tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] You know what, the loneliest people are the one who talk a lot. - Yogyakarta, 27 Juni 2017.

Thursday, February 23, 2017

Keanehan Pesta Buku Bandung 2017



Komunitas Bambu akan ikut Pesta Buku Bandung 2-8 Maret ini yang diselanggarakan oleh IKAPI JABAR dan Pemprov JABAR didukung Pemkot Bandung. 

Sudah merencanakan pula bikin acara peluncuran dan diskusi dua buku baru: Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia karya Peter Carey. Juga buku Angkot dan Bus Minangkabau: Budaya Populer di Sumatera Barat karya David Reeve. 

Tetapi, ujug-ujug panitia yang sebelumnya sudah oke, sudah setuju mufakat malah membatalkan secara sepihak. Alasannya panitia menetapkan acara bertema "All About Bandung". Padahal soal tema ini tidak pernah dibicarakan sebelumnya oleh panitia. Tema itulah yang kemudian dijadikan alasan panitia menganulir persetujuan dan memutuskan bahwa buku David Reeve tentang angkot dan budaya pop itu tidak bisa diluncurkan juga didiskusikan karena tidak sesuai dengan persoalan "All About Bandung".

Aneh sebab Bandung kota yang sistem transportasinya banyak mengandalkan angkot. Bahkan kalau tidak salah ada "angkot day", hari menumpang angkot sebagai program pemerintah kota Bandung. Malahan pak Walikota Ridwan Kamil juga pernah di hari berangkot itu menjadi supir angkot rute Dago--Kebon Kelapa. Pernah pula bermasalah dengan supir angkot. Ya, Bandung hidupnya sebagai kota punya banyak asam garam dengan angkot. Angkot sudah menjadi bagian budaya berkota Bandung. Adalah benar buku David Reeve tentang angkot di kota Padang, tetapi bukunya bisa dimanfaatkan sebagai sumber komparasi bagaimana masyarakat terikat dengan angkot dan berkreasi atas transportasi publik kotanya sehingga dicintai.

Lebih aneh lagi adalah buku Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia karya Peter Carey. Buku ini ditolak juga dengan alasan yang sangat aneh: kuatir menimbulkan keresahan. Takut menganggu ketertiban. 

Astaga, setau saya Bandung kota HAM dan korupsi adalah pelanggaran HAM, bahkan dinyatakan beberapa pengamat pelanggaran HAM berat. Korupsi adalah musuh yang paling berbahaya bagi keberlanjutan bidup berbangsa. Terlebih lagi Bandung termasuk kota yang paling serius pemerintahnya memerangi korupsi. Pemkot Bandung memanfaatkan teknologi aplikasi yang dipujikan KPK. Bandung juga membuat 'KPK' untuk lingkup kota kembang itu.

Saya dkk Komunitas Bambu berusaha meyakinkan hal itu semua kepada panitia Pesta Buku Bandung, tetapi sia-sia. Akhirnya karena buntu, maka kami meminta semua alasan penolakan ditulis dalam surat resmi karena kami pun sebagai penerbit mengikuti Pesta Buku Bandung 2017 ini dengan prosedur resmi. Tetapi, dalam surat resmi yang Komunitas Bambu terima semua keterangan yang diungkapkan lisan oleh panitia tidak nongol. Hanya disebut "sangat disayangkan tema Pesta Buku Bandung 2017 "All About Bandung", sehingga kami tidak menyiapkan akomodasi untuk acara". Aneh sekali alasannya akomodasi, sedang Komunitas Bambu tidak minta akomodasi. Sebagai peserta Pesta Buku Bandung kami hanya minta waktu dan tempat untuk peluncuran juga bedah buku yang itu sudah disetujui. Bukan minta akomodasi.

Akhirnya yang bikin sedih banget adalah salah satu di antara penulis buku itu, David Reeve sudah pesan tiket Australia-Jakarta juga booking hotel di Bandung untuk tanggal acara 5 Maret. 

Bagaimana menanggapi keanehan ini? Mengapa panitia Pesta Buku Bandung 2017 membuat kota Bandung dan acara yang didukung oleh Pemkot Bandung juga Pemprov Jabar menjadi begitu plintat plintet dan cupet?

******************

Lampiran:

Kronologi Pembatalan Launching Buku "Angkot dan Bus: Budaya Populer di Minangkabau" karya David Reeve dan buku "Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia" karya Peter Carey.

1. 13 Januari 2017, Pihak Marketing Komunitas Bambu mendapat undangan dari panitia Pesta Buku Bandung.

2. 13 Januari-18 Januari 2017, Komunitas Bambu sudah mengonfirmasi perihal syarat dan ketentuan Pesta Buku Bandung, termasuk tema bahwa pihak panitia menyatakan tidak ada syarat khusus, termasuk tema buku yang dipamerkan dan bila ada pengisian acara. 

3. 19 Januari 2017, Komunitas Bambu mendapat stand nomor 62. 

4. 26 Januari 2017, Komunitas Bambu membayar uang muka stand. Dengan demikian, Komunitas Bambu sudah terdaftar menjadi bagian Pesta Buku Bandung dan berhak ikut dan mengadakan acara diskusi yang temanya dibebaskan oleh panitia. 

5. 23 Januari 2017, Admin Keungan, Marketing, dan pinpinan Komunitas Bambu rapat Pesta Buku Bangdung 2017. Bedasarkan hasil rapat, marketing diminta menanyakan mengenai ketersediaan tempat juga waktu untuk acara “Launching dan Diskusi buku Angkot dan Bus: Budaya Pop di Minangkabau" serta buku "Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia" kepada panitia. Hasil dari pengajuan tersebut, Komunitas Bambu diperbolehkan mengadakan diskusi dan launching di acara Pesta Buku Bandung secara free. Pihak panitia tidak mempermasalahkan mengenai tema buku yang diajukan oleh Komunitas Bambu. Dan untuk itulah kami mengajukan untuk mengadakan launching buku pada 5 Maret 2017. 

Sejak saat itu, hampir setiap hari Komunitas Bambu mengonfirmasi panitia. Termasuk, kepastian tempat untuk pameran dan ruang untuk melakukan acara diskusi dan launching, jadwal dan konten acara. 

6. 1-3 Februari, Komunitas Bambu mengonfirmasi ulang perihal detail acara kepada panitia Book Fair. Panitia menjawab bahwa mereka baru akan melakukan Technical Meeting pada 16 Februari 2017. Panitia akan menginformasikan setelahnya.

6. 13 Februari 2017, Marketing Komunitas Bambu kembali menghubungi panitia dan mengonfirmasi untuk tempat diskusi dan launching. Namun, panitia justru mengatakan kalau Komunitas Bambu terlambat mendaftarkan acara. Hal itu membuat kami kaget sebab Komunitas Bambu sudah menanyakan hal tersebut jauh-jauh waktu. Kami protes dan mengupayakan agar yang sudah direncanakan tidak gagal. Setelah berkali bicara dengan panitia acara, akhirnya Komunitas Bambu berhasil mendapat slot ruang untuk acara diskusi dan launching. 

8. 14 Februari 2017, Komunitas Bambu kembali menghubungi panitia. Namun, kami justru diminta memberi laporan mengenai rencana acara dan daftar buku untuk “direvisi” panitia, yaitu Bu Ameria. 

8. 14 Februari 2107, Komunitas Bambu kembali menanyakan perihal kepastian ruang dan waktu. Namun, dua acara yang kami ajukan justru ditolak. Alasannya, tema yang kami usung tidak sesuai dengan tema yang dari panitia dan isu sensitif untuk buku Korupsi. Kami tidak tinggal diam, dan meminta kejelasan dari panitia acara. Bahkan pimpinan kami JJ Rizal menelpon langsung ibu Ameria. Ia meminta penjelasan sekaligus menjelaskan kedudukan buku juga penulis yang sudah dari luar negeri memesan tiket serta hotel di Bandung.

9. 16 Februari 2017, kami berkali-kali meminta surat pernyataan dan alasan resmi dari panitia. Sebab, kami merasa sangat dirugikan dan surat itu perlu untuk menjelaskan ke penulis kedua.buku. 

10. 17 Februari 2017, panitia mengirim surat. Namun, karena alasan penolakan yang diungkapkan lisan oleh panitia tidak diungkapkan dalam surat, kami meminta revisi dari panitia. 

12. 21 Februari 2017, panitia baru mengirim balasannya dan tanpa ada revisi. Panitia tetap tidak mengubah isi suratnya. 

Demikian kronologi sekaligus bentuk pertanggungjawaban kami.

Komunitas Bambu

No comments:

Post a Comment