tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Lebih baik berjumpa dengan orang yang sederhana namun kaya hati. Daripada berjumpa dengan orang yang kaya namun miskin hati. - Yogyakarta, 10 Januari 2017.

Thursday, December 22, 2016

Apa Yang Salah Dari Mereka?


Sungguh sangat mengherankan dan menyedihkan  membaca seorang yang bergelar dan bernama lengkap Rr. Dwi Estiningsih, S.Psi., M.Psi., yang memiliki keluarga, pekerjaan tetap, dan terhormat dapat membuat cuitan-cuitan dengan tendensi miris dan miring semacam itu. Belum lagi bila kita sedikit meluangkan waktu mencari nama dan rekam jejak beliau di dunia maya lewat mesin pencari Google akan lebih banyak berita yang lebih 'tidak mengenakkan' lainnya yang rupanya sudah dimulai 'tidak baiknya' sejak beberapa tahun yang lalu.

Kemudian, saya belakangan mulai berpikir dan bertanya apakah memang ada yang salah dalam pola pendidikan tinggi di Indonesia khususnya dan kehidupan beragama/keluarga di Indonesia umumnya?

Bila kita cermat melihat dan membaca, akan kita temukan bahwa oknum-oknum penyebar berita semacam tersebut adalah orang-orang yang berpendidikan cukup bahkan berlebih karena bisa lulus kuliah S-1, S-2, bahkan mungkin S-3, mereka memiliki pekerjaan dan status sosial yang teramat baik dibandingkan rata-rata kebanyakan masyarakat Indonesia, mereka sudah resmi dan sukses berkeluarga, namum memiliki pola pikir dan mental yang amat bertolakbelakang dengan apa yang ditulis/diperbuatnya di dunia maya.

Mereka bukan orang-orang biasa yang untuk makan saja tidak punya. Yang hidupnya tak peduli politik, tak peduli pendidikan, dan hal remeh temeh lainnya.

Mereka yang namanya 'terkenal' lewat ujaran dan perbuatan yang menghasut kebencian adalah orang-orang yang juga biasa keluar masuk mall, bioskop, kafe, dan banyak tempat strategis lainnya. Yang tiap hari menggunakan gadget canggih dan mampu menggunakan segala bentuk kenyamanan dan kelebihan fasilitas di sekitarnya.

Mereka yang mungkin juga ada di tengah-tengah kita.

Adakah yang salah dengan pola pikir dan hidup mereka?

---
Menanggapi postingan awal dari akun Facebook Timur Suprabana https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10207594158123315&set=a.4252255235904.2142751.1571460748&type=3&theater

Follow · 11 hrs ·  Wednesday, 21 Desember 2016 at 18:26
Shared with: Public

Dwi Estiningsih, seorang kader Partai Keadilan Sejahtera dilaporkan Forum Komunikasi Anak Pejuang Republik Indonesia ke Kepolisian Daerah Metro Jaya pada Rabu 21 Desember 2016. Dwi dilaporkan karena telah membuat cuitan di akun media sosialnya yang dianggap berbau kebencian dan bernuansa SARA (Suku Agama Ras dan Antargolongan).

Saat ditemui di rumahnya, Dwi Estiningsih mengatakan tak bisa menanggapi laporan tersebut."Terkait tuduhan (ujaran kebencian) Itu ya saya tak bisa men-cap pikiran banyak orang, terserah orang akan berpikir apa kan? saya kan tidak bisa mengontrol apa persepsi mereka," ujar Dwi ketika ditemui Tempo di rumahnya Rabu siang sambil menggendong anak bungsunya yang masih berusia satu bulan.

Dalam akunnya @estiningsihdwi pada Selasa, 20 Desember 2016, Dwi, 38 tahun, menulis, "Luar biasa, negeri yang mayoritas Islam ini, dari ratusan pahlawan, terpilih 5 dari 11 adalah pahlawan kafir #lelah'. Cuitan Dwi lainnya juga menjadi sorotan media sosial seperti,"Iya sebagian kecil non muslim berjuang,mayoritas pengkhianat. Untung saya belajar #sejarah."

Lulusan S1 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada ini menuturkan, apa yang dilakukannya (di media sosial) hanya berupa bentuk perjuangan. "Tapi saya tak berjuang atas nama golongan, suku, dan agama, melainkan NKRI," ujar istri dari arsitek bernama Erlangga Winoto itu.

Perempuan yang kini mengelola biro pendampingan psikologi dan sering bekerjasama dengan pemerintah untuk penanganan gelandangan itu mengatakan, cuitannya yang jadi polemik adalah sebuah sikap kritis atas kegelisahan pada peristiwa yang belakangan terjadi di masyarakat

Dwi membantah cuitannya ini terkait dengan isu-isu terakhir persoalan polemik agama seperti akibat dampak ucapan Gubernur DKI Jakarta non aktif yang memicu aksi bela islam I-III.
"Kalau mengikuti twit saya sejak beberapa tahun yang lalu, ya intinya saya itu hanya ingin mendudukkan persoalan pada tempatnya," ujar perempuan yang berprofesi sebagai dosen tidak tetap sejumlah kampus swasta itu.

Menurut Dwi, akibat adanya sosial media yang makin populer beberapa tahun terakhir, ia melihat banyak hal yang seharusnya bukan masalah jadi masalah dan yang bukan masalah malah jadi masalah. "Nah, kami ingin mendidik masyarakat itu, ini lho yang menjadi masalah itu, ini yang bukan," ujar calon anggota DPRD DIY 2014 dari PKS yang tak lolos tersebut.

Terkait dengan laporan dirinya ke polisi, Dwi pun memilih menanggapi secara santai. Ia melihat laporan itu sebagai pintu untuk menyikapi persoalan yang terjadi. "Kalau perlu saya bawa anak saya yang berusia 35 hari jika dipanggil kepolisian, tak masalah juga, perjuangan itu kan kapanpun dan dimanapun," ujarnya.

***sumber: tempo.co-Rabu, 21 Desember 2016 | 18:04 WIB
PRIBADI WICAKSONO

~ Timur Suprabana: Luar biasa... 100% tidak merasa keliru atau terlebih salah...

1 comment:

  1. Menyebut mayoritas non muslim pengkhianat itu apa bukan bentuk berdiri di atas satu golongan? Pin pin bo nih bu dosen tidak tetap. Untung bagi mahasiswa beliau cuma dosen tidak tetap, sehingga jam tatap muka juga cuma sak upil( sangat sedikit), sehingga tidak menularkan kebodohannya pada banyak ruang kuliah.

    ReplyDelete