tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Friday, November 3, 2017

Borobudur Goes to Campus - Talkshow "Konservasi Cagar Budaya"

Talkshow
"Konservasi Cagar Budaya"
Kamis, 2 November 2017
10.30 WIB sd Selesai

Narasumber:
Prof. Dr. Endang Tri W.
(Fakultas MIPA UGM)
Ari Swastikawati, S.Si, M.A
(Balai Konservasi Borobudur)

Kuota: 60 peserta (kemungkinan sudah ada tambahan kuota peserta dari panitia)

Saksikan pula
Mini exhibition konservasi cagar alam budaya 30 Okt - 2 Nov 2017
(berupa pameran publikasi dalam bentuk maket, buku-buku, alat-alat peninggalan masa lampau yang ditemukan di sekitaran Borobudur, poster paper ilmiah di tempat yang sama, dan benda-benda pendukung)

FASILITAS: Konsumsi, Serifikat, Seminar Kit.
(Pengalaman di hari terakhir ini peserta dapat tambahan fasilitas berupa handout/fotocopy materi satu pembicara, snack dan beberapa buku gratis - foto terlampir di bawah ini)

--- 
TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Mungkin demikian ungkapan yang dapat mengilustrasikan keseluruhan acara di hari terakhir Borobudur Goes to Campus yang diadakan oleh Balai Konservasi Borobudur dan Universitas Gadjah Mada tanggal 2 November 2017 yang lalu. 

Pembukaan acara talkshow sedikit agak terlambat namun tetap tidak mengurangi makna dan esensi acara. Ibu Ari Swastikawati, S.Si, M.A dari Balai Konservasi Borobudur membawakan materi presentasi "Kajian Konservasi Cagar Budaya" (peserta mendapatkan handout/foto copy materi presentasi) dan Ibu Prof. Dr. Endang Tri W. membawakan materi pentingnya kajian dan peran ilmu eksakta dalam konservasi cagar budaya, dalam hal ini adalah ilmu kimia yang di mana adalah keahlian beliau (sayangnya tidak ada materi presentasi dari beliau untuk peserta).

Ibu Ari membawakan beberapa studi kasus permasalahan yang sudah dan sedang beliau dan tim Balai Konservasi Borobudur alami saat ini di antaranya adalah konsolidasi kayu tiang bendera di Kesultanan Buton, Sulawesi Tenggara, yang telah berumur 400 tahun dan terus mengalami pelapukan. Selain itu beliau juga membicarakan bagaimana mengkonservasi budaya beberapa material lainnya seperti kertas, logam, batu, bata, dsb.

Ibu Endang membawakan beberapa materi terkait analisa ilmu kimia sebagai problem solver dalam mengatasi permasalahan yang ditemui dalam dunia konservasi budaya Indonesia. Salah satunya adalah bagaimana menghilangkan kerak dan endapan pada material cagar budaya keramik yang sudah terlampau lama dengan tetap memperhatikan/mempertahankan keaslian material bahannya. Salah satu solusinya adalah dengan menjalankan pembersihan/perendaman dengan air hangat kemudian dilanjutkan dengan cairan/larutan hidrogen peroksida dan diakhiri dengan cairan/larutan EDTA.

Setelah sesi presentasi berakhir, akhirnya tibalah sesi yang ditunggu-tunggu yakni sesi tanya jawab. Tampak banyak peserta mengajukan pertanyaan dan juga memberikan ide/pendapat serta sharing pengalaman dalam hal-hal yang terkait konservasi cagar budaya/material cagar budaya. Sesi tanya jawab berlangsung dengan dinamis, enerjik, serta hangat dalam suasana kekeluargaan. Tak lupa pembicara baik Ibu Ari dan Ibu Endang sesakali memberikan encouragement menyemangati dan mengingatkan peserta bahwa sudah saatnya sekarang peran dan studi lintas ilmu dibutuhkan dalam kegiatan konservasi cagar budaya Indonesia. Pun terkait di dalamnya juga adalah perlunya mengkombinasikan kearifan lokal dengan modern sciences serta pentingnya komunikasi re-edukasi untuk menyampaikan hasil-hasil penelitian kepada masyarakat umum.  

Setelah beberapa termin pertanyaan yang disediakan oleh moderator dan acara hampir ditutup, MC mengambil inisiatif untuk memberikan kesempatan pada peserta dari beberapa museum kepemerintahan dan swasta untuk membagikan pengalaman-pengalaman serta bertanya terkait dengan upaya-upaya konservasi cagar budaya Indonesia yang ada. 

Peserta yang kebanyakan terdiri dari mahasiwa dan alumni serta masyarakat umum terlihat menikmati dan mengikuti keseluruhan acara dengan antusias. 

Di bagian terakhir acara ditutup dengan penyampaian satu dua patah kata oleh Balai Konservasi Borobudur dan Ibu Prof. Dr. Endang Tri W. selaku perwakilan dari Universitas Gadjah Mada. 

Setelah itu ada pembagian nasi box serta pengambilan sertifikat dan beberapa buah buku gratis terkait kajian Borobudur (termasuk buku saku Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan buku Cerita Bergambar Relief Candi Borobudur sebagaimana terabadikan dalam foto di bawah ini).

Berikut adalah beberapa dokumentasi foto yang berhasil penulis dapatkan.

Seminar kit talkshow
Snack talkshow
Ibu Ari Swastikawati, S.Si, M.A menyampaikan materi
Ibu Prof. Dr. Endang Tri W. menyampaikan materi
Ibu Ari Swastikawati, S.Si, M.A menjawab sesi tanya jawab
Ibu Prof. Dr. Endang Tri W. menjawab sesi tanya jawab
Ibu MC memberi kesempatan peserta untuk bertanya jawab
Berfoto bersama peserta di penghujung acara, mas Leo
Nasi box talkshow
Sertifikat talkshow
Brosur acara Borobudur Goes to Campus

Acara bedah film "Access 360 World Heritage Borobudur" di hari pertama 30 Oktober 2017, acara bedah buku "Konservasi Kayu" di hari kedua 31 Oktober 2017, dan acara talkshow "Konservasi Cagar Budaya" di hari terakhir 2 November 2017 ini tentu telah memberikan banyak informasi dan juga kesadaran pada para peserta yang hadir tentang pentingnya menjaga dan melestarikan cagar budaya. Acara tiga hari berturut-turut ini bagi penulis pribadi memberikan satu kesan yang mendalam bahwa pembelajaran dan pekerjaan belum usai.

Bagi siapa pun yang menghadiri salah satu atau keseluruhan acara pastinya akan menyetujui bahwa perjalanan masih panjang. Dibutuhkan lebih banyak waktu, proses, kesiapan SDM dan akses untuk bisa memberikan kepastian bahwa cagar budaya Indonesia haruslah terus dikonservasi, dilestarikan, agar dapat diberikan sebagai warisan untuk generasi mendatang secara utuh dan lengkap.

Kegiatan Borobudur Goes to Campus selama tiga hari berturut-turut merupakan kegiatan yang selangkah lagi mendekatkan diri kepada masyarakat dan akademisi guna menyadarkan pentingnya konservasi cagar budaya Indonesia pada umumnya dan Borobudur pada khususnya.

Sebab kalau bukan kita siapa lagi? Kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan cagar budaya adalah kewajiban dan panggilan kita bersama.

Mungkin demikian yang dapat penulis sampaikan. Penulis secara pribadi dan tulus mengucapkan banyak terima kasih untuk apresiasi dan kesempatan yang telah diberikan oleh Balai Konservasi Borobudur dan Universitas Gadjah Mada. Serta kepada seluruh panitia dan Contact Person (CP) mbak Asih, mbak Nisa, mbak Winda, yang terlibat untuk semua kerja keras dan kerja cerdas yang telah dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Semoga Gusti Allah membalas kebaikan Bapak/Ibu/Mas/Mbak dengan balasan yang terbaik.

Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan, kelancaran, dan kebahagiaan dalam tiap aktivitas. Amiin.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Demikian yang dapat penulis sampaikan. Semoga bermanfaat dan berkenan.

Mau tahu lebih banyak tentang BOROBUDUR, klik aja ... www.konservasiborobudur.org

No comments:

Post a Comment