tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Tuesday, February 14, 2017

Quo Vadis Pendidikan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Guna Pembangunan Smart City di Indonesia?

Sumber foto: http://europe-ul.com/makes-smart-city-smart/

Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, beberapa tahun terakhir Smart City Indonesia semakin kencang dibicarakan dan diyakini akan menjadi salah satu solusi dari berbagai masalah yang timbul dari kemajuan dan dinamika kota yang semakin maju dan modern.


Smart City Indonesia diharapkan mampu menjawab minimal 3 (tiga) hal penting dari sebuah kota, yaitu : (a) mengetahui (sensing) keadaan kota, (b) memahami (understanding) keadaan kota lebih jauh, dan (c) dapat melakukan aksi (acting) terhadap permasalahan timbul.
Membuat kota menjadi Smart City Indonesia bertujuan untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi warganya, membuat kota semakin efektif dan efisien serta meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi serta pemerataan penghasilan. Beberapa dimensi yang harus dipenuhi dalam sebuah Smart City Indonesia adalah (a) Dimensi Sosial, (b) Dimensi Ekonomi, (c) Dimensi Kemananan dan (d) Dimensi Lingkungan. Hampir semua sektor strategis  seperti energi, industri, lingkungan hidup, pariwisata, kepemerintahan, pendidikan serta perdagangan menjadi variable utama dalam membangun Smart City Indonesia. Sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berperan dalam Smart City Indonesia adalah teknologi informasi dan komunikasi, transportasi, teknologi proses dan manufaktur, control system dan sebagainya.
Produk teknologi yang dapat mendorong terwujudnya Smart City Indonesia diantaranya adalah : bahan bakar hemat anergi dan rendah polusi seperti solarcell,  e-gov, e-banking, easyPay, e-procurement, Internet, remote sensing, Near Field Communication (NFC) termasuk peralatan transportasi berbasis listrik.
 
Kapan  Smart City Indonesia Perlu Hadir?
Melihat infrastruktur yang dimiliki, beberapa kota besar di Indonesia yang diprediksi dalam waktu dekat menerapkan konsep “Smart City Indonesia” adalah Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang serta kota-kota lain yang telah memiliki infrastruktur ICT sebagai unggulan daerah. Konsep Smart City Indonesia ini merupakan suatu cara penggunaan teknologi “infus” ketika suatu kawasan atau daerah  membutuhkan sebuah informasi yang sangat cepat, murah dan efisien. Penggunaan Smart City Indonesia atau kota pintar ini disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya di kota industri Smart City Indonesia seperti apa yang dibangun jika basis di kota industri, berbeda dengan Smart City Indonesia yang basis kotanya pertanian atau pelajar. Jadi, Smart City Indonesia harusnya dibangun secara spesifik, karena dengan  teknologi informasi terpilih, maka setiap warga kota bisa melakukan apa saja sesuai kebutuhan.

Apa Manfaat Smart City Indonesia?
Dalam Smart City Indonesia, teknologi informasi secara komprehensif  bisa diintegrasikan dan dikemas secara menyatu dan holistik. Masyarakat bisa mengakses sebuah informasi dimana, kemana dan  saja yang mereka perlukan. Manfaat dari teknologi informasi Smart City Indonesia ini bisa didisain sendiri oleh pakar ICT di kota itu, sehingga dapat mengurangi penggunaan teknologi dari luar negeri. Sehingga produk-produk dan informasi dari luar negeri bisa dipilah dan dipilih serta diakses oleh manajemen Smart City Indonesia secara mandiri, bahkan masyarakat tidak lagi menjadi penonton tetapi sebagai pelaku dan pengelola perkembangan teknologi yang semakin cepat ini. Bahkan, system dapat dibangun dengan menu tertentu oleh peneliti dalam negeri, sehingga jaminan akan keamanan informasi dapat diandalkan.
Seberapa jauh masyarakat dapat menikmati kecanggihan Smart City Indonesia di Indonesia?? Jawabnya adalah sejauh mana kita bisa sinergi dan kolaborasi dalam sebuah konsorsium ICT yang kuat, sebagai penggerak mewujudkan Smart City Indonesia di Indonesia.

Beranikah Kita Membangun Smart City Indonesia?
Jawabnya adalah siapa takut dan kenapa tidak berani? Karena Smart City Indonesia merupakan peluang, tetapi tantangan juga harus siap diantisipasi oleh masyarakat terutama membanjirnya teknologi komunikasi dan informasi dari luar yang begitu pesat. Dengan itu kita harus tingkatkan sumber daya manusianya, kelembagaan dan jejaring, sehingga Perkembangan ekonomi di Indonesia diprediksi mampu  menjadi penggerak ekonomi Asean. Maka kesempatan Indonesia seharusnya mampu menjadi pelaku pembangunan bukan objek pembangunan dari negara lain di era globalisasi ini.
Tidak menutup kemungkinan pemerintah daerah akan bekerja sama dengan Universitas dan Lembaga litbang untuk menfaatkan teknologi informasi untuk membangun Smart City Indonesia di kota dan daerahnya masing-masing.

Soal Salah Kaprah Smart City Indonesia
Seperti yang sudah kita ketahui bersama  dalam dua tahun ke belakang, jargon “Smart City Indonesia” sedang jadi tren di kalangan pemerintahan di Indonesia. Beberapa kota sudah mulai menginisiasi program “Smart City Indonesia” ini dengan berbagai pendekatan dan eksekusi yang juga beragam. Smart City Indonesia menjadi nilai jual para pemimpin daerah karena menjanjikan suatu hal yang baru dan membuat orang bebas berkreasi. Namun setelah dua tahun, ada beberapa hal yang menjadikan program Smart City Indonesia di beberapa tempat di Indonesia menjadi salah kaprah: Smart City Indonesia bukan masalah teknologi.
Ada beberapa daerah yang sudah menginisiasi program Smart City Indonesia secara eksplisit maupun tidak, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Semarang, Bogor, Bekasi dan kota-kota lain sedang bersiap diri seperti Banjarmasin, Manado, dan lainnya. Saya mencoba mengambil beberapa sampel pendekatan berdasarkan pengetahuan yang saya dapatkan dari beberapa kota yang sudah dan sedang berinisiasi.
Semua berawal dari keinginan membuat pemerintahan yang memberikan pelayanan publik yang lebih baik kepada warganya: kemudahan dalam pengurusan surat atau izin, kemudahan pengaduan masyarakat, transparansi pelayanan, meningkatkan kecepatan pelayanan publik, angkutan umum yang lebih dapat diandalkan, peningkatan keamanan, dan lainnya. Cara yang dilakukan untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik ini adalah dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Simpelnya, kata kunci Smart City Indonesia di Indonesia: IT, pelayanan publik, efisiensi, efektif, transparansi.

Masalah Terlewatkan Smart City Indonesia
Namun ada hal yang terlewat dari pendekatan eksekusi Smart City Indonesia di Indonesia: inisiasi berfokus pada apa yang terlihat.
Aplikasi, CCTV, ruang command center, pembangunan area berjudul technopolis/technopark, dan hal yang terlihat lainnya menjadi pendekatan yang biasanya dilakukan pemerintah daerah.
Padahal untuk melancarkan program Smart City Indonesia di Indonesia, ada banyak PR yang tak terlihat, adalah fenomena gunung es yang terjadi saat ini. Ada banyak persyaratan dan kondisi yang harus dicapai sehingga teknologi dan pembangunan ruangan atau area fisik bisa membantu kinerja dari program Smart City Indonesia.
Berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal penting yang biasanya terlewat oleh para inisiator Smart City Indonesia di pemerintahan: standard operating procedure dan tata kelola IT dan data.

Standard Operating Procedure
Smart City Indonesia bukan tentang teknologi. Smart City Indonesia bukan cuma aplikasi, punya CCTV banyak, command center yang mewah, free wi-fi, atau bentuk teknologi kekinian lainnya yang selalu digembar-gemborkan.
Jika dengan program Smart City Indonesia, dianggap bahwa teknologi itu solusi. Maka program itu pasti gagal. Teknologi bukanlah solusi, namun hanya berbentuk enabler sehingga suatu problem bisa diselesaikan dengan lebih efisien dan efektif.
Yang paling penting justru proses bisnisnya. Jika sepakat bahwa Smart City Indonesia dijalankan untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik, maka PR-nya adalah bagaimana standard operating procedure (SOP) dalam pelayanan publik dapat diselesaikan dengan lebih baik menggunakan teknologi.

Studi Kasus Bandung dan Jakarta
Contohnya begini, Bandung Command Center pernah mendemokan penanganan aplikasi pelaporan kedaruratan. Pertanyaannya, sejauh mana prosedur penanganan ini bisa bantu menyelesaikan masalah. Seberapa cepat petugas bisa langsung datang ke tempat kejadian perkara setelah seseorang melaporkan ada kondisi darurat di kota? Siapa saja stakeholder yang terkait dengan penanganan hal ini? Bagaimana pihak polisi terlibat dalam penanganan ini, sedangkan polisi adalah pihak di luar Pemerintah Kota.
Contoh lain, saat kejadian bom Sarinah di Jakarta. Karena belum ada prosedur yang terkait dengan kondisi serangan bom, tim di Jakarta Smart City Indonesia tidak bisa melakukan apa-apa karena tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan secara terstruktur. Pada akhirnya semua berjalan menurut insting, dan sebagai evaluasi, diperkuatlah SOP sehingga tidak terulang lagi kasus ketidaktahuan ini.
Contoh lain lagi, saat kota punya command center, apa saja yang bisa dilakukan di sana, monitor besar yang ada di ruangan tersebut mau diisi oleh apa? Fungsinya apa saja?
Seharusnya semua ini berawal dari pembuatan SOP. Misalkan dalam pembuatan izin, dibutuhkan 3 proses: proses A, B, dan C. Keseluruhan proses ini membutuhkan waktu 10 hari kerja karena proses B memakan waktu 80% dari total. Lalu dengan adanya teknologi, proses B dapat selesai dalam hitungan menit, sehingga 3 proses ini bisa selesai dalam 1 jam. Baru di sini teknologi masuk sebagai enabler dari proses yang ada. Ini baru cerdas.

Tata Kelola IT dan Data
Problem klasik pemerintah adalah silo. Belum ada integrasi dan interoperabilitas di level sistem IT dan juga data di pemerintahan yang sudah terstandarisasi.
Data inti pembangunan hanyalah dua, jika dua data ini sudah dikelola dengan baik, maka data lain yang mereferensi pada data ini juga akan lebih baik dari sisi kualitas. Data inti pembangunan itu: data kependudukan dan data geospasial. Data pendidikan, ekonomi, perpajakan, perizinan, dan lainnya pasti harus punya referensi ke data kependudukan dan geospasial.
Permasalahannya, bahkan dua data inti saja belum dikelola dengan baik. Bagaimana penggunaannya, bagaimana data ini disimpan, bagaimana jika terjadi duplikasi, siapa saja yang boleh mengakses data ini dan sejauh mana sistem IT pemerintahan harus mereferensi data ini. Hal ini biasanya belum ada jawabannya di pemerintah daerah.
Integrasi antar sistem IT yang ada di pemerintahan juga masih sangat minim. Contoh carut marutnya di antara lain: Dinas A membuat Peta X, dinas B membuat peta Y, kedua peta ini ternyata saling konflik karena merefer pada data yang berbeda. Ada juga kasus suatu sistem informasi pemerintahan mengumpulkan NIK sendiri, sedangkan NIK ini seharusnya mereferensi pada data kependudukan yang dikelola oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
Selama belum diatur tata kelola IT dan data di pemerintahan, mau buat 1000 aplikasi sekalipun, aplikasi itu juga tidak akan bermanfaat, karena tidak ada integrasi dan interoperabilitas di antara sistem dan data yang ada.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?
Universitas, dan lembaga litbang, industri dan pemerintah berperan penting dalam mengembangkan teknologi informasi untuk membuat suatu perangkat  aplikasi yang diimplementasikan di Smart City Indonesia.
Smart City Indonesia menjadi data dan informasi yang dimiliki oleh masyarakat, data yang dimiliki harus dijamin aman. Data-data strategis harus dapat terlindungi, tapi data yang perlu diinformasikan kepada public harus dapat diinformasikan secara terang benderang. Maka penelitian dan pengembangan teknologi di bidang Smart City Indonesia ini harus dilakukan secara bersama-sama. Harus ada kemandirian keberpihakan pemerintah bahwa Smart City Indonesia ini menjadi alat sehingga masyarakat menjadi pelaku pembangunan, jangan sampai kita menjadi penonton dari teknologi yang datang dari luar. Jika demikan, maka terdapat peluang yang besar untuk kemajuan dan daya saing bangsa melalui pembangunan  Smart City Indonesia. Strategi yang dibuat adalah membuat roadmap Smart City Indonesia secara berkelanjutan.
Kemampuan membangun Smart City Indonesia tergantung dari Sumber daya manusia, sehingga perlu ditingkatkan, kemudian system dan manajemen inovasi juga perlu ditingkatkan, sehingga Smart City Indonesia menggunakan system yang efektif dan efisien, Inovasi Iptek kedepan selalu menciptakan sebuah aplikasi baru sesuai perkembangan zaman,  di mana masyarakat bisa menggunakannya dengan mudah dan sederhana.

Penutup
Dua hal ini menurut saya adalah PR besar dari semua pihak yang terlibat dalam inisiasi Smart City Indonesia di Indonesia. Prinsip yang harus selau dipegang adalah, teknologi hadir untuk membantu meningkatkan kualitas proses bisnis, bukan proses bisnis yang mengikuti teknologi. Jangan sampai daerah-daerah lain yang memulai program Smart City Indonesia hanya terpaku pada teknologi kekinian saja, harus dimulai dari pertanyaan mengapa saya harus menjalankan program ini dan apa tujuan saya harus mencanangkan program Smart City Indonesia.
Saya melihat dinamika inisiasi Smart City Indonesia di Indonesia akan lebih berwarna lagi. Makin banyak pemimpin daerah yang ingin memperbaiki kualitas pelayanan publiknya khususnya dan secara umum memperbaiki kualitas hidup daerahnya. Jangan lupa untuk jangan sampai salah kaprah dan terbuai dengan kecanggihan teknologi semata.
Mengubah tampilan kota berikut segala isinya tidak akan berarti apa-apa tanpa mengedukasi masyarakatnya. Pada poin ini menurut saya hampir semua artikel tentang "Smart City Indonesia Indonesia" betul-betul tidak bermanfaat sama sekali. Seolah utopia dan mimpi-mimpi kosong. Kalau pun bisa terealisasikan bentuk fisiknya saya yakin tidak akan sanggup bertahan lama. Tinggal tunggu aja kapan rusaknya kurang lebih begitulah kasarannya.
Pendidikan yang memang bukan pembahasan cukup menarik dalam "Smart City Indonesia Indonesia" seringkali dikesampingkan atau dianggap bahwa semua orang sudah atau akan menjadi pintar dengan sendirinya begitu fasilitas dan tampilan kota berubah jadi pintar. Kita sudah terlalu naif dengan mudahnya melupakan pertanyaan lama, "apakah dengan memiliki ponsel pintar akan otomatis membuat penggunanya menjadi pintar?" Apakah membangun Smart City Indonesia dengan pemanfaatan teknologi informasi mampu membuat masyarakat menjadi lebih pintar?
Kita tahu bersama jawaban pahit dari pertanyaan tadi adalah kenyataannya tidak, selama tidak adanya langkah-langkah pasti dan implementatif dari semua pihak dalam mengedukasi masyarakat sendiri, yang lagi-lagi saya yakin sejujur-jujurnya bukanlah pembahasan yang menyenangkan, bakalan lama, butuh banyak dana, dan sangat mungkin tak akan pernah bisa direlisasikan, maka wacana dan program Smart City Indonesia yang beberapa di antaranya tampaknya memang sudah akan dijalankan tidak akan betul-betul maksimal dirasakan manfaatnya.
Mungkin benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Emha Ainun Najib (Budayawan) “Seperti kita punya rumah, kemudian ada tamu datang, tamu yang datang itu lebih pintar dari kita, lebih ramah, lebih hebat dari kita, sehingga dia ngajarin kita untuk bersih-bersih rumah sehingga rapi,  ngajarin kita berbenah diri sehingga rumah kita menjadi nyaman, akhirnya kita terkesima oleh cara kerjanya, kita hanya menjadi penonton di rumah kita sendiri. Kita terkesima karena rumah kita menjadi rapi dan sangat menarik dan nyaman. Singkat cerita, tidak terasa, kita terpinggirkan kita hanya tinggal dipojokan rumah kita, dan dia menjadi kepala rumah tangga di rumah kita”. Akankah cerita itu nanti akan terjadi di negara kita tercinta ini? Semua tergantung pada kita, warga bangsa, generasi pejuang dan generasi penerus cita-cita luhur Indonesia.


-----
Tulisan ini diikutsertakan dalam GamatechnoBlog Writing Competition #gtblogcompetition
 
https://www.gamatechno.com/blogcompetition
Banner GamatechnoBlog Writing Competition
Telah follow sosial media Gamatechno, Twitter: @gamatechno
Telah follow sosial media Gamatechno, Facebook: Gamatechno Indonesia, PT

No comments:

Post a Comment