tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Monday, October 30, 2017

Borobudur Goes to Campus - Bedah Film "Access 360 World Heritage Borobudur"

Bedah Film "Access 360 World Heritage Borobudur"
Senin, 30 Oktober 2017
10.30 WIB
Narasumber:
Drs. Marsis Sutopo, M.Si
Hari Setyawan, S.S, M.T
(Balai Konservasi Borobudur)
Kuota 100 peserta (Belakangan sepertinya ada perubahan tambahan kuota peserta dari panitia)

Tempat: Auditorium MIPA UGM Sekip Utara
GRATIS

Saksikan pula
Mini exhibition konservasi cagar alam budaya 30 Okt - 2 Nov 2017
(berupa pameran publikasi dalam bentuk maket, buku-buku, alat-alat peninggalan masa lampau yang ditemukan di sekitaran Borobudur, poster paper ilmiah di tempat yang sama, dan benda-benda pendukung)

FASILITAS: Konsumsi, Serifikat, Seminar Kit.
(Pengalaman di hari pertama peserta dapat tambahan fasilitas berupa snack dan beberapa buku gratis - foto terlampir di bawah ini. Khusus untuk konsumsi nasi box untuk makan siang tidak terlampirkan karena sudah keburu dihabiskan oleh penulis sebelum sempat didokumentasikan)

---
Sedikit tanggapan jujur pribadi penulis selaku peserta yang dirasa kurang menyenangkan selama acara: 

1. Acara dimulai agak terlambat dari yang direncanakan. Penulis sangat ingat, pukul 10.30 WIB baru 17-19 an peserta hadir dan duduk di bangku peserta. Artinya tidak sampai 1/5 bagian atau tidak sampai 20% peserta yang betul-betul komit dengan waktu pembukaan acara. Dan acara pun pastinya belum bisa dibuka oleh panitia. Padahal dari PDF daftar peserta yang diterima (link terlampir di bawah), sebagian besar berasal dari mahasiswa & alumni kampus-kampus elit di Pulau Jawa. 

2. Tidak semua peserta mendapatkan tag name. Hal ini rupanya terlewatkan oleh panitia. Seminar kit yang berisikan goodie bag, ballpoint, dan notes ternyata tidak serta merta menyertakan tag name di dalamnya. Sehingga beberapa peserta yang telah datang lebih awal dan yang tepat waktu mendaftar sebelum jam 10.30 WIB harus kembali ke meja pendaftaran di depan untuk meminta tag name tersebut pada panitia. 

3. Pada saat acara bedah film, tepatnya diskusi oleh pembicara, salah satu salon sound system mengalami gangguan (mengeluarkan bunyi bising cukup keras dan cukup lama bunyinya) hingga akhirnya acara dilanjutkan tanpa menggunakan microphone lagi.

4. Bedah film berlangsung dengan cukup baik dan menarik. Sesi tanya jawab yang dipandu Sdr. Erwin (Founder Malam Museum) sayangnya hanya dibuka satu termin karena keterbatasan waktu yang ada.

5. Sesi pembagian buku (setelah acara bedah film selesai dan nasi box makan siang dibagikan) kepada peserta yang diwajibkan mengisi tanda tangan terlebih dahulu pada berkas penerimaan buku berlangsung agak tersendat di awal. Hal ini rupanya karena ketidakmengertian peserta untuk mengantri satu per satu dan cenderung mau mengerubuti begitu saja stand meja pembagian buku gratis (sayang tidak sempat ambil foto untuk dokumentasi).


Sedikit tanggapan jujur pribadi penulis selaku peserta yang dirasa menyenangkan selama acara:

1. Sistem pendaftaran sudah menggunakan paperless. Calon peserta yang mau mendaftar harus mengirimkan berkas lewat email yang berisikan data diri dan motivasi mengikuti acara.

2. Pukul 10.30 WIB sesuai jadwal, penulis melihat panitia sudah stand by untuk bersiap membuka acara sayang peserta baru sedikit sekali yang hadir.

3. Snack (foto terlampir di bawah) dibagikan di awal sebelum pembukaan acara dan nasi box untuk makan siang dibagikan di akhir acara setelah penutupan. Beberapa panitia berinisiatip membagikan pula botol aqua ukuran mini setelah snack dibagikan dengan tanggap dan ramah. 

4. Materi film yang sampaikan sangat tepat, berbobot, dan mengundang peserta untuk berpikir kritis akan esensi konservasi budaya Borobudur yang sebetulnya amat urgent saat ini. 

5. Buku-buku gratis yang diberikan pada peserta hari pertama sangat beragam (dokumentasi terlampir) dan sejujurnya ini adalah acara dengan pembagian buku gratis terbanyak yang pernah penulis ikuti (sampai dengan 7-8 buku). Foto di bawah masih ada 2-3 buku lagi yang belum sempat penulis mintakan karena keterbatasan bawaan.

Terlepas beberapa kekurangan yang mungkin di luar perencanaan awal panitia seperti yang penulis sebutkan di atas,  semoga hal tersebut bisa menjadi masukan di hari kedua dan ketiga berikutnya. 


Beberapa catatan yang penting dari refleksi pribadi penulis untuk kita renungkan bersama (berdasarkan selama proses diskusi film berlangsung) antara lain: 

1. Mungkin berlebihan, namun berdasarkan penuturan pembicara, belum ada doktoral orang Indonesia yang betul-betul ahli dalam bidang akademis dan praktisi tentang konservasi. Ini artinya kita masih bergantung dan berharap pada bantuan dan kebaikan orang-orang luar tentu beserta ide dan beberapa peralatannya untuk mendukung kegiatan konservasi budaya Borobudur selama ini. Semoga di masa depan kita punya ahli-ahli doktoral khusus masalah konservasi ini.

2. Masih banyak dari para turis lokal Indonesia yang menurut penuturan pembicara yang masih tak tahu dan tak mau tahu akan aturan-aturan dan larangan-larangan selama berada di daerah Borobudur seperti halnya tidak diperbolehkan bersandar dan tangan merogoh ke dalam stupa. 

3. Pentingnya reedukasi akan ketentuan-ketentuan tersebut sejak di awal pengunjung mendaftar. Mungkin sebaiknya dipasang butir-butir aturan dalam dwi bahasa Indonesia dan Inggris di bagian pintu pendaftaran, pintu masuk pengecekan barang bawaan pengunjung, dan di pintu masuk pertama candi. Mungkin perlu juga dibuat semacam brosur yang bisa dibagikan gratis di bagian pintu pendaftaran agar pengunjung tahu, mengerti, dan mau mengikutinya. 

4. Perkara pelarangan pada pengunjung yang bandel oleh petugas di atas candi yang malah dimarahi/dimaki oleh pengunjung yang sayangnya disebutkan malah dari pengunjung lokal, ini adalah masalah klasik mentalitas yang harus didisiplinkan. Mungkin perlu ada semacam pelatihan khusus untuk petugas yang menghadapi para pengunjung nakal tadi. Mungkin semacam pelatihan FMD Fisik Mental dan Disiplin. Agar petugas lebih berani namun tetap ramah menghadapi permasalahan tadi. 

5. Mungkin perlu juga secara berkala Balai Konservasi Borobudur atau pihak-pihak yang terkait mengadakan 'jemput bola' mere-edukasi masyarakat umum,  pelajar dan sekolah-sekolah, serta mahasiswa dan kampus-kampus, akan pentingnya melestarikan cagar budaya Borobudur ini termasuk di dalamnya adalah adalah penyampaian materi wajib hal-hal yang boleh (DO) dan hal-hal yang tidak boleh (DON'T) dilakukan selama di dalam area Borobudur. Sesegera dan sebanyak mungkin. Untuk itu maka menurut hemat penulis perlu dibentuk tim volunteer untuk mengerjakan hal ini di luar pihak inti Balai Konservasi Borobudur karena penulis yakin sudah cukup sibuk dengan agenda-agenda kegiatan yang sudah ada. Tim volunteer nantinya bisa berasal dari simpatisan dan akademisi/praktisi yang memiliki minat dan mau belajar serta peduli pada cagar budaya Borobudur namun tetap berkoordinasi dengan pihak Balai Konservasi Borobudur untuk SOP dan semacamnya.

Mungkin demikian yang dapat penulis sampaikan terima kasih untuk apresiasi dan kesempatan yang telah diberikan oleh Balai Konservasi Borobudur dan Universitas Gadjah Mada. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan, kelancaran, dan kebahagiaan dalam tiap aktivitas. Amiin.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Seminar kit dan snack bedah film
Beberapa buku gratis dengan mengisi tanda bukti penerimaan buku
Sertifikat acara bedah film
Brosur informasi acara

FORMULIR PENDAFTARAN PESERTA:

FORMULIR PENDAFTARAN PESERTA_bedah film
FORMULIR PENDAFTARAN PESERTA_talkshow
FORMULIR PENDAFTARAN PESERTA_bedah buku


Daftar Peserta Sementara Goes to Campus:

FORMULIR PENDAFTARAN PESERTA_bedah film
FORMULIR PENDAFTARAN PESERTA_talkshow
FORMULIR PENDAFTARAN PESERTA_bedah buku

No comments:

Post a Comment