tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Friday, January 27, 2017

WIJI THUKUL DAN SAYA

Foto dokumen pribadi (25 Januari 2017).

Saya berusia tiga belas tahun saat kerusuhan Mei merebak. Sama seperti pertanyaan mahasiswa di lembaran-lembaran awal pembuka buku ini, saya juga saat itu tidak banyak tahu apa yang terjadi saat Mei 1998 selain, a) televisi secara terus-menerus menyiarkan tentang sidang MPR dan almh. Ibu menggunakan kesempatan tersebut untuk menyuruh saya menghapal daftar menteri yang ditempel di dinding dan b) restoran ayam waralaba langganan saya dan beberapa ruko lain di perumahan tempat tinggal saya di Tangerang, Banten, tutup dan di rolling door setiap toko ada tulisan "MILIK PRIBUMI". Saya tanya pada Bapak kenapa toko-toko harus ditulisi seperti itu dan Bapak menjawab kalau itu diperlukan agar tokonya tidak dirusak massa.

Perihal berita Reformasi yang sesungguhnya baru saya pahami saat berkuliah beberapa tahun lalu di Semarang, itu pun sebagian besar dari "acara-acara" yang digelar BEM fakultas dan universitas setiap tahun. Soal ada mahasiswa tertembak, saya tahu sejak lama (almh. Ibu dulu selalu menggunakannya untuk menakut-nakuti saya, "itu akibatnya kalau kamu nakal dan ikut-ikutan berandal menentang pemerintah, mati kamu nanti dibunuh.") tetapi mengenai orang hilang dan pemerkosaan serta pembunuhan orang-orang ras Cina, isu-isu tersebut saya baru tahu ketika bergabung dengan pers kampus. Tapi tetap saja, kengerian Reformasi 1998 bagi saya hanya dapat diasosiasikan sejauh toko-toko tutup bertuliskan "MILIK PRIBUMI", ketakutan mendatangi mall tertentu, dan para pejabat duduk-duduk disiarkan lama di televisi. Entah kenapa saat itu saya juga tidak tertarik menelusuri kronologi Reformasi selain fakta bahwa hasil dari peristiwa itu adalah turunnya Presiden Soeharto. Mungkin dulu karena kami sekeluarga bukanlah orang-orang yang suka dan mampu mengakses berita dengan mudahnya, keuangan yang saat itu tidaklah begitu memadai bahkan seringkali harus berpuasa beberapa hari karena ketiadaan makanan, dan bayang-bayang ketakutan yang masih saya ingat betul sampai saat ini.

Saya tertarik pada Seri Buku Tempo Prahara-Prahara Orde Baru: Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang yang satu ini begitu tahu bahwa salah satu orang hilang di masa Reformasi adalah seorang seniman, sastrawan jalanan, dan sekaligus aktivis buruh yang tidak mengejar kemapanan dan nama besar. Aktiitas buruh yang boleh dikata menurut saya adalah orang kecil yang berjuang untuk rakyat, untuk sesamanya manusia. Saya pernah mendengar puisinya dibacakan di orasi Peringatan Reformasi di kampus dan langsung tertarik. Setelah itu, saya mencoba mencari tahu mengenai Wiji Thukul, tapi sayangnya karyanya sulit sekali ditemukan. Mendapatkan buku ini pun termasuk sulit. Baru setelah bekerja di Yogyakarta, tak sengaja akhirnya saya menemukan buku ini toko buku SAP Social Ageny Putra Jl. Glagahsari 84 tanggal 21 Januari 2017 yang lalu saat pulang dari kesibukan mengajar les privat bersama istri saya R.r. Ratri Hapsari.

Perihal isi buku ini tidak hanya bercerita kronologis tentang kehidupan Wiji Thukul, tapi juga membahas tentang para aktivis yang sampai sekarang tidak diketahui nasibnya akibat peristiwa Mei 1998. Wiji Thukul menjadi sorotan karena dia merupakan aktivis publik dan sastrawan yang cukup dikenal luas dalam usahanya mengkritik pemerintahan Orde Baru. Tidak seperti yang lain, waktu menghilangnya pun masih simpang siur karena Thukul telah menjadi pelarian sejak tahun 1996. Hingga saat ini perkiraan diculiknya Thukul masih sekitar akhir tahun 1997 hingga awal 1998.

Thukul merupakan anak pengayuh becak dan penjual ayam bumbu, putus sekolah di SMA dan memutuskan untuk bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Tapi sejak kecil Thukul memiliki minat berkesenian dan hingga dewasa, puisi dan panggung tidak bisa lepas dari dirinya. Mungkin 'dosa' Thukul hanya satu, yaitu memilih untuk bergabung dengan politik, tapi mungkin bagi Thukul ikut melawan di dalam inner-circle terasa lebih efektif daripada berontak di luar.

Membaca buku ini membuat saya memahami sedikit lebih banyak peristiwa-peristiwa di sekitar Reformasi, meski belum sepenuhnya. Bom Tanah Tinggi ditengarai merupakan tabuhan genderang perang Reformasi, karena setelah itu orang-orang makin banyak menghilang. Sampai sekarang anggota keluarga tetap rajin melakukan acara Kamisan, tanpa kenal lelah meminta bantuan mencari tahu nasib orang-orang tersayang mereka.

Meski tidak sepersonal liputan biografi seri Tempo yang lainnya, buku ini menjadi seri Tempo favorit saya. Mungkin justru karena apa yang dituliskan di dalamnya bukan seperti cerita dari masa yang tidak bisa saya bayangkan, tapi karena saya lebih mengingat bukti-bukti dari kejadian ini secara lebih nyata, hingga peristiwa-peristiwa dalam buku ini lebih dapat saya kaitkan dengan pengalaman pribadi saya.

Kalau banyak orang mengenal Wiji Thukul sebagai seorang yang memperjuangan kebebasan politik, sosial, seni, dan kemanusiaan di zaman Orde Baru, mungkin ada satu sisi dari lelaki cadel yang tak pernah bisa melafalkan huruf “r” dengan sempurna, yang rambutnya lusuh, yang pakaiannya kumal, dan yang celananya selalu disebutkan orang seperti tak mengenal sabun dan setrika, yang selalu luput diberitakan media. Ia mungkin adalah seorang yang sangat religius.

Dan mungkin saja kekuatan, kegigihan, dan kebertahanannya dalam masa-masa pelarian, persembunyiannya, dan penderitaannya itu ia dapatkan tak lain dari kedekatan hubungan religi dengan Tuhannya.

"Menulis puisi itu tak bedanya dengan beribadah di gereja, ada pengalaman religius." (hal 95-96)
-Wiji Thukul

Dalam suatu wawancara di acara Ruang Puisi yang diasuhnya, Tinuk menanyakan sikap kepenyairan Thukul tersebut. Thukul menjawab bahwa menulis puisi baginya tak ada bedanya dengan pergi ke gereja atau ke mesjid dalam rangka mendekati Tuhannya. "Bagi Thukul, menulis puisi adalah doa dan pengalaman religi," katanya. (hal 104)

Seri Buku Tempo Prahara-Prahara Orde Baru: Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang, Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan Majalah Tempo, 2013, Cetakan Keempat, Oktober 2016.

Buat saya pribadi ini adalah buku yang dengan sangat baik telah diterbitkan oleh PenerbitKPG. Saya menyukai dan menikmati membaca tiap halamannya sampai dengan selesai. Betul-betul sebuah buku dan hasil kolaborasi kepenulisan yang dinarasikan dengan sangat baik sekali seolah-olah sambil membaca saya jadi ikut mengikuti gerak langkah dan kisah Wiji Thukul semasa hidupnya. Bravo Penerbit KPG!

Sebagai penutup resensi singkat saya tentang buku Seri Buku Tempo Prahara-Prahara Orde Baru: Wiji Thukul Teka-teki Orang Hilang, sepertinya buku ini SANGAT LAYAK untuk Anda baca meski tentu tidak semenarik novel-novel yang meruyak dengan suguhan mimpi atau buku-buku nonfiksi lainnya dengan suguhan kegemilangan kisah hidup para tokoh di dalamnya. Harus saya akui ini adalah buku yang muram. Tapi setidaknya buku ini menyuguhkan satu realitas hidup pada masa Orde Baru. Satu realitas kejujuran dan sekumpulan testimonial kebenaran. Bahwa hidup yang berbeda, hidup yang jujur dan ingin berbagi kebaikan bisa saja membawa malapetaka. Bahwa betapa kemudian Anda sadar bahwa kita wajib membuka mata dan menelurkan generasi yang bermanfaat bagi negeri ini, Indonesia.

Mari bersama menolak lupa!

#BukuKPGPilihanku2016 #BawaBuku

CC: Penerbit KPG Penerbit Kpg Bernadet Esti

---
Terima kasih Penerbit KPG untuk kesempatan dan apresiasinya sebagai pemenang utama lomba menulis #BukuKPGPilihanku2016 data diri dan alamat untuk pengiriman hadiah paket buku "Kuasa Ramalan" karya Peter Carey sudah sy kirimkan via DM. 
(https://www.facebook.com/KepustakaanPopulerGramedia/posts/1221226387926362)

Monday, 30 January 2017 at 18:20
---
Terima kasih Penerbit KPG untuk apresiasi dan kesempatannya sebagai pemenang utama lomba menulis. Telah diterima dengan baik 1 (satu) paket buku-buku Peter Carey Jilid 1-3 kemarin siang, Jumat, 03 Februari 2017. 

#BukuKPGPilihanku2016 #BawaBuku 

http://suitincase.blogspot.co.id/2017/01/wiji-thukul-dan-saya.html


  • ---
    Matur nuwun terima kasih mas Wahyu Susilo (adik kandung Wiji Thukul) untuk kesempatan dan apresiasinya dalam sayembara menulis #ThukulDiBioskop #IstirahatlahKataKata boleh memilih sy untuk menerima hadiah ini. Telah diterima dengan baik 1 (satu) paket buku Nyanyian Akar Rumput Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Thukul. Gusti mberkahi mas Wahyu dan keluarga.

    http://suitincase.blogspot.co.id/2017/01/wiji-thukul-dan-saya.html

    Wednesday, 8 February 2017 at 11:45

    Wednesday, 8 February 2017 at 11:45

    Thursday, January 19, 2017

    Tesis Al-Habib Muhammad Rizieq Bin Husein Syihab (Habieb Rizieq Shihab)


    Silahkan bagi kawan-kawan yang berminat untuk mendownload FREE alias gratis tesis Al-Habib Muhammad Rizieq Bin Husein Syihab (Habieb Rizieq Shihab) dengan judul "Pengaruh Pancasila Terhadap Penerapan Syariah Islam di Indonesia" dengan ukuran 23,7 MB dan total 329 halaman.


    Tesis pendiri Front Pembela Islam di University of Malaya, Malaysia 2012, ini bertujuan menguji hipotesis tentang benar adanya ”keyakinan” yang menyatakan bahwa di Indonesia, yang berdasarkan Pancasila, mustahil dilaksanakan Syariah Islam. Kajian dalam tesis ini seputar penerapan syariah Islam di Indonesia secara konstitusional (pelembagaan hukum negara) sejak 1945 sampai 2007.

    Matur nuwun mas Cahya Purusatama (Yogyakarta) yang menshare link unduhan pertama kali. Bisa untuk bahan pembelajaran akademis dan perenungan humanis ini.

    Sistem Persamaan Liniar Dua Variabel (SPLDV) Matematika SMP Kelas 8 Semester 2

    Contoh soal pengembangan konsep Sistem Persamaan Liniar Dua Variabel (SPLDV) untuk Matematika SMP Kelas 8 Semester 2


    Apabila x dan y memenuhi SPDV, ax + by = c dan -ax + by = 2c, tunjukkan dengan metode eliminasi dan metode substitusi bahwa 3x = -b
                                                              y      a

    Jawab:
    Persamaan ax + by = c selanjutnya akan kita sebut sebagai Persamaan (1) dan -ax + by = 2c sebagai Persamaan (2) maka menurut


    Metode Eliminasi:

    Pertama-tama kalikan Persamaan (1) dengan 2 untuk semua suku-sukunya baik ax + by untuk suku pada ruas kiri dan suku c pada ruas kanan
    ax   + by   = c   x2   --- Persamaan (1)
    2ax + 2by = 2c

    Kemudian kurangkan hasil perkalian Persamaan (1) tersebut dengan Persamaan (2)
    2ax + 2by = 2c
    -ax  + by  = 2c  _    --- Persamaan (2)
    3ax + by   = 0

    Lalu pindahkan suku by dari ruas kiri menjadi -by pada ruas kanan dengan mengganti tanda + menjadi -
    3ax + by   = 0
    3ax  = -by

    Kemudian bagilah suku-suku pada kedua ruas kiri dan kanan dengan ay sehingga didapatkan
    3ax  = -by  : ay
    3x    = -b
     y         a

      
    Metode Substitusi:

    -ax + by = 2c --- Persamaan (1)
     ax + by =   c --- Persamaan (2)

    Pertama-tama substitusikan nilai c = ax + by dari Persamaan (2) ke dalam Persamaan (1)
    -ax + by  = 2c
    -ax + by  = 2(ax + by)

    Kemudian bukalah tanda tutup kurung untuk suku-suku ax + by pada ruas kanan dengan mengalikan 2
    -ax + by  = 2(ax + by)
    -ax + by  = 2ax + 2by

    Lalu pindahkan suku-suku yang sejenis 2ax dari ruas kanan menjadi -2ax pada ruas kiri, dan by pada ruas kiri menjadi -by pada ruas kanan dengan mengganti tanda + menjadi - begitu pula sebaliknya
    -ax + by  = 2ax + 2by
    -ax - 2ax = 2by - by
    -3ax = by

    Kemudian kalikan -1 untuk semua suku-sukunya baik untuk suku -3ax pada ruas kiri dan suku by pada ruas kanan
    -3ax = by   x-1
    3ax = -by

    Kemudian bagilah suku-suku pada kedua ruas kiri dan kanan dengan ay sehingga didapatkan
    3ax  = -by  : ay
    3x    = -b
     y         a

    Friday, January 13, 2017

    Crossroad of Cultures: Bamiyan and Borobudur

    Simpang Budaya: Bamiyan dan Borobudur

    INDONESIA-AFGANISTAN

    GALERIA MALL YOGYAKARTA: 10-16 Januari 2017

    DI BALIK PAMERAN
    Pameran ini diselenggarakan dalam kerangka kerja proyek UNESCO, yang berjudul "Mempromosikan Dialog Antarbudaya Melalui Pelatihan Pembangunan Kapasitas Untuk Pengembangan Museum di Situs-situs UNESSCO World Heritage di Indonesia dan Afganistan" ini didanai oleh Pemerintah Indonesia.

    Pameran ini merupakan buah kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Afganistan, dan UNESCO.

    FINANCED BY
    Indonesian Fund-in-Trust
    United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)

    ORGANIZED BY
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Konservasi Borobudur
    United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)

    IN COOPERATION WITH
    Ministry of Information and Culture, Islamic Republic of Afganistan
    Museum Nasional Indonesia
    PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko

    #ilovebamiyan #preserveheritage #letspreserveourheritage #iloveborobudur
























    Tuesday, January 10, 2017

    Bukan Menguasai Tapi Berbagi

    Sumber foto: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10154831367042278&set=a.10151807947622278.1073741832.663797277&type=3&theater

    Pemikiran dan tindakan jika hal-hal tersebut bisa dijalankan amatlah menarik dan pastinya akan bermanfaat banyak bagi umat. Kita sudah tahu sama tahu sekarang semua serba kapitalistik dalam wujud dan atas nama syariah, semua untuk rakyat, dan banyak jargon lainnya. Pertanyaanya sekarang adalah, apakah semua hal positif di atas bisa dan akan sukses dijalankan? Kita pun harus maklum bersama amat sulit bagi rakyat untuk 'menguasai' ekonomi sejak dahulu dan kini. Kemudian, bila pun dapat terjadi, apakah nanti tidak melahirkan sebuah sistem penguasaan kapitalistik 'gaya baru' atas nama rakyat yang bisa jadi dipegang hanya oleh beberapa gelintir orang saja di tingkat atasnya? Memilki impian dan harapan itu baik akan tetapi lebih baik jika kita juga harus ingat akan apa-apa yang bisa kita kerjakan sekarang. Apabila kita masih memiliki gaya hidup hedonis dan kapitalistik pula apa iya kita bisa sepenuhnya memahami apa yang terbaik bagi umat? Hemat saya selama masih ada hasrat keinginan untuk menguasai apapun juga maka akan sulit untuk melepaskan diri dari segala sesuatu yang bersifat kapitalistik tadi. Mungkin tidak bernama langsung kapitalistik akan tetapi wujud dan upaya bisa jadi sama. Lihatlah sejarah dunia, mulai dari sosialis sampai dengan demokrasi. Pada ujungnya sampai sekarang pun tetap kapitalistik yang berkuasa. Perlu kemauan super kuat bukan untuk menguasai namun berbagi dan saling mengayomi. Mudah-mudahan ini bisa terjadi. Entah suatu saat kapan nanti.

    ---
    Follow · 8 January ·

    Saat para aktivis Islam moderat masih gemar kongkow-kongkow di kafe-kafe; saat para aktivis Islam liberal masih sibuk berdiskusi di hotel-hotel mewah dan ruangan ber-AC; saat para aktivis kiri-liberal sibuk berdebat teori dan memilih kawan dan lawan... para aktivis "alumni" 212 ini menggebrak dengan agenda progresif: membuat koperasi umat, dengan cita-cita (konon dalam selebaran mereka) "membuat pasar umat untuk menumbangkan pasar yang dibangun kapitalis" dan mewujudkan "masyarakat Muslim mandiri dan sejahtera".

    Kali ini, penulis ingin mengapresiasi mereka. Ini baru langkah politik, setelah aksi 212 "mlungkret" dalam persuasi rezim dan aparat.

    Langkah ekonomi-politik, tepatnya, karena akan memberi warna baru bagi pasar usaha umat yang dibelenggu oleh bisnis kartel korporasi besar (Alfamart, Indomaret, dst.).

    Mereka menyebutnya "koperasi syariah", bukan "bank syariah" yang kapitalistik. Ini pergeseran menarik. Dengan 5% saham milik PT Dua Satu Dua, 95% milik umat/masyarakat luas. Iuran pokok 212 ribu rupiah, dengan maksimal modal per orang 15 juta. Total modal awal konon 21 milyar 200 juta, untuk merintis sekian minimarket dan lini usaha.

    Apa yang lebih progresif daripada merebut pasar kapitalis dan men-demokratiskan modal kepada umat/rakyat?

    Kali ini, daripada masih berkutat pada prasangka satu sama lain, seruan Al-Qur'an agar umat/rakyat berlomba-lomba dalam kebaikan ("fastabiqul khairat") layak disambut dengan tindakan konkret. Tak terbayang bila pom-pom bensin dimiliki kolektif oleh umat. Atau dealer2 sepeda motor. Kenaikan harga BBM kelak tak akan jadi masalah, malah berkah, jika sektor-sektor ini mampu dikuasai kolektif oleh umat/rakyat.

    Sunday, January 1, 2017

    AHOK DAN HADIAH KELAHIRAN

    https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10154891484049339&set=a.10154607988099339.1073741951.535464338&type=3&theater

    Share dari seorang kawan penulis buku biografi Ahok, AHOK : Wawancara Eksklusif Dengan Ahok, Keluarga, Sahabat, dan Warga, mbak Meicky Shoreamanis Panggabean:

    Ahok,”Gue masih ada pabrik,tanah….Bisa dijual,kok.Itu mungkin cara Tuhan supaya gue tetap bisa nolong orang”.
    _______________
    Ini hadiah Ahok untuk teman gue yang baru melahirkan.

    Jadi begini….

    Pagi,sidang I.Malam,gala dinner di Hotel Luwansa. Gue datang jadi kesimpulannya cerita berikut berasal dari saksi mata,bukan “katanya”.

    Ahok cerita selama cuti beliau udah abis 200 juta untuk beli bunga,kasih kado,dll.’Kan nggak bisa pake uang operasional karena cuti.Kata Bu Vero,”Lelang kemeja aja deh”.Ahok bilang gak bisa,nanti ditelusuri KPK dan bla bla bla.Macam-macamlah.

    Sehari sebelum gala dinner berlangsung,dana yang terkumpul oleh panitia 1,5 miliar.Harga tiket untuk duduk 1 meja dengan Ahok adalah 40 juta per kursi. Di hari H, sumbangan jelas bertambah karena ada yang menyumbang lagi pake mesin EDC dan tiap 50 ribu dari buku gue yang terjual juga disumbangkan ke rekening BaDja.Secara keseluruhan, pengumpulan dana untuk kampanye saat itu sudah mencapai lebih dari 40 miliar.

    Di tengah melimpahnya sumbangan untuk kampanye,uang pribadi Ahok semakin tergerus.

    Lalu Ahok ngomong begini,”Tapi ya nggak apa-apa.Gue masih ada pabrik,tanah….Bisa dijual,kok. Kalo emang perlu dijual ya jual aja. Itu mungkin cara Tuhan supaya gue tetap bisa nolong orang”.

    Lu baca dengan cermat kata-kata kuncinya:
    Jual tanah.Jual pabrik.Cara Tuhan.Untuk nolongin orang.

    Jual tanah.Jual pabrik.Cara Tuhan.Untuk biaya operasi. Ini umum.

    Jual tanah.Jual pabrik.Cara Tuhan.Untuk ekspansi bisnis.Ini juga umum.

    Jual tanah.Jual pabrik.Cara Tuhan.Untuk diversifikasi investasi.Umum juga kali ya.

    Tapi...Jual tanah.Jual pabrik.Cara Tuhan.Untuk nolongin orang ?

    Ahok benar-benar sosok yang udah selesai dengan dirinya sendiri.

    Pagi,beliau disidang,dimaki, diancam untuk dibunuh.Malam,di hari yang sama,Ahok bicara lebih dari 30 menit sambil ngelucu, nggak menyinggung sidang satu kali pun kecuali saat ditanya. Isi omongannya banyak tentang hasil kerja serta cita-cita beliau untuk mewujudkan keadilan sosial diselingi dengan beberapa cerita ringan yang bikin ngakak.

    Lalu keluarlah kata-kata tersebut:
    Jual tanah.Jual pabrik.Cara Tuhan.Untuk nolongin orang.

    Kalo lu orang normal,lu pasti meleleh.Waktu dengar itu gue pengen banget meluk Ahok dan istrinya.

    Apa lu bilang?Gue lebay?

    Ya lu bayangin aja Ahok jual hartanya buat kasih hadiah ke ibu elu yang lagi ulang tahun atau beli bunga untuk kakak lu yang akan menikah.

    Masih berasa gue lebay?

    Ke psikiater.

    Manusia yang hanya bisa melihat pakai mata dan tidak dengan hati butuh pertolongan profesional.

    Terima kasih banyak ya,Pak Basuki Tjahaja Purnama.Sebuah kehormatan besar bagi saya bisa membuat buku tentang Bapak dan bisa ketemu beberapa kali.

    Selamat tahun baru,Pak Gubernur tersayang.Semoga Bapak sekeluarga sehat-sehat dan panjang umur.

    Courage,my dearest Mr.Governor.You'll never walk alone.

    Sumber foto dan berita: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10154891484049339&set=a.10154607988099339.1073741951.535464338&type=3&theater