timur Suprabana: Luar biasa... 100% tidak merasa keliru atau terlebih salah...

Tuesday, December 20, 2016

SOE HOK GIE: CATATAN DAN KENANGAN SEORANG PENGAGUM


Sejujurnya paling tidak ada dua pendapat yang sangat kuno dan yang satu dengan yang lain berlawanan keras apabila menyangkut penilaian mengenai karya dan pribadi seseorang. Ada yang mengatakan mengenal latar belakang kehidupan dan bila perlu pengenalan secara pribadi, mengetahui lika-liku kehidupan pribadi seseorang adalah syarat mutlak bilamana seseorang berusaha memahami pribadi seorang lainnya. Pendapat yang dilibatkan di dalamnya adalah bahwa karya seseorang bukan pencerminan dan penjelmaan nyata dari diri seorang penulis. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat betapa perbedaan antara gaya hidup seseorang yang meletakkan persepsi dan cita-cita tercermin dalam tulisan-tulisannya di bawah telapak kakinya sendiri. Dengan kata lain hanya yang pernah mengenal pribadinya dari dekat bisa menulis tentang seseorang atau percuma menulis untuk membahas seseorang yang hanya dikenal melalui karya tulisnya.

Pendapat lain yang persis berlawanan yaitu yang mengatakan untuk menulis tentang seseorang tidak harus atau tidak perlu mengenal orangnya secara pribadi, tetapi karyanyalah yang menjadi lahan yang harus digarap dan dinilai karena orangnya menjelma seutuhnya di dalam karyanya. Kalau karya-karya lain hanya secara tidak langsung mengatakan seseuatu tentang penulisnya maka disitu pulalah perbedaannya dengan catatan harian yang ditulis secara jujur. Catatan harian adalah potret dengan sinar rontgen dan penjelmaan diri paling gamblang dan dalam dari seseorang.
Dengan mempertimbangkan kedua pendapat tersebut, saya tampaknya berada pada posisi mereka yang menganut pendapat kedua. Saya berusaha untuk memahami tentang seseorang yang tidak saya kenal secara pribadi dan juga tidak mungkin pernah bertemu muka. Perkenalan secara samar-samar (kalau boleh disebut dengan istilah perkenalan) mungkin karena lebih dalam arti mendengar tentang Soe Hok Gie sendiri daripada mengenalnya dalam arti sebenarnya.

Dulu, saat di bangku sekolah menengah pertama, untuk pertama kalinya saya mengenal sosok Soe Hok Gie (untuk selanjutnya disebut Gie) melalui buku Catatan Seorang Demonstran. Bagi saya, kumpulan catatan harian mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang diterbitkan LP3ES sangat menarik dan inspiratif. Tak bisa dipungkiri, buku tersebut menjadi bagian penting dalam masa transisi kehidupan saya. Juga, ikut mengantar perjalanan saya dari seorang remaja yang beranjak menjadi manusia dewasa.
Saat itu, saya masih ingat, saat membuka tiap lembar buku tersebut, rasa malu langsung menyergap. Apa yang dilakukannya sungguh luar biasa. Pada usia yang masih belia, 14 tahun, Gie telah menaruh minat yang besar terhadap sejarah dan literatur. Orang yang tidak saya kenal ini tiba-tiba membuat saya bangga menjadi anak Indonesia. Cakrawala berpikir saya mulai terbuka.

Dan saat itu pula, sebagai seorang remaja yang tumbuh di masa era reformasi, saya merasa begitu bodoh. Saya sama sekali tidak mengetahui dan memahami apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini pada tahun 1960-an (saat Gie menuliskan catatan hariannya). Melalui goresan penanya, Gie mengantarkan saya ke sebuah masa penuh dengan gejolak yang nyata di Indonesia.

Jujur saja, buat saya Gie adalah seorang pemikir muda yang kritis, yang luar biasa yang terpikat ide, pemikiran dan yang tanpa henti dengan konsisten menggunakan akal pikirannya untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya. Tulisan-tulisannya yang walau sering kali menimbulkan kontrobersial di saat itu, namun menggugah kuat hati pembaca, menjadikan mereka menyokong sepenuhnya pandangan-pandangan yang dikemukakannya atau membenci penulisnya yang berani mengatakan apa yang tidak berani dinyatakan oleh orang lain. Gie adalah seorang pemuda yang penuh cita-cita dan terus berjuang agar kenyataan-kenyatana yang diwujudkan oleh masyarakat kita dapat diubah sehingga lebih sesuai dengan cita-citanya yang didasarkan atas kesadaran yang besar akan hakikat kemanusiaan. Dalam memperjuangan cita-citanya ia berani bertindak beda, berkorban, dan memang sering menjadi korban.

Peranan Gie dalam usaha menegakkan dan meluruskan Orde Baru yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto saat itu tidaklah kecil. Ia sangat mengharap agar pemerintahan Orde Baru mengembangkan dan memperkuat keadilan sosial yang rasanya telah ditelantarkan di pemerintahan Orde Lama. Justru dengan tujuan untuk memperkuat Orde Baru itulah ia tidak segan-segan melancarkan kritikan pedas terhadap segala sesuatu yang menurut anggapannya tidak dapat dibenarkan. Kritikan bahkan kecaman yang dilontarkan oleh Gie dilancarkan atas pemikiran yang jujur dan atas dasar itikad baik. Ia tidak selalu benar, tapi terbukti ia selalu jujur, sederhana, dan apa adanya.

Saat sedang membaca tulisan-tulisan Gie, pikiran saya tergoda untuk membandingkan Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib. Menurut hemat saya keduanya adalah contoh eskponen dari yang disebut sebagai “manusia-manusia baru”. Dalam banyak hal keduanya tidak berbeda meskipun dalam banyak hal pula keduanya dibawa nasib ke tempat yang berbeda. Soe Hok Gie lahir pada 17 Desember 1942 sedangkan Ahmad Wahib lahir pada 9 November 1942. Keduanya jelas adalah aktivis mahasiswa, pemikir, menekuni secara setia catatan harian, memberikan komentar hampir tentang segala jenis peristiwa dari filsafat, agama sampai politik. Pun keduanya mengalami nasib yang sama yaitu mati muda.

Tetapi tentu saja tetap akan ada perbedaan lingkungan yang menentukan di antara keduanya. Soe Hok Gie dilahirkan dan dibesarkan di kota Jakarta tempat semua jenis pergulatan hidup yang besar, yang kecil dan yang dekil, yang mendidik dan yang tidak mendidik. Ahmad Wahib lahir dalam lingkungan santri Sampang, Madura suatu prototipe lain dari kehidupan pedesaan yang kering, tempat orang pulang pergi ke kota besar seperti Surabaya dan lain-lain. Desa di mana mobilitas sangat besar karena orang keluar masuk dari desa ke kota; namun mobilitas yang sering dianggap sebagai indikator modernitas, di Madura menjadi lambang kekurangan, kemiskinan dan kelaparan. Jika dilihat dari kriterium tersebut maka keduanya justru yang dididik dalam optimisme kemerdekaan dan justru orang yang mengalami secara langsung kehancuran cita-cita maupun kepercayaan tersebut sehingga bayang-bayang kelabu kehidupan tidak pernah lepas dari keduanya. Kecemasan, ketakutan, keraguan yang menyebabkan keduanya memandang hidup ini serba hitam dan kelam.

Namun demikian, janganlah kita keliru menanggapi kecemasan, kehitaman dan kesuraman yang meliputi kedua tokoh ini. Kekelaman sama sekali tidak menyebabkan keduanya berada dalam situasi yang tidak bergerak, atau malah menjadi apatis dan mati gerak, tetapi justru sebaliknya kekelamanlah yang selalu memacu keduanya untuk senantiasa bersikap dinamis, mencari, meragukan dan membongkar bahkan menyusun baru kembali segala-galanya. Dalam diri keduanya selalu memupuk perasaan untuk mengumandangkan kata “tidak” kepada semuanya yang mapan termasuk dirinya sendiri. Tetapi yang diakuinya adalah dirinya dalam proses yang tidak pernah mencapai garis akhir, garis finis, karena itu dirinya yang dinamis di dalam setiap pergolakan, gejolak yang terus-menerus, suatu kegelisahan abadi dan sama sekali bukan kenyamanan yang sementara, yang tenang dan lengan.

Nah, mari sekarang kita kembali lagi kepada tokoh Soe Hok Gie yang juga mengemukakan hal-hal yang hampir sama dalam waktu ketika dia masih sangat muda. Dia bereaksi terhadap pendapat bahwa seorang hanya dapat hidup dari harapan-harapan. Gie yang menurut saya adalah eksponen dari “manusia-manusia baru”, di pihak lain juga melihat betapa kualitas yang disebut “manusia-manusia baru” itu sendiri. Dia melihat bahwa mereka yang terbakar oleh ucapan Bung Karno “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit” dan memasuki perguruan tinggi misalnya, ternyata hanya mampu menjadi tukang. Kehancuran dan demoralisasi yang disaksikannya tidak mampu menimbulkan moral yang tinggi. Kalau gerakan penggulingan rezim Soekarno digambarkan sebagai batu tapal daripada perjuangan menegakkan kebenaran dan kejujuran dan disebutnya juga sebagai batu tapal dalam revolusi Indonesia, maka dia pun juga melihat betapa hasil revolusi ini karena mutu pendidikan dan pengetahuan generasi ini yang rendah.

Soe Hok Gie yang tidak pernah habis-habisnya terus menggunakan akal pikirannya untuk mencari suatu hal yang dianggapnya berlawanan dengan kebenaran yang dia yakini dan yang dia inginkan akhirnya mencarinya dalam suatu bentuk yang konkret. Bentuk konkret itu disebut “Kau” yang dicarinya dalam kehidupan pribadi dan kelompok-kelompok intimnya, kalau perlu seorang sahabat pribadi perempuan yang terikat di dalam “yang disebut cinta yang suci”. Tetapi dalam hal ini pun dia sendiri terombang-ambing. Seperti di ping-pong kesana kemari antara adanya cinta atau tiadanya cinta. Dia juga diping-pong antara sikap platoniknya dalam bercinta yaitu menempatkan dan merindukan cinta di langit atau menarik cinta itu untuk turun dan dipertemukan dalam tubuh seorang lelaki dan seorang perempuan. Ketika dia mengejar semua menolak. Ketika dia diam semua seperti kupu-kupu bergelantung di bibir lampu malam hari.

Pada akhirnya, saya menjadi salah satu pengagum Gie. Baik itu tulisan-tulisannya, kisahnya, maupun juga keyakinannya. Buat saya, dia adalah seorang pahlawan yang selalu siap membela orang yang lemah. Jiwa pemberontak dan sikap pemberontakannya yang jujur dan sederhana, mengobarkan semangat saya untuk mengejar cita-cita. Kekuatan kata-katanya tidak hanya menggambarkan sebuah kepribadian yang kukuh, cerdas, lurus, tapi juga romantis dengan keangkuhan yang memikat. Mengenang kelahiran dan kepergian Soe Hok Gie, membuat saya sadar kembali bahwa tugas dan panggilan saya belum selesai dalam hidup ini, masih banyak hal yang harus saya kerjakan, harus saya bagikan pada yang lain. 

Yogyakarta, Di Bawah Penantian dan Hujan, 20 Desember 2016

Penerbit MataBangsa

---
Terima kasih untuk kesempatan dan apresiasi dari Penerbit MataBangsa sebagai salah satu dari 5 pemenang lomba cipta esai Soe Hok Gie:  




Terima kasih Penerbit MataBangsa untuk hadiah juara lomba cipta esai "Soe Hok Gie" akhir bulan Desember tahun yang lalu.

Telah diterima dengan baik 1 (satu) buku Soe Hok Gie: Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, Cetakan Pertama 2017, Diterbitkan oleh Penerbit MataBangsa.

"Karya tentang pemberontakan PKI di Madiun ini dianyam demikian rupa sehingga seakan-akan kita membaca sebuah novel sejarah dramatis yang menegangkan. Tapi penulisnya cukup hati-hati untuk tetap bersikap objektif dalam analisisnya hingga fakta sebagai "suatu yang suci" dalam bangunan sejarah tetap ditempatkan dalam posisi yang terhormat."
-Ahmad Syafii Maarif, Sejarawan, Guru Besar Sejarah pada IKIP Negeri Yogyakarta (UNY), meraih Ph.D. dari Chicago University, Amerika.


Tuesday, 3 January 2017 at 14:26

Monday, December 19, 2016

TENTANG IBUNDA


TENTANG IBUNDA

Dengan cintamu aku ada
Dengan cintamu aku menatap surya
Dengan cintamu aku melangkahi masa

Dengan cintamu aku belajar bicara
Dengan cintamu aku beranjak dewasa
Dengan cintamu aku belajar mencinta

Dengan cintamu aku beranjak tua
Dengan cintamu aku tiada
Dengan cintamu aku kembali pada-Nya

Yogyakarta, 19 Desember 2016

Penerbit Serambi #KuisHariIbu





Tuesday, 27 December 2016 at 15:40
Terima kasih Penerbit Serambi untuk kesempatan dan apresiasinya sebagai pemenang #KuisHariIbu. Terima kasih.

Saturday, December 17, 2016

Benang Merah Kehidupan


Aku mulai berpikir dan merenung bahwa mungkin benar tiap orang terhubung satu sama lain dengan seutas benang merah kehidupan.

Saat mengisi bak kamar mandi, menyapu halaman, dan menyalakan lampu di ruang depan.

Katakanlah ini sekedar renungan boleh juga kau sebut sekedar lamunan.

Dengan siapa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa. Dari sekian banyaknya kemungkinan yang boleh terjadi di masa lalu antara satu orang dengan orang-orang lainnya terdapat beberapa titik terang yang mungkin akan menentukan masa depan.

Mungkin tidak semua orang memberikan harapan. Dari semua hal yang mungkin bisa jadi menyakitkan, terdapat beberapa orang yang memiliki untaian benang merang yang serupa. Yang mungkin bisa jadi bersatu, membantu, atau sekedar menemani perjalanan singkat dalam hidup kita.

Dari kesemua cerita semasa hidup mungkin tak ada yang lebih manis, lebih kuat, dan lebih memikat selain cerita atas nama cinta. Cinta yang tulus memberi tanpa mengharap kembali. Cinta yang sejati yang sudah semakin luntur di dunia ini.

Cinta dari bapak dan ibu kepada anaknya, cinta dari anak kepada orangtuanya, cinta persahabatan antar teman, dan cinta dari suami kepada istri dan sebaliknya, dan beragam cinta lain yang kadang tak dapat kita mengerti hingga saat ini.

Semua mungkin menuju kepada satu titik temu. Titik yang bisa berarti perjumpaan atau bisa jadi perpisahan. Dalam ruang dan waktu yang pasti berbeda manusia berusaha terus mencari makna.

Apa arti hidupnya? Mengapa ia ada di dunia? Dan untuk apa hidup itu sebenarnya?

Memang bukan suatu hal yang sempurna, bukan juga suatu hal yang mewah dan megah. Mungkin semua jawaban bukanlah suatu hal yang berlebihan.

Mungkin juga jawaban itu sudah ada di sekitar kita.

Mungkin juga kita tak butuh semua hal tentang kepintaran, semua hal tentang pencitraan itu. Sebab saat dewasa kita sudah lupa, betapa keluguan dan kepercayaan membuat semua hal menyenangkan.

Tak perlu ada banyak uang, tak perlu begitu banyak makanan, tak perlu memiliki rumah yang begitu mewah, dan mungkin juga tak perlu bekerja begitu rupa kerasnya.

Sebab, pada suatu masa kita akan lebih menderita. Kita akan merasa begitu beratnya masa kini akibat keinginan-keinginan kita di masa lalu.

Memiliki banyak uang, makanan, tempat tinggal, dan banyak kelebihan lain ternyata tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih bahagia.

Memiliki semua itu ternyata mungkin bukanlah jawaban.

Kalau sudah begitu kita baru menyadari sudah begitu banyak waktu yang kita lewati.

Percuma.

Mungkin juga masih belum percaya. Bahwa orangtua dan teman yang dulu mencintai kita kini semua sudah tiada. Kalau pun ada sudah tidak lagi bersama.

Mungkin sedikit kesabaran jauh lebih kita butuhkan dibanding arogansi dan obsesi.

Mungkin yang kita butuhkan adalah taburan jiwa dalam tiap aktifitas yang kita lakukan.

Mungkin yang harus kita lakukan adalah berbagi dan memberi ketimbang meminta dan menyimpan harta.

Dan mungkin kita baru akan menyadari betapa telah jauh dan lamanya kita meninggalkan semua itu setelah kita sampai di penghujung kehidupan.

Saat semua sudah kita dapatkan, impian-impian mengejar masa depan. Saat tubuh tak bisa banyak bicara dan hanya jiwa kita yang bergerak renta. Kita lupa akan seutas benang merah kehidupan tadi yang karenanya kita hadir di dunia.

Ilustrasi foto: www.tumblr.com

GEMA SYUKUR MASA ADVEN NATAL 2016


Matur nuwun sanget terima kasih banyak untuk kesempatan dan apresiasinya dari GKJ Kotagede Yogyakarta, bu Tyas Kumenyar, para majelis, dan panitia acara, untuk pertama kalinya saya boleh membacakan 2 dari 4 puisi karya saya sendiri dari total 12 puisi yang telah dinarasikan dalam malam acara Gema Syukur Masa Adven Natal 2016 pada hari Jumat, 16 Desember 2016.

Semoga menjadi berkat dan nama Tuhan dipermuliakan. Gusti mberkahi.
















Tuesday, December 6, 2016

Birthday Gift Pertama Saya

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10211579499352432&set=pcb.10211579532073250&type=3&theater

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10211579506072600&set=pcb.10211579532073250&type=3&theater

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10211579505872595&set=pcb.10211579532073250&type=3&theater

Pertama kalinya dalam 31 tahun hidup saya mendapat birthday gifts.. Terima kasih:
1. Ambarukmo Plaza Jogja
2. Patbingsoo - Korean Dessert House Jogja
3. EF English First Indonesia Jogja

Terima kasih juga dek R.r. Ratri Hapsari yang sudah meluangkan waktu malam hari mengantarkan mengambil hadiah tersebut,

Dan terima kasih juga buat semua kawan yang mengucapkan dan mendoakan baik yang langsung maupun tidak langsung. Semoga sehat, sukses, dan berbahagia selalu .

Sunday, December 4, 2016

Aku Belajar Dari Gus Dur

The real Bineka Tunggal Ika


Terima kasih pak Ahmad Suaedy untuk endorsement dan testimonial dalam buku saya. Semoga tetap amanah, sehat dan lancar selalu dalam aktivitas bapak dan keluarga. Amiin:

"Kumpulan puisi, esai, dan opini pilihan karya Yose Rizal Triarto ini boleh dikatakan merupakan antologi sunyi. Bukan saja karena cerminan pergulatan hati penulis khususnya dan manusia umumnya yang terus-menerus mencari entitas Sang Pencipta dan tujuan hidup. Melainkan pula karena dalam perjalanan pencarian tersebut manusia diperlakukan sebagai sosok yang memiliki berbagai macam kepribadian dan mencari jawaban dalam tiap waktunya. Sebuah pengembaraan kombinasi antara keilmuan, spiritualitas dan arti sebuah dunia bagi kehidupan seseorang yang terus mencari sembari mensekatkan diri pada Ilahi.  Membaca buku Agnosto Deo: Kepada Tuhan yang Tak Dikenal dalam berbagai rupa ibarat mengulik misteri hati manusia yang pelik dan mudah berubah-ubah warna. Misterius, menarik, namun jelas sangat menggoda untuk menamatkan membaca dalam tiap lembarannya. Sangat direkomendasikan bagi kita semua, baik tua dan muda, baik pelajar, mahasiswa, maupun kalangan biasa untuk menikmati dan mempelajarinya. Barangkali hati manusia memang seumpama kegelisahan yang terus menerus mencampuradukkan rasa sunyi dalam mencari jati diri dan keilahian Sang Pencipta."

-Dr. H. Ahmad Suaedy M.Hum,
Executive Director AWC UI, Sr. Researcher Center for Islam & Southeast Asian Studies The Wahid Institute Jakarta,
Anggota Ombudsman RI Periode 2016-2020

Puji syukur Gusti Allah.. Sudah resmi terbit! Buat kawan-kawan yang berminat membeli buku ini, silahkan melihat review singkat dan daftar lengkap endorsement/testimonial buku "Agnosto Deo: Kepada Tuhan yang Tak Dikenal" pada catatan ini https://www.facebook.com/notes/yose-rizal-triarto/endorsementtestimonial-buku-agnosto-deo-kepada-tuhan-yang-tidak-dikenal/10154173455620337. Terima kasih :).

Wednesday, November 23, 2016

Life Does Not Have To Be Perfect To Be Wonderful



"Life does not have to be perfect to be wonderful."
- Annette Funicello (1942-2013)

Pict: SD Gundam BB Senshi Sangokuden No.320 Choko Zaku III. Assembled. Self manual repainted with markers.

Monday, November 14, 2016

Aku Bangga Donor Darah Apheresis




Ingin rasanya segera berdonor darah apheresis lagi. Semoga kesehatan dan kesempatan datang kembali :).
 

Foto: Kaos kenang-kenangan setelah berdonor apheresis tgl 12-07-16. Donor darah terakhir tgl 01-10-16 yang ke 26x.

CC: Pmi Kota Yogyakarta,
Utd Kota Pmi Yogyakarta, Aku Bangga Donor Darah Apheresis

Apakah Donor Apheresis Itu?

Apheresis adalah penerapan teknologi medis berupa proses pengambilan salah satu komponen darah dari pendonor melalui suatu alat atau mesin apheresis. Pada prosedur donor apheresis, komponen darah yang diambil hanyalah komponen yang diperlukan, misalnya platelet atau trombosit (thrombocyte). Adapun komponen darah lainnya dikembalikan lagi kedalam tubuh donor saat itu juga.

Ada beberapa jenis donor apheresis yaitu:
Trombaferesis yaitu proses apheresis untuk mengambil trombosit;
Eritraferesis yaitu proses apheresis untuk mengambil sel darah merah;
Leukaferesis yaitu proses apheresis untuk mengambil sel darah putih; dan
Plasmaferesis yaitu proses apheresis untuk mengambil plasma.

Nah, oleh karena prosedurnya khusus, maka syarat untuk menjadi donor apheresis juga ada perbedaan, yaitu dalam hal:

Berat Badan Pria minimal 55 kg dan wanita minimal 60 kg.
Kadar Hb 13-17 gr/%.
Tekanan darah sistole antara 110-150 mmHg dan diastole 70-90mmHg.
Interval donor minimal 2 minggu sekali. Namun khusus untuk eritraferesis, minimal 8 minggu sekali dan untuk plasmaferesis, minimal 1 minggu sekali.

Khususnya donor trombosit, setelah melakukan donor platelet apheresis, maka jumlah trombosit akan pulih kembali 100% dalam waktu 2 x 24 jam.

Adapun pada eritraferesis, jumlah eritrosit akan pulih dalam 4-8 minggu. Dengan demikian, para pendonor apheresis dapat melakukan donor lebih banyak dari donor biasa yaitu maksimal 24 kali per tahun (interval donor minimal 2 minggu sekali).

Sumber: F. Sidikah R. & Robby Nur Aditya – Tanya Jawab Tentang Donor Darah