tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] You know what, the loneliest people are the one who talk a lot. - Yogyakarta, 27 Juni 2017.

Tuesday, March 21, 2017

Nasionalisme Tionghoa Untuk Indonesia: Sebuah Potret dan Refleksi Diri Atas Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (Yang Terlupakan dan Diabaikan)


Gadaikan kepintaranmu dan belilah ketakjuban.
--Rumi

Kepintaran membuat orang merasa puas, ketakjuban mendorong pencarian (dan pembelajaran) terus-menerus.

Nah, mungkin kira-kira demikianlah tanggapan saya saat membaca artikel dan penuturan seorang kawan di dunia maya terkait pidato Anies Baswedan di hadapan para pendukung FPI beberapa waktu yang lalu. Menjadi pintar itu bukanlah segalanya. Buang jauh-jauh prasangka bahwa saya sudah cukup mengerti, saya sudah cukup memahami. Fakta dan kebenaran tidak hanya berwujud dan bersisi satu buah saja. Teruslah belajar, teruslah mencari, teruslah takjub, dan teruslah berbahagia.

Absence of understanding does not warrant absence of existence.
--Ibnu Sina


---
Sharing artikel yang barusan dikirim oleh ko Siauw Tiong Djin:
Monday, 20 March 2017 at 19:11

Komunitas Tionghoa turut berperan dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Oleh: Siauw Tiong Djin

Baru-baru ini beredar sebuah youtube yang mementaskan pidato Anies Baswedan di hadapan para pendukung yang bernaung di FPI. Riziek Shibab, ketua FPI tampak mendengarkan uraian Anies dengan seksama.

Di dalam acara tersebut Anies menggambarkan bagaimana orang tuanya adalah pendiri Partai Arab Indonesia (PAI) pada 1934. Iapun menegaskan bahwa komunitas Arab yang hadir dalam pembentukan PAI bersumpah sebagai orang-orang Indonesia dan menyatakan Indonesia sebagai tanah airnya. Padahal, demikian tutur Anies, pada waktu itu, Indonesia belum ada.

Penuturan Anies sampai di titik ini tepat. Memang sikap hadirin keturunan Arab pada acara pembentukan PAI itu gagah dan memiliki visi politik yang sangat mengagumkan.

Akan tetapi pernyataan Anies bahwa hanya keturunan Arab-lah yang berani bersikap demikian di zaman penjajahan Belanda, tidak benar dan menyimpang dari fakta sejarah.

Diharap pernyataan ini keluar karena Anies kurang memahami latar belakang kakeknya AR Baswedan dan bagaimana PAI terbentuk di Semarang pada 1934. Bukan karena semata-mata berkeinginan menghilangkan peran komunitas Tionghoa di zaman penjajahan Belanda, hanya demi menunjukkan masyarakat Jakarta bahwa Ahok yang Tionghoa tidak se Indonesia Anies yang Arab.

Marilah kita sejenak menengok ke sejarah perkembangan pers di zaman penjajahan Belanda. Bertambahnya jumlah orang Tionghoa yang menerima pendidikan pada awal abad ke 20 menyebabkan animo untuk membaca surat-surat kabar berkembang pula.

Lahirlah perusahaan-perusahaan surat kabar yang dimiliki dan dipimpin oleh orang-orang Tionghoa. Yang terbesar pada waktu itu adalah Sin Po, Keng Po, Sin Tit Po dan Matahari.

Bahasa yang digunakan dalam harian-harian yang terbit di zaman itu adalah Tionghoa Melayu, semacam bahasa se-hari-hari yang digunakan oleh orang-orang Tionghoa. Para akhli bahasa bisa memastikan bahwa sebenarnya bahasa Tionghoa Melayu yang digunakan pers Tionghoa ini sangat berperan dalam perkembangan bahasa Indonesia.

Karena distribusi surat-surat kabar ini jauh melebihi distribusi surat-surat kabar Indonesia dan Eropa lainnya, surat-surat kabar Tionghoa, terutama Sin Po (Jakarta), Sin Tit Po (Surabaya) dan Matahari (Semarang) berperan besar dalam menyebar-luaskan berita mengenai gerakan kemerdekaan. Banyak pembaca non Tionghoa, termasuk orang-orang Arab membacanya. Tokoh-tokoh politik nasional seperti Tjipto Mangunkusumo, Mohamad Yani, Soekarno dan Hatta kerap menulis artikel-artikel di Sin Tit Po dan Matahari.
Sin Tit Po dan Matahari merupakan terompet-terompet Partai Tionghoa Indonesia (PTI), yang didirikan dan dipimpin oleh Liem Koen Hian di Surabaya pada 1932.

Bertentangan dengan apa yang Anies nyatakan di acara FPI disinggung di atas, PTI dengan tegas menyatakan Indonesia adalah tanah air komunitas Tionghoa di Indonesia. Lebih dari itu, para tokoh partai tersebut dengan tegas mendukung gerakan mencapai Indonesia merdeka. Sebuah sikap gagah berani karena ini dideklarasikan di zaman penjajahan Belanda yang telah mengasingkan banyak pejuang kemerdekaan ke Boven Digul dan pulau-pulau lain di luar Jawa. Sikap anti Belanda dan kemudian anti Jepang dengan jelas dicanangkan dalam Sint Tit Po dan Matahari. Dan ajakan para tokoh PTI dan para wartawan kedua surat kabar ini agar komunitas Tionghoa menjadi orang Indonesia kerap keluar dalam bentuk tulisan-tulisan.

Para surat kabar tersebut mengerjakan pula wartawan-wartawan non Tionghoa, di antaranya AR Baswedan. Bahkan AR Baswedan berkembang sebagai wartawan kawakan karena ia bekerja di surat-surat kabar yang dipimpin oleh orang-orang Tionghoa.

AR Baswedan merupakan sahabat karib Liem Koen Hian dan Siauw Giok Tjhan. Ia bekerja sebagai wartawan di harian Sin Tit Po yang dipimpin oleh Liem Koen Hian di Surabaya. Di situlah ia bekerja sama erat dengan wartawan muda Siauw Giok Tjhan. Pada waktu Kwee Hing Tjiat, seorang tokoh jurnalisme Tionghoa, mendirikan harian Matahari di Semarang pada 1934, AR Baswedan, Tjoa Tjie Liang dan Siauw Giok Tjhan pindah ke Semarang untuk menjadi wartawan-wartawan di harian tersebut.

Terinspirasi oleh kegiatan PTI dan komitmen para tokoh Tionghoa mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia, AR Baswedan memutuskan untuk mendirikan Partai Arab Indonesia. Hasrat ini didukung oleh Liem Koen Hian, Kwee Hing Tjiat dan Siauw Giok Tjhan. Atas bantuan mereka inilah, Partai Arab Indonesia dibentuk dan AR Baswedan dipilih sebagai ketuanya di Semarang pada 1934.

Hubungan baik antara AR Baswedan dengan Siauw Giok Tjhan terus berjalin di zaman kemerdekaan. Kedua-duanya masuk dalam kancah politik nasional baik di kabinet-kabinet pada awal kemerdekaan maupun Badan pekerja KNIP.

Kedua-duanya sangat mendukung pluralisme sebagai manifestasi Bhinneka Tunggal Ika. Saya yakin kedua tokoh perjuangan “non-pribumi” berseirama tentang nasion Indonesia yang terdiri dari banyak suku, termasuk di antaranya suku Tionghoa dan suku Arab. Dan saya-pun yakin bahwa karena mereka merupakan founding fathers NKRI, mereka tidak mencampur baur agama dengan kepemimpinan. Demokrasi yang mereka idam-idami adalah pemilihan pemimpin atas dasar kemampuan, komitmen dan kualitas kepemimpinan, bukan atas dasar ras ataupun agama yang dianut.

Uraian di atas juga menunjukkan bahwa komunitas Tionghoa turut berperan dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia.

No comments:

Post a Comment