tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] You know what, the loneliest people are the one who talk a lot. - Yogyakarta, 27 Juni 2017.

Saturday, December 17, 2016

Benang Merah Kehidupan


Aku mulai berpikir dan merenung bahwa mungkin benar tiap orang terhubung satu sama lain dengan seutas benang merah kehidupan.

Saat mengisi bak kamar mandi, menyapu halaman, dan menyalakan lampu di ruang depan.

Katakanlah ini sekedar renungan boleh juga kau sebut sekedar lamunan.

Dengan siapa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa. Dari sekian banyaknya kemungkinan yang boleh terjadi di masa lalu antara satu orang dengan orang-orang lainnya terdapat beberapa titik terang yang mungkin akan menentukan masa depan.

Mungkin tidak semua orang memberikan harapan. Dari semua hal yang mungkin bisa jadi menyakitkan, terdapat beberapa orang yang memiliki untaian benang merang yang serupa. Yang mungkin bisa jadi bersatu, membantu, atau sekedar menemani perjalanan singkat dalam hidup kita.

Dari kesemua cerita semasa hidup mungkin tak ada yang lebih manis, lebih kuat, dan lebih memikat selain cerita atas nama cinta. Cinta yang tulus memberi tanpa mengharap kembali. Cinta yang sejati yang sudah semakin luntur di dunia ini.

Cinta dari bapak dan ibu kepada anaknya, cinta dari anak kepada orangtuanya, cinta persahabatan antar teman, dan cinta dari suami kepada istri dan sebaliknya, dan beragam cinta lain yang kadang tak dapat kita mengerti hingga saat ini.

Semua mungkin menuju kepada satu titik temu. Titik yang bisa berarti perjumpaan atau bisa jadi perpisahan. Dalam ruang dan waktu yang pasti berbeda manusia berusaha terus mencari makna.

Apa arti hidupnya? Mengapa ia ada di dunia? Dan untuk apa hidup itu sebenarnya?

Memang bukan suatu hal yang sempurna, bukan juga suatu hal yang mewah dan megah. Mungkin semua jawaban bukanlah suatu hal yang berlebihan.

Mungkin juga jawaban itu sudah ada di sekitar kita.

Mungkin juga kita tak butuh semua hal tentang kepintaran, semua hal tentang pencitraan itu. Sebab saat dewasa kita sudah lupa, betapa keluguan dan kepercayaan membuat semua hal menyenangkan.

Tak perlu ada banyak uang, tak perlu begitu banyak makanan, tak perlu memiliki rumah yang begitu mewah, dan mungkin juga tak perlu bekerja begitu rupa kerasnya.

Sebab, pada suatu masa kita akan lebih menderita. Kita akan merasa begitu beratnya masa kini akibat keinginan-keinginan kita di masa lalu.

Memiliki banyak uang, makanan, tempat tinggal, dan banyak kelebihan lain ternyata tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih bahagia.

Memiliki semua itu ternyata mungkin bukanlah jawaban.

Kalau sudah begitu kita baru menyadari sudah begitu banyak waktu yang kita lewati.

Percuma.

Mungkin juga masih belum percaya. Bahwa orangtua dan teman yang dulu mencintai kita kini semua sudah tiada. Kalau pun ada sudah tidak lagi bersama.

Mungkin sedikit kesabaran jauh lebih kita butuhkan dibanding arogansi dan obsesi.

Mungkin yang kita butuhkan adalah taburan jiwa dalam tiap aktifitas yang kita lakukan.

Mungkin yang harus kita lakukan adalah berbagi dan memberi ketimbang meminta dan menyimpan harta.

Dan mungkin kita baru akan menyadari betapa telah jauh dan lamanya kita meninggalkan semua itu setelah kita sampai di penghujung kehidupan.

Saat semua sudah kita dapatkan, impian-impian mengejar masa depan. Saat tubuh tak bisa banyak bicara dan hanya jiwa kita yang bergerak renta. Kita lupa akan seutas benang merah kehidupan tadi yang karenanya kita hadir di dunia.

Ilustrasi foto: www.tumblr.com

No comments:

Post a Comment