tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] You know what, the loneliest people are the one who talk a lot. - Yogyakarta, 27 Juni 2017.

Sunday, June 25, 2017

MAKARYO ATAU KERJA?


Makaryo hari ini sejak tadi pagi. Walau liburan harus tetap semangat & sukacita :). 

“Makaryo” itu identik dengan bekerja, namun jauh daripada itu kata “makaryo” berasal dari kata karya, berkarya, menghasilkan sesuatu. Pencapaian kata berkarya lebih tinggi dari pada bekerja. Berkarya itu menghasilkan sesuatu, sedangkan bekerja, ya bekerja ada sesuatu atau tidak yang dihasilkan itu tidak penting.

Sebuah semangat dan inspirasi sangat dibutuhkan dalam “makaryo”. Perlu adanya suatu hal untuk membuat kita “makaryo” dengan kualitas dan kuantitas yang istimewa, yang spesial kalo perlu tambah telur mata sapi sebagai toppingnya. “Makaryo” itu butuh penjagaan supaya tetap dapat progresif :).

Marx, filosof besar itu, dulu pernah begitu menaruh perhatian pada yang namanya "kerja". Baginya kerja merupakan realisasi kemanusiaan yang paling ultim. Kerja adalah perwujudan diri yang mana manusia meng-ada melaluinya.

Sayangnya, kerja kontemporer tak senikmat dan semenarik apa kata Marx. Kerja kontemporer lebih nampak sebagai kewajiban berangkat dan pulang pada jam yang ditentukan. Kerja lebih nampak sebagai paksaan yang diperlukan untuk bertahan hidup. Kerja jadilah suatu momen yang alienatif: mengasingkan manusia dari keberadaannya.

Kerja yang demikian itu adalah kerja pasca kapitalisme tumbuh subur di muka bumi. Dalam analisisnya Marx mengungkapkan bahwa kerja yang alienatif itu terjadi karena pekerja dipisahkan dari hasil pekerjaannya. Pekerja yang telah dibeli tenaganya menjadi buruh yang tak punya hak atas hasil kerjanya.

Bayangkan lah Anda seorang buruh pabrik N*K*, Ad*d*s atau perusahaan ternama lainnya. Anda ciptakan ratusan bahkan ribuan pasang sepatu untuk perusahaan Anda bekerja. Sayangnya, dengan gaji rendah Anda tak pernah bisa mencicipi memakai sepatu bermerek dan berkelas dunia itu. Itulah gambaran kerja yang alienatif yang Marx tunjuk.

Sehingga terminologi kerja itu sendiri memang sedari awal kapitalistik. Justru sebaliknya, tradisi Jawa memiliki istilah yang mencukupi untuk menggambarkan kerja dalam makna Marxian itu: MAKARYO. Makaryo atau berkarya adalah kerja yang berkonotasi pada upaya perwujudan diri dari berbagai fakultas-fakultas kemanusiaan yang individu miliki.

Makaryo atau berkarya merupakan kreasi aktif individu mengolah segala ihwal di dunia ini menjadi meaning full. Tentu tak sekedar soal: gaji, biaya hidup, tunjangan saja. Dalam makna makaryo, kedirian individu mewujud dalam hasil karyanya. Bila kita pinjam bahasa Moh. Hatta, itulah yang ia sebut sebagai individualita itu.

Makaryo adalah realisasi ultim dari kapasitas kemanusiaan individu yang ultim. Yang karenanya, individu menemukan kepuasan (meaning full) ketika melakukan aktivitas tersebut. Makaryo jadilah tak dapat diukur hanya dengan kriteria uang/ gaji belaka.

Dalam tradisi Jawa itu, bila kita ingat masih ingat di tahun 70-80an istilah ini masih sering kita dengar dalam keseharian. "Lik menyang endi?" "Arep makaryo". Dan rekonsktruksi romantis dari makaryo adalah kerja agraris dan sektor kreatif. Kerja agraris memungkinkan "makaryo" hadir saat seorang petani memulai masa tanam dengan persembahan/ selamatan. Atau saat secara bersahabat memandikan kerbau yang ia miliki. Dan seterusnya.

Kerja kreatif misalnya ketika para tukang kayu itu meracik papan/ balok kayu menjadi kusen, lemari, meja dan sebagainya. Karya yang ia hasilkan adalah bentuk ejawantah dari kemanusiaannya. Karya-karya itu menjadi sesuatu yang dalam dirinya adalah seni atau nyeni. Sehingga pada zaman itu tak ada jarak antara bekerja (makaryo) dengan berkebudayaan.

Menghadirkan makaryo pada perjumpaan kontemporer sama artinya dengan ikhtiar aktif merubah tata keberadaan dan tata kelola yang eksploitatif. Makaryo hilang karena karena modal atawa kapitalisme. Bahwa modal menjadi mendikte individu sehingga kita kehilangan kendali atas hak-hak dasar kemanusiaan kita. Yakni hak untuk menikmati pekerjaan kita.

Tanyalah kepada buruh, guru, karyawan swasta dan macam orang lainnya, apakah makaryo hadir dalam keseharian? Atau justru dikte-dikte bahwa kita harus menyelesaikan tugas dari A sampai Z untuk demi gaji bulanan? Adakah kebersatuan (kemanunggalan) diri dan karyanya ada di sana? Adakah ia merasakan bahwa yang dikerjakannya sebagai hal yang meaning full?

Indikasinya sederhana: apakah orang akan begitu cheerfull saat menyambut liburan atau begitu suntuk pasca pulang kantor. Dari raut wajah, intonasi kisah dan bahasa tubuh lainnya, kita bisa kenali adakah makaryo hadir dalam diri seseorang.

Ikhtiar untuk merubah tata keberadaan dan tata kelola merupakan aspirasi sejarah umat manusia: bahwa yang lebih baik itu adalah mungkin. Seperti yang dulu dilakukan Robert Owen (Bapak Koperasi Dunia) ketika menuntut: 8 jam kerja, 8 jam rekreasi dan 8 jam istirahat terwujud sampai hari ini.

Meski jam kerja itu sudah demikian nampak manusiawi, lantas apakah makaryo sudah hadir di dalamnya? Atau perlu radikalisasi pada perubahan tata keberadaan segala ihwal (the order of thing) menjadi lebih sosialistik dan humanistik. Salah satu bentuknya adalah dengan ownership atawa kepemilikan sebuah perusahaan oleh para pekerjanya.

Boleh jadi dari sanalah makaryo benar-benar bisa hadir sehingga pekerja-pekerja tak lagi terasing dari pekerjaan dan hasil kerjanya. Ya, saat ia bisa mengendalikan apa-apa yang dikerjakannya. Ada hak, ada kendali, ada demokrasi di ruang kerja. Selamat makaryo :)!

"Ingat saja pepatah Tiongkok,
Sebelum bunyi empat paku di atas peti mati kamu, 
kamu tidak bisa menilai orang lain baik atau buruk
Nanti kamu baru tau apa yang saya kerjakan."
-Basuki Tjahaja Purnama

Tuesday, June 20, 2017

SUSHI STORY すしストー リー

 https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10213624396073572&set=a.1568377578717.2089331.1513794646&type=3&theater

すしストー リー (すし sushi in Hiragana ストー リー Sutōrī in Katakana)
おいしい。 (Oishii in Hiragana mean delicious.)

CC: SUSHI STORY Lippo Plaza Jogja.

---
SUSHI STORY shared your post.
12 hrs · Wednesday, June 21, 2017 at 3:13pm

ARIGATOU GOZAIMATSU Yose San!
Terima kasih atas kunjungannya!
YES, Sushi Story memang tempatnya menikmati Sushi bergaya Kekinian! Oishii desu ne! Arigatou Gozaimatsu!
https://www.facebook.com/SushiStoryExpress/posts/1396159047138268

Friday, June 9, 2017

Tanggapan Atas Tulisan CNN Pemerintahan Trump 'dusta' tentang FBI, kata James Comey

Hak atas foto Reuters

Tidak semua orang bekerja yang dipecat, masuk penjara, dizholimi, bahkan sampai dihukum mati, adalah orang-orang busuk, sampah dan payah. Beberapa dari mereka justru adalah yang terbaik, yang berloyalitas dan berkomitmen tinggi, yang sayangnya tidak disukai publik atau sekedar tidak bisa mencari muka/menjilat pimpinan. James Comey, Basuki Tjahaja Purnama, Tan Malaka, dan masih banyak tokoh lainnya yang berakhir 'dibuang' karena mereka punya integritas dan tidak mau ikut serta dalam ketidakadilan dan kemunafikan.

--- 
Pemerintahan Trump 'dusta' tentang FBI, kata James Comey

Comey menjelaskan kepada sebuah Komite Senat bahwa Gedung Putih 'memilih untuk mencemarkan namanya, dan lebih penting lagi FBI'.

Mantan Direktur FBI, James Comey, mengatakan kepada Kongres bahwa komentar pemerintahan Presiden Donald Trump tentang dirinya dan FBI 'semata-mata dusta'.

Kepada sebuah Komite Senat Amerika Serikat, Kamis (08/06), Comey mengatakan mereka salah dalam memburuk-burukkan lembaga itu dan kepemimpinannya.

Dia juga mengaku 'bingung' dengan 'pergeseran penjelasan' dalam pemecatannya pada saat dia sedang memimpin penyelidikan kaitan antara kampanye Trump dengan Rusia.

Trump, menurutnya, beberapa kali mengulang kepadanya bahwa dia melakukan pekerjaan 'hebat'.

Comey menduga bahwa dia dipecat karena 'mengubah cara melakukan penyelidikan tentang Rusia'.

"Saya tahu saya dipecat karena sesuatu tentang cara saya melakukan penyelidikan Rusia yang dalam beberapa hal memberi tekanan kepadanya, yang dalam beberapa hal mengganggunya," kata Comey.
memberikan keterangan di Kongres AS.

Mantan bos FBI itu tampak tenang dan sabar ketika memberikan keterangan selama hampir tiga jam walau bersemangat ketika menyampaikan pidato pembukaan.

"FBI jujur. FBI kuat. Dan FBI mandiri dan selalu akan begitu," tuturnya dalam pidato pembukaan.

Dia menjelaskan kepada komite bahwa Gedung Putih 'memilih untuk mencemarkan namanya, dan lebih penting lagi FBI' dengan mengatakan badan itu 'dipimpin dengan buruk'.

"Itu semua dusta. Dan saya minta maaf jika semua orang di FBI harus mendengarnya."

Comey memimpin salah satu dari beberapa penyelidikan terkait Rusia sebelum Presiden Trump memecatnya, pada Bulan Mei.

Badan-badan intelijen Amerika Serikat yakin Rusia campur tangan dalam pemilihan presiden Amerika Serikat dan menyelidiki kaitan antara tim kampanye Trump dengan pemerintah Moskow.

Namun tidak diketahui ada bukti kolusi dan Presiden Donald Trump menepisnya sebagai 'berita bohong'.

Juru bicara Presiden Trump, Sarah Sanders, sudah menyerang balik Comey dengan mengatakan, "Saya dengan pasti megatakan bahwa presiden bukan pendusta."

Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40207920?ocid=socialflow_facebook

Sunday, June 4, 2017

Soegija The Movie


Butuh waktu cukup lama sejak awal release-nya di tahun 2012 yang lalu sampai akhirnya saya berhasil menemukan & bisa membeli Premium VCD Soegija The Movie RP 25.000 siang ini di PUSKAT PML Yogyakarta - Kursus Musik Gereja Jalan Ahmad Jazuli 2 Kotabaru Yogyakarta.
Ah, saya memang telat, tapi tak mengapalah. Sebab tak ada kata terlambat buat mereka yang masih ingin terus belajar, bukan? Saatnya menonton film Indonesia yang berkualitas dan selamat beraktifitas juga buat kawan-kawan .

Tuesday, May 30, 2017

Pelatihan Gratis Bahasa Jepang BLKPP Yogyakarta 2017


URGENT....!!
Dibutuhkan peserta utk pelatihan bahasa Jepang dana APBD provinsi DIY di kantor blkpp DIY sebanyak 10 peserta,syarat:
Laki/perempuan
Usia minimal 18 thn
KTP DIY
Ijazah tdk utama
Niat dan bs meluangkan waktunya 1,5 bln kedepan tiap hari senin-sabtu dari jam 8 pagi - 2 siang.
Fasilitas:
Snack,mkn siang
Modul materi
Seragam 3 stel (tmsuk training utk olahraga)
Uang saku
Transport
Tmn baru
Dll.
Segera daftarkan ke kantor BLKPP DIY jln kyai Mojo pingit Jogja,paling lambat besok di jam kerja.
Yogyakarta, 18 Mei 2017

---
Pembukaan Pelatihan Keterampilan Pencari Kerja APBD Tahun Anggaran 2017
Balai Latihan Kerja dan Pengembangan Produktivitas DIY
Sub. Kejuruan: Bahasa Jepang (Angkatan ke 2)
Yogyakarta, 24 Mei 2017

---
DIKTAT PELATIHAN INSTITUSIONAL
BALAI LATIHAN KERJA DAN PENGEMBANGAN PRODUKTIVITAS
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
TAHUN 2017

PELATIHAN BAHASA JEPANG

PEMERINTAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
BALAI LATIHAN KERJA DAN PENGEMBANGAN PRODUKTIVITAS
Jalan Kyai Mojo No 5 Yogyakarta Telp : 0274.512619
Yogyakarta, 30 Mei 2017

---
Tugas PR dan Suasana Kelas Pelatihan Bahasa Jepang BLKPP
Yogyakarta, 02 Juni 2017

---
SERAGAM PAKAIAN KERJA DAN TRAINING (TAMPAK DEPAN)
PELATIHAN BAHASA JEPANG
BALAI LATIHAN KERJA DAN PENGEMBANGAN PRODUKTIVITAS
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
TAHUN 2017
Yogyakarta, 03 Juni 2017

---
Berfoto sejenak dengan seragam baru bersama sensei dan beberapa kawan siswa yang hadir setelah sesi pelatihan hari ini usai.
Yogyakarta, 05 Juni 2017

---
Suasana Kelas Baru Pelatihan Bahasa Jepang BLKPP
Yogyakarta, 21 Juni 2017



Sunday, May 28, 2017

Yuk Belajar Bahasa Jepang: Percakapan Sehari-Hari


Ohayou gozaimasu minna-san! Sekarang lagi demam-demamnya belajar beberapa bahasa nih sobat blogger, kali ini saya akan memberikan pembelajaran sedikit mengenai percakapan sehari-hari dalam menggunakan bahasa jepang. Yuk langsung saja kita belajar bersama:

Berikut contoh ucapan salam & ekspresi:

オはよう ございます :  Ohayou gozaimasu (Selamat pagi)
コんにちわ : Konnichiwa (Selamat siang)
コんばんわ : Konbanwa (Selamat malam)
オやすみ なさい : Oyasumi nasai (Selamat tidur)
サようなら :  Sayounara (Selamat tinggal atau Selamat jalan)
ジャ, また あした : Ja, mata ashita (Sampai jumpa besok, ya)
アりがとう ございます : Arigatou gozaimasu (Terima kasih)
ドうも ありがとう ございます : Doumo arigatou gozaimasu (Terima kasih banyak)
ドう いたしまして : Dou itashimashite (Sama-sama, Terima kasih kembali)
スみません : Sumimasen (Maaf)
スみません : Sumimasen (Permisi)
シつれい ですが : Shitsurei desuga…(Permisi/Maaf…—> diucapkan sebelum bertanya tentang hal pribadi)
オねがいします : Onegaishimasu (Minta tolong)
オげんき です か : Ogenki desu ka? (Apa kabar?)
ゴめん ください :  Gomen kudasai (“Permisi”, —> digunakan ketika berkunjung ke rumah orang lain)
イらっしゃいませ :  Irasshaimase (Selamat datang —> diucapkan pada tamu restoran, hotel, dll)
イらっしゃい : Irasshai (Selamat datang —> dipakai pada waktu kedatangan tamu)
.
Di bawah ini ada beberapa ungkapan lainnya yang bisa kamu gunakan:

ごーきげん いかが です か : go-kigen ikaga desu ka : apa kabar
おーはよお ございます : o-hayoo gozaimasu : selamatan pagi
よい おーてんき です ね : yoi o-tenki desu ne : cuaca yang indah
おーめ に かかれて うれしい です : o-me ni kakarete ureshii desu : senang berkenalan dng anda
ながい こと おーじゃま いたしました : nagai koto o-jama itashimashita : terima kasih atas waktunya
みょおにち また おーあい しましょお : myoonichi mata o-ai shimashoo : sampai ketemu besok
わたし いんどねしあん です : watashi indonesian desu : saya orang indonesia
イんどねしあ から きました : Indonesia kara kimashita : saya berasal dari indonesia
しゅみ わ おんがく かんしょお です : shumi wa ongaku kanshoo desu : kegemaran saya dulu bermain musik
どこ から きました か : doko kara kimashita ka?: dari mana asalmu?
なに が ほしい の ですか : nani ga hoshii no desuka? : Apa yang sedang kamu lakukan?
ごめん なさい : gomen nasai : maafkan saya
すみません : sumimasen : maaf
おーてすう かけて すみません : o-tesuu kakete sumimasen : maaf merepotkan anda
とてむ しあわせ です : totemu shiawase desu : saya sangat bahagia
わたし の こぶつ わ ちょこらえと です : watashi no kobutsu wa chokoraeto desu : makanan kesukaan saya coklat
マいばん ほし お かんさつ して います : Maiban hoshi o kansatsu shite imasu : Setiap malam saya mengamati bintang-bintang
.
Yang umum diucapkan di awal pembicaraan:

オはよう / オはよう ございます : Ohayou / Ohayou gozaimasu : “selamat pagi”
コんにちわ :  Konnichiwa : “selamat siang”
コんばんわ :  Konbanwa : “selamat malam”
ヨろしく おねがいします :  Yoroshiku onegaishimasu : “mohon bimbingannya” / “mohon bantuannya”
オ げんき です か :  O genki desu ka? : “Apakah Anda sehat?”
オ かげ です :  O kage desu : “Saya sehat-sehat saja.” (digunakan untuk menjawab “O genki desu ka?”)
キョう わ いい お てんき です ね :  Kyou wa ii o tenki desu ne? : “Cuaca hari ini bagus, bukan?”
ヨうこそ :  Youkoso! : “Selamat datang!”
モしーもし :  Moshi-moshi…: “Halo…” (berbicara lewat telepon)
.
Yang umum diucapkan selama percakapan berlangsung:

ハい : Hai : Ya (untuk menyetujui sesuatu atau menjawab pertanyaan)
イいえ :  Iie : “Tidak” (kebalikannya “hai”)
アりがとう / アりがとう ございます :  Arigatou / Arigatou gozaimasu : “Terima kasih”
ゴめん な さい :  Gomen na sai : “Mohon maaf”
スみません :  Sumimasen : “Permisi”
ザんねん です :  Zannen desu : “sayang sekali” / “amat disayangkan”
オめでっと, ね :  Omedetto, ne : “Selamat ya”
ダめ / ダめ です よ :  Dame / Dame desu yo : “jangan” / “sebaiknya jangan”
スてき です ね :  Suteki desu ne : “Bagus ya…” / “indah ya…”
スごい / スごい です よ :  Sugoi! / Sugoi desu yo! : “Hebat!”
ソう です か :  Sou desu ka : “Jadi begitu…”
ダいじょうぶ です / ヘいき です :  Daijoubu desu / Heiki desu : “(saya) tidak apa-apa” / “(saya) baik-baik saja”
.
Jika kesulitan menangkap ucapan lawan bicara:

チョっと ゆっくり いって ください : Chotto yukkuri itte kudasai : “Tolong ucapkan lagi dengan lebih lambat.”
モう いちど いって ください :  Mou ichido itte kudasai. : “Tolong ucapkan sekali lagi.”
モっと はっきり いって ください :  Motto hakkiri itte kudasai. : “Tolong ucapkan dengan lebih jelas.”
.
Untuk mengakhiri pembicaraan:

サよなら : Sayonara : “Selamat tinggal”
マた あいましょう : Mata aimashou : “Ayo bertemu lagi kapan-kapan”
ジャ, また / また ね :  Ja, mata / mata ne : “Sampai jumpa”
マた あした :  Mata ashita : “Sampai jumpa besok”

Lainnya :)

イらっしゃいませ : Irasshaimase! : “Selamat datang!”
イてきます :  Itekimasu! : “Berangkat sekarang!”
イてらっしゃい :  Iterasshai : “Hati-hati di jalan”
イただきます :  Itadakimasu : “Terima kasih atas makanannya”
ゴちそうさま でした :  Gochisousama deshita : “perjamuan/hidangan sudah selesai”
キもち :  Kimochi…! : nyaman (perasaan nyaman di suatu tempat)

Ki wo tasukete ne. ''Hati-hati di jalan ya''
O-sewa ni narimasu. ''Maaf telah merepotkan''
Anata no namae wa nan desu ka? ''Nama anda siapa?''
Nani wo shite imasu ka? ''Sedang apa/lagi ngapain?''
Nihongo wo benkyou shimasu. ''Belajar bahasa jepang''
Ongaku wo kiite imasu. ''Sedang mendengarkan musik''
Terebi wo mite iru. ''Sedang nonton tv''
Doko e ikitai ka? ''Pengen pergi kemana?''
Gakkou e ikimasu. ''Pergi ke sekolah''
Nemukatta, netai n desu. ''Ngantuk, saya ingin tidur ah''
Daijoubu desu. ''Tidak apa-apa''
Biasanya di pakai pada saat keadaan kita tidak apa-apa. Misalnya saya jatuh dan di tanya teman,
Rai : anata wa daijoubu desu ka? (Kamu tidak apa-apa?)
Kai : hai, daijoubu desu. (Iya, tidak apa-apa)
Chotto matte kudasai. ''(tolong) Tunggu sebentar''
Anata no koto ga suki desu. ''Aku suka kamu''   Ini biasa di pakai kalau kita suka dengan seseorang tapi suka nya ini dengan perasaan. Kalau''Anata ga suki''aja, ini hanya sekedar suka aja atau seperti tertarik.
Douzo... ''Silahkan...''
Dare ni mo iwanaide. ''Jangan bilang ke siapa-siapa?''
Doko ni itta no? ''Dari mana saja?''
Dou iu imi desu ka? ''Maksudnya bagaimana?''
Homete kurete, arigatou. ''Terima kasih atas pujian nya''
Gakkari shita. ''Saya kecewa''
Go seikou wo... ''Semoga sukses''
Tonde mo arimasen. ''Ah, sama sekali tidak''.
Sumimasen. ''Maaf/ -Permisi''. Sumimasen juga bisa berarti permisi ya.
Shitsurei shimashita. ''Mohon maaf (telah/bila tidak sopan)''
Moushiwake arimasen. ''Mohon maaf''
Oyurushi kudasai. ''Maafkanlah saya''. Nah kalo yg ini jika kita memang benar2 salah dan mau minta maaf sebesar2nya.
Nido to kurikaeshimasen -. ''Saya tak akan mengulanginya lagi''.
Okoranaide kudasai. ''Jangan marah''.

Sekian pembelajaran dasar dalam percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Jepang kali ini. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. ジャ, また Ja, mata ^^.

Wednesday, May 24, 2017

Tanggapan Atas Tulisan Seorang China dan Kafir yang Sangat Menghormati Indonesia

 

Sebab cinta adalah luka. Sebab cinta adalah derita. Namun begitu, ada seorang Pribadi yang lebih dulu memberikan cinta itu pada saya. Dan dia rela menderita. Bahkan sampai mati. Ahok dan keluarga memilih menunjukkan cinta itu pada Indonesia. Ahok dan keluarga memilih setia pada Indonesia. Pada kita. Oleh sebab itu, saya menerima dengan rela. Menerima dengan nyata. Menerima dengan sukacita inilah harga cinta yang harus kita bayar untuk Indonesia.

---
Andai saya bisa menuliskan sebuah surat untuk Pak Ahok dan beliau sudi membacanya, maka ini yang akan saya sampaikan:

Sebelumnya saya ingin mengenalkan diri, saya adalah Alifurrahman, pendiri SEWORD, yang secara statistik merupakan portal opini paling besar dan berpengaruh di Indonesia saat ini.

Bapak mungkin belum mengenal saya, sebab kita memang belum pernah bertemu. Tapi saya merasa sudah mengenal Bapak sejak masih berpasangan dengan Pak Jokowi pada 2012 silam. Saya juga merasa Bapak sudah pernah membaca salah satu atau beberapa tulisan di SEWORD ini.

Pada tahun 2014, saya sudah berusia 24 tahun waktu itu. Dan untuk yang pertama kalinya saya membuat keputusan melawan arus. Keluar dari zona dan lingkungan yang sudah banyak memberikan saya pelajaran tentang politik dan kepedulian terhadap negara kita, Indonesia.

Untuk pertama kalinya saya membuat keputusan politik, mundur dari kepengurusan partai (cabang) dan memilih mendukung Pak Jokowi. Saya harus mundur sebab partai tersebut merupakan partai lawan Pak Jokowi, dan mengusung pasangan Capres Cawapres sendiri.

Sekarang 2017, saya mendukung anda untuk kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta. Namun akhirnya, kita kalah. Dan yang lebih buruk lagi, anda masuk penjara.

Anda dan Presiden Jokowi adalah idola saya. Kalian berdua adalah dua sosok yang memiliki banyak kemiripan, tapi pada sisi tertentu terlihat begitu kontras sekali. Setegas-tegasnya Presiden Jokowi, beliau tetap santun dan tenang. Tapi anda, begitu meledak-ledak, seolah benar-benar meluapkan semua emosi yang ada. Bagaimanapun saya suka dengan ketenangan Presiden Jokowi, juga suka dengan ucapan-ucapan telak dari anda, saya suka sekali membaca coretan anda yang “pemahaman nenek lu!”

Pak Jokowi dan anda adalah dua orang yang berhasil membuat saya tergerak untuk melakukan sesuatu yang sifatnya politis. Padahal dulu saya tak pernah tertarik untuk beropini, mengomentari atau bahkan berpikir tentang politik saja saya enggan.

Tapi sekarang saya sudah masuk cukup dalam ke arena politik. Bertemu dan kenal dengan orang-orang pendukung Bapak. Terlibat diskusi panjang bersama tim dan partai-partai pendukung Ahok Djarot. Bertemu dengan banyak orang yang sepertinya cukup kenal dan kerap berinteraksi dengan Bapak.

Setelah berbulan-bulan saya mengikuti proses demokrasi, baru sekarang, pada titik ini, saya merasa sangat lelah sekali menjadi bagian kecil dari orang-orang yang mendukung anda. Lelah sekali.

Ancaman, intimidasi, sampai penawaran-penawaran menggiurkan agar tidak mendukung Bapak sudah pernah saya dapatkan. Tapi saya malah memilih tidak takut dengan ancaman serta melawan segala bentuk intimidasi.

Banyak teman geleng-geleng kepala melihat sikap saya belakangan ini. Terlihat tak peduli dengan tawaran materi, malah mendukung orang yang non muslim seperti anda tanpa imbalan apa-apa. Bahkan istri saya sempat terdiam cukup lama mengetahui saya menolak tawaran-tawaran tersebut. Ini kalau diibaratkan berdasarkan persepsi teman-teman saya, sudahlah tidak dapat dunia (uang), masih dapat neraka di akhirat kelak.

Tapi saya tau tidak sendiri. Ada banyak pendukung dan relawan anda, yang juga tidak mendapatkan imbalan apa-apa. Kami malah sumbangan untuk biaya kampanye anda dan Pak Djarot. Pagi sampai sore kami bekerja, malam harinya ikut memikirkan politik dalam negeri, bahkan sampai turun ke jalan, menyalakan lilin solidaritas untuk anda yang mendapat perlakuan cukup aneh dari hakim dan hukum di negara ini.

Sekarang, setelah beberapa hari anda di penjara, semalam muncul keputusan yang sangat mengejutkan. Anda dan keluarga memilih mencabut upaya banding. Lebih dari itu, anda menuliskan surat terbuka dan langsung dibacakan oleh Bu Veronica. Berikut ini adalah kalimat yang begitu menggetarkan menurut saya.

    “Tetapi saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini. Jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara, alangkah ruginya warga DKI dari sisi kemacetan dan kerugian ekonomi akibat adanya unjuk rasa yang menganggu lalu lintas.

    Tidaklah tepat saling unjuk rasa dan demo dalam proses yang saya alami saat ini. Saya khawatir banyak pihak yang akan menunggangi jika para relawan berunjuk rasa, apalagi benturan dengan pihak lawan yang tidak suka dengan perjuangan kita.

    Terima kasih telah melakukan unjuk rasa yang taat aturan dan menyalakan lilin perjuangan, konstitusi ditegakkan di NKRI dengan Pancasila dan UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika.”

Jujur, tak tega rasanya melihat Bu Veronica menahan air matanya di hadapan publik membacakan surat anda. Tapi tak ada pilihan, itu harus anda lakukan dan memang harus Bu Veronica yang membacakannya. Supaya semua pendukung anda yakin bahwa itu asli dan dari kemauan seorang Ahok.

Jika sebelumnya saya mengenal seorang Ahok yang begitu keras kepala, teguh dan memegang prinsip hitam putih, benar salah, sekarang saya baru tahu bahwa anda tidak hanya bisa meyakini sesuatu yang dianggap benar, tapi juga mau menerima keputusan hakim begitu saja.

Banyak yang kaget dengan keputusan anda, saya salah satunya. Tapi pada akhirnya saya paham, bahwa inilah politik, banyak keputusan-keputusan aneh yang harus diambil untuk kepentingan yang lebih besar. Sekarang anda tidak hanya mengorbankan diri anda sendiri, tapi juga istri dan anak-anak anda untuk kententraman dan keutuhan NKRI.

Saya paham bahwa ini sudah menjelang Ramadhan. Sepertinya anda tak ingin sekelompok makhluk yang selama ini selalu menyerukan “perang badar” benar-benar memiliki alasan dan akan turun ke jalan lagi, berhalusinasi seolah-olah sedang berperang di bulan Ramadhan, ingin mati syahid agar nantinya dapat menikmati puluhan tubuh semlohai bidadari surga dengan segala jenis, ukuran dan rasa.

Luar biasa. Saat anda didemo oleh jutaan orang dari luar Jakarta, dikalahkan oleh isu SARA, kalah karena China dan nonmuslim, divonis hukuman 2 tahun karena tekanan massa, anda rupanya belum berhenti mencintai Indonesia.

Padahal sebenarnya anda bisa saja menghilang ke luar negeri, menyewa kos-kosan di sebelah kosan Habib Rizieq. Tak perlu menghargai hukum di Indonesia, tak perlu datang saat dipanggil, bilang saja sibuk. Tapi anda memilih mencintai negeri ini dengan sempurna. Memilih bertahan di Indonesia, apapun masalah dan kondisinya.

Meski sebagian makhluk menganggap kelompok anda tidak berperang memerdekakan negara ini, China dan kafir tak ada gunanya di Indonesia, tapi sekarang anda menunjukkan betapa anda mencintai negeri ini tanpa syarat. Mampu menghargai hukum dan aturan di Indonesia. Tak pernah mengeluh dikriminalisasi.

Luar biasa Pak. Jika dulu saya berpikir bahwa berada di luar negeri adalah cara terbaik untuk merindukan, mencintai dan merenungkan betapa indahnya negeri ini, sehingga kembali ke Indonesia dengan melepas semua kenyamanan dan fasilitas yang lebih baik di luar negeri adalah tanda cinta luar biasa. Tetapi sekarang saya sadar, bahwa mencintai negeri ini bisa dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Cukup taat pada aturan dan tidak membuat repot negeri ini, kemudian menerima apapun segala bentuk perlakuan negerimu.

Saya tau ada banyak cerita dan kisah yang tak dapat Bapak sampaikan secara terbuka. Beberapa sudah pernah saya dengar dan juga tidak bisa saya ceritakan. Karena semua itu tak terlalu penting, karena semuanya lebih banyak membahas manusia-manusia kerdil. Yang penting sekarang satu Indonesia tahu, bahwa orang yang dicela kutil babi, China, kafir dan seterusnya, memilih mencintai Indonesia dibanding Arab Saudi.

Semoga Bapak diberi kesehatan dan umur panjang, serta tak lelah mencintai Indonesia. Ajari kami untuk terus mencintai dan menghormati negeri ini lebih dari yang mampu kami berikan seperti selama ini…Begitulah kura-kura.

Piagam Penghargaan Karya Lomba Artikel BKPM 2017


dari: umumlombaartikel bkpm <umum.lombaartikel.bkpm@gmail.com>

02.53 (12 jam yang lalu)

Kepada Yth

Peserta Lomba BKPMGoWrite Competition 2017

Dengan Hormat,

Kami atas nama Panitia Lomba BKPMGoWrite Competiton 2017
mewakili pihak penyelenggara Lomba (Badan Koordinasi Penanaman Modal - BKPM) menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang dalam atas partisipasinya dalam lomba ini.
Panitia menerima 638 karya artikel dari 580 peserta di 3 kategori, dan telah menentukan para pemenangnya.

Kami menyampaikan selamat kepada para pemenang yang telah berhasil melewati
berbagai seleksi. Sebagai informasi umum kami sampaikan, para pemenang masing-masing telah menerima hadiah dan penghargaan.

Panitia dan penyelenggara menyampaikan terimaksih kepada seluruh peserta lomba atas partisipasinya. Sebagai apresiasi kami atas keikutsertaan dalam lomba ini, seluruh peserta telah kami kirimi E-Sertifikat ke masing-masing alamat email peserta.

Besar harapan kami lomba ini akan banyak menggali ide dan gagasan anak bangsa untuk ikut berperan serta memberikan masukan bernilai kepada BPKM.

Selaku panitia lomba, kami menyampaikan terimakasih atas dukungannya berbagai pihak yang turut mensukseskan lomba ini.


Hormat Kami
PANITIA LOMBA

BKPM GoWrite Competition 2017

Terus Menulis dan Berkarya untuk Indonesia

Thursday, May 11, 2017

MALAM PENGHARGAAN DONOR DARAH SUKARELA 2017 PMI KOTA YOGYAKARTA


Yogyakarta, 10 Mei 2017.

Puji syukur matur nuwun Gusti Allah.. Akhirnya diberikan kesehatan untuk boleh menghadiri Malam Penghargaan Donor Darah Sukarela 25, 50, 75, dan 100 kali tahun 2017.. Matur nuwun kawan-kawan Udd Pmi Kota Yogyakarta untuk kesempatan dan apresiasinya.

CC: mbak Dianne Nutom, mbak Maria Ardhy, dkk.

Postingan terkait sebelumnya: Undangan Penerima Piagam Penghargaan Donor Darah 25 kali.

Wednesday, May 10, 2017

PERNYATAAN SIKAP LBH JAKARTA Putusan Ahok: Pasal Penodaan Agama Ancaman Bagi Kelompok Minoritas dan Demokrasi Bangsa


PERNYATAAN SIKAP LBH JAKARTA

Nomor: 625/SK-RILIS/V/2017

Putusan Ahok: Pasal Penodaan Agama Ancaman Bagi Kelompok Minoritas dan Demokrasi Bangsa

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis dua tahun terhadap terdakwa kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Dalam persidangan sebelumnya, Ahok dikenakan dakwaan alternatif yakni Pasal 156a dan Pasal 156 KUHP dengan tuntutan penjara selama 1 tahun dan masa percobaan 2 tahun. Vonis ini menjadi pertanda mundurnya demokrasi dan negara hukum (rule of law) di era pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Majelis hakim menggunakan Pasal 156a yang notabene merupakan ketentuan anti demokrasi yang secara jelas melanggar hak seseorang untuk menyatakan pikiran, dan sikap sesuai dengan hati nurani, serta hak atas kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat sebagaimana yang diatur dalam Pasal 28E Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Undang-Undang 12 tahun 2005 tentang Ratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik dan berbagai aturan hukum lainnya.

Pasal 156a selama ini terbukti menjadi alasan pembenar negara dan pihak mayoritas yang intoleran untuk mengkriminalisasi kelompok minoritas atau individu yang berbeda keyakinan dengan warga negara mayoritas sebagaimana yang menimpa Lia Eden, Abdul Rahman, Ahmad Musadeq, dkk. (Eks Pimpinan Gafatar), Hans Bague Jassin, Arswendo Atmowiloto, Saleh, Ardi Husein, Sumardin Tapaya (sholat bersiul), Yusman Roy (sholat mullti bahasa), Mangapin Sibuea (pimpinan sekte kiamat).

Selain itu, rumusan Pasal 156a KUHP tidak jelas, tidak memenuhi prinsip lex certa dan lex scripta dalam pemenuhan asas legalitas, serta terlampau subjektif untuk diterapkan kepada masyarakat. Hal ini menjadikan rumusan pasal 156a bertentangan dengan prinsip kepastian hukum sehingga juga mengancam prinsip demokrasi yang menjunjung tinggi penegakan hukum yang berkeadilan (rule of law) bagi masyarakat. Saat ini Ahok, di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas muslim, menjadi korban. Hari kedepan bisa jadi yang menjadi korban kriminalisasi adalah individu muslim di tengah-tengah masyarakat mayoritas Hindu atau Budha atau Kristen.

Majelis Hakim dalam putusannya juga tidak menerapkan Pasal 156a KUHP sebagai delik materiil, uraian mens rea dalam pertimbangan hukum Majelis Hakim terlalu mengada-ada dan gagal untuk dibuktikan. Majelis Hakim tidak melihat bahwa unsur menciderai umat Islam, menimbulkan kegaduhan serta memecah kerukunan di masyarakat justru disebarkan oleh kelompok-kelompok intoleran yang melaporkan Ahok dan mendorong Ahok masuk ke meja hijau. Majelis Hakim membebankan segala bentuk kegaduhan dan gerakan massa yang menimbulkan keresahan di publik selama ini kepada Ahok seorang dan menghukumnya untuk itu. Putusan Majelis Hakim pada perkara ini justru memicu masyarakat untuk semakin giat menggunakan pasal penodaan agama yang anti demokrasi ini di kemudian hari.

Di sisi lain, Majelis Hakim juga abai dalam menerapkan hukum yang kontekstual dan sejalan dengan produk-produk peradilan yang ada sebelumnya, seperti dengan mengacu pada: (1) Putusan MK No. 84/PUU-X/2012 terkait harus adanya peringatan berupa SKB 3 Menteri dan pengulangan perbuatan setelah terbitnya peringatan tersebut sebelum menerapkan Pasal 156a dengan sanksi pidana kepada Ahok. Ketidakpastian hukum yang coba diperbaiki oleh Mahkamah Konstitusi kembali diporak porandakan oleh Majelis Hakim PN Jakarta Utara.

Dengan menghukum Ahok, dunia peradilan kembali mengulangi kegagalannya menjadi tempat bagi masyarakat mencari keadilan yang sesungguhnya. Peradilan kembali tunduk kepada tekanan publik. Hal ini adalah preseden buruk penegakan hukum di Indonesia, seseorang bisa dihukum atas dasar tekanan publik padahal seharusnya pengadilan menjadi pihak yang independen dan hanya setia kepada nilai keadilan dan rule of law dan konstitusi. Rule of law dikorbankan serta digantikan dengan rule by mass (mobokrasi) sementara proses hukum serta fakta-fakta persidangan diabaikan.

Namun di tengah segala kebobrokan penegakkan hukum yang ada, proses hukum akhirnya tetap berjalan. Upaya hukum banding dapat menjadi langkah berikutnya yang ditempuh untuk mencari keadilan yang hakiki. Semoga pengadilan tingkat banding dan kasasi yang berada di bawah Mahkamah Agung masih bisa dijadikan rumah bagi hukum yang berkeadilan dimana masyarakat dapat menaruh harapannya akan keadilan, dan memutus rantai peradilan sesat hari ini.

Berdasarkan hal tersebut LBH Jakarta menyatakan:

1. Putusan Majelis Hakim terhadap perkara 1537/Pid.B/2016/PN.Jkt.Utr tidaklah berkeadilan dan telah merusak hakikat hukum dan dunia peradilan yang menjadi tempat bagi masyarakat mencari keadilan yang sesungguhnya dengan didasari oleh kepastian hukum, dan putusan Majelis Hakim juga bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia yakni kebebasan berpendapat dan berekspresi sebagaimana yang dijamin oleh konstitusi, UU No. 39/1999 tentang HAM dan UU No. 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum serta Kovenan Internasional tentang hak-hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi dengan UU No. 12/2005.

2. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada kasus Ahok telah tunduk pada tekanan massa atau intervensi dari ormas yang dinilai telah menggangu independensi hakim dalam memutus perkara berdasarkan prinsip demokrasi, keadilan, dan negara hukum, sehingga mengorbankan prinsip rule of law dan melegitimasi rule by mass yang dilakukan oleh massa aksi intoleran.

3. Mendesak agar Pemerintah dan Pengadilan secara tegas menegakkan hukum sesuai dengan prinsip kepastian hukum, demokrasi, keadilan, serta penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia.

4. Mendesak Pemerintah dan DPR R.I. untuk meninjau ulang perumusan delik penodaan agama yang saat ini sedang berlangsung dalam pembahasan RUU KUHP di DPR R.I. dan menghapuskan pasal anti demokrasi tersebut demi menghormati prinsip demokrasi dan tegaknya hak asasi manusia serta kepastian hukum di Indonesia.

5. Mengajak masyarakat untuk menghargai perbedaan dan kebebasan berpendapat juga berekspresi, jika hal ini tidak kita jaga bersama maka siapa pun dan siapa saja bisa dipenjarakan semata karena berbeda pendapat atau ekspresinya dianggap melukai perasaa orang lain, sesuatu yang sulit diukur secara objektif.

Demikian pernyataan sikap ini dibuat, LBH Jakarta menyatakan dengan ini akan terus mengawal setiap penegakan hukum terutama bagi ‘korban’ yang kriminalisasi Pasal 156a KUHP demi tegaknya negara hukum, dan penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia.

Jakarta, 9 Mei 2017
Hormat kami,
LEMBAGA BANTUAN HUKUM JAKARTA

Narahubung:
Alghiffari Aqsa (081280666410)
Yunita (08999000627)
Pratiwi Febry (081387400670)

Sumber: https://www.facebook.com/ultimusbandung/posts/1889546441304608

Tuesday, May 9, 2017

GUDEG WIJILAN BU LIES JOGJA EVENT 10 KALENG GUDEG GRATIS


Terima kasih Gudeg Wijilan Bu Lies untuk kesempatan dan apresiasinya boleh menjadi salah satu pemenang dalam EVENT 10 KALENG GUDEG GRATIS beberapa waktu yang lalu: https://goo.gl/WBhxWd.

Telah diterima dengan baik sore hari ini 1 (satu) kaleng Gudeg Sambel Goreng Krecek. Pengambilan di warungnya langsung di Jl. Wijilan No. 5 Yogyakarta yang diterima dan disambut dengan ramah oleh kru dan staff yang bertugas. Semoga sukses selalu buat Gudeg Wijilan Bu Lies!

"GUDEG KALENG BU LIES Bisa di kirim ke seluruh Indonesia dan tidak khawatir basi" PESAN SEKARANG, Gudeg Kaleng !!! Harganya cuma Rp30.000 aja. WA : http://goklick.me/wa/OrderGudegBuLies (Autochat WA), SMS : 082133716669, TELP : 0274 - 450164, Website : Gudegbulies.com

Undangan Penerima Piagam Penghargaan Donor Darah 25 kali


Puji syukur Gusti Allah.. Akhirnya boleh mendapatkan undangan penerima penghargaan donor darah 25x Rabu, 10 Mei 2017 nanti.. Matur nuwun Udd Pmi Kota Yogyakarta pak Nooredy, mas Dwi, mbak Dianne Nutom, mbak Maria Ardhy, dkk untuk kesempatan dan apresiasinya. at UDD PMI KOTA Yogyakarta.

Monday, May 1, 2017

Seberapa Penting Arti Sekolah Kita?


Belajar dan sekolah/kuliah itu penting dan mulia. Tapi ada yang lebih penting dan lebih mulia lagi yakni mempergunakan hasil belajar dan sekolah/kuliah itu dengan hal-hal yang baik. Bukan sebaliknya.

Teruslah belajar berbuat (yang baik) untuk umat.

Susi Pudjiastuti dan Marissa Haque adalah sepasang ayat Tuhan. Keduanya memberi pelajaran kepada bangsa manusia bahwa sekolah itu kadang memang penting, tapi seringnya sih nggak gitu-gitu amat.

Sumber foto: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1031159286984544&set=a.139398776160604.20736.100002714462838&type=3&theater

Thursday, April 27, 2017

Pledoi Lengkap Ahok di Kasus Penistaan Agama



JAKARTA, Indonesia — Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama membacakan nota pembelaan atau pledoi dalam sidang dugaan penodaan agama yang berlangsung di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa 25 April 2017.

Nota pembelaan tersebut ditulis sendiri oleh Ahok dan dibacakan pada persidangan yang digelar pagi ini. Pledoi setebal 5 halaman tersebut berjudul "Tetap Melayani Walau Difitnah". Berikut isi lengkap pledoi Ahok:

Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan, yang diberikan kepada Saya. 

Setelah mengikuti jalannya persidangan, memperhatikan realitas yang terjadi selama masa kampanye Pilkada DKI Jakarta, serta mendengar dan membaca tuntutan Penuntut Umum, yang ternyata mengakui dan membenarkan bahwa saya tidak melakukan penistaan agama seperti yang dituduhkan kepada saya selama ini dan karenanya terbukti saya bukan penista/penoda agama. Saya mau tegaskan, selain saya bukan penista/penoda agama, saya juga tidak menghina suatu golongan apapun.

Majelis Hakim yang saya muliakan, Banyak tulisan yang menyatakan saya ini korban fitnah. Bahkan Penuntut Umum pun mengakui adanya peranan Buni Yani dalam perkara ini. Hal ini sesuai dengan fakta bahwa saat di Kepulauan Seribu, banyak media massa yang meliput sejak awal hingga akhir kunjungan saya dan bahkan disiarkan secara langsung yang menjadi materi pembicaraan di Kepulauan Seribu, tidak ada satupun yang mempersoalkan, keberatan atau merasa terhina atas perkataan saya tersebut Bahkan termasuk pada saat saya diwawancara setelah dialog dengan masyarakat Kepulauan Seribu. Namun baru menjadi masalah 9 (sembilan) hari kemudian, tepatnya tanggal 6 oktober 2016 setelah Buni memposting potongan video sambutan saya dengan menambah Yani kalimat yang sangat provokatif. barulah terjadi pelaporan dari orang-orang yang mengaku merasa terhina, padahal mereka tidak pernah mendengar langsung bahkan tidak pernah menonton video sambutan saya secara utuh. 

Adapun salah satu tulisan yang menyatakan saya ini korban fitnah adalah dari Goenawan Mohammad stigma itu bermula dari fitnah. Ahok tidak menghina agama Islam, tapi tuduhan itu tiap hari diulang ulang, seperti kata ahli propaganda Nazi Jerman, dusta yang terus menerus diulang akan menjadi kebenaran. Kita mendengarnya di masjid masjid, di media sosial, di percakapan sehari hari. sangkaan itu menjadi bukan sangkaan, tapi sudah kepastian. Ahok pun harus diusut oleh pengadilan, dengan undang undang "penistaan agama yang diproduksi rezim de Baru, sebuah undang undang yang batas pelanggarannya tak jelas, dan tak jelas pula siapa yang sah mewakili agama yang dinista itu. Walhasil, Ahok diperlakukan tidak adil dalam tiga hal (1) difitnah, (2) dinyatakan bersalah sebelum pengadilan, (3) diadili dengan hukum yang meragukan. Mengakui adanya ketidakadilan di dalam kasus ini tapi bertepuk tangan untuk kekalahan politik Ahok, yang tidak bisa diubah, sebuah ketidakjujuran.

Majelis Hakim yang saya muliakan, 

Ketika saya memilih untuk mengabdi melayani bangsa tercinta ini, saya masuk ke pemerintahan dengan kesadaran penuh untuk mensejahterakan rakyat otak, perut dan dompet penuh. Untuk itu, ketika saya memberikan sambutan di Pulau Pramuka, saya memulai dengan kalimat bahwa saya mau cerita ini, biar Bapak Ibu semangat Dari sambutan saya, jelas sekali bahwa saya hanya punya satu niat saja agar warga tebal kantongnya, mau ambil program yang sangat menguntungkan ini. Terbukti Penuntut Umum mengakui bahwa saya tidak punya niat sedikitpun untuk menista/menodai agama. Dan saya tegaskan, saya pun tidak punya niat sedikitpun untuk menghina golongan tertentu.

Majelis Hakim yang saya muliakan, 

Bicara mengenai melayani orang lain, mengingatkan saya ketika saya mengajak anak-anak TK yang mengunjungi saya di Balaikota untuk bersama menonton cuplikan film Finding Nemo melawan arus. Setelah itu saya menjelaskan apa pesan moral dari film Finding Nemo, sebagaimana dapat dilihat dalam video youtube yang saya kutip kembali sebagai berikut: 

Bapak mau kasih tahu melalui pelajaran ikan ini, kalian bisa lihat ngga tadi? Papanya tidak ijinkan Nemo masuk ke jaring. Ya, jadi jaring tadi, Nemo bisa keluar masuk kan? lkan besar kan tertangkap? Kalau Nemo ga mau masuk boleh ga? boleh juga, buat apa dia membahayakan nyawanya. Dia masuk...padahal papanya khawatir, kalau masuk, ikan gitu banyak, bisa kejepit, bisa keangkat. Nah kita hidup dijaman orang-orang itu kadang-kadang berenangnya salah arah...jadi persis seperti ikan. Yang benar harus berenang ke bawah, tapi semua ikan ikut jaring ke atas. Kalau dibiarkan ikut ke atas ikan-ikan ini ketangkap akan mati ga? Gawaban anak-anak) mati! Nah bagaimana mereka bisa tau apa yang bener? Nemo yang tahu! Waktu Nemo minta berenang berlawanan arah, kira-kira orang nurut ga? Ga nurut pertama. Jadi sama, kita hidup di dunia ini...kadang kita melawan arus, melawan orang yang ke arah berbeda sama kita. Tapi kita tetap lakukan demi menyelamatkan dia, dia bilang kalau ngga si Dori bisa mati nih, ikan yang biru tadi. Jadi papanya pun mengikhlaskan...merelakan anaknya untuk masuk. Lalu ketika dia mulai teriak minta turun..Nemo..papanya tau ngga resiko Nemo? Tahu bisa kejepit mati ikan kecil. Lalu begitu terlepas, ada ngga ikan yang berterima kasih kepada Nemo yang terkapar pingsan? Tidak ada! Jadi inilah yang harus kita lakukan, sekalipun kita melawan arus semua, melawan semua orang berbeda arah, kita harus tetap teguh. Semua tidak jujur, ga papa, asal kita sendiri jujur. Mungkin setelah itu tidak ada yang terima kasih sama kita juga tidak peduli kita, karena Tuhan yang menghitung untuk kita, bukan orang. Nah, ini pelajaran dari film ikan Nemo, jadi bukan soal ketangkap ikannya itu tadi. Jadi orang tanya sama saya, kamu siapa? Saya bilang saya hanya seekor ikan kecil Nemo di tengah Jakarta...seperti itu. Nah ini pelajaran untuk kita....(disambut tepuk tangan anak-anak) 

Majelis Hakim yang saya muliakan,

Sambutan tepuk tangan anak-anak kecil diakhir cerita saya tersebut, saya penghiburan dan kekuatan baru untuk terus berani melawan arus menyatakan kebenaran dan melakukan kebaikan sekalipun seperti ikan kecil Nemo dilupakan, karena saya percaya di dalam Tuhan segala jerih payah kita tidak ada yang sia-sia. Tuhan yang melihat hati, mengetahui isi hati saya. 

Saya hanya seekor ikan kecil Nemo di tengah Jakarta, yang akan terus menolong yang miskin dan membutuhkan (Poor dan Needy) walaupun saya difitnah dan dicaci maki, dihujat karena perbedaan iman dan kepercayaan saya, saya akan tetap melayani dengan kasih. 

Majelis Hakim yang saya muliakan, Saya bersyukur, karena dalam persidangan ini saya bisa menyampaikan kebenaran yang hakiki dan saya percaya bahwa Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini tentu akan mempertimbangkan semua fakta dan bukti yang muncul dalam persidangan ini di mana Penuntut Umum mengakui dan membenarkan bahwa saya tidak melakukan penistaan/penodaan agama seperti yang dituduhkan kepada saya selama ini dan karenanya terbukti saya bukan penista/penoda agama.

Berdasarkan hal tersebut di atas, haruskah masih dipaksakan bahwa saya menghina suatu golongan? padahal tidak ada niat untuk memusuhi atau menghina siapapun dan tidak ada bukti bahwa saya telah mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan atau penghinaan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap agama atau penghinaan terhadap suatu golongan. Saya berkeyakinan bahwa Majelis Hakim akan memberikan keputusan yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan karena mengambil keputusan demi keadilan berdasarkan keTuhanan yang Maha Esa. 

Majelis Hakim yang saya muliakan. Demikian Nota Pembelaan ini saya buat untuk mematahkan semua tuduhan dan fitnah atas sambutan saya selaku Gubernur DKI Jakarta yang sedang menjalankan tugas di Kepulauan Seribu pada tanggal 27 September 2016 dengan maksud mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program budidaya ikan kerapu, berdasarkan Pasal 31 UU Pemerintah Daerah. 

Jakarta, 25 April 2017 

Hormat saya. 

Ir. Basuki ahaja Purnama, M.M.