tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Sunday, June 25, 2017

MAKARYO ATAU KERJA?


Makaryo hari ini sejak tadi pagi. Walau liburan harus tetap semangat & sukacita :). 

“Makaryo” itu identik dengan bekerja, namun jauh daripada itu kata “makaryo” berasal dari kata karya, berkarya, menghasilkan sesuatu. Pencapaian kata berkarya lebih tinggi dari pada bekerja. Berkarya itu menghasilkan sesuatu, sedangkan bekerja, ya bekerja ada sesuatu atau tidak yang dihasilkan itu tidak penting.

Sebuah semangat dan inspirasi sangat dibutuhkan dalam “makaryo”. Perlu adanya suatu hal untuk membuat kita “makaryo” dengan kualitas dan kuantitas yang istimewa, yang spesial kalo perlu tambah telur mata sapi sebagai toppingnya. “Makaryo” itu butuh penjagaan supaya tetap dapat progresif :).

Marx, filosof besar itu, dulu pernah begitu menaruh perhatian pada yang namanya "kerja". Baginya kerja merupakan realisasi kemanusiaan yang paling ultim. Kerja adalah perwujudan diri yang mana manusia meng-ada melaluinya.

Sayangnya, kerja kontemporer tak senikmat dan semenarik apa kata Marx. Kerja kontemporer lebih nampak sebagai kewajiban berangkat dan pulang pada jam yang ditentukan. Kerja lebih nampak sebagai paksaan yang diperlukan untuk bertahan hidup. Kerja jadilah suatu momen yang alienatif: mengasingkan manusia dari keberadaannya.

Kerja yang demikian itu adalah kerja pasca kapitalisme tumbuh subur di muka bumi. Dalam analisisnya Marx mengungkapkan bahwa kerja yang alienatif itu terjadi karena pekerja dipisahkan dari hasil pekerjaannya. Pekerja yang telah dibeli tenaganya menjadi buruh yang tak punya hak atas hasil kerjanya.

Bayangkan lah Anda seorang buruh pabrik N*K*, Ad*d*s atau perusahaan ternama lainnya. Anda ciptakan ratusan bahkan ribuan pasang sepatu untuk perusahaan Anda bekerja. Sayangnya, dengan gaji rendah Anda tak pernah bisa mencicipi memakai sepatu bermerek dan berkelas dunia itu. Itulah gambaran kerja yang alienatif yang Marx tunjuk.

Sehingga terminologi kerja itu sendiri memang sedari awal kapitalistik. Justru sebaliknya, tradisi Jawa memiliki istilah yang mencukupi untuk menggambarkan kerja dalam makna Marxian itu: MAKARYO. Makaryo atau berkarya adalah kerja yang berkonotasi pada upaya perwujudan diri dari berbagai fakultas-fakultas kemanusiaan yang individu miliki.

Makaryo atau berkarya merupakan kreasi aktif individu mengolah segala ihwal di dunia ini menjadi meaning full. Tentu tak sekedar soal: gaji, biaya hidup, tunjangan saja. Dalam makna makaryo, kedirian individu mewujud dalam hasil karyanya. Bila kita pinjam bahasa Moh. Hatta, itulah yang ia sebut sebagai individualita itu.

Makaryo adalah realisasi ultim dari kapasitas kemanusiaan individu yang ultim. Yang karenanya, individu menemukan kepuasan (meaning full) ketika melakukan aktivitas tersebut. Makaryo jadilah tak dapat diukur hanya dengan kriteria uang/ gaji belaka.

Dalam tradisi Jawa itu, bila kita ingat masih ingat di tahun 70-80an istilah ini masih sering kita dengar dalam keseharian. "Lik menyang endi?" "Arep makaryo". Dan rekonsktruksi romantis dari makaryo adalah kerja agraris dan sektor kreatif. Kerja agraris memungkinkan "makaryo" hadir saat seorang petani memulai masa tanam dengan persembahan/ selamatan. Atau saat secara bersahabat memandikan kerbau yang ia miliki. Dan seterusnya.

Kerja kreatif misalnya ketika para tukang kayu itu meracik papan/ balok kayu menjadi kusen, lemari, meja dan sebagainya. Karya yang ia hasilkan adalah bentuk ejawantah dari kemanusiaannya. Karya-karya itu menjadi sesuatu yang dalam dirinya adalah seni atau nyeni. Sehingga pada zaman itu tak ada jarak antara bekerja (makaryo) dengan berkebudayaan.

Menghadirkan makaryo pada perjumpaan kontemporer sama artinya dengan ikhtiar aktif merubah tata keberadaan dan tata kelola yang eksploitatif. Makaryo hilang karena karena modal atawa kapitalisme. Bahwa modal menjadi mendikte individu sehingga kita kehilangan kendali atas hak-hak dasar kemanusiaan kita. Yakni hak untuk menikmati pekerjaan kita.

Tanyalah kepada buruh, guru, karyawan swasta dan macam orang lainnya, apakah makaryo hadir dalam keseharian? Atau justru dikte-dikte bahwa kita harus menyelesaikan tugas dari A sampai Z untuk demi gaji bulanan? Adakah kebersatuan (kemanunggalan) diri dan karyanya ada di sana? Adakah ia merasakan bahwa yang dikerjakannya sebagai hal yang meaning full?

Indikasinya sederhana: apakah orang akan begitu cheerfull saat menyambut liburan atau begitu suntuk pasca pulang kantor. Dari raut wajah, intonasi kisah dan bahasa tubuh lainnya, kita bisa kenali adakah makaryo hadir dalam diri seseorang.

Ikhtiar untuk merubah tata keberadaan dan tata kelola merupakan aspirasi sejarah umat manusia: bahwa yang lebih baik itu adalah mungkin. Seperti yang dulu dilakukan Robert Owen (Bapak Koperasi Dunia) ketika menuntut: 8 jam kerja, 8 jam rekreasi dan 8 jam istirahat terwujud sampai hari ini.

Meski jam kerja itu sudah demikian nampak manusiawi, lantas apakah makaryo sudah hadir di dalamnya? Atau perlu radikalisasi pada perubahan tata keberadaan segala ihwal (the order of thing) menjadi lebih sosialistik dan humanistik. Salah satu bentuknya adalah dengan ownership atawa kepemilikan sebuah perusahaan oleh para pekerjanya.

Boleh jadi dari sanalah makaryo benar-benar bisa hadir sehingga pekerja-pekerja tak lagi terasing dari pekerjaan dan hasil kerjanya. Ya, saat ia bisa mengendalikan apa-apa yang dikerjakannya. Ada hak, ada kendali, ada demokrasi di ruang kerja. Selamat makaryo :)!

"Ingat saja pepatah Tiongkok,
Sebelum bunyi empat paku di atas peti mati kamu, 
kamu tidak bisa menilai orang lain baik atau buruk
Nanti kamu baru tau apa yang saya kerjakan."
-Basuki Tjahaja Purnama

Tuesday, June 20, 2017

SUSHI STORY すしストー リー

 https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10213624396073572&set=a.1568377578717.2089331.1513794646&type=3&theater

すしストー リー (すし sushi in Hiragana ストー リー Sutōrī in Katakana)
おいしい。 (Oishii in Hiragana mean delicious.)

CC: SUSHI STORY Lippo Plaza Jogja.

---
SUSHI STORY shared your post.
12 hrs · Wednesday, June 21, 2017 at 3:13pm

ARIGATOU GOZAIMATSU Yose San!
Terima kasih atas kunjungannya!
YES, Sushi Story memang tempatnya menikmati Sushi bergaya Kekinian! Oishii desu ne! Arigatou Gozaimatsu!
https://www.facebook.com/SushiStoryExpress/posts/1396159047138268

Friday, June 9, 2017

Tanggapan Atas Tulisan CNN Pemerintahan Trump 'dusta' tentang FBI, kata James Comey

Hak atas foto Reuters

Tidak semua orang bekerja yang dipecat, masuk penjara, dizholimi, bahkan sampai dihukum mati, adalah orang-orang busuk, sampah dan payah. Beberapa dari mereka justru adalah yang terbaik, yang berloyalitas dan berkomitmen tinggi, yang sayangnya tidak disukai publik atau sekedar tidak bisa mencari muka/menjilat pimpinan. James Comey, Basuki Tjahaja Purnama, Tan Malaka, dan masih banyak tokoh lainnya yang berakhir 'dibuang' karena mereka punya integritas dan tidak mau ikut serta dalam ketidakadilan dan kemunafikan.

--- 
Pemerintahan Trump 'dusta' tentang FBI, kata James Comey

Comey menjelaskan kepada sebuah Komite Senat bahwa Gedung Putih 'memilih untuk mencemarkan namanya, dan lebih penting lagi FBI'.

Mantan Direktur FBI, James Comey, mengatakan kepada Kongres bahwa komentar pemerintahan Presiden Donald Trump tentang dirinya dan FBI 'semata-mata dusta'.

Kepada sebuah Komite Senat Amerika Serikat, Kamis (08/06), Comey mengatakan mereka salah dalam memburuk-burukkan lembaga itu dan kepemimpinannya.

Dia juga mengaku 'bingung' dengan 'pergeseran penjelasan' dalam pemecatannya pada saat dia sedang memimpin penyelidikan kaitan antara kampanye Trump dengan Rusia.

Trump, menurutnya, beberapa kali mengulang kepadanya bahwa dia melakukan pekerjaan 'hebat'.

Comey menduga bahwa dia dipecat karena 'mengubah cara melakukan penyelidikan tentang Rusia'.

"Saya tahu saya dipecat karena sesuatu tentang cara saya melakukan penyelidikan Rusia yang dalam beberapa hal memberi tekanan kepadanya, yang dalam beberapa hal mengganggunya," kata Comey.
memberikan keterangan di Kongres AS.

Mantan bos FBI itu tampak tenang dan sabar ketika memberikan keterangan selama hampir tiga jam walau bersemangat ketika menyampaikan pidato pembukaan.

"FBI jujur. FBI kuat. Dan FBI mandiri dan selalu akan begitu," tuturnya dalam pidato pembukaan.

Dia menjelaskan kepada komite bahwa Gedung Putih 'memilih untuk mencemarkan namanya, dan lebih penting lagi FBI' dengan mengatakan badan itu 'dipimpin dengan buruk'.

"Itu semua dusta. Dan saya minta maaf jika semua orang di FBI harus mendengarnya."

Comey memimpin salah satu dari beberapa penyelidikan terkait Rusia sebelum Presiden Trump memecatnya, pada Bulan Mei.

Badan-badan intelijen Amerika Serikat yakin Rusia campur tangan dalam pemilihan presiden Amerika Serikat dan menyelidiki kaitan antara tim kampanye Trump dengan pemerintah Moskow.

Namun tidak diketahui ada bukti kolusi dan Presiden Donald Trump menepisnya sebagai 'berita bohong'.

Juru bicara Presiden Trump, Sarah Sanders, sudah menyerang balik Comey dengan mengatakan, "Saya dengan pasti megatakan bahwa presiden bukan pendusta."

Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40207920?ocid=socialflow_facebook

Sunday, June 4, 2017

Soegija The Movie


Butuh waktu cukup lama sejak awal release-nya di tahun 2012 yang lalu sampai akhirnya saya berhasil menemukan & bisa membeli Premium VCD Soegija The Movie RP 25.000 siang ini di PUSKAT PML Yogyakarta - Kursus Musik Gereja Jalan Ahmad Jazuli 2 Kotabaru Yogyakarta.
Ah, saya memang telat, tapi tak mengapalah. Sebab tak ada kata terlambat buat mereka yang masih ingin terus belajar, bukan? Saatnya menonton film Indonesia yang berkualitas dan selamat beraktifitas juga buat kawan-kawan .