tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Thursday, December 21, 2017

Peluncuran dan Diskusi Buku Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersingguan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi


Foto "Hitam Putih" dengan salah satu cover buku gratis untuk 50 peserta pertama, sebelum pelaksanaan acara Peluncuran dan diskusi buku "Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi". Saya pribadi mengakui dan mengacungkan dua jempol bagi dua narasumber Bpk Zainal Abidin Bagir (Ketua Prodi Agama dan Lintas Budaya UGM) dan Bpk Irsyad Rafsadie (Editor, Peneliti PUSAD Paramadina) yang mau dengan arif membuka diri, mengoreksi, dan mengakui konsep ketidakhadiran/kelalaian negara, aparat, dan media secara umum dalam fenomena ledakan pelintiran kebencian massa, keberpihakkan negara, aparat, dan media pada yang berpunya/secara kolektif yang mendominasi dan menguntungkan secara politis, dan secara konstruktif juga mengajak seluruh peserta untuk lebih mengkritisi setiap berita/informasi yang muncul di ranah publik dengan bahasa yang santun. Namun demikian, mohon maaf agaknya saya akan tetap berseberangan pendapat dengan narasumber Ibu Widiarsi Agustina (Redaktur Pelaksana TEMPO) yang dengan keras menolak bahkan menyebutkan bahwa jangan apa-apa terus jadi menyalahkan pemerintah, malah sebaiknya menyarankan bahwa jempol jari-jari kalian (saya ingat sekali penyebutan beliau untuk kata kalian cukup tegas dan keras di sini) harus dikontrol, puasa bermedsos, dsb. Saya jujur agak kecewa dengan sikap dan tanggapan beliau. Saya menangkap dari nada bicara beliau sebuah impresi yang bagi saya pribadi terasa cukup arogan, bahwa pemerintah itu jangan disalahkan, jangan dikritisi, yang harus berubah itu kalian. Saya memang bukan seorang jurnalis, bukan seorang yang mahir dalam menganalisa riset data publik skala nasional, bukan pula seorang yang fasih dalam hal politik kepemerintahan, saya tahu saya tidak mungkin mendebat beliau dengan pengalaman yang luar biasa dan saya cuma seorang freelancer, seorang wirausahawan, dan penulis amatiran, anak kemarin sore, tapi buat saya cukup satu hal, nurani manusia tidak boleh dan tidak bisa dibohongi. Akan jauh lebih baik jika beliau memberikan jawab dan pendapat dengan lebih santun dan mengajak dengan lebih persuasif peserta sebagaimana dua narasumber lainnya untuk lebih menyikapi fenomena "hate spin" alias pelintiran kebencian sebagai bentuk rekayasa ketersinggungan agama dan ancamannya bagi demokrasi yang disebut oleh penulis Cherian George yang tengah, telah, dan terus berkembang di kawasan Amerika Serikat, India, dan Indonesia. Mohon maaf bila saya salah menangkap dan tetap menyuarakan pendapat keberpihakkan saya pribadi bagi nurani manusia, masyarakat umum yang mungkin lebih papa lebih tak berpunya, bukan atas embel-embel afiliasi atau institusi. Selain buku gratis tersebut, saya juga amat berterima kasih juga bagi segenap panitia dan staff yang memperbolehkan peserta untuk 'silahkan ambil' membawa pulang lebihan snack yang tersisa setelah acara selesai.

https://www.facebook.com/IISUGM/photos/a.233013583404597.54325.135070286532261/1661990747173533/?type=3&theater

CC: Institute of International Studies

Kamis, 21 Desember 2017 | 13.00-15.00 WIB |
Convention Hall, 4th floor, Gedung Perpustakaan Mandiri, FISIPOL UGM

---

[PERUBAHAN TEMPAT]

Karena antusiasme pendaftar yang sangat tinggi, acara peluncuran dan diskusi buku 'Pelintiran Kebencian' akan dipindah ke Convention Hall, 4th floor, Gedung Perpustakaan Mandiri, FISIPOL UGM.

Peluncuran & Diskusi Buku

PELINTIRAN KEBENCIAN:
Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi

Narasumber:
Zainal Abidin Bagir
(Ketua Prodi Agama dan Lintas Budaya UGM)
Widiarsi Agustina
(Redaktur Pelaksana TEMPO)
Irsyad Rafsadie
(Editor, Peneliti PUSAD Paramadina)

Kamis, 21 Desember 2017 | 13.00-15.00 WIB |
Convention Hall, 4th floor, Gedung Perpustakaan Mandiri, FISIPOL UGM

Buku gratis untuk 50 peserta pertama!


TENTANG BUKU

Wabah intoleransi agama biasanya dianggap sebagai fenomena yang spontan dan berakar pada tradisi agama-agama itu sendiri, yang saling bertabrakan. Tapi dalam buku ini, Cherian George, penulisnya, memperlihatkan bahwa wabah tersebut sebagian besarnya melibatkan kampanye dahsyat para oportunis politik untuk memobilisasi pendukung dan menyingkirkan lawan.

George menyebut strategi ini “pelintiran kebencian” – teknik bermata-dua yang mengombinasikan ujaran kebencian (hasutan melalui tindak menyetankan kelompok lain) dengan rekayasa ketersinggungan (menampilkan kemarahan yang dibuat-buat). Teknik ini dibawa ke masyarakat yang beragam, seperti masyarakat Buddha di Myanmar dan Kristen Ortodoks di Rusia.

George meninjau tiga negara demokratis terbesar di dunia, di mana kelompok-kelompok intoleran dalam Hindu sayap-kanan India, Kristen sayap-kanan Amerika, dan Muslim sayap-kanan Indonesia menjadi pelaku pelintiran kebencian. Dia juga menunjukkan bagaimana Internet dan Google telah membuka kesempatan baru bagi munculnya pelintiran kebencian lintas-batas.

Buku ini juga menawarkan obat yang dapat kita minum untuk mengatasi wabah penyakit pelintiran kebencian. Tawaran-tawaran itu penting kita diskusikan. Agar demokrasi kita bisa bertahan, kita wajib memahami apa yang menggerogoti tubuhnya dan mencari pil yang bisa menyembuhkannya.

No comments:

Post a Comment