tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] "Living is a conversation. All people talk. But a good person listens as well." - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 19 Juli 2017.

Tuesday, August 30, 2016

Menghitung hari detik demi detik..


Menghitung hari detik demi detik..

Sedikit 'harta' (yang sebagian besar adalah hasil menang lomba, sumbangan, dan gratisan) yang bisa dikumpulkan sejak berpindah domisili dan penghidupan tertanggal 1 Februari 2014 yang lalu ke sudut kamar kost ini.

Hampir tidak ada yang berharga karena memang hidup haruslah sederhana..

feeling grateful at UH VI. 2B RT 02 RW 01 Kel. Sorosutan Kec. Umbulharjo Yogyakarta.

Thursday, August 25, 2016

Sedikit Buku, Ilmu, Dan Beberapa Mainan Dari Masa Lalu


Jadi, kalau ada yang bisa saya wariskan ke generasi berikutnya nanti apa?

Mungkin sedikit buku, ilmu dan beberapa mainan dari masa lalu. .

Wednesday, August 10, 2016

Sekolah Literasi Gratis STKIP PGRI Ponorogo Jawa Timur: Harapan dan Masa Depan Pendidikan Indonesia

Banner Sekolah Literasi Gratis STKIP Ponorogo Jawa Timur

Masih ada harapan untuk pendidikan dan masa depan Indonesia!

Semoga sukses dan lancar selalu untuk program Sekolah Literasi Gratis STKIP PGRI Ponorogo, Jawa Timur (y).

Izin membagikan informasi dan foto yang mencerahkan ini ya pak Sutejo Ssc, dkk. Terima kasih. 

Pemateri no. 30: Yose Rizal Triarto, sastrawan muda handal dari Yogyakarta.

---

STKIP PGRI Ponorogo Buka Sekolah Literasi

Agustus 9, 2016 redaksi Headline, Pendidikan, Ponorogo 0

PONOROGO, Madiunraya.com – Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Ponorogo, Jawa Timur membuka sekolah literasi gratis selama satu tahun untuk para siswa, mahasiwa, dan guru serta menghibahkan 10.000 eksemplar buku ke ratusan sekolah.

“Target kami bisa menjangkau 1.200 peserta agar mereka bisa menulis dan terbiasa menulis,” kata Pembantu Ketua II STKIP PGRI Ponorogo Dr Sutejo, MHum di Ponorogo, Jawa Timur, Selasa.

Ia menjelaskan program yang akan dimulai awal September 2016 itu bersifat terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk terampil menuangkan ide dan pemikiran lewat tulisan. Sekolah literasi itu untuk memberikan bekal motivasi dan pelatihan keterampilan menulis, baik fiksi maupun nonfiksi.

Ia mengutip pesan filosofis Gde Prama, yang mengatakan bahwa yang akan menyelamatkan seseorang itu bukan pendidikan, tetapi keterampilannya. Menulis adalah salah satu keterampilan yang menarik untuk dipersiapkan sebagai bekal di masa depan.

“Kami akan menghadirkan sejumlah praktisi dan akademisi yang selama ini eksis karena aktivitas menulisnya. Kami berharap mereka bisa menginspirasi dan membakar semangat peserta bahwa menulis itu sangat penting bagi mereka,khususnya siswa dan mahasiswa yang masih menyongsong masa depan serta para guru yang memiliki tugas menggerakkan muridnya untuk aktif di kegiatan literasi,” katanya.

Para narasumber yang akan berbagi semangat dan pengalaman itu, antara lain pakar sastra dari Universitas Negeri Malang Prof Dr Djoko Saryono, pakar sastra dari Universitas Negeri Surabaya Prof Dr Setya Yuwana Sudikan, MA, dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Seoul, Korea Selatan, Dr Tengsoe Tjahyono, Profesor tamu di Kanda University of International Studies Jepang Suyoto Atim.

Sementara untuk praktisi adalah Kiai M Faizi, penulis yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Madura, sastrawan penerima Khatulistiwa Award HU Mardi Luhung, cerpenis Rakhmat Giryadi, sastrawan Bagus Putuparto dari Blitar dan penggerak sastra di Madura Syaf Anton.

Sutejo yang sudah menerbitkan 20-an judul buku itu menjelaskan program sekolah literasi akan dilaksanakan setiap bulan untuk satu angkatan. Dalam satu angkatan akan dibuka untuk 100 perserta, sehingga dalam satu tahun akan dibuka untuk 1.200 peserta.

“Kalau daya inspirasi dari para narasumber ini mampu menggerakkan peserta, ini akan menghasilkan sesuatu yang dahsyat untuk dunia literasi. Apalagi bagi para guru yang akan menularkan semangat itu untuk murid-muridnya,” kata Ketua Litbang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Ponorogo ini.

Sebagai pendukung dari program sekolah literasi, katanya, STKIP PGRI Ponorogo juga akan menghibahkan 10.000 buku untuk SMA/SMK/MA di Ponorogo dan sekitarnya, seperti Madiun, Pacitan, Trenggalek, Ngawi dan Wonogiri (Jawa Tengah). (Ant/MR01)

Saturday, August 6, 2016

Lebih Menikmati dan Lebih Menghargai Hidup


Bila akhir pekan tiba biasanya saya mengisi waktu dengan hal-hal yang tidak terlalu serius dan di luar pekerjaan mengajar dan menulis sehari-hari. Beberapa pilihan kegiatan antara lain membaca buku, menonton film di laptop, mendengarkan musik, jalan-jalan santai, mengikuti acara-acara undangan pelatihan/seminar, dan yang belakangan saya mulai kerjakan lagi, adalah kembali ke hobi lama yakni merakit plastik model gundam.

Memang, banyak masyarakat awam (terutama ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah/belum menikah dan punya anak yang belum pernah tahu tentang hobi dan benda ini sebelumnya) selalu menyebut dengan nada nyinyir sebagai robot-robotan, mainan, dsb. Tentu saja para penggila hobi ini bakalan banyak yang naik pitam dan kebakaran jenggot kalo disebut seperti itu. Memang kenapa? Nanti saya coba sebutkan alasannya.

Ya memang betul apapun namanya di Indonesia memang disebut sebagai mainan robot-robotan. Tapi jangan salah sangka. Walau memang kategorinya tetap masuk sebagai mainan, gunpla atau gundam plastik model kit ini adalah salah satu hobi yang membutuhkan cukup banyak pengorbanan juga untuk membuatnya. Lho, jadi itu mainan robot-robotannya tidak langsung jadi gitu pas dibeli? Iya, memang ada beragam jenis dan variasi dari mainan robot-robotan yang ada di pasaran Indonesia sekarang, tidak terkecuali untuk jenis gundam.

Tapi khusus untuk jenis mainan robot-robotan gundam ini, tidak begitu saja bisa langsung jadi walau punya duit yang banyak sekalipun. Untuk barang dengan foto yang saya sertakan ini saja, paling tidak memiliki kurang lebihnya 200 bagian atau parts kecil yang perlu dirakit atau dirangkai. Biasanya disertai pula dengan tulisan di kotaknya WARNING: CHOKING HAZARD-Small parts. Not for children under 15 years, yang kira-kira berarti: PERINGATAN : BAHAYA TERSEDAK-Bagian-Bagian Kecil. Tidak untuk anak-anak di bawah usia 15 tahun. Tidak lupa disebutkan pula kegiatan-kegiatan tersebut memiliki buku panduan manual yang menginstruksikan bagaimana cara membuatnya (dalam bahasa Jepang atau China-tapi tidak usah khawatir harus mengerti bahasanya, sudah ada instruksi manual berupa urutan nomor yang harus dikerjakan berikut gambar ilustrasi per bagiannya).

Untuk harga, jujur sekarang saya lebih memilih yang versi bootleg atau KW nya di foto ini. Bukan apa-apa karena saya juga ingin saving money tidak terlalu banyak berkecimpung di dunia hobi ini, kecuali beberapa tahun yang lalu, saat saya masih single free, dan gajian hanya untuk keluarga, kebutuhan hidup, asuransi, donasi, dan hobi. Sekarang, saya harus pandai berhemat dan mengatur pengeluaran uang dengan baik. Termasuk untuk membeli barang seperti ini. Paling sebulan hanya beli sekali. Harganya? Hanya Rp 135.000 saya beli di Hongli Gading Jogja kemarin. Mas yang jual ramah dan fast response kalau ditanya-tanya via offline dan online. Penjual yang baik memang seharusnya ramah. Bukan malah begitu ada yang beli datang ke lokasi diceramahin dengan umpatan-umpatan "logika-logika". Kalau ada penjual yang justru mau dibeli barangnya terlalu mendikte si pembeli, biarkan saja, biasanya mereka belum pernah merasakan susahnya hidup di dunia ini. Nah, kalau Hongli Gading Jogja, Hongli Solo, Unicorn Toys, Gbhs Ferry, adalah sedikit contoh penjual gunpla atau gundam plastic model kit yang baik dan recommended sellers buat saya.

Untuk waktu pengerjaan kit atau barang mainan robot-robotan tidak siap pakai ini bervariasi. Bisa dalam beberapa jam kelar merakitnya, atau kalau ingin membuat suatu model dengan cukup rapih dan bersih plus beberapa penambahan warna /modifikasi bisa memakan waktu dari beberapa hari hingga beberapa tahun (kisah nyata sendiri. hehehe). Tentu saja penambahan atribut variasi membutuhkan tambahan lagi.

Bagaimana setelah selesai dibuat? Tentu saja para penggila hobi gundam ini rata-rata adalah orang yang sudah bekerja dan para mahasiswa. Beberapa dari masih bersekolah pula di SMP atau SMA/K. Tentu saja setelah selesai dibuat mereka tidak akan memainkannya dengan versi masa kanak-kanak, saling menabrakkan satu sama lain. Tapi mereka biasanya akan memajang dan memotret hasil karya terbaik mereka dalam satu tampilan tersendiri. Kepuasan berhasil membuat satu karya, bagaimanapun harga dan bentuknya, adalah satu kepuasan yang tak terkira.

Jadi, hobi gunpla atau gundam plastik model kit ini sekali lagi bukan hobi siap saji dan bukan hobi untuk anak-anak loh ya. Punya uang saja tidak cukup untuk membuat ratusan bagian dari plastik-plastik ini menjadi satu model kit yang utuh dan baik. Sama seperti logika sederhanya, punya banyak uang, belum tentu bisa dapat rumah yang baik dan bisa menikah dengan orang yang tepat. Semua butuh proses. Semua butuh pengorbanan.

Apapun itu sebaiknya dukunglah kegiatan hobi yang baik ini selama tidak berlebihan dan memberatkan keuangan. Banyak sekali manfaat merakit plastik model kit yang bisa kita searching di Google. Ingat, hasil akhir memang baik, tetapi proses juga lebih baik. Mari kita membiasakan diri untuk berpikir, berbicara, dan bertindak dengan menempatkan pandangan kita dalam kacamata orang yang kita lihat dan ajak bicara. Kalau tidak suka ya tidak usah bicara. Kecuali mau membantu dan mau memberi solusi.

Tapi kalau masih ada yang bicara miring soal hobi ini ya biarkanlah saja. Yang penting saya memilih untuk lebih menikmati dan lebih menghargai hidup saat ini.

Selamat berakhir pekan, Gusti Allah mberkahi :).

Friday, August 5, 2016

Kaos dan Topi Lomba LPSK




Terima kasih LPSKdan Sanggar Belajar Abw Jogja untuk apresiasi dan kesempatannya:

Telah saya ambil dan terima dengan baik kaos dan topi LPSK siang ini langsung di Sekretariat Panitia Sanggar Belajar ABWJogja Bumijo Lor JT1/1233 Yogyakarta.