tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Saturday, December 9, 2017

Lomba Book Review Perpustakaan Pssat UGM



---


PENGUMUMAN
Berdasarkan hasil penilaian untuk para nomine pemenang lomba book review, lomba vlog, lomba photo competition oleh Dewan Juri Lomba yang telah dilaksanakan tanggal 03 s.d. 26 November 2017 di Perpustakaan PSSAT UGM Yogyakarta, berikut nama-nama Pemenang Lomba.

Hadiah dapat diambil di Perpustakaan Pssat UGM, lt.2 mulai tgl 8 - 14 Desember 2017 pk. 09.00- 15.00 WIB. Pengambilan hadiah tidak dapat diwakilkan.

Terimakasih

ttd
Panita Lomba

---


Resensi Buku Sejarah: Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680
(Jilid 1: Tanah di Bawah Angin)
Oleh: Yose Rizal Triarto

Judul Buku : Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 (Jilid 1: Tanah di Bawah Angin)
Penulis  : Anthony Reid
Alih Bahasa   : Mochtar Pabotinggi
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta
Tahun Terbit : Cetakan kedua, Januari 2011
Tebal Buku : xxxiv + 327 hlm
ISBN : 978-979-461-108-1
Kategori buku: Sejarah

Prof. Anthony Reid, Ph.D. merupakan seorang sejarawan mumpuni nan unggul yang berasal Selandia Baru dan lahir di tahun 1939 serta aktif menulis. Karya-karya beliau banyak berkaitan dengan sejarah Aceh sejak berdirinya Kesultanan Aceh, Sulawesi Selatan, dan sejarah modern Hindia-Belanda/Indonesia pada abad ke-20.

Beliau juga dikenal sebagai pakar sejarah Asia Tenggara. Perkenalan beliau dengan Asia Tenggara berawal saat usianya 13 tahun, ia ikut ayahnya bertugas di Indonesia sebagai pegawai PBB selama tiga tahun (1952-1954). Studi doktoralnya di Universitas Cambridge diselesaikan pada tahun 1969 mengenai persaingan antara Kesultanan Aceh, Belanda, dan Inggris di antara tahun 1858-1898.

Selepas memperoleh gelar Ph.D., beliau memulai karir akademis dan intelektualnya dengan mengajar di Universitas Malaya sejak 1965. Kemudian ia berpindah mengajar di Universitas Negeri Australia (Australian National University, ANU) dengan keahlian kajian Asia Tenggara. Pada tahun 1978, ia mengambil cuti sabbatical dan bepergian ke Belanda, Inggris, dan Perancis. Hasilnya adalah buku dua volume yang menjadi rujukan penting dalam kajian sejarah Asia Tenggara, Southeast Asia in the Age of Commerce atau Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450 – 1680.

Di dalam bukunya yang berjudul Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin, Anthony Reid mengemukakan tulisan dan pandangannya tentang keseharian hidup dari masyarakat Asia Tenggara pada masa tersebut. Seperti apa yang Onghokam tulis pada kata pengantar buku tersebut, yang menjadi perhatian Reid adalah, geografi, demografi, pakaian, pesta rakyat dan kerajaan, perumahaan, material culture, makanan, seks, kedudukan wanita versus laki-laki dan lain sebagainya

Pada bab pertama yakni Pendahuluan: Tanah di Bawah Angin, Reid mengulas tentang Asia Tenggara yang dilihat dari segi kesatuan wilayah dan penduduk. Asia Tenggara diartikannya sebagai serumpun wilayah yang mepunyai letak yang stategis. Reid juga mengidentifikasi bahwa Asia Tenggara mempunyai penduduk yang sepersaudaraan, mirip baik dalam postur maupun sikap tingkah dan kebiasaan. Penduduk Asia Tenggara hidup berdampingan dan saling melengkapi dalam hal pemenuhan kebutuhan. Reid menterjemahkan masyarakat Asia Tenggara sebagai kesatuan hidup yang hidup sebagai satu unit.

Pada bab berikutnya yakni bab dua, Kesejahteraan Fisik merupakan suatu kajian tentang bagaimana kondisi fisik rakyat Asia Tenggara pada periode tersebut. Disebutkan bahwa penduduk Asia Tenggara saat itu masih jarang dan hidup tidak memencar. Masyarakat Asia tenggara saat itu sebagian besar hidup dengan bertani, terutama sektor beras. Beras dijadikan sebagai makanan utama dan sebagai pelengkapnya adalah garam dan ikan. Benda tersebut sudah menjadi barang yang hamper tersebar menyeluruh. Bahkan bahan makanan yang ada di kawasan Assia Tenggara pada masa itu sudah mampu dipasarkan ke berbagai daerah. Hal tersebut menandakan adanya pemenuhan makanan yang sejahtera di sebagian besar daerah. Pola makan yang sehat dan makanan yang penuh gizi mendorong peduduk Asia Tenggara memiliki postur tubuh yang hampir sama dengan masyarakat Eropa pada masa itu, bahkan dikatakan tingkat kesehatan masyarakat Asia Tenggara saat itu melebihi tingkat kesehatan masyarakat Eropa. Dilihat dari obat-obatan yang digunakan, masyarakat Asia Tenggara menggunakan obat-obat alami dan tradisional sebagai bahan penyembuhan. Namun, masih ada hal-hal mistis yang melekat pada proses penyembuhan saat itu. Dan ditekankan sekali lagi bahwa masyarakat saat itu mempunyai badan yang lebih kebal terlihat dari tidak adanya wabah penyakit serius yang melanda masyarakat saat itu.

Pada bab selanjutnya yakni bab tiga Kebudayaan Material, Reid menjelaskan bahwa rumah-rumah masyarakat saat itu berbentuk panggung dan terbuat dari kayu yang mudah dibongkar pasang. Perabotan yang digunakan masih sangat sederhana tidak ada meja ataupun kursi. Raja dan masyarakat duduk di lantai dan menggunakan tangan sebagai alat makan. Tubuh juga tidak luput dari perhatian penanda kehebatan atau keindahan. Orang-orang menghiasi tubuh dengan tato seperti masyarakat Birma, pelubangan telinga dan lain-lain. Masyarakat saat itu lebih mementingkan pakaian sebagai simbol kekayaan ketika menghadiri pesta tertentu. Pakaian menjadi komoditi yang diperdagangkan dan menghasilkan pendapatan yang lumayan. Saat itu udah terdapat spesialisaasi pekerjaan seperti tukang pande besi, emas, tukang kapal, penjahit dan masih banyak lagi.

Pada bab empat Pengaturan Masyarakat, Reid mencoba menganalisa dan menggambarkan perihal pengaturan masyarakat saat itu. Sistem kekuasaan saat itu diartikan oleh Reid sebagai patriarkal. Reid menjelaskan tentang beberapa peperangan yang terjadi di Asia Tenggara. Peperangan itu menurut Reid lebih dilatarbelakangi oleh pengeksploitasian budak bukan sebagai media perluasan wilayah teritorial. Buruh dan budak dipandang sebagai alat penunjuk kekuasaan, sehingga mobilitasnya dianggap penting. Saat itu hukum dan keadilan dilaksanakan sebagai suatu kebijaksanaan raja, namun adakalanya raja harus menhukum rakyat yang berbuat salah guna melegitimasi kekuasaannya. Jika menganalisis apa yang ditulis Reid dalam bukunya, kita dapat melihat bahwa kedudukan wanita Asia Tenggara pada kisaran waktu 1450-1680 dianggap mempunyai peran ekonomis serta otonom. Wanita dianggap berjasa melahirkan dan membesarkan anak, sang generasi penerus.

Pada akhirnya, Pesta Keramaian dan Dunia Hiburan dijabarkan pada bab terakhir, bab lima. Reid menutup bab-bab pad buku ini dengan anggapan bahwa manusia Asia Tenggara saat itu sebagai manusia yang suka berpesta dan bersenang-senang. Raja sebagai tokoh utama dianggap harus selalu menjaga harga diri di depan rakyatnya. Masyarakat Asia Tenggara saat itu dikenal oleh bangsa Eropa sebagai orang yang senag melakukan pertunjukan yang memamerkan kekuatan dan kemegahan. Hal tersebut terlihat dengan banyaknya perlombaan dan pertandingan yang diadakan raja-raja di Asia Tenggara saat itu. Sebagai contoh ada pertandingan gulat, tinju, pertandingan melawan binatang buas dan lain-lain.

Berbeda dengan karya Reid , jika kita membandingkan karya Drs. Sudharmono dalam bukunya Sejarah Asia Tenggara Modern dari Penjajahan sampai ke Kemerdekaan terbitan Universitas Gadjah Mada. Apa yang Reid tulis dalam buku ini menyampaikan hal yang terperinci serta menyuguhkan realitas kehidupan masyarakat Asia Tenggara pada masa itu. Sedangkan Sudharmono mencoba menerangkan kondisi Asia Tenggara pada waktu yang hampir sepadan melalui pendekatan politik dan kewilayahaan. Sudharmono tidak segamblang Reid memaparkan kehidupan masyarakat Asia Tenggara saat itu. Reid melalui bukunya mampu merangkum info dan relita masyarakat Asia tenggara saat itu dengan pendekatan yang mudah dipahami. Reid menyampaikan materi bab demi bab secara jelas. Bahasa yang digunakan tidaklah rumit sehingga mudah mencerna maksudnya oleh pembaca awam tentu saja. Data yang digunakan dalam penyusunan buku ini menggunakan sumber data yang jelas sehingga mampu terbukti secara ilmiah.

Walaupun demikian, Reid memang terkesan terlalu remeh dalam hal penjabaran materi dalam buku ini, sehingga terkesan sedarhana dan membosankan. Walaupun mempunyai kelemahan tidak adanya penjelasan mengenai hal-hal yang berbau politik dan kekuasaan raja-raja saat itu, Anthony Reid sudah menghasilkan sebuah karya luar biasa yang mampu menyentuh sisi-sisi kehidupan yang sesungguhnya dari masyarakat Asia Tenggara dalam kurun niaga 1450-1680. Sebuah karya yang sangat monumental dengan data-data yang disajikan cukup valid dan terperinci. Buku ini sangat disarankan dan cocok dibaca oleh para pelajar, mahasiswa, dosen, bahkan masyarakat umum yang sedang mendalami ilmu sejarah. — with Perpustakaan Pssat.

---
November 9


Caption:
1. Jogja makin istimewa kalau warganya suka baca!
2. Membaca buku itu keren!
3. Buku adalah jendela ilmu. Ini buku favoritku, mana bukumu?

Deskripsi singkat mengapa saya memilih buku favorit tersebut yakni:

Sebetulnya sudah cukup lama saya mencari buku ini, Anthony Reid “AsiaTenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680". Dan kebetulan sekali buku tersebut ada di salah satu pilihan buku yang mana akan saya resensi nantinya. Klop dan pas bangetlah kalau kata orang-orang. Hehe.

Mungkin bagi sebagian besar orang buku ini hampir tidak memiliki arti dan berdampak apa-apa, namun demikian menurut hemat saya pribadi tidaklah demikian. Signifikasi dan impact buku ini sebetulnya cukup besar dan memiliki relevansi yang erat bahkan sampai saat ini. Pola sejarah yang kurang lebih berulang-berulang dapat kita perhatikan dalam lembaran-lembaran analisa Reid di sana.

Sebagai pematik awal dan contoh mudah adalah bagaimana kondisi dan hagemoni politik, ekonomi, dan sosial raja-raja Jawa saat itu ditunjukkan dengan kebiasaan berpesta dan tontonan yang mengundang masyarakat/khalayak ramai bahkan sampai dengan utusan-utusan dan pengunjung di luar Jawa/Nusantara sendiri semisal dari Eropa. Bukankah saat ini juga memiliki kemiripan dengan satu kegiatan perhelatan akbar dari pemimpin negara kita saat ini? Tentu ada pro dan kontra di sana. Nah mengapa kita tidak segera mencari dan membaca buku ini? Agar mudah-mudahan kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang disebutkan sebagai:

"Mereka yang tidak mau belajar sejarah akan dihukum oleh sejarah, dengan mengulangi kesalahan yang sama dengan pendahulunya."

Lokasi: Perpustakaan Pssat Universitas Gadjah Mada Kamis, 09 November 2017, Pkl 12.24 WIB.
— with Perpustakaan Pssat.

No comments:

Post a Comment