tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] Only the ones who have accepted everything, can get the right to know the truth... - Yogyakarta, 27 April 2017.

Tuesday, January 10, 2017

Bukan Menguasai Tapi Berbagi

Sumber foto: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10154831367042278&set=a.10151807947622278.1073741832.663797277&type=3&theater

Pemikiran dan tindakan jika hal-hal tersebut bisa dijalankan amatlah menarik dan pastinya akan bermanfaat banyak bagi umat. Kita sudah tahu sama tahu sekarang semua serba kapitalistik dalam wujud dan atas nama syariah, semua untuk rakyat, dan banyak jargon lainnya. Pertanyaanya sekarang adalah, apakah semua hal positif di atas bisa dan akan sukses dijalankan? Kita pun harus maklum bersama amat sulit bagi rakyat untuk 'menguasai' ekonomi sejak dahulu dan kini. Kemudian, bila pun dapat terjadi, apakah nanti tidak melahirkan sebuah sistem penguasaan kapitalistik 'gaya baru' atas nama rakyat yang bisa jadi dipegang hanya oleh beberapa gelintir orang saja di tingkat atasnya? Memilki impian dan harapan itu baik akan tetapi lebih baik jika kita juga harus ingat akan apa-apa yang bisa kita kerjakan sekarang. Apabila kita masih memiliki gaya hidup hedonis dan kapitalistik pula apa iya kita bisa sepenuhnya memahami apa yang terbaik bagi umat? Hemat saya selama masih ada hasrat keinginan untuk menguasai apapun juga maka akan sulit untuk melepaskan diri dari segala sesuatu yang bersifat kapitalistik tadi. Mungkin tidak bernama langsung kapitalistik akan tetapi wujud dan upaya bisa jadi sama. Lihatlah sejarah dunia, mulai dari sosialis sampai dengan demokrasi. Pada ujungnya sampai sekarang pun tetap kapitalistik yang berkuasa. Perlu kemauan super kuat bukan untuk menguasai namun berbagi dan saling mengayomi. Mudah-mudahan ini bisa terjadi. Entah suatu saat kapan nanti.

---
Follow · 8 January ·

Saat para aktivis Islam moderat masih gemar kongkow-kongkow di kafe-kafe; saat para aktivis Islam liberal masih sibuk berdiskusi di hotel-hotel mewah dan ruangan ber-AC; saat para aktivis kiri-liberal sibuk berdebat teori dan memilih kawan dan lawan... para aktivis "alumni" 212 ini menggebrak dengan agenda progresif: membuat koperasi umat, dengan cita-cita (konon dalam selebaran mereka) "membuat pasar umat untuk menumbangkan pasar yang dibangun kapitalis" dan mewujudkan "masyarakat Muslim mandiri dan sejahtera".

Kali ini, penulis ingin mengapresiasi mereka. Ini baru langkah politik, setelah aksi 212 "mlungkret" dalam persuasi rezim dan aparat.

Langkah ekonomi-politik, tepatnya, karena akan memberi warna baru bagi pasar usaha umat yang dibelenggu oleh bisnis kartel korporasi besar (Alfamart, Indomaret, dst.).

Mereka menyebutnya "koperasi syariah", bukan "bank syariah" yang kapitalistik. Ini pergeseran menarik. Dengan 5% saham milik PT Dua Satu Dua, 95% milik umat/masyarakat luas. Iuran pokok 212 ribu rupiah, dengan maksimal modal per orang 15 juta. Total modal awal konon 21 milyar 200 juta, untuk merintis sekian minimarket dan lini usaha.

Apa yang lebih progresif daripada merebut pasar kapitalis dan men-demokratiskan modal kepada umat/rakyat?

Kali ini, daripada masih berkutat pada prasangka satu sama lain, seruan Al-Qur'an agar umat/rakyat berlomba-lomba dalam kebaikan ("fastabiqul khairat") layak disambut dengan tindakan konkret. Tak terbayang bila pom-pom bensin dimiliki kolektif oleh umat. Atau dealer2 sepeda motor. Kenaikan harga BBM kelak tak akan jadi masalah, malah berkah, jika sektor-sektor ini mampu dikuasai kolektif oleh umat/rakyat.

No comments:

Post a Comment