tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Saturday, May 28, 2016

About Hobbies


Everyone has their own hobbies. Either shopping, reading, writing, bicycling, cooking, drawing, traveling, bird watching, selfie-ing, or any other good activities. The other have more unique and need more passions such as arts and craft, calligraphy, ballet, flower arrangements, puzzles, fishing, running, playing music, martial arts, collecting stamps or old coins, and the new one, generally still an uncontroversial hobby mentioned in wikipedia and within the society, usually we call it as plamo - plastic modelling. Which has a lot ranges of subjects, construction and techniques, scales, variations, and prices off course. Because of this reasons, many adult and educated peoples in developed and developing countries began to think this hobbies are not the toys anymore.

Whatever our hobbies, there are a lot of undeniable benefits that has proven right and have very good effects from doing our hobbies. For the examples, hobbies help us to manage stress and give joy, help us to refocus on work, help us to bond with others, and improve our health and immunity. In fact, I believe hobbies help us become to be more humane everyday.

But when hobbies filled with too much competitions and dramas, the community start to hard arguing about which one the best of us, and have no joy anymore, I think that's the time we should take time and rethinking about our hobbies for our own good sake in the future. And I think there are no words such as retired or quit from hobbies as long as we keep loving with what we have done before. I was no longer bicycling since last 2007 due to the graduation and working reasons. But from the early 2014 until now I am enjoy doing it almost everyday.

So, follow your good heart and conscience, and enjoy your hobbies. Happy Saturday and have a nice weekend friends.

PS: I am pretty sure that sleeping is not categorized as hobbies after all. But some people have consider that working could become one of the new hobbies nowadays :).

Wednesday, May 25, 2016

Kemah Ilmiah TIK 2016 (ICT Camp 2016) - Balai Tekkomdik DIY


Antusiasme peserta, tim juri dan panitia ICT CAMP 2016 hari pertama, Selasa, 24 Mei 2016, dari pagi hingga senja selalu menebar tawa dan semangat. Kemah Ilmiah TIK 2016 (ITC Camp 2016) - Balai Tekkomdik DIY — at Candi Prambanan, Yogyakarta - Jawa Tengah, Indonesia.

For more pictures: http://tinyurl.com/j7q79bk

Friday, May 20, 2016

Museum Exhibiton 2016 "Colorful and Fun"


Bersama para edukator Museum Geologi Bandung. Terima kasih untuk kenang-kenangannya dan kepercayaannya sebagai sesama edukator dan pendidik. Museum Exhibiton 2016 "Colorful and Fun" — at JOGJA CITY MALL (JCM) Shopping Centers, Hotels & Apartments 15 May 2016.

For more pictures at https://www.facebook.com/yose.triarto/media_set?set=a.10209672209911388&type=3.

Tuesday, May 17, 2016

Dan Brown dan Saya


Hm.. Awalnya sih tidak ada niat buat menyamakan atau melebihkan. Tapi setelah saya selesai membaca dan merefleksikan buku terjemahan Dan Brown: A Biography by Lisa Rogak (Bentang Pustaka, 2014) sepertinya memang ada beberapa kesamaan antara kisah hidup Dan Brown dan saya pribadi seperti:

1. Sama-sama suka mengajar dan membaca buku,
2. Sama-sama old fashion dalam berpakaian dan gaya hidup, tidak mau mengikuti pemikiran arus pada umumnya, dan cenderung tidak begitu peduli dengan pandangan orang2 akan hal tersebut,
3. Sama-sama pernah mengejar kesuksesan materi belaka namun kecewa dan meninggalkan semuanya karena berlawanan dengan prinsip hidup dan hati nurani,
4. Sama-sama bertemu dengan calon istri di dunia industri dalam karir hidupnya dan yang kelak semoga akan terus menemani hingga akhir hayatnya,
5. Sama-sama pada akhirnya pulang kembali ke tempat yang relatif lebih baik dan lebih tenang dari pusat industri/ pusat ibukota,
6. Sama-sama pada akhirnya menjadi orang yang seolah-olah jauh/ tidak peduli lagi dengan agama, seakan-akan tidak terlalu mempercayai agama lagi akibat begitu banyaknya kemunafikan yang dilihat dan yang terjadi atas nama agama,
7. Sama-sama keras kepala, berambisi untuk terus maju dan berkembang, dan tidak pernah mau menyerah dengan keadaan dan lingkungan,
8. Sama-sama memiliki hati yang lembut dan kebaikan yang tersembunyi pada semua orang, yang terkadang lebih tampak sebagai sikap ketidakpedulian.

Selamat Hari Buku Nasional 2016..
Mari perbanyak dan budayakan membaca buku jendela dunia, agar wawasan segar masuk ke dunia pemikiran kita..

Salam jendela dunia dari Yogyakarta :).

Sunday, May 15, 2016

Sama seperti matahari pada bumi: Semakin bersinar, seharusnya semakin membumi.

Sumber foto: zoommediapak.com

Sama seperti matahari pada bumi: Semakin bersinar, seharusnya semakin membumi.

Kira-kira begitulah inti pesan yang saya terima dari Almh. Ibu pada saya bila melihat hidup, cara kerja, dan kunci kesuksesan para pedagang kelontong pemilik toko-toko dari etnisTionghoa di zaman dulu, semasa beliau hidup. Bangun pagi-pagi buta, bersih-bersih dan siap2 buka toko, serta tidur larut malam mengevaluasi pemasukan dan pengeluaran sehari itu.

Lalu saat usaha makin sukses, toko makin besar, semakin banyak pembeli, harus semakin ramah, bukan semakin mudah marah. Bukan semakin jual mahal, apalagi sampai menurunkan kualitas pelayanan toko seperti keterlambatan pengiriman barang, slow response bila ada yang complain dsb. Berlakulah lurus, jangan menipu pembeli. Jangan mencurangi harga dalam pembelian dan penjualan.

Harus sayang orang tua, jangan berfoya-foya yang tidak perlu dan harus ingat buat semakin banyak berbagi rejeki pada sesama. Rezeki, bukan soal kaya atau miskin, orang berbagi tidak cuma soal duit. Berbagi jangan berharap kembali. Sama seperti prinsip welas asih katanya, tidaklah selalu kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan walau sudah berusaha sedemikian keras.

Yang penting teruslah berbagi cinta, teruslah berbagi kebaikan. Teruslah berbagi karena hidup bukan cuma soal cari makan di dunia hari ini saja. Jangan menyiksa makhluk hidup lain. Dengarkanlah apa kata hatimu. Pedulikanlah kemanusiaan di sekitar dirimu. Bila tidak bisa membantu, paling tidak jangan menyusahkan hidup orang lain.

Dan mungkin, di tengah atau di akhir perjalanan hidup nanti, kamu baru akan bertemu kebahagiaan dan menyadari hidup ini sungguh sangatlah singkat belaka. Begitu kira-kira pesan beliau yang mana adalah seorang Budhis sebelum menikah dan memilih menjadi Kristen setelah menikah dengan Bapak di zaman itu.

Zaman di mana kebabasan berpendapat dan berekspresi saat itu sangatlah sulit, menjadi seorang Tionghoa yang merantau bukan di tengah-tengah komunitasnya yang sama sangatlah berat, dan saat YouTube dan iklan-iklan asuransi Thailand yang begitu menyentuh, belum terkenal sebagaimana sekarang. Saat kita sekeluarga tidak selalu bisa makan nasi dan sayur dengan teratur setiap harinya. Saat di mana saya begitu sering mendapatkan rangking-rangking utama di sekolah namun orang tua tidak ada dana untuk membelikan saya hadiah, saat saya tidak mampu membeli mainan dan memilih ikut nimbrung menonton Ksatria Baja Hitam dan Power Rangers di TV tetangga sebelah rumah.

Walaupun begitu, beliau tetap memilih untuk tersenyum. Bahkan setelah sekian puluh tahun kemudian, saat anak pertama kebanggaannya akhirnya bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan asing multinasional di Jakarta, beliau selalu ingat, berbaik hati menyimpankan dan menawarkan jajanan kecil sebagaimana yang dilakukannya waktu saya masih kecil dulu.

Bedanya saat saya pulang ke rumah kondisi beliau sudah makin melemah dan hampir sebagian besar ingatannya sudah terlupa karena usia. Kita tidak pernah bisa pergi periksa ke dokter karena ketiadaan biaya. Ya beliau, walau mungkin tahu hidupnya nanti akan lebih berat, memilih melepaskan impian, harta, dan toko kelontongnya guna mendukung Sang Suami mengejar mimpi menjadi seorang kepala rumah tangga dan Pendeta dari sebuah gereja kecil di pinggiran kota Cikampek Karawang nantinya.

Pada akhirnya, demikianlah apa yang saya pikirkan di pagi buta tadi saat saya bangun dan sedang bersiap memulai aktivitas untuk hari ini. Merefleksikan diri dan melihat kehidupani, sangatlah terasa prinsip-prinsip itu semakin memudar di zaman di mana uang, kesuksesan, status sosial, nama besar, pekerjaan hebat, gelar keilmuan, dan gadget adalah raja bahkan tuhan-tuhan baru yang semakin berkuasa di dalam kehidupan sebagian besar dari kita.