tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] "Living is a conversation. All people talk. But a good person listens as well." - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 19 Juli 2017.

Saturday, March 18, 2017

HOAX DAN URGENSI PENDIDIKAN LITERASI BANGSA SEJAK DINI


I. PENDAHULUAN
Menurut data infografis dari Mastel Indonesia yang melakukan survey pada 7-9 Februari 2017 dan diikuti oleh 1.116 responden di seluruh Indonesia, menyebutkan bahwa sebanyak 44,30% menerima berita hoax setiap hari, dengan 62,10% hoax yang diterima berbentuk tulisan, dan sebanyak 92,40% saluran penyebaran hoax berasal dari sosial media.
Senada dengan pemberitaan artikel berjudul “Menanamkan Mental Paranoid Melalui Berita Hoax” yang bersumber dari www.bnpt.go.id yang dipublikasikan pada 19 Januari 2017, menyebutkan bahwa “Hoax membuat masyarakat menjadi buta mana sumber informasi yang benar dan akurat dan mana yang sebenarnya fitnah dan hoax.”
Dengan demikian konteks ruang dan waktu yang digunakan dalam outline ini adalah  masyarakat kontemporer Indonesia pada masa kini.
Betulkah hoax mencerminkan kondisi bangsa Indonesia saat ini? Betulkah ini cermin dari rendahnya daya nalar dan pola pikir masyarakat kita sekarang? Betulkah kondisi ini terjadi karena tradisi literasi yang rendah akibat lebih senang ngomong daripada membaca dan berpikir yang begitu dapat informasi langsung disebar tanpa mengkaji kebenaran informasi itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan saya pada metode sejarah. Sebuah metode yang digunakan dalam penelitian dan penulisan peristiwa sejarah. Dalam metode sejarah dikenal adanya heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Keempat tahapan itu saling berurutan dan saling terkait satu sama lain (Ch. V. Langlois & Ch.  Seignobos, 1904).
Saat kita akan melakukan sebuah penelitian sejarah, kita diwajibkan mengumpulkan berbagai sumber, baik lisan maupun tertulis. Tergantung dari topik penelitian yang akan kita bahas. Pada tahap ini kita mengumpulkan sebanyak mungkin sumber. Lebih banyak lebih baik. Tanpa memandang mana yang valid mana yang tak jelas.
Saat sumber tersebut terkumpul, tahapan sepanjutnya adalah memilah-milah mana yang fakta mana yang sekedar mitos. Mana yang akurat mana yang tidak jelas. Mana yang primer, sekunder, mana yang tertier. Mana yang benar, mana yang sekedar pembenaran. Mana yang logis, mana yang tak masuk akal.
Kegagalan dalam memilah dan memilih sumber, sejatinya menjadikan tahapan selanjutnya, yaitu interpretasi terhadap sumber menjadi kacau. Dan inilah yang terkadang menimbulkan kontroversi dalam penulusan sejarah. Akibatnya timbul kegaduhan dalam masyarakat.
Munculnya hoax bagaimanapun adalah kegagapan kita dalam menyikapi sebuah informasi. Jika kita tidak mampu memilah mana hoax mana yang benar, maka sejatinya kita gagal menilai sebuah informasi. Dan saat itu yang terjadi mana idealnya kita tidak turut menyebarkan infomasi ini. Sebab, kita tidak yakin akan kebenaran informasi itu. Dan kalau kita tetap menyebarkan informasi itu, maka kita bisa jadi tergolong manusia hoax.

II. PEMBAHASAN
Berita bohong (hoax) kini kian membanjiri media sosial. Subdirektorat Cyber Crime Polda Metro Jaya mengonfirmasi, saat ini terdapat sekitar 300 konten media sosial teridentifikasi menyebarkan berita hoax. Berbagai berita yang disajikan lebih mengedepankan hasutan, kebencian, dan kebohongan publik tanpa merujuk pada data dan realitas sebenarnya. Tanpa didasari dengan pemahaman dan kematangan berpikir, berita hoax tengah mengancam integritas bangsa ini.
Di saat yang bersamaan harus diakui, bahwa budaya literasi bangsa kita masih sangat rendah. Ini adalah fakta. Dalam bertindak, bersikap, dan berperilaku, kebanyakan kita masih berpijak dari hasil melihat dan mendengar. Bukan dari hasil membaca.
Apa itu budaya literasi? Secara sederhana, budaya literasi dapat diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca masyarakat dalam suatu negara.
Di tahun 1996 Taufiq Ismail pernah melakukan penelitian yang dilakukan untuk melihat sejauh mana minat membaca buku (maksudnya buku-buku nonpelajaran) para pelajar lulusan setingkat SMA di beberapa negara. Ternyata ini hasilnya: Di Jerman, pelajar lulusan SMA di sana rata-rata membaca 32 judul buku. Di Belanda, rata-rata membaca 30 judul buku, Rusia 12 judul buku, Jepang 15 judul buku, Singapura dan Malaysia 6 judul buku, Brunei 7 judul buku, sedangkan Indonesia 0 buku.
Central Connecticut State University di New Britain, Conn, Amerika Serikat, di awal 2016 pernah melakukan penelitian di bidang literasi di sejumlah negara.  Hasilnya, ada lima negara yang dianggap terbaik budaya literasinya. Yakni: Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia.
Bagaimana dengan Indonesia? Merujuk harian Kompas (7/2), Inisiator komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menyebut, bangsa kita bukan bangsa pembaca, tetapi bangsa ngerumpi. Informasi yang diterima langsung diyakini sebagai sebuah kebenaran, lalu berupaya membagi informasi tersebut kepada orang lain. Di sisi lain, fenomena hoax sebenarnya juga terjadi di negara-negara lain di dunia, namun di Indonesia dampaknya lebih luas dan masif.
Hal itu relevan dengan catatan UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa). Indeks membaca bangsa Indonesia menurut UNESCO pada tahun 2012 hanya 0,001. Artinya, di antara 1.000 orang, hanya satu orang yang membaca secara serius. Demikian pula catatan survey Most Literated Nation in The World (2015) menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara.
Menurut Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Deddy Mulyana, karakter asli masyarakat Indonesia yang tidak terbiasa berbeda pendapat atau berdemokrasi secara sehat merupakan salah satu faktor mudahnya menelan berita palsu yang disebarkan dengan sengaja.
Menurut mantan dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini, masyarakat lebih cenderung senang membahas aspek-aspek yang berkaitan dengan kekerasan, sensualitas, drama, intrik dan misteri.
Deddy menambahkan, rendahnya kecerdasan literasi masyarakat Indonesia juga menjadi faktor penyebab hoax mudah dikonsumsi.
Nah, hasil penelitian di atas, membuktikan, betapa masih rendahnya minat pelajar di negara kita dalam hal membaca buku. Dan ingat: budaya literasi selalu linier dengan tingkat kemajuan sebuah bangsa.
Di sisi lain, realitas ini sekaligus menegaskan bahwa masyarakat Indonesia belum melihat bahwa gencarnya arus informasi di media sosial sebagai proses pendidikan digital. Melainkan sebagai alat propaganda untuk melanggengkan provokasi satu sama lain. Sehingga, satu sama lain saling memusuhi. Karenanya, sangat urgen membentengi generasi bangsa dewasa ini dengan menggalakkan pemahaman literasi sejak dini.

III. PENUTUP
Rendahnya kesadaran literasi ditengarai menjadi salah satu faktor pendorong masifnya peredaran kabar bohong atau hoax. Dengan budaya baca yang rendah, masyarakat menelan informasi secara instant tanpa berupaya mencerna secara utuh. Masyarakat yang kesadaran literasinya rendah menjadi ladang subur peredaran hoax.
Berdasarkan realitas di atas, sistem pendidikan dewasa ini yang berorientasi pada pendidikan budi pekerti harus diimbangi dengan implementasi pendidikan literasi. Hal ini sangat penting agar peserta didik mampu menyaring berbagai berita hoax yang terus menjamur di media sosial. Yang paling penting, pendidikan literasi tidak serta merta hanya mengajak peserta didik untuk membaca dan menulis secara drilling.
Gerakan membaca dan menulis ini harus diimbangi sebagai sarana untuk membangun kerangka berpikir kritis dan logis bagi peserta didik dengan kegiatan membaca, menelaah, dan menulis. Sebagaimana Fisher (1993), menyatakan bahwa literasi merupakan kegiatan membaca-berpikir-menulis. Dalam artian, praktik membaca dan menulis lebih menitikberatkan kepada membaca dan menulis untuk belajar. Sehingga kegiatan pembelajaran tidak monoton dan pasif dengan membaca semata.
Pentingnya transformasi pendidikan literasi untuk menangkal berita hoax sejak dini juga harus diimbangi dengan beberapa hal. Pertama, membangun budaya pembelajaran kritis di sekolah. Peserta didik tidak boleh hanya pasif membaca dan menulis tanpa berpikir. Hal ini juga harus diimbangi dengan kegiatan pembelajaran yang menunjang, seperti kegiatan diskusi, kerja kelompok, memecahkan masalah, dan membangun sikap kritis terhadap berbagai isu yang tengah berkembang saat ini. Budaya berpikir kritis ini dapat dibangun melalui sinergi antara lingkungan sekolah, guru, dan masyarakat.
Kedua, kegiatan pembelajaran harus didampingi dengan guru kreatif dan melek informasi. Guru sebagai role model di sekolah harus memiliki kecakapan untuk menjauhkan peserta didik agar tidak terpengaruh dengan merebaknya berita hoax. Salah satunya, melalui penyampaian substansi materi pembelajaran yang disajikan oleh guru harus aktif, kreatif, dan kritis. Guru harus mampu mengajak peserta didik untuk membaca sebuah realitas, berpikir kritis, hingga menemukan problem solving atas persoalan tersebut. Selain itu, materi pembelajaran juga harus didesain semenarik mungkin dengan mengaitkan pada isu-isu yang tengah berkembang sekarang ini. Selaras dengan hal tersebut, Langer (2000), menegaskan bahwa kemampuan, berbahasa, berpikir, dan penguasaan substansi materi perlu dipadukan atau disinergikan.
Ketiga, meningkatkan pengawasan orangtua terhadap anak. Tidak dapat disangkal, dengan kecanggihan internet anak-anak dengan mudah mengakses dan mengonsumsi berita hoax. Ironisnya, dewasa ini anak usia Sekolah Dasar (SD) sudah lincah mengakses internet dan berselancar di media sosial tanpa pengawasan orangtua. Terlebih lagi bagi orangtua yang sibuk dengan segudang rutinitas di kantor. Anak-anak dibiarkan bermain smartphone sesuka hati asalkan mau ditinggal bekerja atau dititipkan kepada pengasuh.
Membentengi dengan cara seperti inilah pendidikan literasi dapat disinergikan untuk membentengi peserta didik dari ancaman berita hoax. Karena itu, untuk membangun budaya berpikir kritis peserta didik harus dibangun melalui pendidikan literasi sejak dini. Pendidikan sebagai garda terdepan mencetak generasi bangsa yang berintegritas tidak boleh alpha untuk membentengi dari terpaan tsunami informasi hoax.
Harapannya, pendidikan literasi mampu mengubah budaya berpikir generasi bangsa di masa mendatang. Sebagai generasi kritis dan logis terhadap berita hoax yang tidak mendasar kebenarannya.

IV. DAFTAR PUSTAKA
Abdul Malik.  2017.   Menanamkan Mental Paranoid Melalui Berita Hoax.   www.bnpt.go.id melalui http://jalandamai.org/menanamkan-mental-paranoid-melalui-berita-hoax.html, tanggal 03  Maret 2017 pukul 17.09 WIB.
Ch. V. Langlois & Ch.  Seignobos. 1904. Introduction To The Study of History. NewYork: Henry Holt and Company.
Fisher,  R.  1993.  Teaching  Children  to  Think  (3rd  edition). Maylands Avenue:  Simon  and  Schuster  Education.
Kompas,  7 Februari 2017.
Langer, J. & Flihan, S. 2000. Writing and Reading Relationship: Constructive   Task, http://www.knowledgeloom.org/resources.jsp?location= 6&tool, tanggal 22 Februari 2017 pukul 14.14 WIB.
Mastel.id. 2017. Miris, 61,5% responden mendapat kiriman berita Hoax setiap hari. https://www.facebook.com/mastel.indonesia/photos/a.1703536229878067.1073741828.1699233273641696/1894486500783038/?type=3&theater, tanggal 03  Maret 2017 pukul 17.09 WIB.
Taufiq Ismail, 1996. Dari Pasar Djohar Ke Djalan Kedjaksaan. Seminar Nasional Pengembangan Model Pembelajaran Sastra yang Komunikatif dan Kreatif, Universitas Negeri Semarang, Ahad, 7 Juni 2009.
Tri Pudjiati, 2017. Hoax dan Pendidikan Literasi, http://krjogja.com/web/news/read/21900/Hoax_dan_Pendidikan_Literasi, diakses tanggal 22 Februari 2017 pukul 14.14 WIB.

No comments:

Post a Comment