tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Lebih baik berjumpa dengan orang yang sederhana namun kaya hati. Daripada berjumpa dengan orang yang kaya namun miskin hati. - Yogyakarta, 10 Januari 2017.

Tuesday, December 20, 2016

SOE HOK GIE: CATATAN DAN KENANGAN SEORANG PENGAGUM


Sejujurnya paling tidak ada dua pendapat yang sangat kuno dan yang satu dengan yang lain berlawanan keras apabila menyangkut penilaian mengenai karya dan pribadi seseorang. Ada yang mengatakan mengenal latar belakang kehidupan dan bila perlu pengenalan secara pribadi, mengetahui lika-liku kehidupan pribadi seseorang adalah syarat mutlak bilamana seseorang berusaha memahami pribadi seorang lainnya. Pendapat yang dilibatkan di dalamnya adalah bahwa karya seseorang bukan pencerminan dan penjelmaan nyata dari diri seorang penulis. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat betapa perbedaan antara gaya hidup seseorang yang meletakkan persepsi dan cita-cita tercermin dalam tulisan-tulisannya di bawah telapak kakinya sendiri. Dengan kata lain hanya yang pernah mengenal pribadinya dari dekat bisa menulis tentang seseorang atau percuma menulis untuk membahas seseorang yang hanya dikenal melalui karya tulisnya.

Pendapat lain yang persis berlawanan yaitu yang mengatakan untuk menulis tentang seseorang tidak harus atau tidak perlu mengenal orangnya secara pribadi, tetapi karyanyalah yang menjadi lahan yang harus digarap dan dinilai karena orangnya menjelma seutuhnya di dalam karyanya. Kalau karya-karya lain hanya secara tidak langsung mengatakan seseuatu tentang penulisnya maka disitu pulalah perbedaannya dengan catatan harian yang ditulis secara jujur. Catatan harian adalah potret dengan sinar rontgen dan penjelmaan diri paling gamblang dan dalam dari seseorang.
Dengan mempertimbangkan kedua pendapat tersebut, saya tampaknya berada pada posisi mereka yang menganut pendapat kedua. Saya berusaha untuk memahami tentang seseorang yang tidak saya kenal secara pribadi dan juga tidak mungkin pernah bertemu muka. Perkenalan secara samar-samar (kalau boleh disebut dengan istilah perkenalan) mungkin karena lebih dalam arti mendengar tentang Soe Hok Gie sendiri daripada mengenalnya dalam arti sebenarnya.

Dulu, saat di bangku sekolah menengah pertama, untuk pertama kalinya saya mengenal sosok Soe Hok Gie (untuk selanjutnya disebut Gie) melalui buku Catatan Seorang Demonstran. Bagi saya, kumpulan catatan harian mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang diterbitkan LP3ES sangat menarik dan inspiratif. Tak bisa dipungkiri, buku tersebut menjadi bagian penting dalam masa transisi kehidupan saya. Juga, ikut mengantar perjalanan saya dari seorang remaja yang beranjak menjadi manusia dewasa.
Saat itu, saya masih ingat, saat membuka tiap lembar buku tersebut, rasa malu langsung menyergap. Apa yang dilakukannya sungguh luar biasa. Pada usia yang masih belia, 14 tahun, Gie telah menaruh minat yang besar terhadap sejarah dan literatur. Orang yang tidak saya kenal ini tiba-tiba membuat saya bangga menjadi anak Indonesia. Cakrawala berpikir saya mulai terbuka.

Dan saat itu pula, sebagai seorang remaja yang tumbuh di masa era reformasi, saya merasa begitu bodoh. Saya sama sekali tidak mengetahui dan memahami apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini pada tahun 1960-an (saat Gie menuliskan catatan hariannya). Melalui goresan penanya, Gie mengantarkan saya ke sebuah masa penuh dengan gejolak yang nyata di Indonesia.

Jujur saja, buat saya Gie adalah seorang pemikir muda yang kritis, yang luar biasa yang terpikat ide, pemikiran dan yang tanpa henti dengan konsisten menggunakan akal pikirannya untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya. Tulisan-tulisannya yang walau sering kali menimbulkan kontrobersial di saat itu, namun menggugah kuat hati pembaca, menjadikan mereka menyokong sepenuhnya pandangan-pandangan yang dikemukakannya atau membenci penulisnya yang berani mengatakan apa yang tidak berani dinyatakan oleh orang lain. Gie adalah seorang pemuda yang penuh cita-cita dan terus berjuang agar kenyataan-kenyatana yang diwujudkan oleh masyarakat kita dapat diubah sehingga lebih sesuai dengan cita-citanya yang didasarkan atas kesadaran yang besar akan hakikat kemanusiaan. Dalam memperjuangan cita-citanya ia berani bertindak beda, berkorban, dan memang sering menjadi korban.

Peranan Gie dalam usaha menegakkan dan meluruskan Orde Baru yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto saat itu tidaklah kecil. Ia sangat mengharap agar pemerintahan Orde Baru mengembangkan dan memperkuat keadilan sosial yang rasanya telah ditelantarkan di pemerintahan Orde Lama. Justru dengan tujuan untuk memperkuat Orde Baru itulah ia tidak segan-segan melancarkan kritikan pedas terhadap segala sesuatu yang menurut anggapannya tidak dapat dibenarkan. Kritikan bahkan kecaman yang dilontarkan oleh Gie dilancarkan atas pemikiran yang jujur dan atas dasar itikad baik. Ia tidak selalu benar, tapi terbukti ia selalu jujur, sederhana, dan apa adanya.

Saat sedang membaca tulisan-tulisan Gie, pikiran saya tergoda untuk membandingkan Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib. Menurut hemat saya keduanya adalah contoh eskponen dari yang disebut sebagai “manusia-manusia baru”. Dalam banyak hal keduanya tidak berbeda meskipun dalam banyak hal pula keduanya dibawa nasib ke tempat yang berbeda. Soe Hok Gie lahir pada 17 Desember 1942 sedangkan Ahmad Wahib lahir pada 9 November 1942. Keduanya jelas adalah aktivis mahasiswa, pemikir, menekuni secara setia catatan harian, memberikan komentar hampir tentang segala jenis peristiwa dari filsafat, agama sampai politik. Pun keduanya mengalami nasib yang sama yaitu mati muda.

Tetapi tentu saja tetap akan ada perbedaan lingkungan yang menentukan di antara keduanya. Soe Hok Gie dilahirkan dan dibesarkan di kota Jakarta tempat semua jenis pergulatan hidup yang besar, yang kecil dan yang dekil, yang mendidik dan yang tidak mendidik. Ahmad Wahib lahir dalam lingkungan santri Sampang, Madura suatu prototipe lain dari kehidupan pedesaan yang kering, tempat orang pulang pergi ke kota besar seperti Surabaya dan lain-lain. Desa di mana mobilitas sangat besar karena orang keluar masuk dari desa ke kota; namun mobilitas yang sering dianggap sebagai indikator modernitas, di Madura menjadi lambang kekurangan, kemiskinan dan kelaparan. Jika dilihat dari kriterium tersebut maka keduanya justru yang dididik dalam optimisme kemerdekaan dan justru orang yang mengalami secara langsung kehancuran cita-cita maupun kepercayaan tersebut sehingga bayang-bayang kelabu kehidupan tidak pernah lepas dari keduanya. Kecemasan, ketakutan, keraguan yang menyebabkan keduanya memandang hidup ini serba hitam dan kelam.

Namun demikian, janganlah kita keliru menanggapi kecemasan, kehitaman dan kesuraman yang meliputi kedua tokoh ini. Kekelaman sama sekali tidak menyebabkan keduanya berada dalam situasi yang tidak bergerak, atau malah menjadi apatis dan mati gerak, tetapi justru sebaliknya kekelamanlah yang selalu memacu keduanya untuk senantiasa bersikap dinamis, mencari, meragukan dan membongkar bahkan menyusun baru kembali segala-galanya. Dalam diri keduanya selalu memupuk perasaan untuk mengumandangkan kata “tidak” kepada semuanya yang mapan termasuk dirinya sendiri. Tetapi yang diakuinya adalah dirinya dalam proses yang tidak pernah mencapai garis akhir, garis finis, karena itu dirinya yang dinamis di dalam setiap pergolakan, gejolak yang terus-menerus, suatu kegelisahan abadi dan sama sekali bukan kenyamanan yang sementara, yang tenang dan lengan.

Nah, mari sekarang kita kembali lagi kepada tokoh Soe Hok Gie yang juga mengemukakan hal-hal yang hampir sama dalam waktu ketika dia masih sangat muda. Dia bereaksi terhadap pendapat bahwa seorang hanya dapat hidup dari harapan-harapan. Gie yang menurut saya adalah eksponen dari “manusia-manusia baru”, di pihak lain juga melihat betapa kualitas yang disebut “manusia-manusia baru” itu sendiri. Dia melihat bahwa mereka yang terbakar oleh ucapan Bung Karno “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit” dan memasuki perguruan tinggi misalnya, ternyata hanya mampu menjadi tukang. Kehancuran dan demoralisasi yang disaksikannya tidak mampu menimbulkan moral yang tinggi. Kalau gerakan penggulingan rezim Soekarno digambarkan sebagai batu tapal daripada perjuangan menegakkan kebenaran dan kejujuran dan disebutnya juga sebagai batu tapal dalam revolusi Indonesia, maka dia pun juga melihat betapa hasil revolusi ini karena mutu pendidikan dan pengetahuan generasi ini yang rendah.

Soe Hok Gie yang tidak pernah habis-habisnya terus menggunakan akal pikirannya untuk mencari suatu hal yang dianggapnya berlawanan dengan kebenaran yang dia yakini dan yang dia inginkan akhirnya mencarinya dalam suatu bentuk yang konkret. Bentuk konkret itu disebut “Kau” yang dicarinya dalam kehidupan pribadi dan kelompok-kelompok intimnya, kalau perlu seorang sahabat pribadi perempuan yang terikat di dalam “yang disebut cinta yang suci”. Tetapi dalam hal ini pun dia sendiri terombang-ambing. Seperti di ping-pong kesana kemari antara adanya cinta atau tiadanya cinta. Dia juga diping-pong antara sikap platoniknya dalam bercinta yaitu menempatkan dan merindukan cinta di langit atau menarik cinta itu untuk turun dan dipertemukan dalam tubuh seorang lelaki dan seorang perempuan. Ketika dia mengejar semua menolak. Ketika dia diam semua seperti kupu-kupu bergelantung di bibir lampu malam hari.

Pada akhirnya, saya menjadi salah satu pengagum Gie. Baik itu tulisan-tulisannya, kisahnya, maupun juga keyakinannya. Buat saya, dia adalah seorang pahlawan yang selalu siap membela orang yang lemah. Jiwa pemberontak dan sikap pemberontakannya yang jujur dan sederhana, mengobarkan semangat saya untuk mengejar cita-cita. Kekuatan kata-katanya tidak hanya menggambarkan sebuah kepribadian yang kukuh, cerdas, lurus, tapi juga romantis dengan keangkuhan yang memikat. Mengenang kelahiran dan kepergian Soe Hok Gie, membuat saya sadar kembali bahwa tugas dan panggilan saya belum selesai dalam hidup ini, masih banyak hal yang harus saya kerjakan, harus saya bagikan pada yang lain. 

Yogyakarta, Di Bawah Penantian dan Hujan, 20 Desember 2016

Penerbit MataBangsa

---
Terima kasih untuk kesempatan dan apresiasi dari Penerbit MataBangsa sebagai salah satu dari 5 pemenang lomba cipta esai Soe Hok Gie:  




Terima kasih Penerbit MataBangsa untuk hadiah juara lomba cipta esai "Soe Hok Gie" akhir bulan Desember tahun yang lalu.

Telah diterima dengan baik 1 (satu) buku Soe Hok Gie: Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, Cetakan Pertama 2017, Diterbitkan oleh Penerbit MataBangsa.

"Karya tentang pemberontakan PKI di Madiun ini dianyam demikian rupa sehingga seakan-akan kita membaca sebuah novel sejarah dramatis yang menegangkan. Tapi penulisnya cukup hati-hati untuk tetap bersikap objektif dalam analisisnya hingga fakta sebagai "suatu yang suci" dalam bangunan sejarah tetap ditempatkan dalam posisi yang terhormat."
-Ahmad Syafii Maarif, Sejarawan, Guru Besar Sejarah pada IKIP Negeri Yogyakarta (UNY), meraih Ph.D. dari Chicago University, Amerika.


Tuesday, 3 January 2017 at 14:26

No comments:

Post a Comment