tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Thursday, May 24, 2018

TENTANG MAKNA PENYINTAS

Sumber ilustrasi foto: http://biblepic.com/proverbs/23-18.htm

Sintas adalah adalah bertahan hidup dalam kondisi yang tidak diinginkan, dalam jangka waktu yang lama. Seseorang yang mengalami kondisi demikian disebut penyintas. Penderita suatu penyakit berkepanjangan, orang yang mengalami perlakuan tidak adil dalam waktu yang lama, atau orang yang bertahan selama dalam pengasingan atau peperangan, adalah penyintas. Kata 'penyintas' kali pertama muncul sekitar tahun 2005. Kata tersebut dipopulerkan oleh para aktivis kemanusiaan dan relawan saat terjadi bencana. Istilah ini merupakan terjemahan dari kata survivor dari bahasa Inggris yang berarti ‘orang yang selamat'. Meskipun semua penyintas mengalami penderitaan, namun tidak selalu sama dengan korban akibat suatu kejadian. Sebab, korban, pada umumnya tidak memiliki kemampuan (berdaya) untuk bertahan dalam suatu kondisi, bahkan ada yang meninggal dunia. Dengan demikian, apabila seseorang yang menjadi korban dari suatu kejadian atau bencana, tetapi ia berhasil bangkit, maka ia disebut sebagai penyintas.
--https://id.wikipedia.org/wiki/Sintas

Penyintas berasal dari kata dasar sintas yang diberi awalan peng-. Kata sintas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1315) merupakan bentuk kata sifat yang berarti ‘terus bertahan hidup atau mampu mempertahankan keberadaannya'. Dalam kaidah bahasa Indonesia apabila kata yang berawalan huruf k, p, t, dan s diberi awalan peng- maka huruf awal pada kata dasar tersebut akan luluh. Kata sintas setelah mendapat awalan peng- berubah menjadi kata benda penyintas yang berarti orang yang mampu bertahan hidup. Dengan demikian, penyintas adalah mereka yang masih bisa bertahan hidup setelah melewati zona berbahaya kehidupan, entah itu bencana ataupun penyakit yang berbahaya.
--http://www.balaibahasajateng.web.id/index.php/read/home/infobahasa_detail/103/Penyintas

Kamis, 24 Mei 2018 Pkl 16.00 WIB sore ini saat sedang browsing beberapa history di laman sosmed FB, tidak sengaja saya menonton sebuah official trailer film #MOWGLI di laman akun FB Cinemaxx Indonesia. Dalam video berdurasi 2:24 menit tersebut mata dan pikiran saya terpaku pada menit pertama lewat 22 detik yang menyebutkan dalam huruf kapital besar bahwa Mowgli adalah SEORANG PENYINTAS.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk membuka lembaran-lembaran digital – halaman situs, untuk mencari apa arti kata penyintas dan sintas. Saya pikir mungkin saya telah lama ketinggalan zaman dengan kata baru ini, dan sepertinya saya tidak sendirian, walau tentu sejak tahun 2005 an kata ini sudah cukup banyak diperdengarkan di kalangan publik, entah mengapa saya mendapatkan impresi, setelah buka banyak situs sana-sini, rasanya kok masih sedikit ya orang menggunakan kata ini. Ah tapi saya coba tepis jauh-jauh ‘prasangka’ ini ya mungkin sayanya saja yang gaptek. Hehehe.

Memang arti kata penyintas menurut beberapa orang dalam blog dan web mereka ternyata berarti 'orang yang selamat dari musibah'. Misalnya ada judul "Mati Ketawa ala Penyintas Gempa" (Purnawan Kristanto dalam "Sabda Space"), "Kesaksian Penyintas Jugun Ianfu" (Esther dalam "Esutoru"), dan "Penyintas Topan Durian Mulai Kuburkan Korban Tewas (Kapanlagi.com). "Penyintas" dalam judul-judul tersebut memang bisa diartikan sebagai 'orang yang selamat dari gempa, Jugun Ianfu, dan Topan Durian'. Namun dalam catatan berjudul "Asa Baru Perempuan Penyintas" (Veronica Kusuma dalam Kompas, 4 Desember 2006) punya pengertian lain, "penyintas" itu berarti 'orang yang ditinggalkan'.

Lalu ada pula yang menyebutkan bahwa seseorang yang menjadi penyintas dan bisa memiliki daya tahan karena kemampuan mengubah tragedi menjadi ironi. Para penyintas sebut dalam beberapa sumber, tanpa bermaksud meromantisasi penderitaan, tampaknya memang memiliki mekanisme untuk menertawakan kenestapaan hidup. Dengan menertawakan nasib tragis para penyintas bertahan dalam kesulitan dan tabah dalam penderitaan.  Dostoyevsky (Fyodor Mikhailovich Dostoyevsky 1821-1881 adalah salah seorang sastrawan Rusia terbesar, yang karya-karyanya menimbulkan dampak yang panjang terhadap fiksi abad ke-20) sendiri pernah berujar, “Jika Anda berharap untuk melihat sekilas ke dalam jiwa manusia dan ingin mengenal seorang manusia, pandanglah saat dia tertawa. Jika dia tertawa dengan lepas, dia orang bijak.”

Anyway, sambil membaca ulang pengertian dan kisah singkat soal penyintas ini dalam dua paragraf awal di atas, saya justru makin bertanya-tanya akan esensi penggunaan kata ini, saya memilih penggunaan kata, ketimbang pemilihan kata, semata-mata karena saya menyadari dan mengakui saya bukanlah ahli bahasa atau lulusan linguistik, walau dalam keseharian jujur saya suka membaca dan menulis. Bagi saya dalam sekian banyak publikasi digital yang tersebar di media-media, saya masih merasakan kata penyintas masih sebatas kata baru bagi sebuah obyek atau benda bukanlah sebuah subyek atau pelaku. Tentu saja kata penyintas telah lama dan jauh dipakai dalam media-media massa, baik cetak maupun elektronik, namun sekali lagi kata tinggallah kata, ia tetap tak bernyawa.

Penyintas memang seharusnya adalah sebuah representasi pelaku, representasi hidup dan karyanya, orang per orang, bukan kolektif, dan kisahnya masih bersifat aktif. Namun sekali lagi entah mengapa impresi yang saya dapatkan kata penyintas dalam masyarakt adalah menjadi sekedar bentuk hasil akhiran, dan bukan sebuah proses perjuangan.

Saya bukanlah seorang mahasiswa ilmu filsafat maupun lulusan ilmu sosial, namun tidak butuh gelar dari ilmu-ilmu tersebut untuk menyadari bahwa memang masyarakat kita sedang bergeser untuk sekedar menghargai hasil ketimbang proses. Tanpa sadar kita menjadi produk dari perkembangan teknologi dan hidup yang berubah sedemikian cepat dan kompleks.

Kembali soal penyintas tadi, lalu apa hubungan background society yang sedang berkembang sedemikian pesat – ada yang mengistilahkannya sebagai bentuk dan proses disrupsi – di segala bidang, dengan kata penyintas?

Bagi saya arti kata penyintas saat ini mengalami penyempitan makna, yakni hanya sekedar sebagai sebuah hasil, yakni orang-orang yang sekedar berhasil selamat dari suatu kejadian, bencana, penyakit, dan sejenisnya. Ini memang sekedar opini, tapi bagi saya, seorang penyintas bukan sekedar seseorang yang telah berhasil melewati segala aral melintang, mencapai garis akhir pertandingan, dan setelah itu ia berleha-leha menikmati segala hal yang mana orang lain justru telah lama gugur, meninggal. Bukan! Buat saya seorang penyintas adalah seseorang yang masih terus melanjutkan perjuangannya bahkan setelah ia melewati masa-masa kritis dalam hidupnya, masih melanjutkan hidup dengan menebar kebaikan, membagi rasa dan semangat untuk terus bersyukur dan sekali lagi terus berjuang. Mereka tidak meminta dipuja-puja tapi saya yakin mereka juga ingin diterima sebagaimana manusia layaknya.

Pada titik dan pengertian ini saya bersyukur sekali masih boleh dipertemukan Selasa 22 Mei 2018 Pkl 19.00-22.00 WIB di Cube Hotel Prawirotaman Yogyakarta dengan Tante saya, Tina Irawati, seorang penyintas kanker dari Jakarta, seorang yang terus berjuang dan tak berhenti berdoa dan menebar welas asih dan kebaikan, bahkan setelah segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Saya sungguh senang dan berbahagia sekali dengan sharing dan pandangan hidupnya. Saya juga bersyukur akan Om saya, Koensmadhi Albertus, yang terus setia dan mendukung kegiatan-kegiatan bibi saya.

Sungguh iman dan pengharapan saya kepada-Nya kembali dikuatkan saat melihat dan berdiskusi dengan mereka saat itu. Saya melihat dan merasakan penyertaan dan kasih setia Tuhan lewat cerita, candaan, dan wejangan mereka berdua.

Tante membalas pesan WA ucapan terima kasih saya pagi esok harinya dengan menyebutkan, “... Semoga km dan Ratri rukun dan jaga kshtn.”

Sebagai penutup uneg-uneg catatan singkat ini, kemudian timbul pertanyaan dalam diri saya, apa sebetulnya esensi penyintas? Dari mana daya tahan dan kemampuan penyintas menerima hidup ini? Bagaimana dengan orang lain yang bukan penyintas? Apa yang bisa mereka pelajari dari perjuangan penyintas tersebut?

Yang saya tahu Tante dan Om saya masih terus berproses dan berjuang, masih terus meyakini hidup sebagai kesempatan, dan masih terus berdoa dan beriman kepada Tuhan Yang Esa Maha Asih...

Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.
--Amsal 23:18

No comments:

Post a Comment