tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] You know what, the loneliest people are the one who talk a lot. - Yogyakarta, 27 Juni 2017.

Tuesday, February 14, 2017

AMIR SJARIFUDDIN HARAHAP: SANG NEGARAWAN YANG TERLUPAKAN

Sumber foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Amir_Sjarifoeddin

Mungkin tidak banyak dari kita yang mengenal sosok perdana menteri Indonesia yang beragama Kristen ini secara mendalam. Padahal, kiprahnya di dunia pemerintahan cukup berpengaruh. Bahkan, namanya dicantumkan dalam buku-buku pelajaran sejarah Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah. Seperti apakah kehidupan tokoh ini? Hal-hal positif apa yang bisa kita pelajari dari tokoh ini?

Tokoh yang pernah menduduki posisi sebagai Perdana Menteri Indonesia ke-2 ini adalah Amir Sjarifuddin Harahap. Dia dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 27 April 1907. Ayahnya, Djamin Baginda Soripada Harahap, adalah seorang kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas dan seorang jaksa di Medan. Ibunya bernama Basunu Siregar keturunan Batak-Melayu. Pada saat itu, orang-orang Batak hijrah secara besar-besaran ke Deli untuk bekerja di perkebunan.

Amir Sjarifuddin bersekolah di ELS (setingkat SD) di Medan. Dia tamat dari ELS tahun 1921. Pada tahun 1926, dia diajak oleh sepupunya, Todung Sutan Gunung Mulia -- pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia, untuk melanjutkan studi ke Leiden, Belanda. 

Saat berada di Belanda, Amir dan Todung tinggal di rumah Dirk Smink, seorang guru Kristen Calvinis. Setelah beberapa waktu berada di Belanda, Amir mulai tertarik dengan ajaran Kristen dan dengan tekun dia mempelajari ajaran-ajaran Kristen. Setelah itu, dia memutuskan untuk bertobat dan minta dibaptis di Indonesia. Saat di Belanda, Amir juga aktif berorganisasi. Organisasi pertama yang dia ikuti adalah Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Sementara untuk menumbuhkan imannya, dia cukup sering bergabung dalam diskusi-diskusi Kelompok Kristen. Berbekal dari pengalamannya ini, dia memelopori lahirnya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) setelah dia kembali di Indonesia. Amir adalah seorang orator yang berwawasan luas dan memiliki selera humor tinggi. Dia sangat pintar bergaul dan bersosialisasi dengan semua kalangan, baik orang dewasa maupun anak-anak.

Pada September 1927, Amir kembali menginjakkan kaki di Indonesia karena masalah keluarga, padahal pendidikannya di Belanda belum tamat. Setelah berada di Indonesia, Amir mendaftarkan diri di Sekolah Hukum di Batavia (sekarang Jakarta). Selama mengambil studi di tempat itu, Amir tinggal berpindah-pindah, ia pernah menumpang di tempat Todung, asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, dan Mr. Muhammad Yamin. 

Semakin dewasa, Amir semakin banyak berkecimpung dalam dunia politik. Dia mendirikan Partai Indonesia (Partindo) dan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Selain pintar berorasi, Amir juga pintar dalam hal kepenulisan. Dia sempat menjadi penulis dan redaktur "Poedjangga Baroe" [Sebuah majalah sastra Indonesia yang didirikan Armijn Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisjahbana (STA), terbit bulan Juli 1933 - Februari 1942, Red.]. Pada tahun 1928-1930 dia menjadi pemimpin redaksi majalah Perhimpunan Pemoeda Pelajar Indonesia (PPPI). Dalam media massa, Amir menggunakan nama samaran "Massa Actie". Bersama sejumlah orang Kristen, Amir juga pernah menerbitkan "Boekoe Peringatan Hari Djadi Isa Al-Maseh". 

Sebelum Jepang menyerang Hindia Belanda, Amir mengikuti garis Komunis Internasional agar kelompok sayap kiri (kelompok yang biasanya dihubungkan dengan aliran sosialis atau demokrasi sosial, yang didasari oleh komunisme maupun filsafat marxisme, namun menolak bila mereka dihubungkan dengan komunisme atau bahkan dengan anarkisme) menggalang aliansi dengan kekuatan kapitalis untuk menghancurkan Fasisme. Oleh karena hal ini, anggota-anggota kabinet Gubernur Jenderal memanggilnya, dan menggalang semua kekuatan antifasis untuk bekerja sama dengan dinas rahasia Belanda dalam menghadapi serbuan Jepang. 

Pada Januari 1943, ia tertangkap oleh fasis Jepang karena dituduh memimpin gerakan bawah tanah, yang dibiayai oleh Van der Plas (Belanda). Amir mendapatkan eksekusi hukuman mati dari Jepang, namun dengan intervensi Ir. Soekarno, hukuman tersebut batal dilakukan. 

Perjuangan Amir tidak sampai di situ. Bersama Sanusi Pane dan teman-temannya sesama etnis Batak, Amir mendirikan organisasi yang disebut "Jong Batak". Amir dan teman-temannya membangun semangat baru bagi pemuda Tanah Batak. 

Sebelum diangkat menjadi perdana menteri (3 Juli 1947 – 29 Januari 1948), Amir ditunjuk untuk menjabat Menteri Pertahanan dari Partai Sosialis dalam Kabinet Sjahrier (12 Maret 1946). Dia juga pernah ditunjuk sebagai wakil bangsa Indonesia dalam perjanjian Renville (perjanjian antara Indonesia-Belanda). 

Amir Sjarifuddin sendiri disegani oleh kawan dan lawan-lawannya termasuk Belanda. Sebuah dokumen NEFIS (Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service), instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, tertanggal 9 Juni 1947menulis tentang Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut". Mohammad Yamin menyebutnya dia adalah ahli retorika yang hanya dapat disejajarkan dengan Soekarno.

Spiritulitas Amir sendiri sangat unik dan mengesankan. Dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Muslim, Amir pada akhirnya menemukan spiritualitas baru bagi dirinya. Perkenalan terhadap kekristenan setidaknya dipengaruhi beberapa hal. Pertama, kakek Amir, Soetan Goenoeng Toea adalah penganut Kristen taat. Kedua, saat menempuh pendidikan di Belanda bersama sepupunya Sutan Gunung Mulia ia tinggal bersama penganut Calvinis taat bernama Dirk Smink. Suatu pilihanyang bersifat personal transenden tetapi bagi Amir sendiri dia tidak main-main dengan pilihannya tersebut. Setelah dia menekuni ajaran Kristen ia memutuskan bertobat dan meminta dibaptis di Indonesia.

Setelah bertobat, Amir pernah mendapatkan kesempatan untuk berkhotbah.  Tiap hari Minggu Amir turut berkhotbah. Khotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Penggaliannya terhadap Injil sangat mendalam. Amir adalah orang yang berpengetahuan tinggi, soal politik dan teologia. Bahasanya sederhana dan lugas. Amir sebagai seorang orator yang sangat brilian, yang suka membumbui kata-katanya dengan humor, karenanya ia menjadi sangat populer.

Dalam menempatkan diri sebagai orang Kristen di dalam perjuangan kemerdekaan, Amir memiliki prinsip yang radikal. Salah satu tulisan pendeknya,”Menuju Jemaat Indonesia Asli”, ia menempatkan kontekstualisasi Kekristenan di Indonesia sebagai bagian perjuangan. Dan dalam berbagai kesempatan Amir menyatakan, "seorang Kristen yang baik dapatlah juga sekaligus menjadi seorang nasionalis yang baik", hal ini suatu petunjuk tentang sintesa keagamaan dan kebangsaan Amir yang utuh.

Begitulah Amir, setia dalam spiritualitas perjuangannya melawan penjajahan dengan strategi-taktik yang variatif. Hingga akhir hayat ketika maut datang melalui peluru bangsanya sendiri, ia tetap setia mengumandangkan Indonesia Raya dengan Injil di tangannya. Ia  membuktikan kesetiaannya dengan spirit antiimperialisme dan antikolonialisme sebagai wujud nasionalisme. Terpenting dari itu, prinsip tersebut secara utuh termanifestasi pada Injil yang tetap ia pegang erat pada akhir hayat.  Pidato D.N. Aidit di dalam sidang DPR, 11 Februari 1957, Aidit mengatakan bahwa: "Amir Sjarifuddin bermarga Harahap dan tidak kalah Kristennya daripada kebanyakan orang Kristen. Ia dieksekusi dengan kitab Injil di tangannya.”

Pada tanggal 19 Desember 1948, Amir menghembuskan napas terakhir. Penguburannya tidak dilakukan dengan tanda kehormatan apa pun. Bahkan, di atas pusaranya tidak dituliskan namanya. Hal ini terjadi karena dia dianggap sebagai salah satu antek Partai Komunis Indonesia (PKI). Dia dikuburkan di Desa Ngaliyan, Karanganyar, Jawa Tengah. Dia tidak menerima tanda jasa dan keluarganya juga tidak mendapat santunan apa pun. Kehidupan keluarga Amir sangat memprihatinkan. Namun, 2 tahun setelah meninggal, tepatnya pada tanggal 15 November 1950, atas perintah Presiden Soekarno, pusaranya digali kembali dan dilakukan proses identifikasi. Setelah itu, diadakan serah terima kerangka kepada keluarga dan dimakamkan kembali. 

Tragisnya, ada sekelompok pemuda yang merusak makam Amir dan ditutupi dengan potongan rel kereta api. Di samping kuburnya sudah digunakan untuk makam-makam baru, sehingga keluarga tidak bisa memindahkan makam Amir. Setelah bertahun-tahun, keluarga Amir bisa melakukan pemugaran dengan bantuan dari lembaga Ut Omnes Unum Sint Institute. Lembaga ini didirikan 17 pemuda Batak dan saat ini diketuai oleh Jones Batara Manurung. Pemugaran tepatnya dimulai pada tanggal 12 Agustus 2008. Setelah pemugaran selesai, pada tanggal 14 November diadakan ibadah syukur di Gereja Dagen Palur, Solo. Acara tersebut dihadiri para undangan dari berbagai gereja, LSM, organisasi kemahasiswaan di Solo dan Yogyakarta.

Meskipun nama Amir dicantumkan dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah, namun buku yang mengupas biografi Amir Sjarifuddin sangat jarang ditemukan. Salah satu buku yang pernah menuliskan tentang hidupnya, "Amir Sjarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan", yang diterbitkan oleh Penerbit Sinar Harapan pada tahun 1984 pun dilarang beredar. 

Padahal perjuangannya dalam memeperjuangkan kemerdekaan sangat luar biasa. Buku yang menulis tentang kisahnya sendiri dilarang beredar pada zaman Orde Baru. Sebaliknya buku sejarah di sekolah memberikan catatan hitam tentang pergerakannya. Kisah perjuangannya dalam kemerdekaan tidak pernah disebut atau disinggung sedikitpun.

Amir Sjarifuddin seperti telah disebutkan adalah alah satu tokoh penting dalam pergerakan kemerdekaan. Dia termasuk salah satu pilar pendiri bangsa (founding fathers) bersama  bersama Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Ketiga tokoh itu telah mendapat pengakuan dan gelar sebagai pahlawan sementara Amir Sjarifuddin justru diabaikan dan dibuang. 

Sebelum kemerdekaan, Amir Sjarifuddin sudah terlibat dalam  berbagai pergerakan bahwa tanah untuk memperjuangkan kemerdekaan. Tahun 1931, Amir terlibat mendirikan partai Indonesia (Partindo). Amir juga mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur Poedjangga Baroe. Berjuang untuk pembebasan dari belenggu penjajah, benih-benih perjuangan itu pun makin mekar saat bertemu para tokoh pejuang seperti Mr. Muhammad Yamin.

Tokoh ini boleh dibilang radikal atau kontroversial. Saat perlawanan melawan Jepang sebelum kemerdekaan, ia dengan gigih menolak untuk berkolaborasi dengan Jepang seperti rekan-rekan aktifis yan lain yang berharap Jepang dapat memberikan kemerdekaan kepada Hindia Belanda setelah Belanda di kalahkan. Justru Amir Sjarifuddin mengambil langkah dengan menggalang gerakan rahasia menentang Jepang. Dalam hal ini garis Amir yang terbukti benar.

Sayangnya dalam usia muda, 41 tahun karir politik dan perjuangnya berakhir. Setelah Peristiwa Madiun 1948, pemerintahan Hatta menuduh PKI berupaya membentuk negara komunis di Madiun dan menyatakan perang terhadap mereka. Amir Sjarifuddin, sebagai salah seorang tokoh PKI, yang pada saat peristiwa Madiun meletus sedang berada di Yogyakarta dalam rangka kongres Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) turut ditangkap beserta beberapa kawannya. Padahal indikasi keterlibatannya di peristiwa Madiun masih samar dan ia dieksekusi tanpa diadili. Dalam buku "Berbagai Fakta dan Kesaksian Sekitar Peristiwa Madiun", dituliskan bahwa sebenarnya Presiden Soekarno sudah mengeluarkan veto agar Amir Sjarifuddin dan kawan-kawannya tidak ditembak mati, namun militer bertindak lain.

Kebenaran sejarah mengungkap bahwa ideologi politik Amir memang komunis, tetapi dia bukan antiagama. Para pemimpin agama antikomunislah yang menyebutnya ateis. Amir percaya pada Tuhan, tidak ada tanda-tanda dia ateis. Akan tetapi, kekristenan Amir memang tidak banyak terekspos. Setelah bertobat, Amir pernah mendapatkan kesempatan untuk berkhotbah. Khotbahnya selalu disampaikan dengan semangat nasionalisme. Salah satu orang Jepang yang dia idolakan adalah Toyohiko Kagawa, reformator Kristen dan aktivis buruh yang panutan. Menurut Kagawa, yang mendasar dalam kekristenan adalah hidup dalam kasih dan mau peduli dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Bukan hanya memprioritaskan pada pembangunan tempat ibadah yang besar dan mewah. Baginya, Tuhan adalah tokoh teladan yang harus diikuti. Dengan penuh kerendahan hati rela melayani sesama. #ParaPenyalaIndonesia #GerakanMenulisBukuIndonesia dan #SabdaPerubahan

No comments:

Post a Comment