tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Mari gemar membaca & mengoleksi buku. Sebab ilmu tak akan pernah lekang oleh waktu. - Yogyakarta, 26 November 2016.

Sunday, May 15, 2016

Sama seperti matahari pada bumi: Semakin bersinar, seharusnya semakin membumi.

Sumber foto: zoommediapak.com

Sama seperti matahari pada bumi: Semakin bersinar, seharusnya semakin membumi.

Kira-kira begitulah inti pesan yang saya terima dari Almh. Ibu pada saya bila melihat hidup, cara kerja, dan kunci kesuksesan para pedagang kelontong pemilik toko-toko dari etnisTionghoa di zaman dulu, semasa beliau hidup. Bangun pagi-pagi buta, bersih-bersih dan siap2 buka toko, serta tidur larut malam mengevaluasi pemasukan dan pengeluaran sehari itu.

Lalu saat usaha makin sukses, toko makin besar, semakin banyak pembeli, harus semakin ramah, bukan semakin mudah marah. Bukan semakin jual mahal, apalagi sampai menurunkan kualitas pelayanan toko seperti keterlambatan pengiriman barang, slow response bila ada yang complain dsb. Berlakulah lurus, jangan menipu pembeli. Jangan mencurangi harga dalam pembelian dan penjualan.

Harus sayang orang tua, jangan berfoya-foya yang tidak perlu dan harus ingat buat semakin banyak berbagi rejeki pada sesama. Rezeki, bukan soal kaya atau miskin, orang berbagi tidak cuma soal duit. Berbagi jangan berharap kembali. Sama seperti prinsip welas asih katanya, tidaklah selalu kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan walau sudah berusaha sedemikian keras.

Yang penting teruslah berbagi cinta, teruslah berbagi kebaikan. Teruslah berbagi karena hidup bukan cuma soal cari makan di dunia hari ini saja. Jangan menyiksa makhluk hidup lain. Dengarkanlah apa kata hatimu. Pedulikanlah kemanusiaan di sekitar dirimu. Bila tidak bisa membantu, paling tidak jangan menyusahkan hidup orang lain.

Dan mungkin, di tengah atau di akhir perjalanan hidup nanti, kamu baru akan bertemu kebahagiaan dan menyadari hidup ini sungguh sangatlah singkat belaka. Begitu kira-kira pesan beliau yang mana adalah seorang Budhis sebelum menikah dan memilih menjadi Kristen setelah menikah dengan Bapak di zaman itu.

Zaman di mana kebabasan berpendapat dan berekspresi saat itu sangatlah sulit, menjadi seorang Tionghoa yang merantau bukan di tengah-tengah komunitasnya yang sama sangatlah berat, dan saat YouTube dan iklan-iklan asuransi Thailand yang begitu menyentuh, belum terkenal sebagaimana sekarang. Saat kita sekeluarga tidak selalu bisa makan nasi dan sayur dengan teratur setiap harinya. Saat di mana saya begitu sering mendapatkan rangking-rangking utama di sekolah namun orang tua tidak ada dana untuk membelikan saya hadiah, saat saya tidak mampu membeli mainan dan memilih ikut nimbrung menonton Ksatria Baja Hitam dan Power Rangers di TV tetangga sebelah rumah.

Walaupun begitu, beliau tetap memilih untuk tersenyum. Bahkan setelah sekian puluh tahun kemudian, saat anak pertama kebanggaannya akhirnya bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan asing multinasional di Jakarta, beliau selalu ingat, berbaik hati menyimpankan dan menawarkan jajanan kecil sebagaimana yang dilakukannya waktu saya masih kecil dulu.

Bedanya saat saya pulang ke rumah kondisi beliau sudah makin melemah dan hampir sebagian besar ingatannya sudah terlupa karena usia. Kita tidak pernah bisa pergi periksa ke dokter karena ketiadaan biaya. Ya beliau, walau mungkin tahu hidupnya nanti akan lebih berat, memilih melepaskan impian, harta, dan toko kelontongnya guna mendukung Sang Suami mengejar mimpi menjadi seorang kepala rumah tangga dan Pendeta dari sebuah gereja kecil di pinggiran kota Cikampek Karawang nantinya.

Pada akhirnya, demikianlah apa yang saya pikirkan di pagi buta tadi saat saya bangun dan sedang bersiap memulai aktivitas untuk hari ini. Merefleksikan diri dan melihat kehidupani, sangatlah terasa prinsip-prinsip itu semakin memudar di zaman di mana uang, kesuksesan, status sosial, nama besar, pekerjaan hebat, gelar keilmuan, dan gadget adalah raja bahkan tuhan-tuhan baru yang semakin berkuasa di dalam kehidupan sebagian besar dari kita.

No comments:

Post a Comment