tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Saturday, February 25, 2017

Yang perlu Anda ketahui tentang VX, 'zat pemusnah massal' yang membunuh Kim Jong-nam

Rekaman CCTV memperlihatkan seorang perempuan membekap Kim Jong-nam dari belakang -diyakini mengoleskan VX yang membunuh kakak pemimpin Korea Utara itu.

Sesudah hampir dua pekan pembunuhan Kim Jong-nam, polisi Malaysia mengumumkan temuan bahwa yang digunakan untuk membunuh kakak pemimpin Korea Utara itu adalah VX, yang tergolong zat pemusnah massal yang dilarang PBB.

Inilah sembilan hal yang perlu kita ketahui tentang zat maut itu.
  • Merupakan zat yang jernih, berwana jingga, cairan berminyak yang tak berasa dan tak berbau.
  • Merupakan yang paling mematikan di antara seluruh zat kimia beracun yang digunakan sebagai senjata kimia, 100 kali lebih mematikan ketimbang zat sarin yang pernah digunakan dalam Serangan Tokyo 1995, yang membunuh 12 orang melukai 50 orang dan berdampak terhadap ribuan orang. Satu tetes VX pada kulit kita bisa berakibat fatal. Zat ini bisa membunuh manusia dalam hitungan menit.
  • Cara kerjanya adalah merembes masuk tubuh lewat kulit, dan mengacaukan sistem saraf.
  • Bisa disebarkan dengan semprotan atau uap, atau dengan mencampurkannya ke dalam air, makanan atau produk pertanian.
  • VX bisa diserab tubuh dengan menghisap, menelan, sentuhan kulit, atau sentuhan pada mata.
  • Pakaian, atau kain bisa 'membawa' VX selama sekitar 30 menit sesudah terkena uapnya, dan bisa menjalar pada orang lain.
  • Terkena zat VX dalam dosis kecil atau sedang dengan menghisap, menelan, atau menyerap lewat kulit, bisa menyebabkan gejala seperti hidung meler, mata perih, pandangan buram, air liur tak terkendali, keringat berlebihan, dada sesak, napas megap-megap, beser -sering buang air kecil, gelisah, mengantuk, lesu, mual, atau muntah-muntah.
  • Nama kimianya yang resmi adalah S-2 Diisoprophylaminoethyl methylphosphonothiolate dan dilarang PBB melalui Konvensi tentang Senjata Kimia tahun 1993.
  • Saddam Hussein pernah pula dituduh menggunakan VX dalam melakukan pembunuhan massal terhadap warga sipil Kurdi dalam serangan di Halabja tahun 1988. 
Sumber: CDC, The Wednesday Report

Kim meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit tak lama setelah pertemuan dengan dua perempuan di bandara Kuala Lumpur, 13 Februari itu. Salah satunya adalah Siti Aisyah,w arga Indonesia.
Kedua perempuan dituduh menyergapnya, dan mengoleskan zat beracun ke wajahnya dengan kain yang sudah dilumuri zat yang diyakini adalah VX itu.


Di rekaman CCTV tampak Kim Jong-nam melapor kepada petugas bandara Kuala Lumpur sesudah diolesi zat kimia oleh dua perempuan yang tak dikenalnya.

Thursday, February 23, 2017

Keanehan Pesta Buku Bandung 2017



Komunitas Bambu akan ikut Pesta Buku Bandung 2-8 Maret ini yang diselanggarakan oleh IKAPI JABAR dan Pemprov JABAR didukung Pemkot Bandung. 

Sudah merencanakan pula bikin acara peluncuran dan diskusi dua buku baru: Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia karya Peter Carey. Juga buku Angkot dan Bus Minangkabau: Budaya Populer di Sumatera Barat karya David Reeve. 

Tetapi, ujug-ujug panitia yang sebelumnya sudah oke, sudah setuju mufakat malah membatalkan secara sepihak. Alasannya panitia menetapkan acara bertema "All About Bandung". Padahal soal tema ini tidak pernah dibicarakan sebelumnya oleh panitia. Tema itulah yang kemudian dijadikan alasan panitia menganulir persetujuan dan memutuskan bahwa buku David Reeve tentang angkot dan budaya pop itu tidak bisa diluncurkan juga didiskusikan karena tidak sesuai dengan persoalan "All About Bandung".

Aneh sebab Bandung kota yang sistem transportasinya banyak mengandalkan angkot. Bahkan kalau tidak salah ada "angkot day", hari menumpang angkot sebagai program pemerintah kota Bandung. Malahan pak Walikota Ridwan Kamil juga pernah di hari berangkot itu menjadi supir angkot rute Dago--Kebon Kelapa. Pernah pula bermasalah dengan supir angkot. Ya, Bandung hidupnya sebagai kota punya banyak asam garam dengan angkot. Angkot sudah menjadi bagian budaya berkota Bandung. Adalah benar buku David Reeve tentang angkot di kota Padang, tetapi bukunya bisa dimanfaatkan sebagai sumber komparasi bagaimana masyarakat terikat dengan angkot dan berkreasi atas transportasi publik kotanya sehingga dicintai.

Lebih aneh lagi adalah buku Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia karya Peter Carey. Buku ini ditolak juga dengan alasan yang sangat aneh: kuatir menimbulkan keresahan. Takut menganggu ketertiban. 

Astaga, setau saya Bandung kota HAM dan korupsi adalah pelanggaran HAM, bahkan dinyatakan beberapa pengamat pelanggaran HAM berat. Korupsi adalah musuh yang paling berbahaya bagi keberlanjutan bidup berbangsa. Terlebih lagi Bandung termasuk kota yang paling serius pemerintahnya memerangi korupsi. Pemkot Bandung memanfaatkan teknologi aplikasi yang dipujikan KPK. Bandung juga membuat 'KPK' untuk lingkup kota kembang itu.

Saya dkk Komunitas Bambu berusaha meyakinkan hal itu semua kepada panitia Pesta Buku Bandung, tetapi sia-sia. Akhirnya karena buntu, maka kami meminta semua alasan penolakan ditulis dalam surat resmi karena kami pun sebagai penerbit mengikuti Pesta Buku Bandung 2017 ini dengan prosedur resmi. Tetapi, dalam surat resmi yang Komunitas Bambu terima semua keterangan yang diungkapkan lisan oleh panitia tidak nongol. Hanya disebut "sangat disayangkan tema Pesta Buku Bandung 2017 "All About Bandung", sehingga kami tidak menyiapkan akomodasi untuk acara". Aneh sekali alasannya akomodasi, sedang Komunitas Bambu tidak minta akomodasi. Sebagai peserta Pesta Buku Bandung kami hanya minta waktu dan tempat untuk peluncuran juga bedah buku yang itu sudah disetujui. Bukan minta akomodasi.

Akhirnya yang bikin sedih banget adalah salah satu di antara penulis buku itu, David Reeve sudah pesan tiket Australia-Jakarta juga booking hotel di Bandung untuk tanggal acara 5 Maret. 

Bagaimana menanggapi keanehan ini? Mengapa panitia Pesta Buku Bandung 2017 membuat kota Bandung dan acara yang didukung oleh Pemkot Bandung juga Pemprov Jabar menjadi begitu plintat plintet dan cupet?

******************

Lampiran:

Kronologi Pembatalan Launching Buku "Angkot dan Bus: Budaya Populer di Minangkabau" karya David Reeve dan buku "Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia" karya Peter Carey.

1. 13 Januari 2017, Pihak Marketing Komunitas Bambu mendapat undangan dari panitia Pesta Buku Bandung.

2. 13 Januari-18 Januari 2017, Komunitas Bambu sudah mengonfirmasi perihal syarat dan ketentuan Pesta Buku Bandung, termasuk tema bahwa pihak panitia menyatakan tidak ada syarat khusus, termasuk tema buku yang dipamerkan dan bila ada pengisian acara. 

3. 19 Januari 2017, Komunitas Bambu mendapat stand nomor 62. 

4. 26 Januari 2017, Komunitas Bambu membayar uang muka stand. Dengan demikian, Komunitas Bambu sudah terdaftar menjadi bagian Pesta Buku Bandung dan berhak ikut dan mengadakan acara diskusi yang temanya dibebaskan oleh panitia. 

5. 23 Januari 2017, Admin Keungan, Marketing, dan pinpinan Komunitas Bambu rapat Pesta Buku Bangdung 2017. Bedasarkan hasil rapat, marketing diminta menanyakan mengenai ketersediaan tempat juga waktu untuk acara “Launching dan Diskusi buku Angkot dan Bus: Budaya Pop di Minangkabau" serta buku "Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia" kepada panitia. Hasil dari pengajuan tersebut, Komunitas Bambu diperbolehkan mengadakan diskusi dan launching di acara Pesta Buku Bandung secara free. Pihak panitia tidak mempermasalahkan mengenai tema buku yang diajukan oleh Komunitas Bambu. Dan untuk itulah kami mengajukan untuk mengadakan launching buku pada 5 Maret 2017. 

Sejak saat itu, hampir setiap hari Komunitas Bambu mengonfirmasi panitia. Termasuk, kepastian tempat untuk pameran dan ruang untuk melakukan acara diskusi dan launching, jadwal dan konten acara. 

6. 1-3 Februari, Komunitas Bambu mengonfirmasi ulang perihal detail acara kepada panitia Book Fair. Panitia menjawab bahwa mereka baru akan melakukan Technical Meeting pada 16 Februari 2017. Panitia akan menginformasikan setelahnya.

6. 13 Februari 2017, Marketing Komunitas Bambu kembali menghubungi panitia dan mengonfirmasi untuk tempat diskusi dan launching. Namun, panitia justru mengatakan kalau Komunitas Bambu terlambat mendaftarkan acara. Hal itu membuat kami kaget sebab Komunitas Bambu sudah menanyakan hal tersebut jauh-jauh waktu. Kami protes dan mengupayakan agar yang sudah direncanakan tidak gagal. Setelah berkali bicara dengan panitia acara, akhirnya Komunitas Bambu berhasil mendapat slot ruang untuk acara diskusi dan launching. 

8. 14 Februari 2017, Komunitas Bambu kembali menghubungi panitia. Namun, kami justru diminta memberi laporan mengenai rencana acara dan daftar buku untuk “direvisi” panitia, yaitu Bu Ameria. 

8. 14 Februari 2107, Komunitas Bambu kembali menanyakan perihal kepastian ruang dan waktu. Namun, dua acara yang kami ajukan justru ditolak. Alasannya, tema yang kami usung tidak sesuai dengan tema yang dari panitia dan isu sensitif untuk buku Korupsi. Kami tidak tinggal diam, dan meminta kejelasan dari panitia acara. Bahkan pimpinan kami JJ Rizal menelpon langsung ibu Ameria. Ia meminta penjelasan sekaligus menjelaskan kedudukan buku juga penulis yang sudah dari luar negeri memesan tiket serta hotel di Bandung.

9. 16 Februari 2017, kami berkali-kali meminta surat pernyataan dan alasan resmi dari panitia. Sebab, kami merasa sangat dirugikan dan surat itu perlu untuk menjelaskan ke penulis kedua.buku. 

10. 17 Februari 2017, panitia mengirim surat. Namun, karena alasan penolakan yang diungkapkan lisan oleh panitia tidak diungkapkan dalam surat, kami meminta revisi dari panitia. 

12. 21 Februari 2017, panitia baru mengirim balasannya dan tanpa ada revisi. Panitia tetap tidak mengubah isi suratnya. 

Demikian kronologi sekaligus bentuk pertanggungjawaban kami.

Komunitas Bambu

Tuesday, February 21, 2017

Promo Pre Order buku: "Menuju Merdeka 100%: Senarai Karya Penting Tan Malaka"

https://www.facebook.com/FPplanetbookstoreonline/photos/a.344368052610482.1073741828.344348795945741/393958194318134/?type=3&theater

Suatu malam pada sebuah pertemuan yang dihadiri Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan K.H. Agus Salim—Tan Malaka yang datang tanpa diundang tiba-tiba berkata lantang: 

“Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan? Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. 

Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku… Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen...!”

Nama Tan Malaka seolah terlupakan dari sejarah perjuangan Indonesia. Padahal, Prof. Muhammad Yamin menyebutnya sebagai “Bapak Republik Indonesia”. Sedang Jenderal A.H. Nasution mengatakan, “… nama Tan Malaka juga harus tercatat sebagai tokoh militer Indonesia untuk selama-lamanya.” 

Tan Malaka adalah salah seorang pemikir brilian yang bercita-cita mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Buku ini merupakan kumpulan karya penting Tan Malaka, yang terdiri dari: Aksi Massa, Politik, Rencana Ekonomi Berjuang, Muslihat, dan Gerpolek, sekaligus menjadi pernyataan sikapnya tentang politik dan ekonomi yang bebas dan merdeka, yang dapat menggugah kesadaran kita akan arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu Merdeka 100%!

..............

Dalam rangka memperingati hari kematian Tan Malaka, Planet Bookstore Online membuka Promo Pre Order buku:
"Menuju Merdeka 100%: Senarai Karya Penting Tan Malaka"

HARGA:
Rp 95.000,- diskon 25% jadi Rp 71.250,- (hemat 23.750)

*hanya selama masa pre order (21 Feb 2017 s/d 12 Maret 2017)

.............

Apabila berminat silahkan langsung menghubungi kami melalui salah satu akun berikut ini:
📟 BBM D422112B
📱 SMS / WA 085851494535
📲 LINE mutiara_buku

Pembelian juga dapat langsung ke kantor Media Pressindo Group:
🏢 Jl.Cempaka Putih No.8 Deresan CT X, Gejayan, Yogyakarta, 55283

Pembayaran dapat melalui:
🏧 BRI/BCA/MANDIRI

Cek juga katalog dan deskripsi lengkap buku lainnya di website
🌍 planet-bookstoredotcom.

Happy shopping! * Open Reseller / Dropshiper


Sumber: Planet Bookstore Online
https://www.facebook.com/FPplanetbookstoreonline/photos/a.344368052610482.1073741828.344348795945741/393958194318134/?type=3&theater

Monday, February 20, 2017

Mengenal Happy Science, Sekte yang Tengah Viral di Jepang


Happy Science. Ketika mendengarnya, kalian pasti membayangkan kelas atau klub belajar sains untuk anak SD yang menyenangkan dipandu oleh tokoh utama semacam Barney atau sejenisnya yang membuat belajar yang mulanya membosankan menjadi menyenangkan dan pelajaran akan lebih mudah diserap.

Tapi bukan. Happy Science justru merupakan sebuah sekte agama.

Ryuho Okawa adalah seorang pengusaha asal Jepang yang berkarir di bidang keuangaan di New York. Namun, ia berhenti menggeluti karirnya itu dan memilih membuat faham baru yang dia sebut sebagai Happy Science. Inti dari ajaran ini adalah membawa perdamaian dan kebahagiaan di seluruh dunia.

Ryuho Okawa lahir pada 7 Juli 1956 di Prefektur Tokushima. Setelah lulus dari University of Tokyo, dia bergabung dengan sebuah perusahaan keuangan di Tokyo. Kemudian pada 23 Maret 1981, ia mulai melakukan komunikasi dengan alam roh dan mengambil kesimpulan bahwa dia adalah sang El Cantare yang merupakan reinkarnasi dari tokoh-tokoh agama terdahulu seperti Nabi Muhammad S.A.W., Yesus, Confusius, dan Budha.

Pada 6 Oktober 1986, Ryuho Okawa mendirikan Happy Science yang dalam bahasa Jepang disebut Kofuku no Kagaku dan mulai menyebarkan fahamnya. Selanjutnya, pada tanggal 7 Maret 1991organisasi ini mendapatkan sertifikat sebagai salah satu agama di Jepang. Sampai saat ini sudah banyak pengikut dari ajaran ini, bahkan mereka juga telah menguasai beberapa kuil orang Budha yang mereka jadikan sebagai tempat ibadah. Baru pada tahun 2009, Ryuho Okawa meletakkan dasar politik yang di ideal dengan membuat partai Happiness Realization Party dan bahkan membangun Happy Science Unversity dalam rangka menyebarkan fahamnya dan membawa kebahagiaan nyata di dunia ini.

Selain membawa misi kebahagiaan, faham ini juga mempercayai bahwa Malaikat Jibril (Gabriel) akan datang ke bumi di masa depan dan mendarat di Bangkok, Thailand. Dia juga telah memperingatkan pemerintah Bangkok untuk bersiap-siap jikalau hal itu benar-benar terjadi karena akan banyak turis dari berbagai negara akan berkunjung ke Bangkok untuk melihat sang Malaikat. Faham ini juga meyakini bahwa selain Malaikat Jibril, alien juga akan datang ke bumi dalam 300-400 tahun kedepan.

Cara mereka menarik jemaat bisa terbilang halus karena melalui media buku dan film terutama film animasi yang memang digemari anak-anak. Mereka memperbolehkan umat agama lain untuk masuk agama mereka meskipun cara ibadahnya berbeda-beda. Ajaran mereka sebenarnya berlandaskan pada ajaran Budha, namun di buat lebih modern sehingga tempat ibadah mereka terlihat seperti gereja. Pemikiran masyarakat Jepang yang cenderung rasional menyebabkan faham agama yang berlandaskan sains lebih mudah diterima dan alhasil pengikut dari Ryuho Okawa sangatlah banyak.

Sunday, February 19, 2017

Besarnya Gaji yang Diterima Karyawan Potong Pajak untuk Matematika SMP Kelas 7 Semester 2

Contoh soal pengembangan konsep Aritmetika Sosial untuk Matematika SMP Kelas 7 Semester 2:


Seorang karyawan mendapatkan gaji sebesar Rp 2.200.000,00 tiap bulan dengan penghasilan tidak kena pajak sebesar Rp 1.500.000,00. Jika besar pajak penghasilan (PPh) adalah 15%, maka gaji yang diterima oleh karyawan tersebut setelah dipotong pajak adalah...

Jawab:

Besarnya gaji (bruto) kotor belum potong pajak = Rp 2.200.000,00
Besarnya penghasilan tidak kena pajak  = Rp 1.500.000,00

Besarnya selisih gaji = Besarnya gaji (bruto) kotor belum potong pajak - Besarnya penghasilan tidak kena pajak
= Rp 2.200.000,00 - Rp 1.500.000,00 = Rp 700.000,00

Besarnya gaji kena pajak = Besarnya selisih gaji x Besarnya PPh (15%)
= Rp 700.000,00 x 15/100 = Rp 105.000,00

Besarnya gaji (neto) bersih sudah potong pajak = Besarnya gaji (bruto) kotor belum potong pajak - Besarnya gaji kena pajak
= Rp 2.200.000,00 - Rp 105.000,00 = Rp 2.095.000,00

Jadi, gaji yang diterima oleh karyawan tersebut setelah dipotong pajak adalah sebesar Rp 2.095.000,00.

Tuesday, February 14, 2017

AMIR SJARIFUDDIN HARAHAP: SANG NEGARAWAN YANG TERLUPAKAN

Sumber foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Amir_Sjarifoeddin

Mungkin tidak banyak dari kita yang mengenal sosok perdana menteri Indonesia yang beragama Kristen ini secara mendalam. Padahal, kiprahnya di dunia pemerintahan cukup berpengaruh. Bahkan, namanya dicantumkan dalam buku-buku pelajaran sejarah Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah. Seperti apakah kehidupan tokoh ini? Hal-hal positif apa yang bisa kita pelajari dari tokoh ini?

Tokoh yang pernah menduduki posisi sebagai Perdana Menteri Indonesia ke-2 ini adalah Amir Sjarifuddin Harahap. Dia dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 27 April 1907. Ayahnya, Djamin Baginda Soripada Harahap, adalah seorang kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas dan seorang jaksa di Medan. Ibunya bernama Basunu Siregar keturunan Batak-Melayu. Pada saat itu, orang-orang Batak hijrah secara besar-besaran ke Deli untuk bekerja di perkebunan.

Amir Sjarifuddin bersekolah di ELS (setingkat SD) di Medan. Dia tamat dari ELS tahun 1921. Pada tahun 1926, dia diajak oleh sepupunya, Todung Sutan Gunung Mulia -- pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia, untuk melanjutkan studi ke Leiden, Belanda. 

Saat berada di Belanda, Amir dan Todung tinggal di rumah Dirk Smink, seorang guru Kristen Calvinis. Setelah beberapa waktu berada di Belanda, Amir mulai tertarik dengan ajaran Kristen dan dengan tekun dia mempelajari ajaran-ajaran Kristen. Setelah itu, dia memutuskan untuk bertobat dan minta dibaptis di Indonesia. Saat di Belanda, Amir juga aktif berorganisasi. Organisasi pertama yang dia ikuti adalah Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Sementara untuk menumbuhkan imannya, dia cukup sering bergabung dalam diskusi-diskusi Kelompok Kristen. Berbekal dari pengalamannya ini, dia memelopori lahirnya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) setelah dia kembali di Indonesia. Amir adalah seorang orator yang berwawasan luas dan memiliki selera humor tinggi. Dia sangat pintar bergaul dan bersosialisasi dengan semua kalangan, baik orang dewasa maupun anak-anak.

Pada September 1927, Amir kembali menginjakkan kaki di Indonesia karena masalah keluarga, padahal pendidikannya di Belanda belum tamat. Setelah berada di Indonesia, Amir mendaftarkan diri di Sekolah Hukum di Batavia (sekarang Jakarta). Selama mengambil studi di tempat itu, Amir tinggal berpindah-pindah, ia pernah menumpang di tempat Todung, asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, dan Mr. Muhammad Yamin. 

Semakin dewasa, Amir semakin banyak berkecimpung dalam dunia politik. Dia mendirikan Partai Indonesia (Partindo) dan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Selain pintar berorasi, Amir juga pintar dalam hal kepenulisan. Dia sempat menjadi penulis dan redaktur "Poedjangga Baroe" [Sebuah majalah sastra Indonesia yang didirikan Armijn Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisjahbana (STA), terbit bulan Juli 1933 - Februari 1942, Red.]. Pada tahun 1928-1930 dia menjadi pemimpin redaksi majalah Perhimpunan Pemoeda Pelajar Indonesia (PPPI). Dalam media massa, Amir menggunakan nama samaran "Massa Actie". Bersama sejumlah orang Kristen, Amir juga pernah menerbitkan "Boekoe Peringatan Hari Djadi Isa Al-Maseh". 

Sebelum Jepang menyerang Hindia Belanda, Amir mengikuti garis Komunis Internasional agar kelompok sayap kiri (kelompok yang biasanya dihubungkan dengan aliran sosialis atau demokrasi sosial, yang didasari oleh komunisme maupun filsafat marxisme, namun menolak bila mereka dihubungkan dengan komunisme atau bahkan dengan anarkisme) menggalang aliansi dengan kekuatan kapitalis untuk menghancurkan Fasisme. Oleh karena hal ini, anggota-anggota kabinet Gubernur Jenderal memanggilnya, dan menggalang semua kekuatan antifasis untuk bekerja sama dengan dinas rahasia Belanda dalam menghadapi serbuan Jepang. 

Pada Januari 1943, ia tertangkap oleh fasis Jepang karena dituduh memimpin gerakan bawah tanah, yang dibiayai oleh Van der Plas (Belanda). Amir mendapatkan eksekusi hukuman mati dari Jepang, namun dengan intervensi Ir. Soekarno, hukuman tersebut batal dilakukan. 

Perjuangan Amir tidak sampai di situ. Bersama Sanusi Pane dan teman-temannya sesama etnis Batak, Amir mendirikan organisasi yang disebut "Jong Batak". Amir dan teman-temannya membangun semangat baru bagi pemuda Tanah Batak. 

Sebelum diangkat menjadi perdana menteri (3 Juli 1947 – 29 Januari 1948), Amir ditunjuk untuk menjabat Menteri Pertahanan dari Partai Sosialis dalam Kabinet Sjahrier (12 Maret 1946). Dia juga pernah ditunjuk sebagai wakil bangsa Indonesia dalam perjanjian Renville (perjanjian antara Indonesia-Belanda). 

Amir Sjarifuddin sendiri disegani oleh kawan dan lawan-lawannya termasuk Belanda. Sebuah dokumen NEFIS (Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service), instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, tertanggal 9 Juni 1947menulis tentang Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut". Mohammad Yamin menyebutnya dia adalah ahli retorika yang hanya dapat disejajarkan dengan Soekarno.

Spiritulitas Amir sendiri sangat unik dan mengesankan. Dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Muslim, Amir pada akhirnya menemukan spiritualitas baru bagi dirinya. Perkenalan terhadap kekristenan setidaknya dipengaruhi beberapa hal. Pertama, kakek Amir, Soetan Goenoeng Toea adalah penganut Kristen taat. Kedua, saat menempuh pendidikan di Belanda bersama sepupunya Sutan Gunung Mulia ia tinggal bersama penganut Calvinis taat bernama Dirk Smink. Suatu pilihanyang bersifat personal transenden tetapi bagi Amir sendiri dia tidak main-main dengan pilihannya tersebut. Setelah dia menekuni ajaran Kristen ia memutuskan bertobat dan meminta dibaptis di Indonesia.

Setelah bertobat, Amir pernah mendapatkan kesempatan untuk berkhotbah.  Tiap hari Minggu Amir turut berkhotbah. Khotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Penggaliannya terhadap Injil sangat mendalam. Amir adalah orang yang berpengetahuan tinggi, soal politik dan teologia. Bahasanya sederhana dan lugas. Amir sebagai seorang orator yang sangat brilian, yang suka membumbui kata-katanya dengan humor, karenanya ia menjadi sangat populer.

Dalam menempatkan diri sebagai orang Kristen di dalam perjuangan kemerdekaan, Amir memiliki prinsip yang radikal. Salah satu tulisan pendeknya,”Menuju Jemaat Indonesia Asli”, ia menempatkan kontekstualisasi Kekristenan di Indonesia sebagai bagian perjuangan. Dan dalam berbagai kesempatan Amir menyatakan, "seorang Kristen yang baik dapatlah juga sekaligus menjadi seorang nasionalis yang baik", hal ini suatu petunjuk tentang sintesa keagamaan dan kebangsaan Amir yang utuh.

Begitulah Amir, setia dalam spiritualitas perjuangannya melawan penjajahan dengan strategi-taktik yang variatif. Hingga akhir hayat ketika maut datang melalui peluru bangsanya sendiri, ia tetap setia mengumandangkan Indonesia Raya dengan Injil di tangannya. Ia  membuktikan kesetiaannya dengan spirit antiimperialisme dan antikolonialisme sebagai wujud nasionalisme. Terpenting dari itu, prinsip tersebut secara utuh termanifestasi pada Injil yang tetap ia pegang erat pada akhir hayat.  Pidato D.N. Aidit di dalam sidang DPR, 11 Februari 1957, Aidit mengatakan bahwa: "Amir Sjarifuddin bermarga Harahap dan tidak kalah Kristennya daripada kebanyakan orang Kristen. Ia dieksekusi dengan kitab Injil di tangannya.”

Pada tanggal 19 Desember 1948, Amir menghembuskan napas terakhir. Penguburannya tidak dilakukan dengan tanda kehormatan apa pun. Bahkan, di atas pusaranya tidak dituliskan namanya. Hal ini terjadi karena dia dianggap sebagai salah satu antek Partai Komunis Indonesia (PKI). Dia dikuburkan di Desa Ngaliyan, Karanganyar, Jawa Tengah. Dia tidak menerima tanda jasa dan keluarganya juga tidak mendapat santunan apa pun. Kehidupan keluarga Amir sangat memprihatinkan. Namun, 2 tahun setelah meninggal, tepatnya pada tanggal 15 November 1950, atas perintah Presiden Soekarno, pusaranya digali kembali dan dilakukan proses identifikasi. Setelah itu, diadakan serah terima kerangka kepada keluarga dan dimakamkan kembali. 

Tragisnya, ada sekelompok pemuda yang merusak makam Amir dan ditutupi dengan potongan rel kereta api. Di samping kuburnya sudah digunakan untuk makam-makam baru, sehingga keluarga tidak bisa memindahkan makam Amir. Setelah bertahun-tahun, keluarga Amir bisa melakukan pemugaran dengan bantuan dari lembaga Ut Omnes Unum Sint Institute. Lembaga ini didirikan 17 pemuda Batak dan saat ini diketuai oleh Jones Batara Manurung. Pemugaran tepatnya dimulai pada tanggal 12 Agustus 2008. Setelah pemugaran selesai, pada tanggal 14 November diadakan ibadah syukur di Gereja Dagen Palur, Solo. Acara tersebut dihadiri para undangan dari berbagai gereja, LSM, organisasi kemahasiswaan di Solo dan Yogyakarta.

Meskipun nama Amir dicantumkan dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah, namun buku yang mengupas biografi Amir Sjarifuddin sangat jarang ditemukan. Salah satu buku yang pernah menuliskan tentang hidupnya, "Amir Sjarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan", yang diterbitkan oleh Penerbit Sinar Harapan pada tahun 1984 pun dilarang beredar. 

Padahal perjuangannya dalam memeperjuangkan kemerdekaan sangat luar biasa. Buku yang menulis tentang kisahnya sendiri dilarang beredar pada zaman Orde Baru. Sebaliknya buku sejarah di sekolah memberikan catatan hitam tentang pergerakannya. Kisah perjuangannya dalam kemerdekaan tidak pernah disebut atau disinggung sedikitpun.

Amir Sjarifuddin seperti telah disebutkan adalah alah satu tokoh penting dalam pergerakan kemerdekaan. Dia termasuk salah satu pilar pendiri bangsa (founding fathers) bersama  bersama Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Ketiga tokoh itu telah mendapat pengakuan dan gelar sebagai pahlawan sementara Amir Sjarifuddin justru diabaikan dan dibuang. 

Sebelum kemerdekaan, Amir Sjarifuddin sudah terlibat dalam  berbagai pergerakan bahwa tanah untuk memperjuangkan kemerdekaan. Tahun 1931, Amir terlibat mendirikan partai Indonesia (Partindo). Amir juga mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur Poedjangga Baroe. Berjuang untuk pembebasan dari belenggu penjajah, benih-benih perjuangan itu pun makin mekar saat bertemu para tokoh pejuang seperti Mr. Muhammad Yamin.

Tokoh ini boleh dibilang radikal atau kontroversial. Saat perlawanan melawan Jepang sebelum kemerdekaan, ia dengan gigih menolak untuk berkolaborasi dengan Jepang seperti rekan-rekan aktifis yan lain yang berharap Jepang dapat memberikan kemerdekaan kepada Hindia Belanda setelah Belanda di kalahkan. Justru Amir Sjarifuddin mengambil langkah dengan menggalang gerakan rahasia menentang Jepang. Dalam hal ini garis Amir yang terbukti benar.

Sayangnya dalam usia muda, 41 tahun karir politik dan perjuangnya berakhir. Setelah Peristiwa Madiun 1948, pemerintahan Hatta menuduh PKI berupaya membentuk negara komunis di Madiun dan menyatakan perang terhadap mereka. Amir Sjarifuddin, sebagai salah seorang tokoh PKI, yang pada saat peristiwa Madiun meletus sedang berada di Yogyakarta dalam rangka kongres Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) turut ditangkap beserta beberapa kawannya. Padahal indikasi keterlibatannya di peristiwa Madiun masih samar dan ia dieksekusi tanpa diadili. Dalam buku "Berbagai Fakta dan Kesaksian Sekitar Peristiwa Madiun", dituliskan bahwa sebenarnya Presiden Soekarno sudah mengeluarkan veto agar Amir Sjarifuddin dan kawan-kawannya tidak ditembak mati, namun militer bertindak lain.

Kebenaran sejarah mengungkap bahwa ideologi politik Amir memang komunis, tetapi dia bukan antiagama. Para pemimpin agama antikomunislah yang menyebutnya ateis. Amir percaya pada Tuhan, tidak ada tanda-tanda dia ateis. Akan tetapi, kekristenan Amir memang tidak banyak terekspos. Setelah bertobat, Amir pernah mendapatkan kesempatan untuk berkhotbah. Khotbahnya selalu disampaikan dengan semangat nasionalisme. Salah satu orang Jepang yang dia idolakan adalah Toyohiko Kagawa, reformator Kristen dan aktivis buruh yang panutan. Menurut Kagawa, yang mendasar dalam kekristenan adalah hidup dalam kasih dan mau peduli dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Bukan hanya memprioritaskan pada pembangunan tempat ibadah yang besar dan mewah. Baginya, Tuhan adalah tokoh teladan yang harus diikuti. Dengan penuh kerendahan hati rela melayani sesama. #ParaPenyalaIndonesia #GerakanMenulisBukuIndonesia dan #SabdaPerubahan

Quo Vadis Pendidikan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Guna Pembangunan Smart City di Indonesia?

Sumber foto: http://europe-ul.com/makes-smart-city-smart/

Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, beberapa tahun terakhir Smart City Indonesia semakin kencang dibicarakan dan diyakini akan menjadi salah satu solusi dari berbagai masalah yang timbul dari kemajuan dan dinamika kota yang semakin maju dan modern.


Smart City Indonesia diharapkan mampu menjawab minimal 3 (tiga) hal penting dari sebuah kota, yaitu : (a) mengetahui (sensing) keadaan kota, (b) memahami (understanding) keadaan kota lebih jauh, dan (c) dapat melakukan aksi (acting) terhadap permasalahan timbul.
Membuat kota menjadi Smart City Indonesia bertujuan untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi warganya, membuat kota semakin efektif dan efisien serta meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi serta pemerataan penghasilan. Beberapa dimensi yang harus dipenuhi dalam sebuah Smart City Indonesia adalah (a) Dimensi Sosial, (b) Dimensi Ekonomi, (c) Dimensi Kemananan dan (d) Dimensi Lingkungan. Hampir semua sektor strategis  seperti energi, industri, lingkungan hidup, pariwisata, kepemerintahan, pendidikan serta perdagangan menjadi variable utama dalam membangun Smart City Indonesia. Sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berperan dalam Smart City Indonesia adalah teknologi informasi dan komunikasi, transportasi, teknologi proses dan manufaktur, control system dan sebagainya.
Produk teknologi yang dapat mendorong terwujudnya Smart City Indonesia diantaranya adalah : bahan bakar hemat anergi dan rendah polusi seperti solarcell,  e-gov, e-banking, easyPay, e-procurement, Internet, remote sensing, Near Field Communication (NFC) termasuk peralatan transportasi berbasis listrik.
 
Kapan  Smart City Indonesia Perlu Hadir?
Melihat infrastruktur yang dimiliki, beberapa kota besar di Indonesia yang diprediksi dalam waktu dekat menerapkan konsep “Smart City Indonesia” adalah Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang serta kota-kota lain yang telah memiliki infrastruktur ICT sebagai unggulan daerah. Konsep Smart City Indonesia ini merupakan suatu cara penggunaan teknologi “infus” ketika suatu kawasan atau daerah  membutuhkan sebuah informasi yang sangat cepat, murah dan efisien. Penggunaan Smart City Indonesia atau kota pintar ini disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya di kota industri Smart City Indonesia seperti apa yang dibangun jika basis di kota industri, berbeda dengan Smart City Indonesia yang basis kotanya pertanian atau pelajar. Jadi, Smart City Indonesia harusnya dibangun secara spesifik, karena dengan  teknologi informasi terpilih, maka setiap warga kota bisa melakukan apa saja sesuai kebutuhan.

Apa Manfaat Smart City Indonesia?
Dalam Smart City Indonesia, teknologi informasi secara komprehensif  bisa diintegrasikan dan dikemas secara menyatu dan holistik. Masyarakat bisa mengakses sebuah informasi dimana, kemana dan  saja yang mereka perlukan. Manfaat dari teknologi informasi Smart City Indonesia ini bisa didisain sendiri oleh pakar ICT di kota itu, sehingga dapat mengurangi penggunaan teknologi dari luar negeri. Sehingga produk-produk dan informasi dari luar negeri bisa dipilah dan dipilih serta diakses oleh manajemen Smart City Indonesia secara mandiri, bahkan masyarakat tidak lagi menjadi penonton tetapi sebagai pelaku dan pengelola perkembangan teknologi yang semakin cepat ini. Bahkan, system dapat dibangun dengan menu tertentu oleh peneliti dalam negeri, sehingga jaminan akan keamanan informasi dapat diandalkan.
Seberapa jauh masyarakat dapat menikmati kecanggihan Smart City Indonesia di Indonesia?? Jawabnya adalah sejauh mana kita bisa sinergi dan kolaborasi dalam sebuah konsorsium ICT yang kuat, sebagai penggerak mewujudkan Smart City Indonesia di Indonesia.

Beranikah Kita Membangun Smart City Indonesia?
Jawabnya adalah siapa takut dan kenapa tidak berani? Karena Smart City Indonesia merupakan peluang, tetapi tantangan juga harus siap diantisipasi oleh masyarakat terutama membanjirnya teknologi komunikasi dan informasi dari luar yang begitu pesat. Dengan itu kita harus tingkatkan sumber daya manusianya, kelembagaan dan jejaring, sehingga Perkembangan ekonomi di Indonesia diprediksi mampu  menjadi penggerak ekonomi Asean. Maka kesempatan Indonesia seharusnya mampu menjadi pelaku pembangunan bukan objek pembangunan dari negara lain di era globalisasi ini.
Tidak menutup kemungkinan pemerintah daerah akan bekerja sama dengan Universitas dan Lembaga litbang untuk menfaatkan teknologi informasi untuk membangun Smart City Indonesia di kota dan daerahnya masing-masing.

Soal Salah Kaprah Smart City Indonesia
Seperti yang sudah kita ketahui bersama  dalam dua tahun ke belakang, jargon “Smart City Indonesia” sedang jadi tren di kalangan pemerintahan di Indonesia. Beberapa kota sudah mulai menginisiasi program “Smart City Indonesia” ini dengan berbagai pendekatan dan eksekusi yang juga beragam. Smart City Indonesia menjadi nilai jual para pemimpin daerah karena menjanjikan suatu hal yang baru dan membuat orang bebas berkreasi. Namun setelah dua tahun, ada beberapa hal yang menjadikan program Smart City Indonesia di beberapa tempat di Indonesia menjadi salah kaprah: Smart City Indonesia bukan masalah teknologi.
Ada beberapa daerah yang sudah menginisiasi program Smart City Indonesia secara eksplisit maupun tidak, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Semarang, Bogor, Bekasi dan kota-kota lain sedang bersiap diri seperti Banjarmasin, Manado, dan lainnya. Saya mencoba mengambil beberapa sampel pendekatan berdasarkan pengetahuan yang saya dapatkan dari beberapa kota yang sudah dan sedang berinisiasi.
Semua berawal dari keinginan membuat pemerintahan yang memberikan pelayanan publik yang lebih baik kepada warganya: kemudahan dalam pengurusan surat atau izin, kemudahan pengaduan masyarakat, transparansi pelayanan, meningkatkan kecepatan pelayanan publik, angkutan umum yang lebih dapat diandalkan, peningkatan keamanan, dan lainnya. Cara yang dilakukan untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik ini adalah dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Simpelnya, kata kunci Smart City Indonesia di Indonesia: IT, pelayanan publik, efisiensi, efektif, transparansi.

Masalah Terlewatkan Smart City Indonesia
Namun ada hal yang terlewat dari pendekatan eksekusi Smart City Indonesia di Indonesia: inisiasi berfokus pada apa yang terlihat.
Aplikasi, CCTV, ruang command center, pembangunan area berjudul technopolis/technopark, dan hal yang terlihat lainnya menjadi pendekatan yang biasanya dilakukan pemerintah daerah.
Padahal untuk melancarkan program Smart City Indonesia di Indonesia, ada banyak PR yang tak terlihat, adalah fenomena gunung es yang terjadi saat ini. Ada banyak persyaratan dan kondisi yang harus dicapai sehingga teknologi dan pembangunan ruangan atau area fisik bisa membantu kinerja dari program Smart City Indonesia.
Berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal penting yang biasanya terlewat oleh para inisiator Smart City Indonesia di pemerintahan: standard operating procedure dan tata kelola IT dan data.

Standard Operating Procedure
Smart City Indonesia bukan tentang teknologi. Smart City Indonesia bukan cuma aplikasi, punya CCTV banyak, command center yang mewah, free wi-fi, atau bentuk teknologi kekinian lainnya yang selalu digembar-gemborkan.
Jika dengan program Smart City Indonesia, dianggap bahwa teknologi itu solusi. Maka program itu pasti gagal. Teknologi bukanlah solusi, namun hanya berbentuk enabler sehingga suatu problem bisa diselesaikan dengan lebih efisien dan efektif.
Yang paling penting justru proses bisnisnya. Jika sepakat bahwa Smart City Indonesia dijalankan untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik, maka PR-nya adalah bagaimana standard operating procedure (SOP) dalam pelayanan publik dapat diselesaikan dengan lebih baik menggunakan teknologi.

Studi Kasus Bandung dan Jakarta
Contohnya begini, Bandung Command Center pernah mendemokan penanganan aplikasi pelaporan kedaruratan. Pertanyaannya, sejauh mana prosedur penanganan ini bisa bantu menyelesaikan masalah. Seberapa cepat petugas bisa langsung datang ke tempat kejadian perkara setelah seseorang melaporkan ada kondisi darurat di kota? Siapa saja stakeholder yang terkait dengan penanganan hal ini? Bagaimana pihak polisi terlibat dalam penanganan ini, sedangkan polisi adalah pihak di luar Pemerintah Kota.
Contoh lain, saat kejadian bom Sarinah di Jakarta. Karena belum ada prosedur yang terkait dengan kondisi serangan bom, tim di Jakarta Smart City Indonesia tidak bisa melakukan apa-apa karena tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan secara terstruktur. Pada akhirnya semua berjalan menurut insting, dan sebagai evaluasi, diperkuatlah SOP sehingga tidak terulang lagi kasus ketidaktahuan ini.
Contoh lain lagi, saat kota punya command center, apa saja yang bisa dilakukan di sana, monitor besar yang ada di ruangan tersebut mau diisi oleh apa? Fungsinya apa saja?
Seharusnya semua ini berawal dari pembuatan SOP. Misalkan dalam pembuatan izin, dibutuhkan 3 proses: proses A, B, dan C. Keseluruhan proses ini membutuhkan waktu 10 hari kerja karena proses B memakan waktu 80% dari total. Lalu dengan adanya teknologi, proses B dapat selesai dalam hitungan menit, sehingga 3 proses ini bisa selesai dalam 1 jam. Baru di sini teknologi masuk sebagai enabler dari proses yang ada. Ini baru cerdas.

Tata Kelola IT dan Data
Problem klasik pemerintah adalah silo. Belum ada integrasi dan interoperabilitas di level sistem IT dan juga data di pemerintahan yang sudah terstandarisasi.
Data inti pembangunan hanyalah dua, jika dua data ini sudah dikelola dengan baik, maka data lain yang mereferensi pada data ini juga akan lebih baik dari sisi kualitas. Data inti pembangunan itu: data kependudukan dan data geospasial. Data pendidikan, ekonomi, perpajakan, perizinan, dan lainnya pasti harus punya referensi ke data kependudukan dan geospasial.
Permasalahannya, bahkan dua data inti saja belum dikelola dengan baik. Bagaimana penggunaannya, bagaimana data ini disimpan, bagaimana jika terjadi duplikasi, siapa saja yang boleh mengakses data ini dan sejauh mana sistem IT pemerintahan harus mereferensi data ini. Hal ini biasanya belum ada jawabannya di pemerintah daerah.
Integrasi antar sistem IT yang ada di pemerintahan juga masih sangat minim. Contoh carut marutnya di antara lain: Dinas A membuat Peta X, dinas B membuat peta Y, kedua peta ini ternyata saling konflik karena merefer pada data yang berbeda. Ada juga kasus suatu sistem informasi pemerintahan mengumpulkan NIK sendiri, sedangkan NIK ini seharusnya mereferensi pada data kependudukan yang dikelola oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
Selama belum diatur tata kelola IT dan data di pemerintahan, mau buat 1000 aplikasi sekalipun, aplikasi itu juga tidak akan bermanfaat, karena tidak ada integrasi dan interoperabilitas di antara sistem dan data yang ada.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?
Universitas, dan lembaga litbang, industri dan pemerintah berperan penting dalam mengembangkan teknologi informasi untuk membuat suatu perangkat  aplikasi yang diimplementasikan di Smart City Indonesia.
Smart City Indonesia menjadi data dan informasi yang dimiliki oleh masyarakat, data yang dimiliki harus dijamin aman. Data-data strategis harus dapat terlindungi, tapi data yang perlu diinformasikan kepada public harus dapat diinformasikan secara terang benderang. Maka penelitian dan pengembangan teknologi di bidang Smart City Indonesia ini harus dilakukan secara bersama-sama. Harus ada kemandirian keberpihakan pemerintah bahwa Smart City Indonesia ini menjadi alat sehingga masyarakat menjadi pelaku pembangunan, jangan sampai kita menjadi penonton dari teknologi yang datang dari luar. Jika demikan, maka terdapat peluang yang besar untuk kemajuan dan daya saing bangsa melalui pembangunan  Smart City Indonesia. Strategi yang dibuat adalah membuat roadmap Smart City Indonesia secara berkelanjutan.
Kemampuan membangun Smart City Indonesia tergantung dari Sumber daya manusia, sehingga perlu ditingkatkan, kemudian system dan manajemen inovasi juga perlu ditingkatkan, sehingga Smart City Indonesia menggunakan system yang efektif dan efisien, Inovasi Iptek kedepan selalu menciptakan sebuah aplikasi baru sesuai perkembangan zaman,  di mana masyarakat bisa menggunakannya dengan mudah dan sederhana.

Penutup
Dua hal ini menurut saya adalah PR besar dari semua pihak yang terlibat dalam inisiasi Smart City Indonesia di Indonesia. Prinsip yang harus selau dipegang adalah, teknologi hadir untuk membantu meningkatkan kualitas proses bisnis, bukan proses bisnis yang mengikuti teknologi. Jangan sampai daerah-daerah lain yang memulai program Smart City Indonesia hanya terpaku pada teknologi kekinian saja, harus dimulai dari pertanyaan mengapa saya harus menjalankan program ini dan apa tujuan saya harus mencanangkan program Smart City Indonesia.
Saya melihat dinamika inisiasi Smart City Indonesia di Indonesia akan lebih berwarna lagi. Makin banyak pemimpin daerah yang ingin memperbaiki kualitas pelayanan publiknya khususnya dan secara umum memperbaiki kualitas hidup daerahnya. Jangan lupa untuk jangan sampai salah kaprah dan terbuai dengan kecanggihan teknologi semata.
Mengubah tampilan kota berikut segala isinya tidak akan berarti apa-apa tanpa mengedukasi masyarakatnya. Pada poin ini menurut saya hampir semua artikel tentang "Smart City Indonesia Indonesia" betul-betul tidak bermanfaat sama sekali. Seolah utopia dan mimpi-mimpi kosong. Kalau pun bisa terealisasikan bentuk fisiknya saya yakin tidak akan sanggup bertahan lama. Tinggal tunggu aja kapan rusaknya kurang lebih begitulah kasarannya.
Pendidikan yang memang bukan pembahasan cukup menarik dalam "Smart City Indonesia Indonesia" seringkali dikesampingkan atau dianggap bahwa semua orang sudah atau akan menjadi pintar dengan sendirinya begitu fasilitas dan tampilan kota berubah jadi pintar. Kita sudah terlalu naif dengan mudahnya melupakan pertanyaan lama, "apakah dengan memiliki ponsel pintar akan otomatis membuat penggunanya menjadi pintar?" Apakah membangun Smart City Indonesia dengan pemanfaatan teknologi informasi mampu membuat masyarakat menjadi lebih pintar?
Kita tahu bersama jawaban pahit dari pertanyaan tadi adalah kenyataannya tidak, selama tidak adanya langkah-langkah pasti dan implementatif dari semua pihak dalam mengedukasi masyarakat sendiri, yang lagi-lagi saya yakin sejujur-jujurnya bukanlah pembahasan yang menyenangkan, bakalan lama, butuh banyak dana, dan sangat mungkin tak akan pernah bisa direlisasikan, maka wacana dan program Smart City Indonesia yang beberapa di antaranya tampaknya memang sudah akan dijalankan tidak akan betul-betul maksimal dirasakan manfaatnya.
Mungkin benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Emha Ainun Najib (Budayawan) “Seperti kita punya rumah, kemudian ada tamu datang, tamu yang datang itu lebih pintar dari kita, lebih ramah, lebih hebat dari kita, sehingga dia ngajarin kita untuk bersih-bersih rumah sehingga rapi,  ngajarin kita berbenah diri sehingga rumah kita menjadi nyaman, akhirnya kita terkesima oleh cara kerjanya, kita hanya menjadi penonton di rumah kita sendiri. Kita terkesima karena rumah kita menjadi rapi dan sangat menarik dan nyaman. Singkat cerita, tidak terasa, kita terpinggirkan kita hanya tinggal dipojokan rumah kita, dan dia menjadi kepala rumah tangga di rumah kita”. Akankah cerita itu nanti akan terjadi di negara kita tercinta ini? Semua tergantung pada kita, warga bangsa, generasi pejuang dan generasi penerus cita-cita luhur Indonesia.


-----
Tulisan ini diikutsertakan dalam GamatechnoBlog Writing Competition #gtblogcompetition
 
https://www.gamatechno.com/blogcompetition
Banner GamatechnoBlog Writing Competition
Telah follow sosial media Gamatechno, Twitter: @gamatechno
Telah follow sosial media Gamatechno, Facebook: Gamatechno Indonesia, PT